Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia

Reads
9.8K
Votes
6.9K
Parts
71
Vote
Report
Negeri bawah laut porkah: cakra di samudra hindia
Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia
Penulis Virdytan

Bab 12 - Menjebak Steven

Ingatan Cakra, yang kini bergerak layaknya proyektor rusak namun sangat jernih, memaksanya untuk berpindah ke ruang kerja Adipramana, ayahnya. Ia mendapati dirinya sedang duduk di sebuah sofa kulit yang berjarak tiga meter dari meja kerja sang raksasa industri. Ruangan ini bukan sekadar kantor, ini adalah singgasana. Berada di lantai delapan puluh lima. Lantai tertinggi dari gedung tertinggi di Indonesia. Ruangan ini bertengger hampir lima ratus meter di atas permukaan tanah Jakarta. Di sini, udara terasa lebih tipis, dan kekuasaan terasa lebih absolut.

Di belakang meja kerja ayahnya, sebuah lukisan abstrak raksasa menelan seluruh permukaan dinding, memberikan kesan bahwa setiap keputusan besar yang diambil di sini memiliki bobot artistik yang gelap. Di sisi kiri, dinding kaca masif yang melengkung mengikuti langit-langit cembung menyuguhkan cakrawala Jakarta yang luas. Sore itu, langit sedang melakukan pertunjukan terakhirnya. Lembayung jingga terbakar di sela-sela awan kebiruan yang tebal. Matahari tampak enggan berpamitan, perlahan menarik diri ke ufuk barat seolah tahu bahwa setelah ia pergi, manusia Jakarta hanya akan ditemani oleh cahaya buatan dari peranti-peranti elektronik mereka.

Cakra memicingkan mata saat pantulan surya menghantam kaca, menciptakan kilauan warna-warni yang menyilaukan. Ia sengaja datang ke sini segera setelah bel sekolah berbunyi. Ia harus melaporkan kegagalan hari pertamanya, sekaligus mengajukan sebuah rencana strategis. Sebuah rencana pembersihan. Targetnya, seorang pengganggu bernama Steven.

Hari pertamanya di SMA Berbudi Pekerti adalah bencana yang membosankan. Setelah insiden lemparan bola kertas yang mendarat di kepalanya, ia menjadi "orang kusta" di sekolah itu. Tidak ada satu pun siswa yang berani mendekat, apalagi berbicara padanya. Seolah-olah di keningnya telah terstempel label tak kasat mata bertuliskan Milik Steven. Dan bagi seratus delapan murid di sana, apa pun yang berlabel nama itu adalah zona terlarang, kecuali jika Steven sendiri yang memberikan mandat.

Bahkan saat jam makan siang, kesunyian itu terasa mencekik. Dito, yang sebelumnya tampak cukup bersahabat, mendadak melesat menjauh begitu melihat bayangan Cakra mendekat ke kantin. Cakra menyayangkan hal itu. Ia mengharapkan petualangan remaja yang meledak-ledak di hari pertama, namun yang ia dapat hanyalah pengabaian. Steven sendiri menghilang sebelum jam istirahat dimulai karena urusan keluarga. Cakra merasa seperti seorang petarung yang sudah masuk ring, tapi lawannya malah kabur ke ruang ganti.

“Jadi, gimana Dek hari pertama sekolahnya? Seru?” tanya ayahnya.

Suara Adipramana memecah keheningan ruangan seluas tiga puluh dua meter persegi itu. Ayahnya baru saja menyelesaikan urusan bisnis yang memaksa Cakra menunggu selama dua puluh lima menit. Cakra meletakkan ponsel pintarnya ke atas meja marmer di hadapannya.

“Makanya Cakra ke sini, Yah... Ayah kenal ketua yayasan sekolah Cakra nggak?” tanya Cakra tanpa basa-basi.

“Hmm... Ketua yayasan sekolahmu? Berarti... Pak Handoko ya?” balas ayahnya sambil mendorong kursi kerjanya. Beliau beranjak, melangkah dengan wibawa seorang pria yang bisa membeli satu kota jika ia mau, lalu duduk di sofa di depan Cakra.

Adipramana tidak langsung menjawab. Ia menekan salah satu tombol pada meja kecil di samping sofa. Tiba-tiba, suara berat seorang laki-laki memenuhi ruangan, terdengar seolah-olah suara itu muncul dari partikel udara di setiap sudut.

“Ya, Pak Presdir!”

“Ketua Yayasan Bunda Wilayah I, tempat sekolah Cakra... siapa? Saya lupa. Masih Pak Handoko bukan?” tanya Adipramana.

“Betul Pak, saat ini masih Pak Handoko yang dipercaya untuk mengatur yayasan. Kalau boleh tahu ada masalah apa Pak sampai-sampai Pak Presdir menanyakan soal yayasan yang sudah bertahun-tahun tidak pernah Bapak tanyakan?” suara itu terdengar sopan, meski rasa penasaran yang besar terselip di balik nadanya.

