Bab 14 - Handoko
“Kamu! Berani-beraninya kamu membuat onar di sekolah yang sudah bermurah hati menampung anak sepertimu!”
Suara Handoko meledak, memantul di dinding ruangan yang sempit itu. Ia mengacungkan telunjuk kanannya tepat di depan hidung Cakra, hanya berjarak beberapa inci dari bola mata pemuda itu. Tangannya yang lain terkepal erat, seolah-olah ia sedang menahan diri agar tidak melayangkan tamparan kedua.
Di luar ruangan, atmosfer sekolah mendadak berubah. SMA Berbudi Pekerti yang biasanya tenang, dipenuhi anak-anak yang terobsesi dengan nilai dan masa depan, kini mendidih oleh rasa penasaran. Murid-murid dari kelas sepuluh hingga dua belas mulai berkerumun di koridor, menjaga jarak aman namun tetap berusaha mengintip melalui celah pintu atau jendela kaca yang buram. Kehadiran Handoko adalah lonceng kematian bagi siapa pun yang berselisih dengan Steven. Kabar burung menyebar lebih cepat dari kecepatan cahaya. Cakra, si anak baru misterius itu, akan segera didepak.
Di kelas Cakra, perasaan teman-temannya bercampur aduk seperti badai kimia. Ada yang merasa iba, ada yang didera rasa bersalah karena membiarkan Cakra dikucilkan, namun ada juga yang merasa Cakra pantas dikeluarkan karena telah mengusik ketertiban yang selama ini dipelihara di bawah kaki Steven. Sementara itu, Mia tetap duduk di bangkunya, menatap keluar jendela dengan ekspresi datar yang dingin. Seolah-olah seluruh drama ini hanyalah gangguan semu di dunianya.
Para guru berusaha membubarkan kerumunan itu, namun rasa ingin tahu manusia adalah mesin yang sulit dimatikan. Mereka sendiri sebenarnya penasaran, karena Handoko adalah sosok yang selalu hadir dalam setiap kebijakan sekolah, seorang diktator kecil yang suaranya lebih berat daripada peraturan tertulis mana pun.
“Pak Andi!” Handoko kini memalingkan tatapan kejinya ke arah kepala sekolah. “Saya mau anak ini dikeluarkan sekarang juga! Tanpa syarat! Dia adalah noda bagi institusi ini!”
Steven, yang duduk di sofa seberang, tidak menyembunyikan rasa bahagianya. Ia menyeringai licik ke arah Cakra, sebuah tatapan yang mengatakan: Aku sudah bilang, bukan? Dunia ini milikku.
Cakra membalas tatapan itu dengan ketenangan yang ganjil. Ia sedang mengerahkan seluruh energinya untuk menahan diri agar tidak membuat pria tua di depannya berakhir di unit gawat darurat. Tamparan tadi memang perih, tapi rasa perih itu tidak ada apa-apanya dibanding api yang mulai membakar jiwanya. Alasan utama Cakra tetap diam hanya satu, ayahnya selalu mengajarkannya untuk tetap menghormati orang tua, seburuk apa pun karakter mereka. Namun, rasa hormat itu kini tipis sekali, setipis lapisan atmosfer Bumi yang hampir habis.
“Tapi, Pak Handoko...” Andi mencoba masuk ke sela-sela amarah itu, suaranya bergetar.
“Kenapa lagi? Apa yang kamu tunggu?”
“Dia anak baru, Pak. Baru kemarin terdaftar. Jika kita mengeluarkannya secara instan tanpa prosedur yang jelas... nanti apa kata pihak Dewan Direksi Yayasan, Pak? Laporan ini harus melalui audit mereka,” Andi berusaha mengingatkan posisi mereka dalam hierarki perusahaan yang lebih besar.
“Saya ini ketua yayasan di sini! Saya berhak mengambil keputusan darurat!” Handoko membentak, arogansinya menutupi logika hukum yang seharusnya ia patuhi. “Lagipula, kenapa bisa ada murid baru yang masuk tanpa sepengetahuan saya? Siapa yang memberi izin?”
