Bab 26 - Rumsun: Wakil Ketua Distrik Nor
“Paman!” Suara Lomuy menerobos Casvet Rumsun dengan kasar, tak utuh, seolah dipaksa keluar dari paru-paru yang hampir runtuh.
“Ada penyusup… di kantor pusat. Dia... dia sangat kuat. Pasukan… gagal. Ketua memerintahkan kami menyekapnya. Menutupi semuanya….” Suara Lomuy terdengar tergesa, serak, dan tidak stabil. Jelas datang dari seseorang yang baru saja dihantam hingga tubuhnya terlempar jauh.
Lomuy adalah satu dari seratus delapan puluh tujuh anggota pasukan keamanan yang dikerahkan untuk memasukkan kembali Cakra ke Alpam khusus. Misi itu gagal total. Dan Lomuy, pasukan bertingkat rendah, tingkat lima, menjadi salah satu dari sedikit yang masih sempat menghubungi siapa pun sebelum kesadarannya runtuh.
Dengan sisa tenaga yang ada, ia memilih menghubungi Rumsun. Wakil Ketua Pemerintahan Distrik Nor. Kerabat jauhnya. Orang yang meski hubungan darah mereka tipis, cukup sering memanfaatkan Lomuy sejak ia pertama kali terjun ke dunia kerja.
Casvet kali ini tidak memunculkan hologram atau proyeksi tiga dimensi. Ia hadir sederhana, langsung, menghubungkan Lomuy pada Rumsun tanpa perantara visual yang rumit. Wajah Rumsun tampak tenang di seberang, terlalu tenang untuk kabar seberat itu.
“Bisa kirimkan data lengkapnya ke pamanmu ini?” tanya Rumsun, nadanya datar, nyaris santai.
Tak ada jawaban.
Koneksi Casvet terputus begitu saja.
Rumsun mengernyit. Saat itu ia tengah berada dalam rapat tertutup bersama tim kecilnya. Bersama lima orang yang dipercaya, ia membahas pengajuan pembatalan posisi Thungsiruv ke pusat. Ia mencoba menghubungi Lomuy kembali. Sekali. Lalu dua kali.
Tetap tak ada respons.
Casvet Lomuy tak lagi dapat diakses.
“Sial!” umpatan itu meluncur begitu saja dari mulut Rumsun. Namun ekspresinya berubah seketika. Bibir yang semula tegang perlahan terangkat, matanya menyipit penuh minat. Sanvar miliknya baru saja menerima kiriman data. Rekaman singkat bentrokan pasukan keamanan gedung pusat dengan seorang penyusup bernama Cakra.
Potongannya pendek. Terlalu pendek. Lomuy dan Sanvarnya sudah lebih dulu tak sadarkan diri sebelum data lengkap sempat terkirim sempurna. Namun bagi Rumsun, itu sudah lebih dari cukup. Seperti hembusan angin segar di ruangan pengap. Angin yang berpotensi menjatuhkan Thungsiruv dari kursinya.
Ia memang tak bisa melihat keseluruhan kejadian. Tak tahu bagaimana akhir bentrokan itu. Tapi satu hal ia yakini, Thungsiruv sedang menyembunyikan sesuatu yang besar.
"Atau jangan-jangan…" Benaknya berkelana cepat.
"Penyusup ini utusan pusat? Kiriman Baginda Raja untuk memata-matai Thungsiruv? Menemukan sesuatu yang seharusnya tak ditemukan, lalu dicegah sebelum terlambat?" lanjutnya liar.
Apa pun kebenarannya, satu hal jelas. Ini bukan perkara kecil. Ini celah. Dan celah seperti ini jarang datang dua kali.
Selama ini, Rumsun hanya mampu mengumpulkan kesalahan-kesalahan remeh tentang Thungsiruv. Tak pernah cukup tajam untuk menjatuhkannya. Kekalahan itu masih terasa pahit. Jabatan Ketua Distrik Nor yang kini diduduki Thungsiruv, suami sepupunya, diraih setelah ayah Rumsun wafat. Keluarga Rumsun sempat murka, yakin bahwa Thungsiruv tak mungkin mengunggulinya.