“Ah, tidak ada apa-apa. Terima kasih!” Adipramana mematikan sambungan. Ia menatap putranya. “Kenapa kamu menanyakan Pak Handoko, Dek?”

Cakra memperbaiki posisi duduknya, mencondongkan tubuh ke depan agar tatapannya beradu dengan mata ayahnya. “Anaknya Pak Handoko satu sekolah sama Cakra, Yah. Anaknya tukang bully. Rencana Cakra mau kasih pelajaran, tapi Cakra butuh lebih banyak informasi lapangan.”

“Memang rencana kamu apa?” Ayah bertanya dengan senyum mengejek yang khas.

“Cakra mau pasang CCTV diam-diam di kelas, juga di beberapa titik buta di sekolah. Steven, anaknya Pak Handoko... Pernah menjebak murid lain dengan menaruh rokok dan kondom di tas korban, tapi nggak ada bukti karena dia punya akses ke ruang kontrol CCTV sekolah. Semua karyawan takut sama dia karena mereka pikir dia itu anak pemilik sekolah,” jelas Cakra dengan nada persuasif, berusaha membentuk aliansi dengan ayahnya.

Adipramana terdiam sejenak, lalu terkekeh. “Ya sudah, lakukan apa yang menurut kamu benar, Dek. Tapi ingat... jangan kelewatan. Masa ayah harus ke kantor polisi terus?”

“Ih, apaan sih Yah! Lagian waktu itu Cakra ke kantor polisi kan sebagai korban. Self-defense!” Cakra menekankan kata terakhirnya, mencoba membela martabatnya.

“Terus apa yang bisa Ayah bantu?” Ayah bertanya dengan antusiasme yang mulai setara dengan Cakra.

Sebagai orang yang memegang teguh prinsip “Lebih Baik Mati Daripada Hidup Tapi Bersikap Tak Acuh Saat Melihat Ketidakadilan”, Adipramana tidak pernah bisa menolak permintaan yang berkaitan dengan penegakan kebenaran. Ia percaya kekayaan tanpa pengaruh adalah kesia-siaan. Baginya, uang adalah alat, tapi kekuasaan untuk mengubah dunia adalah tujuannya.

“Cakra cuma butuh akses buat pasang CCTV itu tanpa diketahui Pak Handoko, pihak sekolah, maupun pihak yayasan.”

“Gampang itu, Dek!”

Seketika, tubuh Cakra kembali terhisap ke dalam pusaran ingatannya. Dunia di sekitarnya mencair dan membeku kembali di dalam ruang makan SMA Berbudi Pekerti. Cakra tahu hari ini. Ini adalah hari di mana ia akan menjatuhkan Steven dari singgasana palsunya. Hari di mana ia akan berhenti menjadi "murid pindahan misterius" dan menjadi Tuan Muda yang sesungguhnya.

Malam sebelumnya, dengan bantuan tim Dewan Sekretaris ayahnya, Cakra telah menanam "mata-mata elektronik" di seluruh penjuru sekolah. CCTV berteknologi tinggi yang tak kasat mata itu terhubung langsung ke gawai pribadinya dan tiga karyawan ruang kontrol yang telah disumpah setia pada Monument Group. Para karyawan itu awalnya kaget saat mengetahui bahwa Steven bukanlah anak pemilik sekolah, melainkan hanya anak dari seorang karyawan yayasan yang posisinya jauh di bawah Adipramana.

Kini, Cakra berada di tengah kerumunan siswa yang masih memperlakukannya seperti wabah. Ia mencoba menyapa beberapa teman sekelasnya dengan ramah, namun mereka justru menyingkir. Saat ia duduk di sebuah meja panjang, semua siswa yang ada di sana serempak beranjak berdiri tanpa suara, meninggalkan Cakra sendirian di meja yang seharusnya bisa menampung lima orang. Bahkan ada seorang murid yang lebih memilih duduk di lantai daripada harus semeja dengannya.

Cakra merasa bersalah melihat pemandangan itu. Ketakutan mereka pada Steven sudah berada di level patologis. Ia memutuskan untuk pergi saja daripada merusak suasana makan siang mereka. Namun, baru beberapa langkah, sosok yang ditunggu-tunggu muncul.

Steven berdiri di sana, menghalangi jalannya.

Malam sebelumnya, Steven dan antek-anteknya telah melempari Cakra dengan potongan kertas di kelas. Sekarang, di depan publik, Steven melakukan langkah yang lebih berani. Saat Cakra berjalan membawa baki makanannya untuk ditaruh kembali, Steven dengan sengaja menyilangkan kaki kirinya.

BRAAAKK!

