Bab 29 - Pari Anti Sadap
“Aman,” ucap Mynhemeni singkat, nadanya pasti.
Sebelum Cakra sempat bertanya aman menurut siapa, tubuhnya sudah terseret masuk. Bukan ditelan secara kasar, melainkan ditarik lembut, seolah udara di sekelilingnya berubah menjadi tangan tak terlihat yang mengarahkan langkahnya.
Dalam sekejap, dunia luar menghilang.
Sedetik kemudian, ia berdiri di dalam tubuh ikan pari itu.
Cakra tertegun.
Bagian dalamnya jauh dari bayangannya tentang mesin atau kendaraan perang. Ruangan itu luas, hangat, dan anehnya… nyaman. Ia seperti berada di lounge eksklusif di daratan. Di langit-langit, beberapa ubur-ubur kecil melayang perlahan, tubuh transparan mereka memancarkan cahaya warna-warni yang lembut. Biru, ungu, hijau, seperti lampu gantung hidup yang berdenyut mengikuti arus.
Kendaraan itu bergetar perlahan. Nyaris tak terasa. Kemudian mulai melaju. Tak ada kokpit. Tak ada kursi pengemudi. Yang ada hanya beberapa lemari kecil yang melayang bebas, sebuah meja rendah, dan dua sofa panjang di kanan-kiri ruangan. Sofa itu tampak hidup. Bergerak sedikit, bergeser mendekat, seolah sadar sedang diperhatikan. Ada dorongan aneh di benak Cakra, keyakinan tak masuk akal bahwa benda itu akan berubah bentuk jika ia memintanya. Menjadi kasur. Atau mungkin tempat berlindung.
“Ini… kendaraan?” gumamnya, nyaris tak terdengar.
Rasa takjub itu berubah menjadi kepanikan ketika pikirannya melayang ke luar. Seketika, dinding di sekelilingnya memudar, lalu transparan sepenuhnya. Pemandangan kota terbentang jelas di sekeliling mereka. Bangunan menjulang, terumbu karang melayang, lalu lintas cahaya yang sibuk. Semuanya tampak begitu dekat, seolah ruangan ini melayang bebas tanpa dinding, tanpa perlindungan.
Napas Cakra tersendat.
“Kenapa kamu panik?” tanya Mynhemeni santai sambil melangkah ke salah satu sofa. Ia duduk, tubuhnya tenggelam nyaman, seakan ini memang ruang pribadinya.
“Ruangan ini terbang tanpa sekat!” Cakra menoleh cepat ke segala arah, bahunya menegang.
“Bagaimana kalau ada yang melihat kita?”
Mynhemeni menyandarkan punggungnya, pandangannya berpaling dari Cakra. “Mereka tidak akan melihat,” katanya ringan.
“Dari luar, ini tetap terlihat seperti tubuh jet. Itu karena kamu yang minta,” jawab Mynhemeni cepat, lalu berhenti sejenak seolah menyadari kalimatnya terlalu panjang.
“Tak ada yang bisa melihat ke dalam sini. Aku sudah mengaktifkan mode penyamaran.” Ia menatap Cakra hangat.
“Bagi siapa pun di luar sana, jet ini akan terlihat seperti milik orang yang paling ingin mereka hindari. Jadi… kita aman.” Cakra menelan ludah. Di matanya, ini bukan sekadar jet melainkan ruangan hidup yang melayang cepat, mematuhi pikiran penghuninya. Dan entah kenapa, kesadaran itu justru membuat bulu kuduknya semakin berdiri.
Penjelasan itu tidak sepenuhnya menenangkan Cakra.
Ia justru memijat pelipisnya, dahi berkerut.
“Suaramu,” katanya pelan, nada suaranya goyah.
"Sama seperti suara yang berbicara di dalam kepalaku.” Baru saat itu ia sadar, lengannya sudah tidak lagi mendekap Mynhemeni. Sentuhan yang sejak tadi ia pertahankan entah kapan terlepas. Tubuhnya refleks menegang, menunggu serangan balasan yang tak kunjung datang.
Keanehan itu membuatnya semakin waspada.
Namun Mynhemeni tidak bergerak agresif. Ia justru duduk nyaman di atas sofa, menatap Cakra dengan ekspresi yang sulit dibaca olehnya. Lalu bibir gadis itu melengkung membentuk senyum tipis. Bukan senyum meremehkan, bukan pula ejekan. Itu senyum lega. Seperti seseorang yang akhirnya melihat potongan terakhir dari teka-teki yang selama ini ia bawa.
Cakra memperhatikan napas Mynhemeni yang mengendur, bahunya sedikit turun.
Firasat gadis itu benar.
Di dalam ruangan yang melayang di dasar laut itu. Di antara cahaya ubur-ubur dan dinding transparan yang berkilau seperti kaca gedung pencakar langit, Mynhemeni akhirnya yakin akan satu hal sederhana namun krusial.
Cakra bukan ancaman.
