Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia

Reads
9.8K
Votes
6.9K
Parts
71
Vote
Report
Negeri bawah laut porkah: cakra di samudra hindia
Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia
Penulis Virdytan

Bab 23 - Menyandera Mynhemeni

“Jangan kelihatan ragu begitu,” suara itu mendesak, tajam seperti pisau.

“Kalau kamu sendiri tidak yakin, mereka akan mencium ketakutanmu. Dan begitu mereka tahu, kamu mati.” Cakra menelan ludah. Ia tahu caranya berkelahi. Tinju, benturan, rasa nyeri yang datang tanpa rencana. Tapi ini berbeda. Mengancam nyawa seseorang. Sengaja menempatkan tangan di titik yang bisa mengakhiri segalanya. Ia belum pernah, dan tak pernah ingin melakukan itu.

“Fokus,” suara itu kembali, kali ini lebih rendah, seolah menahan kesabarannya sendiri.

“Kamu tidak perlu membunuhnya. Kamu hanya perlu membuat mereka percaya.”

Napas Cakra memburu, lalu dipaksa melambat.

“Cengkeram kedua tangannya,” perintah itu datang cepat.

“Kunci. Jangan beri celah.”

Ia menuruti. Tangan kiri Cakra menjepit pergelangan Mynhemeni, memutar sedikit hingga sendinya terkunci. Mynhemeni tersentak, tubuhnya menegang. Tangan kanan Cakra tetap melingkar di lehernya, tepat di atas Sanvar yang melindungi kulitnya. Cukup dekat untuk mengancam, cukup jauh untuk membuatnya ragu.

Di hadapan mereka, barisan pasukan membeku. Langkah-langkah melambat. Senjata tetap terangkat, tapi tak satu pun berani maju. Mereka bergerak setipis napas, menunggu. Salah langkah sedikit saja bisa membuat komandan mereka tumbang.

Namun tidak semua punya kesabaran yang sama.

Seorang petugas di barisan atas samping kanan terlihat berang. Rahangnya mengeras. Tangannya meraih senjata lain. Lebih kecil, lebih berbahaya dalam jarak dekat.

Mynhemeni melihatnya.

“Jangan konyol!” teriaknya keras, suaranya memantul di lorong sempit.

“Kamu buta, ya?! Saya sedang dalam bahaya!” Teriakan itu mengejutkan Cakra. Refleks, cengkeramannya sedikit mengendur. Dan itu adalah kesalahan. Mynhemeni sadar akan celah itu, ia terpaksa mendekatkan kembali lehernya ke arah ujung tombak yang digenggam Cakra. Gerakannya cepat, setengah terpaksa, setengah nekat. Bola kecil cahaya di ujung senjata menyentuh Sanvar yang melapisi lehernya.

Sekejap kemudian, kilatan listrik meledak.

Bukan besar, tapi cukup keras untuk menggema, berderak seperti mesin rusak yang dipaksa hidup. Cahaya memercik, menyambar logam pelindung yang dipancarkan Sanvar Mynhemeni, menjalar singkat sebelum padam.

Mynhemeni menjerit, pendek, tajam, dan refleks Cakra kembali bekerja melampaui pikirannya. Cahaya pada ujung tombak tertekan lebih dalam ke leher Mynhemeni. Sekejap saja, cukup untuk membuat napas Cakra tersangkut di dada.

Padahal, jika mau, Mynhemeni bisa membebaskan diri saat itu juga. Mengaktifkan perintah balik. Mematikan senjata yang kini berada di tangan musuhnya. Ia tahu itu. Seluruh pasukan yang mengelilinginya juga tahu itu. Namun ia memilih diam.

Ia membiarkan kesan rapuh itu hidup.

Ancaman Cakra harus terlihat nyata. Cukup nyata untuk menahan pasukannya sendiri agar tidak gegabah. Dan meski sebagian dari mereka mulai bertanya-tanya bagaimana mungkin komandan mereka dapat dikuasai tanpa perlawanan berarti, satu hal tetap lebih kuat dari keraguan: perintah atasan adalah hukum.

“Hentikan!” suara di kepala Cakra membentak, memotong kepanikannya.

“Kau benar-benar bisa melukainya!” Cakra tersentak. Tangannya gemetar, napasnya kacau. Tanpa sadar, ia membalas. Bukan dengan suara, tapi dengan pikirannya sendiri.

