Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia

Reads
9.7K
Votes
6.9K
Parts
71
Vote
Report
Negeri bawah laut porkah: cakra di samudra hindia
Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia
Penulis Virdytan

Bab 31 - Bertolak Arah

“Sanvar bekerja otomatis,” katanya tenang.

“Sanvar mendeteksi materi yang tak lagi dibutuhkan tubuhmu, mengeluarkannya, lalu mengolahnya kembali menjadi energi.”

“Jadi…” Cakra menghembuskan napas, masih tak percaya pada rasa kosong yang bersih di tubuhnya.

“Limbah tubuhku… jadi bahan bakar?”

“Kurang lebih begitu.”

Cakra menggeleng pelan, lalu tertawa pendek. Tawa orang yang akal sehatnya sedang mengejar ketertinggalan. Ia kembali ke sofa dan duduk berhadapan dengan Mynhemeni, posisi yang terasa anehnya normal. Seperti percakapan santai di ruang tamu daratan.

“Kalau aku lapar?” tanyanya kemudian.

“Kalau aku pengen makan, gimana?”

“Tinggal gerakkan kepalamu lagi sebagai rangsangan,” ujar Mynhemeni santai, seolah sedang memberi petunjuk menggunakan alat dapur biasa.

“Bola kecil itu akan keluar dari bajumu, lalu masuk ke mulutmu. Setelah itu, Sanvar akan mengolahnya menjadi makanan yang diinginkan tubuhmu, dengan porsi yang sudah disesuaikan dengan metabolisme.”

Cakra menurut tanpa banyak tanya. Ia menggerakkan kepalanya perlahan. Dari lipatan bajunya, sebuah bola kecil meluncur halus, melayang sekejap seperti mengikuti arus tak terlihat, lalu masuk begitu saja ke mulutnya.

Detik berikutnya, lidahnya menyentuh sesuatu yang padat.

“—Hah?” Ia refleks mengunyah.

Irisan daging wagyu memenuhi mulutnya. Lembut, berlemak, meleleh nyaris tanpa usaha. Sensasi panas dan gurihnya terasa begitu nyata sampai Cakra harus memejamkan mata sesaat.

“Woow…” gumamnya dengan mulut masih bekerja.

“Ini… ini kayak sihir.” Ia membuka mata, menatap Mynhemeni dengan wajah setengah tak percaya.

“Gimana ceritanya daging bisa tiba-tiba muncul di mulutku?”

Belum sempat Mynhemeni menjawab, Cakra menelan. Dan saat pikirannya sekilas melayang pada durian. Aroma tajam, rasa manis yang ia rindukan. Tekstur di mulutnya berubah. Kini yang ia kunyah adalah daging buah durian, legit dan pekat, seolah baru saja dibelah di pasar pagi.

Mynhemeni tersenyum kecil.

“Sanvar menyimpan basis material seluruh bahan pangan yang ada di bumi. Darat maupun laut,” jelasnya.

“Begitu menerima sinyal dari otak dan tubuhmu, alat itu membentuk makanan sesuai keinginan. Bisa bekerja otomatis, bisa juga manual.” Ia menggerakkan kepalanya ringan. Sebuah bola lain muncul, melayang menuju meja di antara mereka. Bola itu berhenti, bergetar lembut, lalu merekah. Bukan meledak, tapi membuka diri seperti kelopak. Dalam sekejap, sebuah set hidangan tersaji rapi.

Seekor kuda laut berukuran besar terhidang di piring oval bercahaya, beratnya mungkin tak lebih dari tiga ratus gram, dikelilingi dedaunan asing dengan warna hijau kebiruan yang berkilau halus. Ukiran di piring itu memantulkan cahaya seperti permukaan laut dangkal. Di sampingnya, sebuah cangkir sedang berdiri tenang, berisi cairan berlapis warna biru, ungu, keemasan. Cairan itu tidak bercampur, seolah masing-masing memiliki kehendak sendiri.

Aroma hidangan itu menyeruak lembut, asin-manis, segar seperti angin laut bercampur rempah daratan. Perut Cakra bergejolak lagi, kali ini bukan karena bingung, melainkan lapar yang sungguh-sungguh.

Ia menelan ludah.

“Oke,” katanya pelan, setengah tertawa.