Namun kenyataan berkata lain. Dalam pemilihan, Thungsiruv menang.
“Kita dapat jackpot,” gumam Rumsun, lalu tertawa pelan. Dalam benaknya, ia sudah melihat bayangan kursi itu, kursi yang seharusnya menjadi miliknya.
Kerajaan Porkah memang monarki, tapi kekuasaan tak diwariskan begitu saja. Raja dipilih rakyat. Begitu pula para pemimpin distrik. Jika seorang pemimpin tumbang oleh usia, kelalaian, atau kudeta, maka rakyatlah yang kembali menentukan penggantinya.
Nama-nama calon pemimpin telah lama disosialisasikan ke seluruh warga Porkah. Bukan lewat poster atau seruan, melainkan langsung ke benak mereka melalui Casvet masing-masing. Di Porkah, jauh sebelum seorang Raja, Ketua Distrik serta deretan Menteri Kerajaan digulingkan atau wafat, proses itu sudah dimulai. Setiap warga memiliki hak untuk mencalonkan diri, atau mencalonkan orang lain. Sebagai Raja, Ketua Distrik, maupun petinggi kerajaan lainnya, selama nama itu memenuhi kriteria yang ditetapkan.
Sistem itu membuat kekuasaan terasa selalu terbuka. Selalu menunggu.
Rumsun telah lama menaruh namanya dalam daftar itu. Sejak usianya lima puluh tujuh tahun. Bukan hanya sebagai Ketua Distrik, ambisinya melampaui itu. Ia bahkan mencalonkan diri sebagai Raja.
Kini, usianya baru di penghujung seratus sepuluh. Angka yang, bagi bangsa Porkah, masih tergolong muda. Rata-rata usia mereka melampaui seratus tujuh puluh tahun. Artinya, Rumsun masih memiliki setidaknya enam puluh tahun untuk berada di salah satu posisi tertinggi Kerajaan Porkah.
Dan ia tak berniat menyia-nyiakan satu tahunnya pun.
“Menarik,” gumam Rumsun.
Ia tertawa pelan, puas, saat Casvet memutar ulang seluruh rangkaian pertarungan antara Cakra dan pasukan keamanan di hadapan Rumsun dan tim kecilnya. Rekaman itu jauh dari sempurna. Sudut pandangnya buruk. Lomuy berada terlalu jauh di belakang bersamaan dengan beberapa pasukan lain yang berada di barisan depan. Tidak heran, ia juga yang menjadi salah satu yang terakhir tumbang sebelum pasukan tersisa dikurung oleh Mynhemeni.
Petugas itu tak sempat berteriak. Sanvarnya tertembus oleh satu pukulan telak yang menghantam tepat di inti penggeraknya, membuat tubuhnya terpental dengan kecepatan brutal. Ia melayang singkat, lalu kepalanya menghantam dinding. Dentuman keras menggema, diikuti retakan yang menjalar sebelum dinding itu jebol, meninggalkan lubang menganga. Tubuhnya terkulai tak bergerak, pingsan setelah sempat mengirimkan potongan kejadian kepada Rumsun, paman jauhnya.
Dan kini, untuk pertama kalinya, Rumsun merasa tak lagi berdiri di bayang-bayang Thungsiruv.
Seketika, ia mencium darah di air.
Dan ia berniat mengikutinya sampai akhir.
“Kita tidak butuh laporan kecil tak berguna ini!” bentak Rumsun, semangatnya menyala tajam.
Ia berdiri begitu saja, memotong rapat kecil itu tanpa memberi ruang bantahan. Dengan langkah cepat dan penuh tujuan, Rumsun melesat menuju ruang kerja Thungsiruv. Tumpukan data kesalahan kecil yang sebelumnya disiapkan tim rahasianya dengan teliti untuk menggerogoti posisi Thungsiruv, tak lagi menarik perhatiannya.
Data-data itu terlalu remeh. Untuk dibicarakan saja tidak layak. Apalagi untuk dijadikan tuntutan. Sesungguhnya, ada jalan yang jauh lebih singkat. Rumsun bisa saja menyingkirkan Thungsiruv sepenuhnya. Menghapus nyawanya, lalu mengosongkan kursi kekuasaan itu untuk dirinya sendiri.
