Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia

Reads
9.8K
Votes
6.9K
Parts
71
Vote
Report
Negeri bawah laut porkah: cakra di samudra hindia
Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia
Penulis Virdytan

Bab 16 - Sang Idola

Keheningan yang mengikuti pemutaran video itu terasa lebih menyakitkan daripada ledakan granat. Handoko langsung menunduk, wajahnya yang tadi merah padam karena amarah kini memucat, layu oleh rasa malu yang tak tertanggungkan. Di sampingnya, Steven tampak seperti patung lilin yang mulai meleleh di bawah terik matahari.

Dengan gerakan yang dipicu oleh kepanikan murni, Handoko tiba-tiba beranjak dari duduknya. Matanya liar, tangannya terayun cepat di udara, berniat melayangkan tamparan keras ke wajah Steven. Sebuah upaya primitif untuk menunjukkan disiplin di depan atasannya.

Namun, kepalan tangan itu tidak pernah sampai ke tujuannya.

Adipramana bergerak lebih cepat. Dengan sigap, ia meraih pergelangan tangan Handoko di udara. Cengkeramannya tidak terlihat kuat, namun Handoko seketika membeku, tak mampu bergerak satu inci pun. Adipramana menatapnya dengan tatapan tajam yang memancarkan emosi yang tertahan rapat. Sebuah amarah dingin yang jauh lebih menakutkan daripada teriakan.

Andi duduk terpaku kaku di kursinya. Pikirannya melayang, mencoba mencerna bagaimana sebuah drama sekolah bisa berubah menjadi medan perang kelas kakap tepat di depan matanya. Seluruh spekulasi buruknya mengenai Steven selama ini mulai mekar dari tunasnya, menjadi kenyataan yang pahit. Ia tahu ia tak bisa lagi menolong Steven.

Di dalam benak Andi, berbagai skenario buruk berputar. Bisakah Adipramana memecat ketua yayasan hanya dalam satu jentikan jari? Jika iya, bagaimana nasib sekolah ini? Ia merasa sangsi, namun sekaligus ngeri. Sebenarnya, ada bagian kecil dalam dirinya yang tidak ingin Steven dikeluarkan.

Ia percaya pada kesempatan kedua.

Namun, ia juga sadar bahwa selama Steven ada di sini, sekolah ini tidak akan pernah benar-benar aman. Bayangan tentang para siswa yang pernah menjadi korban perundungan Steven muncul di benaknya, mereka akan menuntut keadilan. Satu-satunya cara agar Steven bisa hidup tenang tanpa bayang-bayang dosanya adalah dengan pergi dari sini.

“Saya kecewa sama kamu, Handoko,” ucap Adipramana pelan. Suaranya rendah, namun mengandung berat ribuan ton tekanan atmosfer. Ia masih mencengkeram tangan Handoko, membiarkan gelombang amarah dan kekecewaannya meresap ke kulit pria tua itu.

Handoko hanya mampu menunduk, gelagapan. Tubuhnya yang besar seolah menyusut di depan Adipramana. Ia tidak bisa berkata-kata, hanya bisa meratapi kebodohan yang ia pelihara bertahun-tahun.

Adipramana kemudian melepaskan cengkeramannya dan menoleh ke sisa manusia di ruangan itu.

“Pak Andi, Steven, dan kamu Dek... bisa keluar sebentar? Ada yang harus saya bicarakan secara pribadi dengan orang ini.”

Perintah itu mutlak. Tanpa perlu disuruh dua kali, mereka bangkit. Steven bergegas keluar lebih dulu, langkahnya cepat dan tidak stabil, tanpa berani menatap siapa pun. Andi dan Cakra menyusul di belakangnya.

Begitu pintu tertutup, Steven langsung berbelok menuju ujung lorong yang sepi. Ia berjongkok di sana, menyandarkan punggungnya ke dinding semen yang dingin. Pikirannya berkecamuk hebat. Egonya yang setinggi langit kini sedang dihantam badai. Ia ingin mengakui kesalahan, namun rasa kecewa melihat ayahnya yang pengecut. Ayah yang tidak membelanya, malah ingin menamparnya. Membuat rasa benci mulai tumbuh di hatinya. Benci pada ayahnya, dan benci pada dirinya sendiri yang ternyata hanyalah seorang pengecut.

Cakra berdiri tak jauh dari pintu ruangan, bersandar pada tembok dengan gaya santai. Ia mengeluarkan ponselnya, melanjutkan tayangan dokumenter robotika yang tadi tertunda. Ia sempat melirik ke arah ujung lorong, melihat Andi berjalan menghampiri Steven. Kepala sekolah itu berusaha mengajak Steven bicara, namun Steven justru bergeser tiga langkah menjauh, menolak segala bentuk simpati. Cakra merasakan secuil rasa iba, namun rasa muaknya terhadap sikap pecundang Steven masih lebih dominan.

