Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia

Reads
9.8K
Votes
6.9K
Parts
71
Vote
Report
Negeri bawah laut porkah: cakra di samudra hindia
Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia
Penulis Virdytan

Bab 27 - Di Luar Janrugkou

“Baik. Tapi sebelumnya,” Thungsiruv menghela napas pendek, sorot matanya mengeras, “kau harus berjanji untuk tidak membesar-besarkan masalah ini.”

Nada suaranya menyimpan kegelisahan yang tak ia sembunyikan sepenuhnya. Ia ragu apakah bijak membuka soal Cakra kepada orang yang selama ini tak pernah berhenti mencari celah untuk menjatuhkannya. Namun setelah dipikirkan ulang, ia sadar tak ada pilihan lain. Ini sudah menyentuh wilayah tugas Rumsun. Menyembunyikan hal itu justru bisa berbalik menjadi pisau di leher mereka sendiri.

Lagipula, jika perkara ini sampai menyeret sanksi, bukan hanya dirinya yang akan terseret jatuh. Seluruh jajaran pemerintahan Distrik Nor akan ikut menanggung akibatnya. Termasuk Rumsun, wakilnya yang kini duduk di hadapannya. Pikiran itu membuat Thungsiruv hanya bisa berharap satu hal. Semoga Rumsun cukup dewasa untuk tidak menjadikannya senjata.

“Baiklah…” Rumsun menjawab pelan. Ada nada kecewa yang tak berhasil ia sembunyikan. Dalam benaknya, skenario lain sudah runtuh. Ia semula yakin Thungsiruv ketahuan menyekap mata-mata kerajaan. Kesalahan fatal yang bisa menjatuhkannya dari kursi Ketua Distrik. Bahkan mungkin mengasingkannya seumur hidup. Harapan itu kini menguap perlahan.

Thungsiruv menegakkan bahu.

“Penyusup itu,” katanya, berhenti sejenak seolah menimbang dampaknya, “seorang anak remaja. Usianya delapan belas tahun.”

“Apa?” Rumsun tersentak. Tubuhnya menegang, alisnya terangkat tinggi.

“Anak… delapan belas tahun?” Wajahnya menegang, seolah sebuah kepingan realitas baru saja dipaksa masuk ke kepalanya.

Seluruh anak Porkah dari usia lima hingga dua puluh enam tahun, seharusnya berada di Janrugkou, distrik pendidikan dan formasi bangsa Porkah. Tidak ada pengecualian. Janrugkou adalah dunia tersendiri, tempat enam belas tahun kehidupan mereka dibentuk, dipoles, dan diarahkan. Bukan sekadar sekolah seperti di daratan Bumi, melainkan sistem pembentukan utuh.

Di sana, tahap pertama dari dua fase pendidikan utama diajarkan. Mereka dipaksa hidup bersanding dengan kurikulum dasar yang keras dan disiplin. Pendidikan yang akan mengasah intelektual, etika, serta sejarah Bangsa Porkah. Disusul penguasaan Sanvar, teknologi dasar, segala ilmu pengetahuan di alam semesta, hingga pelatihan militer yang ditanamkan perlahan, sistematis, tanpa ruang untuk kecerobohan. Anak-anak tidak hanya diajari berpikir, tapi juga diajari bertahan.

“Tidak masuk akal…” gumam Rumsun, menggeleng pelan.

“Apa anak itu menyusup karena kabur dari Janrugkou?” Begitu kata-kata itu keluar, ia sendiri sadar betapa rapuhnya dugaan tersebut.

Ia tahu betul aturan Janrugkou. Selama masa pendidikan, para murid tidak diizinkan pulang ke rumah. Mereka tinggal bersama para pengajar, pembimbing, formator. Hidup dalam satu ekosistem yang nyaris tertutup. Rindu pada keluarga bukan alasan untuk kabur. Jika ingin bertemu, Casvet cukup dipanggil. Wajah yang dirindukan akan hadir, sedekat napas, tanpa melanggar batas wilayah.

Dan saat masa libur tiba, justru keluargalah yang datang ke Janrugkou. Menginap. Tinggal. Menyesuaikan diri dengan ritme distrik itu. Bukan sebaliknya.

“Tidak ada murid yang bisa kabur,” lanjut Rumsun, kali ini lebih pelan, seolah bicara pada dirinya sendiri.

