Bab 17 - Lahirnya Sang Tuan Muda
Ruangan itu tidak terlalu kecil, tapi terasa sempit seperti dada yang ditekan rasa bersalah. Udara di dalamnya kental, seolah setiap kata yang pernah diucapkan di sana masih menggantung, menunggu untuk dijatuhkan sebagai vonis. Lampu neon di langit-langit berdengung pelan, suara yang biasanya diabaikan, namun kali ini terdengar seperti detak jam menuju kehancuran.
“Jadi, kamu mengakuinya?”
Suara Andi memecah keheningan yang menyesakkan di ruangan itu. Nada suaranya tidak tinggi, tidak pula marah. Justru itulah yang membuatnya terasa lebih berat. Andi menatap Steven dengan tatapan yang sulit diartikan. Tatapan seorang pendidik yang telah melihat banyak murid tersesat, namun belum pernah menyaksikan kegelapan yang begitu terawat rapi. Ada kekecewaan, ada juga ketakutan, seperti seseorang yang baru menyadari bahwa monster tidak selalu datang dengan taring, kadang ia mengenakan seragam sekolah dan senyum sopan.
“Iya, saya mengakuinya. Saya salah,” ucap Steven. Nada suaranya datar, terlalu datar untuk seorang remaja yang sedang diadili. Dingin, seperti es di kutub utara yang tak tersentuh matahari.
“Saya meminta maaf sedalam-dalamnya kepada Cakra karena telah mengganggunya. Dan saya meminta maaf kepada Pak Andi karena sudah berbohong” Steven menatap mata mereka satu per satu. Andi kepala sekolahnya. Handoko ayahnya. Adipramana ayah Cakra. Cakra. Namun sorot matanya membisikkan cerita yang berbeda. Tidak ada penyesalan di sana.
Permintaan maaf itu hanyalah rangkaian kata formalitas, sebuah protokol sosial yang ia jalankan dengan presisi sempurna. Seperti daftar keselamatan sebelum pesawat jatuh. Matanya masih menyimpan api kebencian yang berkobar, hanya saja kini api itu tertutup abu keputusasaan.
Ia tidak menyesal. Ia hanya kalah.
“Cuma itu doang?” potong Cakra. Suaranya tenang, tapi ada tekanan di setiap suku kata. Seperti tanah yang tampak diam sebelum retak oleh gempa. Cakra tidak ingin sekadar formalitas. Ia tidak datang sejauh ini hanya untuk mendengar kata maaf yang kosong. Ia ingin Steven memuntahkan seluruh racun yang selama ini ia simpan rapi di balik kekuasaan ayahnya.
Tujuan Cakra bukan hanya memenangkan perkelahian di kantin. Itu hanya pemicu. Yang ia incar adalah sistem pembulian sistemik yang selama ini dipelihara Steven seperti kerajaan kecilnya sendiri.
“Maksud lo?” Steven mendesis, tatapannya tajam seperti silet. Untuk sesaat, topeng dinginnya retak, memperlihatkan binatang yang terpojok.
“Begini, Pak Andi,” Cakra mengalihkan pandangan pada sang kepala sekolah.
“Saya yakin Bapak sering curiga kenapa sistem CCTV sekolah ini selalu kebetulan mati setiap kali ada keributan yang melibatkan Steven." Cakra berhenti sejenak. Ia tahu cara kerja kebenaran. Tidak perlu berteriak, cukup diucapkan dengan tenang.
"Itu bukan malfungsi. Itu sabotase. Steven yang mematikannya."
Pak Andi membeku.
"Saya tahu karena Pak Bayu, kepala keamanan kita, yang membantu saya memasang sistem pengintai pribadi saya di seluruh sekolah.”
Kalimat itu jatuh seperti palu sidang.
Cakra menjeda sejenak, membiarkan informasi itu meresap ke dalam benak Pak Andi.
“Kalau Bapak ragu... Silakan tanyakan langsung sama Pak Bayu." Lanjut Cakra,
"Dia punya bukti salinan yang disimpan secara rahasia. Selama ini mereka menuruti Steven hanya karena ancaman pemecatan. Mereka takut pada bayang-bayang Pak Handoko.”
Wajah Handoko berkedut.
