Bab 32 - Kembali Menuju Parangtritis
“Aku yang mengemudikannya,” ujar Mynhemeni santai.
“Kamu ingat cahaya kuning kecil yang tadi tersedot ke dalam jet ini?” Cakra mengangguk pelan. Mana mungkin ia lupa. Beberapa kali ia melihat kilau kecil itu melesat keluar dari mata perempuan di hadapannya. Terlalu halus untuk disebut senjata, terlalu presisi untuk dianggap kebetulan. Walaupun dalam ukuran dan warna berbeda, namun tetap saja itu hal yang tidak mungkin ia lupakan.
“Itu alat pengambil alih,” lanjut Mynhemeni. Suaranya datar, seolah sedang menjelaskan cara kerja lampu lalu lintas.
“Tapi, hanya bergerak kalau pemilik kendaraan memberi izin. Tanpa persetujuan, alat itu tak akan pernah mendekat.”
Ia mengedipkan mata sekali. Gerakan sederhana, hampir tak terlihat.
“Begitu masuk, alat itu langsung terhubung ke otakku. Mengambil alih navigasi, membaca arah tujuan, bahkan memilih sistem penyamaran yang kuinginkan.” Bibirnya melengkung tipis.
“Dan yang terpenting... memastikan kendaraan ini bersih. Tak ada alat sadap. Tak ada pelacak.” Seolah menjawab ucapannya, dengung halus bergetar di sekitar mereka. Dari balik kelopak matanya, cahaya lain muncul, kali ini berwarna jingga.
“Apa itu? Apa yang ingin kamu lakukan?” Cakra refleks setengah bangkit, suaranya pecah oleh panik ketika alat bercahaya itu melayang ke ruang kosong di antara mereka.
Cahaya jingga itu berhenti di udara, lalu mengembang. Dalam sekejap, ia berubah menjadi hologram berbentuk planet Bumi. Tak lebih besar dari bola basket kesayangan Cakra, namun terasa jauh lebih berat oleh maknanya. Permukaannya berputar perlahan, samudra dan benua berkilau seperti dilapisi kaca. Lapisan demi lapisan terbelah, menyingkap isi planet itu: kerak, daratan, kota-kota, hingga potongan kecil dunia yang terlalu spesifik untuk disebut kebetulan.
Cakra tercekat.
Ia melihat Distrik Nor. Melihat bangunan-bangunan asing yang tadi membuat kepalanya pening. Bahkan ia melihat dirinya sendiri, duduk di dalam jet, menatap hologram planet itu dengan wajah pucat.
“Seperti yang kamu lihat,” kata Mynhemeni tenang, seolah pemandangan mustahil ini hanyalah peta biasa, “kita masih di Bumi.” Planet itu kembali menyempit, berputar cepat, lalu berhenti pada satu titik berdenyut cahaya.
“Tepatnya… di sini.” Hologram menampilkan hamparan laut luas. Garis pantai selatan Pulau Jawa menjauh, sementara daratan Australia membentang di kejauhan. Titik cahaya mereka melayang di tengah samudra. Hampir sejajar dengan Christmas Island, pulau kecil di teritori Australia yang namanya pernah ia dengar sekilas, entah dari pelajaran geografi atau obrolan tak penting.
“Jadi kita di sini?” Cakra menelan ludah.
“Di tengah-tengah lautan… antara Jawa dan Australia?” Suaranya bergetar, bukan karena takut air atau jarak, melainkan karena satu hal yang jauh lebih menakutkan. Semakin lama, dunia ini terasa terlalu nyata untuk disebut mimpi.
“Entahlah…” Cakra mengembuskan napas panjang.
“Aku masih belum percaya.” Kalimat itu keluar pelan, seolah jika ia mengucapkannya terlalu keras, dunia di sekitarnya akan runtuh seperti kaca tipis. Pandangannya turun lagi ke kaki kanannya. Ia menggeser posisi, memiringkan betis, mencari sudut yang dulu selalu ia tunjukkan dengan bangga. Bekas luka lima sentimeter yang jadi bukti kenakalan masa kecilnya.
Tidak ada.
