Bab 28 - Area Parkir Lima
Cakra seharusnya sudah terbiasa. Namun nyatanya, setiap detik di tempat ini selalu berhasil mencuri napasnya. Kota di hadapannya terasa seperti planet asing. Perpaduan antara Utapau dan Neimoidia dari serial Star Wars yang dulu sering ia tonton, hanya saja kini tak lagi di balik layar. Ia benar-benar ada di sana.
Ia merasa berdiri di dasar sebuah ngarai raksasa yang luar biasa cantik. Dinding-dinding tebingnya dipahat menjadi bangunan menjulang, modern, berkilau teknologi, seolah tumbuh alami dari batu, menembus ketinggian lebih dari seribu meter. Di antara ruang-ruang kosong ngarai, terumbu karang melayang membentuk pulau-pulau kehidupan. Pemukiman lengkap dengan hiruk-pikuk penduduk yang berlalu-lalang seolah hukum gravitasi hanyalah mitos.
Langit kota itu sendiri hidup. Makhluk-makhluk asing berenang di udara, berdampingan dengan kendaraan aneh: menyerupai penyedot debu raksasa, ikan pari, kuda laut, hingga keong mekanis berlapis cahaya. Semuanya berterbangan tak beraturan, namun anehnya selaras. Seperti rasi bintang yang kacau, tapi justru membuat angkasa terasa utuh.
Cakra nyaris lupa bernapas saat matanya mengikuti lintasan kendaraan-kendaraan yang melaju kencang di hadapannya.
Di dalam laut, namun dengan sensasi seperti berdiri di tengah kota daratan, arus air terasa jinak, nyaris tak terasa. Seolah teknologi di tempat ini menundukkannya. Kendaraan-kendaraan itu berlari saling tumpang tindih, membelah air dengan garis cahaya, tanpa klakson, tanpa tabrakan.
Beberapa kali Cakra refleks menegangkan bahu, siap berteriak, ketika dua kendaraan tampak akan saling menghantam. Namun alih-alih bertabrakan, keduanya justru menyatu. Rangkanya melebur halus seperti cairan logam, membentuk satu kendaraan baru dengan siluet yang asing dan elegan. Seolah fusion bukan kecelakaan, melainkan bagian dari aturan lalu lintas.
Di lain waktu, sebuah kendaraan hampir menyerempet yang lain. Jantung Cakra sempat melonjak, lalu kendaraan itu lenyap begitu saja. Air di sekitarnya bergetar sesaat, dan detik berikutnya kendaraan itu muncul kembali beberapa meter dari titik semula, seakan ruang dilipat dan dibuka ulang. Teleportasi, pikirnya, dengan rasa ngeri yang bercampur kagum.
Dadanya terasa sesak oleh rasa takjub. Ia menelan ludah. Meresapi kekaguman. Sistem transportasi di hadapannya bukan sekadar canggih. Melainkan hidup, berpikir, dan mengambil keputusan sendiri.
Tak kalah mencengangkan, orang-orang berlalu-lalang di atas petakan-petakan plitan melayang dengan bentuk dan warna beragam. Ada yang bening seperti gelembung, ada yang berpendar lembut menyerupai sisik ikan. Semuanya bergerak cepat, saling silang, tumpah tindih, tanpa tabrakan. Cakra menundukkan kepalanya, menatap petakan besi tipis hitam metalik di bawah kakinya. Petakan itu meluncur mulus, mendorong mereka ke depan tanpa hentakan, menuju area parkir lima. Sensasinya aneh, tidak sepenuhnya seperti terbang, tapi juga bukan berenang apalagi berjalan. Tubuhnya terasa ringan, seolah laut dan daratan bersepakat untuk bertemu di titik ini.
Pandangan Cakra tertarik pada cahaya putih menyilaukan di sisi jauh kota. Cahaya itu berdiri tegak, tenang, namun menekan. Seperti mata raksasa yang mengamati segalanya.
Itulah Vorna.
Bukan sekadar gerbang, melainkan penjaga keputusan. Vorna merupakan gerbang antar distrik yang mengelilingi wilayah Porkah, menghubungkan ruang-ruang yang terpisah ribuan kilometer. Dalam satu langkah, seseorang bisa berpindah dunia. Namun Vorna bukan pintu yang ramah. Ia membaca identitas, izin, kondisi mental, bahkan potensi ancaman yang bersembunyi di balik niat terdalam seseorang. Cahaya itu terasa dingin, seolah air di sekitarnya ikut menahan napas.
