Bu Guru Dan Mantan Murid

Reads
4
Votes
0
Parts
5
Vote
Report
bu guru dan mantan murid
Bu Guru Dan Mantan Murid
Penulis Adrian Corvus

Bab 3 – Getaran Yang Tak Seharusnya

Salsa berdiri di dapur yang sunyi, mengaduk teh manis dengan gerakan lambat.

Denting sendok yang beradu dengan dinding gelas kaca menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan rumah malam itu.

Pikirannya, bagaimanapun, jauh dari dapur sederhana ini—kembali pada senyum Anton kemarin siang. Senyum yang menyimpan rahasia, senyum yang membuatnya merasa telanjang sekaligus utuh.

Dia melirik ke arah ruang tengah melalui celah pintu dapur.

Di sana, Joko duduk bersandar di sofa. Wajahnya diterangi cahaya biru dari tablet. Keningnya berkerut—tanda kalau dia sedang serius membaca berita politik.

Drrrt! Drrrt!

Ponsel Salsa bergetar di atas meja dapur, tepat di samping toples gula. Getaran itu singkat, namun cukup membuat Salsa kaget.

Salsa meletakkan sendok tehnya. Tangannya sedikit lembap saat meraih benda pipih itu. Ada notifikasi WhatsApp dari nomor tak dikenal, namun Salsa sudah menduga siapa pemiliknya.

\"Assalamualaikum, Bu Salsa. Saya Anton.”

Pesan kedua masuk sebelum Salsa sempat membalas.

\"Aroma parfum Bu Salsa nempel di kemeja saya. Bunga mawar, ya?”

Masuk pesan ketiga.

Saya jadi penasaran. Sekarang masih pakai?

Salsa membaca pesan itu dua kali, memastikan matanya tidak salah tangkap.

Kalimat itu tampak sopan di permukaan, namun ada sesuatu yang lain di baliknya.

Salsa menggigit bibir bawahnya, merasakan perih yang manis.

Ada rasa hangat yang menjalar cepat dari dadanya menuju pipi, membuat suhu tubuhnya naik beberapa derajat di tengah dinginnya udara dapur malam itu.

Rasa bersalah mencuat sejenak—seharusnya dia tidak meladeni ini—namun rasa tersanjung jauh lebih dominan.

Salsa menarik napas singkat, menekan debar jantungnya. Jemarinya menari di atas layar, mengetik balasan.

\"Waalaikumsalam. Iya, itu parfum biasa kok. Maaf ya kalau baunya nempel.\"

Balasan Anton datang secepat kilat.

\"Justru itu masalahnya, Bu. Baunya enak. Bikin susah tidur.\"

Salsa tertegun menatap layar. Wajahnya memerah padam.

Dia menoleh cepat ke arah ruang tengah, memastikan suaminya tidak beranjak dari posisinya. Benar saja. Joko masih tenggelam dalam berita berita yang ia baca—entah apa.

Salsa menarik napas singkat. Tangannya mengetik balasan. Segurat senyum terlukis di bibirnya.

***

Sejak malam itu, percakapan mereka mengalir dengan ritme yang nyaris tak terasa, seperti air bah yang merembes perlahan melalui retakan bendungan.

Pesan-pesan Anton datang di sela-sela waktu: saat jam istirahat sekolah, saat Salsa menunggu antrean belanja, atau saat ia sedang melipat pakaian Joko.

Pesan-pesan itu selalu singkat, sopan, seolah tidak menuntut apa pun—namun selalu tepat sasaran.

Mereka memulai dari hal-hal yang aman. Kenangan di kelas, kebiasaan lama Anton yang dulu sering dihukum berdiri di depan kelas, kabar para guru yang satu per satu telah pensiun.

Namun, obrolan yang seharusnya selesai di ranah nostalgia itu entah bagaimana selalu menemukan jalan untuk berlanjut ke wilayah yang lebih personal.

Perlahan, Anton mulai menyelipkan kalimat-kalimat kecil. Bukan rayuan gombal murahan, melainkan pengamatan yang terlalu cermat untuk diabaikan.

\"Ibu kalau marah di chat pakai titiknya banyak ya ... galak, tapi lucu.\"

\"Status WA Ibu tadi ... kelihatan capek. Jangan lupa istirahat dan banyak minum air putih, Bu. Guru juga manusia.\"

Cara Salsa memilih kata, ketegasannya yang masih terasa bahkan lewat layar, hingga hal-hal remeh yang tak pernah Joko pedulikan selama bertahun-tahun, semuanya diperhatikan oleh Anton.

Tanpa disadari Salsa, perhatian itu menyentuh bagian dirinya yang sudah lama mati suri: egonya sebagai seorang wanita.

Salsa mulai menanti-nanti getaran ponselnya. Ketergantungan itu tumbuh seperti candu.

Ketika pesan itu datang, ia membalasnya sembunyi-sembunyi, kadang menunduk di balik pintu kulkas atau di kamar mandi agar Joko tidak melihat perubahan halus di wajahnya.

Rasa bersalah yang sempat muncul di awal kini cepat teredam oleh sensasi lain yang lebih kuat dan memabukkan: perasaan dilihat, diperhatikan, dan divalidasi.

Setiap notifikasi dari Anton terasa seperti aliran listrik tipis—tidak menyakitkan, justru membangunkan sel-sel tubuhnya yang tertidur.