Ia ingin membantah. Ia ingin berteriak bahwa ini semua fitnah. Namun lidahnya terasa lumpuh. Karena jauh di dalam dirinya, ia tahu. Bayang-bayang itu nyata, dan ia sendiri yang menciptakannya. Otaknya dengan cepat memerintahkan lehernya berputar bagai mesin kaku ke arah Steven. Ia perlu pondasi pertahanan, dan Stevenlah yang harus berkorban. Bocah remaja itu hanya terdiam kelu, jari kanannya menggenggam kehampaan, seakan jati dirinya sedang disobek.
Cakra melanjutkan tanpa jeda, setiap katanya adalah peluru yang menembus pertahanan Steven. “Bahkan anak yang dikeluarkan bulan lalu, yang katanya ditemukan alat kontrasepsi dan rokok di tasnya, itu semua ulah Steven."
Steven tersentak.
"Dia yang memasukkan barang-barang itu. Para petugas keamanan menyalin rekaman aslinya sebelum dihapus, sebagai jaminan jika suatu saat dewan direksi melakukan audit. Selama ini, mereka terpaksa mau menuruti Steven. Tapi, mereka juga tahu bahwa otoritas tertinggi bukan Steven, bukan Pak Handoko."
Cakra menatap Andi lurus-lurus.
“Mereka hanya butuh jaminan, dan itu wajar. Jadi, Pak Andi… anak itu tidak bersalah. Saya ingin dia kembali bersekolah di sini.”
Hening.
Bukan hening yang kosong, tapi hening yang penuh gema.
Cakra menyudahi kalimatnya dengan menatap Steven. Ia berharap ada percikan kesadaran di mata teman sekelasnya itu. Ia ingin Steven sadar bahwa kekuasaan yang dibangun di atas penderitaan orang lain adalah istana pasir yang akan hancur oleh ombak kebenaran. Cakra sebenarnya sudah memiliki rencana, ia ingin menggandeng Steven, mengubah energi negatif itu menjadi kekuatan untuk membangun sekolah.
Namun ia lupa satu hal. Tidak semua orang ingin diselamatkan.
“Apa maksudnya ini, Steven?” tanya Handoko. Suaranya gemetar, hampir tak terdengar. Bukan suara seorang penguasa. Ini suara seorang ayah yang baru menyadari bahwa ia gagal total.
Steven tidak menangis.
Sebaliknya, ia tertawa.
Tawa kering, patah, seperti gesekan logam berkarat.
“Iya! Semuanya ulah saya!” Steven berteriak. Suaranya menggelegar, memantul di dinding ruangan.
“Saya yang mematikan CCTV! Saya yang memasukkan itu semua ke tas mereka agar mereka diusir!" Ia menoleh, menatap semua orang dengan mata merah menyala.
“Kenapa? Kalian mau tahu kenapa?!”
Tatapannya berhenti pada Cakra. Ia menatap Cakra dengan kebencian murni yang meluap dari lubuk jiwanya.
“KARENA SAYA NGGAK SUKA SAMA SIAPA PUN YANG BERANI MENDEKATI MIA! PUAS KALIAN?!”
PLAK!
Tamparan itu meledak di udara.
Handoko melayangkan tangannya ke pipi Steven dengan tenaga penuh. Bukan hanya amarah yang ia lepaskan, tapi juga rasa malu, rasa bersalah, dan pengakuan atas kegagalannya sendiri sebagai orang tua.
“HANDOKO!” Adipramana mendengking. Suaranya bukan lagi teguran, tapi sebuah peringatan keras.
Steven terhuyung. Pipinya panas. Matanya berusaha keras menahan air mata. Gagal.
Setitik air mata jatuh.
Topeng keangkuhan itu runtuh.
Tanpa sepatah kata pun, Steven berbalik dan lari keluar ruangan.
Ia sudah kalah.
Hartanya. Statusnya. Harga dirinya.
Semua menjadi abu.
“Pak Andi, Dek... kejar Steven. Tenangkan dia,” perintah Adipramana.
Cakra segera melesat, disusul oleh Andi. Di dalam ruangan, tertinggal Adipramana yang menatap Handoko dengan tatapan yang dipenuhi rasa muak bercampur kasihan.
“Pak Handoko,” Adipramana memulai, suaranya kini tenang namun menusuk.
“Sudah jelas. Saya akan meminta Pak Andi secara resmi untuk mengeluarkan Steven dari sekolah ini demi kebaikan bersama. Tapi sekarang, saya akan bicara sebagai sesama ayah.” Adipramana berdiri, mendekati Handoko yang masih terpaku meratapi tangannya sendiri.
