Bab 19 - Dikepung
Kekacauan di permukaan laut tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang terjadi di jantung pemerintahan Distrik Nor Kerajaan Porkah.
Cakra, yang baru saja menghancurkan dinding selnya, kini berdiri di tengah koridor futuristik yang diterangi cahaya neon biru pucat. Napasnya memburu, indranya menajam seperti pemangsa yang baru bangun dari tidur panjang. Ia baru saja menyadari bahwa tubuhnya bukan lagi miliknya yang dulu. Ada kekuatan yang berdenyut di bawah kulitnya, sesuatu yang purba sekaligus mekanis.
Dari ujung koridor, sesosok penjaga melayang dengan sepatu kinetik yang menyatu pada petakan Plitan. Cahaya oranye berkedip di bagian perut busananya, sebuah tanda otoritas. Georu. Penjaga Keamanan Tingkat Lima Gedung Pusat Pemerintahan Distrik Nor.
“Tetap di sana, Subjek 01!” teriak Georu, suaranya menggema di lorong logam tersebut.
Cakra memicingkan mata. Melihat wajah si pria cantik, amarahnya menyulut sesuatu di dalam dadanya. Sebuah tungku energi yang mulai mendidih. Ia ingat sengatan listrik dari Georu sebelumnya. Rasanya seperti setiap saraf di tubuhnya dibakar hidup-hidup. Tanpa peringatan, Cakra melesat. Kecepatannya melampaui logika manusia biasa. Namun, Georu adalah produk dari teknologi militer tingkat tinggi.
Ia memiringkan kepalanya ke bahu kanannya yang tegap, penuh otot kering sempurna. Dalam gerakan yang sangat mulus dan cepat, pakaian peraknya seolah mencair dan merakit diri kembali.
Dari punggungnya, partikel-partikel logam keluar, membiaskan cahaya seperti pelangi di atas minyak, lalu memadat menjadi sebilah tombak sepanjang lima puluh sentimeter. Tombak itu melayang di hadapannya, seolah mengenali tuannya. Georu lalu menggenggamnya. Cahaya oranye-kebiruan berdenyut dari dalam senjata itu, seolah-olah ada bintang kecil yang terperangkap di intinya.
Cakra terpaku sejenak.
"Anjir! Keren banget sumpah!" Ia bahkan berniat mendesak Georu untuk melakukannya lebih perlahan. Atau mungkin, menyeret penjaga cantik itu ke coffee shop terdekat dan memintanya untuk melakukan hal ajaib dan menakjubkan lainnya.
Namun detik berikutnya, Georu sudah melesat ke arahnya, tombak energi menebas udara menuju lehernya, memaksa Cakra berpindah dari kagum ke bertahan hidup. Cakra merunduk, merasakan panas dari bilah energi yang lewat hanya beberapa milimeter di atas rambutnya.
Tubuh Cakra cepat memahami situasi, gerakannya tiba-tiba terasa lebih ringan, lebih cepat, seolah gravitasi tidak lagi memiliki otoritas penuh atas dirinya. Ia meluncur di bawah serangan Georu dan melayangkan tinju ke arah rahang penjaga itu. Akan tetapi, sebelum tinjunya berhasil mendarat di pipi bagian kiri Georu, gerakannya terhenti. Seolah menghantam sesuatu yang keras dan transparan. Sebuah perisai kinetik.
Riak energi kebiruan menyebar dari titik benturan.
"Bodoh," ejek Georu dengan senyum meremehkan.
Detik berikutnya, Georu mendaratkan tinju ke perut Cakra. Kekuatan itu setara dengan hantaman palu beton seberat tiga kilogram.
Benturan itu keras.
Seharusnya itu cukup untuk mematahkan tulang rusuk Cakra dan membuatnya muntah darah. Namun, Cakra hanya mundur satu langkah. Ia tidak merasa sakit. Yang dirasakan Cakra hanyalah seperti disentil secara kasar. Ia bahkan merasakan energi yang baru saja diterimanya dari Georu diserap oleh tubuhnya.
Senyum Cakra melebar.
Mata Georu melebar di balik visor beningnya. Tidak ada waktu untuk panik. Ia kembali berusaha menodongkan tombak ke arah Cakra yang lagi-lagi berhasil dihindari. Sementara Cakra berpikir bahwa sang pria cantik tidak serius menghunuskan tombaknya. Pertempuran mereka, jika disaksikan lebih seksama, lebih terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang melakukan tarian tradisional bertemakan perang.
