Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia

Reads
9.8K
Votes
6.9K
Parts
71
Vote
Report
Negeri bawah laut porkah: cakra di samudra hindia
Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia
Penulis Virdytan

Bab 33 - Menolak Pergi

“Akan tetapi, yang kamu lihat justru ini…”

Dalam sekejap, sosok Nyai Roro Kidul memudar seperti bayangan yang tersapu arus. Dalam satu tarikan napas, cahaya hijau yang menyelimutinya runtuh seperti tirai, menyingkap kembali wujud Letnan Rihum. Namun seragamnya tidak lagi menyerupai milik Mynhemeni. Pakaian itu menjelma seperti jubah panjang berwarna gelap, menjuntai berat, dengan ujung-ujung yang tampak tercabik seolah pernah terseret karang dan badai.

Senjata kecil di tangannya melengkung perlahan, berubah menjadi sabit berkilau. Helm yang semula tampak futuristik kini berubah. Dari sisi kanan dan kirinya tumbuh tanduk menyerupai tanduk rusa, dan di sela-selanya menyala api tipis yang bergoyang tenang meski berada di bawah laut. Kereta kencana yang tadi melayang anggun pun berlipat kembali, menjelma jet pesawat yang sama dengan yang kini menaungi Cakra.

“Itu yang aku lihat saat aku tenggelam…!” seru Cakra. Bulu kuduknya meremang, napasnya tertahan. Suaranya bergetar, dadanya terasa sesak. Ingatan itu terlalu nyata untuk sekadar ilusi. Mynhemeni hanya menatapnya lama sebelum berbicara.

“Kamu melihat Letnan Rihum dengan kostum yang aneh,” ujarnya pelan. Wajahnya mengeras.

“Dan di situlah masalahnya. Mode penyamarannya seakan tidak bekerja padamu.” Ungkap Mynhemeni menatap Cakra dalam. Ia menggerakkan kepalanya sedikit. Tak lama jet mulai bergerak, perlahan menjauhi dinding karang tempat Cakra dahulu terombang-ambing.

“Hei, kenapa kita malah mundur?” tanya Cakra.

Mynhemeni tidak menjawab.

Mereka kembali melewati kapal selam yang masih diam di tempatnya, tak satu pun awak di dalamnya menyadari keberadaan mereka. Bagi yang berada di dalam kapal selam Rusia, mereka hanya melihat seekor tuna besar melesat di kejauhan, cepat dan tenang, seperti kilatan bayangan di jalan raya bawah laut.

Beberapa detik kemudian, jet itu menukik ke atas. Permukaan laut terbelah, dan dalam satu hentakan mereka menembus permukaan. Air berubah menjadi kabut, lalu hilang sama sekali. Jet itu melesat ke udara seperti roket, meninggalkan laut di bawah seperti hamparan kaca biru.

“Kita mau ke mana sebenarnya?” suara Cakra terdengar lebih kecil kini.

Ia menatap ke bawah.

Di bawah sana, laut Pantai Parangtritis membentang luas, biru gelap dan berkilau, sementara di kejauhan garis daratan hijau mulai terlihat semakin jelas. Jet itu terus melaju, menembus langit menuju bumi yang terasa ganjil baginya. Sebuah tempat yang asing, padahal ia mengenalnya seumur hidup.

Laut Parangtritis kini tak lagi lengang.

Beberapa kapal patroli dengan ukuran dan bentuk berbeda bergerak saling berpapasan, memecah permukaan air seperti barisan kendaraan di jalan raya. Di atasnya, helikopter berputar rendah, baling-balingnya mengaduk udara, menciptakan gema berat. Get Pemandangan ini terasa asing bagi Cakra. Laut yang ia kenal tak pernah seramai ini, seolah seluruh dunia sedang mencarinya.

“Tunggu… itu….” Suara Cakra tercekat. Matanya terpaku pada satu kapal di bawah sana. Sosok yang berdiri di geladaknya terlalu familiar untuk diabaikan.

“Ayah…”

Jet mereka melambat tepat di atas kapal itu. Lantai di bawah kaki Cakra berubah bening, transparan, menyingkap jarak beberapa belas meter yang memisahkan dirinya dengan ayahnya. Tanpa ragu, Cakra menjatuhkan tubuhnya, berbaring di lantai itu. Tangannya menghantam permukaan keras yang tak lagi terlihat, berkali-kali, putus asa.

