Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia

Reads
14
Votes
0
Parts
10
Vote
Report
Negeri bawah laut porkah: cakra di samudra hindia
Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia
Penulis Virdytan

Tiga - Melihat Kematian

"Bakalan kangen gue saat-saat kayak gini," bisik Tomi di sela napasnya yang tersengal setelah puas bergurau. Berusaha menciptakan momen indah bersama sahabat yang tak akan ia temui lagi dalam waktu lama. Tomi menatap Cakra dengan tatapan yang menunjukkan bahwa Cakra adalah matahari bagi sistem tata surya mereka.

Cakra terdiam sesaat. Di balik topeng keangkuhannya, ada rasa sakit yang dalam. Ia benci perpisahan. Ia benci fakta bahwa bulan depan ia harus terbang jauh dan mungkin tidak akan pernah merasakan kebebasan murni seperti ini lagi.

Namun, Cakra Abiyoga tidak boleh terlihat lemah.

"Duh, udah ah! Kita kan mau fun, bukan mau syuting drakor galau!" Ia melangkah lebih jauh ke dalam lautan, membiarkan air laut yang gelap mencapai pinggangnya.

“Eh Kra... bahaya bego!” ingat Dito ikut beranjak menghampiri Cakra yang melangkah ke bibir pantai, menuju lautan.

“Tau nih anak, songong banget! Kagak sayang nyawa lu?” Victor ikut-ikutan cemas, sedangkan Beni dan Tomi hanya memperhatikan mereka dari kejauhan.

"Eh, kalau gue nantangin dari sini, mungkin dia bakal dateng kali ya? Masa gue udah pakai baju ijo gini nggak nongol-nongol, dia? Apa ratunya lagi sibuk dandan?" ucap Cakra berusaha jenaka, menangkis semua kesedihannya.

"Takut kali ama lu, lu kan PK kelas berat!" ejek Victor, mencoba mencairkan suasana, sembari mencoba mendekati remaja angkuh itu. Namun, ia tetap menjaga jarak aman, tidak seberani Cakra yang seolah ingin menelan samudera itu sendirian.

"Eh, dengerin gue! Kita bertiga teriak bareng-bareng, kita katain si Nenek Ratu!" tantang Cakra. Matanya berkilat menantang kegelapan yang seolah sedang menatap balik ke arahnya.

“Gile... boleh tuh ide lu!” disambut tawa oleh Dito yang sudah berada di belakang, sebelah kiri Cakra.

Mereka hanya berjarak tiga meter.

"Siap ya! Satu... dua... tiga..., ANJING LU NYAI! KAYAK PEREK LU!!" Hanya suara Cakra yang mengguntur. Dito dan Victor ternyata berkhianat di detik terakhir. Mereka hanya terkekeh di belakang, membiarkan makian kasar Cakra meluncur sendirian menuju cakrawala.

"Fuck lu bedua!" Cakra mengumpat sambil tertawa, berbalik untuk mengejar mereka, tangannya mencoba meraih kepala mereka untuk memberi jitakan balasan. Ia berlari di atas air yang dangkal dengan lincah, memamerkan fisik atletisnya yang sempurna. Lalu, semesta memutuskan bahwa kesombongan manusia ini sudah melampaui batas toleransi.

Bruk!

Hantaman itu datang dengan kekuatan yang tidak masuk akal dalam perhitungan fisika mana pun. Sebuah gelombang raksasa, sneaker wave, muncul dari kegelapan pekat tanpa suara peringatan. Itu bukan sekadar air, itu adalah dinding beton cair hitam yang membawa beban ribuan ton tekanan hidrostatik.

Dunia seketika jungkir balik bagi Cakra. Ia tidak sempat mengambil napas. Ia terpelanting, kepalanya menghantam dasar pasir dengan keras sebelum tubuhnya tersedot ke dalam pusaran arus pecah yang ganas. Rip current Parangtritis bekerja seperti mesin vakum raksasa. Cakra terseret horizontal menjauh dari garis pantai dengan kecepatan yang mustahil dilawan oleh perenang Olimpiade sekalipun.

Ia sempat melihat kilasan wajah Victor yang panik, mencoba menggapai udara sebelum temannya itu hilang tertelan buih putih yang terlihat seperti gigi hiu dalam kegelapan. Ia mendengar samar-samar teriakan Beni dan Tomi yang meminta tolong di daratan, namun suara itu segera digantikan oleh dengungan frekuensi rendah di dalam telinganya.

Samudera menyeretnya menjauh. Setiap kali ia mencoba muncul ke permukaan untuk mencari oksigen, sebuah ombak baru yang lebih besar menghantam kepalanya, memaksanya masuk kembali ke dalam rahim laut yang dingin dan sunyi. Cakra terperangkap di dalam sebuah palung tersembunyi, sebuah celah gelap di dasar laut yang bertindak seperti lorong menuju kematian.

Tubuhnya terhempas ke deretan terumbu karang yang tajam. Rasa sakit menusuk lengan kanan dan pahanya, merobek kulit cerahnya yang mulus. Darah segar menyembur keluar, namun rasa dingin yang membeku segera mematikan saraf-sarafnya. Ia tersangkut di sebuah celah goa karang yang gelap, yang menahannya di bawah air, menjepit tubuhnya seolah-olah laut itu sendiri sedang memeluknya dengan kebencian.