“Cara didik Pak Handoko yang membuat Steven seperti itu."
Setiap kata Adipramana seperti pisau tumpul.
"Pak Handoko terlalu memanjakan Steven, hingga dia merasa dunia adalah miliknya. Kemudian, Pak Handoko menuntutnya saat anak itu tidak sesuai dengan ekspektasimu."
Kalimat itu jatuh bagaikan vonis.
"Saya tidak akan memperpanjang kasus ini demi Cakra. Tapi belajarlah menjadi orang tua yang bisa menjadi panutan, bukan sekadar penakluk. Saya selalu berpesan, anak-anak adalah masa depan, Pak Handoko." Ucapnya sembari bersiap meninggalkan Handoko.
Adipramana pergi. Handoko tertinggal. Hancur dalam kesunyian yang mencekam.
Sendiri.
Ingatan Cakra mendadak berputar cepat, seperti gulungan film yang ditarik paksa. Bayangan-bayangan masa lalu berkelebat dalam fragmen yang acak namun tajam.
Sejak hari itu, SMA Berbudi Pekerti berubah selamanya. Rahasia identitas Cakra sebagai pewaris Monument Group meledak ke seluruh penjuru sekolah. Steven memilih untuk menghilang, menolak tawaran Cakra untuk tetap bersekolah meski tuntutannya dicabut. Ego Steven terlalu besar untuk bernapas di udara yang sama dengan "Tuan Muda" yang sesungguhnya. Ia pergi tanpa pamit, meninggalkan kelompok pengikutnya yang kini merasa kehilangan sumber kemewahan gratis. Walaupun itu hanyalah sepatu bekas, ponsel lama, dan traktiran kelas menengah.
Cakra tidak tinggal diam. Ia mengambil alih takhta yang kosong, tapi dengan cara yang berbeda. Ia merombak kurikulum ekstrakurikuler. Ia membuka kelas seni musik, teater, hingga bela diri yang wajib diikuti oleh seluruh siswa. Ia ingin teman-temannya tidak hanya pintar secara akademis, tapi punya jiwa yang kuat dan fisik yang mampu melindungi diri.
Victor, Beni, dan Tommy, sebelumnya merupakan pengikut Steven kini menjadi sahabat terdekat Cakra. Mereka mendapatkan apa yang tidak pernah diberikan Steven. Rasa hormat dan persahabatan tulus. Cakra tidak hanya memberikan semua keperluan mereka secara cuma-cuma. Ia juga mengajak mereka berkeliling dunia, mengundang mereka menginap di mansionnya yang megah. Hingga membuat Bi Chleo, kepala asisten rumah tangga, pusing tujuh keliling dengan tingkah mereka. Namun, di tengah semua popularitas itu, hanya satu orang yang tetap menjadi misteri bagi Cakra.
Mia.
Gadis itu tetap dingin, tetap sinis, dan tak pernah memberikan sepatah kata pun untuk Cakra hingga hari kelulusan. Cakra menyimpan rasa sukanya di kotak terdalam hatinya, sebuah rahasia yang tidak ia bagi bahkan dengan sahabat-sahabatnya.
Lalu, memori itu berubah warna menjadi merah pekat. Kenangan tentang Steven yang membangkang di sekolah barunya, memprakarsai tawuran antar-sekolah hanya untuk melampiaskan dendamnya pada bayang-bayang Cakra.
Tiba-tiba, sebuah suara bergema di dalam kegelapan memori itu.
Suara Mia.
“Bangun, Cakra... Bangun!”
Mata Cakra terbuka lebar.
Sentakan kesadaran itu datang seperti sengatan listrik ribuan volt. Ia tidak lagi berada di koridor sekolah yang hangat. Ia berada di dalam ruang interogasi yang dingin, gelap, dan berbau karat besi.
Seketika, Cakra bangkit dengan tenaga yang tidak masuk akal. Tanpa ia sadari, otot-ototnya yang diperkuat secara genetik berdenyut kencang.
KRAKK!
Rantai besi hitam yang membelenggu pergelangan tangan dan kakinya hancur berkeping-keping seolah-olah hanya terbuat dari plastik murah.
Ia mengerjap, berusaha mengumpulkan kewarasannya. Serpihan besi hitam kecoklatan berceceran di lantai di sekitarnya.