Kulitnya mulus. Terlalu mulus. Seolah luka itu tak pernah ada, seolah Swiss, motor besar itu, dan teriakan bundanya hanyalah cerita yang salah ia ingat. Belum sempat ia mencerna rasa ganjil itu, kilatan cahaya melintas di luar kabin. Cepat, terang, seperti kilat yang dipaksa bergerak lurus. Seluruh jet bergetar halus, bukan guncangan, melainkan sensasi seolah ruang di sekitar mereka dilipat lalu dibentangkan kembali.
“Cahaya apa itu tadi?” Cakra refleks menoleh, matanya menyisir dinding transparan pesawat. Mynhemeni menatapnya lekat, seperti sedang menilai seberapa jauh batas kewarasan anak itu masih bertahan.
“Kita baru saja melewati gerbang kecepatan cahaya,” katanya tenang.
“Kami menyebutnya Vorna.”
“Gerbang…?” Cakra mengernyit.
“Teleportasi,” lanjut Mynhemeni.
“Dengan Vorna, kami bisa berpindah ke mana saja tanpa perjalanan panjang. Setiap kota punya Vorna di hampir setiap sudut. Biasanya digunakan untuk melompat antar distrik.”
“Oh.” Cakra terdiam sejenak, lalu mendongak.
“Jadi… kalian nggak bisa teleportasi sembarangan tanpa gerbang itu?”
“Bisa,” jawab Mynhemeni ringan.
“Tapi tidak sambil membawa jet. Kalau kendaraan ikut serta, harus lewat Vorna.”
Ia memiringkan kepala sedikit. “Kalau hanya perseorangan…”
Ia mengedipkan mata.
Dan tubuhnya lenyap.
Udara di depan Cakra kosong. Tidak ada kilatan dramatis, tidak ada suara ledakan. Hanya ruang hampa yang tiba-tiba terasa salah. Jantung Cakra melonjak, meski ia sudah setengah siap. Tetap saja, melihat seseorang menghilang begitu saja rasanya seperti dunia baru saja lupa menampilkan satu lapisan realitas.
“Hah—!”
Belum sempat ia bangkit, suara itu muncul dari belakangnya.
“Seperti ini.”
Cakra tersentak.
“Hey—kau mengagetkanku!” Ia memegang dada, mencoba menenangkan detak jantung yang liar.
“Maaf.” Mynhemeni melangkah kembali ke tempat duduknya, suaranya nyaris santai, seolah barusan tidak melanggar semua hukum fisika yang Cakra kenal.
“Jadi…” Cakra menyipitkan mata, mencoba menata pikirannya.
“Seluruh bangsa Porkah bisa melakukan teleportasi seperti kamu?” lanjutnya saat Mynhemeni bergerak mulus ke dalam sofa begitu ditarik oleh tempat duduknya. Mynhemeni mengangguk pelan. Gerakan kepalanya ringan, hampir santai, lalu mulutnya ikut bergerak seolah mengunyah kata-kata yang sudah terlalu biasa baginya.
“Bisa. Tapi bukan tak terbatas.”
Cakra mendongak. “Maksudnya?”
“Setiap individu hanya mendapat jatah lima belas kali lompatan dalam satu tahun,” jawab Mynhemeni.
“Jadi harus digunakan dengan cermat.”
“Lima belas kali?” alis Cakra terangkat.
“Kalau habis?”
“Menunggu giliran pengisian ulang kuota.”
“Nggak bisa dibeli?” Cakra terkekeh kecil, refleks manusia modern yang terbiasa dengan solusi instan. Mynhemeni menoleh, kali ini tatapannya lebih fokus, seolah pertanyaan itu menyentuh sesuatu yang mendasar.
“Kami tidak mengenal jual-beli.”
“Hah?”
“Bagi kami,” lanjutnya tenang, “setiap bangsa Porkah memiliki hak dan kewajiban yang sama. Apa pun yang dibutuhkan untuk hidup dan menjalankan tanggung jawab akan diberikan sesuai kuota. Tidak lebih, tidak kurang.”
