Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia

Reads
9.8K
Votes
6.9K
Parts
71
Vote
Report
Negeri bawah laut porkah: cakra di samudra hindia
Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia
Penulis Virdytan

Bab 21 - Pasukan Elit Distrik Nor

Dengan cekatan, seluruh pasukan aktif keamanan gedung pusat pemerintahan Distrik Nor yang jumlahnya tak sampai dua ratus personel, bergerak serempak dari berbagai sisi gedung menuju lantai bawah tanah tingkat lima, sektor tujuh, seperti yang diperintahkan Mynhemeni. Proyeksi wajah Komandan Divisi Analisis yang muncul beberapa detik lalu masih membekas di benak mereka, cukup untuk membuat langkah tak ragu, meski arah tujuannya penuh tanda tanya.

“Ada yang tahu ini soal apa?” bisik seseorang di tengah desis plitan yang membawa mereka melayang kilat, membelah lorong-lorong gedung.

Tak ada jawaban. Hanya gelengan kepala.

"Komandan Bzarrmu hanya memastikan," ucap petugas lainnya, memimpin unit regu yang tidak sampai dua puluh orang itu, "kita mengikuti arahan Komandan Mynhemeni selama beliau tidak dapat dihubungi!" lanjutnya tegas.

Begitu tiba, mereka mendapati beberapa rekan petugas keamanan gedung sudah lebih dulu sampai. Tatapan saling bertemu, disusul gelengan kepala, angkat bahu singkat. Bahasa diam yang menyampaikan kebingungan yang sama. Tidak ada penjelasan. Tidak ada spekulasi yang berani diucapkan keras-keras.

“Bukan operasi rutin,” gumam yang lain, lebih pada kesimpulan daripada pertanyaan.

Dan memang bukan.

Hanya tujuh pasukan dengan posisi tinggi yang benar-benar memahami apa yang sedang terjadi. Saat ini, hanya merekalah yang mengetahui perkara Cakra Abiyoga. Mereka bukan pasukan biasa, melainkan gabungan dari keamanan nasional, keamanan distrik, keamanan manusia darat, dan keamanan gedung pusat pemerintahan. Para pemimpin unit. Para komandan elit. Individu-individu yang, dalam satu institusi yang sama, memegang keputusan hidup dan mati.

Unit Tempur Kerajaan Porkah.

Dan jika unit ini dikumpulkan, maka sesuatu telah melampaui batas prosedur.

Belum lama para pasukan saling bertukar pandang dan berbisik rendah, Mynhemeni tiba-tiba muncul. Ia melesat keluar dari balik dinding yang meleleh kilat. Reaksi datang seketika. Barisan dirapikan, tubuh menegang, fokus terkunci pada satu titik.

Untuk pertama kalinya, mereka berada dalam situasi yang sepenuhnya tidak sesuai protokol.

Seharusnya mandat datang melalui Bzarrmu, Komandan Pasukan Keamanan Gedung Pusat Pemerintahan Distrik Nor. Bukan dari Mynhemeni yang hanyalah seorang komandan divisi analisis. Namun perintah terakhir Bzarrmu jelas, arahan Mynhemeni harus diikuti. Tanpa bertanya. Tanpa menolak. Tanpa pengecualian.

“Kita tidak punya banyak waktu,” ucap Mynhemeni begitu Plitannya menyatu dengan lantai.

Nadanya ringkas, mendesak. “Silakan saksikan ini.”

Ia mengedipkan mata.

Butiran casvet kembali keluar dari kedua matanya, bergetar, lalu memecah menjadi partikel-partikel lebih kecil yang melesat lurus ke kening seluruh pasukan. Dalam sekejap, tak ada lagi cahaya yang tersisa di udara.

Seluruh pasukan berdiri mematung, seperti terseret ke satu mimpi yang sama.

Tubuh mereka bereaksi terhadap tayangan dalam Casvet mereka. Cakra yang hanyut di Parangtritis, ombak menggulung tubuhnya, lalu Cakra yang bangkit, menghantam, merobek dinding material tingkat tinggi dengan tangan kosong. Tidak hanya itu, mereka juga mengerti ketakutan Thungsiruv jika Cakra diketahui oleh Pusat. Mata bergerak cepat di balik kelopak yang terbuka, napas tertahan. Ada yang terkesiap. Ada yang mengepalkan tangan tanpa sadar.

Hingga satu per satu, butiran casvet keluar dari kening mereka, berkumpul kembali, dan melesat masuk ke mata Mynhemeni.

Ruang itu kembali hening.

“Sekarang kita harus menyusul Komandan Atuyju, Komandan Huplok, dan Komandan Bzarrmu ke Alpam khusus tempat anak itu berada,” perintah Mynhemeni.

“Bentuk barisan. Sekarang.”

