Bab 22 - Suara Di Dalam Kepala
“Cukup!”
Suara Mynhemeni menggema keras, memantul di lorong bawah laut seperti dentuman palu. Ia berdiri di barisan terdepan, tubuhnya terbungkus Sanvar yang berkilau dingin, memantulkan cahaya listrik yang berkelebat di udara.
“Kembali ke ruanganmu,” katanya tegas, satu langkah maju.
“Kami perlu memastikan apakah kamu ancaman… atau sekadar kesalahan.”
Ia berhenti. Napasnya tertahan sepersekian detik.
“Kalau kamu menolak,” lanjutnya, nada suaranya menajam, “jangan salahkan kami jika harus membunuhmu.”
Ancaman itu terdengar meyakinkan. Terlalu meyakinkan. Padahal di balik kilau Sanvarnya, Mynhemeni tahu, anak itu tak boleh mati. Bukan sekarang. Mungkin tidak pernah.
Cakra tak menjawab.
Matanya bergerak cepat, menyapu barisan dua tingkat di hadapannya. Pasukan di lantai, pasukan melayang. Jarak. Sudut. Waktu reaksi. Semua dihitung dalam detak napas.
"Kalau mereka maju bersamaan… Gak ada waktu buat ragu. Harus gue serang semampu gue!"
Ia melangkah.
Lorong seolah menegang.
Dalam satu hentakan, Cakra melesat. Tubuhnya menerjang lurus ke depan, tinjunya mengarah langsung ke Mynhemeni. Cepat, brutal, tanpa peringatan.
Namun serangan itu tak pernah sampai.
Plitan bergerak serempak. Pasukan menyilang dari kanan dan kiri, naik dari bawah, turun dari atas. Dinding hidup terbentuk di udara, menutup jalur Cakra. Dua tubuh menghantam bahunya, satu menekan dari belakang. Mynhemeni ditarik mundur, diselubungi barisan pelindung, lenyap ke lapis belakang.
Cakra terperangkap di tengah pusaran.
Kilatan biru menyambar.
Ujung tombak beraliran listrik menghantam sisi tubuhnya. Arus menjalar kasar, membuat otot-ototnya menegang. Beberapa pasukan bersorak tertahan.
“Kena!” seru salah satu dari mereka. Untuk sesaat, mereka percaya.
Cakra meraung pelan, bukan kesakitan, melainkan marah. Tubuhnya bergetar, lalu tenang. Listrik yang menjalar seolah tenggelam ke dalam dirinya, ditelan, diabaikan. Ia menoleh perlahan ke arah penyerangnya. Dengan satu tarikan kasar, ia merenggut tombak itu dari genggaman lawan.
Krakk!
Logam patah di tangannya. Ledakan cahaya memukul udara. Dua pasukan terpental, tubuh mereka berputar tak terkendali sebelum menghantam dinding.
Cakra bergerak liar.
Ia berputar di udara, menghantam satu wajah dengan sikunya, menendang Plitan hingga miring, lalu menghujamkan tinju ke dada pasukan di bawahnya. Tubuh-tubuh melayang, bertabrakan, jatuh dalam lintasan kacau.
“Dorong dia!” teriak salah satu pemimpin regu.
“Jangan beri ruang!”
Mereka maju. Tanpa ragu. Melangkahi rekan-rekan yang terkapar. Pasukan di bawah menekan ke atas, yang di atas menukik turun. Serangan datang bertubi-tubi.
Namun Cakra menolak dipenjara. Tak ingin kembali ke ruangan yang membelenggu dan menyiksanya.
Ia menerobos. Memukul. Menendang. Setiap gerakan presisi, brutal, seolah tubuhnya mengingat sesuatu yang belum pernah ia pelajari. Satu per satu, pasukan tumbang. Ada yang terlempar jauh. Ada yang jatuh tak bergerak.
Lorong berubah jadi puing.