“Selamat makan.” Cakra kembali mengerakkan kepalanya perlahan. Bola kecil menyesat, sedetik kemudian ia menikmati sensasi segala macam jenis makanan kesukaannya. Tak banyak, setengah sendok setiap suapan.

“Jadi… kalau manual, kita bisa makan dan minum di atas meja seperti ini?” tanya Cakra di sela kunyahan, matanya mengikuti gerakan tangan Mynhemeni. Gadis itu tampak tenang menggoyangkan pisau makannya, memotong daging kuda laut dengan presisi rapi di sela kunyahannya. Gerakan yang terasa sangat manusiawi untuk seseorang yang hidup di dasar laut.

“Tapi…” Cakra menyipitkan mata, masih memindai piring dan cairan berwarna di cangkir.

“Ini benar-benar bisa dimakan? Maksudku, ini kan di dalam laut. Pasti basah. Kena air laut, kan?” Pisau Mynhemeni berhenti di udara. Ia menatap Cakra beberapa detik, lalu menghela napas kecil. Bukan kesal, lebih seperti menahan tawa.

“Serius?” katanya akhirnya.

“Kamu masih bertanya soal itu, setelah kamu sendiri tidak sadar kalau sejak tadi kamu berada di dalam laut?”

Cakra terdiam. Lalu ia tersenyum kaku, menggaruk tengkuknya. “Iya juga sih…”

Baru saat itu kesadarannya benar-benar jatuh seperti batu. Tidak ada dingin yang menggigit. Tidak ada tekanan yang menghimpit dada. Napasnya normal. Pakaiannya kering. Bahkan rambutnya tidak melayang seperti seharusnya di dalam air.

Ia menelan ludah.

Dalam kepalanya, potongan-potongan mulai tersusun. Teknologi bangsa Porkah jelas bukan sekadar alat bertahan hidup. Semua yang ia lihat. Meja, piring, makanan, bahkan udara yang terasa seperti udara, pasti dilapisi sistem yang menolak molekul air. Sistem yang menciptakan batas tak kasatmata antara laut dan daratan.

Dan Sanvar yang melekat di tubuhnya. Bukan sekadar baju.

Cakra menggeser pandangannya ke lengan sendiri, merasakan permukaannya sejenak.

“Jadi… aku bisa bergerak bebas, bernapas, dan melihat terang karena alat ini?” Cakra berhenti mengunyah. Ia sudah kenyang. Potongan daging rusa Afrika yang barusan masih ada di mulutnya lenyap begitu saja, seolah ditarik keluar dari realitas. Ia menelan ludah, lalu mengangguk pelan. Bukan ragu, lebih pada kagum yang sulit disembunyikan.

“Bukan,” potong Mynhemeni cepat. Nadanya tegas, hampir refleks.

“Alat kami tidak mengaktifkan sesuatu yang sebenarnya sudah bisa kamu lakukan sendiri.” Ia menurunkan pisaunya ke piring.

“Seperti yang sudah kukatakan, tubuhmu bereaksi seperti tubuh kami. Sanvar hanya menyesuaikan lingkungan. Lagipula, seluruh benda di negeri Porkah memang terprogram untuk menolak molekul air, tekanan, dan gravitasi. Itu sebabnya kami hidup di dasar laut… tapi merasakannya seperti daratan.”

Cakra terdiam. Kata-kata itu tidak menenangkannya, justru sebaliknya. Ada sesuatu yang berdesir pelan di dadanya.

“Kenapa tubuhku bisa bekerja seperti itu ya…?” suara Cakra lirih, lebih seperti gumaman yang dilemparkan pada dirinya sendiri.Tatapan Mynhemeni mengeras sepersekian detik sebelum kembali netral.

“Itulah,” katanya pelan, nyaris hati-hati, “yang ingin kami ketahui darimu.”

Nada suaranya tenang, tapi di balik ketenangan itu ada tarikan kendali yang jelas.

Ia menahan diri.

Ada banyak hal yang ingin ia lakukan. Mengambil sampel, mengaktifkan Salnost. Membongkar jawaban langsung dari tubuh Cakra. Namun ia memilih tetap duduk, tetap tersenyum tipis, tetap manusiawi.

Cakra menunduk. Bahunya sedikit merosot, seolah ingatan yang hendak ia gali memiliki bobot tersendiri.

Ia menarik napas dalam. “Aku juga nggak tahu,” ujarnya jujur.