“Ayah! Cakra di sini!” teriaknya. Suaranya pecah, tenggorokannya perih.

“Ayah, lihat Cakra!” Ia menepuk-nepuk lantai jet sekuat tenaga, seolah kaca itu bisa menjadi air, seolah teriakan bisa menembus batas yang tak kasatmata. Namun di bawah sana, ayahnya tetap menatap laut, tak sedikit pun mendongak.

Mynhemeni menggeleng pelan. “Percuma. Mereka tidak akan melihat atau mendengar kita.”

Cakra menoleh tajam. “Kenapa?”

“Bagi mereka, kita hanyalah seekor burung yang melintas di atas laut. Tak lebih.”

Mynhemeni sedikit memiringkan kepala. Kali ini, bukan dari tubuhnya yang muncul sesuatu, melainkan dari sisi jet. Sebuah bola kecil meluncur keluar, nyaris sebesar kutu, hampir mustahil terlihat. Namun mata Cakra menangkapnya dengan jelas saat benda itu melesat turun, menembus udara, menuju kapal ayahnya.

Cakra menahan napas.

Lalu suara itu terdengar.

“Ya Tuhan… tolong tunjukkan keajaiban-Mu.”

Cakra tersentak. Dadanya mengencang saat suara ayahnya memenuhi ruang di sekelilingnya.

“Tolong temukan anak saya,” lanjut suara itu, bergetar. “Dalam keadaan utuh dan selamat.” Ia sangsi orang-orang di atas kapal itu benar-benar dapat mendengar doa ayahnya yang tenggelam oleh deru mesin dan gelombang laut Namun ironi terasa menyesakkan karena justru dirinya, yang berada jauh di atas laut, menangkap setiap kata dengan sangat jelas. Suara itu terasa dekat, terlalu dekat, seolah suara itu menembus air, logam, dan jarak tanpa kehilangan makna. Seakan jarak dan logika dilipat begitu saja.

Cakra menoleh ke sekeliling, kebingungan, karena sensasinya seperti ayahnya sedang berdiri di dalam jet bersamanya. Dan yang diterimanya justru lebih menyesakkan. Lantai transparan memudar, dan di hadapannya muncul tayangan baru. Adegan hologram casvet atas dirinya yang hanyut di Parangtritis menghilang. Tergantikan oleh sosok ayahnya yang berdiri sendiri di geladak kapal, bibirnya terus bergerak dalam doa yang tak putus. Untuk pertama kalinya sejak tenggelam, Cakra merasa lebih sakit oleh hujanan doa dari mulut ayahnya daripada oleh laut dan ratusan sengatan listrik bangsa Porkah.

Dengan langkah ragu, Cakra mendekat. Tatapannya basah, penuh kebingungan dan harap yang rapuh. Matanya berair seiring langkahnya mendekati hologram casvet yang menampilkan sosok Adipramana mengumandangkan doa. Tanpa sepengetahuannya, Mynhemeni memerintahkan casvet untuk berubah menjadi mode tiga dimensi. Dalam sekejap, sosok Ayah Cakra yang semula hanyalah pantulan cahaya berpendar hologram, berubah. Menghadirkan sosok ayahnya yang utuh dan padat, bukan sekadar cahaya tembus pandang seperti sebelumnya. Kulitnya terlihat nyata, lipatan bajunya jelas, seperti pahatan manusia hidup yang dipindahkan begitu saja dari dunia nyata.

Seketika udara terasa berubah. Cakra merinding dari tengkuk hingga ujung jari saat detail wajah ayahnya semakin jelas. Garis lelah di matanya, bahu yang menegang, dan ekspresi cemas yang terlalu ia kenal, bahkan napas yang naik turun perlahan.

Tanpa sadar, tangannya terulur.

Ia menyentuh lengan ayahnya.

Hangat. Nyata.

“Ayah…” bisiknya, suaranya bergetar.

Cakra mengguncang tubuh itu perlahan, lalu lebih kuat, putus asa. Berharap ada reaksi sekecil apa pun. Namun ayahnya tetap diam, tatapannya kosong, seperti terjebak di antara doa dan ketakutan. Tubuh itu ada di hadapannya, bisa disentuh, namun tak bisa menjawab, tak bisa merespons. Dan di saat itulah, Cakra menyadari bahwa jarak paling menyakitkan bukanlah laut yang memisahkan mereka, melainkan batas tipis antara dilihat dan disadari.