Niat Andi sebenarnya tulus. Ia ingin melindungi Handoko agar tidak berbenturan dengan Dewan Direksi Monument Group, para raksasa yang tidak pernah ramah pada kesalahan sekecil apa pun. Namun, arogansi Handoko telah membutakannya. Ia merasa sekolah ini adalah kerajaan pribadinya, di mana titahnya adalah hukum.
Mendengar perdebatan itu, Cakra tidak kuasa menahan diri. Sebuah senyum ejekan muncul di bibirnya. Ia melihat Handoko bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai badut yang memakai mahkota kertas di atas menara yang akan segera runtuh.
“Berani-beraninya kamu mengejek saya!” Handoko berteriak, wajahnya merah padam. “Kamu dari panti asuhan mana, hah?! Kenapa anak sepertimu bisa masuk ke sini tanpa izin saya?”
“Dewan Direksi yang memerintah langsung, Pak!” Andi menyela dengan cepat sebelum situasi semakin tidak terkendali. “Cakra ini adalah kandidat utama tim olimpiade fisika yang akan mewakili Indonesia ke IPhO (International Physics Olympiad). Saya pikir Bapak sudah membaca disposisinya.”
Handoko sedikit tersentak. Ia bergidik sedikit, matanya kembali menelisik Cakra dengan tatapan yang lebih waspada. Kandidat IPhO bukanlah posisi sembarangan, itu adalah aset nasional yang bisa meningkatkan reputasi sekolah secara drastis di mata internasional.
Wajah Steven yang semula ceria seketika berubah. Ada kilatan takjub yang singkat, sebelum kemudian tenggelam dalam lautan iri hati yang pekat. Ia benci fakta bahwa Cakra memiliki sesuatu yang tidak ia miliki, kecerdasan murni yang diakui oleh otoritas tertinggi.
“Baiklah. Itu aset yang harus kita punya,” gumam Handoko akhirnya, meski nadanya masih penuh duri. Ia terpaksa setuju karena ia tahu yayasannya bergantung pada prestasi murid untuk mendapatkan kucuran dana tambahan.
Steven mengerang dalam hati. Ia ingin memprotes, ingin menuntut ayahnya agar tetap mengusir Cakra, namun ia juga sadar bahwa kekuasaan ayahnya memiliki batas yang disebut Dewan Direksi. Kenyataan bahwa sekolah ini sebenarnya bukan milik ayahnya kembali menyentak kesadarannya. Kenyataan yang selama ini tertutup oleh kemewahan fasilitas yang ia nikmati. Tempat parkir khusus, ruang istirahat pribadi yang dilengkapi konsol permainan dan tempat tidur nyaman, hingga rasa takut para guru.
“Tapi kejadian ini tidak bisa dibiarkan!” Handoko kembali bersuara, mengembalikan otoritasnya. “Dia tetap harus dihukum. Kamu... panggil orang tuamu ke sini sekarang! Masih punya orang tua, kan?”
Nada ejekan dalam pertanyaan itu membuat Cakra mencapai titik nadir kesabarannya. Ia tidak lagi peduli pada strategi halus. Jika Handoko ingin bermain dengan kekuasaan, maka Cakra akan memberinya satu set kartu yang tidak akan pernah bisa dia lawan.
“Oke,” tantang Cakra singkat.
Ia mengeluarkan ponsel pintarnya, mengabaikan tatapan intimidasi dari Victor dan teman-teman Steven lainnya. Jarinya menari di atas layar kaca berukuran lima inci itu. Ia mencari satu nama yang jarang ia hubungi di jam sekolah.
Nada sambung berbunyi. Satu kali. Dua kali.
“Halo, Yah?” ucap Cakra begitu sambungan terangkat.
“Kenapa, Dek? Tumben telepon jam segini? Masalah di sekolah sudah beres?” Suara Adipramana terdengar dari seberang, cukup keras untuk terdengar oleh Steven yang duduk paling dekat dengan Cakra.
