Ngidam

Reads
5
Votes
0
Parts
5
Vote
Report
Penulis Adrian Corvus

Chapter 1

Sore ini terasa berat. Bukan karena udara Jakarta yang pengap. Bukan pula karena kehamilanku yang kini menginjak minggu kedelapan.

Sore ini terasa berat karena ada sesuatu yang mengganjal di dadaku—sesuatu yang malu untuk kuakui, bahkan pada diriku sendiri.

***

Aku duduk di sofa ruang keluarga.

Tanganku meremas-remas ujung bantal. Mataku menatap layar TV tanpa tahu apa yang sedang kutonton. Pikiranku melayang ke tempat yang tidak seharusnya—ke mimpi tadi malam.

Mimpi tentang Arjuna.

Mimpi yang membuat wajahku memanas setiap kali mengingat detailnya.

Mengingat bagaimana tanganku menyentuh bagian paling pribadi dari tubuh Arjuna. Merasakan kerasnya. Merasakan hangatnya. Dan yang paling gila, aku menikmatinya!

***

Arjuna. Anak buah suamiku di kantor. Pria berusia 25 tahun yang sering datang ke rumah untuk meeting atau sekadar mengantar dokumen.

Pria tampan dengan senyum ramah dan tubuh atletis yang selalu rapi dalam kemeja kantor.

Kenapa aku harus mimpi dia? Kenapa bukan suamiku sendiri, Mas Santo?

Aku menggeleng keras, mencoba mengusir bayangan itu. Namun, semakin kucoba, bayangan itu justru semakin menghantuiku—memaksaku mengingat sensasi aneh dalam mimpi itu.

Ini pasti karena ngidam, pikiranku mencoba memberi penjelasan.

Wanita hamil memang sering punya keinginan aneh. Ada yang ingin disuapi seperti bayi. Ada yang ingin makan es batu berkilo-kilo. Ada pula yang ingin makan tanah.

Tapi aku? Aku menginginkan sesuatu yang tabu!

***

Suara pintu depan terbuka. Mas Santo pulang. Aku meluruskan punggung, berusaha terlihat biasa saja.

\"Assalamualaikum,\" suara Mas Santo yang berat terdengar dari pintu. Pria 45 tahun itu melangkah masuk dengan tas kerjanya. Wajahnya sedikit lelah, namun tetap tersenyum melihatku.

\"Waalaikumsalam,\" sahutku dengan senyum yang kubuat semanis mungkin. \"Capek, Mas?\"

\"Lumayan,\" jawabnya sambil melepas tas, lalu mencium keningku dengan lembut. \"Gimana hari ini? Mual-mualnya masih?\"

\"Udah lumayan berkurang, Mas. Tapi ...\" aku menggigit bibir bawahku, ragu melanjutkan.

\"Tapi apa, Sayang?\" tanya Mas Santo sambil duduk di sampingku. Tangannya meraih tanganku yang dingin. \"Ada yang sakit?\"

\"Nggak. Cuma ...\" aku menunduk, tidak berani menatap matanya.

\"Cuma apa?\"

\"Adek ... adek lagi ngidam, Mas.”

Mas Santo tertawa kecil, suara yang hangat dan menenangkan. \"Ya iyalah. Namanya juga lagi hamil. Pengen makan apa? Pempek? Soto? Atau buah apa?”

\"Bukan makanan, Mas.”

\"Lho?\" suaranya turun setengah oktaf. \"Terus, pengen apa?\"

Aku menarik napas panjang. Dan selama beberapa detik kemudian, hanya ada hening di antara kami—keheningan yang bagiku terasa mencekam.

Mas Santo tidak mendesak, hanya menatapku dengan alis sedikit terangkat, sabar menunggu jawabanku.

Di momen yang sangat menentukan ini, aku sadar aku bisa saja berbohong, mengatakan bahwa aku hanya ingin dibelikan baju atau tas. Atau ... aku bisa berkata jujur—dan mempertaruhkan segalanya.

\"Mas ... adek ... adek mimpi aneh semalam,\" ucapku akhirnya, suaraku hampir berbisik.

\"Mimpi apa?\"

\"Mimpi ... mimpi Arjuna, Mas.”

Mas Santo menyipitkan matanya. “Mimpi gimana maksudnya?”

\"Adek mimpi ...” Aku diam sejenak. Jantungku berdetak sangat keras sampai aku bisa mendengarnya sendiri. “Nggak, Mas, nggak jadi,” kataku, menggeleng.

