Bab 11 - Steven
“Anak yang duduknya di pojok kiri dekat jendela itu... dia anak ketua yayasan. Selama ini di depan guru dia cuma pura-pura jadi malaikat, tapi aslinya dia itu predator. Tukang bully tingkat tinggi. Siapa pun yang nggak dia sukai bakal jadi bangkai, dan mereka yang sudah jadi korban akhirnya cuma bisa pasrah. Nggak ada yang berani lawan, Cakra. Nggak ada.”
Dito menjawab pertanyaan Cakra mengenai identitas Steven dengan nada yang lebih mirip gumaman doa di pemakaman. Dan lagi-lagi, Cakra hanya bisa menjadi penonton pasif dalam teater ingatannya sendiri. Ia terjebak dalam arus sensorik yang presisi, mengikuti setiap adegan dengan detail yang menyakitkan. Ia tak mampu bergerak di luar skenario, bahkan untuk sekadar mengambil napas lebih panjang dari yang ia lakukan dua setengah tahun lalu.
“Emang nggak ada yang lapor?” tanya Cakra bingung.
Pertanyaan itu meluncur otomatis. Walaupun otaknya yang sekarang sudah mengingat betul seluruh rangkaian adegan ini. Setiap koma dan titik dari tragedi yang akan datang ia tetap harus menjalankan prosesi selaman ingatan tanpa adanya interferensi. Ia seperti hantu yang menghuni tubuhnya sendiri.
“Sudah! Sering!” Dito berbisik lebih lirih, matanya melirik waspada ke pojok kelas.
“Tapi guru-guru nggak ada yang percaya. Steven itu terlalu bersih. Terus tahu nggak apa yang terjadi besoknya setelah ada yang melapor? Tiba-tiba di dalam tas si pelapor ada rokok sama kondom! Kami semua yakin itu kelakuan Steven, tapi nggak ada yang bisa ngebuktiin. Soalnya, jangankan buat beli barang-barang kayak gitu, buat makan saja anak itu kadang susah. Malah sebelum diterima di sini, dia sering puasa karena keluarganya nggak punya apa-apa untuk dimakan!”
Cakra merasakan gelombang ngeri merambat di tulang belakangnya. Sebuah gema emosi dari masa lalu yang kini terasa lebih tajam. Selama ini, Cakra pikir aksi perundungan hanyalah komoditas drama dalam sinetron yang sering disaksikan bundanya lewat layanan streaming. Mengingat mereka lama tinggal di luar negeri, internet adalah satu-satunya jembatan untuk menikmati segala hal yang berkaitan dengan Indonesia. Bundanya selalu bilang kalau drama-drama perundungan itu hanya fiksi yang dilebih-lebihkan untuk menaikkan rating. Cakra mempercayainya. Namun kini, di depan matanya sendiri, ia melihat betapa kenyataan bisa jauh lebih busuk daripada naskah televisi mana pun.
“Jadi ya terpaksa sekolah mengeluarkan dia. Itu semacam pesan, Cakra. Ancaman buat siapa pun supaya jangan main-main sama Steven.”
Amarah mulai membakar dada Cakra. Rasa marah yang familiar pada seseorang yang menyalahgunakan status sosial untuk menginjak yang lemah. Jika saat itu Cakra tahu bahwa teman sekelasnya, yang sekarang menjadi salah satu sahabat terbaiknya, diperlakukan semena-men. Ia yakin Steven sudah akan berakhir di bangsal rumah sakit. Koma akibat tinju yang ia layangkan. Cakra tak habis pikir, bagaimana bisa institusi pendidikan yang memakai nama "Berbudi Pekerti" bisa begitu buta.
“Brengsek! Parah juga ya tuh anak!” ujar Cakra sambil mendongakkan leher, matanya bergerak menyapu sudut langit-langit mencari benda yang ia cari.
“Itu kan ada CCTV, emang nggak ada bukti siapa yang masukin?”
“Nah, itu dia masalahnya! File CCTV pas kejadian itu mendadak hilang. Katanya CCTV-nya mati tepat di jam itu. Ya semuanya pasti tahu kalau Steven sengaja masuk ke ruang kontrol buat matiin atau hapus filenya, cuma ya itu tadi... nggak ada bukti fisik!”