Jet meluncur mulus di antara lapisan air yang berkilau kehijauan. Arus laut di luar jendela bergerak perlahan, bergulung lembut seperti angin yang menyapu hamparan padang rumput. Jika bukan karena cahaya samar dan bayangan makhluk laut yang sesekali melintas, Cakra hampir lupa mereka berada jauh di bawah permukaan samudra.
“Jadi… nggak mungkin seseorang dapat sesuatu yang tidak ia butuhkan, baik untuk hidup, maupun pekerjaannya." sambung Mynhemeni.
“Dan kalau kuota habis?” Cakra menyela, keningnya berkerut.
“Diisi ulang,” jawabnya singkat. “Kapan pun, selama terhubung dengan soket Sanvar. Soket itu kami menyebutnya Nivar.” Ia berhenti sejenak, memberi ruang agar kata-katanya meresap.
“Tapi itu hanya berlaku untuk kebutuhan dasar. Seperti makanan, kesehatan, komunikasi, hiburan, kenyamanan, dan sejenisnya.” Mynhemeni kembali jeda, mengambil napas. Cakra menatapnya lekat. Isi kepalanya bergerak, berusaha merangkai logika dunia yang tak mengenal uang, tak mengenal tawar-menawar, dan yang paling aneh, tak mengenal rasa takut kehabisan.
“Sedangkan kebutuhan di luar itu, harus menunggu jatah tahunan ketika kuotanya habis. Ini soal kebijaksanaan energi.” Ia menoleh sekilas ke arah Cakra.
“Teleportasi pribadi termasuk di dalamnya.” kemudia mengakhiri penjelasannya.
Jet terus melaju tanpa guncangan. Di dunia Porkah, rupanya, kekurangan bukanlah masalah. Yang dijaga bukan kepemilikan. Melainkan keseimbangan. Cakra terdiam. Kemudian kepalanya bergerak pelan, bukan mengangguk, melainkan mencoba mengikuti apa yang tadi dilakukan Mynhemeni. Mynhemeni memperhatikannya beberapa detik.
“Apa yang kamu lakukan?”
Cakra tersadar. Ia berhenti menggelengkan kepala, lalu menatap tangannya sendiri. Tangan yang sama sekali tak bereaksi terhadap dunia yang baru saja dijelaskan kepadanya.
“Kenapa,” katanya pelan, nyaris seperti bertanya pada dirinya sendiri, “aku nggak bisa teleportasi?” Pertanyaan itu menggantung di udara, lebih berat dari tekanan laut di luar jet.
“Maaf,” ucap Mynhemeni, suaranya kali ini terdengar lebih datar, nyaris formal.
“Pakaian yang kami sematkan padamu adalah perlengkapan standar untuk para tahanan.” Cakra menegang tanpa sadar.
“Fungsinya hanya untuk kebutuhan dasar. Makan, minum, toilet, dan medis. Tidak lebih.” Kata-kata itu jatuh satu per satu, seperti pintu yang ditutup perlahan namun pasti. Harapan yang sempat berkilat di mata Cakra meredup. Ia menunduk, menatap kembali kaos hijau yang melekat di tubuhnya. Terlalu biasa untuk sesuatu yang begitu canggih, terlalu jinak untuk sebuah penjara di dasar laut.
“Jadi… sisanya memang tidak ada,” tambah Mynhemeni, seolah memastikan tak ada ruang untuk salah paham.
Cakra menghela napas pelan. Di dalam dadanya, ada rasa kecewa yang datang tanpa perlawanan, meski logikanya segera menyusul. Ia tahu posisinya. Ia hanyalah seorang tahanan di dunia asing yang bahkan belum sepenuhnya ia pahami.
Ia tak membantah. Tak bertanya lagi. Di antara dengung mesin jet dan desis laut di kejauhan, Cakra menerima kenyataan itu dengan pahit. Seolah laut pun ikut menekan dadanya, meski ia masih bisa bernapas dengan bebas.
“Kamu mau membawaku ke mana?” tanyanya kemudian setelah hening sesaat menyelimuti mereka.
Mynhemeni menarik napas singkat.