Namun, Distrik Nor memiliki pertahanannya sendiri. Serpihan besi itu tidak diam. Bagaikan memiliki nyawa dan magnetisme gaib, serpihan-serpihan itu bergetar dan terbang kembali satu sama lain. Rantai itu menyatu kembali di udara, meliuk-liuk seperti ular kobra yang marah, siap untuk membelenggu kembali mangsanya.
Cakra melompat mundur. Rantai itu menyambar tempat di mana ia baru saja berdiri. Dengan refleks yang lahir dari pelatihan bertahun-tahun, Cakra menghantam rantai itu dengan tinjunya.
DUM!
Logam itu kembali lebur di bawah kekuatan pukulannya, namun ia tahu itu hanya sementara.
Ia menyerbu ke arah pintu besi setebal tiga puluh sentimeter yang menguncinya. Tempat Georu, si pria cantik, keluar setelah berhasil membuatnya pingsan dengan sengatan listriknya. Ia memukul pintu itu, meninggalkan bekas cetakan kepalan tangannya yang dalam di permukaan baja, namun pintu baja itu tetap kokoh.
“Sial!” geramnya.
Ia menoleh ke arah tembok merah kecoklatan di samping pintu. Dinding yang ia kira batu goa alami, namun sebenarnya adalah komposit mineral yang diperkuat. Cakra memusatkan seluruh energinya ke bahu kanan. Ia menghantam tembok itu dengan kekuatan yang mampu meruntuhkan gedung. Satu kali. Dua kali. Lima kali. Dua belas kali.
BOOM!
Tembok itu hancur, menyisakan lubang tak beraturan yang cukup besar untuk tubuhnya. Cakra melompat keluar, melewati debu dan puing-puing mineral, tepat saat rantai di belakangnya menyatu kembali dan menyambar udara kosong yang ditinggalkannya.
Cakra berdiri di koridor luar, napasnya memburu. Ia telah keluar dari Alpam, ruangan sangkar memori. Sang Tuan Muda telah kembali ke medan perang yang sesungguhnya.
“Jadi, kamu mengakuinya?”
Suara Andi memecah keheningan yang menyesakkan di ruangan itu. Nada suaranya tidak tinggi, tidak pula marah. Justru itulah yang membuatnya terasa lebih berat. Andi menatap Steven dengan tatapan yang sulit diartikan. Tatapan seorang pendidik yang telah melihat banyak murid tersesat, namun belum pernah menyaksikan kegelapan yang begitu terawat rapi. Ada kekecewaan, ada juga ketakutan, seperti seseorang yang baru menyadari bahwa monster tidak selalu datang dengan taring, kadang ia mengenakan seragam sekolah dan senyum sopan.
“Iya, saya mengakuinya. Saya salah,” ucap Steven. Nada suaranya datar, terlalu datar untuk seorang remaja yang sedang diadili. Dingin, seperti es di kutub utara yang tak tersentuh matahari.
“Saya meminta maaf sedalam-dalamnya kepada Cakra karena telah mengganggunya. Dan saya meminta maaf kepada Pak Andi karena sudah berbohong” Steven menatap mata mereka satu per satu. Andi kepala sekolahnya. Handoko ayahnya. Adipramana ayah Cakra. Cakra. Namun sorot matanya membisikkan cerita yang berbeda. Tidak ada penyesalan di sana.
Permintaan maaf itu hanyalah rangkaian kata formalitas, sebuah protokol sosial yang ia jalankan dengan presisi sempurna. Seperti daftar keselamatan sebelum pesawat jatuh. Matanya masih menyimpan api kebencian yang berkobar, hanya saja kini api itu tertutup abu keputusasaan.
Ia tidak menyesal. Ia hanya kalah.
“Cuma itu doang?” potong Cakra. Suaranya tenang, tapi ada tekanan di setiap suku kata. Seperti tanah yang tampak diam sebelum retak oleh gempa. Cakra tidak ingin sekadar formalitas. Ia tidak datang sejauh ini hanya untuk mendengar kata maaf yang kosong. Ia ingin Steven memuntahkan seluruh racun yang selama ini ia simpan rapi di balik kekuasaan ayahnya.
Tujuan Cakra bukan hanya memenangkan perkelahian di kantin. Itu hanya pemicu. Yang ia incar adalah sistem pembulian sistemik yang selama ini dipelihara Steven seperti kerajaan kecilnya sendiri.