Dito menghela napas kecil. Tangannya yang sedari tadi ikut bergerak seiring mulutnya yang berceloteh kini terhenti. Padahal, guru di depan mereka sedang sibuk memaparkan materi melalui proyeksi cahaya dari alat proyektor kelas. Cahaya itu membelah udara kelas yang statis, menampilkan angka-angka dan rumus yang diabaikan oleh dua remaja di baris tengah itu.
“Lagian Steven itu murid teladan di mata mereka. Juara umum, pemenang olimpiade kimia. Beberapa kali dia bawa medali emas tingkat kota. Walaupun cuma tingkat kota, buat sekolah ini itu luar biasa. Guru-guru mana mungkin percaya kalau aset berharga mereka itu seorang kriminal cilik?”
Dito melanjutkan penjelasannya tanpa menoleh pada Cakra, tangannya kembali sibuk menyalin tulisan yang tersuguh di dinding kelas. Suaranya yang lirih nyaris tenggelam oleh deru pelan AC ruangan.
“Oke, thanks infonya,” ucap Cakra, tangannya mulai bergerak mengikuti gerakan Dito mencatat.
Ia berusaha menyimak penjelasan guru mengenai energi mekanik, sementara di dalam kepalanya, ia mulai menyusun strategi perang untuk membalas Steven. Ia sangat mengingat perasaan itu. Perasaan sombong namun mulia yang ia pegang teguh dari ayahnya. Lebih baik mati daripada hidup menutup mata melihat ketidakadilan.
Cakra sungguh tak sabar menantikan adegan selanjutnya. Ingin rasanya ia bisa melompati waktu, langsung ke momen-momen yang membuat hidupnya lebih berarti. Namun, selaman ingatan ini tidak mengenal tombol fast-forward. Segalanya berlangsung lebih lambat dari yang ia perkirakan. Ia heran, mengapa adegan di kamarnya tadi pagi terasa sangat cepat, sementara adegan di kelas ini terasa begitu abadi?
Apakah ini semacam ujian dari Tuhan? Sebuah tes agar ia memahami setiap detail kehidupannya sebelum "film" di lobus temporal otaknya habis dan ia harus menghadapi penghakiman terakhir? Cakra tak ingin menerka-nerka. Baginya, tetap berada dalam kenangan ini, jauh lebih baik daripada kembali ke Distrik Nor. Ia tidak sudi bertemu lagi dengan pria pucat yang hobi menyiksanya dengan aliran listrik. Ia tidak ingin bangun dalam suasana bawah laut yang aneh. Di mana semuanya basah namun tak basah, terang namun gelap.
Adegan terus bergulir. Hawa kelas yang semula khidmat mulai melunak seiring bergantinya jam pelajaran. Para murid meregangkan otot yang kaku, beberapa mulai bercengkerama, namun tidak sedikit yang tetap memasang mata pada Cakra. Tidak heran, kehadiran Cakra adalah anomali. Baru kali ini dalam sejarah sekolah mereka, ada murid baru yang masuk di pertengahan tahun pelajaran.
Jeda lima menit itu dimanfaatkan Cakra untuk mencoba mengorek lebih banyak tentang sekolah barunya. Sekolah yang, tanpa diketahui oleh teman-temannya, sebenarnya adalah milik keluarganya melalui sistem subsidi Monument Group.
SMA Berbudi Pekerti adalah sister school dari Budi Pekerti International High School. Sebuah sistem yang cerdas sekaligus ironis. Sekolah internasionalnya adalah taman bermain bagi kaum elit, pejabat, dan pengusaha yang bertransaksi menggunakan Dollar dan Euro. Keuntungan dari sekolah elit itulah yang mendanai SMA Berbudi Pekerti. Sekolah khusus bagi siswa berprestasi yang kurang mampu.