“Ayahmu tidak dapat merasakan sentuhanmu. Ia baru bisa merasakannya jika menggunakan alat yang sama,” jelas Mynhemeni dari kursinya, suaranya datar dan terukur, seolah sedang menjelaskan prosedur teknis biasa.

Cakra tidak menoleh. Pandangannya terpaku pada wajah ayahnya yang pucat, matanya sayu oleh cemas yang belum sempat beristirahat. Dadanya terasa seperti diremas. Ia ingin berteriak, ingin memohon, tapi kata-kata itu tenggelam di tenggorokan.

“Jadi,” lanjut Mynhemeni setelah jeda singkat, “kamu sekarang percaya bahwa kamu masih hidup?"

Tak ada jawaban.

"Bahwa ini bukan mimpi?” nadanya dipermainkan.

Belum sempat Cakra menjawab, tubuh ayahnya perlahan memudar. Bentuknya larut seperti kabut yang diseret arus laut, lalu lenyap begitu saja. Cakra tersentak.

“Tunggu… jangan!” serunya.

Namun ruang di depannya kembali terisi. Kali ini sosok bundanya muncul, duduk dengan bahu merosot, kedua tangannya menggenggam kain di pangkuannya. Wajah itu basah oleh air mata yang terus mengalir tanpa diseka, matanya merah dan kosong, seperti sedang menatap kehampaan.

“Bundaaa…” suara Cakra pecah.

Ia tersentak dan memeluk bundanya erat. Tangannya gemetar saat merangkul tubuh itu, kepalanya menunduk, mengecup ubun-ubun bundanya berkali-kali. Aroma yang ia kenal, hangat dan menenangkan, membuat dadanya semakin sesak.

“Bunda… Cakra minta maaf,” isaknya. “Tolong jangan menangis. Cakra masih hidup. Cakra ada di sini, Bunda.” Ia menjauh sedikit, menatap wajah bundanya yang tak bereaksi.

“Cakra akan pulang. Sungguh. Maafkan Cakra karena sudah membuat Bunda seperti ini. Tolong…” Air mata Cakra jatuh tanpa henti, membasahi pipinya, bercampur dengan rasa bersalah yang tak tahu harus diletakkan di mana.

“Seperti yang tadi aku jelaskan…” suara Mynhemeni kembali terdengar.

“Iya,” potong Cakra lirih, suaranya serak.

“Aku tahu. Mereka tidak bisa merasakan sentuhanku.” Ia mengusap wajahnya dengan punggung tangan, berusaha mengatur napas di tengah gemuruh perasaannya. Perlahan ia menoleh ke arah Mynhemeni, matanya masih basah, tapi kini ada pertanyaan yang mendesak keluar.

“Tapi… bagaimana kamu tahu, kalau mereka adalah orang tuaku?” tanyanya pelan.

“Jet ini mampu menangkap berbagai jenis frekuensi yang dipancarkan oleh semua benda,” ujar Mynhemeni tenang.

“Baik benda hidup maupun benda mati, dalam radius delapan puluh tujuh kilometer. Ada enam sumber dengan pola emosi yang serupa. Takut, cemas, harap, dan putus asa.” Kalimat itu belum sepenuhnya dicerna Cakra ketika pahatan bundanya tiba-tiba menghilang. Tubuh Cakra terhuyung. Ia hampir tersungkur karena masih dalam posisi memeluk, setengah berlutut di lantai jet yang licin dan dingin seperti batu basah di dasar laut.

“Bunda…” gumamnya panik.

Cahaya di hadapannya kembali berpendar. Kali ini bukan satu sosok yang muncul, melainkan empat sekaligus. Victor, Beni, Tommy, dan Dito. Mereka duduk berdekatan, wajah-wajah mereka tegang, seolah baru saja lolos dari sesuatu yang mengerikan. Suara Victor terdengar lebih dulu, bergetar dan terburu-buru.

“Gue lihat sendiri. Cakra dibawa Nyi Roro Kidul.” Cakra menahan napas. Dadanya terasa hangat dan nyeri di saat bersamaan.

“Victor... Dito... Kalian selamat?” katanya nyaris berteriak, antara tak percaya dan lega.

Ia bergerak mendekat, mencoba memeluk mereka sekaligus. Tangannya meraih ke segala arah, tapi jarak di antara Victor dan Dito membuatnya hanya menggenggam udara. Sentuhan itu terasa nyata, namun hampa.