Cakra tersadar perlahan, seperti seseorang yang baru menyusun kembali ingatannya setelah terbangun dari mimpi panjang. Selama ini, sejak lorong, di dalam gedung, hingga ruang melayang ini. Suara dalam kepalanya adalah sosok yang duduk santai di hadapannya. Mynhemenilah yang tanpa sadar selalu berada di pihaknya. Senyum tipis terbit di wajahnya, dibalas oleh senyuman Mynhemeni yang lembut dan nyaris menenangkan.
Baru sekarang ia benar-benar memperhatikannya.
Gadis yang sempat ia culik itu ternyata sungguh cantik, dengan garis wajah halus yang masih menyimpan kesan belia. Usianya mungkin hanya terpaut satu atau dua tahun darinya. Ada kemiripan yang tak terbantahkan, struktur wajahnya mengingatkan pada Georu, pria cantik yang sebelumnya menyiksanya. Namun sikap Mynhemeni jauh lebih feminin, lebih hangat, seolah dua sisi dari koin yang sama namun berlawanan arah.
“Terima kasih sudah membantuku…” ucap Cakra tulus. Mynhemeni mengangkat bahu.
Cakra berjalan ke sofa di seberang, dipisahkan oleh meja kecil yang melayang tenang di antara mereka. Begitu tubuhnya menyentuh permukaan sofa, benda itu bergerak hidup, menggeser dan menopang tubuhnya dengan presisi yang membuatnya terkejut. Bahkan, sofa itu mengambil paksa namun halus tombak yang ia genggam. Tak lama, tombak itu mendarat perlahan di samping paha kanannya.
“Sebenarnya ini di mana?” Cakra melanjutkan cepat, sebelum rasa nyaman itu membuatnya terlalu lengah.
“Kenapa kamu menolongku? Apa aku sudah mati?”
Sofa itu sempat membuatnya panik. Lengkungan empuknya bergerak seolah menggerayangi tubuhnya, namun detik berikutnya ia mengerti. Sofa itu menyesuaikan dirinya, memaksa tubuh Cakra berada pada posisi paling ideal, paling nyaman, seakan membaca keinginannya sebelum sempat ia sadari sendiri.
Napasnya mengendur.
Sensasi hangat merambat perlahan, seperti pijatan halus dari dalam, membuat otot-ototnya yang tegang sejak lama akhirnya menyerah. Ia hampir tertawa kecil menyadari satu hal yang absurd. Bahkan sofa mewah di ruang kerja ayahnya tak pernah memanjakannya sejauh ini.
“Kamu berada di Distrik Nor,” ujar Mynhemeni tenang. “Wilayah ini berada di bawah kekuasaan Kerajaan Porkah. Kamu belum mati. Dan kamu tidak boleh mati... Setidaknya sampai kami yakin kamu bukan ancaman bagi Bumi.”
Ia menggerakkan kepalanya sedikit. Dari ujung bahunya kirinya muncul bola kecil berkilau, seukuran biji cabai, yang meluncur masuk ke mulutnya tanpa Mynhemeni perlu membukanya.
Asupan gizi instan.
Tubuhnya memang mulai menuntut balasan setelah dua belas jam terjaga, bukan karena lembur biasa, melainkan karena satu fakta yang mengacaukan segalanya. Letnan Rihum menemukan manusia darat yang mampu bernapas di dalam laut.
Sejak itu, waktu berhenti baginya.
"Apa maksudmu ancaman bagi Bumi?” suara Cakra meninggi.
“Kerajaan Porkah itu di mana? Kenapa aku dibawa ke sini?” Dadanya naik turun.
“Kenapa kalian menculikku?!”
Emosinya akhirnya tumpah. Terlalu banyak kejadian, terlalu banyak hal yang mustahil untuk dicerna dalam satu napas. Laut yang terasa seperti daratan. Kendaraan hidup. Ruangan yang memanjakannya seperti istana. Ia bahkan mulai ragu apakah Bumi yang ia kenal masih relevan.
Namun, alih-alih jawaban, keheningan yang menusuk datang lebih dulu.
Mynhemeni menatapnya beberapa detik, bukan dengan marah, bukan pula dengan takut. Lalu ia kembali menggerakkan kepalanya. Dari lengan seragamnya, sesuatu keluar dengan desis halus. Sebilah benda kecil, menyerupai pisau tipis dengan tepi berkilau, melayang ke tangan kanannya.
Gerakannya cepat dan presisi.
Dalam satu tarikan napas, ujung pisau itu sudah mengarah tepat ke Cakra.
Dan untuk pertama kalinya sejak masuk ke tubuh ikan pari itu, Cakra merasakan udara, atau air di sekitarnya kembali menjadi dingin.
“Apa yang ingin kamu lakukan?” suara Cakra menegang ketika melihat ujung pisau itu bergerak sedikit lebih dekat. Refleks mengambil alih. Ia berdiri, kaki menapak mantap seolah lantai itu benar-benar padat, tubuhnya condong ke depan. Siap melawan, meski nalurinya berteriak bahwa melawan di tempat asing ini adalah ide buruk.
