Bab 2: Siapa Yang Paling Penting?
“Diam! Jangan panik!” bentak Aries, pria berambut cepak, usianya mungkin awal tiga puluhan.
Gadis berwajah lugu itu tersentak. Ia menutup mulut dengan kedua tangan, menahan isak yang masih bergetar di dada.
Citra menoleh ke Aries, melirik kamera CCTV sekilas, lalu mengalihkan pandangnya ke Rasmi. "Tenang ... tenang ...." Suaranya pelan, stabil. "Kamu aman. Aku di sini. Kamu tenang ya ...."
Rasmi membalas tatapan itu. Matanya masih basah, tapi mulai fokus. Ia mengangguk perlahan, napas masih pendek-pendek.
Citra menahan pandangannya pada Rasmi beberapa detik, lalu menunduk.
Citra menarik satu napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan lewat hidung. Tangannya bergerak ke pergelangan sendiri—menekan, menghitung denyut.
Setelah itu, ia mengangkat kepala lagi.
Dari posisi duduknya, pandangan Citra tertuju pada meja bundar bertiang tunggal di tengah ruangan.
Lalu, ia menyapu ruangan searah jarum jam: Aries di kiri, lalu Helen, Setyo, Rasmi, Harto, Novan, dan terakhir Darwin.
Aries duduk dengan punggung tegak. Tangannya mencengkeram karet di leher, menarik dan memutar—sia-sia. Lalu, ia melempar pandangan ke arah kamera CCTV. "Gua polisi, anjing! Lepasin gua!"
Aries menunduk, mengikuti jalur rantai dari tengkuknya ke lubang kecil di lantai—menghentaknya.
Di seberangnya, Harto—pria bertubuh kekar, mungkin tiga puluhan—juga menarik rantainya.
KRAK—dua rantai itu menegang bersamaan, menghantam batasnya.
Lampu berkedip. Citra mendongak ke arah lampu. Ini terjadi terlalu cepat untuk dihitung, tapi cukup lambat untuk terasa.
Bunyi klik, klik, klik terdengar dari bawah lantai.
Aries dan Harto menjatuhkan rantai yang mereka pegang. KLANG! DUG! DUG!
Helen, wanita dua puluhan dengan rambut merah mencolok—terlalu terang untuk terlihat alami—mengatupkan kedua telapak tangan.
Ia bersimpuh di hadapan lensa yang menyorot ke arahnya. "Plis... gua bakal lakuin apa aja. Lepasin gua.”
Seorang pria yang pelipisnya mulai memutih, Setyo, duduk dengan mata terpejam. Punggungnya tegak. Kedua tangannya di atas paha—ujung jempol dan jari tengah disatukan.
Citra mengalihkan pandangannya ke Rasmi.
Gadis berkulit putih itu duduk, menatap lantai—tak bergerak.
Sementara itu, Harto menatap kamera CCTV dengan wajah datar. "Kalau ini cuma soal tebusan, sebutin aja angkanya.” Ia menoleh ke yang lain, lalu kembali mendongak. “Bebasin kami semua.”
Telinga Citra terangkat, lalu ia menoleh ke arah Harto—singkat.
Citra mengalihkan pandangannya ke arah Novan.
Pria paruh baya dengan tahi lalat di pipinya itu duduk—terlihat sangat tenang.
Lalu, tatapan Citra beralih pada satu-satunya pria bertubuh gemuk di ruangan ini: Darwin.
“Absurd sekali,” kata Darwin saat kepalanya bergerak menyapu ruangan. Lalu, saat tatapannya tertuju pada seragam Novan, matanya menyipit.
Novan mengangkat kepala, menatap langit-langit. "Di mana ini?"
Helen menggigit kuku jarinya. "Jangan-jangan kita diculik buat diambil organnya.”
Citra menggerakkan satu tangan. "Tenang, kita nggak boleh panik di situasi kayak gini.”
Helen menoleh ke Citra, matanya melebar. "Kita mesti ngapain sekarang?"
Citra menarik napas, lalu membuka mulut. Namun sebelum ia sempat menjawab, Aries tiba-tiba berdiri. Harto yang melihat itu pun langsung ikut berdiri.
Aries menatap meja.
Di atas meja itu, ada delapan kotak kaca transparan yang tersusun dalam formasi melingkar. Di dalam setiap kotak, ada satu kunci kecil berwarna emas.
Di tengah meja, sebuah palu tergeletak—huruf “H” terukir di gagangnya. Huruf yang sama juga terukir di permukaan meja.