Steven mengangkat alis, lalu berbisik pada kawan-kawannya dengan nada mencibir,
“Anjrit, cupu banget, masa ngadu ke bapaknya!" Steven merasa menang secara psikologis.
Ia berpikir Cakra hanyalah bocah pintar yang tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa bantuan Papa. Baginya, ini adalah tanda kelemahan. Ia sempat berpikir untuk menjadikan Cakra aliansinya karena kekuatannya tadi di kantin, namun melihat Cakra menelpon ayahnya, Steven merasa Cakra hanyalah target empuk yang bisa ia jadikan pesuruh nantinya.
“Itu dia masalahnya, Yah. Cakra dipanggil ke ruang kepala sekolah. Katanya, Ayah disuruh datang ke sekolah sekarang juga,” ucap Cakra datar.
“Oh, ya sudah. Ayah ke sana setelah antar Bunda, ya. Kira-kira setengah jam Ayah sampai. Nggak apa-apa kan?”
“Iya, Yah. Cakra tunggu.”
Cakra menutup telepon, lalu menyandarkan punggungnya dengan santai. Ia menatap Handoko tepat di matanya. Menyiratkan sebuah tatapan yang dingin dan tanpa rasa takut.
“Kurang ajar kamu! Tidak punya sopan santun!” bentak Handoko. “Berani-beraninya kamu menatap saya seperti itu? Apa orang tuamu tidak mengajarkan adab? Saya benar-benar ingin melihat ayah seperti apa yang membesarkan anak seperti kamu. Akan saya tegaskan padanya agar dia belajar mendidik anak dengan benar! Atau... saya benar-benar akan mempertimbangkan untuk memecat Pak Andi jika kamu tetap di sini!”
“Sudah Pak! Sudahlah!” Andi berdiri di antara mereka, berusaha mencegah tamparan kedua. Ia mengelus lengan Handoko dengan gerakan menenangkan, bertindak sebagai perisai manusia bagi Cakra.
“Apalagi yang harus dimengerti, Andi?! Lihat anak saya! Wajahnya hancur gara-gara preman ini!” Handoko menunjuk Steven. Steven, seperti aktor kawakan, langsung berdesis kesakitan sambil memegangi wajahnya yang lebam dan menunjuk kotoran bekas sepatu Cakra di seragamnya.
“Saya hanya...” Cakra mencoba memulai kalimatnya.
“Diam kamu! Mau saya gampar lagi?” potong Handoko dengan nada mengancam.
Andi segera mendinginkan suasana, mencoba membawa kembali logika ke dalam ruangan yang panas itu. “Tadi sudah saya tanyakan, Pak. Tapi karena tidak ada bukti fisik yang kuat, kami belum bisa menemukan titik terangnya.”
“Bukti apa lagi? Anak saya babak belur! Masih untung tidak saya laporkan langsung ke polisi!” ancam Handoko.
Cakra hanya membuang muka. Polisi? Ia justru hampir tertawa membayangkan polisi datang dan mendapati bahwa mereka harus menangkap anak dari pemilik perusahaan yang memberikan hibah pada kantor kepolisian tersebut. Namun ia menahan diri. Ia tidak ingin siswa yayasannya masuk penjara hanya karena urusan sesepele ini, apalagi jika anak itu harus satu sel dengan ayahnya yang kini sedang berakting sebagai raja kecil.
“Tapi Pak, menurut Nak Cakra, dia hanya melindungi diri. Katanya Steven yang memulai duluan,” Andi memberikan pembelaan yang netral.
“Bah! Alasan klasik! Kamu tahu sendiri sesopan apa Steven! Dia anak yang baik, tidak mungkin dia mencari gara-gara!” Handoko membela membabi buta.
Andi tidak membantah, meski di dalam kepalanya, tumpukan laporan mengenai pembulian oleh Steven mulai berputar. Steven memang pintar bersandiwara di depan guru, namun laporan-laporan itu tidak bisa diabaikan selamanya. Baru kali ini ada yang berani melawan balik sekeras Cakra.
