Latihan Intens
Pagi ketiga di Starlight Entertainment terasa seperti hukuman yang disamarkan sebagai kesempatan. Matahari belum sepenuhnya naik, tapi delapan gadis itu sudah dipaksa bangun jam empat subuh oleh suara sirine yang menusuk telinga. Dormitori masih gelap, bau keringat malam sebelumnya bercampur dengan aroma sabun murah yang Mia gunakan untuk membersihkan sisa-sisa “biaya debut”-nya semalam. Tubuhnya masih pegal, mulutnya terasa kering meski sudah berkumur berkali-kali. Dia duduk di tepi tempat tidur, menatap kosong ke lantai, sementara yang lain bergerak lambat seperti zombie yang baru bangkit dari kubur.
Ji-eun adalah yang pertama berdiri, seperti biasa. Rambutnya diikat tinggi, wajahnya segar seolah malam tadi tak pernah terjadi. “Hari ini latihan fisik,” katanya dengan nada datar, tapi matanya berkilat. “Kalau lo lemah, lo pulang. Atau lebih buruk lagi, lo ‘hilang’ kayak Lan.” Kata-kata itu menggantung di udara seperti ancaman manis.
Aisha mendengus dari tempat tidurnya. “Hilang? Lo pikir gue takut? Gue dari pinggiran Seoul, gue biasa lari dari polisi. Ini cuma olahraga buat anak manja.” Tapi suaranya sedikit bergetar. Semua tahu, “hilang” bukan cuma rumor. Ada yang bilang Lan dibawa ke ruang bawah tanah, ada yang bilang dia dipaksa keluar negeri dengan kontrak hitam. Misteri itu seperti kabut yang semakin tebal setiap hari.
Mereka dibawa ke gym bawah tanah agensi—ruangan luas dengan lantai karet hitam, cermin di semua dinding, dan lampu neon yang terlalu terang hingga menyakitkan mata. Trainer utama hari ini adalah Coach Min, pria berotot berusia empat puluhan dengan tatapan yang bisa membekukan darah. Di belakangnya berdiri dua asisten, keduanya pria muda dengan senyum yang tak pernah hilang. “Selamat pagi, calon beast,” kata Coach Min, suaranya bergema. “Hari ini lo akan belajar apa artinya tubuh yang sexy dan kuat. Empat jam tanpa istirahat. Yang pingsan, dianggap gagal. Yang bertahan… mungkin dapat hadiah.”
Latihan dimulai dengan brutalitas yang tak terkira. Push-up dengan beban di punggung, squat sampai paha gemetar, plank selama lima menit penuh sambil Coach Min berjalan mondar-mandir dan menendang perut siapa saja yang goyah. Sofia jatuh pertama kali setelah tiga puluh menit. Tubuhnya basah keringat, rambut ikalnya menempel di wajah. “Ay caramba… ini bukan latihan, ini penyiksaan!” katanya sambil tertawa lemah. Tapi Coach Min tak tertawa. “Bangun, Latina. Lo pikir panggung K-Pop pakai kursi? Beast nggak boleh lemah.”
Zara Patel, yang biasanya paling strategis, mulai kelelahan juga. Saat instruksi plank dengan satu kaki terangkat, dia salah paham. Alih-alih mengangkat kaki, dia malah membuka lebar kedua kaki seperti pose yoga erotis. Coach Min berhenti, alisnya naik. “Apa yang lo lakukan, Patel?” Zara, napas tersengal, menjawab dengan wajah polos, “Kan lo bilang ‘angkat kaki tinggi dan buka lebar’. Gue pikir ini pose buat… ehm… menggoda juri?” Ruangan hening sejenak, lalu meledak tawa gelap dari beberapa gadis. Sofia hampir tersedak. “Haha, Zara! Lo mau debut sebagai pole dancer apa idol? Lucu banget, gue sampai lupa capek!”
Dark comedy itu menyebar seperti virus. Aisha ikut tertawa sambil tetap plank. “Gue bayangin lo di atas panggung, buka lebar sambil nyanyi ‘Gee’. Fans pada pingsan, juri pada… ehm… berdiri.” Zara memerah, tapi ikut tertawa. “Yah, setidaknya gue punya strategi. Lo pada cuma push-up biasa, gue udah kasih visual gratis!” Tawa itu menyakitkan, karena di baliknya mereka semua tahu: tubuh mereka bukan lagi milik sendiri. Setiap gerakan, setiap tetes keringat, adalah komoditas yang akan dinilai, dieksploitasi.