Mas Santo tersenyum dan menatapku penuh pengertian. “Mas nggak maksa adek cerita sekarang kalau adek belum siap,” kata Mas Santo sambil mengecup keningku.

“Tapi ... kalau adek mau cerita, Mas siap dengerin,” sambung Mas Santo, lalu mencium bibirku—singkat.

\"Tapi janji ya, Mas, jangan marah,\" pintaku dengan suara yang bergetar. Air mataku sudah menggenang di pelupuk.

\"Iya, Mas janji nggak bakal marah. Cerita aja.”

Aku menghela napas panjang. “Jadi ... tadi adek mimpi ... megang itunya, Mas,” kataku sambil tertunduk malu.

Hening.

Aku memejamkan mata. Bersiap-siap jika Mas Santo ternyata cemburu dan memarahiku.

Lalu, dalam keheningan itu, aku mendengar napas Mas Santo berubah menjadi lebih berat. Seperti napas orang yang tiba-tiba gugup atau… tersentak oleh sesuatu.

Jari-jarinya yang memegang tanganku bergerak sedikit, meremas pelan sebelum cepat-cepat melonggarkannya kembali.

Aku membuka mata, mencari tanda-tanda kemarahan atau kekecewaan di wajahnya. Namun tidak menemukannya.

\"Itunya yang mana?\" suaranya parau.

Wajahku memanas. \"Ya ... itunya, Mas. Bendanya.”

\"Punyanya Arjuna?\" tanya Mas Santo pelan.

Aku hanya mengangguk kecil.

Lalu, terdengar desahan halus keluar dari bibir Mas Santo—sangat pelan, hampir tidak terdengar.

\"Cuma megang aja?\"

“I-iya, Mas. Cuma megang aja. Tapi ... jadi kepikiran sampai sekarang.”

Tubuh Mas Santo menegang. Dan aku bisa merasakan dadanya naik-turun dengan cepat. Tangannya di punggungku mencengkeram kain bajuku, meremas kuat.

\"Kepikiran apa?\" tanyanya lagi. Suaranya makin serak. \"Mau megang benaran?”

Aku mengangguk kecil, dan tanpa kusadari, air mata mulai menetes.

\"Tapi, Mas jangan marah ya,\" sambungku buru-buru dengan suara bergetar. \"Ini pasti karena lagi ngidam. Adek juga bingung kenapa ngidamnya aneh kayak gini.”

\"Sssttt,\" potong Mas Santo, tangannya menghapus air mataku dengan ibu jari. \"Jangan nangis.”

Aku menatapnya. Dan aku melihat sesuatu di wajahnya yang membuatku bingung—bibirnya melengkung sedikit, seperti ... senyum puas?

\"Sayang,\" katanya pelan, tapi ada gemetar di sana. \"Adek tahu nggak ... Mas seneng Adek jujur sama Mas.”

\"Mas ... nggak marah?\"

\"Marah?\" Mas Santo tersenyum lebih lebar, tapi matanya ... matanya penuh sesuatu yang intens. \"Kenapa harus marah? Adek kan lagi ngidam. Wajar.”

\"Tapi ... ini kan ngidamnya aneh, Mas.”

\"Aneh?\" Mas Santo tertawa kecil—tawa yang terdengar gugup tapi juga excited.

\"Kata orang tua dulu, kalau ngidam nggak diturutin, nanti anaknya ngeces atau tompelan. Mas nggak mau anak kita kayak gitu.”

Aku tertegun. \"Jadi ...?\"

Mas Santo memandangiku. Lalu mengusap pipiku perlahan, seolah memastikan aku baik-baik saja sebelum ia berbicara. “Kalau adek beneran mau… Mas telepon Arjuna sekarang.”


Other Stories
Garuda Hitam: Sayap Terakhir Nusantara

Aditya Pranawa adalah mantan pilot TNI AU yang seharusnya mati dalam sebuah misi rahasia. ...

Ablasa

Perjalanan Nindya dan teman-temannya ke Nusakambangan menjadi menyeramkan setelah mereka t ...

Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )

pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...

Suara Dari Langit

Apei tulus mencintai Nola meski ditentang keluarganya. Tragedi demi tragedi menimpa, terma ...

Melinda Dan Dunianya Yang Hilang

Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...

Zen Zen Sense (kehidupan Sebelumnya)

Aku pernah mengalami hal aneh seperti bertemu orang mati, kebetulan janggal, hingga melint ...

Download Titik & Koma