“Lagian kan ada CCTV! Memangnya belum kalian cek?” tanya Handoko dengan nada menuntut.
“Sudah, Pak. Tapi... saat kejadian berlangsung, CCTV area kantin mati. Dan Pak Handoko harus tahu, ini bukan pertama kalinya. Setiap ada kejadian yang melibatkan Steven, entah kenapa sistem pengawas kita selalu mengalami malfungsi,” ucap Andi dengan nada yang sangat hati-hati, berusaha menyentil kesadaran Handoko bahwa putranyalah akar masalahnya. Bukan alatnya.
Handoko terdiam sesaat, namun keangkuhannya kembali memegang kendali. “Alasan saja kamu! CCTV itu barang baru! Sudah kamu pastikan itu benar-benar rusak?”
“Sudah, Pak.”
“Ya sudah! Selagi menunggu orang tua anak ini datang, saya mau bawa Steven ke rumah sakit. Kamu urus teman-temannya di UKS, dan jaga anak ini!” Handoko berdiri, menunjuk Cakra dengan nada merendahkan. “Jangan sampai dia keluar dari ruangan ini. Kalau orang tuanya sudah datang, hubungi saya segera!”
Handoko melangkah keluar diikuti Steven yang berjalan pincang dengan gaya dramatis, meninggalkan Cakra dalam kesunyian kantor yang mendadak terasa sangat dingin. Cakra hanya tersenyum tipis. Waktu setengah jam bagi ayahnya adalah waktu yang tepat bagi kehancuran Handoko.
Suara Handoko meledak, memantul di dinding ruangan yang sempit itu. Ia mengacungkan telunjuk kanannya tepat di depan hidung Cakra, hanya berjarak beberapa inci dari bola mata pemuda itu. Tangannya yang lain terkepal erat, seolah-olah ia sedang menahan diri agar tidak melayangkan tamparan kedua.
Di luar ruangan, atmosfer sekolah mendadak berubah. SMA Berbudi Pekerti yang biasanya tenang, dipenuhi anak-anak yang terobsesi dengan nilai dan masa depan, kini mendidih oleh rasa penasaran. Murid-murid dari kelas sepuluh hingga dua belas mulai berkerumun di koridor, menjaga jarak aman namun tetap berusaha mengintip melalui celah pintu atau jendela kaca yang buram. Kehadiran Handoko adalah lonceng kematian bagi siapa pun yang berselisih dengan Steven. Kabar burung menyebar lebih cepat dari kecepatan cahaya. Cakra, si anak baru misterius itu, akan segera didepak.
Di kelas Cakra, perasaan teman-temannya bercampur aduk seperti badai kimia. Ada yang merasa iba, ada yang didera rasa bersalah karena membiarkan Cakra dikucilkan, namun ada juga yang merasa Cakra pantas dikeluarkan karena telah mengusik ketertiban yang selama ini dipelihara di bawah kaki Steven. Sementara itu, Mia tetap duduk di bangkunya, menatap keluar jendela dengan ekspresi datar yang dingin. Seolah-olah seluruh drama ini hanyalah gangguan semu di dunianya.
Para guru berusaha membubarkan kerumunan itu, namun rasa ingin tahu manusia adalah mesin yang sulit dimatikan. Mereka sendiri sebenarnya penasaran, karena Handoko adalah sosok yang selalu hadir dalam setiap kebijakan sekolah, seorang diktator kecil yang suaranya lebih berat daripada peraturan tertulis mana pun.
“Pak Andi!” Handoko kini memalingkan tatapan kejinya ke arah kepala sekolah. “Saya mau anak ini dikeluarkan sekarang juga! Tanpa syarat! Dia adalah noda bagi institusi ini!”
Steven, yang duduk di sofa seberang, tidak menyembunyikan rasa bahagianya. Ia menyeringai licik ke arah Cakra, sebuah tatapan yang mengatakan: Aku sudah bilang, bukan? Dunia ini milikku.