“Tenang,” kata Mynhemeni cepat, nadanya turun, tidak mengancam. “Aku tidak akan melukaimu.” Ia melangkah mendekat satu langkah, lalu berhenti, menjaga jarak aman.
“Aku hanya ingin menunjukkan sesuatu. Setelah ini, pertanyaanmu akan mulai masuk akal.” Pisau itu tetap di tangannya, namun tidak lagi diarahkan ke titik vital.
Mynhemeni mengedip sekali lagi.
Dari udara di sekitar Cakra, dua bola bercahaya muncul. Halus, berdenyut pelan, lalu bergerak mengitari tubuhnya seperti satelit kecil yang patuh pada orbitnya sendiri. Cahaya kebiruan bola itu memantul di dinding transparan ruangan, membuat bayangan samar yang bergerak mengikuti napas Cakra.
“Menunjukkan apa?” Cakra menelan ludah. Matanya mengikuti pergerakan bola-bola itu.
“Dan… bola apa yang mengelilingiku?”
“Sesuatu yang bisa meyakinkanmu,” jawab Mynhemeni.
“Tenang saja.” Sudut bibirnya terangkat tipis.
“Bola itu melindungimu.”
Ia tidak sepenuhnya berbohong. Dua bola cahaya itu memang berfungsi sebagai perisai. Khususnya untuk bagian tubuh Cakra yang akan terekspos sesaat lagi. Mynhemeni tidak ingin mengambil risiko. Jika dugaannya benar, ada sesuatu di dalam tubuh Cakra. Sebuah detektor. Dan jika Cakra terluka, walau hanya sedikit, sinyal itu bisa aktif.
Dan saat itu terjadi, bukan hanya mereka yang akan tahu.
“Hal apa yang bisa meyakinkanku sampai kamu harus mengeluarkan pisau dan—” kalimat Cakra terputus di tengah napas.
Pisau itu sudah menempel di sisi dalam lengan kanan bawahnya. Saat ujungnya menyentuh kulit, kilatan cahaya muncul. Mula-mula setipis garis, lalu meledak seperti badai kecil yang berputar di satu titik. Anehnya, tak ada rasa sakit. Tidak juga panas. Hanya tekanan asing, seperti udara laut yang tiba-tiba memadat.
Sedetik kemudian, barulah pisau itu menembus kulit.
Mynhemeni bergerak cepat. Terlalu cepat untuk dicegah. Satu sayatan bersih. Cakra meringis dan refleks menarik tangannya, jantungnya menghantam dada. Namun rasa perih itu hanya sempat menyala sesaat, lalu padam, digantikan sensasi geli yang menjalar lembut dari bekas luka.
Darah yang sempat keluar tidak jatuh. Ia mengambang. Tetes-tetes merah itu berkumpul, menyatu menjadi gumpalan kecil yang melayang tepat di hadapan mata Cakra. Sebelum ia sempat bereaksi, gumpalan itu berputar pelan, lalu tertarik kembali ke lengannya.
Kulit yang terbuka menutup dengan sendirinya, serat-serat daging menyatu rapi seolah diputar ulang oleh tangan tak terlihat. Dalam hitungan detik, luka sepanjang satu sentimeter itu lenyap. Tak ada bekas. Tak ada garis.
“A… apa yang sebenarnya terjadi?” suara Cakra bergetar. Ia mengusap-usap lengannya berulang kali, memastikan kulit itu nyata, hangat, utuh. Ini bukan ilusi. Rasa sakitnya tadi terlalu nyata, begitu pula geli yang masih tersisa di bawah kulitnya.
Dan itu justru yang paling menakutkan.
“Tubuhmu menyembuhkan diri dengan sangat cepat,” ujar Mynhemeni sambil kembali duduk, nadanya kini lebih tenang namun sarat kehati-hatian.
“Teknologi medis kami mampu melakukan hal serupa. Tapi… tidak secepat itu.”
Cakra masih berdiri di tempatnya, pikirannya berputar tanpa arah. Pisau yang tadi sempat berkilat kini telah lenyap, menyatu kembali dengan busana Mynhemeni, seolah tak pernah ada. Tombak yang sebelumnya ia gunakan untuk menyandera gadis itu juga telah menghilang. Sofa di sampingnya kini kosong, sunyi, seakan senjata itu tak pernah diletakkan di sana. Dua cahaya yang tadi mengitari tubuhnya pun padam begitu saja, meninggalkan udara hening yang terasa ganjil.
“A-aku… butuh minum,” katanya akhirnya, suaranya serak. Kesadaran bahwa semua ini nyata membuat tenggorokannya mendadak kering. Perutnya ikut berontak, menuntut diisi. Cakra bahkan tak ingat kapan terakhir kali ia makan.
“Gerakkan kepalamu,” ujar Mynhemeni singkat.