Dinding runtuh, material pecah, lubang-lubang menganga tak beraturan. Cahaya listrik memantul liar di reruntuhan. Tubuh-tubuh tergeletak di atas sisa struktur yang hancur.
Keraguan merayap.
Barisan pasukan melambat. Formasi retak.
Cakra tak menyia-nyiakan celah itu.
Ia melesat mundur, cepat, nyaris tak terlihat, meninggalkan pusaran pertempuran menuju arah semula, ke lorong yang mengarah ke Alpam khusus untuk menahannya.
Namun langkah itu bukan pelarian.
Itu hanya jeda.
Pasukan bergerak pelan, rapat, seperti sekawanan pemburu menggiring binatang buas ke kandangnya. Cakra mundur hati-hati, napasnya tertahan. Ia tak menyadari jaraknya yang kian dekat dengan lubang dinding yang ia ciptakan sendiri, hingga besi dingin yang melilit pergelangan tangan dan kakinya di atas meja batu, kembali bergerak.
Berusaha membelenggunya.
Rantai itu bergerak hidup, meluncur cepat seperti ular hutan. Dalam sekejap, belenggu mengikatnya kembali. Membuat Cakra melayang di tengah mereka. Anak remaja itu mencoba menggerakkan tubuhnya tak karuan. Berusaha melepaskan diri dari belenggu rantai. Menyaksikan itu semua, seluruh pasukan tidak ingin membuang waktu. Mereka menyerbu serempak. Sengatan listrik dari tombak-tombak kecil menghantam tubuh Cakra bersamaan.
“Dasar—!” Cakra menggeram, menahan geli menyakitkan yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
“Malaikat macam apa kalian, buat gue tumbang aja harus ngeroyok segini banyak?”
Ia tertawa pendek, getir.
“Pengecut!”
Rantai terus mengencang, melilit dan menarik, sementara Cakra berjuang membebaskan diri. Mata menyala, amarah bercampur keyakinan bahwa ini belum berakhir.
Ternyata usahanya berhasil.
Rantai itu pecah untuk kesekian kalinya. Kali ini bukan sekadar runtuh, melainkan meledak. Serpihannya melesat liar, berputar di udara seperti hujan besi. Dua pasukan terdekat tak sempat menghindar. Satu terpukul di dada, membuatnya tersungkur setelah percikan energi mengamuk. Sedangkan pasukan lainnya terhempas ke dinding dengan bunyi retakan kering.
Cakra akhirnya bebas.
Ia melayang di tengah lorong, tubuhnya tidak berpijak pada lantai mana pun. Ia bergerak seperti benda yang terlepas dari hukum berat, melesat cepat, jauh melampaui laju Plitan yang membawa pasukan. Air terasa tak pernah benar-benar ada di sana. Namun tekanan laut terasa di setiap gerakan Cakra.
Serangan datang dari segala arah.
Dari bawah, dua pasukan melesat naik, tombak listrik diarahkan ke kaki Cakra. Dari kiri dan kanan, Plitan lain menyilang, membawa tiga tubuh sekaligus. Dari belakang, kilatan biru mendadak menyambar. Dari atas, lebih banyak lagi. Mereka menutup ruang, membentuk sangkar hidup di udara.
Cakra menukik tajam, menghindari sengatan yang nyaris menyentuh tengkuknya. Ia berputar, meninju tombak dari bawah.
Retak!
Listrik meledak, mendorong dua pasukan terpental ke arah langit-langit. Tanpa berhenti, ia membalikkan tubuhnya, menendang satu Plitan hingga miring. Penumpangnya terlempar, berputar tak terkendali sebelum menghantam dinding.
“Jangan biarkan dia naik!” teriak seseorang.
Cakra mencoba menembus ke atas.
Ia melesat vertikal, tubuhnya seperti peluru. Tapi Plitan sudah ada di sana, muncul tepat di jalurnya. Dua. Empat. Enam. Mereka bertumpuk, membentuk lapisan penghadang. Tombak-tombak turun dari atas seperti hujan petir.