Sungguh anggun, elegan, dan penuh penjiwaan. Ditambah efek visual. Percikan energi, gelombang elektromagnetik, hingga pancaran ketegangan halus yang terasa di arus lautan, memberikan ilustrasi dramatis namun kolosal.
Semua adegan itu dinikmati oleh Cakra, tak ada lagi ketakutan, kecemasan, kebingungan yang terpancar oleh lembaran ekspresi parasnya. Justru ia sedang bersemangat. Hingga sebuah babak baru perlahan mengambil alih. Georu kembali berhasil menjatuhkan pukulan ke rahang kanan Cakra. Pukulan yang kekuatannya dapat menghancurkan mamoth raksasa menjadi bubur organik. Akan tetapi, seperti yang sudah terjadi sebelumnya, Cakra hanya bergetar kecil.
Ia semakin semangat.
"Sekarang giliran gue!" bisik Cakra dengan seringai yang tidak pernah ia miliki sebelumnya.
Ia memusatkan seluruh gairah petarungnya pada kepalan tangannya. Saat ia memukul lagi, perisai energi Georu tidak hanya menahan, benda tak kasat mata itu pecah berkeping-keping seperti kaca. Akan tetapi kepingan kacanya bukanlah padatan kristal, melainkan sambaran listrik bercahaya seperti halilintar, yang terlempar ke segala penjuru dengan kecepatan cahaya.
Seperti tidak puas, pukulan Cakra berlanjut, menghantam dada Georu hingga penjaga cantik itu terpental ke atas sejauh tiga meter di tengah-tengah gelombang. Melesat dengan kecepatan enam puluh kilometer per jam, sebelum akhirnya menghantam dinding logam dengan dentuman yang menggetarkan seluruh lorong.
Tepat sebelum kesadarannya runtuh, Georu meniupkan sebuah benda kecil ke arah Cakra. Wujudnya seperti kelereng super nano, bahkan lebih kecil dari semut terkecil. Benda itu melayang singkat, lalu menempel di belakang telinga kiri Cakra. Tak terlihat. Tak terasa. Sentuhannya selembut jejak kaki nyamuk di udara. Sesaat kemudian, tubuh Georu melemas. Dunia di sekelilingnya padam, dan ia terjatuh dalam kegelapan yang dipaksakan.
Cakra girang sekaligus panik. Ia berdiri di tengah lorong, napasnya memburu, menatap tangannya.
"Apa yang terjadi sama gue?" Rasanya seolah ada aliran listrik yang mengalir di nadinya, menggantikan darah. Ia merasa kuat. Ia merasa abadi.
Tak lama, ia tersadar akan Georu. Kecemasan seketika menyelimuti psikisnya.
"Orang itu nggak mati, kan?"
Kedua kakinya cepat melangkah, berlari sejauh dua puluh meter melawan gelombang arus laut ke arah Georu, kemudian berhenti tak jauh dari si petugas cantik itu.
Cakra bernapas lega.
Dada Georu kembang-kempis, ia lega mendapati Georu masih bernapas. Tak perlu lagi memastikan itu, Cakra memilih ambil langkah ke belakang, kemudian berlari menyusuri lorong, namun setiap langkahnya seolah memicu alarm internal di gedung itu.
Saat ia mencapai persimpangan besar, tujuh pasukan lainnya muncul dari dinding-dinding yang bergeser. Mereka mengenakan zirah lengkap yang memancarkan aura otoritas yang dingin. Senjata energi mereka sudah terkokang.
Cakra tidak gentar. Ia menerjang mereka seperti badai.
Gerakannya adalah tarian kematian. Lincah, efisien, dan brutal. Tekniknya merupakan perpaduan antara seni bela diri yang ia pelajari seumur hidup dan insting predator yang baru bangkit. Anak remaja itu memutar, menendang, dan menghantam. Setiap serangannya menghasilkan dentuman keras yang menggema di langit-langit Distrik Nor yang megah.
Satu per satu pasukan itu tumbang dengan tulang yang patah atau sistem persenjataan yang hancur. Zirah mereka tidak berdaya melawan kekuatan murni yang meledak-ledak dari tubuh Cakra. Namun, kejayaan itu singkat. Nor adalah mesin yang tidak pernah tidur.
