Ngidam

Reads
5
Votes
0
Parts
5
Vote
Report
Penulis Adrian Corvus

Bab 4 – Rasa Yang Asing

Begitu jemariku melingkarinya, aku bisa merasakan daging itu hidup, berkedut liar di tanganku. Membesar. Mengeras.

Dalam hitungan detik, benda itu sudah berubah menjadi tonggak besi yang keras dan kaku.

Kepalanya yang berbentuk helm itu membengkak, memerah padam, dan berkilat-kilat basah oleh cairan bening yang mulai merembes keluar dari lubang kecilnya.

\"Ahhh ... shhh ...\" desis Arjuna. Tubuhnya menggelinjang hebat, matanya terpejam erat, dan tangannya meremas sprei hingga buku-bukunya memutih menahan kenikmatan yang menyiksa.

Aku mendongak menatap wajahnya yang meringis menahan gairah, lalu melirik Mas Santo di sudut kamar yang matanya membelalak lapar, napasnya memburu seperti kuda pacu.

Kemudian, dorongan gila itu—hormon kehamilan yang meledak-ledak atau mungkin sisi liar yang selama ini terkurung—mengambil alih akal sehatku.

Tanpa sadar, aku turun dari kasur. Berlutut di atas karpet. Wajahku sejajar dengan tombak Arjuna yang tegak menantang itu. Aroma pre-cum yang amis dan manis itu tercium semakin kuat.

Hawa panas dari daging yang menegang itu menerpa wajahku, begitu dekat hingga aku bisa merasakan radiasi suhunya yang membakar ujung hidungku.

Perlahan, aku membuka mulut. Lidahku menjulur basah, gemetar, ingin merasakan teksturnya.

Dari arah samping kami, dari arah sofa, suara napas Mas Santo terdengar berat. Satu tarikan, satu hembusan. Statis.

Dia tidak bersuara, tapi aku tahu matanya sedang menelanjangi adegan ini—istrinya yang hamil muda, berlutut di karpet, bersiap melahap penis pria lain.

Bagian diriku yang masih waras sempat berteriak agar aku berhenti. Tapi bagian lain—bagian yang lebih liar, yang tak pernah kusentuh selama ini—justru menyambut dorongan ini.

Ada rasa jatuh yang aneh, seperti menuruni lereng licin tanpa rem, dan entah mengapa tubuhku tidak menolak.

Maka, aku pun memangkas jarak itu.

Lidahku menyentuh ujung penis Arjuna—sentuhan pertama yang membuatku merasakan denyut halus di bawah kulitnya.

Hangat, sedikit asin, dan berbau anyir yang khas—aroma jantan yang anehnya memabukkan indra penciumanku.

Aku mulai menjilati bagian kepalanya yang merah padam, merasakan tekstur permukaannya yang kenyal namun keras seperti karet ban yang dipompa maksimal.

Lalu, perlahan lidahku turun, menyusuri batang yang berotot itu hingga ke pangkalnya yang rimbun.

Setiap sapuan lidahku membuat benda itu bereaksi—berkedut liar, seolah ada nyawa yang mendesak-desak ingin keluar dari dalamnya.

Aku bisa merasakan betapa gugupnya Arjuna.

Getaran halus di pangkal pahanya itu bukan sekadar rangsangan; ada rasa takut yang bercampur, seperti tubuhnya sendiri belum siap menghadapi apa yang sedang terjadi.

Tapi, justru ketidakpastian itulah yang memantik sesuatu dalam diriku.

\"Ahhh ... shhh ... Bu Clara ....\" desis Arjuna, suaranya tercekat di tenggorokan.

Tubuhnya menggelepar pelan, kakinya mencengkeram karpet, menahan gempuran sensasi yang menyerang sarafnya.

Mulutku terbuka lebih lebar, menerima kepala penisnya masuk. Bibirku melingkar di sekitar batang itu, lidahku terus bermain di bawah kepala yang paling sensitif.

Rasanya ... aneh. Tapi juga membangkitkan sesuatu dalam diriku—sesuatu yang sudah lama tertidur.

Aku tak tahu sisi apa yang baru bangkit itu—entah rasa lapar, entah rasa ingin dihancurkan, atau sekadar kerinduan untuk dilihat.

Tapi, sensasinya nyata, menekan dari dalam seperti denyut panas yang merayap ke seluruh tubuhku.

Di sofa, Mas Santo masih diam, mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. Cahaya lampu kamar memantul di dahinya yang mulai berkeringat.

Mas Santo ... memang tidak memberi instruksi. Namun, tatapannya yang lekat pada mulutku, yang kini tersumpal kejantanan anak buahnya, menciptakan nuansa pertunjukan terlarang yang mencekik udara.

Aku mulai bergerak.

Maju. Mundur.

Kepalaku mengangguk dalam irama lambat namun pasti.

Suara kecipak basah mulai memenuhi ruangan yang sunyi itu—bunyi pertemuan antara bibir yang basah, lidah yang bermain, dan batang daging yang licin.

Suara itu terasa seperti gema dari kedalaman diriku sendiri—cabul, jujur, dan tak bisa disangkal. Setiap kecipak seperti menggores lapisan malu yang selama ini erat kujaga.

Aroma maskulin Arjuna—campuran keringat dingin karena gugup dan feromon anak muda yang tajam—memenuhi rongga hidungku. Aroma yang liar. Mentah. Berbeda sekali dengan aroma Mas Santo yang lebih tenang dan berbau tembakau.