“Awalnya, aku ingin membawamu ke tempatku. Kita akan memecahkan misteri tentang dirimu bersama-sama.” Namun kalimat itu tak sepenuhnya jujur. Di balik wajah tenangnya, pikirannya berputar. Sudah berapa kali ia berbohong pada anak remaja di hadapannya ini? Skenario penculikan yang ia susun sejak awal hanya punya satu tujuan. Mengorek asal-usul Cakra. Mengamati, menganalisis, mendekat secara manusiawi, berharap anak itu lengah.
Ia tak pernah berniat membawa Cakra ke Alpam atau Alnost. Belum. Tidak sebelum ia benar-benar yakin bahwa bocah ini bukan ancaman bagi Porkah, atau bagi Bumi yang sudah mereka anggap rumah.
“Tapi sepertinya aku harus menunjukkan bukti konkret.” lanjut Mynhemeni akhirnya. Ia menoleh, memastikan perhatian Cakra tertuju padanya.
“Agar kamu percaya bahwa kamu masih hidup. Masih berada di Bumi. Dan bahwa semua yang kamu lihat ini… nyata. Bukan mimpi.” Nada suaranya merendah.
Ia memberi isyarat halus. Bola planet Bumi kembali muncul, berpendar lembut di udara.
Kali ini, proyeksi itu menunjukkan sesuatu yang membuat jantung Cakra tersentak. Jet mereka kini melayang tak jauh dari bibir pantai Parangtritis.
Di hadapan Cakra, pemandangan laut terbuka seperti panggung raksasa. Terumbu karang berwarna-warni membentang, ikan-ikan melintas perlahan, seolah dunia ini sedang menahan napas. Tak jauh dari tempat ia berdiri, sebuah kapal selam berwarna gelap melayang diam. Di lambungnya tertera lambang dan bendera Rusia. Beberapa robot penyelam bergerak di sekitarnya, lampu-lampu mereka menyapu dasar laut dengan gerakan teratur. Ia tak tahu, bahwa mereka bukan sedang melakukan riset laut. Melainkan sedang mencari keberadaan dirinya. Minimal jasadnya.
“Orang-orang di kapal selam itu… mereka nggak bisa melihat kita?” tanyanya pelan, matanya tak lepas dari celah karang di bawah. Mynhemeni hanya menjawabnya dengan memicingkan mata. Cakra terkekeh, menertawakan kebodohannya. Jet yang mereka tumpangi terus melaju, menembus air tanpa riak, hingga berhenti tepat di sebuah palung sempit. Jantung Cakra berdebar saat ia mengenali bentuknya. Mynhemeni menatap titik yang sama.
“Ini tempatnya,” katanya singkat.
Cakra menelan ludah.
“Di sinilah kamu terjebak,” lanjut Mynhemeni.
“Kami sebenarnya berniat menyelamatkanmu. Tapi karang itu lebih dulu mengurungmu. Dan pada saat itu… kami tak punya pilihan lain.” Kata-katanya menggantung. Ingatan Cakra berdesakan. Arus ganas, tubuhnya diputar tanpa kendali, napas yang hampir terlepas. Namun dari sudut pandang ini, laut terlihat nyaris tenang. Terlalu tenang untuk sesuatu yang hampir merenggut nyawanya.
“Kamu lihat dinding karang itu?” Mynhemeni menunjuk ke depan. Jaraknya kini tak sampai satu meter.
Cakra mengangguk.
“Dinding itu pecah setelah ombak menghantammu.”
Kalimat itu membuat bulu kuduk Cakra meremang.
“Tak ada pilihan lain,” lanjut Mynhemeni, suaranya kini lebih berat. “Kami harus membawamu. Untuk dianalisis.”
Cakra hanya menggeleng pelan, tak mampu menyusun kata.
Tiba-tiba bola planet Bumi di udara bergetar. Permukaannya berubah, menampilkan rekaman lain. Dirinya sendiri, terombang-ambing di dalam gua karang.
“Itu—”
“Peristiwa saat kamu terseret arus,” potong Mynhemeni.
“Lihat bagaimana arus menarikmu… lalu melemparkan tubuhmu ke dinding itu.” Cakra terpaku. Ia menyaksikan tubuhnya sendiri dihantam arus yang brutal, lalu sesuatu yang tak masuk akal terjadi. Tubuh itu tidak remuk. Justru dinding karanglah yang pecah.