Cakra membalas tatapan itu dengan ketenangan yang ganjil. Ia sedang mengerahkan seluruh energinya untuk menahan diri agar tidak membuat pria tua di depannya berakhir di unit gawat darurat. Tamparan tadi memang perih, tapi rasa perih itu tidak ada apa-apanya dibanding api yang mulai membakar jiwanya. Alasan utama Cakra tetap diam hanya satu, ayahnya selalu mengajarkannya untuk tetap menghormati orang tua, seburuk apa pun karakter mereka. Namun, rasa hormat itu kini tipis sekali, setipis lapisan atmosfer Bumi yang hampir habis.
“Tapi, Pak Handoko...” Andi mencoba masuk ke sela-sela amarah itu, suaranya bergetar.
“Kenapa lagi? Apa yang kamu tunggu?”
“Dia anak baru, Pak. Baru kemarin terdaftar. Jika kita mengeluarkannya secara instan tanpa prosedur yang jelas... nanti apa kata pihak Dewan Direksi Yayasan, Pak? Laporan ini harus melalui audit mereka,” Andi berusaha mengingatkan posisi mereka dalam hierarki perusahaan yang lebih besar.
“Saya ini ketua yayasan di sini! Saya berhak mengambil keputusan darurat!” Handoko membentak, arogansinya menutupi logika hukum yang seharusnya ia patuhi. “Lagipula, kenapa bisa ada murid baru yang masuk tanpa sepengetahuan saya? Siapa yang memberi izin?”
Niat Andi sebenarnya tulus. Ia ingin melindungi Handoko agar tidak berbenturan dengan Dewan Direksi Monument Group, para raksasa yang tidak pernah ramah pada kesalahan sekecil apa pun. Namun, arogansi Handoko telah membutakannya. Ia merasa sekolah ini adalah kerajaan pribadinya, di mana titahnya adalah hukum.
Mendengar perdebatan itu, Cakra tidak kuasa menahan diri. Sebuah senyum ejekan muncul di bibirnya. Ia melihat Handoko bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai badut yang memakai mahkota kertas di atas menara yang akan segera runtuh.
“Berani-beraninya kamu mengejek saya!” Handoko berteriak, wajahnya merah padam. “Kamu dari panti asuhan mana, hah?! Kenapa anak sepertimu bisa masuk ke sini tanpa izin saya?”
“Dewan Direksi yang memerintah langsung, Pak!” Andi menyela dengan cepat sebelum situasi semakin tidak terkendali. “Cakra ini adalah kandidat utama tim olimpiade fisika yang akan mewakili Indonesia ke IPhO (International Physics Olympiad). Saya pikir Bapak sudah membaca disposisinya.”
Handoko sedikit tersentak. Ia bergidik sedikit, matanya kembali menelisik Cakra dengan tatapan yang lebih waspada. Kandidat IPhO bukanlah posisi sembarangan, itu adalah aset nasional yang bisa meningkatkan reputasi sekolah secara drastis di mata internasional.
Wajah Steven yang semula ceria seketika berubah. Ada kilatan takjub yang singkat, sebelum kemudian tenggelam dalam lautan iri hati yang pekat. Ia benci fakta bahwa Cakra memiliki sesuatu yang tidak ia miliki, kecerdasan murni yang diakui oleh otoritas tertinggi.
“Baiklah. Itu aset yang harus kita punya,” gumam Handoko akhirnya, meski nadanya masih penuh duri. Ia terpaksa setuju karena ia tahu yayasannya bergantung pada prestasi murid untuk mendapatkan kucuran dana tambahan.