Di bawah sana, dalam kegelapan yang nyaris total, penglihatan Cakra mulai memainkan trik. Sosok bak malaikat berganti menjadi sosok bayangan gelap sebelumnya. Kali ini, ia tidak lagi diam. Sosok itu tampak melayang di dalam air, jubah hitamnya berkibar menentang arus. Ia mengayunkan sabit panjangnya, sebuah gerakan yang anggun namun penuh dengan kepastian absolut. Cahaya merah jingga di tanduknya memancar lebih terang, memantulkan kilauan kelereng api di permukaan karang yang tajam di sekitar Cakra.

"Gue nyerah," batin Cakra, matanya mulai memutih. Ia memejamkan mata, membiarkan sisa terakhir oksigen di paru-parunya keluar dalam bentuk gelembung-gelembung kecil yang naik ke permukaan. Ia menunggu kegelapan total menyergap. Ia menunggu saat di mana otaknya akan berhenti berfungsi sepenuhnya dan jiwanya akan ditarik keluar dari raga yang indah nan angkuh itu.

Namun, sesuatu yang melanggar semua teori fisika yang pernah ia pelajari terjadi.

Alih-alih mati karena sesak napas, Cakra merasakan sebuah sengatan elektrik yang sangat halus menyebar ke sekujur tubuhnya, dimulai dari ujung jari hingga ke batang otaknya. Rongga hidungnya yang tadi perih karena air asin tiba-tiba terasa dialiri oleh sesuatu yang sejuk dan murni.

Dengan refleks ia menarik napas, dan secara ajaib, ia bisa melakukannya. Paru-parunya tidak terisi air. Sebaliknya, mereka terasa segar dan bertenaga seolah-olah ia sedang menghirup udara yang telah difilter oleh teknologi tingkat tinggi.

Tubuhnya yang tadi terasa seberat timah dan remuk, kini mulai terasa seringan gas di ruang hampa. Ia merasa memiliki kendali penuh atas otot-ototnya kembali, bahkan rasa sakit di lukanya berubah menjadi rasa hangat yang nyaman. Ia mencoba meronta, melepaskan diri dari Goa karang yang menjepitnya.

Arus besar kembali melibas dengan kekuatan yang sanggup menghancurkan kapal kayu. Tubuh Cakra kembali terhantam keras ke dinding karang untuk kesekian kalinya.

Prak! Krak!

Suara itu sangat nyata, namun bukan berasal dari tulangnya. Karang yang sekeras granit itu justru hancur berkeping-keping, meledak menjadi debu halus begitu bersentuhan dengan kulit Cakra. Tidak ada goresan baru. Tidak ada memar. Seolah-olah kulit Cakra telah berubah menjadi material paling keras di alam semesta, atau mungkin ada medan gaya kinetik yang menyelimutinya, yang secara aktif menghancurkan segala sesuatu yang mencoba memberikan tekanan fisik padanya.

Cakra tertegun dalam air. Ia melihat tangannya setelah merasakan rasa geli menggelitik. Tak percaya, luka yang baru saja ia dapati saling menarik. Membungkus diri sempurna, tak meninggalkan goresan apa pun. Rasa lemas kembali menyerang, namun kali ini bukan karena maut, melainkan karena sensory overload. Kelebihan energi yang mencoba masuk ke dalam sinapsis otaknya.

Lalu, sosok malaikat maut itu berganti kembali menjadi sosok sang malaikat bercahaya penuh cinta. Bukan, melainkan hanya cahaya.

Cahaya itu tidak datang dari permukaan bulan, melainkan muncul dari kedalaman palung yang paling gelap. Seekor ikan pari raksasa, yang ukurannya lebih besar dari kapal induk, dengan desain yang sangat geometris dan futuristik. Berenang mendekatinya dengan keanggunan mekanis yang mengerikan. Matanya bukan mata organik, melainkan lensa optik yang memancarkan lampu sorot putih yang menyilaukan.

Di bagian bawah perut ikan pari logam itu, sebuah panel raksasa terbuka lebar dengan suara desisan hidrolik yang bisa dirasakan getarannya melalui air. Itu bukan mulut ikan, itu adalah pintu hanggar yang mengeluarkan cahaya yang begitu putih, begitu suci, hingga terasa seperti gerbang menuju dimensi lain.

Mungkin surga.

Dari dalam cahaya itu, tiga sosok bayangan hitam meluncur keluar. Mereka bergerak melesat cepat. Cakra yakin, mereka bukan malaikat maut dalam dongeng agama. Ia tak yakin mereka adalah iblis penjaga neraka dari legenda Laut Selatan. Cakra menatap mereka berpencar dalam kesadarannya yang hampir padam. Salah satu dari mereka menghampirinya, sedangkan dua lainnya seperti menangkap Dito dan Victor. Entahlah, Cakra tidak yakin akan penglihatannya. Akan tetapi ia yakin, kematian sudah menangkapnya basah. Ia pun tertidur lelap.

Mungkin untuk selamanya.

Mungkin juga tidak.



Other Stories
Hopeless Cries

Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...

Ada Apa Dengan Rasi

Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...

Persembahan Cinta

Rendra pria tampan dari keluarga kaya, sedangkan Fita gadis sederhana. Namun, Mama Fita ra ...

Melepasmu Untuk Sementara

Perjalanan meraih tujuan tidaklah mudah, penuh rintangan dan cobaan yang hampir membuat me ...

Absolute Point

Sebuah sudut pandang mahasiswa semester 13 diambang Drop Out yang terlalu malu menceritaka ...

Testing

testing ...

Download Titik & Koma