Namun pikiran itu hanya lewat. Tak pernah benar-benar menetap.
Bangsa Porkah tidak mengenal pembunuhan, kecuali terhadap ancaman yang membahayakan eksistensi mereka sendiri. Kriminalitas di negeri itu berhenti pada percekcokan, kesalahpahaman, atau keterbatasan pengetahuan akan suatu perkara. Tidak ada kejahatan seperti yang lazim terjadi di kehidupan manusia darat. Di sana tidak akan ditemukan penipuan, pencurian, pemerkosaan, pembunuhan, korupsi, terorisme, apalagi genosida. Justru karena itulah, bagi Rumsun, skandal ini terasa jauh lebih berbahaya.
Dan jauh lebih menggoda.
Kini Rumsun sudah berdiri tepat di depan ruang kerja Thungsiruv. Ia tidak membuang waktu sedikit pun untuk berjalan atau membedah struktur gedung menggunakan Plitan. Teleportasi adalah pilihan yang jauh lebih cepat dan jauh lebih provokatif. Sanvarnya bereaksi seketika, menyatu dengan sistem ruangan dan memaksakan kehendaknya.
Ruang kerja Thungsiruv menolak sesaat. Sangat singkat. Lalu menyerah.
Dinding kuning di hadapan Rumsun bergetar halus, seperti permukaan air yang terusik. Garis-garis cahaya merayap di permukaannya, sebelum struktur itu bergeser paksa, membuka lubang rapi dengan presisi yang terlalu sempurna. Seolah ruangan itu tidak dibuka, melainkan dipaksa tunduk pada otoritas yang seharusnya tidak memiliki izin di sana.
Rumsun melangkah masuk tanpa ragu, wajahnya tenang namun matanya menyimpan bara yang sulit disembunyikan.
Sebuah hologram kepala wanita muncul di udara. Wajahnya simetris, nyaris tanpa ekspresi, dengan tatapan kosong khas kecerdasan buatan ruang kerja bangsa Porkah. Suaranya dingin, terukur, dan nyaris sopan berlebihan.
“Maaf, Wakil Ketua Rumsun. Saat ini Ketua Thungsiruv sedang tidak dapat—”
Kalimat itu tak pernah selesai.
Thungsiruv melambaikan tangannya pelan, gerakan sederhana namun penuh otoritas. Dalam sekejap, hologram itu bergetar, lalu lenyap seolah tak pernah ada. Sanvar Thungsiruv telah menonaktifkannya tanpa perlu satu kata pun.
Rumsun bahkan tidak memperlambat langkahnya. Sepatunya menyentuh lantai ruang kerja Thungsiruv dengan bunyi ringan, namun cukup keras untuk memecah keheningan yang tersisa.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyanya, datar, namun tajam.
Sekilas, matanya menangkap sisa cahaya hologram casvet yang baru saja dipadamkan di hadapan Thungsiruv. Pantulan cahaya itu masih menggantung di udara, terlalu singkat untuk ditangkap, terlalu bersih untuk ditelusuri. Percakapan itu berakhir hanya beberapa detik sebelum ia masuk.
Beberapa detik yang terlambat.
Cukup untuk membuat Rumsun sadar bahwa ada sesuatu yang sengaja disembunyikan darinya.
Ia tidak mengetahui bahwa barusan Thungsiruv telah memberi perintah pada petugas penjaga Korvet, sistem kendaraan militer Kerajaan Porkah, untuk segera mengirimkan jet anti-sadap menuju area parkir lima. Perintah yang spesifik. Cepat. Dan ditujukan hanya untuk satu nama, Mynhemeni.
Ketidaktahuan itu membuat rahang Rumsun sedikit mengeras.
Dan itu membuat keterlambatan ini terasa jauh lebih menjengkelkan.