Steven mengerang dalam hati. Ia ingin memprotes, ingin menuntut ayahnya agar tetap mengusir Cakra, namun ia juga sadar bahwa kekuasaan ayahnya memiliki batas yang disebut Dewan Direksi. Kenyataan bahwa sekolah ini sebenarnya bukan milik ayahnya kembali menyentak kesadarannya. Kenyataan yang selama ini tertutup oleh kemewahan fasilitas yang ia nikmati. Tempat parkir khusus, ruang istirahat pribadi yang dilengkapi konsol permainan dan tempat tidur nyaman, hingga rasa takut para guru.
“Tapi kejadian ini tidak bisa dibiarkan!” Handoko kembali bersuara, mengembalikan otoritasnya. “Dia tetap harus dihukum. Kamu... panggil orang tuamu ke sini sekarang! Masih punya orang tua, kan?”
Nada ejekan dalam pertanyaan itu membuat Cakra mencapai titik nadir kesabarannya. Ia tidak lagi peduli pada strategi halus. Jika Handoko ingin bermain dengan kekuasaan, maka Cakra akan memberinya satu set kartu yang tidak akan pernah bisa dia lawan.
“Oke,” tantang Cakra singkat.
Ia mengeluarkan ponsel pintarnya, mengabaikan tatapan intimidasi dari Victor dan teman-teman Steven lainnya. Jarinya menari di atas layar kaca berukuran lima inci itu. Ia mencari satu nama yang jarang ia hubungi di jam sekolah.
Nada sambung berbunyi. Satu kali. Dua kali.
“Halo, Yah?” ucap Cakra begitu sambungan terangkat.
“Kenapa, Dek? Tumben telepon jam segini? Masalah di sekolah sudah beres?” Suara Adipramana terdengar dari seberang, cukup keras untuk terdengar oleh Steven yang duduk paling dekat dengan Cakra.
Steven mengangkat alis, lalu berbisik pada kawan-kawannya dengan nada mencibir,
“Anjrit, cupu banget, masa ngadu ke bapaknya!" Steven merasa menang secara psikologis.
Ia berpikir Cakra hanyalah bocah pintar yang tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa bantuan Papa. Baginya, ini adalah tanda kelemahan. Ia sempat berpikir untuk menjadikan Cakra aliansinya karena kekuatannya tadi di kantin, namun melihat Cakra menelpon ayahnya, Steven merasa Cakra hanyalah target empuk yang bisa ia jadikan pesuruh nantinya.
“Itu dia masalahnya, Yah. Cakra dipanggil ke ruang kepala sekolah. Katanya, Ayah disuruh datang ke sekolah sekarang juga,” ucap Cakra datar.
“Oh, ya sudah. Ayah ke sana setelah antar Bunda, ya. Kira-kira setengah jam Ayah sampai. Nggak apa-apa kan?”
“Iya, Yah. Cakra tunggu.”
Cakra menutup telepon, lalu menyandarkan punggungnya dengan santai. Ia menatap Handoko tepat di matanya. Menyiratkan sebuah tatapan yang dingin dan tanpa rasa takut.
“Kurang ajar kamu! Tidak punya sopan santun!” bentak Handoko. “Berani-beraninya kamu menatap saya seperti itu? Apa orang tuamu tidak mengajarkan adab? Saya benar-benar ingin melihat ayah seperti apa yang membesarkan anak seperti kamu. Akan saya tegaskan padanya agar dia belajar mendidik anak dengan benar! Atau... saya benar-benar akan mempertimbangkan untuk memecat Pak Andi jika kamu tetap di sini!”
“Sudah Pak! Sudahlah!” Andi berdiri di antara mereka, berusaha mencegah tamparan kedua. Ia mengelus lengan Handoko dengan gerakan menenangkan, bertindak sebagai perisai manusia bagi Cakra.
“Apalagi yang harus dimengerti, Andi?! Lihat anak saya! Wajahnya hancur gara-gara preman ini!” Handoko menunjuk Steven. Steven, seperti aktor kawakan, langsung berdesis kesakitan sambil memegangi wajahnya yang lebam dan menunjuk kotoran bekas sepatu Cakra di seragamnya.
“Saya hanya...” Cakra mencoba memulai kalimatnya.