“Jadi ini semua nyata?” tanya Cakra pelan. “Bukan mimpi?”

Ia menoleh ke arah Mynhemeni, mencari jawaban. Mynhemeni hanya mengangguk ringan, gerakan kecil yang terasa lebih berat dari kata-kata apa pun. Sekejap kemudian, satu per satu pahatan tubuh teman-temannya memudar. Cahaya meredup. Ruang di dalam jet kembali kosong. Pada saat yang sama, mesin meraung halus dan pesawat melaju mundur dengan kecepatan tinggi, air laut di luar tampak seperti dinding yang terseret ke belakang.

“Tunggu,” seru Cakra terkejut. “Kita mau ke mana?” Mynhemeni tetap duduk tenang, kedua matanya mengarah ke depan.

“Seperti yang sudah aku katakan,” ujarnya santai. “Aku akan membawamu ke tempatku. Kita akan memecahkan misteri tentang dirimu di sana.”

Cakra terdiam. Jantungnya masih berpacu, pikirannya berputar antara wajah orang tuanya, teman-temannya, dan satu pertanyaan yang semakin sulit diabaikan.

“Berhenti!” teriak Cakra.

Ia bangkit dan berlari ke dinding tempat ia pertama kali masuk. Tangannya meraba permukaan transparan itu, mencari celah, sambungan, apa pun yang bisa dibuka. Saat tak menemukan apa-apa, kepalan tangannya menghantam dinding berkali-kali. Bunyi dentuman tumpul memantul di dalam jet, seperti pukulan pada batu besar di dasar laut.

Tak ada retakan.

Tak ada getaran.

Cakra terdiam sejenak, napasnya memburu. Di Alpam khusus tadi, dinding besi bisa ia robohkan hanya dengan beberapa pukulan. Sekarang, permukaan ini bahkan tak menunjukkan goresan kecil pun.

“Percuma,” suara Mynhemeni terdengar santai dari belakang. Ia masih bersandar di sofa, kaki disilangkan, seolah semua ini hanya gangguan kecil.

“Pesawat ini dilapisi baja dengan kekuatan seribu kali lipat dari bangunan yang kamu hancurkan.” Cakra menoleh tajam. Matanya menyala, rahangnya mengeras.

“Keluarkan aku dari sini,” katanya parau. “Aku ingin pulang.” Cahaya lembut kembali memindai jet. Dalam sekejap, pemandangan di luar berubah. Distrik Nor terbentang lagi di hadapan mereka, tenang dan asing, seolah mengejek kerinduannya pada rumah.

“Kamu tidak akan saya izinkan pulang,” ujar Mynhemeni tanpa nada bersalah. “Sebelum status tentang dirimu jelas.”

Cakra tertawa pendek, pahit. “Jadi kamu menculikku?”

Mynhemeni tidak menjawab. Keheningan itu justru terasa lebih keras daripada bantahan apa pun.

“Sialan,” hardik Cakra. Dadanya naik turun, pikirannya dipenuhi wajah ayah dan bundanya yang basah oleh air mata. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah maju dan menghujamkan tinjunya ke arah Mynhemeni. Namun sebelum pukulan itu mendarat, sesuatu menghantam tubuhnya dari dalam. Rasa panas menjalar cepat, seperti arus listrik yang menyambar urat-uratnya. Tubuh Cakra mendadak kaku. Otot-ototnya menegang di luar kendali. Ia terhenti di tempat, berdiri tegap dengan seluruh tubuh bergetar hebat.

Rasanya menyakitkan. Lebih dari sekadar sakit. Ia ingin berteriak, tapi rahangnya terkunci. Napasnya tersendat, jantungnya berdegup liar di telinga.

Other Stories
Senja Terakhir Bunda

Sejak suaminya pergi merantau, Siska harus bertahan sendiri. Surat dan kiriman uang sempat ...

Desviar : Libur Dari Kata-kata

Dua penulis yang berniat berlibur justru terjebak dalam kolaborasi tak disengaja ketika ke ...

Baca Tanpa Dieja

itulah cara jpload yang bener da baik ...

Ryan Si Pemulung

Ryan, remaja dari keluarga miskin, selalu merasa hidupnya terkunci dalam sebuah rumah reot ...

Keikhlasan Cinta

6 tahun Hasrul pergi dari keluarganya, setelah dia kembali dia dipertemukan kembali dengan ...

Hanya Ibu

Perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantung sej ...

Download Titik & Koma