Ada sesuatu di dalam dirinya yang kembali aktif, berdenyut perlahan, dan Salsa mendapati dirinya tak lagi sekadar membalas dengan sopan santun guru-murid.

Ia menunggu. Ia berharap. Dan itu membuatnya gelisah—sekaligus merasa benar-benar hidup.

***

Malam Minggu itu, suasana rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Hujan rintik-rintik di luar menambah kesan melankolis.

Joko duduk di posisi favoritnya di sofa sambil membaca berita.

Salsa duduk di sampingnya, merasakan jarak bermil-mil meskipun bahu mereka hampir bersentuhan.

\"Mas,\" panggil Salsa, suaranya sedikit serak, mencoba menembus tembok tak kasat mata di antara mereka.

Joko hanya bergumam pelan, matanya tak lepas dari ponsel.

Salsa mencoba lagi, kali ini dengan nada lebih antusias.

\"Ada film horor baru di bioskop. Bunuh. Katanya bagus, banyak yang review di medsos seram banget. Nonton yuk besok malam? Kita udah lama banget nggak keluar bareng, Mas. Sekalian refreshing.\"

Hening sejenak. Hanya suara hujan yang terdengar.

Joko akhirnya menghela napas panjang, menurunkan ponselnya sebentar, tapi tidak menatap Salsa. \"Mas capek, Dek. Besok masih ada laporan bulanan yang harus diselesaiin. Mas harus prepare data.

Joko menoleh Salsa. “Lagian, kamu tahu kan Mas nggak suka film horor? Isinya cuma kaget-kagetan, nggak realistis. Buang-buang waktu.\"

Salsa terdiam. Penolakan itu tidak kasar, tapi terlalu dingin dan logis, yang justru membuatnya lebih sakit.

Ia merasakan sensasi dingin yang familiar merayap di punggungnya— rasa tidak penting, rasa tidak dianggap.

Keinginannya sederhana—sekadar waktu bersama—namun rasanya seperti meminta Joko mengambilkan rembulan atau mengubah buih menjadi permadani.

\"Ya sudah kalau Mas capek,\" jawab Salsa pelan, menahan getar di suaranya.

Ia bangkit, membawa cangkir kopi yang sudah kosong itu kembali ke dapur.

Di depan wastafel, air matanya hampir jatuh, namun ia tahan. Rasa sedih itu berubah menjadi kekecewaan, lalu bermutasi menjadi kemarahan diam-diam.

Saat itulah tangannya bergerak, mencari pelarian. Ia mengambil ponsel dari saku daster rumahan-nya.

\"Ton, udah nonton film Bunuh belum?\"

Balasan datang hanya dalam hitungan detik, seolah Anton memang sedang memegang ponselnya menunggu Salsa.

\"Belum, Bu. Kebetulan saya lagi cari temen nonton, tapi nggak ada yang berani. Kenapa? Ibu mau nonton?\"

Salsa ragu sejenak. Jempolnya melayang di atas layar.

\"Iya, pengen. Tapi suami lagi sibuk.\"

Ada jeda pengetikan yang sedikit lebih lama dari biasanya.

\"Kalau gitu sama saya aja, Bu. Tapi kalau di bioskop biasa mungkin Ibu nggak nyaman, takut ketemu kenalan atau murid.\"

Pesan berikutnya masuk, membawa tawaran yang BERBAHAYA.

\"Mau coba Drive-in Cinema di pinggir kota? Kita nonton dari dalam mobil. Lebih privat. Lebih nyaman.”

Privat. Nonton berdua di dalam mobil tertutup, di tempat sepi.

Kata itu berdenging di kepala Salsa seperti peringatan badai. Nalar dan moralnya berteriak jangan—ini sudah melanggar batas kepatutan seorang istri.

Namun, penolakan Joko barusan masih terasa perih di dadanya. Ditambah lagi, tawaran Anton menawarkan petualangan, kenyamanan, dan yang paling penting: rasa diinginkan.

Sebelum Salsa sempat mempertimbangkan keputusannya masak-masak, rahimnya berdenyut, membuatnya refleks berpegangan pada pinggiran wastafel.

Salsa menatap pantulan dirinya di kaca jendela dapur yang gelap—wanita di kaca itu tampak kesepian.

Dengan jari gemetar, ia mengetik balasan singkat.

\"Boleh. Kapan?\"


Other Stories
Love Falls With The Rain In Mentaya

Di tepian Pinggiran Sungai Mentaya, hujan selalu membawa cerita. Arga, seorang penulis pen ...

Agum Lail Akbar

Tentang seorang anak yang terlahir berkebutuhan khusus, yang memang Allah ciptakan untuk m ...

Cinta Di 7 Keajaiban Dunia

Menjelang pernikahan, Devi dan Dimas ditugaskan meliput 7 keajaiban dunia. Pertemuan Devi ...

Dante Fairy Tale

“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita ge ...

Kala Menjadi Cahaya Menjemput Harapan Di Tengah Gelap

Hidup Arka runtuh dalam sekejap. Pekerjaan yang ia banggakan hilang, ayahnya jatuh sakit p ...

Bad Close Friend

Denta, siswa SMA 91 Cirebon yang urakan dan suka tawuran, tak pernah merasa cocok berteman ...

Download Titik & Koma