Di dalam ruangan, suara Handoko terdengar lirih memohon.

“Pak Adipramana... saya sungguh minta maaf! Saya malu... saya lepas kendali karena emosi!” Handoko memasang wajah paling sayu yang ia miliki, berharap ada setitik belas kasih dari pria di depannya.

“Saya tidak hanya bicara soal perkelahian ini, Handoko,” sahut Adipramana dingin.

“Sikapmu terhadap Pak Andi, tamparanmu pada anak saya, dan barusan... kamu mau memukul anakmu sendiri di depan orang lain hanya untuk menyelamatkan mukamu? Itu menjijikkan.”

“Maaf, Pak... saya janji tidak akan mengulanginya!”

“Apakah kamu memperlakukan mereka seperti itu juga?” tanya Adipramana, matanya menyipit.

“Siapa, Pak?”

“Anak-anak panti asuhan yang kamu urus di bawah yayasan.”

“Tidak, Pak! Sumpah! Saya selalu menjaga amanah yayasan!” Handoko merintih meyakinkan.

Namun, Adipramana bukan orang yang mudah tertipu oleh sumpah. Apa yang ia lihat beberapa menit terakhir adalah bukti nyata tentang karakter asli Handoko. Seorang penindas yang akan sujud di depan kekuasaan yang lebih besar. Ada rasa sesal yang mendalam di hati Adipramana karena telah mempercayakan anak-anak yatim kepada orang seperti ini.

“Mulai besok, saya copot jabatan kamu sebagai ketua yayasan wilayah satu,” ucap Adipramana mutlak. Kalimat itu jatuh seperti vonis hukuman mati.

“Besok, datang ke kantor pusat untuk menghadiri sidang disiplin. Semoga dewan direksi masih punya cukup kesabaran untuk tidak memecatmu secara tidak hormat. Sekarang, panggil mereka kembali ke sini. Kita selesaikan masalah ini secara resmi.” Dengan langkah lesu dan lunglai, Handoko membuka pintu. Ia memanggil Andi, Steven, dan Cakra dengan suara yang tidak lagi memiliki sisa-sisa kekuasaan.

Saat kembali masuk, Steven tampak sangat tertekan. Andi harus membujuknya berkali-kali agar mau melangkah masuk ke ruangan, dibantu oleh tatapan mengancam dari Handoko. Cakra menatap Steven dengan saksama. Ia tahu Steven hanyalah produk dari didikan ayahnya yang toksik. Cakra sebenarnya ingin menjalin persahabatan dengan Steven, namun ia tahu itu mustahil selama Steven masih memelihara kebencian di hatinya.

“Pak Adipramana, silakan duduk di sini...” Handoko mencoba kembali mengambil hati dengan mempersilakan Adipramana duduk di kursi kepala sekolah. Kursi takhta di ruangan itu.

Adipramana mengerutkan kening.

“Kenapa saya harus duduk di sana? Kita di sini sebagai orang tua murid. Yang berhak duduk di situ adalah Pak Andi, selaku pemimpin sah di sekolah ini.” Tamparan verbal itu kembali menyentak Handoko. Ia sadar, bahkan dalam hal kecil pun, pikirannya selalu tentang hierarki dan penjilatan.

“Iya, benar Pak... maaf saya salah lagi,” ucap Handoko pelan, lalu mempersilakan Andi duduk di tempatnya.

Steven melihat adegan itu dengan rasa muak yang mencapai puncaknya. Sosok ayah yang selama ini ia puja sebagai orang hebat dan berkuasa, ternyata hanyalah seorang penjilat yang gemetar di depan pria bersandalkan jepit. Ia bertanya-tanya, seberapa kuat pria bernama Adipramana ini? Kenapa ayahnya sampai bertekuk lutut seperti itu?

“Baiklah, silakan Pak Andi untuk melanjutkan kasus ini,” ucap Adipramana dengan senyum hangat, memberikan otoritas kembali kepada sang kepala sekolah.

Andi berdeham, ia masih merasa canggung.

“Mungkin... mungkin Pak Adipramana yang lebih berhak memimpin pertemuan ini?”

“Sekali lagi saya jelaskan, Pak Andi,” potong Adipramana lembut namun tegas.

“Kami datang sebagai wali murid. Anda adalah kepala sekolah. Di sini, Anda adalah hukumnya. Jangan jadikan status kami di luar sebagai penghalang tugas Anda.”

Andi tertegun.

Ia merasakan kehangatan dari kata-kata itu. Namun, rasa penasaran yang sudah membuncah bertahun-tahun di hatinya kini tak tertahankan lagi.

“Baik Pak. Tapi sebelumnya... bolehkah saya bertanya sesuatu yang mungkin lancang?”