Yuna Lee, yang selama ini paling pendiam, tiba-tiba ambruk saat sesi burpee. Tubuhnya kecil tapi lentur, tapi hari ini dia tak kuat. Saat Coach Min mendekat untuk memeriksa, Yuna berbisik pelan, suaranya hampir tak terdengar. “Aku… aku pernah lari dari polisi di Jepang.” Semua gadis yang dekat mendengar. Ji-eun berhenti push-up, menatap Yuna. “Apa?” Yuna menelan ludah, mata imutnya berkaca-kaca. “Dua tahun lalu… aku ikut temen curi data perusahaan besar. Bukan duit, cuma informasi. Tapi ketahuan. Aku kabur ke Korea, ganti nama. Kalau ketahuan lagi… aku bisa dipenjara.” Rahasia itu jatuh seperti bom kecil. Lila tersenyum tipis, misterius. “Jadi maknae kita punya masa lalu kriminal. Menarik.” Aisha mengangguk. “Selamat datang di klub, Yuna. Kita semua punya dosa di sini.”
Latihan berlanjut sampai tubuh mereka seperti kain lap basah. Saat jam istirahat singkat, Elena Novak mendekati manager pribadi mereka, Mr. Han—pria tinggi kurus berusia tiga puluhan dengan senyum yang selalu terlalu ramah. Elena, dengan sikap pemberontaknya, berbisik, “Kami butuh tips. Kami tahu lo punya… cara khusus buat ningkatin performa.” Mr. Han menatapnya, lalu melirik grup kecil: Elena, Lila, dan Sofia yang masih tersengal. “Ikut aku ke ruang pribadi. Tapi ini rahasia.”
Mereka dibawa ke ruangan kecil di ujung koridor, pintu kedap suara, lampu redup. Mr. Han mengunci pintu. “Tips latihan ada harganya,” katanya sambil membuka kancing kemejanya. “Threesome. Kalian bertiga, aku satu. Kalau memuaskan, besok kalian dapat jadwal istirahat lebih banyak dan teknik napas khusus.” Sofia tertawa gelap. “Lagi? Gue pikir hari ini cuma olahraga.” Tapi tubuhnya sudah panas, campuran kelelahan dan hasrat terlarang.
Adegan dimulai lambat, menggoda. Lila yang paling berpengalaman maju duluan. Dia mendekati Mr. Han, tangannya menyusuri dada pria itu, lalu menariknya ke sofa. “Kita mulai dengan kiss,” bisiknya. Bibir mereka bertemu, sensual, lidah saling menari. Mr. Han mengerang pelan saat Lila menggigit bibir bawahnya. Elena bergabung, mencium leher Mr. Han dari samping, giginya meninggalkan bekas kecil. Sofia, masih ragu, akhirnya ikut—bibirnya menyentuh bahu pria itu, hangat dan lembab.
BDSM ringan dimulai. Mr. Han mengeluarkan tali sutra dari laci—bukan cambuk berat, tapi ikatan lembut yang tetap menyakitkan kalau ditarik. Dia mengikat tangan Lila ke belakang sofa, posisinya membungkuk, pantat terangkat. “Lo suka ini, kan?” tanyanya. Lila mengangguk, matanya menyala. “Lebih keras.” Mr. Han menampar pantatnya pelan, suara itu bergema, membuat Sofia dan Elena mengerang. Elena naik ke pangkuan Mr. Han, roknya tersingkap, celana dalamnya sudah basah. “Gue mau yang dalam,” katanya kasar. Mr. Han memasukinya perlahan, sambil mencium Elena dengan ganas.
Sofia bergabung, tangannya menyentuh payudara Lila yang terikat, mencubit puting hingga Lila mengerang keras. “Sakit… tapi enak,” desah Lila. Mr. Han berganti posisi, menarik Elena ke lantai, memaksanya berlutut, lalu memasukinya dari belakang sambil tangannya meremas Sofia. Threesome itu penuh sensualitas dan kekerasan ringan: ciuman yang membara, tamparan pelan di pantat, gigitan di leher, tali yang mengikat tapi tak sampai melukai parah. Tubuh mereka saling bergesekan, keringat bercampur, napas tersengal.
Mr. Han ejakulasi di dalam Elena, membuat gadis itu bergetar. “Tips pertama: napas dalam saat squat. Lo akan tahan lebih lama.” Dia tertawa, lalu menarik Sofia mendekat. “Giliran lo.” Sofia mengangguk, tubuhnya gemetar tapi penuh hasrat. Mr. Han memasukinya pelan, sambil mencium lehernya. Lila, masih terikat, menonton dengan mata lapar. “Lihat, Sofia… ini beast mode.”