Serentak, Sanvar seluruh pasukan seperti meleleh. Mengalir di permukaan tubuh mereka, meliuk, lalu mengeras menjadi zirah prajurit kualitas tinggi. Kilauannya dingin dan padat, seolah kehancuran sebesar bom atom pun akan tampak menciut di hadapan armor itu. Di saat yang sama, lantai di bawah pijakan kaki mereka bergetar pelan.

Plitan bangkit dengan gagah.

Mereka terangkat, membentuk formasi tumpukan. Barisan militer dua tingkat. Pasukan bawah mengunci posisi, sementara yang lain melayang tepat di atas kepala mereka, menyisakan rongga kurang dari satu meter. Rapi. Presisi. Siap bergerak.

“Sebelum berangkat,” suara Mynhemeni kembali terdengar, tegas dan berat, “jangan gunakan kekuatan penuh. Jangan mencoba menyakiti anak itu. Jangan sampai ada satu tetes darah pun.”

Ia menyapu barisan dengan tatapan tajam.

“Walaupun ia mengenakan Sanvar tahanan, kita tidak tahu kemampuan sebenarnya.”

Nada suaranya menajam.

“Bisa saja Sanvar itu tidak mampu membekuknya dengan mudah.”

Jeda singkat, cukup untuk membuat kata berikutnya terasa mengancam.

“Kalau kalian tidak ingin Bumi bernasib sama seperti planet kita ratusan ribu tahun lalu, kalian harus patuh.”

“Sekarang... berangkat!” Ucapnya singkat.

Plitan di bawah kaki mereka bergetar keras, lalu melesat, membawa formasi itu meninggalkan ruangan menuju Alpam khusus. Tempat ketujuh pasukan elit Distrik Nor Kerajaan Porkah tuju untuk menghadang Cakra

Namun belum sempat mereka mendekat, Plitan tujuh pasukan elit itu mendadak berhenti.

Dari persimpangan lorong, di antara cabang kanan dan kiri, Cakra muncul tiba-tiba dari arah kanan.

“Berhenti!” perintah Atuyju, Komandan Pasukan Pertahanan Nasional Distrik Nor.

Cakra tidak peduli.

Ia berlari mundur, pandangannya liar, mencari jalan lain. Ia sedang berusaha kabur.

Tujuh pasukan itu bergerak serempak, mengejar Cakra tanpa memberi ruang sedikit pun untuk lolos dari pandangan. Jumlah mereka memang sedikit, namun masing-masing adalah unit yang jika berhadapan langsung, mampu meremukkan ribuan pasukan militer elit milik Amerika Serikat atau Rusia hanya dalam hitungan menit.

Mereka bergerak gesit. Petakan Plitan di bawah kaki membawa tubuh-tubuh itu melesat lincah, nyaris tanpa suara, seperti bayangan yang menolak tertinggal. Sanvar mereka berkilau tipis, membentuk perisai transparan yang aktif dan stabil, membungkus seluruh tubuh dengan perlindungan sempurna. Tidak ada celah. Tidak ada goresan sekecil apa pun yang mampu menembus lapisan itu.

“Kunci jarak,” terdengar perintah singkat di antara mereka.

Di saat yang sama, senjata pelumpuh dikeluarkan. Bukan senjata pembunuh, melainkan alat kendali. Dirancang khusus untuk menjatuhkan target tanpa menumpahkan setetes darah pun. Semua laras kini terarah pada satu titik.

Cakra.

Dan untuk pertama kalinya sejak pengejaran dimulai, jarak di antara mereka tak lagi berpihak padanya.

“Kunci sudut lorong,” perintah Atuyju terdengar dingin.

“Jangan pakai daya penuh.”

Mereka memotong arah dengan presisi, bergerak cepat hingga Cakra terdesak. Dalam hitungan detik, ia sudah terkepung dari segala sudut. Satu pasukan melayang tepat di hadapannya, dua mengunci sisi kanan dan kiri, sementara lainnya menahan dari belakang, rendah dan siap menutup celah.

Cakra terpaku. Matanya bergerak cepat, mengikuti mereka satu per satu.

“Mereka… terbang?” gumamnya, napasnya tersengal.

Pikirannya menangkap satu kemungkinan paling masuk akal, mungkin ini dunia akhirat. Tempat semua makhluk bisa melayang bebas. Maka, tanpa banyak pertimbangan, ia pun melompat.

Namun yang terjadi bukan sekadar terbang.

Tubuh Cakra melesat ke atas dengan kecepatan liar, jauh lebih cepat dari yang ia bayangkan. Bukan melayang seperti mereka, melainkan terlempar. Seolah ruang di sekitarnya sendiri menolak membiarkannya jatuh kembali.

Namun kenyataannya, Cakra tidak sedang terbang. Ia merasa mengambang. Seperti berada di dalam air. Melaju dengan kecepatan tinggi, bahkan melampaui laju Plitan yang digunakan para pasukan. Fenomena itu membuat kepungan seketika goyah. Beberapa pasukan refleks memperlambat gerak, bukan karena ragu, melainkan karena apa yang mereka lihat tak masuk perhitungan.