Aries maju—rantai di tengkuknya menegang.
"Stop! Stop!" kata Harto. Rantai di lehernya juga tegang.
Klik. Klik. Klik. Terdengar bunyi mekanis dari bawah lantai, lalu deru mesin—samar.
Refleks, Citra menahan napas sepersekian detik—kebiasaan lama saat tubuh bersiap menghadapi rangsangan mendadak. Detak jantungnya melonjak, cepat, lalu dipaksakan turun.
Untuk sesaat, urutan langkah yang biasa ia lakukan di IGD terasa tidak lengkap—seolah ada satu tahap yang terlewat, tapi ia tidak sempat mencarinya.
Novan mengangkat tangan kanannya ke depan. "Jangan maju!"
Harto terdiam—tumitnya terangkat.
Bunyi mesin terdengar lebih jelas—rendah, dalam. Ruangan itu seolah menunggu sesuatu diputuskan.
Getaran itu naik dari lantai ke betis Citra. Refleks, ia mengencangkan telapak kakinya. Otot betisnya menegang, seperti sedang berdiri terlalu dekat dengan mesin berat yang sedang dipanaskan.
Aries menunduk, pandangannya menyapu lantai.
Lampu mati sebentar, lalu menyala lagi. Lampu-lampu merah di dinding ikut menyala.
Citra melihat tangan Rasmi terlipat di dada, mulutnya terbuka.
Suara rantai bergesekan dengan logam terdengar dari bawah—keras, kasar.
Citra menatap lantai. "Ada mesin penghancur di bawah kita!”
Udara di sekitar kakinya terasa berubah—lebih dingin, bercampur bau logam yang samar. Dengung itu kini cukup dekat untuk terasa di gigi.
Novan melirik Citra—tersenyum, singkat.
Novan merentangkan kedua tangan, menatap Aries, lalu Harto. "Tolong mundur.”
Aries melirik Harto sekilas—pandangannya kembali menyusuri ruangan.
Harto melirik Novan, lalu berjalan mundur—rantai mengendur.
Bunyi mesin berhenti. Lampu-lampu merah padam. Getaran menghilang, tapi sensasinya tertinggal di telapak kaki—seperti dengung yang baru saja dimatikan.
Citra baru menyadari bahunya terangkat sejak tadi, lalu mengelus dada.
Novan menatap Harto, lalu Aries. "Saudara-saudara... tolong duduk lagi.”
Harto kembali duduk.
Aries menyusul beberapa detik setelahnya.
Novan menghela napas—berat. “Kita harus sepakat... jangan ada yang bergerak sebelum kita tahu apa langkah selanjutnya.”
“Kalau ini ruangan, pasti ada jalan keluarnya,” jawab Citra.
Setyo mengangguk.
Rasmi melihat kiri-kanan, lalu mengangkat tangan kanannya—perlahan.
Citra mengalihkan perhatiannya pada Rasmi. "Ya, ada apa?"
"Bo-boleh saya bicara?" tanya Rasmi.
Citra dan Novan menatap Rasmi.
"Ngomong aja,” jawab Citra sambil tersenyum.
Rasmi menunjuk sesuatu di belakang Helen.
Helen mendengus. “Apaan sih nunjuk-nunjuk?”
Citra memusatkan perhatiannya ke arah yang ditunjuk. Novan mengikutinya sepersekian detik kemudian. Baru setelah itu, yang lain ikut menoleh.
Di dinding—belakang Helen—terlihat tulisan hitam: Siapa yang paling penting?
Catnya masih basah di beberapa bagian. Baunya masih tajam.
Other Stories
Bayangan Malam
Riel terus bereinkarnasi untuk keseimbangan Klan Iblis dan Klan Dewi. Tapi ia harus merela ...
Diary Superhero
lanjutan cerita kisah cinta superhero. dari sudut pandang Sefia. superhero berkekuatan tel ...
Cinta Dibalik Rasa
Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. A ...
Dua Mata Saya ( Halusinada )
Raihan berendam di bak mandi yang sudah terisi air hangat itu, dikelilingi busa berlimpah. ...
Kisah Cinta Super Hero
cahyo, harus merelakan masa mudanya untuk menjaga kotanya dari mutan saat dirinya menjadi ...
Kukejar Impian Besarku
Ramon, Yongki,Dino,Jodi,Eka adalah sekumpulan anak band yg rutin manggung di sebuah cafe d ...