Kandidat Tanpa Nama
Hari-hari setelah keputusan itu terasa seperti mimpi demam. Rendra tidak lagi menjadi suami yang pasif; ia menjadi sutradara yang obsesif. Ia mulai membelikan Laras pakaian-pakaian yang belum pernah berani Laras pakai sebelumnya: gaun sutra dengan potongan punggung yang sangat rendah, lingerie transparan sehalus jaring laba-laba, dan sepatu hak tinggi yang membuat langkahnya terasa provokatif.
\"Kita harus memilih dengan sangat hati-hati, Laras,\" ujar Rendra suatu malam saat mereka duduk di depan laptop di ruang kerja. \"Pria ini bukan hanya harus tampan secara fisik, tapi dia harus memiliki energi yang tepat. Seseorang yang tahu kapan harus menjadi lembut, dan kapan harus mengambil kendali dengan kasar.\"
Laras memperhatikan Rendra. Suaminya tampak lebih hidup daripada sebelumnya. Ada binar di matanya yang selama ini redup. Namun, ada juga sisi gelap yang membuat Laras merinding—Rendra seolah sedang merencanakan sebuah persembahan, dan Laras adalah objeknya.
Setelah menyortir belasan profil, Rendra berhenti pada satu nama, Adrian.
Di foto itu, Adrian tidak tersenyum. Ia memiliki tubuh tegap seorang pria yang terbiasa dengan aktivitas fisik, dengan beberapa tato yang mengintip dari balik lengan kemejanya yang digulung. Sorot matanya tajam, dingin, namun menyimpan janji tentang intensitas yang liar.
\"Dia,\" bisik Rendra. \"Dia memiliki aura yang akan membuatmu merasa... kewalahan.\"
Laras merasakan perutnya mulas, sebuah campuran antara ketakutan dan antisipasi yang panas. \"Kapan kita akan menemuinya?\"
\"Besok malam. Di Bar The Obsidian. Hanya untuk minum dan mengobrol,\" jawab Rendra. Ia berdiri, menghampiri Laras, dan melingkarkan tangannya di leher istrinya dari belakang. Ia menciumi pundak Laras yang terbuka, tangannya merambat turun ke arah dadanya. \"Aku ingin kau memakai gaun merah yang kubelikan kemarin. Aku ingin dia melihat apa yang aku miliki... dan apa yang akan aku izinkan untuk dia sentuh.\"
Keesokan malamnya, bar itu remang-remang dan dipenuhi aroma cerutu serta parfum mahal. Laras merasa setiap pasang mata di ruangan itu menatapnya, seolah mereka tahu rahasia gelap yang ia bawa di balik gaun merahnya yang ketat.
Lalu, Adrian datang.
Ia melangkah dengan kepercayaan diri yang membuat udara di sekitar mereka seolah bergetar. Saat ia duduk di depan mereka, ia tidak menatap Rendra terlebih dahulu. Ia menatap Laras. Tatapannya tidak sopan seperti rekan bisnis, tatapan itu lapar, menilai, dan sangat sensual.
\"Jadi,\" suara Adrian berat dan serak, \"ini adalah wanita yang kau ceritakan, Rendra?\"
Rendra mengangguk, tangannya tetap berada di paha Laras, memberikan remasan kecil yang berarti \'jangan takut\'. \"Laras, perkenalkan, ini Adrian.\"
Adrian mengulurkan tangan. Saat Laras menyambutnya, Adrian tidak hanya menjabat, ia membalikkan tangan Laras dan mengecup telapak tangannya dengan perlahan, lidahnya menyentuh kulit lembut Laras hanya dalam hitungan detik.
Sentuhan itu seperti sengatan listrik. Laras tersentak kecil, napasnya tertahan. Ia melihat ke arah Rendra, mengharapkan suaminya akan marah atau cemburu. Namun, Rendra justru bersandar di kursinya, memperhatikan interaksi itu dengan senyum tipis yang penuh gairah. Rendra sedang menikmati melihat istrinya dikuasai oleh pria lain, bahkan sebelum malam yang sesungguhnya dimulai.
\"Kau jauh lebih cantik dari fotomu, Laras,\" bisik Adrian, matanya tidak lepas dari bibir Laras yang mulai basah karena gugup. \"Aku hampir tidak sabar untuk melihat apakah reaksimu nanti akan seseksi penampilanmu malam ini.\"
Laras tahu, saat itu juga, ia telah melintasi garis yang tidak bisa ditarik kembali
Other Stories
Cinta Dibalik Rasa
Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. A ...
Turut Berduka Cinta
Faris, seorang fasilitator taaruf dengan tingkat keberhasilan tinggi, dipertemukan kembali ...
November Kelabu
Veya hanya butuh pengakuan, sepercik perhatian, dan seulas senyum dari orang yang seharusn ...
Langit Ungu
Cerita tentang Oc dari Penulis. karakter utama - Moon Light "Hidup cuma sekali? Lalu be ...
Mozarella Bukan Cinderella
Moza tinggal di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu sejak ia pertama kali melihat dunia. Seseo ...
Jodoh Nyasar Alina
Alina, si sarjana dari Eropa, pulang kampung cuma gara-gara restu Nyak-nya. Nggak bisa ker ...