Bu Guru Dan Mantan Murid

Reads
4
Votes
0
Parts
5
Vote
Report
bu guru dan mantan murid
Bu Guru Dan Mantan Murid
Penulis Adrian Corvus

Bab 1 – Kebutuhan Salsa

Lampu kamar yang temaram menyisakan bayangan panjang yang menari di dinding, namun Salsa tidak melihatnya.

Matanya terpejam rapat, seluruh indranya terpusat pada gesekan kulit yang panas dan ritme napas yang memburu di atasnya.

Salsa mencoba mencari ritme dalam gerakan Joko yang monoton, berharap setidaknya imajinasinya bisa menambal kekosongan yang ditinggalkan oleh kenyataan.

Dirinya bukan subjek dalam tindakan ini—hanya sebuah koordinat fisik yang digunakan untuk pelepasan satu pihak.

Suaminya, Joko, memompanya dengan gerakan yang terasa kasar di permukaan kulit Salsa yang sensitif.

Ada aroma keringat yang bercampur dengan sisa parfum murah yang mulai memudar, menusuk masuk ke dalam paru-parunya setiap kali Joko mengembuskan napas di ceruk lehernya.

Salsa mencengkeram sprei hingga jemarinya memutih, merasakan tekstur kain katun yang kini terasa seperti ampelas di punggungnya yang berkeringat.

Dia bisa merasakan otot-otot pahanya menegang, menantikan gelombang yang seharusnya datang. Sedikit lagi, batin Salsa menjerit. Tolong, jangan berhenti dulu. Biarkan aku merasakannya sekali saja.

Setiap saraf di tubuhnya seolah berteriak, haus akan tekanan yang lebih dalam, sentuhan yang lebih lama.

Namun, di tengah napasnya yang mulai tersengal, dia merasakan tubuh Joko menegang secara mendadak. Sebuah sentakan singkat, napas yang tertahan tajam di tenggorokan pria itu, lalu kemudian ... keheningan yang menyesakkan.

Joko ambruk begitu saja di atas dada Salsa.

Berat tubuh suaminya terasa seperti beban mati yang menekan paru-paru Salsa, membuatnya sesak—secara harfiah maupun kiasan.

Salsa bisa merasakan jantung Joko berdegup kencang tak beraturan di balik tulang rusuknya, menghantam dada Salsa dengan ritme yang egois.

Namun, di bagian bawah sana, di pusat kewanitaannya yang baru saja menghangat, segalanya terasa berakhir terlalu cepat.

Rasa panas yang tadi sempat membuncah di perut bawah Salsa mendadak surut, meninggalkan sensasi dingin dan hampa yang menyakitkan.

Rahimnya seolah berdenyut karena kontraksi yang tak terselesaikan. Dan “kecewa” adalah kata yang terlalu sederhana untuk menggambarkan badai yang sedang berkecamuk di dalam dirinya.

\"Maaf,\" bisik Joko, suaranya parau dan penuh rasa malu, namun juga terdengar rutin. Seperti kaset rusak yang diputar ulang setiap Kamis malam.

Kata itu kini terdengar seperti lonceng kematian bagi gairahnya sendiri—sebuah pengakuan atas ketidakberdayaan yang tak pernah coba diperbaiki oleh Joko dengan tindakan nyata.

Joko berguling ke samping—memunggungi Salsa—dan menarik selimut sebatas pinggang, tidak berani menatap mata istrinya.

Punggung itu, yang dulu terasa seperti pelindung bagi Salsa, kini hanya tampak seperti tembok tebal yang memisahkan dunia mereka.

Tidak ada pelukan, tidak ada ciuman di kening, tidak ada pertanyaan, \"Kamu sudah?\"

Yang ada, hanya kesunyian yang membuat dada Salsa terasa hampa.

Salsa menatap langit-langit kamar yang gelap, pada pola gipsum yang sudah dia hafal di luar kepala. Ia merasakan cairan yang lengket dan hangat mengalir perlahan di antara pahanya, sebuah pengingat akan kegagalan yang berulang.

Dinginnya lantai kamar mandi yang sebentar lagi akan dia pijak sudah terbayang di benaknya—sebuah ritual pembersihan pasca-hubungan yang lebih terasa seperti membasuh luka daripada merayakan cinta.

Tangannya perlahan turun, mengusap perutnya sendiri yang masih terasa kaku karena ketegangan seksual yang tertahan.

