Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia

Reads
9.8K
Votes
6.9K
Parts
71
Vote
Report
Negeri bawah laut porkah: cakra di samudra hindia
Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia
Penulis Virdytan

Bab 20 - Svalin Pertama

Ruangan kerja Thungsiruv tidak pernah benar-benar sunyi. Bahkan saat tidak ada siapa pun yang berbicara. Dengung energi dari dinding baja Porkah yang melingkupinya tetap berdenyut seperti nadi raksasa. Desis halus sistem Plitan beriringan dengan kepulan asap tipis bercampur percikan air di bawah lantai.

Berbaur dengan suara nyaring nyaris cempreng dari kecerdasan buatan ruangan yang terus memproses data tak terlihat.

Dari atas, atmosfer langit Bumi dipantulkan melalui lapisan sintetis, menciptakan gema lembut seperti desir angin jauh di dasar laut. Bahkan gerakan kecil makhluk-makhluk berkilau yang mengambang seperti debu bercahaya, selalu memberi kesan bahwa ruangan itu bernapas, hidup, dan mengamati.

Namun kali ini, keheningan yang tercipta terasa salah.

Seolah seluruh sistem berhenti bukan karena perintah, melainkan karena insting.

“Manusia darat yang kita kurung di Alpam... dia... dia tiba-tiba kabur!”

Kata-kata itu jatuh seperti benda berat ke lantai ruangan. Tidak memantul. Tidak bergema. Hanya menghantam.

Bibir Eunop bergetar tak beraturan, rahangnya menegang seakan setiap kata harus dipaksa keluar dari tenggorokan yang mendadak kering. Rambut wajahnya yang lebat dan keriting tak mampu menyembunyikan ekspresi ketakutan yang merambat cepat ke seluruh wajahnya. Kulitnya memucat, kontras dengan busana Porkah yang biasanya membuatnya tampak gagah. Bola matanya bergerak tak menentu, menghindari tatapan Mynhemeni dan Thungsiruv, seolah dua sosok itu bukan sekadar atasan, melainkan vonis hidup dan mati.

Lima detik berlalu.

Tidak ada suara.

Bunyi peringatan masih tersiar di seluruh ruangan kerja Thungsiruv. Nada panjang, datar, dan berulang. Ia terdengar seperti denyut jantung mesin raksasa, menandai bahwa sesuatu di dalam sistem kerajaan kini keluar dari lintasan yang seharusnya. Lampu-lampu indikator di dinding berkedip samar, bukan merah, bukan hijau. Warna transisi yang jarang muncul, pertanda ketidakpastian ekstrem.

Thungsiruv perlahan berdiri.

Gerakannya tenang, nyaris santai, namun justru itulah yang membuat udara di sekitarnya menegang. Rantai jabatannya, simbol kekuasaan tertinggi distrik Kerajaan Porkah, berkilau di balik jubah formalnya, memantulkan cahaya dingin ke lantai. Sorot matanya tajam, bukan marah, melainkan heran. Dan bagi siapa pun yang pernah bekerja di bawahnya, ekspresi heran dari Sang Ketua jauh lebih mengerikan daripada amarah.

“Bagaimana anak itu bisa kabur?!”

Suaranya tidak keras. Tidak meninggi. Namun setiap suku kata memantul di dinding ruangan, menekan dada siapa pun yang mendengarnya.

Pengikat mahluk pada ruang interogasi Alpam yang melingkar di pergelangan tangan dan kaki Cakra Abiyoga bukanlah teknologi biasa. Itu adalah belenggu hidup. Besi sadar yang memiliki naluri bertahan. Ia akan menghancurkan dirinya sendiri hanya untuk kembali menyatu dan mencengkeram ulang targetnya. Bahkan jika dihancurkan, rantai itu akan bangkit kembali, lebih cepat, lebih ganas, lebih kejam. Tak ada catatan dalam arsip Porkah tentang satu pun tahanan yang berhasil lolos darinya.

Eunop menelan ludah.

“Saat kita berhasil mengorek lebih jauh ingatannya,” katanya akhirnya, suara sedikit serak, “tiba-tiba dia terbangun.”

Eunop berhenti sejenak. Dadanya naik turun lebih cepat dari seharusnya, seolah paru-parunya lupa cara bekerja normal.

“Dia menghancurkan belenggu dan dinding Alpam khusus itu, menggunakan tangannya sendiri, Ketua!" Mata Eunop membesar, bukan karena ingin melebih-lebihkan, melainkan karena otaknya masih menolak menerima apa yang telah disaksikan. Ingatan visual itu terus berputar di kepalanya. Logam melengkung, ledakan energi, dan seorang anak manusia berdiri di tengah kehancuran.

“Anak itu sangat kuat,” Eunop menegaskan, suaranya bergetar tipis. “Dia menghancurkannya hanya dalam beberapa kali tinju.”

Keheningan kembali jatuh.