“Pikirkan apa yang ingin kamu minum. Dari bajumu akan keluar butiran yang langsung masuk ke mulutmu.”
Cakra mengernyit, ragu, namun menuruti. Ia menggerakkan kepala pelan sambil membayangkan air hangat. Seketika, butiran kecil melesat dari ujung busana hijau yang ia kenakan dan masuk ke mulutnya. Tanpa wadah, tanpa tangan, air mineral hangat mengalir mulus ke tenggorokannya.
Sensasinya nyata. Ia sempat bertanya-tanya kapan aliran itu akan berhenti. Dan tepat saat pikiran itu muncul, airnya berhenti.
“Bagaimana bisa…?” gumam Cakra takjub. Dahaganya lenyap. Ia yakin barusan minum setidaknya tiga gelas penuh, dan semua itu terjadi begitu saja, di dalam tubuh ikan pari, jauh di bawah laut, seolah hukum dunia lama tak lagi berlaku.
“Saat kami menemukanmu, kami menyematkan teknologi pakaian kami ke tubuhmu,” jelas Mynhemeni, suaranya mengalir tenang, seolah sedang menerangkan hal paling wajar di dunia.
“Yang kamu kenakan sekarang bukan sekadar pakaian. Itu pantulan dari sistem proteksi kami." Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap. Cahaya kebiruan dari dinding transparan memantul di wajahnya, membuat garis-garis rautnya tampak tegas, hampir dingin.
“Ketika aku mencoba melukaimu tadi,” lanjutnya, “kilatan di sekitar pisaunya muncul karena itulah cara kerja sistem itu. Sensor pada pakaianmu menangkap sinyal ancaman, lalu meresponsnya sebelum bahaya menyentuh tubuhmu.”
Penjelasan itu terdengar logis. Terlalu logis.
Mynhemeni tidak sepenuhnya berbohong, tapi ia juga jauh dari jujur. Ia tak mungkin mengatakan bahwa kilatan cahaya itu bukan sekadar perisai, melainkan lapisan teknologi bangsanya untuk membungkam sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Jejak seluler dalam tubuh Cakra. Sistem itu memastikan tak ada satu pun sinyal, sekecil apa pun, yang bisa dipindai. Tak ada detektor. Tak ada panggilan pulang. Tak ada alarm yang dapat menembus jarak ribuan galaksi dan memanggil bangsa asal anak itu.
Cakra refleks menunduk. Matanya menyapu kaos hijau yang melekat di tubuhnya. Biasa saja, bahkan terlihat seperti kaos yang sering ia pakai sehari-hari. Ia meremas kain itu, menariknya sedikit, merasakan seratnya di antara jemarinya. Lembut. Nyata. Tidak ada getaran. Tidak ada panas. Tidak ada cahaya.
“Rasanya… biasa aja,” gumamnya, lebih pada diri sendiri. Ia mendongak kembali, suaranya mengecil, seperti ombak yang kehilangan tenaga sebelum mencapai pantai.
“Jadi… ini bukan bajuku?” tanyanya lirih.
“Bajumu sudah hancur,” jawab Mynhemeni singkat.
“Tersobek karang saat kamu—”
“Aku ingat!” seru Cakra tiba-tiba. Dadanya naik turun. Bayangan ombak, rasa sakit, dan karang tajam menyerbu kepalanya sekaligus.
“Pantai Parangtritis. Aku tersangkut di karang palung… dan—” Ia terdiam, matanya membesar.
“Dan aku… bernapas. Di dalam air.”
“Dan itu,” potong Mynhemeni, kini mencondongkan tubuhnya ke depan, “yang ingin kami pahami.”
Ia berhenti sejenak, memberi ruang pada ketegangan.
“Kenapa kamu bisa bernapas di dalam air. Kenapa tubuhmu beregenerasi secepat itu. Kenapa kamu bisa mengalahkan pasukan elit kami sendirian.” Nada suaranya tak mengancam, tapi justru itulah yang membuatnya lebih menakutkan.
“Karena itu kami membawamu ke Nor. Distrik Porkah terdekat dari lokasi kamu terseret ombak. Kami butuh jawaban dari kamu.”
Cakra menelan ludah.
Pandangannya berkeliling. Dinding kendaraan yang hidup, cahaya lembut, kesunyian yang terlalu rapi.
“Jadi ini…” suaranya nyaris bergetar, “…beneran di dalam laut?"
Sebagian dirinya ingin tertawa. Sebagian lain ingin pingsan.
Lebih mudah baginya percaya bahwa ia telah mati dan berada di akhirat, daripada menerima kenyataan bahwa ia masih hidup, dan kini berdiri di dalam kendaraan negeri bawah laut.
Sebelum Cakra sempat bertanya aman menurut siapa, tubuhnya sudah terseret masuk. Bukan ditelan secara kasar, melainkan ditarik lembut, seolah udara di sekelilingnya berubah menjadi tangan tak terlihat yang mengarahkan langkahnya.