Orgasme datang bergantian. Sofia mengerang keras saat Mr. Han menyelesaikan di dalamnya, tubuhnya melemas. Elena menciumnya, lidah mereka bertemu dalam ciuman penuh cairan dan keringat. “Lo enak, Latina,” bisik Elena. Sofia tertawa lemah. “Gue capek… tapi ini lebih enak daripada plank.”
Mereka membersihkan diri, meninggalkan ruangan dengan tubuh pegal tapi pikiran lebih tajam. Mr. Han tersenyum. “Besok kalian dapat tips kedua. Kalau mau lebih… tingkatkan performa malam ini.” Pintu tertutup, meninggalkan aroma sex dan rahasia.
Kembali ke gym, latihan berlanjut. Gadis-gadis lain tak tahu apa yang terjadi, tapi mereka merasakan perubahan: Elena, Lila, dan Sofia tiba-tiba lebih kuat, napas lebih teratur. Ji-eun menyipitkan mata. “Lo pada dapat apa tadi?” Elena tersenyum pemberontak. “Tips latihan. Lo mau ikut besok?” Ji-eun mengangguk pelan. “Mungkin.”
Malam itu, di dorm, Yuna duduk sendirian di kamar mandi, memeluk lutut. Rahasia masa lalunya terbuka, dan dia takut. Sofia mendekat, duduk di sebelahnya. “Hei, curiga Jepang. Lo nggak sendirian. Gue juga pernah hampir ditangkap karena nyanyi di jalan tanpa izin. Kita semua beast dengan masa lalu jelek.” Yuna tersenyum kecil. “Terima kasih. Tapi… aku takut mereka tahu.” Sofia memeluknya. “Kalau tahu, kita lawan bareng. Atau… kita pakai tubuh kita buat tutup mulut mereka.”
Di luar jendela, bayangan seseorang lewat di koridor. Misteri semakin dalam. Siapa yang mengawasi? Dan berapa lama lagi mereka bisa bertahan sebelum harga menjadi terlalu mahal?
Ji-eun adalah yang pertama berdiri, seperti biasa. Rambutnya diikat tinggi, wajahnya segar seolah malam tadi tak pernah terjadi. “Hari ini latihan fisik,” katanya dengan nada datar, tapi matanya berkilat. “Kalau lo lemah, lo pulang. Atau lebih buruk lagi, lo ‘hilang’ kayak Lan.” Kata-kata itu menggantung di udara seperti ancaman manis.
Aisha mendengus dari tempat tidurnya. “Hilang? Lo pikir gue takut? Gue dari pinggiran Seoul, gue biasa lari dari polisi. Ini cuma olahraga buat anak manja.” Tapi suaranya sedikit bergetar. Semua tahu, “hilang” bukan cuma rumor. Ada yang bilang Lan dibawa ke ruang bawah tanah, ada yang bilang dia dipaksa keluar negeri dengan kontrak hitam. Misteri itu seperti kabut yang semakin tebal setiap hari.
Mereka dibawa ke gym bawah tanah agensi—ruangan luas dengan lantai karet hitam, cermin di semua dinding, dan lampu neon yang terlalu terang hingga menyakitkan mata. Trainer utama hari ini adalah Coach Min, pria berotot berusia empat puluhan dengan tatapan yang bisa membekukan darah. Di belakangnya berdiri dua asisten, keduanya pria muda dengan senyum yang tak pernah hilang. “Selamat pagi, calon beast,” kata Coach Min, suaranya bergema. “Hari ini lo akan belajar apa artinya tubuh yang sexy dan kuat. Empat jam tanpa istirahat. Yang pingsan, dianggap gagal. Yang bertahan… mungkin dapat hadiah.”
Latihan dimulai dengan brutalitas yang tak terkira. Push-up dengan beban di punggung, squat sampai paha gemetar, plank selama lima menit penuh sambil Coach Min berjalan mondar-mandir dan menendang perut siapa saja yang goyah. Sofia jatuh pertama kali setelah tiga puluh menit. Tubuhnya basah keringat, rambut ikalnya menempel di wajah. “Ay caramba… ini bukan latihan, ini penyiksaan!” katanya sambil tertawa lemah. Tapi Coach Min tak tertawa. “Bangun, Latina. Lo pikir panggung K-Pop pakai kursi? Beast nggak boleh lemah.”