Napasku mulai menderu lewat hidung, panas dan tertahan, memburu oksigen di sela-sela batang yang menyumbat mulutku.

“Bu ... ahhh” desah Arjuna, tangannya mulai memegang kepalaku.

Aku merasakan penis Arjuna yang kini sudah benar-benar keras memenuhi mulutku. Panjang. Tebal. Jauh berbeda dari punya Mas Santo.

Slrrrp.

Bibirku melingkar ketat di sekitar batang yang kokoh itu. Rasanya sesak. Rongga mulutku dipenuhi oleh daging yang tebal dan hangat.

Aku bisa merasakan urat-urat nadi yang memompa darah di dalamnya, berdetak kencang menempel di langit-langit mulutku.

Ini gila. Aku, istri Mas Santo, sedang melayani bawahannya!

Aku terus menggerakkan kepalaku maju mundur.

Nyeem ... glepp ....

Air liurku meluap, melumuri batang itu hingga berkilat basah. Arjuna semakin kejang.

Tiba-tiba, tangan Arjuna menekan kepalaku dan pinggulnya menyentak kuat-kuat.

\"Hoek!\"

Batangnya menusuk terlalu dalam, menghantam pangkal tenggorokanku tanpa ampun. Aku tersedak.

Mataku terbelalak, air mata refleks menggenang di sudut mata karena sensasi mual yang bercampur dengan gairah aneh.

Aku terbatuk kecil, melepaskan isapanku, membiarkan saliva menjuntai bening.

Arjuna panik. Wajahnya pucat.

\"M-maaf, Bu ... Maaf, Pak. Tadi saya refleks\" gagapnya cepat.

Matanya melirik liar ke arah Mas Santo, seolah baru saja menjatuhkan vas bunga mahal. Tubuhnya gemetar, takut bosnya murka karena telah menyakiti istrinya.

Melihatnya begitu ketakutan, ada sesuatu dalam diriku bergeser. Ada sentakan kecil, seperti rasa ingin berkuasa yang tiba-tiba muncul dari tempat gelap yang tak pernah kukenal sebelumnya.

Ternyata, Mas Santo tidak marah sama sekali. Ia hanya diam, dan dari diam itulah muncul dorongan halus yang menyeretku semakin jauh ke dalam permainan ini.

Maka, aku pun menarik pinggul Arjuna mendekat, tanganku mencengkeram bokongnya yang keras dan padat.

Aku menatap matanya sekilas—memberi kode bahwa aku baik-baik saja—lalu kembali membenamkan wajahku ke selangkangannya. Kali ini, lebih berani, lebih rakus.

“Aaahhh… uuuhhh…” desah Arjuna pecah, menyalakan naluri liar yang membuatku ingin menghujaninya dengan kenikmatan yang lebih pekat.

Tangannya menyentuh kepalaku sebentar, lalu ia tarik kembali. Aku bisa merasakan keraguannya—sisa ketakutan yang belum sepenuhnya luruh.

Dari sudut mata, aku menangkap gerakan kecil di sofa. Mas Santo. Tangannya bergerak perlahan ke pangkal pahanya sendiri, mengusap tonjolan yang sudah keras di balik celana bahannya.

Dia tidak bersuara—hanya duduk miring ke depan, menatapku dengan campuran gairah dan sesuatu yang lebih sulit diurai.

Pemandangan itu—suamiku yang terangsang melihatku melayani pria lain—membuat rahimku berdenyut semakin kencang, membuat celana dalamku semakin basah.

Aku mendorong diriku lebih dalam. Mengeksplorasi batas kemampuanku sendiri.

Gluk, gluk, gluk.

\"Pelan-pelan, Sayang,” suara Mas Santo memecah udara.

Kalimat itu tidak menghentikanku; justru memantik bara yang sudah menumpuk di bawah kulitku, menyala cepat seperti bensin tersulut api.

Aku membuka kimonoku sedikit, memperlihatkan dada kencangku pada Arjuna. Memperlihatkan seberapa dalam aku bisa jatuh sambil disaksikan suamiku sendiri.

Ketika aku menangkap ekspresi Mas Santo—cemburu yang menyatu dengan nafsu—mulutku bergerak lebih liar, seakan tubuhku merespons tatapannya lebih dulu daripada pikiranku.

“Aaahhh”, desah Arjuna terdengar lebih keras. Tubuhnya menggeliat. Kakinya gemetar hebat, lututnya seperti mau copot. Tangannya yang tadi menggantung canggung kini meremas rambutku.

\"Bu ... sshhh ... Bu Clara ...\" desisnya parau, napasnya putus-putus, mendesis lewat gigi yang terkatup rapat. \"S-saya ... mau ... ahhh ....\"

“Berhenti!” perintah Mas Santo tiba-tiba.


Other Stories
Kala Cinta Di Dermaga

Saat hatimu patah, di mana kamu akan berlabuh? Bagi Gisel, jawabannya adalah dermaga tua y ...

Separuh Dzarah

Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suara ...

Keeper Of Destiny

Kim Rangga Pradipta Sutisna, anak dari ayah Korea dan ibu Sunda, tumbuh di Bandung dengan ...

Dante Fairy Tale

“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita gemu ...

Mozarela Bukan Cinderella

Moza, sejak bayi dirawat di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu oleh Bu Kezia, baru boleh diadops ...

Cinta Bukan Ramalan Bintang

Dengan membaca ramalan bintang seakan menentukan hidup seorang Narian akan bahagia atau ti ...

Download Titik & Koma