“Diam kamu! Mau saya gampar lagi?” potong Handoko dengan nada mengancam.
Andi segera mendinginkan suasana, mencoba membawa kembali logika ke dalam ruangan yang panas itu. “Tadi sudah saya tanyakan, Pak. Tapi karena tidak ada bukti fisik yang kuat, kami belum bisa menemukan titik terangnya.”
“Bukti apa lagi? Anak saya babak belur! Masih untung tidak saya laporkan langsung ke polisi!” ancam Handoko.
Cakra hanya membuang muka. Polisi? Ia justru hampir tertawa membayangkan polisi datang dan mendapati bahwa mereka harus menangkap anak dari pemilik perusahaan yang memberikan hibah pada kantor kepolisian tersebut. Namun ia menahan diri. Ia tidak ingin siswa yayasannya masuk penjara hanya karena urusan sesepele ini, apalagi jika anak itu harus satu sel dengan ayahnya yang kini sedang berakting sebagai raja kecil.
“Tapi Pak, menurut Nak Cakra, dia hanya melindungi diri. Katanya Steven yang memulai duluan,” Andi memberikan pembelaan yang netral.
“Bah! Alasan klasik! Kamu tahu sendiri sesopan apa Steven! Dia anak yang baik, tidak mungkin dia mencari gara-gara!” Handoko membela membabi buta.
Andi tidak membantah, meski di dalam kepalanya, tumpukan laporan mengenai pembulian oleh Steven mulai berputar. Steven memang pintar bersandiwara di depan guru, namun laporan-laporan itu tidak bisa diabaikan selamanya. Baru kali ini ada yang berani melawan balik sekeras Cakra.
“Lagian kan ada CCTV! Memangnya belum kalian cek?” tanya Handoko dengan nada menuntut.
“Sudah, Pak. Tapi... saat kejadian berlangsung, CCTV area kantin mati. Dan Pak Handoko harus tahu, ini bukan pertama kalinya. Setiap ada kejadian yang melibatkan Steven, entah kenapa sistem pengawas kita selalu mengalami malfungsi,” ucap Andi dengan nada yang sangat hati-hati, berusaha menyentil kesadaran Handoko bahwa putranyalah akar masalahnya. Bukan alatnya.
Handoko terdiam sesaat, namun keangkuhannya kembali memegang kendali. “Alasan saja kamu! CCTV itu barang baru! Sudah kamu pastikan itu benar-benar rusak?”
“Sudah, Pak.”
“Ya sudah! Selagi menunggu orang tua anak ini datang, saya mau bawa Steven ke rumah sakit. Kamu urus teman-temannya di UKS, dan jaga anak ini!” Handoko berdiri, menunjuk Cakra dengan nada merendahkan. “Jangan sampai dia keluar dari ruangan ini. Kalau orang tuanya sudah datang, hubungi saya segera!”
Handoko melangkah keluar diikuti Steven yang berjalan pincang dengan gaya dramatis, meninggalkan Cakra dalam kesunyian kantor yang mendadak terasa sangat dingin. Cakra hanya tersenyum tipis. Waktu setengah jam bagi ayahnya adalah waktu yang tepat bagi kehancuran Handoko.
Other Stories
Reuni
Kutukan Kastil Piano membuat cinta Selina berbalik jadi kebencian, hingga akhirnya ia mema ...
Rembulan Digenggam Malam
Pernah nggak kamu kamu membayangkan suatu hari kamu bangun di 1 Januari, terus kamu diberi ...
Just Open Your Heart
Terkutuk cinta itu! Rasanya menyakitkan bukan karena ditolak, tapi mencintai sepihak dan d ...
Testing
testing ...
Bahagiakan Ibu
Ibu Faiz merasakan ketenteraman dan kebahagiaan mendalam ketika menyaksikan putranya mampu ...
Naik Ke Langit, Turun Tuk Tuntaskan Kisah
Bagaimana jika kesempatan untuk memperbaiki kesalahan ternyata datang setelah semuanya ter ...