"Maafkan saya… saya tidak bermaksud…"

“Aku tahu,” jawab suara itu, kali ini lebih tenang, tapi tak kalah tegas. Tapi justru membuat Cakra terbeblalak. Ia tak menyangka batinnya dapat terdengar oleh suara yang bergema di dalam selaput otaknya.

“Sekarang dengarkan baik-baik. Ancamlah mereka dengan benar. Jangan beri mereka celah. Jadikan wanita itu sandera. Dan, pastikan mereka percaya.”

Cakra menarik napas panjang. Sekali. Dua kali. Lalu suaranya keluar, lebih keras, lebih padat. Dipaksa stabil.

“Dengarkan!” Lorong itu kembali sunyi.

“Saya akan membunuh wanita ini kalau kalian tidak mengikuti kata-kata saya!” Keheningan langsung menelan ruangan. Sunyi yang menyesakkan. Tak ada langkah. Tak ada senjata yang bergerak. Barisan pasukan itu membeku, kaku seperti patung Terakota. Bahkan dada mereka tampak menahan naik-turunnya napas. Tidak berkutik. Hanya mata mereka masih menangkap setiap gerakan Cakra. Kini anak remaja itu mencondongkan tubuhnya. Bibirnya mendekat ke telinga kanan Mynhemeni, suaranya turun drastis, hanya untuk gadis yang ia sekap.

“Kamu tidak apa-apa, kan?” Nada itu… jujur. Dan terlalu penuh rasa khawatir untuk seseorang yang sedang mengancam nyawa orang lain.

“Tolong lepaskan saya,” ujar Mynhemeni, nadanya rapi, nyaris seperti kalimat protokol.

“Kita bisa bicarakan ini baik-baik.”

Ia sama sekali tidak menoleh. Pandangannya justru bergerak cepat, menyapu tiap pasukan di lorong. Menghitung jarak, membaca gelagat. Kecemasannya bukan pada Cakra, melainkan pada kemungkinan salah satu dari mereka bertindak bodoh.

“Tidak akan,” potong Cakra tanpa ragu, meski dadanya terasa sesak. Tombak itu tetap menempel di leher Mynhemeni.

“Belum! Sebelum saya keluar dari sini.”

Ia menarik napas pendek. “Bagaimana caranya supaya tangan kamu bisa terikat?” lanjutnya, lebih cepat dari pikirannya sendiri.

“Biar saya nggak perlu terus naruh tombak ini di depan lehermu.”

Cakra tak ingin melukainya lagi. Bahkan ancaman barusan pun sudah membuat perutnya mual dan perasaannya gelisah. Jika ada cara menyandera Mynhemeni tanpa terus berdiri di ambang kesalahan fatal, ia akan mengambilnya.

Sebelum Mynhemeni sempat membuka mulut, suara itu kembali menghantam pikirannya. Tajam, nyaris marah.

“Bodoh.” Cakra tersentak.

“Seragam mereka menyimpan senjata penghancur materi,” suara itu melanjutkan, dingin dan terukur.

“Wanita itu sudah mengunci tubuhnya sendiri. Jangan lepaskan senjata itu darinya.” Nada suara itu cepat, terstruktur, seolah setiap detik adalah hitungan mundur.

Pikiran Cakra berputar.

“Begitu ancamanmu hilang,” lanjut suara itu, “mereka akan menyerbu. Kamu akan disekap lagi... atau lebih buruk, kamu akan mati.” Cakra mengepalkan rahangnya.

“Jadi dengarkan baik-baik,” lanjut suara itu.

“Tombak tetap di lehernya. Jangan sampai melukainya. Paksa pasukan memasukkan kembali senjata mereka. Nonaktifkan mode serang. Suruh mereka masuk ke ruangan di ujung lorong ini. Kemudian aktifkan mode lelap, agar mereka tidak dapat mengejar kita!”

Sejenak jeda.

“Setelah itu, minta wanita itu mengunci ruangan tersebut sepenuhnya.”

Kepala Cakra terasa penuh. Terlalu banyak instruksi. Terlalu banyak kepercayaan pada suara yang bahkan tak ia kenal. Ia ingin bertanya: siapa kamu? Kenapa membantu saya? Kenapa tidak turun tangan langsung dan bantu saya menyerang mereka?

