Akhir Dari Sebuah Topeng
Minggu-minggu berikutnya adalah sebuah simfoni rahasia yang berbahaya. Melati dan Arjuna hidup dalam dua dunia yang berbeda namun beririsan secara erotis. Di siang hari, mereka adalah rekan profesional paling efisien di gedung itu. Namun, di balik pintu tertutup, di dalam mobil yang melaju di tengah kemacetan Jakarta, atau di apartemen penthouse Arjuna yang minimalis, mereka adalah api dan bensin.
Namun, keberuntungan tidak selamanya berpihak pada mereka yang bermain di tepi jurang.
Bencana itu datang pada hari Selasa yang tenang. Sebuah pemeliharaan sistem cloud perusahaan mengalami malfungsi besar. Di layar monitor setiap karyawan—dari lobi hingga lantai eksekutif—muncul sebuah folder yang seharusnya terkunci rapat dalam enkripsi pribadi Melati. Judulnya: "DOKUMEN_RAHASIA_M."
Isinya bukan data keuangan. Itu adalah naskah mentah novel erotis Melati, lengkap dengan deskripsi detail mengenai "Sang Tuan" yang memiliki tahi lalat kecil di pinggang kiri dan aroma sandalwood yang memabukkan—ciri khas yang dimiliki setiap orang tahu adalah milik Arjuna.
Hening yang mematikan menyelimuti kantor. Melati yang baru saja keluar dari lift merasa seluruh pasang mata menusuknya seperti belati. Bisikan-bisikan mulai menjalar seperti racun.
"Si kaku itu... ternyata jalang di balik meja?" "Lihat bab tujuh ini, dia mendeskripsikan apa yang dilakukan Pak Arjuna di ruang rapat!"
Melati membeku. Dunianya runtuh. Ia melihat ke arah layar monitor terdekat dan melihat paragraf paling intim yang pernah ia tulis terpampang jelas. Dengan tangan gemetar, ia segera berbalik, berlari kembali ke ruangannya, mengunci pintu, dan mulai memasukkan barang-barangnya ke dalam tas dengan isak tangis yang pecah.
Tiba-tiba, pintu ruangannya terbuka paksa. Arjuna berdiri di sana. Wajahnya gelap, rahangnya mengeras.
"Arjuna... aku... aku bisa jelaskan," isak Melati, air mata membasahi pipinya yang pucat. "Aku akan mengundurkan diri sekarang juga. Aku tidak akan membiarkan namamu hancur karena fantasiku."
Arjuna melangkah maju, menutup pintu dengan bantingan keras, lalu menguncinya. Ia tidak tampak marah pada Melati. Kemarahannya tertuju pada situasi ini. Ia mendekati Melati, merenggut tas dari tangannya, dan melemparkannya ke sudut ruangan.
"Kau pikir aku peduli dengan apa yang mereka baca?" gertak Arjuna, suaranya rendah namun penuh otoritas. "Mereka hanya bisa membaca fantasimu, tapi hanya aku yang memiliki kenyataannya."
Arjuna menarik Melati ke dalam pelukannya, menciumnya dengan kasar dan posesif, seolah-olah ingin menghapus semua hinaan orang luar dengan keberadaannya sendiri.
Ketakutan akan kehilangan segalanya memicu adrenalin yang liar. Melati membalas ciuman itu dengan keputusasaan yang membara. Ia merobek kancing kemeja Arjuna, ingin merasakan kulit pria itu untuk terakhir kalinya sebelum ia menghilang.
Arjuna mengangkat Melati, mendudukkannya di atas meja kerja kecilnya yang penuh dengan berkas pengunduran diri yang belum selesai. Ia menyibak rok Melati, tidak peduli dengan suara kain yang robek karena ketergesaan.
"Mereka ingin tahu apakah tulisan ini nyata?" Arjuna berbisik di telinga Melati sambil tangannya menjelajah dengan intensitas yang lebih dalam dari sebelumnya. "Ayo kita beri mereka sesuatu yang tidak akan pernah bisa mereka lupakan jika mereka berani mendengarnya."
Arjuna melepaskan ikat pinggangnya dengan sekali sentakan. Saat ia menyatu dengan Melati, itu bukan lagi sekadar pelampiasan gairah, melainkan sebuah pernyataan perang terhadap dunia luar. Melati mencengkeram bahu Arjuna, kuku-kukunya meninggalkan bekas kemerahan di punggung pria itu. Setiap hentakan Arjuna terasa seperti penegasan bahwa tidak ada yang bisa memisahkan mereka.
Rintihan Melati tertahan di leher Arjuna, berbaur dengan suara hujan yang kembali turun di luar. Di atas meja yang kini menjadi altar penyerahan diri mereka, Melati merasakan puncak yang lebih dahsyat dari semua bab yang pernah ia tulis. Ia bukan lagi sekadar asisten, dan Arjuna bukan sekadar bos. Mereka adalah dua manusia yang telanjang di depan kenyataan pahit, memilih untuk saling mendekap daripada melarikan diri.
Setelah badai mereda, Arjuna membantu Melati merapikan pakaiannya. Ia mengambil kacamata Melati yang jatuh dan memakaikannya kembali dengan lembut.
"Dengarkan aku," ujar Arjuna, memegang kedua pipi Melati. "Besok, kau akan masuk ke kantor ini dengan kepala tegak. Kita tidak akan bersembunyi. Folder itu akan dihapus, tapi hubungan kita tidak. Aku akan mengangkatmu menjadi pendampingku, bukan hanya asistenku."
"Tapi reputasimu..."
"Reputasiku adalah milikku untuk kuhancurkan atau kubangun. Dan aku memilih untuk membangun masa depan bersamamu."
Keesokan harinya, pemandangan mengejutkan terjadi. Arjuna keluar dari lift utama sambil menggandeng tangan Melati dengan erat di depan seluruh karyawan. Tidak ada lagi seragam kaku. Melati mengenakan gaun sutra berwarna merah marun yang anggun, tanpa syal yang menutupi lehernya.
Topeng itu telah hilang. Rahasia itu telah menjadi sejarah. Dan di atas puing-puing gosip kantor, Melati menyadari bahwa hatinya tidak lagi hanya berada di atas tulisan-tulisan melati yang layu, tapi telah mekar sempurna di bawah perlindungan pria yang berjanji untuk menjaganya selamanya.
Other Stories
Ijr
hrj ...
Dua Tangkai Edelweis
Dalam liburan singkat di Cianjur, Rani—remaja tomboy berhati lembut—mengalami pertemua ...
Rumah Nenek
Liburan memang menyenangkan. Piyan, yang berumur 9 tahun. Hanya mengerti, liburan itu adal ...
32 Detik
Hanya 32 detik untuk menghancurkan cinta dan hidup Kirana. Saat video pribadinya bocor, du ...
Sebelum Ya ( Ketika Hidup Butuh Diperjuangkan )
(Diangkat dari kisah nyata. Kisah-kisah penuh hikmah bagi tokoh utama, yang diharapkan bis ...
After Honeymoon (17+)
Dipaksa menikah demi ambisi keluarga, Kirana dan Rhea terjebak dalam pernikahan tanpa cint ...