Hanya tiga puluh enam murid yang diterima setiap tahunnya, dibagi menjadi dua belas orang per kelas. Sekolah ini tidak luas, namun fasilitasnya adalah standar emas. Sarapan dan makan siang gratis, tunjangan hidup, hingga tempat tinggal bagi mereka yang yatim piatu di panti asuhan milik Monument Group di bawah Yayasan Asuhan Bunda. Yayasan yang, sialnya, dipimpin oleh Handoko, ayah Steven.
Para siswa di sini berpikir bahwa sekolah ini milik ayah Steven, karena Handoko sering berlaku layaknya pemilik tunggal yang absolut. Hal ini tidak diketahui oleh Adipramana, ayah Cakra. Sebagai Presiden Direktur Monument Group, ayah Cakra sudah tidak lagi mengurusi detail mikro yayasan. Ia hanya menerima laporan tahunan dari tim dewan sekretaris yang seharusnya mengawasi Handoko. Ayah dari Steven itu mungkin hanya pernah bertemu muka dengan Adipramana beberapa kali, terakhir saat acara ulang tahun Cakra di panti asuhan bertahun-tahun lalu. Ayah Cakra memang memiliki tradisi merayakan ulang tahun anaknya di panti asuhan miliknya secara bergiliran.
Jika dunia tahu seberapa kaya Adipramana, mereka akan melihat namanya di posisi keempat daftar orang terkaya dunia versi Forbes. Bisnisnya merambah segalanya. Dari retail busana hingga teknologi komputer. Namun, meski sang ayah telah berjabat tangan dengan hampir seluruh pemimpin dunia, ia selalu mendidik Cakra untuk hidup dalam kesederhanaan yang disiplin.
Itulah alasan mengapa Cakra pagi ini berangkat sekolah menggunakan angkutan kota (angkot), menolak tawaran taksi daring apalagi mobil mewah ayahnya. Ia ingin merasakan sensasi menjadi remaja Jakarta yang sebenarnya. Bergelantungan di pintu angkot yang melaju, menghirup polusi, dan merasakan adrenalin di jalanan ibukota. Cakra tidak bodoh. Ia tahu cara menjaga dirinya, tapi ia haus akan pengalaman nyata.
Kembali ke kelas, atmosfer mulai terasa berat. Beberapa pasang mata mulai memancarkan energi negatif yang jelas. Cakra mendapati tatapan sinis dan bisikan-bisikan tajam yang ditujukan padanya.
“Eh, nama lu siapa tadi?” tanya Cakra pada anak laki-laki di sebelah kanannya.
“Dito!”
“Kok kayaknya pada merhatiin gue ya? Ada yang salah?”
“Tadi sudah gue bilang kan, ada yang dikeluarkan gara-gara melawan Steven?” Dito menjawab tanpa melihat ke arah Cakra. “Nah, anak-anak di sini yakin kalau lu bisa masuk sekolah ini karena membeli kursi anak yang dikeluarkan itu. Mereka pikir lu anak orang kaya yang pakai jalur belakang. Makanya banyak yang nggak suka. Lagian, masuk sini itu susah, kuotanya ketat. Kalau nggak diundang, ya nggak bisa masuk. Lu masa nggak tahu?”
Cakra hanya menggeleng. Saat ia ingin bertanya lebih lanjut, sebuah benda melesat di udara.
PLAK!
Secarik kertas yang diremuk menjadi bola tak sempurna menghantam bagian belakang kepala Cakra, lalu memantul jatuh di dekat kaki kanannya. Cakra menoleh, matanya langsung menangkap sosok di pojok kanan belakang. Seorang remaja laki-laki menatapnya dengan tatapan tajam yang penuh kebencian. Steven.
Cakra menunduk, mengambil bola kertas itu dengan malas dan membukanya.
“Jangan sok deket jadi anak baru! Mia punya gue.”
Tulisannya cakar ayam, tergesa-gesa, seolah ditulis dengan kemarahan yang meluap. Cakra tidak peduli. Ia tidak merasa terancam. Baginya, ini hanyalah gertakan anak kecil yang manja.
Cakra bangkit dari duduknya, berjalan dengan langkah santai menuju tempat sampah di pojok kiri belakang. Saat ia membuang kertas itu, pandangannya bertemu dengan Steven. Steven menatapnya dengan gaya intimidatif. Dagu diangkat, mata menyipit. Namun, Cakra justru menatapnya dengan rasa kasihan. Pandangan "kasihan" itu ternyata adalah penghinaan terbesar bagi Steven.