Ia kembali meragukan dirinya.
Pemandangan ini jelas bukan neraka. Tapi Cakra juga tak yakin menyebutnya surga. Jika ini surga, mengapa setiap tatapan, gerakan, dan tindakan yang mereka hadirkan padanya seperti berhadapan dengan teroris?
“Ini sebenarnya di mana?” lirihnya tak sadar, suaranya tenggelam oleh dengung kota.
“Akan saya jelaskan setelah kita aman…,” jawab suara itu di dalam kepalanya, tenang namun tertahan.
Cakra mengalihkan pandangan pada Mynhemeni.
“Bawa saya ke area parkir lima. Sekarang.”
Mynhemeni tidak menjawab. Ia memang sudah menuju ke sana sejak awal. Petakan plitan mereka berbelok ke ujung blok kiri kawasan pemerintahan. Bukan di dalam gedung utama, melainkan terpisah. Satu gedung mereka lewati. Lalu yang kedua. Hingga gedung ketiga tampak di depan, dan laju petakan mulai melambat, meninggalkan Cakra dengan rasa takjub yang perlahan berubah menjadi waspada.
Gedung itu ternyata adalah gudang penyimpanan Korvet, sistem kendaraan militer bangsa Porkah, yang hanya dioperasikan pada kondisi tertentu. Dari dekat, bangunannya terasa lebih seperti bagian dari alam ketimbang hasil rekayasa. Struktur raksasa setinggi hampir seribu meter itu menyatu mulus dengan dinding ngarai palung laut, seolah tebing batu sendiri yang tumbuh menjadi logam dan kaca. Air laut di sekitarnya tenang, tidak beriak, namun tekanan kehadiran gedung itu terasa seperti berdiri di kaki gedung pencakar langit di daratan.
Jika dilihat dari atas, Distrik Nor terhampar di dasar palung seperti kota rahasia yang disembunyikan Bumi atau laut dari dunia luar. Dinding palung menjulang ribuan meter, membentuk lorong raksasa yang menelan cahaya. Di dasar lorong itulah pemukiman Distrik Nor berdiri, padat namun tertata, dengan jumlah penduduk yang tak sampai 200.000 jiwa. Tepatnya, 155.372 jiwa.
Area parkir lima berada di puncak gedung itu, menempel pada dinding ngarai yang masih menjulang ke atas. Hamparannya luas, sekitar empat puluh lima ribu meter persegi, membentang memanjang tiga ratus meter dan melebar seratus lima puluh meter. Dari titik itu, lantai-lantai di bawahnya tersusun berlapis, masing-masing dibagi rapi berdasarkan kelompok dan fungsi, menyerupai sarang lebah raksasa yang ditata dengan disiplin militer.
Saat mereka hampir tiba, Cakra melihat lorong-lorong transparan membentang, menghubungkan gedung ini dengan bangunan lain dan terumbu karang yang melayang. Di dalam lorong itu, kotak-kotak transportasi melesat tanpa suara, kecepatannya tak kurang dari tiga ratus kilometer per jam. Air di sekitarnya tak bergolak, seolah teknologi di tempat ini memaksa hukum alam tunduk pada kehendak mereka.
Rasa kagum itu datang tanpa permisi. Tanpa disadarinya, cengkeraman Cakra pada Mynhemeni, sanderanya, sedikit mengendur. Tangannya bergerak, refleks, seakan ingin meraih sesuatu yang lebih masuk akal daripada situasi yang sedang ia jalani.
Mynhemeni menyadarinya. Ia mengernyit, bingung melihat anak itu justru teralihkan oleh pemandangan sekitar. Tubuhnya digoyangkan sedikit, mencoba melepaskan diri, memanfaatkan celah yang nyaris tak ada.
Namun kesadaran Cakra menyambar kembali.
Jari-jarinya menegang, cengkeramannya menguat lagi, kali ini lebih kuat dari sebelumnya. Tatapannya masih menyimpan kagum. Namun di baliknya, kewaspadaan mulai tumbuh, perlahan, seperti arus bawah laut yang tak terlihat tapi mematikan.
“Di mana area parkir lima?” tanya Cakra begitu mereka menjejak atap gedung penyimpanan Korvet. Suaranya tertahan, antara waspada dan tak sabar.