Saat Cakra kembali berbelok ke kiri, ia berhenti mendadak. Ia membeku kaku. Di depannya, lorong itu dipenuhi oleh bayangan. Bukan lagi tujuh, tapi seratus delapan puluh tujuh pasukan keamanan. Sebuah barikade baja dan cahaya. Mereka mengarahkan senjata panjang yang ujungnya berpendar ungu. Moncong senjata mereka menyala redup, siap melepaskan tembakan pelumpuh.
Cakra memilih mundur, bertolak ke arah Georu yang terkapar. Ke arah Alpam yang salah satu bagian dindingnya masih berlubang akibat ledakan emosi Cakra. Sementara pasukan keamanan masih dalam formasi, mengikuti setiap langkah Cakra, seakan menikmati teror yang mereka ciptakan.
Namun dari belakang, rantai-rantai magnetik, alat yang membelenggu kedua tangan dan kaki Cakra, yang tadi ia hancurkan telah menyatu kembali, menari-nari di udara seperti tentakel yang haus darah.
Ia terpojok. Dikepung oleh teknologi yang melampaui pemahamannya.
“Ambil langkah ke kiri sekarang!” Tiba-tiba, sebuah suara bergema di dalam kepalanya. Bukan suara dari luar, melainkan suara yang merayap di lipatan otaknya. Suara wanita yang tenang, jenih, dingin, dan penuh perintah namun memberi arah.
“Kirimu paling sedikit pasukan. Serang mereka. Tangkap perempuan itu.”
Dalam satu ledakan gerak, Cakra menerjang.
Pasukan terkejut. Terlambat. Cakra menembus celah, memutar tubuh Mynhemeni, dan merenggut tombak dari tangannya. Cahaya di ujung senjata bergetar liar saat ujungnya kini menempel di leher sang komandan.
Hening jatuh seperti palu.
“Jangan bergerak,” kata Cakra, suaranya serak, napasnya masih tersengal.
“Gue bunuh cewek ini kalau kalian nggak biarin gue pergi!”
Sang Tuan Muda tidak lagi kabur. Sekarang, ia memegang kendali.
Cakra, yang baru saja menghancurkan dinding selnya, kini berdiri di tengah koridor futuristik yang diterangi cahaya neon biru pucat. Napasnya memburu, indranya menajam seperti pemangsa yang baru bangun dari tidur panjang. Ia baru saja menyadari bahwa tubuhnya bukan lagi miliknya yang dulu. Ada kekuatan yang berdenyut di bawah kulitnya, sesuatu yang purba sekaligus mekanis.
Dari ujung koridor, sesosok penjaga melayang dengan sepatu kinetik yang menyatu pada petakan Plitan. Cahaya oranye berkedip di bagian perut busananya, sebuah tanda otoritas. Georu. Penjaga Keamanan Tingkat Lima Gedung Pusat Pemerintahan Distrik Nor.
“Tetap di sana, Subjek 01!” teriak Georu, suaranya menggema di lorong logam tersebut.
Cakra memicingkan mata. Melihat wajah si pria cantik, amarahnya menyulut sesuatu di dalam dadanya. Sebuah tungku energi yang mulai mendidih. Ia ingat sengatan listrik dari Georu sebelumnya. Rasanya seperti setiap saraf di tubuhnya dibakar hidup-hidup. Tanpa peringatan, Cakra melesat. Kecepatannya melampaui logika manusia biasa. Namun, Georu adalah produk dari teknologi militer tingkat tinggi.
Ia memiringkan kepalanya ke bahu kanannya yang tegap, penuh otot kering sempurna. Dalam gerakan yang sangat mulus dan cepat, pakaian peraknya seolah mencair dan merakit diri kembali.
Dari punggungnya, partikel-partikel logam keluar, membiaskan cahaya seperti pelangi di atas minyak, lalu memadat menjadi sebilah tombak sepanjang lima puluh sentimeter. Tombak itu melayang di hadapannya, seolah mengenali tuannya. Georu lalu menggenggamnya. Cahaya oranye-kebiruan berdenyut dari dalam senjata itu, seolah-olah ada bintang kecil yang terperangkap di intinya.
Cakra terpaku sejenak.
"Anjir! Keren banget sumpah!" Ia bahkan berniat mendesak Georu untuk melakukannya lebih perlahan. Atau mungkin, menyeret penjaga cantik itu ke coffee shop terdekat dan memintanya untuk melakukan hal ajaib dan menakjubkan lainnya.
Namun detik berikutnya, Georu sudah melesat ke arahnya, tombak energi menebas udara menuju lehernya, memaksa Cakra berpindah dari kagum ke bertahan hidup. Cakra merunduk, merasakan panas dari bilah energi yang lewat hanya beberapa milimeter di atas rambutnya.