“Oh, Rumsun… tumben sekali kau datang ke ruanganku tanpa aku panggil,” ucap Thungsiruv ringan, seolah tidak ada apa pun yang baru saja terjadi. Senyum tipis terbit di wajahnya. Kedua tangannya terangkat sedikit, gestur sambutan yang hangat. Terlalu hangat untuk situasi setegang ini. Di balik ekspresi itu, pikirannya berputar cepat, mencoba menebak bagaimana lelaki yang usianya lebih tua empat tahun darinya itu bisa mencium jejak Cakra.
Namun satu hal tak bisa ia bantah.
Rumsun tidak datang tanpa alasan.
Berita tentang Cakra telah bocor. Entah dari mana, entah melalui siapa. Tapi sudah cukup untuk menyeret Rumsun kemari.
“Tidak usah kau berpura-pura,” potong Rumsun tajam. Ia melangkah cepat, lalu menjatuhkan dirinya ke sofa tamu ruang kerja Thungsiruv tanpa menunggu dipersilakan.
“Aku tahu soal penyusup itu.”
Tatapan Rumsun mengeras.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” lanjutnya. “Penyusup seperti apa yang membuatmu sampai mengerahkan seluruh pasukan keamanan gedung?”
Thungsiruv belum sempat menjawab ketika Rumsun menggerakkan kepalanya sedikit ke kiri. Dari lengan kanannya, muncul setitik bola kecil, bening, berkilau halus. Bola itu melesat mulus ke udara, berhenti sesaat di depan wajah Rumsun, lalu masuk begitu saja ke dalam mulutnya. Sesaat kemudian, cairan dingin mengalir di lidahnya, rasa lemon yang segar bercampur stroberi, menyusuri tenggorokan dan meredakan ketegangan di rahangnya. Ia menghela napas pelan, tetap menatap Thungsiruv tanpa berkedip.
“Oh, aku memang berniat menceritakannya padamu,” jawab Thungsiruv cepat, nadanya terdengar ringan. Ia melangkah pelan, mendekati sofa tempat Rumsun duduk dengan santai namun penuh tekanan.
“Tapi situasinya sangat genting. Aku terpaksa menundanya. Maaf.” Thungsiruv memilih berdiri di hadapan Rumsun.
Rumsun menyandarkan punggungnya, setelah ditarik lembut oleh sofa itu. Satu kaki terangkat dan bertumpu di lutut yang lain.
“Jadi, siapa penyusup itu?” tanyanya, datar namun menusuk.
“Orang pusat yang ingin menjatuhkanmu? Atau utusan kerajaan yang sedang memata-mataimu?” Ia yakin pada dugaannya sendiri.
Dalam sistem Porkah, desas-desus buruk tentang seorang pemimpin distrik selalu berujung pada satu hal, mata-mata kerajaan. Mereka dikirim diam-diam, mengamati, menilai, mengumpulkan bukti. Tanpa memihak, tanpa suara. Selama ini, tak pernah ada satu pun penyusup yang terungkap. Dan jika benar itu utusan kerajaan, seharusnya Thungsiruv menunjukkan wajah terbaiknya, bukan malah mengerahkan pasukan untuk menyekap. Lagipula, tidak ada kecacatan dalam kinerja Thungsiruv selama lima belas tahun menjabat. Itu pula yang membuatnya pusing selama ini, mencari celah kesalahan sepupunya itu. Jadi, ia pun ragu jika penyusup itu adalah utusan pusat, ataupun kerajaan.
Thungsiruv terkekeh pelan. “Aaah… andai dia memang utusan kerajaan ataupun pusat,” katanya sambil mengangkat bahu, “tentu kita akan menyambutnya dengan hangat, bukan?”
“Lalu siapa?” Rumsun mencondongkan tubuh ke depan, seketika tangan sofa yang sedari tadi memijat tubuh Rumsun lenyap. Senyuman Rumsun menghilang, digantikan tatapan tajam yang mengandung ancaman.
“Tidak mungkin ada pencuri di negeri ini.”
“Ada penyusup… di kantor pusat. Dia... dia sangat kuat. Pasukan… gagal. Ketua memerintahkan kami menyekapnya. Menutupi semuanya….” Suara Lomuy terdengar tergesa, serak, dan tidak stabil. Jelas datang dari seseorang yang baru saja dihantam hingga tubuhnya terlempar jauh.