“Sudah dekat…,” jawab Mynhemeni santai, nyaris terlalu santai untuk seseorang yang lehernya masih berada dalam jangkauan lengan Cakra.
Cakra mengangguk tipis. Pandangannya langsung menyapu sekitar. Di hadapannya berjejer kotak-kotak raksasa menyerupai kontainer, namun terasa lebih hidup. Permukaannya berkilau lembut, memantulkan cahaya laut seperti kaca yang baru diguyur hujan. Lebarnya tak kurang dari sepuluh meter, masing-masing terpisah jarak lima meter, tersusun rapi seperti barisan bangunan. Tingginya menjulang hingga dua puluh meter, dengan panjang sekitar lima belas meter, membuatnya tampak seperti deretan rumah dua lantai yang dipindahkan begitu saja ke atas atap.
Sesaat, ingatan Cakra melayang ke parkiran rooftop sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta. Tata letaknya mirip. Terlalu mirip. Hanya saja, di sini tidak ada angin panas atau suara klakson, yang ada hanyalah dengung rendah mesin dan aliran air yang nyaris tak terdengar, membuat tempat ini terasa sunyi sekaligus mengintimidasi.
Namun, selain deretan kontainer itu, tak ada pemandangan lain yang bisa disebut hidup. Hanya kotak-kotak kaku dalam gradasi warna lembut. Biru pucat, hijau laut, abu-abu mutiara, berdiri diam seperti bangunan yang menunggu perintah. Di atas masing-masing kontainer, melayang ukiran besar bercahaya. Bentuknya aneh, tidak simetris, seolah simbol yang dipahat oleh logika asing. Garis-garis melengkung, sudut tajam, dan lekukan yang berdenyut pelan, memancarkan cahaya seperti fosfor di dasar laut.
Cakra menyipitkan mata, mencoba memaknai semua itu.
"Kalau ini area parkir…" pikirnya, "berarti kontainer ini ruang parkir kendaraan?" Kesimpulan itu terdengar masuk akal, namun terasa terlalu sederhana untuk tempat seaneh ini. Bahkan di kepalanya sendiri, hipotesis itu goyah.
“Benar,” sahut suara di dalam benaknya, tenang namun pasti. “Di dalamnya tersimpan kendaraan, dikelompokkan berdasarkan jenis dan fungsinya.”
Petakan di bawah kaki mereka terus melaju, halus seperti eskalator tanpa suara, hingga akhirnya berhenti sekitar tiga puluh meter dari salah satu kontainer. Di atasnya melayang ukiran menyerupai anak panah melengkung, disertai tiga garis dengan panjang dan bentuk berbeda. Simbol yang entah kenapa membuat tengkuk Cakra meremang, seolah menandai sesuatu yang tidak biasa.
“Kita tunggu di sini,” ucap Mynhemeni.
Suara itu menarik Cakra kembali ke kenyataan. Kepalanya masih bergerak ke segala arah, matanya sibuk menangkap cahaya, bentuk, dan bayangan yang saling tumpang tindih. Rasanya seperti berdiri di parkiran daratan. Tapi dengan tekanan laut yang samar menekan kulit, dan kesunyian dalam yang terlalu dalam untuk disebut tenang.
“Kendaraan yang kamu butuhkan akan tiba tak lama lagi,” lanjut Mynhemeni.
Cakra menelan ludah. Di tempat seperti ini, kata kendaraan terdengar jauh lebih mengancam daripada menenangkan.
Cakra akhirnya benar-benar mengakui satu hal, tempat ini sunyi dengan cara yang tidak wajar. Bukan sepi seperti gang kosong di daratan, melainkan sunyi yang terasa sengaja. Sepanjang jangkauan matanya, tak satu pun sosok hidup terlihat berjalan, berbicara, atau sekadar melintas. Area parkir lima terasa seperti ruang yang ditinggalkan terlalu lama. Bukan kosong, melainkan menunggu.
Yang ada hanyalah pahatan kendaraan, sosok-sosok menyerupai orang, dan benda-benda asing yang melayang jauh di kejauhan. Diam, beku, seolah hanya dekorasi kota yang ditinggalkan. Laut di sekeliling mereka tenang, nyaris seperti udara di daratan, namun tekanan halusnya tetap mengingatkan bahwa mereka tidak berada di dunia manusia.