“Bahkan kalau mereka mau.” Ia menatap Thungsiruv dengan sorot mata tajam, kebingungan mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih berbahaya. Jika anak itu benar-benar berusia delapan belas tahuh. Maka kehadirannya di luar Janrugkou bukan sekadar anomali. Itu adalah pelanggaran langsung terhadap fondasi Bangsa Porkah sendiri.

Aturan yang selama ribuan tahun tak pernah retak.

Rumsun menghela napas, rahangnya mengeras. Pikiran Rumsun melesat, memaparkan satu demi satu skenario terburuk. Anak itu bukan hanya kabur dari tempat pendidikan. Ia seperti melompati seluruh lintasan hidup yang sudah ditetapkan baginya. Sebuah penyimpangan yang terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

“Kalau begitu… anak ini bukan sekadar melanggar aturan,” gumamnya pelan. “Dia keluar dari jalur hidup yang seharusnya.”

Pendidikan bangsa Porkah tidak berhenti di Janrugkou. Itu hanyalah fase pertama. Setelahnya, setiap warga memasuki tahap kedua yang jauh lebih menentukan, yaitu kurikulum profesi.

Tahap ini berlangsung selama sembilan tahun dan terbagi ke dalam tiga program kerja. Setiap program dijalani selama tiga tahun penuh. Di sinilah setiap warga memilih bidang sesuai minat dan bakatnya, lalu membiarkan waktu dan hasil menilai pilihan tersebut. Kegagalan bukan akhir. Mereka diberi hingga dua kesempatan tambahan, bukan untuk dimanjakan, melainkan agar tak ada potensi yang terbuang percuma.

Ada yang menapaki satu bidang yang sama selama sembilan tahun penuh. Ada pula yang berpindah jalur satu atau dua kali, hingga akhirnya menemukan tempat yang benar-benar selaras dengan dirinya. Setelah seluruh fase pendidikan itu selesai, barulah mereka mengabdi sepenuhnya kepada Kerajaan Porkah. Waktu, tenaga, dan pikiran dicurahkan tanpa ragu.

Bagi sebagian besar bangsa Porkah, usia tiga puluh lima atau tiga puluh enam tahun menandai awal kehidupan kerja tetap. Namun terkadang, ada yang melangkah lebih cepat. Meski jarang, talenta muda tetap muncul di antara mereka. Pendidikan dan karier mereka melesat, bahkan ketika usia mereka masih jauh dari standar kurikulum profesi.

Namun yang kini didapati Rumsun adalah kenyataan yang sama sekali berbeda. Remaja itu, di usia delapan belas tahun, bukan melesat karena prestasi atau melompati fase pendidikan. Ia justru memilih kabur dari sistem yang telah ditetapkan.

Ia menggeleng, seakan mencoba menepis kemungkinan itu.

“Tapi itu mustahil. Tidak ada celah untuk kabur dari Janrugkou.” Nada suaranya naik, lalu jatuh lagi.

“Dan kalau memang ada murid yang kabur... Seluruh rakyat pasti sudah diberi tahu.” Ia terdiam. Kata-katanya sendiri memantul di kepalanya, tak memberi jawaban. Hanya menambah beban. Rumsun menekan pelipisnya, pusing yang aneh merayap perlahan.

“Jadi… anak itu kabur dari Janrugkou tanpa jejak?” bisiknya.

Untuk pertama kalinya sejak masuk ruangan itu, Rumsun tidak terdengar yakin. Dan ketidakpastian itu, di negeri yang dibangun di atas kepastian, terasa jauh lebih berbahaya daripada satu penyusup bersenjata.

“Sayangnya… anak itu bukan bangsa kita.”

Kalimat itu jatuh tanpa aba-aba. Pendek, dingin, dan mematikan. Wajah Rumsun seketika berubah warna, ungu gelap merambat cepat dari pelipis hingga rahangnya. Napasnya tertahan sepersekian detik, seolah tubuhnya lebih dulu memahami ancaman sebelum pikirannya sempat menyusul.

“Apa maksudmu… anak itu bukan bangsa kita?” Ia menarik napas panjang, dalam, terlalu dalam. Dadanya naik turun, Sanvarnya bekerja keras menstabilkan metabolisme yang melonjak.

“Jangan main-main dengan kata-kata, Thungsiruv.”

