Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia

Reads
9.8K
Votes
6.9K
Parts
71
Vote
Report
Negeri bawah laut porkah: cakra di samudra hindia
Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia
Penulis Virdytan

Bab 25 - Terpesona Distrik Nor

“Bawa saya ke area parkir lima.” Suara Cakra rendah, nyaris tanpa emosi, namun perintah itu tak menyisakan ruang untuk dibantah.

Ia berdiri tepat di belakang Mynhemeni. Lengan kirinya masih membelenggu tubuh komandan itu, sementara tangan kanannya menjaga tombak tetap berada di posisi yang sama. Sedikit saja bergerak, cahaya di leher Mynhemeni langsung berdenyut lebih terang. Kuncian itu tidak semakin kuat, tapi juga tidak mengendur. Tepat. Terukur.

Tanpa jawaban, lantai di bawah kaki mereka langsung melesat. Tubuh Cakra terangkat, meluncur mengikuti lorong, lalu berbelok tajam ke kanan. Untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan itu dimulai, ia merasa cukup aman untuk benar-benar menyadari sensasi terbang. Ringan, hampir memabukkan.

Langit-langit lorong menjulang begitu tinggi hingga terasa mustahil berada di dalam bangunan. Di atas sana terbentang langit, atau sesuatu yang sangat menyerupainya. Matahari berada di ambang tenggelam atau terbit, ia tak tahu pasti. Warna jingga, ungu, dan biru saling bertaut lembut. Awalnya ia mengira itu hanya lukisan raksasa, tapi keraguannya runtuh ketika awan tipis bergerak perlahan, hidup.



Titik-titik cahaya berderet seperti gugusan bintang, berkilau tenang. Di antaranya, makhluk-makhluk kecil menyerupai ulat bersayap melayang bebas. Tubuh mereka bercahaya, setiap kaki memancarkan sinar mungil berwarna-warni, seperti lampu natal yang bernapas. Jumlahnya ratusan mungkin ribuan, menumpuk dan mengalir di langit-langit lorong.



Ketakjuban itu belum sempat reda ketika lorong berakhir.

Ruang di hadapannya terbuka luas, membuat Cakra merasa seolah berdiri di dasar sebuah jurang raksasa. Sebuah ruang berbentuk lingkaran membentang, diameternya lebih dari lima puluh meter, dikelilingi beberapa lorong yang bercabang seperti sarang lebah raksasa.

Di tengahnya berdiri sebuah patung kolosal.

Ibu jari kakinya saja menjulang lebih tinggi dari tubuh Cakra.

Patung itu dikelilingi biota laut berukuran kecil, berenang perlahan di udara, bercampur dengan makhluk-makhluk asing yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Terumbu karang berwarna-warni tumbuh di sisi kanan-kiri patung, memercikkan cahaya lembut seakan memiliki daun bercahaya sendiri.

Cakra terdiam.

Di tengah pelarian, ancaman, dan kekacauan, ia justru berdiri di salah satu tempat terindah yang pernah ia lihat.

Tempat itu menyerupai atrium raksasa. Perpaduan hotel mewah dan gedung pencakar langit yang dibuat berlebihan tanpa rasa bersalah. Langit-langitnya menjulang jauh di atas, seolah bangunan itu sengaja lupa dipasangi atap. Patung di tengah ruangan berdiri lebih dari empat ratus meter, menyisakan ruang kosong yang luas antara puncaknya dan hamparan langit lembayung sore.

Matahari menggantung rendah, nyaris tenggelam, memercikkan cahaya keemasan yang menyusup di antara garis-garis awan tipis. Pemandangan itu terlalu nyata untuk disebut lukisan, terlalu hidup untuk sekadar ilusi.

Lalu Cakra menyadari sesuatu yang ganjil.

Dari langit itu, butiran putih seperti salju perlahan turun, bercampur dengan tetes air menyerupai hujan. Keduanya melayang turun, menghujani patung raksasa di bawahnya. Namun tak pernah benar-benar membasahi apa pun. Tak ada cipratan. Tak ada jejak basah.

Cakra mengernyit, mengamati lebih saksama.

Barulah ia paham.

Langit lembayung itu bukan langit. Salju dan hujan itu bukan cuaca. Semua itu adalah lanskap atap gedung tempatnya berdiri. Sebuah ilusi hidup yang berfungsi, bernapas, dan menipu mata dengan sempurna.

Selain patung raksasa itu, lorong-lorong lain membentang mengelilinginya, saling berhadapan seperti cincin bertingkat. Dari susunannya saja, Cakra bisa memastikan satu hal. Ia berada di lantai bawah sebuah gedung pencakar langit. Setidaknya tiga, mungkin empat lantai dari dasar bangunan. Lorong-lorong itu tampak seperti lantai bertingkat, namun tanpa elevator, tanpa eskalator, bahkan tanpa tangga.