Belum genap tiga puluh detik, ketenangan itu runtuh.
Sesuatu melesat ke arah mereka.
Cakra tersentak. Titik kecil yang tiga detik lalu hampir tak terlihat, mendadak membesar dengan kecepatan mencengangkan. Air di sekitarnya bergetar halus, seperti udara yang tersibak kendaraan melaju kencang. Dalam satu tarikan napas, benda itu berhenti tepat di hadapan mereka. Melayang stabil, patuh pada hukum yang tak Cakra pahami.
Itu menyerupai ikan pari. Namun jelas bukan makhluk laut biasa.
Tubuhnya besar dan kokoh, dilapisi kulit elastis berteknologi tinggi yang memantulkan cahaya kebiruan. Panjangnya tak kurang dari lima meter, lebarnya hampir tiga meter, dan tinggi tubuhnya membuatnya tampak menggembung, seperti ikan pari raksasa yang baru saja menelan sesuatu terlalu besar. Indah, asing, dan cukup besar untuk membuat tengkuk Cakra menegang tanpa sadar. Bukan tampilan yang mengancam secara langsung, tetapi cukup untuk membuat Cakra menahan napas.
“Akan saya pastikan jet ini aman untuk dibawa,” ujar Mynhemeni tenang, seolah benda raksasa itu hanyalah kendaraan biasa.
Tanpa menunggu persetujuan, ia berkedip sekali. Dari matanya, seberkas cahaya kuning kecil memancar, melesat lurus dan tersedot ke dalam tubuh ikan pari itu. Cahaya tersebut diserap begitu saja, tanpa suara, tanpa percikan. Sesaat kemudian, bagian kiri tubuhnya bergetar dan terbuka. Kulit kokohnya seakan menghilang, digantikan pusaran air kebiruan yang beriak lembut. Menampilkan sebuah bukaan yang terasa lebih seperti pintu daripada luka.
Cakra menelan ludah. Dadanya mengencang.
Ia tak tahu harus percaya atau tidak. Apakah ini jalan keluar atau justru perangkap? Bayangan tentang sesuatu yang menunggunya di dalam sana menyelinap ke pikirannya, dingin dan tajam.
Ia merasa berdiri di dasar sebuah ngarai raksasa yang luar biasa cantik. Dinding-dinding tebingnya dipahat menjadi bangunan menjulang, modern, berkilau teknologi, seolah tumbuh alami dari batu, menembus ketinggian lebih dari seribu meter. Di antara ruang-ruang kosong ngarai, terumbu karang melayang membentuk pulau-pulau kehidupan. Pemukiman lengkap dengan hiruk-pikuk penduduk yang berlalu-lalang seolah hukum gravitasi hanyalah mitos.
Langit kota itu sendiri hidup. Makhluk-makhluk asing berenang di udara, berdampingan dengan kendaraan aneh: menyerupai penyedot debu raksasa, ikan pari, kuda laut, hingga keong mekanis berlapis cahaya. Semuanya berterbangan tak beraturan, namun anehnya selaras. Seperti rasi bintang yang kacau, tapi justru membuat angkasa terasa utuh.
Cakra nyaris lupa bernapas saat matanya mengikuti lintasan kendaraan-kendaraan yang melaju kencang di hadapannya.
Di dalam laut, namun dengan sensasi seperti berdiri di tengah kota daratan, arus air terasa jinak, nyaris tak terasa. Seolah teknologi di tempat ini menundukkannya. Kendaraan-kendaraan itu berlari saling tumpang tindih, membelah air dengan garis cahaya, tanpa klakson, tanpa tabrakan.
Beberapa kali Cakra refleks menegangkan bahu, siap berteriak, ketika dua kendaraan tampak akan saling menghantam. Namun alih-alih bertabrakan, keduanya justru menyatu. Rangkanya melebur halus seperti cairan logam, membentuk satu kendaraan baru dengan siluet yang asing dan elegan. Seolah fusion bukan kecelakaan, melainkan bagian dari aturan lalu lintas.
Di lain waktu, sebuah kendaraan hampir menyerempet yang lain. Jantung Cakra sempat melonjak, lalu kendaraan itu lenyap begitu saja. Air di sekitarnya bergetar sesaat, dan detik berikutnya kendaraan itu muncul kembali beberapa meter dari titik semula, seakan ruang dilipat dan dibuka ulang. Teleportasi, pikirnya, dengan rasa ngeri yang bercampur kagum.
