Garis Yang Melandai
Pagi itu, atmosfer di lantai 50 terasa lebih berat dari biasanya. Melati berdiri di depan cermin toilet karyawan, menatap pantulannya dengan napas yang masih belum stabil. Ia mengenakan syal sutra kecil berwarna krem—sebuah tambahan yang tidak lazim pada seragamnya, hanya untuk menutupi jejak kemerahan di pangkal lehernya, tanda \"kepemilikan\" yang ditinggalkan Arjuna semalam dalam kegelapan ruang kerja.
\"Tenang, Melati. Fokus,\" bisiknya pada diri sendiri. Namun, saat ia mengingat bagaimana jemari Arjuna yang kuat mencengkeram pinggangnya, lututnya kembali terasa lemas.
Pukul sepuluh pagi, rapat dewan direksi dimulai. Ruang konferensi itu berdinding kaca dengan meja marmer panjang yang mampu menampung dua puluh orang. Arjuna duduk di ujung meja sebagai penguasa tunggal. Ia mengenakan setelan jas tiga potong berwarna charcoal yang membuatnya tampak sangat berkuasa, namun matanya yang tajam langsung menemukan Melati yang duduk di sisi kirinya, siap dengan laptop untuk mencatat setiap kata.
Rapat berjalan kaku. Direktur operasional sedang memaparkan grafik kerugian kuartal ketiga, namun perhatian Arjuna tampak terpecah. Ia menyandarkan punggungnya, satu tangannya memutar-mutar bolpen mahal, sementara matanya tak lepas dari cara jemari Melati menari di atas keyboard.
Tiba-tiba, Melati merasakan sentuhan yang tidak seharusnya.
Di bawah meja yang tertutup taplak mewah, ujung sepatu kulit Arjuna yang mengkilap menyentuh betis Melati yang terbungkus stocking tipis. Melati tersentak, jemarinya menekan tombol \'Enter\' secara tidak sengaja, membuat baris kalimat di layarnya berantakan. Ia melirik Arjuna dari balik kacamata, namun pria itu sedang menatap lurus ke arah presenter dengan wajah tanpa ekspresi, seolah-olah kakinya tidak sedang melakukan provokasi.
Sepatu itu tidak berhenti. Perlahan, Arjuna menggeser kakinya ke atas, menelusuri lekuk betis Melati hingga mencapai area di balik lututnya. Melati merasakan gelombang panas menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia merapatkan kedua pahanya, berusaha mengunci kaki Arjuna, namun itu justru memberikan tekanan yang lebih intim.
\"Ibu Melati, apakah poin tentang efisiensi biaya sudah dicatat?\" Suara Arjuna memecah konsentrasi semua orang.
Melati berdeham, berusaha menelan ludah yang terasa kering. \"Su..sudah, Pak. Sedang saya rapikan.\"
\"Bagus,\" sahut Arjuna pendek. Sudut bibirnya terangkat tipis, hampir tidak terlihat, namun cukup bagi Melati untuk tahu bahwa pria ini sedang menikmati penderitaannya.
Arjuna tidak berhenti di sana. Ia sedikit memajukan kursinya, membuat jarak di antara mereka semakin menipis. Kini, bukan lagi sepatu, melainkan tangan Arjuna yang turun dari meja dengan gerakan yang sangat halus sehingga tidak ada direktur lain yang menyadarinya.
Tangan besar itu mendarat di atas paha Melati, tepat di atas rok span-nya yang ketat. Panas dari telapak tangan Arjuna menembus kain rok, membakar kulit Melati. Jemari pria itu mulai bergerak dalam ritme yang lambat dan menyiksa, merayap semakin ke atas, menuju area sensitif yang kini mulai berdenyut menuntut perhatian.
Napas Melati memburu. Ia berusaha keras menjaga agar bahunya tidak gemetar. Di layar laptopnya, ia mulai mengetik kata-kata yang tidak ada hubungannya dengan rapat—ia sedang menuliskan apa yang ia rasakan saat ini, sebuah kebiasaan kompulsif untuk mengalihkan rasa takut sekaligus gairahnya.
“Dia menghancurkan profesionalitasku di depan semua orang. Tangannya adalah hukum, dan tubuhku adalah subjek yang tak berdaya. Aku membencinya karena dia tahu persis betapa aku menginginkan ini...”
\"Saya rasa kita butuh jeda lima menit,\" ujar Arjuna tiba-tiba, memotong pembicaraan direktur pemasaran. \"Saya perlu memeriksa notulen Ibu Melati sebentar.\"
Satu per satu peserta rapat keluar untuk mengambil kopi, meninggalkan mereka berdua dalam keheningan yang menyesakkan di ruang kedap suara itu. Begitu pintu tertutup rapat, Arjuna menarik kursi Melati hingga berputar menghadapnya.
\"Kau terlihat sangat sibuk mengetik, Melati. Apa yang kau tulis? Apakah seseru tulisanmu yang biasanya?\" bisik Arjuna. Ia menarik kacamata Melati dari wajahnya, membuat pandangan gadis itu sedikit kabur namun fokus pada bibir pria di depannya.
\"Anda gila, Arjuna. Bagaimana jika ada yang melihat?\" Melati mencoba protes, namun suaranya hanya berupa bisikan parau.
\"Biarkan mereka melihat bagaimana asisten pribadiku yang paling suci ini gemetar di bawah tanganku,\" Arjuna mencondongkan tubuh, menarik syal krem di leher Melati hingga simpulnya terlepas, memamerkan tanda merah yang ia buat semalam. \"Jangan pernah menyembunyikan apa yang kubuat, Melati. Aku ingin kau memakainya seperti perhiasan.\"
Arjuna bangkit, berdiri di antara kaki Melati yang masih duduk di kursi kerja. Ia mencengkeram tengkuk Melati, memaksanya menengadah. \"Rapat akan berlanjut dalam tiga menit. Dan aku ingin kau mencatat bab selanjutnya dari ceritamu di kepalamu... karena malam ini, aku akan memastikan kau tidak punya waktu untuk memegang pena.\"
Melati hanya bisa mengangguk pasrah, merasakan dominasi Arjuna yang menghancurkan seluruh dinding pertahanannya. Garis antara pekerjaan dan gairah kini telah benar-benar melandai, berubah menjadi jurang dalam yang siap menelan mereka berdua.
Other Stories
Liburan Ke Rumah Nenek
Affandi, remaja gaul berusia 18 tahun tak dapat berlibur ke lain tempat seperti biasa. Lib ...
Hati Yang Terbatas
Kinanti mempertahankan cintanya meski hanya membawa bahagia sesaat, ketakutan, dan luka. I ...
Bungkusan Rindu
Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...
Keluarga Baru
Surya masih belum bisa memaafkan ayahnya karena telah meninggalkannya sejak kecil, disaat ...
Cerella Flost
Aku pernah menjadi gadis yang terburuk.Tentu bukan karena parasku yang menjaminku menjadi ...
Kita Pantas Kan?
Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...