Dadanya terasa sesak.
“Itu…” Cakra kembali menunjuk, jarinya bergetar tipis. Kali ini ia benar-benar mengenali bentuknya. Sebuah jet yang serupa, nyaris identik dengan jet tempat ia berdiri sekarang. Matanya terbelalak saat melihat seseorang keluar dari kendaraan itu.
Letnan Rihum.
Ingatan itu menghantamnya sekaligus. Sosok yang muncul di tengah kabut laut, langkahnya mantap, siluetnya berdiri di antara hidup dan mati. Saat itu, Cakra sungguh yakin. Ia sedang menatap malaikat pencabut nyawa.
“Letnan Rihum,” ujar Mynhemeni pelan, namun tegas.
“Petugas keamanan darat yang sedang berpatroli saat kejadian itu.” Ia menoleh sekilas ke arah Cakra. “Seharusnya, kamu melihat itu semua dalam wujud seperti ini.”
Proyeksi cahaya casvet yang menampilkan jet yang dikendarai Letnan Rihum, berpendar halus. Dalam sekejap, jet bangsa Porkah itu berubah. Permukaannya memudar, membentuk lengkung dan ukiran megah. Sayap-sayapnya menyatu, roda-rodanya memanjang, hingga yang tersisa bukan lagi mesin, melainkan sebuah kereta kencana.
Kereta Nyai Roro Kidul.
Dua ekor kuda putih muncul menariknya, surainya bergelombang lembut, langkahnya senyap seolah tak menyentuh air. Cahaya kehijauan menyelimuti segalanya, hangat sekaligus asing.
Cakra terdiam, napasnya tertahan.
Letnan Rihum pun berubah.
Sosok berseragam itu melebur, digantikan seorang perempuan berparas anggun. Ia mengenakan kebaya hijau berkilau, kainnya menjuntai seperti ombak yang dibekukan dalam gerak. Tatapannya tenang, berwibawa. Terlalu agung untuk sekadar manusia.
Semua yang selama ini hanya hidup di lukisan, cerita rakyat, dan dokumenter mistis… kini berdiri nyata di hadapan Cakra. Mitologi Jawa tentang penguasa pantai selatan, bukan sekadar kisah. Itu adalah topeng.
“Kamu ingat cahaya kuning kecil yang tadi tersedot ke dalam jet ini?” Cakra mengangguk pelan. Mana mungkin ia lupa. Beberapa kali ia melihat kilau kecil itu melesat keluar dari mata perempuan di hadapannya. Terlalu halus untuk disebut senjata, terlalu presisi untuk dianggap kebetulan. Walaupun dalam ukuran dan warna berbeda, namun tetap saja itu hal yang tidak mungkin ia lupakan.
“Itu alat pengambil alih,” lanjut Mynhemeni. Suaranya datar, seolah sedang menjelaskan cara kerja lampu lalu lintas.
“Tapi, hanya bergerak kalau pemilik kendaraan memberi izin. Tanpa persetujuan, alat itu tak akan pernah mendekat.”
Ia mengedipkan mata sekali. Gerakan sederhana, hampir tak terlihat.
“Begitu masuk, alat itu langsung terhubung ke otakku. Mengambil alih navigasi, membaca arah tujuan, bahkan memilih sistem penyamaran yang kuinginkan.” Bibirnya melengkung tipis.
“Dan yang terpenting... memastikan kendaraan ini bersih. Tak ada alat sadap. Tak ada pelacak.” Seolah menjawab ucapannya, dengung halus bergetar di sekitar mereka. Dari balik kelopak matanya, cahaya lain muncul, kali ini berwarna jingga.
“Apa itu? Apa yang ingin kamu lakukan?” Cakra refleks setengah bangkit, suaranya pecah oleh panik ketika alat bercahaya itu melayang ke ruang kosong di antara mereka.