Dalam sekejap, dunia luar menghilang.
Sedetik kemudian, ia berdiri di dalam tubuh ikan pari itu.
Cakra tertegun.
Bagian dalamnya jauh dari bayangannya tentang mesin atau kendaraan perang. Ruangan itu luas, hangat, dan anehnya… nyaman. Ia seperti berada di lounge eksklusif di daratan. Di langit-langit, beberapa ubur-ubur kecil melayang perlahan, tubuh transparan mereka memancarkan cahaya warna-warni yang lembut. Biru, ungu, hijau, seperti lampu gantung hidup yang berdenyut mengikuti arus.
Kendaraan itu bergetar perlahan. Nyaris tak terasa. Kemudian mulai melaju. Tak ada kokpit. Tak ada kursi pengemudi. Yang ada hanya beberapa lemari kecil yang melayang bebas, sebuah meja rendah, dan dua sofa panjang di kanan-kiri ruangan. Sofa itu tampak hidup. Bergerak sedikit, bergeser mendekat, seolah sadar sedang diperhatikan. Ada dorongan aneh di benak Cakra, keyakinan tak masuk akal bahwa benda itu akan berubah bentuk jika ia memintanya. Menjadi kasur. Atau mungkin tempat berlindung.
“Ini… kendaraan?” gumamnya, nyaris tak terdengar.
Rasa takjub itu berubah menjadi kepanikan ketika pikirannya melayang ke luar. Seketika, dinding di sekelilingnya memudar, lalu transparan sepenuhnya. Pemandangan kota terbentang jelas di sekeliling mereka. Bangunan menjulang, terumbu karang melayang, lalu lintas cahaya yang sibuk. Semuanya tampak begitu dekat, seolah ruangan ini melayang bebas tanpa dinding, tanpa perlindungan.
Napas Cakra tersendat.
“Kenapa kamu panik?” tanya Mynhemeni santai sambil melangkah ke salah satu sofa. Ia duduk, tubuhnya tenggelam nyaman, seakan ini memang ruang pribadinya.
“Ruangan ini terbang tanpa sekat!” Cakra menoleh cepat ke segala arah, bahunya menegang.
“Bagaimana kalau ada yang melihat kita?”
Mynhemeni menyandarkan punggungnya, pandangannya berpaling dari Cakra. “Mereka tidak akan melihat,” katanya ringan.
“Dari luar, ini tetap terlihat seperti tubuh jet. Itu karena kamu yang minta,” jawab Mynhemeni cepat, lalu berhenti sejenak seolah menyadari kalimatnya terlalu panjang.
“Tak ada yang bisa melihat ke dalam sini. Aku sudah mengaktifkan mode penyamaran.” Ia menatap Cakra hangat.
“Bagi siapa pun di luar sana, jet ini akan terlihat seperti milik orang yang paling ingin mereka hindari. Jadi… kita aman.” Cakra menelan ludah. Di matanya, ini bukan sekadar jet melainkan ruangan hidup yang melayang cepat, mematuhi pikiran penghuninya. Dan entah kenapa, kesadaran itu justru membuat bulu kuduknya semakin berdiri.
Penjelasan itu tidak sepenuhnya menenangkan Cakra.
Ia justru memijat pelipisnya, dahi berkerut.
“Suaramu,” katanya pelan, nada suaranya goyah.
"Sama seperti suara yang berbicara di dalam kepalaku.” Baru saat itu ia sadar, lengannya sudah tidak lagi mendekap Mynhemeni. Sentuhan yang sejak tadi ia pertahankan entah kapan terlepas. Tubuhnya refleks menegang, menunggu serangan balasan yang tak kunjung datang.
Keanehan itu membuatnya semakin waspada.
Namun Mynhemeni tidak bergerak agresif. Ia justru duduk nyaman di atas sofa, menatap Cakra dengan ekspresi yang sulit dibaca olehnya. Lalu bibir gadis itu melengkung membentuk senyum tipis. Bukan senyum meremehkan, bukan pula ejekan. Itu senyum lega. Seperti seseorang yang akhirnya melihat potongan terakhir dari teka-teki yang selama ini ia bawa.
Cakra memperhatikan napas Mynhemeni yang mengendur, bahunya sedikit turun.
Firasat gadis itu benar.
Di dalam ruangan yang melayang di dasar laut itu. Di antara cahaya ubur-ubur dan dinding transparan yang berkilau seperti kaca gedung pencakar langit, Mynhemeni akhirnya yakin akan satu hal sederhana namun krusial.
Cakra bukan ancaman.
Cakra tersadar perlahan, seperti seseorang yang baru menyusun kembali ingatannya setelah terbangun dari mimpi panjang. Selama ini, sejak lorong, di dalam gedung, hingga ruang melayang ini. Suara dalam kepalanya adalah sosok yang duduk santai di hadapannya. Mynhemenilah yang tanpa sadar selalu berada di pihaknya. Senyum tipis terbit di wajahnya, dibalas oleh senyuman Mynhemeni yang lembut dan nyaris menenangkan.