Saat Mynhemeni akhirnya menarik napas untuk menjawab pertanyaan Cakra.

“Tidak jadi,” Cakra memotong cepat, nadanya mengeras. Ujung tombak sedikit terangkat. Cukup untuk mengingatkan semua orang di lorong itu, permainan ini belum selesai.

“Saya tidak yakin bisa mengontrol kamu tanpa ancaman.” Ujung tombak itu kembali menempel, dingin dan menyala samar.

“Bagaimana caranya supaya pasukanmu berhenti mengepungku?”

“Maksud kamu?” Mynhemeni mengernyit, benar-benar bingung kali ini.

“Saya ingin mereka tidak menyerang, saat aku membawa kamu keluar dari tempat ini.”

“Kamu gila! Mana mau—” Kalimat itu tak pernah selesai. Cakra menekan tombak sedikit lebih dekat. Kilatan kecil kembali menyambar di leher Mynhemeni, cukup terang untuk membuat beberapa pasukan tersentak mundur.

“Semuanya, dengarkan saya!” suara Mynhemeni naik, kali ini tanpa sisa formalitas. Ada getar tipis di baliknya. Takut, tapi terkendali.

“Tidak ada pilihan lain kalau kalian tidak ingin saya terbunuh oleh anak ini di sini.”

Ia menelan ludah, lalu berseru lebih keras, “Masukkan kembali senjata kalian. Nonaktifkan mode penyerangan. Sekarang.”

“Tapi Komandan—!” sela salah satu pasukan, ragu.

“Jangan membantah!” bentak Mynhemeni tajam.

“Ingat arahan Ketua tadi. Jika kalian melanggar, pusat akan menghukum kita semua.”

Ia menatap lurus ke barisan mereka.

“Laksanakan perintah saya!”

Nada itu dingin dan mutlak, membuat Cakra tertegun sesaat. Ia tak menyangka suara setenang itu bisa mengandung ancaman yang jauh lebih menakutkan daripada tombaknya sendiri.

Pasukan itu pun patuh. Satu per satu, senjata terlepas dari genggaman mereka. Logam dan cahaya melesat cepat, menyatu kembali ke dalam seragam masing-masing, seolah ditelan oleh tubuh mereka sendiri. Lorong mendadak terasa kosong. Sunyi. Tegang.

Cakra menatap pemandangan itu dengan kagum sesaat, lalu kembali fokus.

Ini bukan waktunya terpukau. Ini waktunya kabur.

“Sekarang,” katanya pelan di telinga Mynhemeni, “ada ruangan kosong yang bisa mengurung mereka?”

Mynhemeni menarik napas dalam.

“Kalian semua,” serunya lantang, “masuk ke ruangan di ujung lorong.”

Tanpa suara bantahan, seluruh pasukan melayang pergi, mengikuti perintah itu. Meninggalkan Cakra dan Mynhemeni berdiri di lorong yang akhirnya memberi ruang.

Cakra tersentak ketika lantai di bawah kakinya tiba-tiba terangkat dan menempel pada kaki mereka. Tanpa suara, tanpa peringatan, tubuhnya ikut melayang, mengikuti pergerakan para pasukan yang lebih dulu naik bersama Plitan mereka. Nalurinya langsung siaga, otot-ototnya menegang, siap memukul apa pun yang mencoba menahannya.

Saat mereka melintas di depan Alpam khusus, ruangan tempat ia tadi disekap, rantai-rantai yang sempat hancur itu kembali menyatu, bergerak cepat, berusaha melilit tubuhnya sekali lagi.

Satu pukulan dari siku kanannya cukup. Rantai itu pecah berkeping-keping, serpihannya berhamburan sebelum sempat menyentuh kulitnya. Kedua tangannya bahkan masih setia mengunci tubuh Mynhemeni.

Tak lama kemudian, mereka berhenti di depan dinding dari ruangan yang dimaksud.

Mynhemeni mengedipkan mata.

Tanpa bunyi mekanis, tanpa retakan, dinding kokoh di hadapan mereka bergeser dari titik tengah, terbelah sempurna dan meluncur ke samping, seolah realitas sendiri memberi jalan. Tak ada celah, tak ada bekas potongan. Cakra menatapnya dengan dahi berkerut.