Cakra menghantam satu, dua, terobos. Namun yang ketiga berhasil menyambar bahunya. Sengatan menjalar, membuat ototnya menegang sekejap. Ia terlempar mundur, jatuh. Bukan ke lantai, melainkan ke ruang kosong di tengah lorong.
Mereka mengepungnya dari atas ke bawah.
Plitan bergerak serempak, naik-turun, maju-mundur, mengunci ruang seperti rahang raksasa. Pasukan di bawah mengarah ke atas, yang di atas menekan turun, sementara sisi kanan dan kiri menutup rapat. Setiap celah yang coba Cakra ambil, langsung ditutup oleh bidang hitam berkilau.
Cakra memutar tubuhnya, menangkis, memukul, menendang. Gerakannya cepat, brutal, efisien. Satu tombak patah di tangannya, kilatan cahaya menyambar tiga pasukan sekaligus. Ia menghantam satu tubuh hingga terpental jauh, menghancurkan dua Plitan di belakangnya. Puing melayang seperti bangkai besi di arus laut tak terlihat. Merusak formasi pasukan. Mengenai tiga orang yang ikut terseret arus, hingga menabrak dinding lainnya. Hancur. Mereka terkapar.
Namun jumlah tak pernah lelah.
Serangan datang lagi. Dari belakang. Dari atas. Dari bawah.
Napas Cakra mulai berat. Setiap gerakan terasa sedikit lebih lambat. Sedikit.
Plitan lain menekan. Mendorongnya turun, menjauh dari jalur keluar. Ruang menyempit. Lorong berubah menjadi kandang vertikal.
“Jangan biarkan dia bergerak!” teriak seseorang.
Terlambat.
Cakra melompat, tubuhnya berputar di udara. Ia menghantam wajah satu pasukan dengan sikunya, lalu mendarat di bahu yang lain, menjadikannya pijakan untuk menendang dua orang sekaligus. Dinding di belakang mereka runtuh, puing beterbangan, dan lorong itu berubah menjadi medan perang tak berbentuk.
Namun jumlah tetap berbicara.
Pasukan yang tersisa merapat, menekan pelan tapi pasti. Tombak-tombak diarahkan serempak, membentuk pagar listrik yang menyempitkan ruang gerak Cakra. Ia mundur satu langkah. Lalu satu lagi. Setiap napasnya terasa lebih berat dari sebelumnya.
“Pojokkan dia!” teriak seseorang dari atas, suaranya menggema.
Dan mereka berhasil.
Punggung Cakra menyentuh dinding retak. Bahunya menabrak puing. Serangan datang bertubi-tubi. Dari atas, samping, bawah. Ia menangkis, menghantam, menendang, tapi lengannya mulai gemetar.
Dari belakang, rantai-rantai magnetik, alat yang membelenggu kedua tangan dan kaki Cakra, yang tadi ia hancurkan telah menyatu kembali, menari-nari di udara seperti tentakel yang haus darah. Cakra melesat cepat, menghindari kepungan, rantai yang meliuk, hujaman tombak, pukulan, tendangan. Di sisa napasnya, ia berusaha melawan. Ia yakin, paling tidak lebih dari separuh sudah tumbang. Tapi, kenapa seperti tidak ada habisnya? Yang tersisa masih terlalu banyak. Terlalu rapat. Terlalu terlatih.
Cakra ingin menyerah, tapi tak ingin kalah. Setidaknya belum. Dadanya naik turun tak beraturan. Napasnya terasa berat, seperti menghirup air asin. Setiap gerakan kini menuntut lebih banyak tenaga. Lengannya mulai gemetar. Pandangannya sesekali mengabur, membuatnya lengah.
"Gue masih bisa melawan," pikirnya. "Tapi sampai kapan? Nggak mungkin kan, gue mati dua kali? Tunggu! Mati dua kali? Kalau gue udah mati, kenapa ini rasanya nyata banget? Kenapa gue bisa kesakitan? Kenapa gue kewalahan?" Pasukan kembali menghujaninya sengatan listrik diiringi tarian pukulan dan tendangan.
