Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia

Reads
14
Votes
0
Parts
10
Vote
Report
Negeri bawah laut porkah: cakra di samudra hindia
Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia
Penulis Virdytan

Dua - Malam Perpisahan

Pikiran manusia adalah ruang sidang yang paling korup di alam semesta. Di saat-saat terakhir, tepat sebelum paru-paru menyerah pada tekanan hidrostatik dan saraf-saraf berhenti mengirimkan sinyal rasa sakit, Cakra Abiyoga mulai melakukan pembelaan diri yang luar biasa kreatif. Jika hidup adalah sebuah simulasi, maka Cakra sedang mencoba meretas sistem moralitasnya sendiri. Ia mulai menata ulang kepingan ingatannya, mengubah setiap dosa menjadi sebuah kebajikan yang disalahpahami, sebuah narasi kepahlawanan yang hanya dimengerti oleh dirinya sendiri.

"Iya... Gue nggak senakal itu, kok!" bisik hatinya di tengah kegelapan air yang menindih.

Cakra membayangkan wajah-wajah yang pernah ia sebut sebagai samsak. Dalam cahaya kematian yang redup di bawah samudera, mereka tidak lagi tampak seperti korban perundungan. Tidak, itu adalah istilah yang terlalu dangkal dan malas bagi orang luar. Bagi Cakra, mereka adalah saudara dalam peluh.

Ia ingat bagaimana ia membesarkan mereka.

Mereka adalah anak-anak dari keluarga yang dihimpit garis kemiskinan, yang masa depannya diselamatkan oleh kedermawanan ayah Cakra melalui beasiswa penuh di SMA Berbudi Pekerti. Cakra merasa dirinya adalah sang pelindung. Setiap pukulan yang mendarat di tubuh mereka selama latihan bela diri. Mulai dari karate, judo, hingga Muay Thai. Itu semua bukanlah bentuk penindasan, melainkan tempaan besi yang panas. Cakra merasa dirinya adalah sang pandai besi yang sedang menyiapkan pedang-pedang tumpul itu agar menjadi tajam dan siap menghadapi dunia yang kejam.

Dan mereka pun menyadarinya.

Loyalitas mereka bukan karena takut, melainkan karena jenis cinta yang keras dan canggung. Jika mereka bersikeras mengelap setitik debu di sepatu Cakra, atau berlari membuatkan segelas susu hangat di tengah hujan, itu bukan perbudakan. Itu adalah sebuah ritual penghormatan yang tulus.

"Lu tega Kra kalau nggak ngebiarin kita ngelayanin elu..."

"Mending lu nggak usah baik ke kita, mending lu kaya cowok-cowok kaya di Sinetron!"

Cakra ingat betul bagaimana mereka pernah mengancam akan menjauhi Cakra jika Cakra mencoba bersikap "normal" dan melarang mereka berbakti. Hubungan itu adalah sebuah ekosistem mutualisme yang aneh, sebuah pakta kesetiaan yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang berada di dalam lingkaran emas Cakra Abiyoga.

Lalu ada memori tentang Andi, kepala sekolah Cakra. Ingat insiden toilet dan petasan yang menggelegar itu? Di mata dunia yang kaku, itu adalah penghinaan terhadap otoritas dan pelanggaran disiplin berat. Namun di dalam kepala Cakra yang sedang sekarat, itu adalah sebuah masterpiece kasih sayang remaja. Andi, pria tua yang sudah menganggap Cakra seperti anaknya sendiri, sedang merayakan ulang tahun yang sepi hari itu. Cakra memberikan kejutan yang akan diingat pria tua itu selamanya, sebuah ledakan adrenalin yang diikuti dengan pemberian hadiah mewah yang telah lama didambakan sang Kepala Sekolah namun tak mampu ia beli. Mobil Sport.

Cakra bukan tiran di sekolah itu. Dia adalah penghancur kekakuan. Dia mengubah sekolah yang membosankan dan penuh tekanan menjadi panggung sandiwara yang penuh warna. Semua guru, dari yang paling galak hingga yang paling lembut, menyayanginya karena Cakra tahu cara memperlakukan mereka sebagai manusia. Ia memberikan mereka rasa hormat melalui kejutan penuh cinta, bukan melalui kepatuhan yang membosankan.

Bahkan daftar panjang gadis-gadis yang ia kencani. Dari Michelle yang elegan, Sveta yang eksotis, hingga Ningsih yang sederhana, terasa berbeda dalam cahaya kematian. Cakra merenung, betapa sulitnya menjadi manusia yang dikutuk dengan kesempurnaan. Ia tidak pernah bermaksud menjadi penjahat kelamin yang haus akan penaklukan. Sebaliknya, ia adalah korban dari kelembutan hatinya sendiri. Ia menerima pernyataan cinta para gadis karena ia tidak tega melihat kehancuran di mata mereka, jika ia berkata tidak.

