Lembar Kelima (100 Hal Tentang Bumi) 4
(31) Sekecil apapun yang Bumi lakukan untukku, bagaikan sebuah jalur yang menuntunku untuk berjalan lebih jauh kedalam kecantikannya.
(32) Sekecil apapun yang Bumi berikan padaku, bagaikan sebuah jalur yang menarikku agar aku bisa lebih jauh lagi mengkaji apa arti hembusan angin tenang yang Ia berikan.
(33) Jalur itu bagai menarikku dengan benang tipis yang bisa putus kapan saja. Bagaikan badai yang bisa berhenti kapan saja lalu memberiku pelangi indah.
(34) Bumi tidak akan pernah bisa kuhitung kebaikannya. Ia sudah mengisi sebuah lubang yang tak akan pernah bisa ku sembuhkan sendiri.
(35) Bumi bagaikan sebuah obat yang bisa memberikan rasa kenyang terhadap luka yang tak kunjung sembuh. Bahkan badai dalam diriku bisa Ia kendalikan.
(36) Bumi memliki puncak puncak gunung yang tinggi, tempat favoritku untuk memandang ladang berwarna warni dengan sinar yang Bumi biarkan terang.
(37) Seluruh tempat yang Bumi punya adalah rumahku, tempat ternyamanku untuk tertidur lelap tanpa terpikirkan beban beban pilu yang berlari kencang dikepalaku.
(38) Bumi selalu memintaku untuk terus bersamanya selama yang aku dan Ia bisa. Ucapan sederhana yang membuat hatiku terlena.
(39) Banyak yang mengira aku terlalu tergila gila pada Bumi, namun nyatanya mereka tidak tahu apa apa, mereka tidak mengenal Bumi.
(40) Banyak meteor yang mencoba menyerang Bumi, bahkan ada beberapa yang merusak lapisan ozon-nya. Namun Bumi masih tetap bisa memberikan tampilan keindahan yang damai.
(32) Sekecil apapun yang Bumi berikan padaku, bagaikan sebuah jalur yang menarikku agar aku bisa lebih jauh lagi mengkaji apa arti hembusan angin tenang yang Ia berikan.
(33) Jalur itu bagai menarikku dengan benang tipis yang bisa putus kapan saja. Bagaikan badai yang bisa berhenti kapan saja lalu memberiku pelangi indah.
(34) Bumi tidak akan pernah bisa kuhitung kebaikannya. Ia sudah mengisi sebuah lubang yang tak akan pernah bisa ku sembuhkan sendiri.
(35) Bumi bagaikan sebuah obat yang bisa memberikan rasa kenyang terhadap luka yang tak kunjung sembuh. Bahkan badai dalam diriku bisa Ia kendalikan.
(36) Bumi memliki puncak puncak gunung yang tinggi, tempat favoritku untuk memandang ladang berwarna warni dengan sinar yang Bumi biarkan terang.
(37) Seluruh tempat yang Bumi punya adalah rumahku, tempat ternyamanku untuk tertidur lelap tanpa terpikirkan beban beban pilu yang berlari kencang dikepalaku.
(38) Bumi selalu memintaku untuk terus bersamanya selama yang aku dan Ia bisa. Ucapan sederhana yang membuat hatiku terlena.
(39) Banyak yang mengira aku terlalu tergila gila pada Bumi, namun nyatanya mereka tidak tahu apa apa, mereka tidak mengenal Bumi.
(40) Banyak meteor yang mencoba menyerang Bumi, bahkan ada beberapa yang merusak lapisan ozon-nya. Namun Bumi masih tetap bisa memberikan tampilan keindahan yang damai.
Other Stories
My Love
Sandi dan Teresa menunda pernikahan karena Teresa harus mengajar di Timor Leste. Lama tak ...
Hidup Sebatang Rokok
Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...
Langit Ungu
Cerita tentang Oc dari Penulis. karakter utama - Moon Light "Hidup cuma sekali? Lalu be ...
Pitstop: Rewrite The Stars. Menepi Dari Dunia, Menulis Ulang Takdir
Bagaimana jika hidup Anda yang tampak sempurna runtuh hanya dalam sekejap? Dari ruang rapa ...
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...
Kucing Emas
Kara Swandara, siswi cerdas, mendadak terjebak di panggung istana Kerajaan Kucing, terikat ...