Tubuh Cakra cepat memahami situasi, gerakannya tiba-tiba terasa lebih ringan, lebih cepat, seolah gravitasi tidak lagi memiliki otoritas penuh atas dirinya. Ia meluncur di bawah serangan Georu dan melayangkan tinju ke arah rahang penjaga itu. Akan tetapi, sebelum tinjunya berhasil mendarat di pipi bagian kiri Georu, gerakannya terhenti. Seolah menghantam sesuatu yang keras dan transparan. Sebuah perisai kinetik.
Riak energi kebiruan menyebar dari titik benturan.
"Bodoh," ejek Georu dengan senyum meremehkan.
Detik berikutnya, Georu mendaratkan tinju ke perut Cakra. Kekuatan itu setara dengan hantaman palu beton seberat tiga kilogram.
Benturan itu keras.
Seharusnya itu cukup untuk mematahkan tulang rusuk Cakra dan membuatnya muntah darah. Namun, Cakra hanya mundur satu langkah. Ia tidak merasa sakit. Yang dirasakan Cakra hanyalah seperti disentil secara kasar. Ia bahkan merasakan energi yang baru saja diterimanya dari Georu diserap oleh tubuhnya.
Senyum Cakra melebar.
Mata Georu melebar di balik visor beningnya. Tidak ada waktu untuk panik. Ia kembali berusaha menodongkan tombak ke arah Cakra yang lagi-lagi berhasil dihindari. Sementara Cakra berpikir bahwa sang pria cantik tidak serius menghunuskan tombaknya. Pertempuran mereka, jika disaksikan lebih seksama, lebih terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang melakukan tarian tradisional bertemakan perang.
Sungguh anggun, elegan, dan penuh penjiwaan. Ditambah efek visual. Percikan energi, gelombang elektromagnetik, hingga pancaran ketegangan halus yang terasa di arus lautan, memberikan ilustrasi dramatis namun kolosal.
Semua adegan itu dinikmati oleh Cakra, tak ada lagi ketakutan, kecemasan, kebingungan yang terpancar oleh lembaran ekspresi parasnya. Justru ia sedang bersemangat. Hingga sebuah babak baru perlahan mengambil alih. Georu kembali berhasil menjatuhkan pukulan ke rahang kanan Cakra. Pukulan yang kekuatannya dapat menghancurkan mamoth raksasa menjadi bubur organik. Akan tetapi, seperti yang sudah terjadi sebelumnya, Cakra hanya bergetar kecil.
Ia semakin semangat.
"Sekarang giliran gue!" bisik Cakra dengan seringai yang tidak pernah ia miliki sebelumnya.
Ia memusatkan seluruh gairah petarungnya pada kepalan tangannya. Saat ia memukul lagi, perisai energi Georu tidak hanya menahan, benda tak kasat mata itu pecah berkeping-keping seperti kaca. Akan tetapi kepingan kacanya bukanlah padatan kristal, melainkan sambaran listrik bercahaya seperti halilintar, yang terlempar ke segala penjuru dengan kecepatan cahaya.
Seperti tidak puas, pukulan Cakra berlanjut, menghantam dada Georu hingga penjaga cantik itu terpental ke atas sejauh tiga meter di tengah-tengah gelombang. Melesat dengan kecepatan enam puluh kilometer per jam, sebelum akhirnya menghantam dinding logam dengan dentuman yang menggetarkan seluruh lorong.
Tepat sebelum kesadarannya runtuh, Georu meniupkan sebuah benda kecil ke arah Cakra. Wujudnya seperti kelereng super nano, bahkan lebih kecil dari semut terkecil. Benda itu melayang singkat, lalu menempel di belakang telinga kiri Cakra. Tak terlihat. Tak terasa. Sentuhannya selembut jejak kaki nyamuk di udara. Sesaat kemudian, tubuh Georu melemas. Dunia di sekelilingnya padam, dan ia terjatuh dalam kegelapan yang dipaksakan.
Cakra girang sekaligus panik. Ia berdiri di tengah lorong, napasnya memburu, menatap tangannya.
"Apa yang terjadi sama gue?" Rasanya seolah ada aliran listrik yang mengalir di nadinya, menggantikan darah. Ia merasa kuat. Ia merasa abadi.
Tak lama, ia tersadar akan Georu. Kecemasan seketika menyelimuti psikisnya.
"Orang itu nggak mati, kan?"