Baru sekarang ia benar-benar memperhatikannya.
Gadis yang sempat ia culik itu ternyata sungguh cantik, dengan garis wajah halus yang masih menyimpan kesan belia. Usianya mungkin hanya terpaut satu atau dua tahun darinya. Ada kemiripan yang tak terbantahkan, struktur wajahnya mengingatkan pada Georu, pria cantik yang sebelumnya menyiksanya. Namun sikap Mynhemeni jauh lebih feminin, lebih hangat, seolah dua sisi dari koin yang sama namun berlawanan arah.
“Terima kasih sudah membantuku…” ucap Cakra tulus. Mynhemeni mengangkat bahu.
Cakra berjalan ke sofa di seberang, dipisahkan oleh meja kecil yang melayang tenang di antara mereka. Begitu tubuhnya menyentuh permukaan sofa, benda itu bergerak hidup, menggeser dan menopang tubuhnya dengan presisi yang membuatnya terkejut. Bahkan, sofa itu mengambil paksa namun halus tombak yang ia genggam. Tak lama, tombak itu mendarat perlahan di samping paha kanannya.
“Sebenarnya ini di mana?” Cakra melanjutkan cepat, sebelum rasa nyaman itu membuatnya terlalu lengah.
“Kenapa kamu menolongku? Apa aku sudah mati?”
Sofa itu sempat membuatnya panik. Lengkungan empuknya bergerak seolah menggerayangi tubuhnya, namun detik berikutnya ia mengerti. Sofa itu menyesuaikan dirinya, memaksa tubuh Cakra berada pada posisi paling ideal, paling nyaman, seakan membaca keinginannya sebelum sempat ia sadari sendiri.
Napasnya mengendur.
Sensasi hangat merambat perlahan, seperti pijatan halus dari dalam, membuat otot-ototnya yang tegang sejak lama akhirnya menyerah. Ia hampir tertawa kecil menyadari satu hal yang absurd. Bahkan sofa mewah di ruang kerja ayahnya tak pernah memanjakannya sejauh ini.
“Kamu berada di Distrik Nor,” ujar Mynhemeni tenang. “Wilayah ini berada di bawah kekuasaan Kerajaan Porkah. Kamu belum mati. Dan kamu tidak boleh mati... Setidaknya sampai kami yakin kamu bukan ancaman bagi Bumi.”
Ia menggerakkan kepalanya sedikit. Dari ujung bahunya kirinya muncul bola kecil berkilau, seukuran biji cabai, yang meluncur masuk ke mulutnya tanpa Mynhemeni perlu membukanya.
Asupan gizi instan.
Tubuhnya memang mulai menuntut balasan setelah dua belas jam terjaga, bukan karena lembur biasa, melainkan karena satu fakta yang mengacaukan segalanya. Letnan Rihum menemukan manusia darat yang mampu bernapas di dalam laut.
Sejak itu, waktu berhenti baginya.
"Apa maksudmu ancaman bagi Bumi?” suara Cakra meninggi.
“Kerajaan Porkah itu di mana? Kenapa aku dibawa ke sini?” Dadanya naik turun.
“Kenapa kalian menculikku?!”
Emosinya akhirnya tumpah. Terlalu banyak kejadian, terlalu banyak hal yang mustahil untuk dicerna dalam satu napas. Laut yang terasa seperti daratan. Kendaraan hidup. Ruangan yang memanjakannya seperti istana. Ia bahkan mulai ragu apakah Bumi yang ia kenal masih relevan.
Namun, alih-alih jawaban, keheningan yang menusuk datang lebih dulu.
Mynhemeni menatapnya beberapa detik, bukan dengan marah, bukan pula dengan takut. Lalu ia kembali menggerakkan kepalanya. Dari lengan seragamnya, sesuatu keluar dengan desis halus. Sebilah benda kecil, menyerupai pisau tipis dengan tepi berkilau, melayang ke tangan kanannya.
Gerakannya cepat dan presisi.
Dalam satu tarikan napas, ujung pisau itu sudah mengarah tepat ke Cakra.
Dan untuk pertama kalinya sejak masuk ke tubuh ikan pari itu, Cakra merasakan udara, atau air di sekitarnya kembali menjadi dingin.
“Apa yang ingin kamu lakukan?” suara Cakra menegang ketika melihat ujung pisau itu bergerak sedikit lebih dekat. Refleks mengambil alih. Ia berdiri, kaki menapak mantap seolah lantai itu benar-benar padat, tubuhnya condong ke depan. Siap melawan, meski nalurinya berteriak bahwa melawan di tempat asing ini adalah ide buruk.
“Tenang,” kata Mynhemeni cepat, nadanya turun, tidak mengancam. “Aku tidak akan melukaimu.” Ia melangkah mendekat satu langkah, lalu berhenti, menjaga jarak aman.