Menyadari bahwa gertakannya tidak mempan, Steven mendadak murka. Ia berdiri seketika.
SREEEEKKKK!
Suara deritan kaki kursi yang bergesekan kasar dengan lantai memenuhi ruangan, memutus semua bisikan di kelas. Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Setiap napas tertahan. Setiap mata tertuju pada Steven dan Cakra yang kini berdiri berhadapan dalam jarak beberapa meter.
Ujung bibir Steven tertarik ke atas, membentuk seringai mengejek yang dipaksakan. Ia melangkah maju, siap menghampiri Cakra yang masih berdiri acuh tak acuh. Tiga anak laki-laki, antek-antek setianya, ikut berdiri, membentuk formasi yang mengancam.
Cakra tetap tenang, ia mulai berjalan kembali menuju mejanya, melewati Steven seolah pria itu hanyalah pajangan dinding yang tidak penting. Steven tidak terima diabaikan.
“Diam lu di sana!” bentak Steven.
Cakra tidak berhenti. Ia terus melangkah. Saat Steven dan ketiga anteknya baru saja akan menerjang untuk memulai konfrontasi fisik, pintu kelas tiba-tiba terbuka lebar dengan dentuman pelan.
Seorang wanita muda, belum mencapai usia tiga puluh, melangkah masuk dengan wibawa yang dingin. Kehadirannya seperti siraman air es pada api yang sedang berkobar. Steven dan ketiga anak laki-laki itu seketika mematung, lalu dengan gerak refleks yang terlatih, mereka kembali duduk di bangku masing-masing sambil berusaha menelan emosi yang masih meluap-luap.
Kelas kembali normal, namun Cakra tahu, perang baru saja dideklarasikan.
Dito menjawab pertanyaan Cakra mengenai identitas Steven dengan nada yang lebih mirip gumaman doa di pemakaman. Dan lagi-lagi, Cakra hanya bisa menjadi penonton pasif dalam teater ingatannya sendiri. Ia terjebak dalam arus sensorik yang presisi, mengikuti setiap adegan dengan detail yang menyakitkan. Ia tak mampu bergerak di luar skenario, bahkan untuk sekadar mengambil napas lebih panjang dari yang ia lakukan dua setengah tahun lalu.
“Emang nggak ada yang lapor?” tanya Cakra bingung.
Pertanyaan itu meluncur otomatis. Walaupun otaknya yang sekarang sudah mengingat betul seluruh rangkaian adegan ini. Setiap koma dan titik dari tragedi yang akan datang ia tetap harus menjalankan prosesi selaman ingatan tanpa adanya interferensi. Ia seperti hantu yang menghuni tubuhnya sendiri.
“Sudah! Sering!” Dito berbisik lebih lirih, matanya melirik waspada ke pojok kelas.
“Tapi guru-guru nggak ada yang percaya. Steven itu terlalu bersih. Terus tahu nggak apa yang terjadi besoknya setelah ada yang melapor? Tiba-tiba di dalam tas si pelapor ada rokok sama kondom! Kami semua yakin itu kelakuan Steven, tapi nggak ada yang bisa ngebuktiin. Soalnya, jangankan buat beli barang-barang kayak gitu, buat makan saja anak itu kadang susah. Malah sebelum diterima di sini, dia sering puasa karena keluarganya nggak punya apa-apa untuk dimakan!”
Cakra merasakan gelombang ngeri merambat di tulang belakangnya. Sebuah gema emosi dari masa lalu yang kini terasa lebih tajam. Selama ini, Cakra pikir aksi perundungan hanyalah komoditas drama dalam sinetron yang sering disaksikan bundanya lewat layanan streaming. Mengingat mereka lama tinggal di luar negeri, internet adalah satu-satunya jembatan untuk menikmati segala hal yang berkaitan dengan Indonesia. Bundanya selalu bilang kalau drama-drama perundungan itu hanya fiksi yang dilebih-lebihkan untuk menaikkan rating. Cakra mempercayainya. Namun kini, di depan matanya sendiri, ia melihat betapa kenyataan bisa jauh lebih busuk daripada naskah televisi mana pun.