Lomuy adalah satu dari seratus delapan puluh tujuh anggota pasukan keamanan yang dikerahkan untuk memasukkan kembali Cakra ke Alpam khusus. Misi itu gagal total. Dan Lomuy, pasukan bertingkat rendah, tingkat lima, menjadi salah satu dari sedikit yang masih sempat menghubungi siapa pun sebelum kesadarannya runtuh.
Dengan sisa tenaga yang ada, ia memilih menghubungi Rumsun. Wakil Ketua Pemerintahan Distrik Nor. Kerabat jauhnya. Orang yang meski hubungan darah mereka tipis, cukup sering memanfaatkan Lomuy sejak ia pertama kali terjun ke dunia kerja.
Casvet kali ini tidak memunculkan hologram atau proyeksi tiga dimensi. Ia hadir sederhana, langsung, menghubungkan Lomuy pada Rumsun tanpa perantara visual yang rumit. Wajah Rumsun tampak tenang di seberang, terlalu tenang untuk kabar seberat itu.
“Bisa kirimkan data lengkapnya ke pamanmu ini?” tanya Rumsun, nadanya datar, nyaris santai.
Tak ada jawaban.
Koneksi Casvet terputus begitu saja.
Rumsun mengernyit. Saat itu ia tengah berada dalam rapat tertutup bersama tim kecilnya. Bersama lima orang yang dipercaya, ia membahas pengajuan pembatalan posisi Thungsiruv ke pusat. Ia mencoba menghubungi Lomuy kembali. Sekali. Lalu dua kali.
Tetap tak ada respons.
Casvet Lomuy tak lagi dapat diakses.
“Sial!” umpatan itu meluncur begitu saja dari mulut Rumsun. Namun ekspresinya berubah seketika. Bibir yang semula tegang perlahan terangkat, matanya menyipit penuh minat. Sanvar miliknya baru saja menerima kiriman data. Rekaman singkat bentrokan pasukan keamanan gedung pusat dengan seorang penyusup bernama Cakra.
Potongannya pendek. Terlalu pendek. Lomuy dan Sanvarnya sudah lebih dulu tak sadarkan diri sebelum data lengkap sempat terkirim sempurna. Namun bagi Rumsun, itu sudah lebih dari cukup. Seperti hembusan angin segar di ruangan pengap. Angin yang berpotensi menjatuhkan Thungsiruv dari kursinya.
Ia memang tak bisa melihat keseluruhan kejadian. Tak tahu bagaimana akhir bentrokan itu. Tapi satu hal ia yakini, Thungsiruv sedang menyembunyikan sesuatu yang besar.
"Atau jangan-jangan…" Benaknya berkelana cepat.
"Penyusup ini utusan pusat? Kiriman Baginda Raja untuk memata-matai Thungsiruv? Menemukan sesuatu yang seharusnya tak ditemukan, lalu dicegah sebelum terlambat?" lanjutnya liar.
Apa pun kebenarannya, satu hal jelas. Ini bukan perkara kecil. Ini celah. Dan celah seperti ini jarang datang dua kali.
Selama ini, Rumsun hanya mampu mengumpulkan kesalahan-kesalahan remeh tentang Thungsiruv. Tak pernah cukup tajam untuk menjatuhkannya. Kekalahan itu masih terasa pahit. Jabatan Ketua Distrik Nor yang kini diduduki Thungsiruv, suami sepupunya, diraih setelah ayah Rumsun wafat. Keluarga Rumsun sempat murka, yakin bahwa Thungsiruv tak mungkin mengunggulinya.
Namun kenyataan berkata lain. Dalam pemilihan, Thungsiruv menang.
“Kita dapat jackpot,” gumam Rumsun, lalu tertawa pelan. Dalam benaknya, ia sudah melihat bayangan kursi itu, kursi yang seharusnya menjadi miliknya.
Kerajaan Porkah memang monarki, tapi kekuasaan tak diwariskan begitu saja. Raja dipilih rakyat. Begitu pula para pemimpin distrik. Jika seorang pemimpin tumbang oleh usia, kelalaian, atau kudeta, maka rakyatlah yang kembali menentukan penggantinya.