“Maksud lo?” Steven mendesis, tatapannya tajam seperti silet. Untuk sesaat, topeng dinginnya retak, memperlihatkan binatang yang terpojok.
“Begini, Pak Andi,” Cakra mengalihkan pandangan pada sang kepala sekolah.
“Saya yakin Bapak sering curiga kenapa sistem CCTV sekolah ini selalu kebetulan mati setiap kali ada keributan yang melibatkan Steven." Cakra berhenti sejenak. Ia tahu cara kerja kebenaran. Tidak perlu berteriak, cukup diucapkan dengan tenang.
"Itu bukan malfungsi. Itu sabotase. Steven yang mematikannya."
Pak Andi membeku.
"Saya tahu karena Pak Bayu, kepala keamanan kita, yang membantu saya memasang sistem pengintai pribadi saya di seluruh sekolah.”
Kalimat itu jatuh seperti palu sidang.
Cakra menjeda sejenak, membiarkan informasi itu meresap ke dalam benak Pak Andi.
“Kalau Bapak ragu... Silakan tanyakan langsung sama Pak Bayu." Lanjut Cakra,
"Dia punya bukti salinan yang disimpan secara rahasia. Selama ini mereka menuruti Steven hanya karena ancaman pemecatan. Mereka takut pada bayang-bayang Pak Handoko.”
Wajah Handoko berkedut.
Ia ingin membantah. Ia ingin berteriak bahwa ini semua fitnah. Namun lidahnya terasa lumpuh. Karena jauh di dalam dirinya, ia tahu. Bayang-bayang itu nyata, dan ia sendiri yang menciptakannya. Otaknya dengan cepat memerintahkan lehernya berputar bagai mesin kaku ke arah Steven. Ia perlu pondasi pertahanan, dan Stevenlah yang harus berkorban. Bocah remaja itu hanya terdiam kelu, jari kanannya menggenggam kehampaan, seakan jati dirinya sedang disobek.
Cakra melanjutkan tanpa jeda, setiap katanya adalah peluru yang menembus pertahanan Steven. “Bahkan anak yang dikeluarkan bulan lalu, yang katanya ditemukan alat kontrasepsi dan rokok di tasnya, itu semua ulah Steven."
Steven tersentak.
"Dia yang memasukkan barang-barang itu. Para petugas keamanan menyalin rekaman aslinya sebelum dihapus, sebagai jaminan jika suatu saat dewan direksi melakukan audit. Selama ini, mereka terpaksa mau menuruti Steven. Tapi, mereka juga tahu bahwa otoritas tertinggi bukan Steven, bukan Pak Handoko."
Cakra menatap Andi lurus-lurus.
“Mereka hanya butuh jaminan, dan itu wajar. Jadi, Pak Andi… anak itu tidak bersalah. Saya ingin dia kembali bersekolah di sini.”
Hening.
Bukan hening yang kosong, tapi hening yang penuh gema.
Cakra menyudahi kalimatnya dengan menatap Steven. Ia berharap ada percikan kesadaran di mata teman sekelasnya itu. Ia ingin Steven sadar bahwa kekuasaan yang dibangun di atas penderitaan orang lain adalah istana pasir yang akan hancur oleh ombak kebenaran. Cakra sebenarnya sudah memiliki rencana, ia ingin menggandeng Steven, mengubah energi negatif itu menjadi kekuatan untuk membangun sekolah.
Namun ia lupa satu hal. Tidak semua orang ingin diselamatkan.
“Apa maksudnya ini, Steven?” tanya Handoko. Suaranya gemetar, hampir tak terdengar. Bukan suara seorang penguasa. Ini suara seorang ayah yang baru menyadari bahwa ia gagal total.
Steven tidak menangis.
Sebaliknya, ia tertawa.
Tawa kering, patah, seperti gesekan logam berkarat.
“Iya! Semuanya ulah saya!” Steven berteriak. Suaranya menggelegar, memantul di dinding ruangan.
“Saya yang mematikan CCTV! Saya yang memasukkan itu semua ke tas mereka agar mereka diusir!" Ia menoleh, menatap semua orang dengan mata merah menyala.
“Kenapa? Kalian mau tahu kenapa?!”
Tatapannya berhenti pada Cakra. Ia menatap Cakra dengan kebencian murni yang meluap dari lubuk jiwanya.