“Aku hanya ingin menunjukkan sesuatu. Setelah ini, pertanyaanmu akan mulai masuk akal.” Pisau itu tetap di tangannya, namun tidak lagi diarahkan ke titik vital.
Mynhemeni mengedip sekali lagi.
Dari udara di sekitar Cakra, dua bola bercahaya muncul. Halus, berdenyut pelan, lalu bergerak mengitari tubuhnya seperti satelit kecil yang patuh pada orbitnya sendiri. Cahaya kebiruan bola itu memantul di dinding transparan ruangan, membuat bayangan samar yang bergerak mengikuti napas Cakra.
“Menunjukkan apa?” Cakra menelan ludah. Matanya mengikuti pergerakan bola-bola itu.
“Dan… bola apa yang mengelilingiku?”
“Sesuatu yang bisa meyakinkanmu,” jawab Mynhemeni.
“Tenang saja.” Sudut bibirnya terangkat tipis.
“Bola itu melindungimu.”
Ia tidak sepenuhnya berbohong. Dua bola cahaya itu memang berfungsi sebagai perisai. Khususnya untuk bagian tubuh Cakra yang akan terekspos sesaat lagi. Mynhemeni tidak ingin mengambil risiko. Jika dugaannya benar, ada sesuatu di dalam tubuh Cakra. Sebuah detektor. Dan jika Cakra terluka, walau hanya sedikit, sinyal itu bisa aktif.
Dan saat itu terjadi, bukan hanya mereka yang akan tahu.
“Hal apa yang bisa meyakinkanku sampai kamu harus mengeluarkan pisau dan—” kalimat Cakra terputus di tengah napas.
Pisau itu sudah menempel di sisi dalam lengan kanan bawahnya. Saat ujungnya menyentuh kulit, kilatan cahaya muncul. Mula-mula setipis garis, lalu meledak seperti badai kecil yang berputar di satu titik. Anehnya, tak ada rasa sakit. Tidak juga panas. Hanya tekanan asing, seperti udara laut yang tiba-tiba memadat.
Sedetik kemudian, barulah pisau itu menembus kulit.
Mynhemeni bergerak cepat. Terlalu cepat untuk dicegah. Satu sayatan bersih. Cakra meringis dan refleks menarik tangannya, jantungnya menghantam dada. Namun rasa perih itu hanya sempat menyala sesaat, lalu padam, digantikan sensasi geli yang menjalar lembut dari bekas luka.
Darah yang sempat keluar tidak jatuh. Ia mengambang. Tetes-tetes merah itu berkumpul, menyatu menjadi gumpalan kecil yang melayang tepat di hadapan mata Cakra. Sebelum ia sempat bereaksi, gumpalan itu berputar pelan, lalu tertarik kembali ke lengannya.
Kulit yang terbuka menutup dengan sendirinya, serat-serat daging menyatu rapi seolah diputar ulang oleh tangan tak terlihat. Dalam hitungan detik, luka sepanjang satu sentimeter itu lenyap. Tak ada bekas. Tak ada garis.
“A… apa yang sebenarnya terjadi?” suara Cakra bergetar. Ia mengusap-usap lengannya berulang kali, memastikan kulit itu nyata, hangat, utuh. Ini bukan ilusi. Rasa sakitnya tadi terlalu nyata, begitu pula geli yang masih tersisa di bawah kulitnya.
Dan itu justru yang paling menakutkan.
“Tubuhmu menyembuhkan diri dengan sangat cepat,” ujar Mynhemeni sambil kembali duduk, nadanya kini lebih tenang namun sarat kehati-hatian.
“Teknologi medis kami mampu melakukan hal serupa. Tapi… tidak secepat itu.”
Cakra masih berdiri di tempatnya, pikirannya berputar tanpa arah. Pisau yang tadi sempat berkilat kini telah lenyap, menyatu kembali dengan busana Mynhemeni, seolah tak pernah ada. Tombak yang sebelumnya ia gunakan untuk menyandera gadis itu juga telah menghilang. Sofa di sampingnya kini kosong, sunyi, seakan senjata itu tak pernah diletakkan di sana. Dua cahaya yang tadi mengitari tubuhnya pun padam begitu saja, meninggalkan udara hening yang terasa ganjil.
“A-aku… butuh minum,” katanya akhirnya, suaranya serak. Kesadaran bahwa semua ini nyata membuat tenggorokannya mendadak kering. Perutnya ikut berontak, menuntut diisi. Cakra bahkan tak ingat kapan terakhir kali ia makan.
“Gerakkan kepalamu,” ujar Mynhemeni singkat.
“Pikirkan apa yang ingin kamu minum. Dari bajumu akan keluar butiran yang langsung masuk ke mulutmu.”
Cakra mengernyit, ragu, namun menuruti. Ia menggerakkan kepala pelan sambil membayangkan air hangat. Seketika, butiran kecil melesat dari ujung busana hijau yang ia kenakan dan masuk ke mulutnya. Tanpa wadah, tanpa tangan, air mineral hangat mengalir mulus ke tenggorokannya.