“Ini pertama kalinya tubuhku… begini.” Ia tertawa kecil, tapi tawanya kosong.

“Aku bahkan kaget sendiri waktu lukaku nutup cepat.” Ia menunduk, melirik ke arah betis kanannya.

“Waktu aku kelas tiga SD, aku pernah jatuh dari motor." kenangnya pada bayangan lama yang menyeruak.

Ingatan itu datang begitu jelas.

Swiss. Udara Swiss yang dingin dan bersih. Perbukitan hijau yang tampak ramah dari jauh, tapi licin dan berbahaya dari dekat. Ia masih ingat bagaimana ia merengek. Minta dibonceng. Ingin ikut menjelajah perbukitan dengan motor besar, milik salah satu pekerja ayahnya. Motor itu terlalu tinggi untuk tubuhnya yang kecil. Saat ia bersikeras naik sendiri ke jok penumpang, kakinya terpeleset.

Besi pijakan yang tampak biasa ternyata cacat, luput dari perhatian. Korosi membuatnya terbelah tipis, menyisakan ujung tajam yang kejam. Sobekan lima sentimeter terukir jelas di betis kanan Cakra. Darah, rasa perih, dan kepanikan bercampur jadi satu. Bunda Cakra marah besar hari itu. Teriakannya lebih menyakitkan bagi si pekerja dibanding luka di kaki Cakra. Padahal, lelaki itu sudah berusaha mengangkatnya. Tapi Cakra keras kepala. Dan keras kepala selalu punya harga.

“Luka itu…” Cakra bergumam, lalu perlahan menurunkan pandangannya ke kakinya sendiri.

Ia membalik betis kanannya. Sekali. Dua kali. Tangannya mengusap kulit yang mulus, terlalu mulus. Tak ada bekas. Tak ada garis. Tak ada cerita.

“Aneh…” napasnya tercekat.

“Harusnya di sini.” Gerakannya makin cepat.

Ia memeriksa lagi, seolah luka itu hanya sedang bersembunyi. Tidak mungkin hilang. Luka itu selalu ia pamerkan . Sebagai bukti kenakalan masa kecil, sebagai trofi kebanggaan bahwa ia pernah jatuh dan bangkit.

Melihat kepanikan itu, Mynhemeni ikut terdorong maju. Ia meletakkan garpunya, suara logam halus itu nyaris tenggelam oleh dengung ruangan. Tubuhnya condong ke depan.

“Kamu sedang apa?” tanyanya, alisnya berkerut.

“Lukaku…” suara Cakra bergetar.

Ia mengangkat wajah.

“Luka yang aku dapatkan waktu kecil… hilang.” Cakra menatap Mynhemeni dengan mata melebar.

Suasana terasa bergeser. Tekanan laut di luar seolah ikut mendekat, meski ruangan tetap terasa seperti daratan.

Cakra tertawa kecil. Tawa kosong. Rapuh.

“Ini nggak masuk akal. Sejak hanyut di Parangtritis, semua jadi aneh.” Ia menggeleng.

“Ini nggak nyata, kan?” katanya, setengah berharap.

Cakra berdiri, langkahnya ringan seperti tak menyentuh lantai atau dasar laut. Ia menoleh ke Mynhemeni dan tersenyum, senyum orang yang berusaha berdamai dengan kebingunan. Senyum yang mencoba meyakinkan diri sendiri.

“Aku lagi mimpi, kan?”

Mynhemeni hanya menatap Cakra. Dengan wajah kosong dan alis yang saling mendekat, seolah sedang memecahkan teka-teki yang terlalu licin untuk digenggam. Diam, tajam, dan terlalu nyata. Membuat pertanyaan itu justru terasa lebih menakutkan daripada jawabannya.

Namun sedetik kemudian, ekspresi itu runtuh, digantikan tawa lepas yang nyaring. Tawa yang menggema ringan di ruang jet transparan itu, berbaur dengan dengung halus arus laut di luar dinding, seperti angin yang menyapu dataran tinggi.

Beban yang sejak tadi menekan pundaknya seakan menguap. Kecemasan, kecurigaan, bahkan rasa waspada yang ia rawat sejak Cakra pertama kali dibawa ke hadapannya, lenyap begitu saja.

"Anak ini sungguh tidak tahu apa-apa," pikirnya. Tidak tahu siapa dirinya. Tidak tahu apa yang ada di dalam tubuhnya sendiri.

