Bab 1: Rantai
"Tolooong! Tolooong! Tolooong!"
Teriakan itu menghantam telinga Citra. Napasnya tersentak. Matanya terbuka. Kelopaknya berat. Pandangannya kabur.
Bau logam mengisi hidung—pekat, bercampur keringat lama yang terperangkap. Rasa pahit memenuhi mulut, liurnya mengental. Lalu, ia merasakan lantai yang dingin dan kasar menempel penuh di punggung.
Tangannya bergerak menyentuh perut. Dada. Cepat. Gemetar. Jari-jarinya menelusuri tulang iga, mencari luka atau apa pun. Tidak ada yang basah. Tidak ada yang robek.
Tangannya naik. Karet tebal yang bagian luarnya dilapisi baja mengunci di pangkal leher. Dingin.
Citra mencoba menyelipkan jari di bawah tepi karet, menekan, mencoba memberi ruang—celahnya sempit di bawah rahang. Karet itu keras seperti ban truk—tidak lentur.
Citra menariknya, tapi karet itu terlalu kuat.
Ia menariknya lagi—lebih keras. Tetap tidak bergerak.
Citra menarik napas—dadanya naik turun cepat.
Ia menekan lantai dengan telapak tangan, mengangkat tubuh.
Ruangan berputar. Cahaya pecah. Beberapa detik kemudian, baru fokus.
Ia memperhatikan tangannya—kulit kuning langsat yang tampak memucat di bawah cahaya redup. Lalu, pandangannya turun—pakaian kotak-kotak seperti tahanan melekat di tubuhnya.
Ia menyentuh bagian tengkuknya. Karet itu terhubung dengan rantai besar dan ada gembok baja pada rantai itu.
Ia meraba gembok itu dan merasakan lubang kuncinya.
Ia menoleh ke belakang. Rantai itu masuk ke lubang kecil yang ada di lantai.
Citra menarik rantai itu sekuat tenaga. SREEET!
Lantai di bawahnya bergetar, diikuti dengungan samar. Suara mesin. Besar. Berputar perlahan, seperti sesuatu yang baru saja dibangunkan dari tidur panjang. Lampu-lampu merah di dinding menyala—berkedap-kedip.
Citra melihat sekeliling.
Tujuh orang lain duduk atau berbaring di lantai. Tubuh mereka tersebar merata membentuk lingkaran yang mengikuti bentuk ruangan.
Di leher masing-masing, terpasang karet yang sama—tebal dan gelap—dengan rantai besar yang menjulur dari tengkuk, turun ke lantai, lalu menghilang ke dalam lubang-lubang di lantai.
Pakaian mereka pun sama persis.
Suara deru mesin semakin keras. Bukan satu bunyi—banyak: putaran, gesekan, dentuman logam saling bertemu.
Di seberang, seorang gadis muda—mungkin awal dua puluhan—duduk tersentak.
Matanya terbuka lebar, tak berkedip. Tangannya menarik karet di leher, kukunya menekan sia-sia ke permukaan dingin itu. Napasnya terputus-putus. Dadanya turun-naik cepat.
Ia mencoba berdiri. Tubuhnya terangkat setengah. Lututnya gemetar.
Di belakangnya, lantai bergetar—ia menoleh.
Beton itu terbelah. Bunyinya berat, basah—seperti sendi besar yang dipatahkan. Udara dingin naik dari sana, bercampur bau logam dan sesuatu yang asam.
Lalu, tarikan tiba-tiba dari tengkuk membuatnya jatuh terduduk. Rantainya bergerak. SREEEET!
Tubuhnya terseret. Tumitnya berusaha mencengkeram lantai, sia-sia. Tangannya mencakar beton—bunyi kering itu memekakkan telinga.
Ia berusaha membalikkan tubuh. Sepatunya terlepas. Jari-jarinya meraih—kosong. “Tolooong! Tolooong!”
Tubuh gadis itu melewati bibir lubang. Lalu masuk sepenuhnya ke bawah.
Mulut Citra terbuka. Dadanya terasa kosong.
Jeritan itu memuncak—lalu terputus mendadak. Citra membekap mulut. Napasnya tertahan.
Matanya bergerak ke arah dinding. Sebuah lensa hitam menatap balik—titik merah berdenyut di sisinya. Ia menoleh ke. Lensa lain. Lalu satu lagi. Dan satu lagi—ia memutar tubuh—di belakangnya.
Citra berbalik, menekan lantai, setengah berdiri.
Terdengar bunyi mekanis lagi—kali ini lebih dekat.
Lantai di belakang Citra terbuka.
Rantainya menegang. Tubuhnya terseret.
Citra menarik karet di leher. Tangannya gemetar. Napasnya semakin memburu.
Tepat sebelum tubuhnya masuk lubang, terdengar teriakan minta tolong. Jauh. Patah-patah. Seperti datang dari tempat lain.
Rantainya menegang lebih keras—
Citra terbangun—langsung duduk. Napasnya tersangkut, tangan masih mencengkeram karet.
Teriakan itu belum berhenti.
Ia menebar pandangan ke sekitar. Lantai masih tertutup sempurna. Lampu merah tidak menyala.
Di depan, Rasmi masih hidup. Duduk. Gemetar. Matanya merah, basah. "Tolooong! Tolooong! To—"
Other Stories
Susan Ngesot
Reni yang akrab dipanggil Susan oleh teman-teman onlinenya tewas akibat sumpah serapah Nat ...
Perpustakaan Berdarah
Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...
Hopeless Cries
Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...
Tes
tes ...
Nyanyian Hati Seruni
Begitu banyak peristiwa telah ia lalui dalam mendampingi suaminya yang seorang prajurit, p ...
Buah Mangga
buah mangga enak rasanya ...