Debu Di Atas Kristal
Rumah besar di pinggiran Jakarta itu adalah monumen keberhasilan Rendra. Dinding-dindingnya dihiasi cat eggshell yang mahal, dan lantai marmernya selalu berkilau, memantulkan bayangan perabotan minimalis yang dipilih dengan saksama. Namun, bagi Laras, keindahan itu terasa seperti museum. Statis, sunyi, dan dingin.
Sore itu, Laras berdiri di depan jendela besar di ruang tengah, menatap taman belakang yang tertata rapi. Di tangannya, segelas anggur putih sudah mulai mengembun. Ia mendengar deru mesin mobil Rendra memasuki garasi—selalu tepat waktu, pukul tujuh malam, seolah hidup suaminya diatur oleh jam atom.
\"Aku pulang,\" suara berat Rendra bergema di lobi.
Laras berbalik, memaksakan sebuah senyum yang telah ia latih selama tujuh tahun. Rendra melangkah masuk, melepaskan jasnya yang tanpa kerutan sedikit pun. Ia tampak seperti pria di sampul majalah bisnis: sukses, tenang, dan sangat terkendali. Ia menghampiri Laras, memberikan kecupan ringan di pipi sebuah rutinitas yang kini terasa lebih seperti stempel presensi daripada tanda cinta.
\"Bagaimana harimu?\" tanya Rendra sambil menuangkan air mineral untuk dirinya sendiri.
\"Sama seperti kemarin,\" jawab Laras singkat. Ia memperhatikan punggung suaminya. \"Rendra, apakah kau merasa kita... terlalu rapi?\"
Rendra berhenti sejenak, botol air di tangannya menggantung di udara. Ia berbalik, menatap Laras dengan tatapan karismatik yang dulu selalu membuat lutut Laras lemas. Namun sekarang, tatapan itu terasa seperti teka-teki yang tidak ingin ia pecahkan.
\"Rapi itu bagus, Laras. Bukankah itu yang kita perjuangkan selama tujuh tahun ini? Kestabilan?\"
Malam itu, mereka makan dalam keheningan yang sopan. Hanya denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen. Laras menatap suaminya yang sedang mengunyah dengan perlahan. Ia merindukan Rendra yang dulu—pria yang berani menariknya ke lantai dapur dan menciumnya hingga napasnya habis, pria yang tangannya tidak pernah bisa diam saat mereka menonton film bersama.
Kini, setiap sentuhan Rendra terasa terukur, seolah ada protokol yang harus diikuti. Bahkan saat mereka naik ke tempat tidur, gairah itu terasa seperti debu di atas kristal—ada di sana, mengaburkan kilau, tapi tidak pernah benar-benar dibersihkan.
Rendra merebahkan diri di sampingnya, bau sabun mandinya yang maskulin memenuhi udara. Ia mematikan lampu nakas, meninggalkan mereka dalam kegelapan yang pekat. Biasanya, Rendra akan langsung memejamkan mata. Namun malam ini, Laras bisa merasakan kegelisahan yang memancar dari tubuh suaminya. Napas Rendra tidak beraturan, pendek dan berat.
\"Laras?\" bisik Rendra di tengah kegelapan.
\"Ya?\"
\"Pernahkah kau membayangkan... jika ada orang lain di antara kita?\"
Pertanyaan itu menggantung di udara, dingin dan tajam, merobek keheningan \"aman\" yang selama ini mereka jaga. Laras menoleh, mencoba mencari wajah suaminya di balik bayangan, merasakan sebuah retakan besar mulai muncul di fondasi pernikahan mereka yang sempurna.
Other Stories
Dream Analyst
Frisky, si “Dream Analyst”, bersama teman-temannya mengalami serangkaian kejadian meny ...
O
o ...
Ada Apa Dengan Rasi
Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...
Jam Dinding
Setelah kematian mendadak adiknya, Joni selalu dihantui mimpi buruk yang sama secara berul ...
Kau Bisa Bahagia
Airin harus menikah dalam 40 hari demi warisan ayahnya, namun hatinya tetap pada Arizal, c ...
Keikhlasan Cinta
6 tahun Hasrul pergi dari keluarganya, setelah dia kembali dia dipertemukan kembali dengan ...