“Terus… naiknya gimana?” gumam Cakra pelan, lebih kepada dirinya sendiri.

Jawabannya datang dengan sendirinya.

Beberapa sosok melayang masuk dan keluar dari lorong-lorong itu, berpindah lantai seolah hukum gravitasi hanyalah saran belaka. Ada yang meluncur cepat, nyaris secepat mobilnya saat melaju di jalanan kosong. Ada pula yang bergerak santai, tak lebih cepat dari langkah orang berlari pelan. Mereka saling bersilangan. Dari atas ke bawah, dari bawah ke atas. Tanpa tabrakan, tanpa ragu.

Cakra terdiam, menelan ludah.

Gedung ini tak dibangun untuk manusia darat.

Ketakjuban Cakra runtuh seketika.

Ia baru menyadari bahwa dirinya berdiri tepat di atas petakan yang sama. Berdua dengan wanita yang masih ia sandera. Di bawah kaki mereka, sebuah petakan plitan yang terbelah dari pijakan terakhir mereka, melaju menanjak dengan mulus. Terlalu mulus. Mynhemeni mengarahkannya ke atas, melewati puluhan lantai dalam hitungan detik. Delapan puluh lantai, atau mungkin lebih. Rasanya seperti menaiki lift berkecepatan tinggi. Kecepatannya, jika Cakra menebak, mendekati seratus tiga puluh kilometer per jam.

Namun tak ada guncangan.

Tubuhnya tetap stabil, seolah petakan kecil itu tahu persis berat badan, keseimbangan, bahkan rasa takut penumpangnya. Saat Mynhemeni membelok tajam, memiringkan posisi mereka nyaris seratus delapan puluh derajat, Cakra tetap terpaku di tempatnya. Tak ada hentakan. Tak ada sensasi jatuh. Hanya sudut pandang yang bergeser, dunia berputar rapi di sekelilingnya.

Surga? Neraka?

Cakra tak lagi yakin pada keduanya.

Ucapan Georu terlintas di benaknya, bahwa ia masih berada di Bumi. Tapi Bumi yang mana? Bagian planet Bumi mana yang menyembunyikan gedung setinggi dan seindah ini, dengan teknologi yang terasa lebih hidup daripada mesin?

Pikirannya melayang. Dan tanpa ia sadari, genggaman tombak di leher Mynhemeni mengendur sedikit.

“Fokus. Jangan biarkan dia sadar tombaknya menjauh.” Suara perempuan itu menghantam kesadaran Cakra seperti cambuk.

Ia tersentak, napasnya tertahan sesaat, lalu refleks mengencangkan kembali cengkeramannya. Tombak ia dorong mendekat, cukup untuk membuat cahaya di leher Mynhemeni berdenyut tajam. Wanita itu terpaksa menyesuaikan posisi kepalanya, bergerak mengikuti tangan Cakra yang kembali kaku dan waspada.

Mereka terus melaju. Mynhemeni tetap membawa Cakra menuju jalur keluar gedung, tanpa perlawanan, tanpa kata.

Yang justru mengganggu Cakra adalah hal lain.

Tak satu pun dari orang-orang yang mereka lewati bereaksi. Tidak ada teriakan. Tidak ada alarm. Tak ada tatapan kaget atau curiga. Lorong-lorong tetap ramai, langkah-langkah tetap berirama, seolah penculikan di tengah gedung ini hanyalah gangguan kecil yang tak layak disadari.

“Karena mode penyamaran,” suara itu kembali muncul di kepalanya, tenang. Terlalu tenang. Seolah membaca pikirannya.

“Mereka tidak melihatmu seperti apa adanya.”

Kini Cakra mulai mengerti. Mode penyamaran membuatnya bergerak bebas, seperti bayangan yang lolos dari cahaya. Sepanjang penculikan, tak ada teriakan. Tak ada kepanikan. Tak ada satu pun aksi heroik yang biasanya mengundang masalah. Setiap orang yang berpapasan justru menyingkir dengan tergesa, menundukkan kepala, atau berbelok menjauh. Seolah Cakra adalah sesuatu yang tak ingin mereka lihat, apalagi hadapi.

Bukan karena mereka melihat senjata di tangannya.

Mode itu memancarkan gelombang ke seluruh makhluk dalam radius tiga ratus meter, merayap masuk ke benak mereka. Otak dimanipulasi, persepsi dipelintir, hingga sosok yang mengaktifkannya tampak seperti bayangan dari ketakutan pribadi, seseorang yang ingin mereka hindari, seseorang yang sebaiknya tak pernah mereka jumpai.

Hingga akhirnya mereka memasuki sebuah lorong raksasa. Gabungan lima lantai sekaligus, dengan lebar tak kurang dari dua puluh meter. Dan Cakra tahu, apa pun yang menantinya setelah ini, skalanya tak akan mengecil.

Kini mereka benar-benar berada di dalam lorong raksasa itu.