Namun Mynhemeni segera menahan senyumnya. Ia sudah terlalu lama hidup di dunia penuh intrik untuk membiarkan diri larut dalam kelegaan. Bisa saja ini sandiwara. Bisa saja Cakra jauh lebih lihai daripada yang terlihat. Maka tawa itu ia biarkan mereda, tersisa senyum tipis yang terkendali. Senyum seseorang yang sedang menimbang risiko.

Di seberangnya, Cakra justru semakin kebingungan. Ia menatap Mynhemeni seperti orang yang baru saja terpeleset di depan umum. Malu, bingung, dan sedikit tersinggung. Tawanya terdengar seperti ejekan, meski Cakra tahu itu mungkin hanya perasaannya saja.

Tanpa berkata apa-apa, Mynhemeni menggerakkan kepalanya pelan. Seketika, seluruh hidangan di atas meja lenyap. Piring, gelas, dan peralatan makan menghilang seolah tersapu ombak tak kasatmata. Garpu di tangannya berubah menjadi bola kecil bercahaya, lalu meluncur kembali dan menyatu ke dalam alat yang membungkus raganya, menutup rapat seperti kulit kedua.

Ia tidak melanjutkan makan. Bukan lagi itu tujuannya sekarang.

Jet transparan yang sejak tadi melaju mulus di sisi kiri Cakra tiba-tiba bergeser ke kanan. Tanpa suara mesin berbelok, tanpa hentakan, tanpa sensasi berputar. Seperti daratan yang tiba-tiba berpindah tempat di bawah kaki. Laut di luar tetap tenang, namun arah mereka jelas berubah.

Cakra menelan ludah. Dadanya terasa sesak oleh kebingungan yang tak kunjung menemukan ujung. Jika ini mimpi, mengapa detailnya terasa terlalu canggih? Terlalu rapi. Terlalu… masuk akal dengan cara yang tidak masuk akal. Ini jauh melampaui fantasi atau film science fiction apa pun yang pernah ia tonton.

Ia akhirnya membuka suara, ragu-ragu. “Kita… berbalik arah?”

Mynhemeni hanya menjawab dengan anggukan singkat. Tak ada penjelasan, tak ada ekspresi terganggu. Seolah keterlambatan kesadaran Cakra adalah hal wajar, padahal lintasan mereka sudah berubah hampir tiga kali, maju–mundur seperti arus laut yang ragu menentukan arah.

Cakra mengerjap, lalu menoleh ke sekeliling. Baru sekarang ia benar-benar memperhatikan kabin itu. Ruang luas menyerupai ruang santai di daratan, lantai kokoh di bawah telapak kakinya, sementara di luar dinding transparan air laut mengalir perlahan, berat dan sunyi. Tak ada panel kemudi. Tak ada kursi pilot. Tak ada tangan yang mengendalikan arah mereka.

“Tunggu…” suaranya meninggi sedikit, ada kepanikan kecil yang lolos. Ia memutar badan, menelusuri ruang itu sekali lagi, memastikan penglihatannya tak keliru.

“Sedari tadi pesawat ini jalan… tanpa pengemudi?” Pertanyaannya menggantung, bersaing dengan dengung halus mesin yang terdengar seperti napas makhluk hidup. Tenang, stabil, dan sama sekali tidak membutuhkan manusia untuk diarahkan.

Other Stories
Dua Tangkai Edelweis

Dalam liburan singkat di Cianjur, Rani—remaja tomboy berhati lembut—mengalami pertemua ...

Absolute Point

Sebuah sudut pandang mahasiswa semester 13 diambang Drop Out yang terlalu malu menceritaka ...

Hujan Yang Tak Dirindukan

Perjalanan menuju kebun karet harus melalui jalan bertanah merah. Nyawa tak jarang banyak ...

Bali Before Sun Set

Perjalanan di pulau dewata tak hanya menyajikan sesuatu yang amat indah untuk di pandang t ...

Pitstop: Rewrite The Stars. Menepi Dari Dunia, Menulis Ulang Takdir

Bagaimana jika hidup Anda yang tampak sempurna runtuh hanya dalam sekejap? Dari ruang rapa ...

Pahlawan Revolusi

tes upload cerita jgn di publish ...

Download Titik & Koma