Dadanya terasa sesak oleh rasa takjub. Ia menelan ludah. Meresapi kekaguman. Sistem transportasi di hadapannya bukan sekadar canggih. Melainkan hidup, berpikir, dan mengambil keputusan sendiri.
Tak kalah mencengangkan, orang-orang berlalu-lalang di atas petakan-petakan plitan melayang dengan bentuk dan warna beragam. Ada yang bening seperti gelembung, ada yang berpendar lembut menyerupai sisik ikan. Semuanya bergerak cepat, saling silang, tumpah tindih, tanpa tabrakan. Cakra menundukkan kepalanya, menatap petakan besi tipis hitam metalik di bawah kakinya. Petakan itu meluncur mulus, mendorong mereka ke depan tanpa hentakan, menuju area parkir lima. Sensasinya aneh, tidak sepenuhnya seperti terbang, tapi juga bukan berenang apalagi berjalan. Tubuhnya terasa ringan, seolah laut dan daratan bersepakat untuk bertemu di titik ini.
Pandangan Cakra tertarik pada cahaya putih menyilaukan di sisi jauh kota. Cahaya itu berdiri tegak, tenang, namun menekan. Seperti mata raksasa yang mengamati segalanya.
Itulah Vorna.
Bukan sekadar gerbang, melainkan penjaga keputusan. Vorna merupakan gerbang antar distrik yang mengelilingi wilayah Porkah, menghubungkan ruang-ruang yang terpisah ribuan kilometer. Dalam satu langkah, seseorang bisa berpindah dunia. Namun Vorna bukan pintu yang ramah. Ia membaca identitas, izin, kondisi mental, bahkan potensi ancaman yang bersembunyi di balik niat terdalam seseorang. Cahaya itu terasa dingin, seolah air di sekitarnya ikut menahan napas.
Ia kembali meragukan dirinya.
Pemandangan ini jelas bukan neraka. Tapi Cakra juga tak yakin menyebutnya surga. Jika ini surga, mengapa setiap tatapan, gerakan, dan tindakan yang mereka hadirkan padanya seperti berhadapan dengan teroris?
“Ini sebenarnya di mana?” lirihnya tak sadar, suaranya tenggelam oleh dengung kota.
“Akan saya jelaskan setelah kita aman…,” jawab suara itu di dalam kepalanya, tenang namun tertahan.
Cakra mengalihkan pandangan pada Mynhemeni.
“Bawa saya ke area parkir lima. Sekarang.”
Mynhemeni tidak menjawab. Ia memang sudah menuju ke sana sejak awal. Petakan plitan mereka berbelok ke ujung blok kiri kawasan pemerintahan. Bukan di dalam gedung utama, melainkan terpisah. Satu gedung mereka lewati. Lalu yang kedua. Hingga gedung ketiga tampak di depan, dan laju petakan mulai melambat, meninggalkan Cakra dengan rasa takjub yang perlahan berubah menjadi waspada.
Gedung itu ternyata adalah gudang penyimpanan Korvet, sistem kendaraan militer bangsa Porkah, yang hanya dioperasikan pada kondisi tertentu. Dari dekat, bangunannya terasa lebih seperti bagian dari alam ketimbang hasil rekayasa. Struktur raksasa setinggi hampir seribu meter itu menyatu mulus dengan dinding ngarai palung laut, seolah tebing batu sendiri yang tumbuh menjadi logam dan kaca. Air laut di sekitarnya tenang, tidak beriak, namun tekanan kehadiran gedung itu terasa seperti berdiri di kaki gedung pencakar langit di daratan.
Jika dilihat dari atas, Distrik Nor terhampar di dasar palung seperti kota rahasia yang disembunyikan Bumi atau laut dari dunia luar. Dinding palung menjulang ribuan meter, membentuk lorong raksasa yang menelan cahaya. Di dasar lorong itulah pemukiman Distrik Nor berdiri, padat namun tertata, dengan jumlah penduduk yang tak sampai 200.000 jiwa. Tepatnya, 155.372 jiwa.
