Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia

Reads
9.8K
Votes
6.9K
Parts
71
Vote
Report
Negeri bawah laut porkah: cakra di samudra hindia
Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia
Penulis Virdytan

Bab 1 - Hanyut

Mati itu ternyata tidak berisik.

Selama ini, Cakra Abiyoga mengira kematian akan datang dengan gemuruh hujan, raungan tangisan, atau setidaknya jeritan dramatis seperti di film-film horor yang sering ia tonton sambil memaki-maki pemerannya bodoh. Namun saat ini, di bawah langit Pantai Parangtritis yang sunyi dan penuh bintang, kematian hanya berupa suara glug yang samar dan tarikan dingin yang tak kenal ampun di pergelangan kakinya.

Secara teknis, ia tahu persis apa yang sedang terjadi pada tubuhnya. Sebagai jenius fisika, otaknya secara otomatis memproses data di tengah maut.

Ini adalah rip current.

Namun, pengetahuan tidak menyelamatkannya dari hantaman gelombang yang menghujam dadanya. Sakitnya seperti Mjölnir yang dilempar Thor dari langit. Berat, kejam, dan tak memberi ruang bagi paru-parunya untuk bernapas. Cakra, yang baru saja merayakan kelulusan SMA dengan keangkuhan seorang pangeran, kini merasa tidak lebih dari sebutir debu yang tersedot ke dalam ruang hampa.

"Tolong!" Sungguh kalimat itu tidak keluar dari mulutnya, sekadar terngiang di kepala. Malah upayanya membuka mulut hanya menghasilkan gelembung udara yang pecah sia-sia. Ditambah rasa asin menyerbu indra perasanya bersamaan dengan hantaman gelombang laut yang terasa sekeras beton.

"Sial," pikirnya di sisa kesadaran.

"Ini benar-benar cara yang bodoh untuk mati!" Cakra mencoba menggerakkan otot-ototnya yang terlatih. Tubuhnya yang atletis, hasil dari latihan bela diri dan angkat beban bertahun-tahun, mencoba melakukan freestyle untuk melawan arus. Tetapi tekanan air di kedalaman ini mulai mengompresi tubuhnya.

Kematian sudah pasti menghampiri dan ia takut. Otaknya tak memiliki data akan referensi kematian. Mengapa tidak pernah ada yang mengatakan bahwa proses kematian sangat menyiksa?

Tidak ada guru agama yang berkata bahwa kematian akan terasa seperti diseret perlahan ke dasar neraka, sambil tetap diberi waktu cukup untuk menyesal. Tidak ada buku yang menjelaskan bahwa rasa takut tidak datang setelah mati. Rasa itu datang sebelum itu, ketika kita masih sepenuhnya hidup dan sadar bahwa waktu segera usai.

Di sisa napasnya, penglihatan Cakra mulai mengabur. Oksigen yang menipis menciptakan halusinasi yang mengerikan. Di tengah kegelapan air yang pekat, sebuah bayangan hitam muncul.

Sosok itu menjulang tinggi, bergerak dengan keanggunan yang mengerikan, seolah-olah densitas air tidak memiliki pengaruh padanya. Jubahnya yang gelap berkibar-kibar dalam arus, mengingatkan Cakra pada penggambaran Grim Reaper atau Malaikat Maut dalam buku-buku atau film-film fantasi koleksinya.

Namun, ada keanehan yang mencolok. Di sekeliling siluet itu, air tampak berpendar. Bukan cahaya biasa, melainkan kilatan kemerahan seperti bara api yang masih menyala di bawah tekanan ribuan ton air.

"Gue belum siap," batinnya. Ia yakin, sang penjemput telah datang. Di ambang maut itu, pikirannya mulai berputar ke belakang, menghadirkan fragmen-fragmen kehidupan yang ia jalani selama delapan belas tahun terakhir.

Bukan pada kematian itu sendiri, tapi pada apa yang menunggunya setelah napas terakhir. Seumur hidup, ia diajari bahwa setelah mati hanya ada dua pintu. Surga. Neraka. Dan semakin oksigen meninggalkannya, semakin jelas pula jawabannya.

Neraka.

Bagaimana tidak? Ia adalah definisi dari kesempurnaan yang disalahgunakan. Terlahir sebagai putra tunggal dari keluarga terkaya di Indonesia, Cakra tidak pernah mengenal kata tidak. Ayahnya memiliki segalanya, termasuk sekolah elit tempat Cakra menghabiskan masa SMA-nya. Di sana, sekolah itu bukan lembaga pendidikan. Itu adalah taman bermain pribadinya. Semua orang, dari kepala sekolah hingga petugas kebersihan, harus menunduk di hadapannya.

Kini, ia memasuki tahap penerimaan. Dan sejujurnya, Cakra tahu persis kenapa ia merasa layak dikirim ke tempat paling bawah di kerak neraka. Seluruh kenakalan remajanya mendadak terputar kembali seperti film layar lebar di balik kelopak matanya yang mulai berat.

Ia menyesali semua tindakannya.

Ia menyesal telah menjadikan sekolah SMA Berbudi Pekerti milik ayahnya sebagai kerajaan pribadi tempat ia menjadi tiran kecil yang dipuja. Ia teringat Dito, Victor, Beni, Tomi, dan sederet nama lainnya yang ia labeli sebagai samsak. Atau, ketika dirinya mengajak seluruh murid di sekolahnya untuk menyerang sekolah lain. Tidak tertinggal ketika ia memaksa Tomi untuk mengutil di warung kecil. Bukan itu saja, para guru dan semua yang bekerja di sekolah pun pernah menjadi korban kenakalannya.