“Bagaimana dengan Georu?” Mynhemeni angkat bicara, suaranya dingin namun terkendali. Tubuhnya tegak, tangannya terkepal samar di sisi Sanvar, busananya.

“Dia sedang berlari menuju Alpam khusus dan akan melumpuhkan anak itu Komandan!” Kali ini Eunop berani menatap Mynhemeni, meski hanya sepersekian detik. Ada harapan rapuh di sana, seolah menyebut nama Georu saja sudah cukup untuk menahan kehancuran yang mengintai.

“Ok amati terus anak itu…” Mynhemeni menutup saluran percakapan singkat itu.

Hologram casvet di sekitarnya bergetar, pecah menjadi butiran cahaya, lalu melesat masuk ke dalam busananya seolah tersedot oleh denyut nadinya sendiri. Gadis itu kemudian berbalik menghadap Sang Ketua.

“Ketua saya mohon berikan perintah untuk mengerahkan seluruh pasukan keamanan gedung menangkap anak itu!!”

Thungsiruv tidak ragu.

“Kerahkan pasukan dan tangkap anak itu hidup-hidup! Jangan sampai ada satu tetes darah pun yang keluar dari anak itu! Mengerti!”

Nada itu absolut. Tidak memberi ruang interpretasi.

“Siap Ketua!”

Mynhemeni berbalik dan meninggalkan ruangan Thungsiruv tanpa menunggu perintah tambahan. Begitu kakinya menyentuh petakan lantai Plitan, sistem mengenali identitasnya. Energi mengalir, dan tubuhnya melesat.

Seratus dua puluh kilometer per jam.

Lorong-lorong tinggi Gedung Pusat Pemerintahan Distrik Nor berubah menjadi garis-garis cahaya. Seluruh penghuni yang sedang terbang atau melaju di petakan Plitan lain terpaksa menyingkir, sistem mereka otomatis memberi jalan. Beberapa menoleh heran. Mereka tidak tahu. Tidak satu pun dari mereka tahu bahwa ada seorang anak manusia darat, makhluk yang seharusnya lemah dan rapuh, baru saja merobek jantung keamanan Porkah.

“Georu?!”

Mynhemeni tidak menggerakkan bibirnya. Kata itu tak pernah benar-benar terucap. Suara itu hanya bergetar di dalam kepalanya, tajam dan mendesak.

“Saya sudah dengar beritanya, Komandan. Ini saya sedang kembali ke Alpam khusus tempat anak itu ditahan.”

Balasan itu datang seketika.

Bukan sebagai suara.

Ia adalah resonansi pikiran, percakapan sunyi, produk alat anti sadap Porkah. Teknologi komunikasi tertinggi yang hanya boleh digunakan oleh mereka yang memegang otoritas tinggi keamanan Kerajaan Porkah.

Bangsa Porkah menyebutnya Svalin. Sistem komunikasi yang tidak berbunyi dan tidak bercahaya. Chip nano-nya menyusup ke serat busana, berdiam tanpa jejak, lalu bangun hanya saat dipanggil oleh otoritas yang sah.

Melalui Svalin, pikiran saling menjangkau melampaui jarak. Dari kedalaman laut hingga ruang antarbintang di Galaksi Bima Sakti. Tanpa satu pun gelombang yang bisa disadap. Tidak ada kata yang diucapkan, hanya maksud yang berpindah utuh, dingin, dan presisi.

Di Porkah, siapa yang memiliki satu pasang Svalin berarti dipercaya. Siapa yang memiliki sepuluh, berarti memegang rahasia yang tak boleh jatuh ke tangan siapa pun. Svalin tidak bisa disadap. Tidak bisa diretas. Tidak bisa diakses oleh orang yang tidak terhubung dengannya.

Dan bagi Mynhemeni, ini adalah pertama kalinya ia menggunakan Svalin. Tak pernah terbayangkan dirinya akan mengalami momen ini. Ia yakin, dialah yang pertama kali memakai Svalin. Setidaknya dalam seribu tahun ke belakang.

“Ingat rencana yang kakak bilang tadi?” Nadanya mereda, bukan mode otoriter, melainkan mode keluarga. Georu paham, ini rencana pribadi Mynhemeni, kakaknya. Bukan sebagai petugas militer Kerajaan Porkah.

“Tancapkan Svalin yang kakak kasih, ke anak itu?” Georu memastikan.

Ia melayang cepat menuju Alpam khusus. Sistem Plitan di bawah kakinya mendorong tubuhnya melesat hingga sembilan puluh lima kilometer per jam,sementara pikirannya sudah lebih dulu tiba. Pada satu anak yang jelas-jelas tidak seharusnya mampu menghancurkan dinding Alpam dengan tangan kosong.

“Iya! Dan jangan sampai diketahui oleh siapa pun!" Georu tak lagi merasakan getaran dalam kepalanya selama dua detik.