Kedua kakinya cepat melangkah, berlari sejauh dua puluh meter melawan gelombang arus laut ke arah Georu, kemudian berhenti tak jauh dari si petugas cantik itu.
Cakra bernapas lega.
Dada Georu kembang-kempis, ia lega mendapati Georu masih bernapas. Tak perlu lagi memastikan itu, Cakra memilih ambil langkah ke belakang, kemudian berlari menyusuri lorong, namun setiap langkahnya seolah memicu alarm internal di gedung itu.
Saat ia mencapai persimpangan besar, tujuh pasukan lainnya muncul dari dinding-dinding yang bergeser. Mereka mengenakan zirah lengkap yang memancarkan aura otoritas yang dingin. Senjata energi mereka sudah terkokang.
Cakra tidak gentar. Ia menerjang mereka seperti badai.
Gerakannya adalah tarian kematian. Lincah, efisien, dan brutal. Tekniknya merupakan perpaduan antara seni bela diri yang ia pelajari seumur hidup dan insting predator yang baru bangkit. Anak remaja itu memutar, menendang, dan menghantam. Setiap serangannya menghasilkan dentuman keras yang menggema di langit-langit Distrik Nor yang megah.
Satu per satu pasukan itu tumbang dengan tulang yang patah atau sistem persenjataan yang hancur. Zirah mereka tidak berdaya melawan kekuatan murni yang meledak-ledak dari tubuh Cakra. Namun, kejayaan itu singkat. Nor adalah mesin yang tidak pernah tidur.
Saat Cakra kembali berbelok ke kiri, ia berhenti mendadak. Ia membeku kaku. Di depannya, lorong itu dipenuhi oleh bayangan. Bukan lagi tujuh, tapi seratus delapan puluh tujuh pasukan keamanan. Sebuah barikade baja dan cahaya. Mereka mengarahkan senjata panjang yang ujungnya berpendar ungu. Moncong senjata mereka menyala redup, siap melepaskan tembakan pelumpuh.
Cakra memilih mundur, bertolak ke arah Georu yang terkapar. Ke arah Alpam yang salah satu bagian dindingnya masih berlubang akibat ledakan emosi Cakra. Sementara pasukan keamanan masih dalam formasi, mengikuti setiap langkah Cakra, seakan menikmati teror yang mereka ciptakan.
Namun dari belakang, rantai-rantai magnetik, alat yang membelenggu kedua tangan dan kaki Cakra, yang tadi ia hancurkan telah menyatu kembali, menari-nari di udara seperti tentakel yang haus darah.
Ia terpojok. Dikepung oleh teknologi yang melampaui pemahamannya.
“Ambil langkah ke kiri sekarang!” Tiba-tiba, sebuah suara bergema di dalam kepalanya. Bukan suara dari luar, melainkan suara yang merayap di lipatan otaknya. Suara wanita yang tenang, jenih, dingin, dan penuh perintah namun memberi arah.
“Kirimu paling sedikit pasukan. Serang mereka. Tangkap perempuan itu.”
Dalam satu ledakan gerak, Cakra menerjang.
Pasukan terkejut. Terlambat. Cakra menembus celah, memutar tubuh Mynhemeni, dan merenggut tombak dari tangannya. Cahaya di ujung senjata bergetar liar saat ujungnya kini menempel di leher sang komandan.
Hening jatuh seperti palu.
“Jangan bergerak,” kata Cakra, suaranya serak, napasnya masih tersengal.
“Gue bunuh cewek ini kalau kalian nggak biarin gue pergi!”
Sang Tuan Muda tidak lagi kabur. Sekarang, ia memegang kendali.
Other Stories
Akibat Salah Gaul
Nien, gadis desa penerima beasiswa di sekolah elite Jakarta, kerap dibully hingga dihadapk ...
Tugas Akhir Vs Tugas Akhirat
Skripsi itu ibarat mantan toxic: ditinggal sakit, dideketin bikin stres. Allan, mahasiswa ...
Nyanyian Hati Seruni
Begitu banyak peristiwa telah ia lalui dalam mendampingi suaminya yang seorang prajurit, p ...
November Kelabu
Veya hanya butuh pengakuan, sepercik perhatian, dan seulas senyum dari orang yang seharusn ...
Mewarnai
ini adalah contoh uplot buku ...
Dari Kampus Ke Kehidupan: Sebuah Memoar Akademik
Kisah ini merekam perjuangan, kegagalan, dan doa yang tak pernah padam. Dari ruang kuliah ...