Hati Diatas Melati ( 17+ )

Reads
198
Votes
0
Parts
5
Vote
Report
hati diatas melati ( 17+ )
Hati Diatas Melati ( 17+ )
Penulis Idha Febriana

Ruang Kedap Suara

Pukul tujuh malam. Kantor sudah sepi, hanya menyisakan lampu-lampu lorong yang meredup otomatis. Di dalam ruang kerja Arjuna yang luas dan kedap suara, ketegangan terasa begitu nyata hingga bisa diiris dengan pisau.

Melati meletakkan berkas terakhir di meja kayu jati milik Arjuna. Saat ia hendak berbalik, tangan Arjuna menyambar pergelangan tangannya, menariknya hingga punggung Melati membentur pintu jati yang berat. Klik. Arjuna mengunci pintu tanpa melepaskan tatapannya dari mata Melati.

\"Pak Arjuna, ini tidak profesional,\" bisik Melati, meski kakinya mulai terasa lemas.

\"Aku pemilik perusahaan ini, Melati. Aku yang menentukan apa yang profesional dan apa yang tidak,\" Arjuna memerangkap tubuh Melati dengan kedua tangannya di sisi kepala gadis itu. \"Tadi siang, kau menjatuhkan ini di lift.\"

Arjuna mengeluarkan sebuah buku catatan kecil bersampul kulit hitam. Jantung Melati seolah berhenti berdetak. Itu adalah draf fisik tulisannya fantasi-fantasi paling liar yang pernah ia bayangkan tentang pria yang kini berdiri di depannya.

Arjuna membuka halaman yang sudah ditandai. Ia membaca dengan suara yang serak dan penuh provokasi. \"Pria itu menekanku ke dinding, jemarinya menjelajahi setiap inci kulitku, merobek topeng kesantunanku sampai aku memohon padanya untuk tidak berhenti...\"

Arjuna menutup buku itu dengan suara keras. Wajahnya hanya berjarak satu inci dari bibir Melati. \"Deskripsinya sangat detail, Melati. Sangat... berpengalaman. Siapa pria dalam imajinasimu ini?\"

Melati merasa wajahnya memanas. \"Itu hanya fiksi.\"

\"Fiksi?\" Arjuna menurunkan tangannya, jemarinya perlahan menarik dasi kupu-kupu kecil di kerah kemeja Melati, membuka kancing paling atas. \"Lalu kenapa denyut nadimu di sini berbicara sebaliknya?\" Ia menekan ibu jarinya di urat leher Melati yang berdenyut kencang.

Melati memejamkan mata, napasnya mulai terengah. Keangkuhan dan kekakuan yang ia bangun bertahun-tahun runtuh dalam sekejap di bawah sentuhan Arjuna.

\"Kau ingin tahu bagaimana rasanya fiksi menjadi nyata, Melati?\" Arjuna berbisik di depan bibir Melati, aroma mint dan maskulinitasnya menyesakkan napas. \"Aku tidak suka membaca. Aku lebih suka... mempraktekkannya.\"

Malam itu, di dalam ruang yang tak bisa mendengar teriakan atau rintihan dari luar, Melati menyadari bahwa hatinya—dan tubuhnya—tidak lagi menjadi miliknya sendiri. Sang Melati telah mekar di tangan yang salah, atau mungkin, di tangan yang paling tepat.


Other Stories
The Last Escape

The Last Escape, Berawal dari rencana liburan oleh 15 sekawan dari satu universitas, untuk ...

Buah Mangga

buah mangga enak rasanya ...

Senja Terakhir Bunda

Sejak suaminya pergi merantau, Siska harus bertahan sendiri. Surat dan kiriman uang sempat ...

Susan Ngesot Reborn

Renita yang galau setelah bertengkar dengan Abel kehilangan fokus saat berkendara, hingga ...

Arti Yang Tak Pernah Usai

Siapa sangka liburan akhir tahun beberapa mahasiswa ini membawa dua insan menyelesaikan se ...

Setinggi Awan

Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...

Download Titik & Koma