Cahaya jingga itu berhenti di udara, lalu mengembang. Dalam sekejap, ia berubah menjadi hologram berbentuk planet Bumi. Tak lebih besar dari bola basket kesayangan Cakra, namun terasa jauh lebih berat oleh maknanya. Permukaannya berputar perlahan, samudra dan benua berkilau seperti dilapisi kaca. Lapisan demi lapisan terbelah, menyingkap isi planet itu: kerak, daratan, kota-kota, hingga potongan kecil dunia yang terlalu spesifik untuk disebut kebetulan.
Cakra tercekat.
Ia melihat Distrik Nor. Melihat bangunan-bangunan asing yang tadi membuat kepalanya pening. Bahkan ia melihat dirinya sendiri, duduk di dalam jet, menatap hologram planet itu dengan wajah pucat.
“Seperti yang kamu lihat,” kata Mynhemeni tenang, seolah pemandangan mustahil ini hanyalah peta biasa, “kita masih di Bumi.” Planet itu kembali menyempit, berputar cepat, lalu berhenti pada satu titik berdenyut cahaya.
“Tepatnya… di sini.” Hologram menampilkan hamparan laut luas. Garis pantai selatan Pulau Jawa menjauh, sementara daratan Australia membentang di kejauhan. Titik cahaya mereka melayang di tengah samudra. Hampir sejajar dengan Christmas Island, pulau kecil di teritori Australia yang namanya pernah ia dengar sekilas, entah dari pelajaran geografi atau obrolan tak penting.
“Jadi kita di sini?” Cakra menelan ludah.
“Di tengah-tengah lautan… antara Jawa dan Australia?” Suaranya bergetar, bukan karena takut air atau jarak, melainkan karena satu hal yang jauh lebih menakutkan. Semakin lama, dunia ini terasa terlalu nyata untuk disebut mimpi.
“Entahlah…” Cakra mengembuskan napas panjang.
“Aku masih belum percaya.” Kalimat itu keluar pelan, seolah jika ia mengucapkannya terlalu keras, dunia di sekitarnya akan runtuh seperti kaca tipis. Pandangannya turun lagi ke kaki kanannya. Ia menggeser posisi, memiringkan betis, mencari sudut yang dulu selalu ia tunjukkan dengan bangga. Bekas luka lima sentimeter yang jadi bukti kenakalan masa kecilnya.
Tidak ada.
Kulitnya mulus. Terlalu mulus. Seolah luka itu tak pernah ada, seolah Swiss, motor besar itu, dan teriakan bundanya hanyalah cerita yang salah ia ingat. Belum sempat ia mencerna rasa ganjil itu, kilatan cahaya melintas di luar kabin. Cepat, terang, seperti kilat yang dipaksa bergerak lurus. Seluruh jet bergetar halus, bukan guncangan, melainkan sensasi seolah ruang di sekitar mereka dilipat lalu dibentangkan kembali.
“Cahaya apa itu tadi?” Cakra refleks menoleh, matanya menyisir dinding transparan pesawat. Mynhemeni menatapnya lekat, seperti sedang menilai seberapa jauh batas kewarasan anak itu masih bertahan.
“Kita baru saja melewati gerbang kecepatan cahaya,” katanya tenang.
“Kami menyebutnya Vorna.”
“Gerbang…?” Cakra mengernyit.
“Teleportasi,” lanjut Mynhemeni.
“Dengan Vorna, kami bisa berpindah ke mana saja tanpa perjalanan panjang. Setiap kota punya Vorna di hampir setiap sudut. Biasanya digunakan untuk melompat antar distrik.”
“Oh.” Cakra terdiam sejenak, lalu mendongak.
“Jadi… kalian nggak bisa teleportasi sembarangan tanpa gerbang itu?”
“Bisa,” jawab Mynhemeni ringan.
“Tapi tidak sambil membawa jet. Kalau kendaraan ikut serta, harus lewat Vorna.”
Ia memiringkan kepala sedikit. “Kalau hanya perseorangan…”
Ia mengedipkan mata.
Dan tubuhnya lenyap.
Udara di depan Cakra kosong. Tidak ada kilatan dramatis, tidak ada suara ledakan. Hanya ruang hampa yang tiba-tiba terasa salah. Jantung Cakra melonjak, meski ia sudah setengah siap. Tetap saja, melihat seseorang menghilang begitu saja rasanya seperti dunia baru saja lupa menampilkan satu lapisan realitas.