Cakra terpaksa melawan lagi. Beberapa tumbang kembali. Seluruh pasukan berada di fase yang sama dengan Cakra. Tak yakin dapat menaklukkan anak remaja itu.
Di sela pertarungan, kelelahan merayap pelan, licik. Kesadaran Cakra mulai goyah, dan tepat di celah itu, sebuah suara muncul.
“Ambil satu langkah ke kiri.”
Suara perempuan. Rendah. Tenang. Terlalu jelas untuk sekadar imajinasi.
“Kirimu paling sedikit pasukan. Serang mereka. Tangkap perempuan itu.”
Cakra tersentak. Matanya menyapu barisan pasukan tanpa menurunkan posisi bertahan. Tak satu pun dari mereka membuka mulut.
"Dari mana datangnya suara ini…?"
“Kamu bisa dengar aku, kan?” suara itu kembali. Kali ini lebih dekat. Lebih pasti.
“Serang mereka. Tangkap perempuan yang tadi menggertakmu. Itu satu-satunya jalan keluar.” Jantung Cakra berdegup keras. Ia tahu, ini bukan suara dari luar. Bukan pantulan lorong. Bukan alat komunikasi mereka.
Suara itu ada di dalam kepalanya.
“Kamu lihat perempuan yang maju itu?”
Seolah menjawab, barisan pasukan terbelah. Beberapa mundur setengah langkah, memberi jalan. Dari celah itu, Mynhemeni melangkah maju.
“Tenang,” ucapnya lantang, berusaha terdengar meyakinkan. “Kami tidak akan menyakitimu. Kami hanya ingin melindungimu.”
Ia mengangkat tangannya perlahan. Kanan tangannya menggenggam tombak dengan goyah. Tombak itu berbeda, ujungnya memancarkan cahaya kecil, bulat, stabil. Bukan senjata kasar. Lebih mirip alat penjinak.
“Lihat,” lanjut Mynhemeni.
“Aku tidak akan menyerangmu.” Menggoyangkan tombaknya lembut. Memberitahu bahwa ia sedang menyerahkan diri. Cakra menelan ludah. Suara langkah pasukan yang bergerak maju terdengar nyata, dari telinganya.
Tapi suara perempuan itu… tetap ada. Terpisah. Jelas.
“Saat dia berjarak tiga meter,” bisik suara itu. “Serang. Rebut tombaknya. Todongkan ke lehernya.”
Cakra ragu. Sesaat saja.
“Ancamlah mereka,” lanjut suara itu, dingin namun terukur. “Kalau tidak, kamu tidak akan keluar hidup-hidup.”
Tiga meter.
Dua setengah.
Dua.
Dunia seakan menyempit.
Dalam satu ledakan gerak, Cakra menerjang.
Pasukan terkejut. Cakra menembus celah, memutar tubuh Mynhemeni, dan merenggut tombak dari tangannya. Cahaya di ujung senjata bergetar liar saat ujungnya kini menempel di leher sang komandan.
Hening jatuh seperti palu.
“Jangan bergerak,” kata Cakra, suaranya serak, napasnya masih tersengal.
“Gue bunuh cewek ini kalau kalian nggak biarin gue pergi!”
Tangannya bergetar. Mynhemeni bisa merasakannya. Ia menelan napas, lalu dengan perlahan memajukan lehernya setengah senti, memastikan ancaman itu terlihat nyata di mata pasukannya.
Tak satu pun dari mereka bergerak.
Dan untuk pertama kalinya sejak perburuan dimulai, keadaan berbalik.
Suara Mynhemeni menggema keras, memantul di lorong bawah laut seperti dentuman palu. Ia berdiri di barisan terdepan, tubuhnya terbungkus Sanvar yang berkilau dingin, memantulkan cahaya listrik yang berkelebat di udara.
“Kembali ke ruanganmu,” katanya tegas, satu langkah maju.