Namun, ia kecewa. Begitu para gadis itu berada dalam jangkauan lengannya, kesucian yang mereka tawarkan dengan agresif justru membuatnya muak. Ia menghormati perempuan lebih dari mereka menghormati diri mereka sendiri.

Begitu seorang gadis mulai membicarakan saham Monument Group milik ayahnya, atau mencoba menggunakan tubuhnya untuk mengikat masa depan ekonomi mereka, Cakra tahu dia harus bertindak sebagai algojo. Ia memutuskan hubungan bukan karena tidak setia, tetapi karena ia sedang mencari jiwa yang murni, sebuah kejujuran yang tidak bisa dibeli dengan kekayaan ayahnya.

Dan perkelahian antar sekolah?

Itu bukan kekerasan tanpa arti. Itu adalah solidaritas berdarah. Ia adalah perisai bagi mereka yang lemah. Ia akan menghajar siapa pun yang berani menyentuh harga diri teman sekolahnya.

Bahkan insiden pengutilan Tomi adalah sebuah eksperimen sosial yang dibalut kebaikan. Bukankah sedang marak konten prank seperti itu? Cakra mengingat bagaimana ia membayar sepuluh kali lipat harga roti yang diambil Tomi kepada pemilik toko yang hampir bangkrut. Ia memberikan harapan melalui cara yang tidak lazim.

Cakra tersenyum di dalam air. Sebuah senyum pahit yang mengeluarkan gelembung udara terakhirnya. Ia adalah pahlawan dalam ceritanya sendiri. Seorang martir yang disalahpahami oleh dunia. Namun, senyum itu lenyap secepat ia muncul. Cahaya putih seperti menolak konsisten. Berganti bayangan hitam kembali, dengan sabit panjang siap mengayun. Sosok itu tidak lagi sekadar melambai. Ia sedang bersiap untuk memanen jiwa yang angkuh ini.

Tiba-tiba, memori itu menghantamnya dengan kecepatan peluru. Bukan memori tentang kejayaan, melainkan tentang detik-detik kebodohan yang membawanya pada kondisi terdampar dalam kegelapan dingin. Penyesalan yang sesungguhnya bukanlah tentang menjadi nakal, tapi tentang menjadi sombong. Keangkuhan yang menganggap bahwa hukum alam dan mistis tidak berlaku bagi seorang pangeran seperti Cakra Abiyoga.

Kejadian itu dimulai hanya beberapa jam yang lalu. Sebuah adegan yang kini terasa seperti prolog dari sebuah tragedi besar. Kesombongan menantang sang ratu mistis pantai selatan Jawa.

Kanjeng Ratu Kidul.

"Lo percaya nggak kalau Nyi Roro Kidul itu beneran ada?"

Pertanyaan itu meluncur dari bibir Cakra dengan nada meremehkan, diiringi kepulan asap rokok yang keluar dari hidungnya. Mereka sedang duduk santai di balkon Queen of The South Resort, sebuah penginapan yang dibangun dengan kemegahan yang menantang tebing. Kamar yang mereka tempati adalah kamar termahal, sebuah presidential suite yang menghadap langsung ke Samudera Hindia yang menderu liar di bawah sana.

Cakra duduk di kursi malas yang paling besar, tubuh tingginya bersandar dengan santai. Jemarinya yang panjang dan berbakat memetik senar gitar, menciptakan melodi yang sayu namun memiliki nada menantang yang tajam. Di meja bundar di sampingnya, asbak sudah penuh sesak dengan puluhan puntung rokok. Bukti dari perbincangan panjang mereka sejak matahari tenggelam di ufuk barat Parangtritis. Tomi, Dito, Beni, dan Victor duduk di sofa biru tua, wajah-wajah mereka terpapar cahaya bulan yang pucat, menciptakan bayangan panjang yang terlihat seperti hantu.

Malam itu seharusnya menjadi malam perpisahan yang manis, sebuah penutup dari bab masa remaja mereka. Sebuah farewell trip sebelum Cakra terbang menuju Massachusetts Institute of Technology (MIT). Sejak kecil, Cakra memang jenius. Ia terobsesi dengan fisika kuantum dan mekanika elektro. Baginya, dunia bukan hanya tumpukan materi organik, melainkan jalinan sirkuit elektromagnetik yang menunggu untuk dimodifikasi. Ia ingin menjadi penemu, seseorang yang namanya akan tertulis di samping Tesla atau Einstein.