Area parkir lima berada di puncak gedung itu, menempel pada dinding ngarai yang masih menjulang ke atas. Hamparannya luas, sekitar empat puluh lima ribu meter persegi, membentang memanjang tiga ratus meter dan melebar seratus lima puluh meter. Dari titik itu, lantai-lantai di bawahnya tersusun berlapis, masing-masing dibagi rapi berdasarkan kelompok dan fungsi, menyerupai sarang lebah raksasa yang ditata dengan disiplin militer.
Saat mereka hampir tiba, Cakra melihat lorong-lorong transparan membentang, menghubungkan gedung ini dengan bangunan lain dan terumbu karang yang melayang. Di dalam lorong itu, kotak-kotak transportasi melesat tanpa suara, kecepatannya tak kurang dari tiga ratus kilometer per jam. Air di sekitarnya tak bergolak, seolah teknologi di tempat ini memaksa hukum alam tunduk pada kehendak mereka.
Rasa kagum itu datang tanpa permisi. Tanpa disadarinya, cengkeraman Cakra pada Mynhemeni, sanderanya, sedikit mengendur. Tangannya bergerak, refleks, seakan ingin meraih sesuatu yang lebih masuk akal daripada situasi yang sedang ia jalani.
Mynhemeni menyadarinya. Ia mengernyit, bingung melihat anak itu justru teralihkan oleh pemandangan sekitar. Tubuhnya digoyangkan sedikit, mencoba melepaskan diri, memanfaatkan celah yang nyaris tak ada.
Namun kesadaran Cakra menyambar kembali.
Jari-jarinya menegang, cengkeramannya menguat lagi, kali ini lebih kuat dari sebelumnya. Tatapannya masih menyimpan kagum. Namun di baliknya, kewaspadaan mulai tumbuh, perlahan, seperti arus bawah laut yang tak terlihat tapi mematikan.
“Di mana area parkir lima?” tanya Cakra begitu mereka menjejak atap gedung penyimpanan Korvet. Suaranya tertahan, antara waspada dan tak sabar.
“Sudah dekat…,” jawab Mynhemeni santai, nyaris terlalu santai untuk seseorang yang lehernya masih berada dalam jangkauan lengan Cakra.
Cakra mengangguk tipis. Pandangannya langsung menyapu sekitar. Di hadapannya berjejer kotak-kotak raksasa menyerupai kontainer, namun terasa lebih hidup. Permukaannya berkilau lembut, memantulkan cahaya laut seperti kaca yang baru diguyur hujan. Lebarnya tak kurang dari sepuluh meter, masing-masing terpisah jarak lima meter, tersusun rapi seperti barisan bangunan. Tingginya menjulang hingga dua puluh meter, dengan panjang sekitar lima belas meter, membuatnya tampak seperti deretan rumah dua lantai yang dipindahkan begitu saja ke atas atap.
Sesaat, ingatan Cakra melayang ke parkiran rooftop sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta. Tata letaknya mirip. Terlalu mirip. Hanya saja, di sini tidak ada angin panas atau suara klakson, yang ada hanyalah dengung rendah mesin dan aliran air yang nyaris tak terdengar, membuat tempat ini terasa sunyi sekaligus mengintimidasi.
Namun, selain deretan kontainer itu, tak ada pemandangan lain yang bisa disebut hidup. Hanya kotak-kotak kaku dalam gradasi warna lembut. Biru pucat, hijau laut, abu-abu mutiara, berdiri diam seperti bangunan yang menunggu perintah. Di atas masing-masing kontainer, melayang ukiran besar bercahaya. Bentuknya aneh, tidak simetris, seolah simbol yang dipahat oleh logika asing. Garis-garis melengkung, sudut tajam, dan lekukan yang berdenyut pelan, memancarkan cahaya seperti fosfor di dasar laut.
Cakra menyipitkan mata, mencoba memaknai semua itu.
"Kalau ini area parkir…" pikirnya, "berarti kontainer ini ruang parkir kendaraan?" Kesimpulan itu terdengar masuk akal, namun terasa terlalu sederhana untuk tempat seaneh ini. Bahkan di kepalanya sendiri, hipotesis itu goyah.
“Benar,” sahut suara di dalam benaknya, tenang namun pasti. “Di dalamnya tersimpan kendaraan, dikelompokkan berdasarkan jenis dan fungsinya.”