Ada rasa frustrasi yang menjalar dari ujung kaki hingga ke dadanya, menggumpal menjadi batu di kerongkongan. Sebuah rasa lapar yang purba, yang tidak bisa dipuaskan hanya dengan kata \"maaf\" yang dilempar tanpa rasa bersalah yang tulus.

Salsa bangkit perlahan—duduk. Sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos, Salsa berdehem kecil. Tenggorokannya terasa kering, seolah baru saja menelan pasir.

\"Mas,\" panggilnya lembut. Ada nada datar yang tak bisa ia sembunyikan, sebuah kekosongan dalam suaranya sendiri yang membuatnya takut akan dirinya sendiri.

Joko hanya bergumam, suara \"hmm\" yang serak dan malas, masih enggan berbalik. Dia sudah setengah jalan menuju alam mimpi, meninggalkan istrinya sendirian di tepi jurang hasrat yang tak tuntas.

\"Besok siang ... adek mau izin pergi,\" lanjut Salsa.

Dia memainkan ujung selimut, merasakan tekstur kain yang kasar di bawah jemarinya, mencoba mengalihkan fokus dari detak jantungnya sendiri yang masih belum tenang. \"Ada alumni ngadain reuni satu angkatan. Di kafe D’Jati.\"

Joko terdiam sejenak. Hening yang menggantung membuat Salsa bertanya-tanya apakah suaminya sudah benar-benar tertidur atau hanya berpura-pura untuk menghindari percakapan.

Namun kemudian, Salsa bisa mendengar helaan napas suaminya yang berat di balik bantal.

\"Jam berapa, Sayang?\" tanyanya, tanpa nada curiga, tanpa ketertarikan lebih. Hanya formalitas seorang pria yang merasa tugasnya sebagai suami sudah selesai karena dia sudah memberikan \"jatah\".

\"Jam satu. Mungkin sampai sore. Adek sudah lama nggak ketemu mereka. Boleh, kan?\" Salsa menahan napas, menunggu.

Sebagian kecil hatinya berharap Joko akan melarang, akan cemburu, atau setidaknya bertanya siapa saja yang datang agar dia merasa masih dimiliki.

\"Iya, pergi saja,\" jawab Joko singkat, hampir seperti gumaman orang mengigau. \"Cari hiburan sedikit. Mas juga mungkin lembur besok.”

Jawaban itu menutup pintu harapan Salsa. Kebebasan yang diberikan Joko terasa seperti pengusiran halus; ia bebas pergi karena dirinya tidak lagi menarik untuk dipertahankan di rumah.

Salsa mengangguk dalam kegelapan meski suaminya tidak melihat. \"Makasih, Mas,\" bisiknya, lebih pada dirinya sendiri.

Setelah ke kemar mandi, Salsa merebahkan kembali tubuhnya di sisi kasur yang dingin, menjaga jarak agar kulitnya tidak bersentuhan dengan punggung Joko yang mulai mendengkur halus.

Salsa memejamkan mata, namun saraf-sarafnya masih terjaga liar. Tubuhnya berteriak minta diselesaikan, hatinya berteriak minta diperhatikan.

Di balik kelopak matanya, bayangan tentang hari esok mulai terbentuk.

Bukan tentang reuni itu sendiri. Melainkan tentang ruang publik, hiruk pikuk percakapan, aroma kopi, dan wajah-wajah masa lalu yang mungkin—hanya mungkin—bisa melihatnya sebagai seorang wanita utuh.

Bukan sekadar istri yang harus melayani suami tanpa pernah dilayani kembali.

Tubuhnya yang hampa seolah mencari pelarian dari ranjang yang terasa semakin dingin dan sempit ini.


Other Stories
Kepentok Kacung Kampret

Renata bagai langit yang sulit digapai karena kekayaan dan kehormatan yang melingkupi diri ...

Jodoh Nyasar Alina

Alina, si sarjana dari Eropa, pulang kampung cuma gara-gara restu Nyak-nya. Nggak bisa ker ...

Kastil Piano

Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...

Kala Kisah Tentang Cahaya

Kala, seorang gadis desa yang dibesarkan oleh neneknya, MbahRum. tumbuh dalam keterbatasan ...

Puzzle

Karina menyeret kopernya melewati orang-orang yang mengelilingi convayer belt. Koper ber ...

Pahlawan Revolusi

tes upload cerita jgn di publish ...

Download Titik & Koma