Thungsiruv menghela napas pelan. Ia tak lagi mencoba tersenyum.

“Saat Letnan Rihum berpatroli di perairan luar,” katanya, memilih nada paling netral yang bisa ia pertahankan, terutama saat menyebutkan nama lelaki Rumsun, “dia menemukan tiga anak manusia darat terseret arus. Dua berhasil diselamatkan dengan cepat. Yang satu... tersangkut di palung.”

Rumsun mengerutkan kening. Kisah penyelamatan manusia darat bukan hal langka. Itu sudah tugas mereka sehari-hari.

“Lalu?” desaknya singkat.

“Ketika Letnan Rihum hendak menarik anak itu keluar,” lanjut Thungsiruv, “ia menemukan kejanggalan.”

Ia berhenti sejenak, memberi ruang pada kata berikutnya. “Anak itu… bernapas.”

Wajah Rumsun menegang.

“Bernapas?” ulangnya, nyaris tak percaya.

“Di dalam air?” Ia mengangkat tangan, menyela udara di depannya.

“Tunggu... Teknologi manusia darat belum sejauh itu.”

“Memang belum,” jawab Thungsiruv cepat.

“Lalu bagaimana?” suara Rumsun meninggi, mulai kehilangan kesabaran. Kemudian jatuh, sunyi mengambil alih.

“Bukan hanya itu,” Thungsiruv membuka suara.

“Anak itu menghancurkan karang dengan tubuhnya sendiri. Bukan degan alat. Bukan dengan senjata.”

Tatapannya mengeras.

“Dan luka-lukanya... Luka terbuka akibat karang seketika menutup. Sembuh. Tanpa bekas.”

Detik itu juga, denyut di pelipis Rumsun memukul keras. Sanvarnya bereaksi, panas merambat di bawah kulit. Pikirannya berloncatan, memaparkan skenario demi skenario yang semakin gelap. Bukan karena cerita itu mustahil, justru karena ceritanya terlalu nyata.

Dan satu hal menusuk lebih dalam dari yang lain. Letnan Rihum, anaknya.

Orang yang seharusnya pertama kali melapor padanya.

Namun tidak.

Kesadaran itu membuat rahangnya mengeras. Bukan hanya marah. Ia kecewa.

“Kenapa... Hal sepenting ini baru kau sampaikan sekarang?” Ucap Rumsun perlahan, setiap kata ditekan dengan kendali yang nyaris runtuh.

Ia menatap Thungsiruv tajam.

“Apa alasanmu menyimpannya?” Rumsun tak dapat menahan diri. Ia beranjak mengahadang Thungsiruv. Langkahnya maju satu tapak.

“Ini bukan laporan kecil. Ini bukan insiden biasa,” lanjutnya, suara bergetar oleh emosi yang ditahan paksa.

“Dan kau tahu betul, begitu juga Rihum. Saya wakil Anda!" Aura di ruangan itu menegang.

“Tenang, Rumsun. Tenaaang….” suara Thungsiruv merendah, namun mengandung tekanan yang halus. Ia mengangkat satu tangan, telapak terbuka, gesturnya menenangkan sekaligus mengingatkan.

“Seperti yang sudah kukatakan. Aku memang berniat memberitahumu. Tapi ini...” Ia berhenti sejenak, menatap Rumsun lurus-lurus.

"Bukan perkara yang harus kau tangani. Ini masuk ranah tugasku.” Kalimat itu bukan pembelaan. Itu penegasan batas.

Rumsun terdiam. Dadanya naik turun sekali, lalu dua kali. Amarah yang sempat menggelegak tadi ditarik paksa ke bawah kendali. Ia mengalihkan pandangan, lalu memberi perintah sunyi pada Sanvarnya. Dari balik lengan bajunya, sebuah butiran kecil muncul. Licin dan berkilau meluncur masuk ke mulutnya. Cairan dingin mengalir ke kerongkongan, meredam lonjakan emosi yang belum sepenuhnya jinak.

“Baik,” katanya akhirnya, suaranya lebih stabil, meski sorot matanya masih tajam.

“Kalau begitu…” Ia menoleh kembali pada Thungsiruv.

“Di mana anak itu sekarang?”

Thungsiruv tak langsung menjawab. Ada jeda singkat, cukup lama untuk membuat Rumsun kembali waspada.