Glug.

Air laut masuk ke hidungnya, memutus kilasan memori itu. Cakra tersedak hebat. Tangannya menggapai-gapai udara yang kosong. Sosok itu mendekat, teror neraka kembali menyerang. Cakra mengerjapkan mata, berusaha mengusir halusinasi.

Namun sosok itu semakin jelas.

Kepalanya dihiasi oleh tanduk rusa yang megah, tetapi bukan dari tulang. Tanduk itu bercahaya dengan warna merah jingga yang membara, memercikkan bunga api kecil yang jatuh ke air dan padam dengan bunyi desis yang aneh.

Makhluk itu memegang sabit panjang dengan gagang yang tampak seperti jalinan tulang manusia. Ia menjulurkan lidahnya yang panjang dan bercabang, lalu melambaikan tangan ke arah Cakra.

Gerakannya seolah mengejek. Sebuah undangan untuk menyerah.

"Jadi ini benar," batin Cakra dengan sisa kesadarannya.

"Surga dan Neraka bukan sekadar dongeng buat nakutin anak kecil. Dan gue... gue tahu persis ke mana gue bakalan diseret." Memori kenakalannya kembali memenuhi kepalanya yang berputar di bawah laut.

Ia teringat deretan nama para gadis. Michelle, Devi, Sveta, Alina, hingga Ningsih dan Wati. Nama-nama itu hanyalah koleksi piala. Tanpa sekalipun bersandar pada hatinya. Sekali lagi, bukan salahnya memiliki wajah menawan dan tubuh sempurna.

Sungguh, ia menyesal telah menjadi remaja sombong, angkuh, congkak karena memiliki segalanya. Selain kaya dan tampan, ia pun cerdas. Bukan, ia jenius. Ia selalu menjadi juara umum tanpa perlu membuka buku di rumah. Soal-soal fisika olimpiade baginya tak lebih dari sekadar coretan iseng. Bahkan medali emas olimpiade fisika internasional yang susah didapatkan oleh sebagian manusia lainnya, hanya dijadikan ganjal meja oleh salah satu pekerja di rumahnya.

Ia juga berbakat secara absurd. Ia adalah Virtuoso. Suaranya bisa menghipnotis satu aula, tangannya dapat memainkan berbagai instrumen musik dengan teknik sempurna. Dialah otak di balik Evil’s Smile, band sekolah yang selalu menyabet juara satu nasional. Membuat produser rekaman rela antre setelah dirinya beraksi di atas panggung.

Brug.

Cakra merasakan tubuhnya hancur, setelah air laut menggulung dan menghempaskannya ke terumbu karang tajam. Ditambah sosok itu sudah tak berjarak dengannya.

"Pintu neraka siap terbuka buat gue...," batin Cakra saat tubuhnya kembali terhantam karang, rasa sakitnya kini mulai hilang digantikan oleh rasa kebas yang mematikan.

Namun, saat ia sudah pasrah untuk terbakar selamanya, sosok itu seakan berganti. Menjadi sebuah cahaya putih yang menyilaukan. Cahaya itu bukan merah membara seperti api neraka yang ia bayangkan. Terangnya lima kali lipat dari lampu sorot panggung yang biasa ia hadapi.

Cahaya itu mendekat, dan bayangan hitam bertanduk yang menyerupai Malaikat Maut itu mulai berubah. Pendaran merah di sekelilingnya yang tadinya ia kira api neraka, ternyata adalah emisi energi dari teknologi yang tidak ia kenali. Jubah itu bergeser, memperlihatkan material komposit futuristik dengan garis-garis neon biru yang berdenyut selaras dengan detak jantung Cakra yang melemah.

Itu bukan kain, melainkan exoskeleton canggih. Helm yang menutup wajah sosok itu memancarkan cahaya terang, membedah kegelapan air. Sosok itu terlihat seperti prajurit dari masa depan, mengenakan pakaian sci-fi yang melampaui pemahaman teknologi abad ini. Sekilas, sosok itu seperti memiliki sayap putih terang layaknya malaikat penuh cinta.

"Tunggu... kalau itu malaikat dari neraka, kenapa bercahaya putih, bukan merah api? Terus, sosok itu nggak kayak malaikat dari neraka!" Secercah harapan muncul di benak Cakra yang hampir padam.

Di saat-saat terakhir kesadarannya, Cakra mencoba menghibur dirinya sendiri dengan pemikiran narsis terakhirnya. Mungkin semua kenakalan itu bukan jahat. Mungkin itu hanya caranya mencintai orang-orang di sekitarnya dengan cara yang keras. Mungkin ia adalah pusat semesta yang penuh cinta dan kasih. Dan mungkin, itu bukan pintu sosok malaikat neraka yang menjemputnya, melainkan malaikat surga.

"Gue nggak senakal itu, kan?"

Other Stories
Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )

pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...

Kado Dari Dunia Lain

"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...

Reuni Mantan

Arif datang ke vila terpencil bersama para mantan Sarah lainnya. Ketika seorang pembunuh m ...

Rumah Rahasia Reza

Di balik rumah-rumah rahasia Reza, satu pintu belum pernah dibuka. Sampai sekarang. ...

Sebelum Ya

Hidup adalah proses menuju pencapaian, seperti alif menuju ya. Kesalahan wajar terjadi, na ...

Warung Kopi Reformasi

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...

Download Titik & Koma