“KARENA SAYA NGGAK SUKA SAMA SIAPA PUN YANG BERANI MENDEKATI MIA! PUAS KALIAN?!”
PLAK!
Tamparan itu meledak di udara.
Handoko melayangkan tangannya ke pipi Steven dengan tenaga penuh. Bukan hanya amarah yang ia lepaskan, tapi juga rasa malu, rasa bersalah, dan pengakuan atas kegagalannya sendiri sebagai orang tua.
“HANDOKO!” Adipramana mendengking. Suaranya bukan lagi teguran, tapi sebuah peringatan keras.
Steven terhuyung. Pipinya panas. Matanya berusaha keras menahan air mata. Gagal.
Setitik air mata jatuh.
Topeng keangkuhan itu runtuh.
Tanpa sepatah kata pun, Steven berbalik dan lari keluar ruangan.
Ia sudah kalah.
Hartanya. Statusnya. Harga dirinya.
Semua menjadi abu.
“Pak Andi, Dek... kejar Steven. Tenangkan dia,” perintah Adipramana.
Cakra segera melesat, disusul oleh Andi. Di dalam ruangan, tertinggal Adipramana yang menatap Handoko dengan tatapan yang dipenuhi rasa muak bercampur kasihan.
“Pak Handoko,” Adipramana memulai, suaranya kini tenang namun menusuk.
“Sudah jelas. Saya akan meminta Pak Andi secara resmi untuk mengeluarkan Steven dari sekolah ini demi kebaikan bersama. Tapi sekarang, saya akan bicara sebagai sesama ayah.” Adipramana berdiri, mendekati Handoko yang masih terpaku meratapi tangannya sendiri.
“Cara didik Pak Handoko yang membuat Steven seperti itu."
Setiap kata Adipramana seperti pisau tumpul.
"Pak Handoko terlalu memanjakan Steven, hingga dia merasa dunia adalah miliknya. Kemudian, Pak Handoko menuntutnya saat anak itu tidak sesuai dengan ekspektasimu."
Kalimat itu jatuh bagaikan vonis.
"Saya tidak akan memperpanjang kasus ini demi Cakra. Tapi belajarlah menjadi orang tua yang bisa menjadi panutan, bukan sekadar penakluk. Saya selalu berpesan, anak-anak adalah masa depan, Pak Handoko." Ucapnya sembari bersiap meninggalkan Handoko.
Adipramana pergi. Handoko tertinggal. Hancur dalam kesunyian yang mencekam.
Sendiri.
Ingatan Cakra mendadak berputar cepat, seperti gulungan film yang ditarik paksa. Bayangan-bayangan masa lalu berkelebat dalam fragmen yang acak namun tajam.
Sejak hari itu, SMA Berbudi Pekerti berubah selamanya. Rahasia identitas Cakra sebagai pewaris Monument Group meledak ke seluruh penjuru sekolah. Steven memilih untuk menghilang, menolak tawaran Cakra untuk tetap bersekolah meski tuntutannya dicabut. Ego Steven terlalu besar untuk bernapas di udara yang sama dengan "Tuan Muda" yang sesungguhnya. Ia pergi tanpa pamit, meninggalkan kelompok pengikutnya yang kini merasa kehilangan sumber kemewahan gratis. Walaupun itu hanyalah sepatu bekas, ponsel lama, dan traktiran kelas menengah.
Cakra tidak tinggal diam. Ia mengambil alih takhta yang kosong, tapi dengan cara yang berbeda. Ia merombak kurikulum ekstrakurikuler. Ia membuka kelas seni musik, teater, hingga bela diri yang wajib diikuti oleh seluruh siswa. Ia ingin teman-temannya tidak hanya pintar secara akademis, tapi punya jiwa yang kuat dan fisik yang mampu melindungi diri.
Victor, Beni, dan Tommy, sebelumnya merupakan pengikut Steven kini menjadi sahabat terdekat Cakra. Mereka mendapatkan apa yang tidak pernah diberikan Steven. Rasa hormat dan persahabatan tulus. Cakra tidak hanya memberikan semua keperluan mereka secara cuma-cuma. Ia juga mengajak mereka berkeliling dunia, mengundang mereka menginap di mansionnya yang megah. Hingga membuat Bi Chleo, kepala asisten rumah tangga, pusing tujuh keliling dengan tingkah mereka. Namun, di tengah semua popularitas itu, hanya satu orang yang tetap menjadi misteri bagi Cakra.
Mia.