Cakra terjerembap di lantai. Seluruh makanan di bakinya tumpah berceceran. Kuah sayur dan butiran nasi mendarat di seragam putihnya yang bersih. Seluruh kantin mendadak sunyi, sebelum kemudian ledakan tawa pecah. Tawa yang dipaksakan karena provokasi Steven.

“Jalan yang bener! Jangan ngalangin jalan gue! Tau diri lu, ini sekolah punya gue!” bentak Steven, menunduk untuk menatap Cakra yang masih terbaring di lantai. Ia mengharapkan wajah penuh air mata atau ketakutan yang memuaskan egonya.

Namun, Cakra justru bangkit dengan gerakan tenang, hampir santai. Ia membersihkan sisa makanan yang menempel di seragamnya sambil menatap Steven dengan tatapan jenaka.

“Salah gue apa? Kenapa lu terus-terusan cari gara-gara sama gue?” tanya Cakra.

“Lu nggak tahu diri! Keluar dari sekolah ini, atau hidup lu nggak bakal tenang selama lu masih di sini!” ancam Steven dengan nada sok berkuasa.

Cakra menggelengkan kepala, senyumnya semakin lebar. “Oh, jadi cuma segini doang kemampuan lu? Bully ramai-ramai? Kecewa gue. Ternyata lu cuma anak kecil pengecut.”

Cakra kemudian berbalik, berniat meninggalkan "bocah" itu. Namun, sebuah tangan kasar mencengkeram bahunya dengan kuat. Cakra menghela napas, menepis tangan itu dengan satu gerakan cepat dan keras, lalu berbalik menghadap Steven yang wajahnya sudah memerah padam.

“Apa lu bilang? Minta dihajar lu? Lu nggak liat di sini nggak ada guru? Kalaupun ada, mereka bakal belain gue! Lu cuma anak miskin nggak jelas yang masuk modal undangan sampah! Mau jadi sok jagoan?” teriak Steven.

Cakra tidak menjawab. Ia hanya menatap Steven dengan jemu.

“Aanjiiiing....!”

Steven melayangkan pukulan ke pipi kiri Cakra. Wajah Cakra terlempar ke kanan sedikit, tapi ia tidak merasakan sakit yang berarti. Pukulan itu lemah, tidak bertenaga, lahir dari amarah yang tidak terlatih. Cakra menarik sudut bibirnya. Permainan dimulai.

“Kenapa? Sakit? Mulai sekarang lu harus...”

Kata-kata Steven terhenti saat Cakra melayangkan serangan balik. Itu bukan sekadar pukulan. Itu adalah ledakan tenaga yang terukur. Tinju Cakra menghantam rahang Steven dengan presisi seorang petarung. Tubuh Steven tidak hanya terlempar, ia tersungkur keras ke lantai, wajahnya mendarat tepat di atas tumpahan makanan yang tadi ia sebabkan sendiri.

“Shit! Lemah banget lu! Padahal gue mukulnya pelan!” ucap Cakra dengan nada kecewa yang dibuat-buat.

Steven berteriak histeris, memerintahkan tiga anteknya untuk menyerang Cakra bersamaan. Namun, bagi Cakra, gerakan mereka seperti gerakan lambat. Dalam hitungan detik, ketiga remaja itu sudah menyusul pemimpin mereka di lantai, mengerang kesakitan.

Kantin gempar. Para siswa kutu buku itu tidak pernah melihat kekerasan sefrontal ini. Beberapa berlarian mencari bantuan, yang lain berteriak histeris. Tak lama kemudian, seorang pria tua bertubuh gemuk dengan wajah bulat yang memerah karena marah muncul di ambang pintu.

“Apa-apaan ini?!” bentak petugas sekolah itu.

“Ini Pak... anak baru ini yang mulai...” Steven mencoba mengadu sambil memegang wajahnya yang bengkak.

“Ikut saya ke kantor kepala sekolah! Semuanya!”

Steven bangkit dengan langkah percaya diri, ia yakin ini adalah akhir dari perjalanan Cakra di sekolah ini. Andi, sang kepala sekolah, pasti akan membelanya. Sementara itu, Cakra mengikuti dari belakang, berusaha keras menahan tawa yang menggelitik dadanya. Ia tahu, di kantor kepala sekolah nanti, kejutan yang sesungguhnya sudah menanti.


Other Stories
Rumah Rahasia Reza

Di balik rumah-rumah rahasia Reza, satu pintu belum pernah dibuka. Sampai sekarang. ...

After Honeymoon

Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...

Gm.

menakutkan. ...

Testing

testing ...

Mereka Yang Tak Terlihat

Saras, anak indigo yang tak dipahami ibunya, hidup dalam pertentangan dan kehilangan. Saat ...

Dari Kampus Ke Kehidupan: Sebuah Memoar Akademik

Kisah ini merekam perjuangan, kegagalan, dan doa yang tak pernah padam. Dari ruang kuliah ...

Download Titik & Koma