Namun manusia apa pun tidak dapat mengetahui masa depan. Begitu pula mereka, tak terbayang kematian akan menjemput mereka tak kurang dari satu jam ke depan.

"Gila lo! Kita lagi di Parangtritis, bego! Jangan ngomong sembarangan!" tegur Beni, suaranya sedikit bergetar. Beni adalah yang paling penakut. Tubuhnya besar, namun nyalinya setipis kertas. Ia pernah pingsan hanya karena Cakra berdiri diam di sudut gelap kamarnya sambil mengenakan kain putih. Dengan sedikit riasan kusuh, dan rambut palsu berantakan. Tidak lupa efek cahaya merah dari bawah.

"Cemen lo, Ben! Fisika itu pasti. Mitos itu cuma buat orang yang nggak punya penjelasan logis. Ke bawah yuk. Gue mau lihat sesakti apa Penguasa Laut Selatan kalau berhadapan sama teknologi." Cakra tertawa, sebuah tawa yang jernih namun penuh dengan kesombongan seorang pemuda yang merasa sudah menaklukkan gravitasi.

Tanpa menunggu jawaban, Cakra berdiri dan berlari masuk ke dalam kamar. Suara langkah kakinya bergema di lantai marmer yang mewah. Beberapa saat kemudian, ia keluar dengan seringai lebar yang bisa meluluhkan hati wanita manapun, namun kali ini seringai itu terasa mengancam. Ia mengenakan kaos berwarna hijau keramat. Hijau yang disukai Sang Ratu Selatan.

"Tadaaa! Gimana, kurang kece apalagi cobak gue?" Cakra memamerkan kaosnya seolah itu adalah baju zirah yang mustahil ditembus."Yakin dah, tuh Nenek Kidul bakalan kepincut ama gue!"

"Nggak... nggak ikut-ikutan gue! Sumpah, Kra, ini nggak lucu!" Beni melambaikan tangan dengan panik, wajahnya benar-benar kehilangan warna.

"Badan doang gede, nyali kecil! Payah lu!" cemooh Dito sambil menoyor kepala Beni.

“Tau lu! Cemen ah... yuk gas...!” ikut Victor beranjak dan menghampiri Beni yang duduk hampir berhadapan dengannya. “Bantuin gue tarik dia!” ajak Cakra semangat dan dalam sekejap, dinamika kelompok itu berubah menjadi energi liar yang tak terkendali. Cakra, dengan karisma kepemimpinannya yang mutlak dan berbahaya, berhasil menyeret mereka semua menuruni anak tangga batu yang berkelok-kelok menuju tepian pantai.

Angin laut selatan menghantam wajah mereka, membawa bau garam dan sesuatu yang terasa purba. Pasir hitam Parangtritis terasa lembap di bawah kaki mereka. Di kejauhan, ombak besar menghantam pantai dengan suara dentuman yang mirip dengan meriam.

"Woooooy Nyi Roro Kidul! Sini lo keluar! Gue pengen kenalan!" teriak Cakra, suaranya bersaing dengan deru angin yang semakin kencang. Ia berlari menuju air, membiarkan ombak kecil menjilat kakinya. Air itu sedingin es, namun adrenalin yang mengalir di pembuluh darah Cakra membuatnya merasa terbakar oleh api.

“Gila lu! Kra! Beneran dateng tau rasa lu!” tak henti-hentinya Beni menegur Cakra agar bersikap sopan yang diikuti gelak tawa oleh semua temannya. Hingga akhirnya dari belakang Victor, Dito dan Tomi mengangkat tubuh Beni yang meronta-ronta, mengayunkannya dengan hitungan satu, dua, tiga, lalu melemparnya ke arah gulungan ombak yang pecah. Tawa mereka memenuhi angkasa, merobek kesunyian malam yang seharusnya menjadi obat penenang bagi penduduk lokal. Mereka bermain-main seperti anak kecil yang tidak tahu bahwa kematian sedang mengintai di balik setiap buih.

Other Stories
Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali

menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...

Pada Langit Yang Tak Berbintang

Langit memendam cinta pada Kirana, sahabatnya, tapi justru membantu Kirana berpacaran deng ...

Dante Fairy Tale

“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita ge ...

Penulis Misterius

Risma, 24 tahun, masih sulit move on dari mantan kekasihnya, Bastian, yang kini dijodohkan ...

Kita Pantas Kan?

Bukan soal berapa uangmu atau seberapa cantik dirimu tapi, bagaimana cara dirimu berdiri m ...

Tea Love

Miranda tak ingin melepas kariernya demi full time mother, meski suaminya meminta begitu. ...

Download Titik & Koma