“Anak itu... Berhasil kabur.” Ucap Thungsiruv perlahan.

Kata-kata itu jatuh seperti beban berat di dada Rumsun. Matanya membelalak sepersekian detik sebelum rahangnya mengeras. Detak jantungnya melonjak tajam, begitu terasa hingga pelipisnya berdenyut. Tanpa berkata apa pun, ia kembali memberi perintah pada Sanvar. Sebuah bola kecil lain muncul, kali ini lebih cepat, seolah sistem itu sudah mengantisipasi kejatuhannya. Ia menelannya, memaksa tubuhnya tetap berdiri tegak.

“Kabur…,” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar. Ia menelan ludah, lalu menatap Thungsiruv lagi. Kali ini dengan campuran keterkejutan dan sesuatu yang lebih berbahaya. Kekhawatiran yang mulai berubah arah.

“Tenang… anak itu akan kita dapatkan kembali,” ujar Thungsiruv mantap, meski rahangnya mengeras, menahan sesuatu yang tak sepenuhnya bisa ia kendalikan.

“Bagaimana anak itu bisa kabur?” Potong Rumsun cepat, nada suaranya tajam.

“Dia jauh lebih kuat dari perkiraan,” jawab Thungsiruv. Tanpa peringatan, sebuah bola kecil Casvet keluar dari sudut matanya, melesat, dan menempel tepat di kening Rumsun.

“Lihat sendiri.”

Gelombang informasi menghantam benak Rumsun. Seketika potongan kejadian mengenai Cakra menghantam kepalanya. Benturan, teriakan, karang yang hancur, dan sosok anak itu yang bergerak melawan arus.

Ia tersentak.

“Cukup!” Rumsun menepis aliran itu.

“Sekarang saya ambil alih.” Ia berbalik, langkahnya cepat dan tegas.

“Saya akan kerahkan pasukan pertahanan. Kasus ini sudah masuk tanggung jawab saya.” Namun di balik ketegasan itu, pikirannya berlari liar. Dari anak yang hanyut, Alpam yang dijebol, hingga Mynhemeni yang diculik. Semuanya berujung pada satu nama, Cakra. Ia tahu kenapa Thungsiruv merahasiakannya. Jika pusat tahu, bukan hanya pemimpin Distrik Nor yang tumbang. Hukuman pelepasan jiwa terlintas dingin di benaknya.

“Rumsun,” panggil Thungsiruv, nada suaranya menahan. “Jangan gegabah….”

“Saya tahu apa yang saya lakukan,” jawab Rumsun tanpa menoleh.

“Saya tidak akan melukainya. Kita belum tahu detektor apa yang tertanam di tubuhnya.”

“Hemy, putriku... diculik oleh anak itu,” suara Thungsiruv melemah, untuk pertama kalinya terdengar memohon.

“Kita tak tahu apa yang akan ia lakukan padanya.”

Rumsun berhenti. Perlahan ia menoleh, sorot matanya dingin dan penuh perhitungan.

“Kalau begitu,” katanya pelan namun kejam, “sepertinya kamu harus bersiap mengucapkan selamat tinggal pada Hemy.”

Rumsun melangkah pergi.

“Sejarah pembunuhan pertama Distrik Nor mungkin akan tercipta hari ini. Aku akan berusaha membawa anak itu hidup.”

Rumsun berhenti sesaat.

Menoleh pada Thungsiruv.

“Tapi keselamatan putrimu.... aku tidak menjaminnya.”

Other Stories
Autumn's Journey

Henri Samuel, penulis yang popularitasnya meredup, mendapat tugas riset ke Korea Selatan. ...

My 24

Apa yang tak ia miliki? Karir yang gemilang, prestasi yang apik, istri yang cantik. Namun ...

Petualangan Di Negri Awan

seorang anak kecil menemukan negeri ajaib di balik awan dan berusaha menyelamatkan dari ke ...

Rembulan Di Mata Syua

Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek sep ...

Kenangan Yang Sulit Di Ulang Kembali

menceritakan hidup seorang Murid SMK yang setelah lulus dia mendapatkan kehampaan namun di ...

Death Cafe

Sakti terdiam sejenak. Baginya hantu gentayangan tidak ada. Itu hanya ulah manusia usil ...

Download Titik & Koma