Cinta Dua Rasa

Reads
89
Votes
0
Parts
6
Vote
Report
Penulis Hana Larasati

Di Balik Bayang ( 17+)

Lampu yang padam total membuat seisi rumah hanya diterangi oleh kilatan petir yang sesekali menyambar. Di dalam kegelapan itu, Aruna tidak lagi bisa membedakan mana moralitas dan mana gairah. Samudra tidak membiarkannya berpikir; ia hanya ingin Aruna merasakan.
Samudra mengangkat Aruna dengan gerakan yang penuh tenaga, mendudukkannya di atas meja marmer dapur yang dingin. Kontras antara marmer yang beku dan kulit Samudra yang panas membuat Aruna terengah. Tangan Samudra yang kasar namun posesif merambat masuk ke balik blus sutra Aruna, membelai lekuk pinggangnya dengan intensitas yang menuntut.
"Katakan siapa yang kau inginkan sekarang, Una," bisik Samudra tepat di depan bibirnya. "Sebut namaku, bukan namanya."
Aruna tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menarik tengkuk Samudra, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang liar—sebuah ciuman yang berasa seperti pemberontakan. Samudra mengerang rendah, tangannya dengan cekatan membuka kancing blus Aruna satu per satu, membiarkan pakaian itu jatuh tak berdaya ke lantai.
Dalam keheningan yang hanya dipecah oleh deru hujan, Samudra mengeksplorasi setiap inci kulit Aruna dengan bibir dan lidahnya, seolah sedang memetakan wilayah baru yang selama ini terlarang baginya. Aruna melengkungkan punggungnya saat merasakan sentuhan Samudra yang semakin berani di area sensitifnya, menciptakan sensasi terbakar yang menjalar hingga ke ujung jari kakinya.
Di atas meja itu, di tengah rumah yang dibangun oleh kesempurnaan Saka, Aruna membiarkan Samudra menghancurkan sisa-sisa kesetiaannya. Penyatuan mereka terjadi dengan ritme yang primitif dan mendesak, jauh dari kelembutan terukur yang biasa ia dapatkan dari suaminya. Bersama Samudra, tidak ada aturan, tidak ada struktur—hanya ada ledakan emosi dan fisik yang membuat Aruna merasa benar-benar nyata, meski ia tahu ini adalah kehancuran yang indah.

Ketika cahaya abu-abu fajar mulai menyelinap masuk melalui jendela yang pecah, Aruna terbangun di sofa ruang tamu dengan selimut wol menyelimuti tubuhnya yang polos. Samudra tidak ada di sana.

Ia bangkit dengan tubuh yang terasa nyeri namun sekaligus ringan, seolah beban berat telah terangkat dari pundaknya. Namun, perasaan lega itu hanya bertahan sesaat. Di atas meja kopi, terdapat selembar kertas catatan kecil dengan tulisan tangan yang rapi—tulisan tangan yang sangat ia kenali.

"Aku sudah pulang sejak jam dua pagi tadi, Una. Aku melihat semuanya dari kegelapan. Ternyata benar, kau memang lebih cantik saat kau hancur. - Saka"

Darah Aruna terasa membeku. Ia menoleh ke arah tangga dan melihat Saka berdiri di sana, mengenakan kemeja putih bersih tanpa noda sedikit pun, menatapnya dengan senyum lembut yang paling mengerikan yang pernah ia lihat. Di sampingnya, Samudra berdiri dengan tangan terborgol ke pagar tangga, wajahnya lebam dan penuh kemarahan yang tertahan.

"Selamat pagi, Sayang," ujar Saka tenang. "Sekarang, mari kita bicara tentang bagaimana cara memperbaiki rumah kita yang rusak ini."


Other Stories
Institut Tambal Sains

Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...

Awan Favorit Mamah

Hidup bukanlah perjalanan yang mudah bagi Mamah. Sejak kecil ia tumbuh tanpa kepastian sia ...

Love Of The Death

Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...

First Snow At Laiden

Bunda Diftri mendidik Naomi dengan keras demi disiplin renang. Naomi sayang padanya, tapi ...

Aruna Yang Terus Bertanya

Cuplikan perjalanan waktu hidup Aruna yang selalu mempertanyakan semua hal dalam hidupnya, ...

Kala Cinta Di Dermaga

Saat hatimu patah, di mana kamu akan berlabuh? Bagi Gisel, jawabannya adalah dermaga tua y ...

Download Titik & Koma