"Termasuk Ayah.” Suara Mynhemeni menekan, cepat, namun terkendali.

“Kalau kakak sudah aman, akan kakak kabari tempat kakak bersembunyi. Sekarang kamu jangan sampai melukai anak itu, dan juga jangan sampai terluka darinya. Anak itu kuat.”

Terdengar tarikan napas Mynhemeni dalam kepala Georu. Napasnya berat.

“Lebih baik kamu pura-pura pingsan." Mynhemeni melesat di atas Plitan, melintasi kompleks Gedung Pusat Pemerintahan Distrik Nor yang luas dan berlapis, jarak menuju ruang tahanan terus menyusut sementara detik-detik terasa menekan.

“Minta Geok aktifkan mode lelap setelah berhasil memasukkan Svalin ke Sanvar tahanan anak manusia darat itu,” lanjut Mynhemeni menyebutkan nama Sanvar Georu. Sanvar sebuah busana sekaligus kecerdasan buatan yang hidup di dalam saraf bangsa Porkah, Sanvar berfungsi sebagai penunjang hidup mereka.

“Kita harus mendekatinya dengan cara lain.” ucap Mynhemeni kembali. Nada itu menurun, nyaris personal.

“Kakak yakin ini satu-satunya jalan.”

“OK, Kak.”

Percakapan batin itu terputus, meninggalkan dengung sunyi di kepala Georu. Ia berbelok tajam ke kanan dan berhenti mendadak. Plitan di bawah kakinya menahan momentum dengan presisi nyaris mustahil. Latihan bertahun-tahun membuat tubuhnya tetap stabil di udara. Namun kali ini, tubuhnya tetap bergetar. Bukan karena manuver ekstrem.

Melainkan karena apa yang ia lihat.

Cakra Abiyoga sudah berada di luar ruangan khusus.

Dinding Alpam hancur. Bukan retak, hancur total. Baja Porkah setebal tiga puluh sentimeter, material yang bahkan tidak ada di Bumi, dengan daya tahan tiga ratus kali bunker anti-nuklir, kini berlubang dan terkelupas seperti kertas basah yang diremas tangan kasar.

Dan di sana, di tengah reruntuhan itu, Cakra berdiri. Sekitar tujuh puluh meter dari Georu. Terlalu dekat dan terlalu berbahaya untuk disebut sekadar anak.

Anak itu celingak-celinguk. Bingung. Seperti seseorang yang terbangun di dunia yang salah, mencoba memahami ruang yang tidak pernah ia minta.

Di saat yang sama, Mynhemeni mengedipkan mata. Butiran casvet muncul seketika/ Berkilau, melayang sekitar tiga meter di hadapannya. Mengikuti setiap gerakannya dengan presisi dingin, seperti mata seorang reporter medan perang yang tak pernah berkedip.

“Kalian bertujuh, segera menyusul Georu ke Alpam khusus tempat anak itu dianalisis, sekarang! Saya harus memberikan arahan pada pasukan keamanan lainnya." ucapnya tanpa gentar di atas Plitan.

"Ingat, jangan gunakan kekuatan penuh! Jangan sampai anak itu tergores! Jangan biarkan juga anak itu mati!" titahnya tegas.

Kedipan berikutnya membuat butiran Casvet bergetar cepat.

Mynhemeni lalu bersuara lebih lantang. Beberapa orang di sekitar lintasan Plitan menoleh spontan, bahu mereka menegang.

“Seluruh pasukan keamanan gedung kumpul di lantai bawah tanah tingkat lima, sektor tujuh, ruang latihan!” Ruang terbesar. Dan yang paling dekat dengan Alpam, tempat Cakra disekap. Suaranya tegas, tanpa celah untuk ditawar.

“Saya akan jelaskan setelah kalian tiba di sana.”

Jeda singkat.

“Bergerak sekarang juga.”

Perintah itu menggema, bukan hanya di ruang fisik, tapi di benak setiap prajurit yang terhubung.

Casvet menyusut, kembali masuk ke mata Mynhemeni, lalu menghilang, seolah tak pernah ada.


Other Stories
Tessss

pengaplikasian doang ...

Hujan Yang Tak Dirindukan

Perjalanan menuju kebun karet harus melalui jalan bertanah merah. Nyawa tak jarang banyak ...

Hellend (noni Belanda)

Pak Kasman berkali-kali bermimpi tentang hantu perempuan bergaun kolonial yang seolah memb ...

Kating Modus!

Kisah seorang pemuda yang mengikuti organisasi internal di kampusnya. Ia diberi mandat ole ...

Anak Singkong

Sebuah tim e-sport dari desa, "Anak Singkong", mengguncang panggung nasional. Dengan strat ...

Separuh Dzarrah

Dzarrah berarti sesuatu yang kecil, namun kebaikan atau keburukan sekecil apapun jangan di ...

Download Titik & Koma