“Kami perlu memastikan apakah kamu ancaman… atau sekadar kesalahan.”
Ia berhenti. Napasnya tertahan sepersekian detik.
“Kalau kamu menolak,” lanjutnya, nada suaranya menajam, “jangan salahkan kami jika harus membunuhmu.”
Ancaman itu terdengar meyakinkan. Terlalu meyakinkan. Padahal di balik kilau Sanvarnya, Mynhemeni tahu, anak itu tak boleh mati. Bukan sekarang. Mungkin tidak pernah.
Cakra tak menjawab.
Matanya bergerak cepat, menyapu barisan dua tingkat di hadapannya. Pasukan di lantai, pasukan melayang. Jarak. Sudut. Waktu reaksi. Semua dihitung dalam detak napas.
"Kalau mereka maju bersamaan… Gak ada waktu buat ragu. Harus gue serang semampu gue!"
Ia melangkah.
Lorong seolah menegang.
Dalam satu hentakan, Cakra melesat. Tubuhnya menerjang lurus ke depan, tinjunya mengarah langsung ke Mynhemeni. Cepat, brutal, tanpa peringatan.
Namun serangan itu tak pernah sampai.
Plitan bergerak serempak. Pasukan menyilang dari kanan dan kiri, naik dari bawah, turun dari atas. Dinding hidup terbentuk di udara, menutup jalur Cakra. Dua tubuh menghantam bahunya, satu menekan dari belakang. Mynhemeni ditarik mundur, diselubungi barisan pelindung, lenyap ke lapis belakang.
Cakra terperangkap di tengah pusaran.
Kilatan biru menyambar.
Ujung tombak beraliran listrik menghantam sisi tubuhnya. Arus menjalar kasar, membuat otot-ototnya menegang. Beberapa pasukan bersorak tertahan.
“Kena!” seru salah satu dari mereka. Untuk sesaat, mereka percaya.
Cakra meraung pelan, bukan kesakitan, melainkan marah. Tubuhnya bergetar, lalu tenang. Listrik yang menjalar seolah tenggelam ke dalam dirinya, ditelan, diabaikan. Ia menoleh perlahan ke arah penyerangnya. Dengan satu tarikan kasar, ia merenggut tombak itu dari genggaman lawan.
Krakk!
Logam patah di tangannya. Ledakan cahaya memukul udara. Dua pasukan terpental, tubuh mereka berputar tak terkendali sebelum menghantam dinding.
Cakra bergerak liar.
Ia berputar di udara, menghantam satu wajah dengan sikunya, menendang Plitan hingga miring, lalu menghujamkan tinju ke dada pasukan di bawahnya. Tubuh-tubuh melayang, bertabrakan, jatuh dalam lintasan kacau.
“Dorong dia!” teriak salah satu pemimpin regu.
“Jangan beri ruang!”
Mereka maju. Tanpa ragu. Melangkahi rekan-rekan yang terkapar. Pasukan di bawah menekan ke atas, yang di atas menukik turun. Serangan datang bertubi-tubi.
Namun Cakra menolak dipenjara. Tak ingin kembali ke ruangan yang membelenggu dan menyiksanya.
Ia menerobos. Memukul. Menendang. Setiap gerakan presisi, brutal, seolah tubuhnya mengingat sesuatu yang belum pernah ia pelajari. Satu per satu, pasukan tumbang. Ada yang terlempar jauh. Ada yang jatuh tak bergerak.
Lorong berubah jadi puing.
Dinding runtuh, material pecah, lubang-lubang menganga tak beraturan. Cahaya listrik memantul liar di reruntuhan. Tubuh-tubuh tergeletak di atas sisa struktur yang hancur.
Keraguan merayap.
Barisan pasukan melambat. Formasi retak.
Cakra tak menyia-nyiakan celah itu.
Ia melesat mundur, cepat, nyaris tak terlihat, meninggalkan pusaran pertempuran menuju arah semula, ke lorong yang mengarah ke Alpam khusus untuk menahannya.