“Jadi ya terpaksa sekolah mengeluarkan dia. Itu semacam pesan, Cakra. Ancaman buat siapa pun supaya jangan main-main sama Steven.”
Amarah mulai membakar dada Cakra. Rasa marah yang familiar pada seseorang yang menyalahgunakan status sosial untuk menginjak yang lemah. Jika saat itu Cakra tahu bahwa teman sekelasnya, yang sekarang menjadi salah satu sahabat terbaiknya, diperlakukan semena-men. Ia yakin Steven sudah akan berakhir di bangsal rumah sakit. Koma akibat tinju yang ia layangkan. Cakra tak habis pikir, bagaimana bisa institusi pendidikan yang memakai nama "Berbudi Pekerti" bisa begitu buta.
“Brengsek! Parah juga ya tuh anak!” ujar Cakra sambil mendongakkan leher, matanya bergerak menyapu sudut langit-langit mencari benda yang ia cari.
“Itu kan ada CCTV, emang nggak ada bukti siapa yang masukin?”
“Nah, itu dia masalahnya! File CCTV pas kejadian itu mendadak hilang. Katanya CCTV-nya mati tepat di jam itu. Ya semuanya pasti tahu kalau Steven sengaja masuk ke ruang kontrol buat matiin atau hapus filenya, cuma ya itu tadi... nggak ada bukti fisik!”
Dito menghela napas kecil. Tangannya yang sedari tadi ikut bergerak seiring mulutnya yang berceloteh kini terhenti. Padahal, guru di depan mereka sedang sibuk memaparkan materi melalui proyeksi cahaya dari alat proyektor kelas. Cahaya itu membelah udara kelas yang statis, menampilkan angka-angka dan rumus yang diabaikan oleh dua remaja di baris tengah itu.
“Lagian Steven itu murid teladan di mata mereka. Juara umum, pemenang olimpiade kimia. Beberapa kali dia bawa medali emas tingkat kota. Walaupun cuma tingkat kota, buat sekolah ini itu luar biasa. Guru-guru mana mungkin percaya kalau aset berharga mereka itu seorang kriminal cilik?”
Dito melanjutkan penjelasannya tanpa menoleh pada Cakra, tangannya kembali sibuk menyalin tulisan yang tersuguh di dinding kelas. Suaranya yang lirih nyaris tenggelam oleh deru pelan AC ruangan.
“Oke, thanks infonya,” ucap Cakra, tangannya mulai bergerak mengikuti gerakan Dito mencatat.
Ia berusaha menyimak penjelasan guru mengenai energi mekanik, sementara di dalam kepalanya, ia mulai menyusun strategi perang untuk membalas Steven. Ia sangat mengingat perasaan itu. Perasaan sombong namun mulia yang ia pegang teguh dari ayahnya. Lebih baik mati daripada hidup menutup mata melihat ketidakadilan.
Cakra sungguh tak sabar menantikan adegan selanjutnya. Ingin rasanya ia bisa melompati waktu, langsung ke momen-momen yang membuat hidupnya lebih berarti. Namun, selaman ingatan ini tidak mengenal tombol fast-forward. Segalanya berlangsung lebih lambat dari yang ia perkirakan. Ia heran, mengapa adegan di kamarnya tadi pagi terasa sangat cepat, sementara adegan di kelas ini terasa begitu abadi?
Apakah ini semacam ujian dari Tuhan? Sebuah tes agar ia memahami setiap detail kehidupannya sebelum "film" di lobus temporal otaknya habis dan ia harus menghadapi penghakiman terakhir? Cakra tak ingin menerka-nerka. Baginya, tetap berada dalam kenangan ini, jauh lebih baik daripada kembali ke Distrik Nor. Ia tidak sudi bertemu lagi dengan pria pucat yang hobi menyiksanya dengan aliran listrik. Ia tidak ingin bangun dalam suasana bawah laut yang aneh. Di mana semuanya basah namun tak basah, terang namun gelap.