Cakra tak butuh waktu lama untuk menyimpulkan bahwa inilah lobi utama gedung itu. Ruangannya luas dan megah, nyaris berlebihan, seperti seseorang dengan kekuasaan tak terbatas memutuskan untuk memamerkannya sekaligus. Proyeksi cahaya melayang bebas di udara. Lukisan tanpa bingkai, tanpa kabel, tanpa penopang. Gambar-gambar itu bergerak perlahan, mengembang dan menyusut seolah bernapas. Pemandangan itu mengingatkannya pada lukisan-lukisan di rumah, atau galeri seni milik Bundanya. Hanya saja, yang ini hidup, dan jelas tidak dimaksudkan untuk sekadar dipandang.

Di beberapa sudut, patung-patung berdiri tegak. Bentuknya serupa dengan patung kolosal yang ia lihat sebelumnya, hanya dalam skala lebih manusiawi. Detailnya begitu halus hingga urat-urat batu tampak seperti daging yang membeku. Selama beberapa detik, Cakra hampir lupa bahwa ia sedang melarikan diri, hampir lupa bahwa tombaknya masih menempel di leher seseorang.

Semua kekaguman itu runtuh ketika pandangannya mencapai ujung lorong.

Tak ada dinding di sana, atau jika ada, dinding itu sepenuhnya transparan. Di baliknya, terbentang panorama kota yang membuat napas Cakra tercekat di tenggorokan. Bangunan-bangunan menjulang dengan lapisan cahaya berlapis-lapis, jalur-jalur melayang bersilangan di udara seperti anyaman tak kasatmata, sementara kilau warna menari tanpa peduli siang atau malam.

Pemandangan itu terlalu megah untuk sekadar kota.

Terlalu hidup untuk disebut ilusi.

Sekilas, benaknya melayang pada kisah-kisah lama Asgard yang diceritakan dalam mitologi, atau planet-planet megah dalam film-film fiksi ilmiah yang dulu ia tonton. Namun berdiri di sana, dengan dunia asing terbentang di depan mata, Cakra menyadari satu hal yang membuat dadanya mengencang:

Jika ini masih disebut Bumi, maka Bumi yang ia kenal selama ini hanyalah sepotong kecil darinya.

Untuk sesaat, Cakra benar-benar yakin ini bukan di Bumi. Dan jika bukan Bumi, maka kemungkinan lain terasa jauh lebih masuk akal.

Ia pasti sudah mati.

Pikiran itu nyaris mengeras menjadi keyakinan saat pandangannya masih terpaku pada kota asing yang berkilau di kejauhan. Terlalu megah, terlalu hidup, terlalu mustahil untuk dunia yang ia kenal.

Petakan Plitan di bawah kaki mereka terus melayang, mulus dan patuh, membawa mereka keluar dari gedung pusat. Dinding kaca yang menghadang di depan tak pecah, tak terbuka, melainkan meleleh. Permukaannya melunak seperti lilin tersentuh api, memberi jalan tanpa suara, tanpa perlawanan. Mynhemeni tetap melayang stabil, wajahnya tenang meski cahaya di lehernya berdenyut pelan, membawa Cakra menuju area parkir lima.

Cakra tidak tahu, dan Mynhemeni pun tak menyadarinya, bahwa kehadiran mereka telah tercium.

Di tempat lain, jauh dari lorong-lorong megah itu, Rumsun tersenyum lebar. Wakil Ketua Pemerintahan Distrik Nor itu mencondongkan tubuhnya ke depan, jemarinya bertaut santai, matanya berkilat penuh perhitungan. Ia adalah orang yang selama ini menunggu celah untuk menyingkirkan Thungsiruv, ayah Mynhemeni, dan merebut posisi yang menurutnya pantas ia miliki.

Tawanya pecah, ringan dan puas, ketika Lomuy melaporkan kejadian itu. Keponakannya. Salah satu pasukan yang kini terbaring pingsan setelah berhadapan langsung dengan Cakra.

“Menarik,” gumam Rumsun, senyumnya melebar.

Bagi Cakra, ini adalah pelarian.

Bagi Mynhemeni, ini ancaman hidup dan mati.

Namun bagi Rumsun ini adalah kesempatan.


Other Stories
Mother & Son

Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...

Harapan Dalam Sisa Senja

Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...

Kau Bisa Bahagia

Airin harus menikah dalam 40 hari demi warisan ayahnya, namun hatinya tetap pada Arizal, c ...

Ada Apa Dengan Rasi

Saking seringnya melihat dan mendengar kedua orang tuanya bertengkar, membuat Rasi, gadis ...

Lombok, Tempat Aku Belajar Melepaskan

Rara menghabiskan liburan sekolahnya di Lombok bersama kakak pertamanya yang telah menikah ...

Sudut Pandang

Hidup terasa sempit?Mungkin bukan masalahnya yang terlalu besar,tapi carapandangmu yang te ...

Download Titik & Koma