Namun langkah itu bukan pelarian.
Itu hanya jeda.
Pasukan bergerak pelan, rapat, seperti sekawanan pemburu menggiring binatang buas ke kandangnya. Cakra mundur hati-hati, napasnya tertahan. Ia tak menyadari jaraknya yang kian dekat dengan lubang dinding yang ia ciptakan sendiri, hingga besi dingin yang melilit pergelangan tangan dan kakinya di atas meja batu, kembali bergerak.
Berusaha membelenggunya.
Rantai itu bergerak hidup, meluncur cepat seperti ular hutan. Dalam sekejap, belenggu mengikatnya kembali. Membuat Cakra melayang di tengah mereka. Anak remaja itu mencoba menggerakkan tubuhnya tak karuan. Berusaha melepaskan diri dari belenggu rantai. Menyaksikan itu semua, seluruh pasukan tidak ingin membuang waktu. Mereka menyerbu serempak. Sengatan listrik dari tombak-tombak kecil menghantam tubuh Cakra bersamaan.
“Dasar—!” Cakra menggeram, menahan geli menyakitkan yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
“Malaikat macam apa kalian, buat gue tumbang aja harus ngeroyok segini banyak?”
Ia tertawa pendek, getir.
“Pengecut!”
Rantai terus mengencang, melilit dan menarik, sementara Cakra berjuang membebaskan diri. Mata menyala, amarah bercampur keyakinan bahwa ini belum berakhir.
Ternyata usahanya berhasil.
Rantai itu pecah untuk kesekian kalinya. Kali ini bukan sekadar runtuh, melainkan meledak. Serpihannya melesat liar, berputar di udara seperti hujan besi. Dua pasukan terdekat tak sempat menghindar. Satu terpukul di dada, membuatnya tersungkur setelah percikan energi mengamuk. Sedangkan pasukan lainnya terhempas ke dinding dengan bunyi retakan kering.
Cakra akhirnya bebas.
Ia melayang di tengah lorong, tubuhnya tidak berpijak pada lantai mana pun. Ia bergerak seperti benda yang terlepas dari hukum berat, melesat cepat, jauh melampaui laju Plitan yang membawa pasukan. Air terasa tak pernah benar-benar ada di sana. Namun tekanan laut terasa di setiap gerakan Cakra.
Serangan datang dari segala arah.
Dari bawah, dua pasukan melesat naik, tombak listrik diarahkan ke kaki Cakra. Dari kiri dan kanan, Plitan lain menyilang, membawa tiga tubuh sekaligus. Dari belakang, kilatan biru mendadak menyambar. Dari atas, lebih banyak lagi. Mereka menutup ruang, membentuk sangkar hidup di udara.
Cakra menukik tajam, menghindari sengatan yang nyaris menyentuh tengkuknya. Ia berputar, meninju tombak dari bawah.
Retak!
Listrik meledak, mendorong dua pasukan terpental ke arah langit-langit. Tanpa berhenti, ia membalikkan tubuhnya, menendang satu Plitan hingga miring. Penumpangnya terlempar, berputar tak terkendali sebelum menghantam dinding.
“Jangan biarkan dia naik!” teriak seseorang.
Cakra mencoba menembus ke atas.
Ia melesat vertikal, tubuhnya seperti peluru. Tapi Plitan sudah ada di sana, muncul tepat di jalurnya. Dua. Empat. Enam. Mereka bertumpuk, membentuk lapisan penghadang. Tombak-tombak turun dari atas seperti hujan petir.
Cakra menghantam satu, dua, terobos. Namun yang ketiga berhasil menyambar bahunya. Sengatan menjalar, membuat ototnya menegang sekejap. Ia terlempar mundur, jatuh. Bukan ke lantai, melainkan ke ruang kosong di tengah lorong.
Mereka mengepungnya dari atas ke bawah.