Adegan terus bergulir. Hawa kelas yang semula khidmat mulai melunak seiring bergantinya jam pelajaran. Para murid meregangkan otot yang kaku, beberapa mulai bercengkerama, namun tidak sedikit yang tetap memasang mata pada Cakra. Tidak heran, kehadiran Cakra adalah anomali. Baru kali ini dalam sejarah sekolah mereka, ada murid baru yang masuk di pertengahan tahun pelajaran.
Jeda lima menit itu dimanfaatkan Cakra untuk mencoba mengorek lebih banyak tentang sekolah barunya. Sekolah yang, tanpa diketahui oleh teman-temannya, sebenarnya adalah milik keluarganya melalui sistem subsidi Monument Group.
SMA Berbudi Pekerti adalah sister school dari Budi Pekerti International High School. Sebuah sistem yang cerdas sekaligus ironis. Sekolah internasionalnya adalah taman bermain bagi kaum elit, pejabat, dan pengusaha yang bertransaksi menggunakan Dollar dan Euro. Keuntungan dari sekolah elit itulah yang mendanai SMA Berbudi Pekerti. Sekolah khusus bagi siswa berprestasi yang kurang mampu.
Hanya tiga puluh enam murid yang diterima setiap tahunnya, dibagi menjadi dua belas orang per kelas. Sekolah ini tidak luas, namun fasilitasnya adalah standar emas. Sarapan dan makan siang gratis, tunjangan hidup, hingga tempat tinggal bagi mereka yang yatim piatu di panti asuhan milik Monument Group di bawah Yayasan Asuhan Bunda. Yayasan yang, sialnya, dipimpin oleh Handoko, ayah Steven.
Para siswa di sini berpikir bahwa sekolah ini milik ayah Steven, karena Handoko sering berlaku layaknya pemilik tunggal yang absolut. Hal ini tidak diketahui oleh Adipramana, ayah Cakra. Sebagai Presiden Direktur Monument Group, ayah Cakra sudah tidak lagi mengurusi detail mikro yayasan. Ia hanya menerima laporan tahunan dari tim dewan sekretaris yang seharusnya mengawasi Handoko. Ayah dari Steven itu mungkin hanya pernah bertemu muka dengan Adipramana beberapa kali, terakhir saat acara ulang tahun Cakra di panti asuhan bertahun-tahun lalu. Ayah Cakra memang memiliki tradisi merayakan ulang tahun anaknya di panti asuhan miliknya secara bergiliran.
Jika dunia tahu seberapa kaya Adipramana, mereka akan melihat namanya di posisi keempat daftar orang terkaya dunia versi Forbes. Bisnisnya merambah segalanya. Dari retail busana hingga teknologi komputer. Namun, meski sang ayah telah berjabat tangan dengan hampir seluruh pemimpin dunia, ia selalu mendidik Cakra untuk hidup dalam kesederhanaan yang disiplin.
Itulah alasan mengapa Cakra pagi ini berangkat sekolah menggunakan angkutan kota (angkot), menolak tawaran taksi daring apalagi mobil mewah ayahnya. Ia ingin merasakan sensasi menjadi remaja Jakarta yang sebenarnya. Bergelantungan di pintu angkot yang melaju, menghirup polusi, dan merasakan adrenalin di jalanan ibukota. Cakra tidak bodoh. Ia tahu cara menjaga dirinya, tapi ia haus akan pengalaman nyata.
Kembali ke kelas, atmosfer mulai terasa berat. Beberapa pasang mata mulai memancarkan energi negatif yang jelas. Cakra mendapati tatapan sinis dan bisikan-bisikan tajam yang ditujukan padanya.
“Eh, nama lu siapa tadi?” tanya Cakra pada anak laki-laki di sebelah kanannya.
“Dito!”
“Kok kayaknya pada merhatiin gue ya? Ada yang salah?”
“Tadi sudah gue bilang kan, ada yang dikeluarkan gara-gara melawan Steven?” Dito menjawab tanpa melihat ke arah Cakra. “Nah, anak-anak di sini yakin kalau lu bisa masuk sekolah ini karena membeli kursi anak yang dikeluarkan itu. Mereka pikir lu anak orang kaya yang pakai jalur belakang. Makanya banyak yang nggak suka. Lagian, masuk sini itu susah, kuotanya ketat. Kalau nggak diundang, ya nggak bisa masuk. Lu masa nggak tahu?”