Zara Patel, yang biasanya paling strategis, mulai kelelahan juga. Saat instruksi plank dengan satu kaki terangkat, dia salah paham. Alih-alih mengangkat kaki, dia malah membuka lebar kedua kaki seperti pose yoga erotis. Coach Min berhenti, alisnya naik. “Apa yang lo lakukan, Patel?” Zara, napas tersengal, menjawab dengan wajah polos, “Kan lo bilang ‘angkat kaki tinggi dan buka lebar’. Gue pikir ini pose buat… ehm… menggoda juri?” Ruangan hening sejenak, lalu meledak tawa gelap dari beberapa gadis. Sofia hampir tersedak. “Haha, Zara! Lo mau debut sebagai pole dancer apa idol? Lucu banget, gue sampai lupa capek!”
Dark comedy itu menyebar seperti virus. Aisha ikut tertawa sambil tetap plank. “Gue bayangin lo di atas panggung, buka lebar sambil nyanyi ‘Gee’. Fans pada pingsan, juri pada… ehm… berdiri.” Zara memerah, tapi ikut tertawa. “Yah, setidaknya gue punya strategi. Lo pada cuma push-up biasa, gue udah kasih visual gratis!” Tawa itu menyakitkan, karena di baliknya mereka semua tahu: tubuh mereka bukan lagi milik sendiri. Setiap gerakan, setiap tetes keringat, adalah komoditas yang akan dinilai, dieksploitasi.
Yuna Lee, yang selama ini paling pendiam, tiba-tiba ambruk saat sesi burpee. Tubuhnya kecil tapi lentur, tapi hari ini dia tak kuat. Saat Coach Min mendekat untuk memeriksa, Yuna berbisik pelan, suaranya hampir tak terdengar. “Aku… aku pernah lari dari polisi di Jepang.” Semua gadis yang dekat mendengar. Ji-eun berhenti push-up, menatap Yuna. “Apa?” Yuna menelan ludah, mata imutnya berkaca-kaca. “Dua tahun lalu… aku ikut temen curi data perusahaan besar. Bukan duit, cuma informasi. Tapi ketahuan. Aku kabur ke Korea, ganti nama. Kalau ketahuan lagi… aku bisa dipenjara.” Rahasia itu jatuh seperti bom kecil. Lila tersenyum tipis, misterius. “Jadi maknae kita punya masa lalu kriminal. Menarik.” Aisha mengangguk. “Selamat datang di klub, Yuna. Kita semua punya dosa di sini.”
Latihan berlanjut sampai tubuh mereka seperti kain lap basah. Saat jam istirahat singkat, Elena Novak mendekati manager pribadi mereka, Mr. Han—pria tinggi kurus berusia tiga puluhan dengan senyum yang selalu terlalu ramah. Elena, dengan sikap pemberontaknya, berbisik, “Kami butuh tips. Kami tahu lo punya… cara khusus buat ningkatin performa.” Mr. Han menatapnya, lalu melirik grup kecil: Elena, Lila, dan Sofia yang masih tersengal. “Ikut aku ke ruang pribadi. Tapi ini rahasia.”
Mereka dibawa ke ruangan kecil di ujung koridor, pintu kedap suara, lampu redup. Mr. Han mengunci pintu. “Tips latihan ada harganya,” katanya sambil membuka kancing kemejanya. “Threesome. Kalian bertiga, aku satu. Kalau memuaskan, besok kalian dapat jadwal istirahat lebih banyak dan teknik napas khusus.” Sofia tertawa gelap. “Lagi? Gue pikir hari ini cuma olahraga.” Tapi tubuhnya sudah panas, campuran kelelahan dan hasrat terlarang.
Adegan dimulai lambat, menggoda. Lila yang paling berpengalaman maju duluan. Dia mendekati Mr. Han, tangannya menyusuri dada pria itu, lalu menariknya ke sofa. “Kita mulai dengan kiss,” bisiknya. Bibir mereka bertemu, sensual, lidah saling menari. Mr. Han mengerang pelan saat Lila menggigit bibir bawahnya. Elena bergabung, mencium leher Mr. Han dari samping, giginya meninggalkan bekas kecil. Sofia, masih ragu, akhirnya ikut—bibirnya menyentuh bahu pria itu, hangat dan lembab.