Plitan bergerak serempak, naik-turun, maju-mundur, mengunci ruang seperti rahang raksasa. Pasukan di bawah mengarah ke atas, yang di atas menekan turun, sementara sisi kanan dan kiri menutup rapat. Setiap celah yang coba Cakra ambil, langsung ditutup oleh bidang hitam berkilau.
Cakra memutar tubuhnya, menangkis, memukul, menendang. Gerakannya cepat, brutal, efisien. Satu tombak patah di tangannya, kilatan cahaya menyambar tiga pasukan sekaligus. Ia menghantam satu tubuh hingga terpental jauh, menghancurkan dua Plitan di belakangnya. Puing melayang seperti bangkai besi di arus laut tak terlihat. Merusak formasi pasukan. Mengenai tiga orang yang ikut terseret arus, hingga menabrak dinding lainnya. Hancur. Mereka terkapar.
Namun jumlah tak pernah lelah.
Serangan datang lagi. Dari belakang. Dari atas. Dari bawah.
Napas Cakra mulai berat. Setiap gerakan terasa sedikit lebih lambat. Sedikit.
Plitan lain menekan. Mendorongnya turun, menjauh dari jalur keluar. Ruang menyempit. Lorong berubah menjadi kandang vertikal.
“Jangan biarkan dia bergerak!” teriak seseorang.
Terlambat.
Cakra melompat, tubuhnya berputar di udara. Ia menghantam wajah satu pasukan dengan sikunya, lalu mendarat di bahu yang lain, menjadikannya pijakan untuk menendang dua orang sekaligus. Dinding di belakang mereka runtuh, puing beterbangan, dan lorong itu berubah menjadi medan perang tak berbentuk.
Namun jumlah tetap berbicara.
Pasukan yang tersisa merapat, menekan pelan tapi pasti. Tombak-tombak diarahkan serempak, membentuk pagar listrik yang menyempitkan ruang gerak Cakra. Ia mundur satu langkah. Lalu satu lagi. Setiap napasnya terasa lebih berat dari sebelumnya.
“Pojokkan dia!” teriak seseorang dari atas, suaranya menggema.
Dan mereka berhasil.
Punggung Cakra menyentuh dinding retak. Bahunya menabrak puing. Serangan datang bertubi-tubi. Dari atas, samping, bawah. Ia menangkis, menghantam, menendang, tapi lengannya mulai gemetar.
Dari belakang, rantai-rantai magnetik, alat yang membelenggu kedua tangan dan kaki Cakra, yang tadi ia hancurkan telah menyatu kembali, menari-nari di udara seperti tentakel yang haus darah. Cakra melesat cepat, menghindari kepungan, rantai yang meliuk, hujaman tombak, pukulan, tendangan. Di sisa napasnya, ia berusaha melawan. Ia yakin, paling tidak lebih dari separuh sudah tumbang. Tapi, kenapa seperti tidak ada habisnya? Yang tersisa masih terlalu banyak. Terlalu rapat. Terlalu terlatih.
Cakra ingin menyerah, tapi tak ingin kalah. Setidaknya belum. Dadanya naik turun tak beraturan. Napasnya terasa berat, seperti menghirup air asin. Setiap gerakan kini menuntut lebih banyak tenaga. Lengannya mulai gemetar. Pandangannya sesekali mengabur, membuatnya lengah.
"Gue masih bisa melawan," pikirnya. "Tapi sampai kapan? Nggak mungkin kan, gue mati dua kali? Tunggu! Mati dua kali? Kalau gue udah mati, kenapa ini rasanya nyata banget? Kenapa gue bisa kesakitan? Kenapa gue kewalahan?" Pasukan kembali menghujaninya sengatan listrik diiringi tarian pukulan dan tendangan.
Cakra terpaksa melawan lagi. Beberapa tumbang kembali. Seluruh pasukan berada di fase yang sama dengan Cakra. Tak yakin dapat menaklukkan anak remaja itu.
Di sela pertarungan, kelelahan merayap pelan, licik. Kesadaran Cakra mulai goyah, dan tepat di celah itu, sebuah suara muncul.