Cakra hanya menggeleng. Saat ia ingin bertanya lebih lanjut, sebuah benda melesat di udara.
PLAK!
Secarik kertas yang diremuk menjadi bola tak sempurna menghantam bagian belakang kepala Cakra, lalu memantul jatuh di dekat kaki kanannya. Cakra menoleh, matanya langsung menangkap sosok di pojok kanan belakang. Seorang remaja laki-laki menatapnya dengan tatapan tajam yang penuh kebencian. Steven.
Cakra menunduk, mengambil bola kertas itu dengan malas dan membukanya.
“Jangan sok deket jadi anak baru! Mia punya gue.”
Tulisannya cakar ayam, tergesa-gesa, seolah ditulis dengan kemarahan yang meluap. Cakra tidak peduli. Ia tidak merasa terancam. Baginya, ini hanyalah gertakan anak kecil yang manja.
Cakra bangkit dari duduknya, berjalan dengan langkah santai menuju tempat sampah di pojok kiri belakang. Saat ia membuang kertas itu, pandangannya bertemu dengan Steven. Steven menatapnya dengan gaya intimidatif. Dagu diangkat, mata menyipit. Namun, Cakra justru menatapnya dengan rasa kasihan. Pandangan "kasihan" itu ternyata adalah penghinaan terbesar bagi Steven.
Menyadari bahwa gertakannya tidak mempan, Steven mendadak murka. Ia berdiri seketika.
SREEEEKKKK!
Suara deritan kaki kursi yang bergesekan kasar dengan lantai memenuhi ruangan, memutus semua bisikan di kelas. Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Setiap napas tertahan. Setiap mata tertuju pada Steven dan Cakra yang kini berdiri berhadapan dalam jarak beberapa meter.
Ujung bibir Steven tertarik ke atas, membentuk seringai mengejek yang dipaksakan. Ia melangkah maju, siap menghampiri Cakra yang masih berdiri acuh tak acuh. Tiga anak laki-laki, antek-antek setianya, ikut berdiri, membentuk formasi yang mengancam.
Cakra tetap tenang, ia mulai berjalan kembali menuju mejanya, melewati Steven seolah pria itu hanyalah pajangan dinding yang tidak penting. Steven tidak terima diabaikan.
“Diam lu di sana!” bentak Steven.
Cakra tidak berhenti. Ia terus melangkah. Saat Steven dan ketiga anteknya baru saja akan menerjang untuk memulai konfrontasi fisik, pintu kelas tiba-tiba terbuka lebar dengan dentuman pelan.
Seorang wanita muda, belum mencapai usia tiga puluh, melangkah masuk dengan wibawa yang dingin. Kehadirannya seperti siraman air es pada api yang sedang berkobar. Steven dan ketiga anak laki-laki itu seketika mematung, lalu dengan gerak refleks yang terlatih, mereka kembali duduk di bangku masing-masing sambil berusaha menelan emosi yang masih meluap-luap.
Kelas kembali normal, namun Cakra tahu, perang baru saja dideklarasikan.
Other Stories
Cinta Satu Paket
Namanya Renata Mutiara, secantik dan selembut mutiara. Kelas sebelas dan usianya yang te ...
Metafora Diri
Cerita ini berkisah tentang seorang wanita yang mengalami metafora sejenak ia masih kanak- ...
Absolute Point
Sebuah sudut pandang mahasiswa semester 13 diambang Drop Out yang terlalu malu menceritaka ...
Dia Bukan Dia
Sebuah pengkhianatan yang jauh lebih gelap dari perselingkuhan biasa. Malam itu, di tengah ...
Dari 0 Hingga 0
Tentang Rima dan Faldi yang menikah ketika baru saja lulus sekolah dengan komitmen ingin m ...
Don't Touch Me
Dara kehilangan kabar dari Erik yang lama di Spanyol, hingga ia ragu untuk terus menunggu. ...