Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia

Reads
14
Votes
0
Parts
10
Vote
Report
Negeri bawah laut porkah: cakra di samudra hindia
Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia
Penulis Virdytan

Delapan - Distrik Nor

Sang Komandan cantik melangkah cepat, seolah setiap detik yang terbuang adalah pelanggaran terhadap sumpahnya sendiri. Di pundaknya bertumpu kerahasiaan Distrik Nor, beratnya tak kasatmata namun terasa menekan hingga ke tulang, merayap perlahan ke setiap sendi. Sepatunya menyatu sempurna dengan seragam komando, terbuat dari polimer adaptif yang menyerap suara dan menyesuaikan tekanan. Tak satu pun langkahnya menggema saat ia mendekati satu-satunya dinding besi di ruangan berbentuk segi enam itu.

Tanpa perintah verbal, dinding tersebut bereaksi.

Permukaannya beriak, lalu bergerak turun. Bukan terbuka. Melainkan meleleh. Seolah besi itu kehilangan kehendak untuk tetap padat. Dalam sekejap, dinding itu lenyap, ditelan lantai hitam mengilap yang tampak seperti cermin cair. Mynhemeni melangkah keluar dan berhenti sejenak di koridor sunyi, mengatur napas yang sebenarnya tak ia perlukan. Bukan tubuhnya yang butuh udara, tetapi pikirannya yang butuh jeda.

Tiba-tiba, dari bawah pijakan kakinya, lantai besi mengalami perubahan.

Sebidang besi selebar tubuh besar manusia dewasa naik perlahan, muncul tanpa suara, tanpa celah, tanpa bekas sambungan. Seolah atom-atom lantai membelah diri dan menyusun ulang dengan presisi yang melampaui logika fisika. Tak ada retakan, tak ada tanda bahwa sesuatu telah berubah. Bidang besi itu adalah Plitan. Platform transportasi internal. Dan seperti semua hal di Kerajaan Porkah, ia bekerja dengan kepatuhan mutlak.

Setiap bangunan di wilayah Kerajaan Porkah memiliki Plitan, dan Mynhemeni telah menggunakannya sepanjang hidupnya tanpa pernah benar-benar menyadari keberadaannya. Plitan selalu muncul dari lantai, membentuk bidang besi yang akrab, dengan ukuran yang menyesuaikan kebutuhan. Cukup untuk satu atau beberapa tubuh sekaligus.

Setelah itu, ia meluncur mengikuti jalur vertikal dan horizontal yang tak pernah terlihat, bergerak menyusuri tubuh setiap gedung seperti bagian dari sistem peredaran yang hidup. Plitan tunduk bukan karena diperintah, melainkan karena tatanan Porkah menuntutnya demikian. Keteraturan itu biasanya menenangkan bagi Mynhemeni. Namun kini, di bawah tekanan waktu dan rahasia yang ia bawa, kepatuhan itu terasa seperti ujian kesabaran.

Platform plitan di bawah Mynhemeni mulai bergerak, membawa tubuhnya melayang lembut menyusuri lorong panjang Gedung Pusat Pemerintahan Distrik Nor. Kecepatannya stabil, dua puluh kilometer per jam. Aman, efisien, sempurna. Namun bagi sang Komandan, itu terasa menyiksa. Detak jantungnya berlari lebih cepat dari Plitan, pikirannya melampaui koridor-koridor yang dilewatinya.

Ia meluncur melewati aula-aula luas tanpa sekat, tempat warga Porkah bekerja dalam keheningan yang efisien. Tidak ada percakapan sia-sia. Tidak ada gerakan berlebih. Setiap individu tahu perannya, dan dunia bergerak mengikuti mereka. Ruangan-ruangan lain terbentang dengan ukuran dan warna yang beragam, dinding-dindingnya bertekstur, pintu-pintunya fungsional, tak satu pun dibuat untuk sekadar indah. Segalanya ada untuk tujuan tertentu.

Di beberapa titik, ia berpapasan dengan bidang plitan lain. Ada yang berukuran raksasa, membawa hingga dua belas orang sekaligus, memaksanya berhenti sejenak demi mematuhi protokol lalu lintas internal. Ada pula platform yang sengaja melambat, memberi jalan serta melakukan sebuah gestur kecil, namun sarat makna, sebagai bentuk penghormatan pada seorang Komandan Distrik.