Sensasinya nyata. Ia sempat bertanya-tanya kapan aliran itu akan berhenti. Dan tepat saat pikiran itu muncul, airnya berhenti.
“Bagaimana bisa…?” gumam Cakra takjub. Dahaganya lenyap. Ia yakin barusan minum setidaknya tiga gelas penuh, dan semua itu terjadi begitu saja, di dalam tubuh ikan pari, jauh di bawah laut, seolah hukum dunia lama tak lagi berlaku.
“Saat kami menemukanmu, kami menyematkan teknologi pakaian kami ke tubuhmu,” jelas Mynhemeni, suaranya mengalir tenang, seolah sedang menerangkan hal paling wajar di dunia.
“Yang kamu kenakan sekarang bukan sekadar pakaian. Itu pantulan dari sistem proteksi kami." Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap. Cahaya kebiruan dari dinding transparan memantul di wajahnya, membuat garis-garis rautnya tampak tegas, hampir dingin.
“Ketika aku mencoba melukaimu tadi,” lanjutnya, “kilatan di sekitar pisaunya muncul karena itulah cara kerja sistem itu. Sensor pada pakaianmu menangkap sinyal ancaman, lalu meresponsnya sebelum bahaya menyentuh tubuhmu.”
Penjelasan itu terdengar logis. Terlalu logis.
Mynhemeni tidak sepenuhnya berbohong, tapi ia juga jauh dari jujur. Ia tak mungkin mengatakan bahwa kilatan cahaya itu bukan sekadar perisai, melainkan lapisan teknologi bangsanya untuk membungkam sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Jejak seluler dalam tubuh Cakra. Sistem itu memastikan tak ada satu pun sinyal, sekecil apa pun, yang bisa dipindai. Tak ada detektor. Tak ada panggilan pulang. Tak ada alarm yang dapat menembus jarak ribuan galaksi dan memanggil bangsa asal anak itu.
Cakra refleks menunduk. Matanya menyapu kaos hijau yang melekat di tubuhnya. Biasa saja, bahkan terlihat seperti kaos yang sering ia pakai sehari-hari. Ia meremas kain itu, menariknya sedikit, merasakan seratnya di antara jemarinya. Lembut. Nyata. Tidak ada getaran. Tidak ada panas. Tidak ada cahaya.
“Rasanya… biasa aja,” gumamnya, lebih pada diri sendiri. Ia mendongak kembali, suaranya mengecil, seperti ombak yang kehilangan tenaga sebelum mencapai pantai.
“Jadi… ini bukan bajuku?” tanyanya lirih.
“Bajumu sudah hancur,” jawab Mynhemeni singkat.
“Tersobek karang saat kamu—”
“Aku ingat!” seru Cakra tiba-tiba. Dadanya naik turun. Bayangan ombak, rasa sakit, dan karang tajam menyerbu kepalanya sekaligus.
“Pantai Parangtritis. Aku tersangkut di karang palung… dan—” Ia terdiam, matanya membesar.
“Dan aku… bernapas. Di dalam air.”
“Dan itu,” potong Mynhemeni, kini mencondongkan tubuhnya ke depan, “yang ingin kami pahami.”
Ia berhenti sejenak, memberi ruang pada ketegangan.
“Kenapa kamu bisa bernapas di dalam air. Kenapa tubuhmu beregenerasi secepat itu. Kenapa kamu bisa mengalahkan pasukan elit kami sendirian.” Nada suaranya tak mengancam, tapi justru itulah yang membuatnya lebih menakutkan.
“Karena itu kami membawamu ke Nor. Distrik Porkah terdekat dari lokasi kamu terseret ombak. Kami butuh jawaban dari kamu.”
Cakra menelan ludah.
Pandangannya berkeliling. Dinding kendaraan yang hidup, cahaya lembut, kesunyian yang terlalu rapi.
“Jadi ini…” suaranya nyaris bergetar, “…beneran di dalam laut?"
Sebagian dirinya ingin tertawa. Sebagian lain ingin pingsan.
Lebih mudah baginya percaya bahwa ia telah mati dan berada di akhirat, daripada menerima kenyataan bahwa ia masih hidup, dan kini berdiri di dalam kendaraan negeri bawah laut.
Other Stories
Di Luar Rencana
Hening yang tidak akur dengan Endaru, putrinya, harus pulang ke kampung halaman karena Ibu ...
Bisikan Lada
Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketah ...
Institut Tambal Sains
Faris seorang mahasiswa tingkat akhir sudah 7 tahun kuliah belum lulus dari kampusnya. Ia ...
Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )
pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...
Cicak Di Dinding ( Halusinada )
Sang Ayah mencium kening putri semata wayangnya seraya mengusap rambut dan berlinang air m ...
Langit Ungu
Cerita tentang Oc dari Penulis. karakter utama - Moon Light "Hidup cuma sekali? Lalu be ...