Gadis itu tetap dingin, tetap sinis, dan tak pernah memberikan sepatah kata pun untuk Cakra hingga hari kelulusan. Cakra menyimpan rasa sukanya di kotak terdalam hatinya, sebuah rahasia yang tidak ia bagi bahkan dengan sahabat-sahabatnya.
Lalu, memori itu berubah warna menjadi merah pekat. Kenangan tentang Steven yang membangkang di sekolah barunya, memprakarsai tawuran antar-sekolah hanya untuk melampiaskan dendamnya pada bayang-bayang Cakra.
Tiba-tiba, sebuah suara bergema di dalam kegelapan memori itu.
Suara Mia.
“Bangun, Cakra... Bangun!”
Mata Cakra terbuka lebar.
Sentakan kesadaran itu datang seperti sengatan listrik ribuan volt. Ia tidak lagi berada di koridor sekolah yang hangat. Ia berada di dalam ruang interogasi yang dingin, gelap, dan berbau karat besi.
Seketika, Cakra bangkit dengan tenaga yang tidak masuk akal. Tanpa ia sadari, otot-ototnya yang diperkuat secara genetik berdenyut kencang.
KRAKK!
Rantai besi hitam yang membelenggu pergelangan tangan dan kakinya hancur berkeping-keping seolah-olah hanya terbuat dari plastik murah.
Ia mengerjap, berusaha mengumpulkan kewarasannya. Serpihan besi hitam kecoklatan berceceran di lantai di sekitarnya.
Namun, Distrik Nor memiliki pertahanannya sendiri. Serpihan besi itu tidak diam. Bagaikan memiliki nyawa dan magnetisme gaib, serpihan-serpihan itu bergetar dan terbang kembali satu sama lain. Rantai itu menyatu kembali di udara, meliuk-liuk seperti ular kobra yang marah, siap untuk membelenggu kembali mangsanya.
Cakra melompat mundur. Rantai itu menyambar tempat di mana ia baru saja berdiri. Dengan refleks yang lahir dari pelatihan bertahun-tahun, Cakra menghantam rantai itu dengan tinjunya.
DUM!
Logam itu kembali lebur di bawah kekuatan pukulannya, namun ia tahu itu hanya sementara.
Ia menyerbu ke arah pintu besi setebal tiga puluh sentimeter yang menguncinya. Tempat Georu, si pria cantik, keluar setelah berhasil membuatnya pingsan dengan sengatan listriknya. Ia memukul pintu itu, meninggalkan bekas cetakan kepalan tangannya yang dalam di permukaan baja, namun pintu baja itu tetap kokoh.
“Sial!” geramnya.
Ia menoleh ke arah tembok merah kecoklatan di samping pintu. Dinding yang ia kira batu goa alami, namun sebenarnya adalah komposit mineral yang diperkuat. Cakra memusatkan seluruh energinya ke bahu kanan. Ia menghantam tembok itu dengan kekuatan yang mampu meruntuhkan gedung. Satu kali. Dua kali. Lima kali. Dua belas kali.
BOOM!
Tembok itu hancur, menyisakan lubang tak beraturan yang cukup besar untuk tubuhnya. Cakra melompat keluar, melewati debu dan puing-puing mineral, tepat saat rantai di belakangnya menyatu kembali dan menyambar udara kosong yang ditinggalkannya.
Cakra berdiri di koridor luar, napasnya memburu. Ia telah keluar dari Alpam, ruangan sangkar memori. Sang Tuan Muda telah kembali ke medan perang yang sesungguhnya.
Other Stories
Melupakan
Dion merasa hidupnya lebih berarti sejak mengenal Agatha, namun ia tak berani mengungkapka ...
Di Bawah Panji Dipenogoro
Damar, adalah seorang petani yang terpanggil untuk berjuang bersama mengusir penjajah Bela ...
Hati Diatas Melati ( 17+ )
Melati adalah asisten pribadi yang perfeksionis dengan penampilan yang selalu tertutup dan ...
Petualangan Di Negri Awan
seorang anak kecil menemukan negeri ajaib di balik awan dan berusaha menyelamatkan dari ke ...
Hafidz Cerdik
Jarum jam menunjuk di angka 4 kurang beberapa menit ketika Adnan terbangun dari tidurnya ...
Tea Love
Miranda tak ingin melepas kariernya demi full time mother, meski suaminya meminta begitu. ...