Sesekali, Plitan Mynhemeni melayang lebih tinggi, melintas anggun di atas kepala orang-orang. Sebuah tarian mekanis yang hanya mungkin terjadi karena langit-langit Distrik Nor dibangun setinggi sepuluh meter. Bagi mereka, ruang vertikal adalah jalan raya.

Akhirnya, Plitan melambat.

Mynhemeni berdiri tegak saat platform berhenti di depan dinding berwarna kuning terang, mencolok, hampir berani, di antara dominasi warna logam dan abu-abu. Begitu kakinya menyentuh lantai, Plitan di bawahnya kembali larut, menyatu dengan permukaan, warnanya berubah menjadi peach pastel yang lembut, menyesuaikan diri dengan estetika ruang di hadapannya.

Tak ada bekas. Tak ada jejak.

Dari permukaan dinding kuning, muncul sebuah hologram kecil yang memproyeksikan seorang wanita muda dengan wajah ramah namun formal, rambut ikalnya diikat ke belakang layaknya ekor kuda, membiarkan kumpulan gelombang emas itu jatuh dengan indah di atas pundaknya.

“Selamat siang, Nyonya Mynhemeni. Ketua Thungsiruv sudah menanti Anda, silakan masuk,” ucap hologram itu dengan suara yang merdu, terlatih, dan netral.

Seketika, wanita itu lenyap.

Dinding kuning di hadapan Mynhemeni mulai bergerak. Dari satu titik di tengah dinding, materialnya bergerak teratur dengan kecepatan tinggi, menjauhi titik pusat dan bergerak melingkar secara mekanis. Persis seperti cara kamera membuka dan menutup lensanya. Kini, di hadapannya terdapat lubang dengan bentuk segitiga sama sisi yang sempurna.

Namun, lubang itu tidak langsung memperlihatkan isi ruangan. Alih-alih udara, lubang itu ditutupi oleh gelombang air berwarna putih kebiruan yang berpendar. Ini adalah teknologi pemisah ruang, gelombang itu berfungsi sebagai penghalang visual dan akustik agar orang dari luar tidak dapat mengintip. Sementara dari dalam, siapa pun dapat mengamati apa pun yang terjadi di luar dengan sangat jelas.

Dengan napas tertahan, Mynhemeni melangkah masuk. Gelombang itu dingin, menenangkan, hampir seperti pelukan singkat dari laut itu sendiri. Begitu ia menyeberang, lubang di belakangnya menyusut kembali menjadi dinding padat yang tak tertembus.

Ia kini berada di ruang kerja Ketua Thungsiruv.

Ruangan itu berbentuk persegi panjang dengan luas sekitar dua puluh meter persegi, namun terasa jauh lebih lapang dari ukuran sebenarnya berkat desainnya yang cerdas. Desainnya menipu indra. Bukan dengan kebesaran fisik, melainkan dengan ilusi keterbukaan yang disengaja. Di hadapan Mynhemeni berdiri sebuah meja kerja besar setengah melingkar. Permukaannya tampak seperti pahatan batu alam kuno, bertekstur kasar dan tak simetris, namun di setiap pinggirannya mengalir cahaya lembayung redup yang halus, seolah energi hidup berdenyut di dalamnya.

Meja itu bukan sekadar furnitur. Itu adalah simbol, pertemuan antara masa lalu Porkah yang purba dan teknologi masa kini yang tak tertandingi.

Tepat di belakang meja, sebuah dinding bening membentang. Bukan jendela biasa. Melainkan penghalang transparan berteknologi tinggi, yang memisahkan ruang kerja Ketua Thungsiruv dari samudera luas. Tanpa bingkai, tanpa sekat visual, lautan terbuka menjadi bagian dari ruangan itu sendiri. Air berkilau dengan cahaya lembut, dipenuhi kehidupan yang bergerak dalam ritme yang nyaris hipnotis. Ikan-ikan yang dikenal manusia darat, yang biasa dijumpai di pasar atau layar dokumenter. Berenang bebas, kecil dan sederhana.