“Silakan.”

“Sebenarnya... apakah Bapak adalah salah satu dewan direksi Yayasan Asuhan Bunda?” Sebelum Adipramana sempat menjawab, Handoko menyela dengan suara gemetar, seolah-olah menyebutkan nama tuhan.

“Beliau bukan sekadar direksi, Pak Andi. Beliau adalah Presiden Direktur Monument Group. Pemilik seluruh yayasan ini, termasuk sekolah ini, dan gedung-gedung yang kita pijak sekarang.”

Ruangan itu mendadak kehilangan gravitasi bagi Andi dan Steven.

Steven membelalak, napasnya tertahan. Ia akhirnya mengerti kenapa dunianya hancur dalam sekejap. Sementara itu, Andi memandangi Adipramana dengan tatapan yang nyaris mistis. Ia tidak bisa membendung rasa haru yang meluap.

Andi adalah pengagum rahasia sosok di balik Monument Group. Ia tahu bahwa pemilik perusahaan raksasa itu adalah orang terkaya nomor satu di Indonesia, dan nomor empat di dunia.

Namun, ia juga tahu betapa misteriusnya sosok itu. Media tidak pernah diizinkan menampilkan wajahnya, hanya logo perusahaan atau foto kegiatan amal. Pemilik Monument Group adalah hantu yang baik hati. Seorang dermawan yang pengaruhnya ada di setiap aspek kehidupan masyarakat, namun sosoknya tak pernah muncul di permukaan.

Karena rasa kagum itulah Andi melamar ke sekolah ini tujuh tahun lalu. Ia berharap suatu saat bisa bertemu dengan idolanya. Dan sekarang, idola itu duduk di depannya, mengenakan sweater rajut dan sandal jepit, bersikap sangat rendah hati.

Tangan Andi gemetar saat ia menyodorkannya ke arah Adipramana. Matanya berkaca-kaca.

“Saya... saya sudah mengidolakan Anda sejak lama, Pak!”

Adipramana terkejut, namun ia menyambut jabat tangan itu dengan tulus.

“Saya terhormat diidolakan oleh kepala sekolah sebijaksana Anda, Pak Andi. Tapi saya hanya manusia biasa. Jangan sungkan.” Andi tersenyum lebar, menggoyang-goyangkan tangan idolanya seolah-olah ia baru saja mendapatkan harta karun.

“Terima kasih, Pak! Terima kasih!”

“Baiklah, bisa kita lanjutkan?” Adipramana mengingatkan sambil tersenyum. Andi segera menarik tangannya, merasa malu karena terbawa suasana. Ia kembali ke mode profesional.

“Baik. Kita sudah melihat buktinya. Tapi, saya ingin mendengar langsung dari Steven. Apa alasanmu melakukan ini pada Cakra? Kami tidak bisa memberi keputusan yang adil tanpa mendengar motifmu.” Steven terdiam. Ia menunduk, mencoba mengatur napas agar suaranya tidak bergetar. Ia tidak ingin terlihat menyedihkan.

“Steven...” Handoko mendesak, tangannya mencengkeram paha Steven dengan keras. Cakra menyenggol ayahnya, memberi isyarat agar Adipramana menghentikan intimidasi fisik itu.

“Pak Handoko, biarkan dia bicara sendiri,” tegur Adipramana.

Steven akhirnya mendongak. Matanya memerah karena amarah dan rasa malu yang bercampur.

“Karena saya tidak suka sama dia! Saya benci gayanya yang sok kenal dan sok dekat dengan semua orang! Dia masuk ke sini dan bersikap seolah-olah dia bisa berteman dengan siapa saja tanpa tahu posisinya!”

Suara Steven meledak di ruangan itu, sebuah pengakuan jujur dari ego yang terluka karena merasa terancam oleh kehadiran seseorang yang lebih bercahaya darinya.




Other Stories
Nyanyian Hati Seruni

Awalnya ragu dan kesal dengan aturan ketat sebagai istri prajurit TNI AD, ia justru belaja ...

The Truth

Seth Barker, jurnalis pemenang penghargaan, dimanfaatkan CEO Kathy untuk menghadapi perebu ...

Garuda Hitam: Sayap Terakhir Nusantara

Aditya Pranawa adalah mantan pilot TNI AU yang seharusnya mati dalam sebuah misi rahasia. ...

Nyanyian Hati Seruni

Begitu banyak peristiwa telah ia lalui dalam mendampingi suaminya yang seorang prajurit, p ...

Tukar Pasangan

Ratna, wanita dengan hiperseksualitas ekstrem, menyadari suaminya Ardi berselingkuh dengan ...

Cinta Dua Rasa

Aruna merasa memiliki kehidupan yang sempurna setelah dinikahi oleh Saka, seorang arsitek ...

Download Titik & Koma