Nama-nama calon pemimpin telah lama disosialisasikan ke seluruh warga Porkah. Bukan lewat poster atau seruan, melainkan langsung ke benak mereka melalui Casvet masing-masing. Di Porkah, jauh sebelum seorang Raja, Ketua Distrik serta deretan Menteri Kerajaan digulingkan atau wafat, proses itu sudah dimulai. Setiap warga memiliki hak untuk mencalonkan diri, atau mencalonkan orang lain. Sebagai Raja, Ketua Distrik, maupun petinggi kerajaan lainnya, selama nama itu memenuhi kriteria yang ditetapkan.
Sistem itu membuat kekuasaan terasa selalu terbuka. Selalu menunggu.
Rumsun telah lama menaruh namanya dalam daftar itu. Sejak usianya lima puluh tujuh tahun. Bukan hanya sebagai Ketua Distrik, ambisinya melampaui itu. Ia bahkan mencalonkan diri sebagai Raja.
Kini, usianya baru di penghujung seratus sepuluh. Angka yang, bagi bangsa Porkah, masih tergolong muda. Rata-rata usia mereka melampaui seratus tujuh puluh tahun. Artinya, Rumsun masih memiliki setidaknya enam puluh tahun untuk berada di salah satu posisi tertinggi Kerajaan Porkah.
Dan ia tak berniat menyia-nyiakan satu tahunnya pun.
“Menarik,” gumam Rumsun.
Ia tertawa pelan, puas, saat Casvet memutar ulang seluruh rangkaian pertarungan antara Cakra dan pasukan keamanan di hadapan Rumsun dan tim kecilnya. Rekaman itu jauh dari sempurna. Sudut pandangnya buruk. Lomuy berada terlalu jauh di belakang bersamaan dengan beberapa pasukan lain yang berada di barisan depan. Tidak heran, ia juga yang menjadi salah satu yang terakhir tumbang sebelum pasukan tersisa dikurung oleh Mynhemeni.
Petugas itu tak sempat berteriak. Sanvarnya tertembus oleh satu pukulan telak yang menghantam tepat di inti penggeraknya, membuat tubuhnya terpental dengan kecepatan brutal. Ia melayang singkat, lalu kepalanya menghantam dinding. Dentuman keras menggema, diikuti retakan yang menjalar sebelum dinding itu jebol, meninggalkan lubang menganga. Tubuhnya terkulai tak bergerak, pingsan setelah sempat mengirimkan potongan kejadian kepada Rumsun, paman jauhnya.
Dan kini, untuk pertama kalinya, Rumsun merasa tak lagi berdiri di bayang-bayang Thungsiruv.
Seketika, ia mencium darah di air.
Dan ia berniat mengikutinya sampai akhir.
“Kita tidak butuh laporan kecil tak berguna ini!” bentak Rumsun, semangatnya menyala tajam.
Ia berdiri begitu saja, memotong rapat kecil itu tanpa memberi ruang bantahan. Dengan langkah cepat dan penuh tujuan, Rumsun melesat menuju ruang kerja Thungsiruv. Tumpukan data kesalahan kecil yang sebelumnya disiapkan tim rahasianya dengan teliti untuk menggerogoti posisi Thungsiruv, tak lagi menarik perhatiannya.
Data-data itu terlalu remeh. Untuk dibicarakan saja tidak layak. Apalagi untuk dijadikan tuntutan. Sesungguhnya, ada jalan yang jauh lebih singkat. Rumsun bisa saja menyingkirkan Thungsiruv sepenuhnya. Menghapus nyawanya, lalu mengosongkan kursi kekuasaan itu untuk dirinya sendiri.
Namun pikiran itu hanya lewat. Tak pernah benar-benar menetap.