“Ambil satu langkah ke kiri.”
Suara perempuan. Rendah. Tenang. Terlalu jelas untuk sekadar imajinasi.
“Kirimu paling sedikit pasukan. Serang mereka. Tangkap perempuan itu.”
Cakra tersentak. Matanya menyapu barisan pasukan tanpa menurunkan posisi bertahan. Tak satu pun dari mereka membuka mulut.
"Dari mana datangnya suara ini…?"
“Kamu bisa dengar aku, kan?” suara itu kembali. Kali ini lebih dekat. Lebih pasti.
“Serang mereka. Tangkap perempuan yang tadi menggertakmu. Itu satu-satunya jalan keluar.” Jantung Cakra berdegup keras. Ia tahu, ini bukan suara dari luar. Bukan pantulan lorong. Bukan alat komunikasi mereka.
Suara itu ada di dalam kepalanya.
“Kamu lihat perempuan yang maju itu?”
Seolah menjawab, barisan pasukan terbelah. Beberapa mundur setengah langkah, memberi jalan. Dari celah itu, Mynhemeni melangkah maju.
“Tenang,” ucapnya lantang, berusaha terdengar meyakinkan. “Kami tidak akan menyakitimu. Kami hanya ingin melindungimu.”
Ia mengangkat tangannya perlahan. Kanan tangannya menggenggam tombak dengan goyah. Tombak itu berbeda, ujungnya memancarkan cahaya kecil, bulat, stabil. Bukan senjata kasar. Lebih mirip alat penjinak.
“Lihat,” lanjut Mynhemeni.
“Aku tidak akan menyerangmu.” Menggoyangkan tombaknya lembut. Memberitahu bahwa ia sedang menyerahkan diri. Cakra menelan ludah. Suara langkah pasukan yang bergerak maju terdengar nyata, dari telinganya.
Tapi suara perempuan itu… tetap ada. Terpisah. Jelas.
“Saat dia berjarak tiga meter,” bisik suara itu. “Serang. Rebut tombaknya. Todongkan ke lehernya.”
Cakra ragu. Sesaat saja.
“Ancamlah mereka,” lanjut suara itu, dingin namun terukur. “Kalau tidak, kamu tidak akan keluar hidup-hidup.”
Tiga meter.
Dua setengah.
Dua.
Dunia seakan menyempit.
Dalam satu ledakan gerak, Cakra menerjang.
Pasukan terkejut. Cakra menembus celah, memutar tubuh Mynhemeni, dan merenggut tombak dari tangannya. Cahaya di ujung senjata bergetar liar saat ujungnya kini menempel di leher sang komandan.
Hening jatuh seperti palu.
“Jangan bergerak,” kata Cakra, suaranya serak, napasnya masih tersengal.
“Gue bunuh cewek ini kalau kalian nggak biarin gue pergi!”
Tangannya bergetar. Mynhemeni bisa merasakannya. Ia menelan napas, lalu dengan perlahan memajukan lehernya setengah senti, memastikan ancaman itu terlihat nyata di mata pasukannya.
Tak satu pun dari mereka bergerak.
Dan untuk pertama kalinya sejak perburuan dimulai, keadaan berbalik.
Other Stories
Hidup Sebatang Rokok
Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...
Hantu Dan Hati
Di tengah duka dan rutinitasnya berjualan bunga, seorang pemuda menyadari bahwa ia tidak s ...
Hujan Yang Tak Dirindukan
Perjalanan menuju kebun karet harus melalui jalan bertanah merah. Nyawa tak jarang banyak ...
Reuni
Kutukan Kastil Piano membuat cinta Selina berbalik jadi kebencian, hingga akhirnya ia mema ...
Nestapa
Masa kecil Zaskia kurang bahagia, karena kedua orangtua memilih bercerai. Ayahnya langsung ...
Puzzle
Karina menyeret kopernya melewati orang-orang yang mengelilingi convayer belt. Koper ber ...