"Bagaimana sesuatu bisa terbuka… tanpa benar-benar dibuka?"

Celah itu cukup lebar. Satu per satu, pasukan yang tersisa masuk dengan tertib. Jumlah mereka kini tak lebih dari dua puluh orang. Ruangan sebesar gudang itu menelan mereka dengan mudah.

Dan memang itu adalah sebuah gudang. Gudang penyimpanan raksasa.

Tempat segala benda manusia darat yang terlempar ke wilayah Porkah dikumpulkan, dikurasi, lalu ditinggalkan dalam diam. Rak-rak logam menjulang seperti hutan besi, saling bertumpuk hingga nyaris menelan langit-langit. Setiap petaknya dipenuhi benda-benda familiar bagi Cakra yang seharusnya tak pernah berada di sini. Kendaraan, potongan bangunan, hingga puing-puing yang membawa aroma tragedi.

Mata Cakra terpaku pada satu titik. Serpihan badan pesawat.

Logonya masih terlihat samar, terkelupas waktu dan tekanan, namun cukup jelas untuk dikenali. Pesawat yang pernah menghebohkan dunia. Yang hilang dari radar, lenyap tanpa penjelasan, meninggalkan doa dan duka di Bumi. Dada Cakra terasa mengencang.

"Jadi… di sini pesawat itu berada," simpul Cakra heran. Keheningan menguasai lorong. Seluruh pasukan patuh memasuki ruang penyimpanan.

Hingga suasana hening itu dipatahkan Cakra dengan suara tegas.

“Minta mereka aktifkan mode lelap!” ancam Cakra, tombaknya sedikit menekan leher Mynhemeni, cukup untuk mengingatkan siapa yang memegang kendali.

“Turuti perintahnya!” seru Mynhemeni kepada pasukan, suaranya berusaha terdengar stabil meski kilatan cahaya di lehernya masih berdenyut pelan.

Begitu pasukan terakhir melangkah masuk, lantai di bawah kaki mereka bergerak. Plitan yang semula tampak seperti lempengan datar bergeser, terbelah, lalu meliuk ke atas seolah hidup. Bukan sekadar lantai. Bukan pula jebakan.

Dalam hitungan detik, setiap Plitan mengembang, membentuk kursi kapsul futuristik. Permukaannya halus, melengkung sempurna, dengan cahaya lembut berdenyut di tepinya. Indah. Menenangkan. Mematikan kewaspadaan. Kursi-kursi itu seakan menarik penghuninya masuk, memeluk mereka dengan erat namun lembut.

Satu per satu, tubuh-tubuh pasukan itu mengendur. Kelopak mata menutup. Napas melambat. Tak sampai sepuluh detik, seluruh pasukan yang tersisa telah terlelap, terkurung dalam pod masing-masing. Sunyi, tak berdaya, dan bermimpi tanpa tahu apa yang menunggu saat mereka terbangun.

Cakra menghela napas pelan.

"Tutup pintu ruangan itu!" Perintahnya lagi.

Kemudian Mynhemeni yang masih dalam kendali Cakra mengedipkan mata sekali lagi. Dinding di hadapan mereka pun bergerak kembali, menyatu rapat tanpa suara, tanpa celah, mengurung seluruh pasukan yang tidur terlelap bersama benda-benda dari dunia yang telah lama mencarinya.

Lorong kembali sunyi.

Dan untuk pertama kalinya sejak pertarungan itu dimulai, Cakra meras ada ruang untuk bernapas.



Other Stories
Kehidupan Yang Sebelumnya

Aku menunggu kereta yang akan membawaku pulang. Masih lama sepertinya. Udara dingin yang b ...

Cahaya Dalam Ketidakmungkinan

Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...

Impianku

ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...

Nona Manis ( Halusinada )

Dia berjalan ke arah lemari. Hatinya mengatakan ada sebuah petunjuk di lemari ini. Benar s ...

Aku Pamit Mencari Jati Diri??

Seorang anak kecil yang pernah mengalami perlakuan tidak mengenakan dalam hidupnya. Akibat ...

Menjelang Siang

Swastika, yang merasa lelah dengan permasalahan di kampus, memutuskan untuk berkungjung ke ...

Download Titik & Koma