Bangsa Porkah tidak mengenal pembunuhan, kecuali terhadap ancaman yang membahayakan eksistensi mereka sendiri. Kriminalitas di negeri itu berhenti pada percekcokan, kesalahpahaman, atau keterbatasan pengetahuan akan suatu perkara. Tidak ada kejahatan seperti yang lazim terjadi di kehidupan manusia darat. Di sana tidak akan ditemukan penipuan, pencurian, pemerkosaan, pembunuhan, korupsi, terorisme, apalagi genosida. Justru karena itulah, bagi Rumsun, skandal ini terasa jauh lebih berbahaya.
Dan jauh lebih menggoda.
Kini Rumsun sudah berdiri tepat di depan ruang kerja Thungsiruv. Ia tidak membuang waktu sedikit pun untuk berjalan atau membedah struktur gedung menggunakan Plitan. Teleportasi adalah pilihan yang jauh lebih cepat dan jauh lebih provokatif. Sanvarnya bereaksi seketika, menyatu dengan sistem ruangan dan memaksakan kehendaknya.
Ruang kerja Thungsiruv menolak sesaat. Sangat singkat. Lalu menyerah.
Dinding kuning di hadapan Rumsun bergetar halus, seperti permukaan air yang terusik. Garis-garis cahaya merayap di permukaannya, sebelum struktur itu bergeser paksa, membuka lubang rapi dengan presisi yang terlalu sempurna. Seolah ruangan itu tidak dibuka, melainkan dipaksa tunduk pada otoritas yang seharusnya tidak memiliki izin di sana.
Rumsun melangkah masuk tanpa ragu, wajahnya tenang namun matanya menyimpan bara yang sulit disembunyikan.
Sebuah hologram kepala wanita muncul di udara. Wajahnya simetris, nyaris tanpa ekspresi, dengan tatapan kosong khas kecerdasan buatan ruang kerja bangsa Porkah. Suaranya dingin, terukur, dan nyaris sopan berlebihan.
“Maaf, Wakil Ketua Rumsun. Saat ini Ketua Thungsiruv sedang tidak dapat—”
Kalimat itu tak pernah selesai.
Thungsiruv melambaikan tangannya pelan, gerakan sederhana namun penuh otoritas. Dalam sekejap, hologram itu bergetar, lalu lenyap seolah tak pernah ada. Sanvar Thungsiruv telah menonaktifkannya tanpa perlu satu kata pun.
Rumsun bahkan tidak memperlambat langkahnya. Sepatunya menyentuh lantai ruang kerja Thungsiruv dengan bunyi ringan, namun cukup keras untuk memecah keheningan yang tersisa.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyanya, datar, namun tajam.
Sekilas, matanya menangkap sisa cahaya hologram casvet yang baru saja dipadamkan di hadapan Thungsiruv. Pantulan cahaya itu masih menggantung di udara, terlalu singkat untuk ditangkap, terlalu bersih untuk ditelusuri. Percakapan itu berakhir hanya beberapa detik sebelum ia masuk.
Beberapa detik yang terlambat.
Cukup untuk membuat Rumsun sadar bahwa ada sesuatu yang sengaja disembunyikan darinya.
Ia tidak mengetahui bahwa barusan Thungsiruv telah memberi perintah pada petugas penjaga Korvet, sistem kendaraan militer Kerajaan Porkah, untuk segera mengirimkan jet anti-sadap menuju area parkir lima. Perintah yang spesifik. Cepat. Dan ditujukan hanya untuk satu nama, Mynhemeni.
Ketidaktahuan itu membuat rahang Rumsun sedikit mengeras.
Dan itu membuat keterlambatan ini terasa jauh lebih menjengkelkan.
“Oh, Rumsun… tumben sekali kau datang ke ruanganku tanpa aku panggil,” ucap Thungsiruv ringan, seolah tidak ada apa pun yang baru saja terjadi. Senyum tipis terbit di wajahnya. Kedua tangannya terangkat sedikit, gestur sambutan yang hangat. Terlalu hangat untuk situasi setegang ini. Di balik ekspresi itu, pikirannya berputar cepat, mencoba menebak bagaimana lelaki yang usianya lebih tua empat tahun darinya itu bisa mencium jejak Cakra.
Namun satu hal tak bisa ia bantah.
Rumsun tidak datang tanpa alasan.