BDSM ringan dimulai. Mr. Han mengeluarkan tali sutra dari laci—bukan cambuk berat, tapi ikatan lembut yang tetap menyakitkan kalau ditarik. Dia mengikat tangan Lila ke belakang sofa, posisinya membungkuk, pantat terangkat. “Lo suka ini, kan?” tanyanya. Lila mengangguk, matanya menyala. “Lebih keras.” Mr. Han menampar pantatnya pelan, suara itu bergema, membuat Sofia dan Elena mengerang. Elena naik ke pangkuan Mr. Han, roknya tersingkap, celana dalamnya sudah basah. “Gue mau yang dalam,” katanya kasar. Mr. Han memasukinya perlahan, sambil mencium Elena dengan ganas.
Sofia bergabung, tangannya menyentuh payudara Lila yang terikat, mencubit puting hingga Lila mengerang keras. “Sakit… tapi enak,” desah Lila. Mr. Han berganti posisi, menarik Elena ke lantai, memaksanya berlutut, lalu memasukinya dari belakang sambil tangannya meremas Sofia. Threesome itu penuh sensualitas dan kekerasan ringan: ciuman yang membara, tamparan pelan di pantat, gigitan di leher, tali yang mengikat tapi tak sampai melukai parah. Tubuh mereka saling bergesekan, keringat bercampur, napas tersengal.
Mr. Han ejakulasi di dalam Elena, membuat gadis itu bergetar. “Tips pertama: napas dalam saat squat. Lo akan tahan lebih lama.” Dia tertawa, lalu menarik Sofia mendekat. “Giliran lo.” Sofia mengangguk, tubuhnya gemetar tapi penuh hasrat. Mr. Han memasukinya pelan, sambil mencium lehernya. Lila, masih terikat, menonton dengan mata lapar. “Lihat, Sofia… ini beast mode.”
Orgasme datang bergantian. Sofia mengerang keras saat Mr. Han menyelesaikan di dalamnya, tubuhnya melemas. Elena menciumnya, lidah mereka bertemu dalam ciuman penuh cairan dan keringat. “Lo enak, Latina,” bisik Elena. Sofia tertawa lemah. “Gue capek… tapi ini lebih enak daripada plank.”
Mereka membersihkan diri, meninggalkan ruangan dengan tubuh pegal tapi pikiran lebih tajam. Mr. Han tersenyum. “Besok kalian dapat tips kedua. Kalau mau lebih… tingkatkan performa malam ini.” Pintu tertutup, meninggalkan aroma sex dan rahasia.
Kembali ke gym, latihan berlanjut. Gadis-gadis lain tak tahu apa yang terjadi, tapi mereka merasakan perubahan: Elena, Lila, dan Sofia tiba-tiba lebih kuat, napas lebih teratur. Ji-eun menyipitkan mata. “Lo pada dapat apa tadi?” Elena tersenyum pemberontak. “Tips latihan. Lo mau ikut besok?” Ji-eun mengangguk pelan. “Mungkin.”
Malam itu, di dorm, Yuna duduk sendirian di kamar mandi, memeluk lutut. Rahasia masa lalunya terbuka, dan dia takut. Sofia mendekat, duduk di sebelahnya. “Hei, curiga Jepang. Lo nggak sendirian. Gue juga pernah hampir ditangkap karena nyanyi di jalan tanpa izin. Kita semua beast dengan masa lalu jelek.” Yuna tersenyum kecil. “Terima kasih. Tapi… aku takut mereka tahu.” Sofia memeluknya. “Kalau tahu, kita lawan bareng. Atau… kita pakai tubuh kita buat tutup mulut mereka.”
Di luar jendela, bayangan seseorang lewat di koridor. Misteri semakin dalam. Siapa yang mengawasi? Dan berapa lama lagi mereka bisa bertahan sebelum harga menjadi terlalu mahal?
Other Stories
Hafidz Cerdik
Adnan bersyukur masih ada acara bermanfaat seperti *Hafidz Cilik Indonesia*, tempat ia dan ...
Jjjjjj
ghjjjj ...
Bukan Cinta Sempurna
Pesona kepintarannya terpancar dengan jelas, rambut sebahunya yang biasanya dikucir ekor ...
Sinopsis
hdhjjfdseetyyygfd ...
Just, Open Your Heart
Muthia terjebak antara cinta lama yang menyakitkan dan cinta baru dari bosnya yang penuh k ...
Itsbat Cinta
Hayati memulai pagi dengan senyum, mencoba mengusir jenuh dan resah yang menghinggapi hati ...