Lembar Keempat (100 Hal Tentang Bumi) 3
(21) Aku selalu menyukai semua hal yang Bumi hasilkan dari apa yang Ia bisa. Bumi sangatlah indah, Ia tak pernah menyadarinya karena Ia tak pernah menganggap dirinya berharga.
(22) Aku tak pernah merasa kurang terhadap kemakmuran yang Bumi beri. Namun bodohnya Bumi, Ia masih merasa tidak cukup memberi surganya kepadaku.
(23) Aku tak akan pernah lelah untuk merawat keindahan surgawinya itu, karena semua yang telah Bumi berikan sangat cukup untukku.
(24) Akhir akhir ini Bumi selalu memberiku dedaunan kering, bahkan Ia memberiku bebuahan yang busuk. Ladang bunga pun terlihat mati. Nyatanya Ia menyuruhku pergi.
(25) Bumi menyuruhku untuk mencari keindahan surga lain.
Bodoh, pikirku.
(26) Bumi tak pernah melihat sesuatu yang Ia punya dengan mataku, aku berharap Ia bisa menyadarinya dengan cepat apa yang kulihat.
(27) Mata orang akan melihat Bumi sebagai surga yang gagal, bahkan jalan setapaknya dipenuhi lumpur. Tanpa sadar, lumpur bisa dimanfaatkan menjadi apa saja saat mengering.
(28) Aku hanya ingin Bumi melihat dirinya sendiri bagaimana caraku memandangnya. Ia sangatlah indah.
(29) Caraku memandang Bumi sangatlah berbeda dari yang lain, dan aku percaya diri akan hal itu. Karena tak akan ada penghuni Bumi yang bisa memahaminya sedalam diriku.
(30) Aku hanya bisa menertawakan apa yang Bumi lakukan untuk mengusirku. Itu adalah ucapan jenaka yang sangat membuat perutku terluka dengan tertawa.
(22) Aku tak pernah merasa kurang terhadap kemakmuran yang Bumi beri. Namun bodohnya Bumi, Ia masih merasa tidak cukup memberi surganya kepadaku.
(23) Aku tak akan pernah lelah untuk merawat keindahan surgawinya itu, karena semua yang telah Bumi berikan sangat cukup untukku.
(24) Akhir akhir ini Bumi selalu memberiku dedaunan kering, bahkan Ia memberiku bebuahan yang busuk. Ladang bunga pun terlihat mati. Nyatanya Ia menyuruhku pergi.
(25) Bumi menyuruhku untuk mencari keindahan surga lain.
Bodoh, pikirku.
(26) Bumi tak pernah melihat sesuatu yang Ia punya dengan mataku, aku berharap Ia bisa menyadarinya dengan cepat apa yang kulihat.
(27) Mata orang akan melihat Bumi sebagai surga yang gagal, bahkan jalan setapaknya dipenuhi lumpur. Tanpa sadar, lumpur bisa dimanfaatkan menjadi apa saja saat mengering.
(28) Aku hanya ingin Bumi melihat dirinya sendiri bagaimana caraku memandangnya. Ia sangatlah indah.
(29) Caraku memandang Bumi sangatlah berbeda dari yang lain, dan aku percaya diri akan hal itu. Karena tak akan ada penghuni Bumi yang bisa memahaminya sedalam diriku.
(30) Aku hanya bisa menertawakan apa yang Bumi lakukan untuk mengusirku. Itu adalah ucapan jenaka yang sangat membuat perutku terluka dengan tertawa.
Other Stories
Blind
Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...
Cinta Di Ujung Asa
Alya mendapat beasiswa ke Leiden, namun dilema karena harus merawat bayi kembar peninggala ...
Jaki & Centong Nasi Mamak
Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...
Aku Pamit Mencari Jati Diri??
Seorang anak kecil yang pernah mengalami perlakuan tidak mengenakan dalam hidupnya. Akibat ...
The Museum
Mario Tongghost, penangkap hantu asal Medan, menjadi penjaga malam di Museum Bamboe Kuning ...
Teka-teki Surat Merah
Seorang gadis pekerja klub malam ditemukan tewas dalam kantong plastik di taman kota, meng ...