Bunga Untuk Istriku (21+)

Reads
168
Votes
0
Parts
8
Vote
Report
bunga untuk istriku (21+)
Bunga Untuk Istriku (21+)
Penulis Idha Febriana

Residu Gairah

Keheningan pagi di Kamar 808 terasa berbeda dari keheningan di rumah mereka. Sinar matahari yang mengintip dari balik gorden abu-abu menyinari kekacauan di atas ranjang—sprei yang kusut, pakaian yang berserakan di lantai, dan aroma perpaduan antara tiga tubuh yang masih tertinggal di udara.

Laras terbangun dengan rasa nyeri yang manis di sekujur tubuhnya. Saat ia membuka mata, ia menemukan dirinya masih berada di antara mereka. Rendra tertidur lelap dengan lengan melingkari pinggangnya, sementara Adrian sudah terjaga, duduk di tepi ranjang dengan punggung tegap yang memamerkan tato-tato gelapnya.

Adrian menoleh, menatap Laras dengan tatapan yang kini lebih lembut, namun tetap menyimpan sisa-sisa api semalam. Ia membungkuk, memberikan kecupan ringan di kening Laras sebelum beranjak menuju kamar mandi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Kehadirannya yang singkat namun intens telah meninggalkan bekas yang tidak bisa dihapus.

Rendra mulai menggeliat. Saat matanya terbuka dan bertemu dengan mata Laras, sebuah senyum penuh kepuasan tersungging di bibirnya.

\"Kau luar biasa semalam, Laras,\" bisik Rendra, suaranya serak khas bangun tidur. Ia menarik Laras lebih dekat, menghirup aroma rambutnya. \"Aku tidak pernah melihatmu sehidup itu.\"

Laras menyandarkan kepalanya di dada suaminya, namun pikirannya melayang. \"Apakah ini yang kau inginkan, Rendra? Melihatku dengan pria lain?\"

\"Ini bukan hanya tentang apa yang aku inginkan,\" Rendra mengangkat dagu Laras, memaksanya menatap matanya. \"Lihatlah dirimu. Kau bersinar. Kita telah menghancurkan dinding yang selama ini menghalangi kita. Apakah kau menyesal?\"

Laras terdiam. Menyesal? Sebagian kecil dari dirinya yang terikat norma sosial mungkin berkata ya. Namun, tubuhnya—yang masih bergetar jika mengingat bagaimana Adrian dan Rendra bekerja sama memuaskannya semalam—mengatakan hal yang sebaliknya.

Kembali ke rumah, rutinitas seharusnya kembali normal. Namun, \"normal\" kini memiliki definisi baru. Laras mendapati dirinya tidak bisa berhenti memikirkan detail-detail malam itu. Ia mulai sering melamun di tengah aktivitasnya, membayangkan sentuhan kasar Adrian yang sangat kontras dengan suaminya.

Rendra pun berubah. Ia menjadi lebih posesif namun dengan cara yang sangat seksual. Ia sering mengejutkan Laras di dapur atau di ruang kerja, membisikkan deskripsi-deskripsi panas tentang apa yang dilakukan Adrian pada Laras semalam. Seolah-olah dengan membicarakan pria lain, gairah di antara mereka berdua justru semakin tersulut.

\"Aku memikirkan untuk menghubunginya lagi,\" ujar Rendra suatu malam saat mereka sedang bersantai.

Jantung Laras berdegup kencang. \"Adrian?\"

\"Dia bertanya tentangmu, Laras. Dia bilang dia tidak bisa melupakan caramu menatapnya malam itu,\" Rendra memperhatikan reaksi istrinya dengan teliti. \"Bagaimana menurutmu jika kita membuatnya menjadi agenda rutin?\"

Laras merasakan dorongan adrenalin yang sama. Namun, ia juga merasakan firasat buruk. Ini bukan lagi sekadar eksperimen satu malam. Ini mulai terasa seperti kecanduan. Dan seperti semua kecanduan, dosisnya akan selalu butuh ditingkatkan.

Sore harinya, saat Rendra sedang berada di kantor, ponsel Laras bergetar. Sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal masuk.

“Suamimu mungkin yang merencanakan segalanya, tapi akulah yang tahu bagaimana caramu bergetar saat aku menyentuh titik itu. Aku ingin menemuimu. Sendiri.” – Adrian.

Laras menatap layar ponsel itu dengan napas tertahan. Garis kendali yang diagung-agungkan Rendra baru saja dilanggar. Adrian bukan lagi sekadar \"aktor\" dalam skenario Rendra; ia mulai menulis naskahnya sendiri.


Other Stories
Death Cafe

Sakti terdiam sejenak. Baginya hantu gentayangan tidak ada. Itu hanya ulah manusia usil ...

Bisikan Lada

Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketah ...

Kita Pantas Kan?

Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...

Diary Anak Pertama

Sejak ibunya meninggal saat usianya baru menginjak delapan tahun, Alira harus mengurus adi ...

Cinta Kadang Kidding

Seorang pemuda yang sedang jatuh cinta kepada teman sekelas saat sedang menempuh pendidika ...

First Snow At Laiden

Bunda Diftri mendidik Naomi dengan keras demi disiplin renang. Naomi sayang padanya, tapi ...

Download Titik & Koma