Berita tentang Cakra telah bocor. Entah dari mana, entah melalui siapa. Tapi sudah cukup untuk menyeret Rumsun kemari.
“Tidak usah kau berpura-pura,” potong Rumsun tajam. Ia melangkah cepat, lalu menjatuhkan dirinya ke sofa tamu ruang kerja Thungsiruv tanpa menunggu dipersilakan.
“Aku tahu soal penyusup itu.”
Tatapan Rumsun mengeras.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” lanjutnya. “Penyusup seperti apa yang membuatmu sampai mengerahkan seluruh pasukan keamanan gedung?”
Thungsiruv belum sempat menjawab ketika Rumsun menggerakkan kepalanya sedikit ke kiri. Dari lengan kanannya, muncul setitik bola kecil, bening, berkilau halus. Bola itu melesat mulus ke udara, berhenti sesaat di depan wajah Rumsun, lalu masuk begitu saja ke dalam mulutnya. Sesaat kemudian, cairan dingin mengalir di lidahnya, rasa lemon yang segar bercampur stroberi, menyusuri tenggorokan dan meredakan ketegangan di rahangnya. Ia menghela napas pelan, tetap menatap Thungsiruv tanpa berkedip.
“Oh, aku memang berniat menceritakannya padamu,” jawab Thungsiruv cepat, nadanya terdengar ringan. Ia melangkah pelan, mendekati sofa tempat Rumsun duduk dengan santai namun penuh tekanan.
“Tapi situasinya sangat genting. Aku terpaksa menundanya. Maaf.” Thungsiruv memilih berdiri di hadapan Rumsun.
Rumsun menyandarkan punggungnya, setelah ditarik lembut oleh sofa itu. Satu kaki terangkat dan bertumpu di lutut yang lain.
“Jadi, siapa penyusup itu?” tanyanya, datar namun menusuk.
“Orang pusat yang ingin menjatuhkanmu? Atau utusan kerajaan yang sedang memata-mataimu?” Ia yakin pada dugaannya sendiri.
Dalam sistem Porkah, desas-desus buruk tentang seorang pemimpin distrik selalu berujung pada satu hal, mata-mata kerajaan. Mereka dikirim diam-diam, mengamati, menilai, mengumpulkan bukti. Tanpa memihak, tanpa suara. Selama ini, tak pernah ada satu pun penyusup yang terungkap. Dan jika benar itu utusan kerajaan, seharusnya Thungsiruv menunjukkan wajah terbaiknya, bukan malah mengerahkan pasukan untuk menyekap. Lagipula, tidak ada kecacatan dalam kinerja Thungsiruv selama lima belas tahun menjabat. Itu pula yang membuatnya pusing selama ini, mencari celah kesalahan sepupunya itu. Jadi, ia pun ragu jika penyusup itu adalah utusan pusat, ataupun kerajaan.
Thungsiruv terkekeh pelan. “Aaah… andai dia memang utusan kerajaan ataupun pusat,” katanya sambil mengangkat bahu, “tentu kita akan menyambutnya dengan hangat, bukan?”
“Lalu siapa?” Rumsun mencondongkan tubuh ke depan, seketika tangan sofa yang sedari tadi memijat tubuh Rumsun lenyap. Senyuman Rumsun menghilang, digantikan tatapan tajam yang mengandung ancaman.
“Tidak mungkin ada pencuri di negeri ini.”
Other Stories
(bukan) Tentang Kita
Tak sanggup menanggung rada sakit akibat kehilangan, Arga, seorang penulis novel romantis ...
Cerita Guru Sarita
Sarita merasa berbeda dari keluarganya karena mata cokelatnya yang dianggap mirip serigala ...
November Kelabu
Veya hanya butuh pengakuan, sepercik perhatian, dan seulas senyum dari orang yang seharusn ...
Perpustakaan Berdarah
Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...
Susan Ngesot
Reni yang akrab dipanggil Susan oleh teman-teman onlinenya tewas akibat sumpah serapah Nat ...
Mendua
Dita berlari menjauh, berharap semua hanya mimpi. Nyatanya, Gama yang ia cintai telah mend ...