“Dia… lebih cepat dari Plitan,” gumam salah satu dari mereka.

Keraguan mulai menyusup. Dengan perlengkapan senjata yang dibatasi, mereka tak lagi yakin bisa melumpuhkan Cakra. Jika saja serangan ke titik vital diperbolehkan, mereka percaya lima detik sudah cukup untuk membuat anak itu tersungkur. Sayangnya, mereka tidak tahu, atau belum sempat menyadari, bahwa Cakra saat ini jauh dari kata normal.

“Jangan bergerak,” bentak Atuyju, suaranya menggema di lorong.

“Atau kami akan menyerangmu!” Ancaman itu tak digubris.

Cakra justru melaju ke arahnya.

Dalam sepersekian detik, ia sudah berada tepat di depan Atuyju dan melayangkan tinju. Pasukan itu sempat meremehkan, seperti Georu sebelumnya. Sanvar Atuyju telah mengaktifkan perisai transparan; secara teori, pukulan tangan kosong tak akan melukainya. Bahkan, sistem perisai seharusnya memantulkan dampak balik pada penyerang.

Senjata makan tuan.

Namun keyakinan itu runtuh seketika.

Pukulan Cakra menghantam perisai dengan satu ayunan sederhana. Cahaya menyala kasar, berpendar liar, lalu pecah. Pelindung tipis itu hancur, dan Atuyju terlempar keras, melesat menembus dinding ruangan di sebelahnya yang seketika hancur.

Untungnya, lantai itu kosong.

Tak ada satu pun personel bangsa Porkah yang bertugas di sana. Lantai bawah tanah tingkat lima memang selalu steril. Hanya digunakan untuk keperluan khusus yang menyangkut keamanan daratan. Selama tak ada kasus atau penugasan resmi, area itu akan tetap sunyi.

Dan karena itu, keberadaan Cakra, walau untuk sementara, masih menjadi rahasia yang aman.

Namun kini, rahasia itu baru saja mematahkan perisai seorang komandan.

Atuyju pingsan seketika.

Pemandangan itu membuat seluruh pasukan unit lain terbelalak. Seorang komandan pertahanan nasional tumbang hanya oleh satu pukulan, sesuatu yang seharusnya mustahil. Apalagi dinding itu terlapisi material khusus, diklaim jutaan kali lebih kuat dari baja. Namun semua itu tetap tak sebanding dengan daya pukul Cakra, yang menghantam dengan kekuatan brutal, dapat menembus tiga lapis dinding dalam satu ayunan.

Tubuh Atuyju terempas, lalu diam.

Seragam tempurnya menyerap sebagian besar benturan. Jika tidak, tubuhnya mungkin sudah hancur berkeping-keping.

Keheningan sekejap menyelimuti lorong.

Menyaksikan pemimpin mereka tersungkur tidak memicu kepanikan, justru kewaspadaan. Pasukan itu segera menata ulang formasi, mata mereka tajam mengikuti setiap tarikan napas Cakra.

“Serang bersamaan,” Huplok, Komandan Keamanan Distrik Nor mengambil alih.

“Jangan beri celah,” perintah singkat darinya terdengar tajam, namun penuh ketakutan.

Mereka melesat serempak, menyerbu dari berbagai arah, beberapa meter di atas lantai. Namun Cakra bergerak lebih cepat. Tubuhnya berkelit di antara kilatan senjata, lalu membalas dengan pukulan dan tendangan bertubi-tubi. Satu per satu mereka tumbang, jatuh dalam posisi tak beraturan, perisai pecah, formasi hancur.

Sekilas Cakra melihat darah. Ia mengerutkan kening.

"Berdarah? Bukankah penjaga neraka itu mahluk halus?" Pikiran itu membuatnya ragu, mungkin semua ini masih mimpi.

Ketika tak ada lagi yang bangkit, Cakra melangkah pergi. Ia berbelok ke kiri, ke arah tempat pasukan tadi muncul. Baru beberapa langkah, lorong di depannya kembali dipenuhi bayangan. Dari ujung sana, gerombolan pasukan lain muncul, jumlahnya berkali-kali lipat. Mereka berbaris rapi dalam dua tingkat, pasukan di lantai dan pasukan yang melayang, terpisah tak lebih dari satu meter.

Dan kali ini, lorong itu terasa jauh lebih sempit.


Other Stories
After Honeymoon

Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...

Conclusion

Liburan Dara ke kota Sapporo di Hokkaido Jepang membawanya pada hal yang tak terduga. Masa ...

My 19 Story

Di usia sembilan belas, Liora dikhianati dan melarikan diri ke Jakarta, tempat seorang pri ...

Tes

tes ...

Sudut Pandang

Hidup terasa sempit?Mungkin bukan masalahnya yang terlalu besar,tapi carapandangmu yang te ...

Perjalanan Terakhir Bersama Bapak

Sepuluh tahun setelah kepergian ibunya saat melahirkan Ale, Khalil tumbuh dengan luka yang ...

Download Titik & Koma