Namun semua itu hanyalah figuran. Latar yang nyaris tak berarti.

Yang benar-benar menyita perhatian adalah makhluk-makhluk yang tak pernah dikenal Bumi.

Seekor hewan seukuran gajah melintas perlahan, tubuhnya menyerupai kuda laut raksasa dengan sisik berlapis kristal, sementara sepasang sayap menyerupai ikan pari terbentang megah di sisinya. Setiap kibasan menciptakan pusaran air yang berkilau. Tak jauh dari sana, seekor ular piton kolosal meliuk tenang, tubuhnya panjang dan padat, namun di sepanjang sisinya tumbuh lima pasang kaki kecil. Struktur aneh yang membuatnya tampak seperti makhluk dari mimpi yang keliru.

Di kedalaman yang sama, melayang sesosok makhluk menyerupai lentera hidup. Tubuhnya bulat dan transparan, di dalamnya berdenyut inti cahaya berwarna biru pucat, seperti jantung yang berdetak perlahan. Dari tubuh itu menjuntai puluhan sulur halus, masing-masing berakhir pada mata kecil yang membuka dan menutup bergantian, seolah makhluk itu melihat dunia dari segala arah sekaligus. Setiap gerakannya meninggalkan jejak cahaya tipis yang perlahan menghilang di air.

Dan di antara arus yang lebih gelap, sesuatu meluncur cepat. Terlalu cepat untuk disebut ikan. Tubuhnya ramping dan memanjang, berwarna hitam legam yang menyerap cahaya. Di sepanjang sisinya terbuka celah-celah tipis yang memancarkan kilatan merah sesaat, seperti luka yang bernapas. Ia tidak menggerakkan sirip atau ekor. Ia berpindah seolah melipat ruang di sekitarnya, muncul dan menghilang dalam kedipan mata.

Makhluk-makhluk itu berlalu seperti arus yang sabar, meninggalkan riak cahaya dan bayangan yang perlahan mereda. Di balik tubuh-tubuh asing yang melintas, ruang samudera mulai membuka dirinya. Bukan lagi sebagai habitat liar, melainkan sebagai sesuatu yang telah ditata.

Hamparan Distrik Nor yang menjakjubkan terbentang tanpa penghalang.

Ngarai terbentang terbelah dua, seperti dua zaman yang dipaksa berbagi ruang yang sama. Di sisi kanan, dinding ngarai menjulang dengan bangunan-bangunan kuno yang dipahat langsung dari batu, tinggi dan agung seperti Petra di Yordania. Pilar-pilar masif, relung-relung dalam, dan jendela-jendela luas memancarkan cahaya beraneka warna berpendar lembut dari dalam bebatuan.

Memberi kesan bahwa kota itu tidak dibangun, melainkan digali oleh waktu dan ingatan. Cahaya yang keluar dari celah-celahnya bergerak pelan, seperti napas panjang peradaban yang sudah bertahan terlalu lama untuk runtuh.

Di sisi kiri, masa depan menolak diam. Bangunan-bangunan futuristik melekat pada dinding ngarai tanpa menyentuh dasar, menggantung seolah dilupakan oleh gravitasi. Bentuknya beragam dan asing. Menara spiral yang berputar perlahan pada porosnya sendiri, struktur berlapis yang tampak terlipat seperti kertas cahaya, hingga kubus-kubus asimetris yang mengembang dan menyusut mengikuti ritme internalnya.

Tidak ada dua bangunan yang benar-benar serupa. Beberapa tampak cair, permukaannya bergelombang seperti air yang dibekukan. Sedangkan yang lain tajam dan bersudut, memantulkan cahaya dalam pecahan-petakan tak beraturan. Semuanya terasa lahir dari masa depan yang begitu jauh, hingga hukum arsitektur manusia darat tampak usang di hadapannya.

Di tengah ngarai, pulau-pulau karang raksasa mengambang, menopang bangunan-bangunan futuristik lainnya dengan garis bersih dan cahaya dingin. Strukturnya itu tampak ringan, seolah melayang tanpa beban, kontras dengan massa batu tua di sekelilingnya.