Petakan di bawah kaki mereka terus melaju, halus seperti eskalator tanpa suara, hingga akhirnya berhenti sekitar tiga puluh meter dari salah satu kontainer. Di atasnya melayang ukiran menyerupai anak panah melengkung, disertai tiga garis dengan panjang dan bentuk berbeda. Simbol yang entah kenapa membuat tengkuk Cakra meremang, seolah menandai sesuatu yang tidak biasa.
“Kita tunggu di sini,” ucap Mynhemeni.
Suara itu menarik Cakra kembali ke kenyataan. Kepalanya masih bergerak ke segala arah, matanya sibuk menangkap cahaya, bentuk, dan bayangan yang saling tumpang tindih. Rasanya seperti berdiri di parkiran daratan. Tapi dengan tekanan laut yang samar menekan kulit, dan kesunyian dalam yang terlalu dalam untuk disebut tenang.
“Kendaraan yang kamu butuhkan akan tiba tak lama lagi,” lanjut Mynhemeni.
Cakra menelan ludah. Di tempat seperti ini, kata kendaraan terdengar jauh lebih mengancam daripada menenangkan.
Cakra akhirnya benar-benar mengakui satu hal, tempat ini sunyi dengan cara yang tidak wajar. Bukan sepi seperti gang kosong di daratan, melainkan sunyi yang terasa sengaja. Sepanjang jangkauan matanya, tak satu pun sosok hidup terlihat berjalan, berbicara, atau sekadar melintas. Area parkir lima terasa seperti ruang yang ditinggalkan terlalu lama. Bukan kosong, melainkan menunggu.
Yang ada hanyalah pahatan kendaraan, sosok-sosok menyerupai orang, dan benda-benda asing yang melayang jauh di kejauhan. Diam, beku, seolah hanya dekorasi kota yang ditinggalkan. Laut di sekeliling mereka tenang, nyaris seperti udara di daratan, namun tekanan halusnya tetap mengingatkan bahwa mereka tidak berada di dunia manusia.
Belum genap tiga puluh detik, ketenangan itu runtuh.
Sesuatu melesat ke arah mereka.
Cakra tersentak. Titik kecil yang tiga detik lalu hampir tak terlihat, mendadak membesar dengan kecepatan mencengangkan. Air di sekitarnya bergetar halus, seperti udara yang tersibak kendaraan melaju kencang. Dalam satu tarikan napas, benda itu berhenti tepat di hadapan mereka. Melayang stabil, patuh pada hukum yang tak Cakra pahami.
Itu menyerupai ikan pari. Namun jelas bukan makhluk laut biasa.
Tubuhnya besar dan kokoh, dilapisi kulit elastis berteknologi tinggi yang memantulkan cahaya kebiruan. Panjangnya tak kurang dari lima meter, lebarnya hampir tiga meter, dan tinggi tubuhnya membuatnya tampak menggembung, seperti ikan pari raksasa yang baru saja menelan sesuatu terlalu besar. Indah, asing, dan cukup besar untuk membuat tengkuk Cakra menegang tanpa sadar. Bukan tampilan yang mengancam secara langsung, tetapi cukup untuk membuat Cakra menahan napas.
“Akan saya pastikan jet ini aman untuk dibawa,” ujar Mynhemeni tenang, seolah benda raksasa itu hanyalah kendaraan biasa.
Tanpa menunggu persetujuan, ia berkedip sekali. Dari matanya, seberkas cahaya kuning kecil memancar, melesat lurus dan tersedot ke dalam tubuh ikan pari itu. Cahaya tersebut diserap begitu saja, tanpa suara, tanpa percikan. Sesaat kemudian, bagian kiri tubuhnya bergetar dan terbuka. Kulit kokohnya seakan menghilang, digantikan pusaran air kebiruan yang beriak lembut. Menampilkan sebuah bukaan yang terasa lebih seperti pintu daripada luka.
Cakra menelan ludah. Dadanya mengencang.
Ia tak tahu harus percaya atau tidak. Apakah ini jalan keluar atau justru perangkap? Bayangan tentang sesuatu yang menunggunya di dalam sana menyelinap ke pikirannya, dingin dan tajam.
Other Stories
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Reuni Mantan
Iko dan tiga mantan Sarah lainnya menghadiri halalbihalal di vila terpencil milik Darius, ...
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...
Lam Biru
Suatu hari muncul kalimat asing di layar laptop Harit, kalimat itu berupa deskripsi penamp ...
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...
Hidup Sebatang Rokok
Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...