Menghubungkan semuanya, dua sisi ngarai dan pulau-pulau karang raksasa, jaringan pipa transparan membentang melintasi ruang arus laut, melengkung dan bercabang seperti pembuluh darah kota, mengalirkan logistik dan energi langsung ke setiap bangunan tanpa suara. Seluruh cahaya dari sudut kota berpendar, berkumpul dan memisah, menyerupai galaksi warna-warni yang tenggelam jauh di kedalaman.

Dari ketinggian ruang kerja itu, Distrik Nor tampak utuh. Bukan sekadar kota, melainkan sistem yang hidup. Masa lalu dan masa depan berdiri berdampingan, diikat oleh kecerdasan dan ketertiban, berdenyut tenang di kedalaman laut yang tak pernah benar-benar sunyi.

Namun keajaiban itu tidak berhenti dari balik jendela bening raksasa ruang kerja Sang Ketua.

Langit-langit kantor utama pemerintahan Distrik Nor itu memproyeksikan langit malam daratan Bumi. Jernih, nyaris sempurna. Awan kelabu tipis bergerak perlahan, dan bulan purnama bersinar lembut, seolah benar-benar menggantung di atas kepala. Makhluk-makhluk mirip ubur-ubur melayang pelan di langit-langit itu, memancarkan pendar biru yang menggantikan fungsi bintang.

Meski bertema malam, ruangan tetap terang benderang. Pencahayaan internal bekerja tanpa sumber terlihat, tanpa bayangan keras. Dinding berwarna kuning moccasin dihiasi ukiran bunga merambat yang sangat detail, setiap lekuknya tampak seperti dikerjakan dengan kesabaran yang hampir religius. Lemari-lemari kaca menggantung di dinding, menampilkan artefak bersejarah dan benda-benda bercahaya yang memancarkan proyeksi lembut. Saksi bisu kejayaan dan kehancuran masa lalu.

Lantainya tampak seperti kepulan asap tipis bercampur percikan air. Setiap langkah di atasnya menimbulkan riak kecil, memberi ilusi seolah Mynhemeni sedang berjalan di atas awan yang hidup.

Ia menoleh ke seluruh penjuru ruangan.

Kosong.

Meja tamu batu yang mewah dan sofa panjang di sekelilingnya tidak ditempati siapa pun. Ketidakhadiran itu terasa disengaja, seakan ruangan itu sendiri sedang menunggu.

Mynhemeni melangkah maju.

Tiba-tiba, sepetak lantai di sebelah kiri meja kerja memudar dan lenyap.

Seorang pria muncul, naik dari bawah lantai menggunakan platform mekanis. Penampilannya menunjukkan wibawa seorang pria yang baru memasuki usia empat puluh tahun. Ia mengenakan jas berbentuk jubah berwarna merah gelap dengan pakaian putih bersih di dalamnya.

Di balik bingkai kacamata besi, dua lensa segitiga siku-siku membingkai wajahnya. Sisi tegak mengarah ke luar, sementara garis diagonalnya saling berhadapan di pangkal hidung, menyorot iris merah kecoklatan yang tertuju pada Mynhemeni. Wajah putihnya yang diselimuti janggut perak tipis di bawah dagu tidak dapat menyembunyikan gurat kecemasan yang mendalam.

Itulah Sang Ketua Thungsiruv. Dengan langkah cepat, ia menghampiri Mynhemeni dan mengayunkan tangannya, mengisyaratkan agar Komandan itu mendekat.

“Bagaimana? Apakah status anak tersebut sudah bisa dipastikan?”

Other Stories
Langit Ungu

Cerita tentang Oc dari Penulis. karakter utama - Moon Light "Hidup cuma sekali? Lalu be ...

Mother & Son

Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...

Diary Superhero

lanjutan cerita kisah cinta superhero. dari sudut pandang Sefia. superhero berkekuatan tel ...

Adam & Hawa

Adam mencintai Hawa yang cantik, cerdas, dan sederhana, namun hubungan mereka terhalang ad ...

Di Bawah Panji Dipenogoro

Damar, adalah seorang petani yang terpanggil untuk berjuang bersama mengusir penjajah Bela ...

The Museum

Mario Tongghost, penangkap hantu asal Medan, menjadi penjaga malam di Museum Bamboe Kuning ...

Download Titik & Koma