“Hah—!”
Belum sempat ia bangkit, suara itu muncul dari belakangnya.
“Seperti ini.”
Cakra tersentak.
“Hey—kau mengagetkanku!” Ia memegang dada, mencoba menenangkan detak jantung yang liar.
“Maaf.” Mynhemeni melangkah kembali ke tempat duduknya, suaranya nyaris santai, seolah barusan tidak melanggar semua hukum fisika yang Cakra kenal.
“Jadi…” Cakra menyipitkan mata, mencoba menata pikirannya.
“Seluruh bangsa Porkah bisa melakukan teleportasi seperti kamu?” lanjutnya saat Mynhemeni bergerak mulus ke dalam sofa begitu ditarik oleh tempat duduknya. Mynhemeni mengangguk pelan. Gerakan kepalanya ringan, hampir santai, lalu mulutnya ikut bergerak seolah mengunyah kata-kata yang sudah terlalu biasa baginya.
“Bisa. Tapi bukan tak terbatas.”
Cakra mendongak. “Maksudnya?”
“Setiap individu hanya mendapat jatah lima belas kali lompatan dalam satu tahun,” jawab Mynhemeni.
“Jadi harus digunakan dengan cermat.”
“Lima belas kali?” alis Cakra terangkat.
“Kalau habis?”
“Menunggu giliran pengisian ulang kuota.”
“Nggak bisa dibeli?” Cakra terkekeh kecil, refleks manusia modern yang terbiasa dengan solusi instan. Mynhemeni menoleh, kali ini tatapannya lebih fokus, seolah pertanyaan itu menyentuh sesuatu yang mendasar.
“Kami tidak mengenal jual-beli.”
“Hah?”
“Bagi kami,” lanjutnya tenang, “setiap bangsa Porkah memiliki hak dan kewajiban yang sama. Apa pun yang dibutuhkan untuk hidup dan menjalankan tanggung jawab akan diberikan sesuai kuota. Tidak lebih, tidak kurang.”
Jet meluncur mulus di antara lapisan air yang berkilau kehijauan. Arus laut di luar jendela bergerak perlahan, bergulung lembut seperti angin yang menyapu hamparan padang rumput. Jika bukan karena cahaya samar dan bayangan makhluk laut yang sesekali melintas, Cakra hampir lupa mereka berada jauh di bawah permukaan samudra.
“Jadi… nggak mungkin seseorang dapat sesuatu yang tidak ia butuhkan, baik untuk hidup, maupun pekerjaannya." sambung Mynhemeni.
“Dan kalau kuota habis?” Cakra menyela, keningnya berkerut.
“Diisi ulang,” jawabnya singkat. “Kapan pun, selama terhubung dengan soket Sanvar. Soket itu kami menyebutnya Nivar.” Ia berhenti sejenak, memberi ruang agar kata-katanya meresap.
“Tapi itu hanya berlaku untuk kebutuhan dasar. Seperti makanan, kesehatan, komunikasi, hiburan, kenyamanan, dan sejenisnya.” Mynhemeni kembali jeda, mengambil napas. Cakra menatapnya lekat. Isi kepalanya bergerak, berusaha merangkai logika dunia yang tak mengenal uang, tak mengenal tawar-menawar, dan yang paling aneh, tak mengenal rasa takut kehabisan.
“Sedangkan kebutuhan di luar itu, harus menunggu jatah tahunan ketika kuotanya habis. Ini soal kebijaksanaan energi.” Ia menoleh sekilas ke arah Cakra.
“Teleportasi pribadi termasuk di dalamnya.” kemudia mengakhiri penjelasannya.
Jet terus melaju tanpa guncangan. Di dunia Porkah, rupanya, kekurangan bukanlah masalah. Yang dijaga bukan kepemilikan. Melainkan keseimbangan. Cakra terdiam. Kemudian kepalanya bergerak pelan, bukan mengangguk, melainkan mencoba mengikuti apa yang tadi dilakukan Mynhemeni. Mynhemeni memperhatikannya beberapa detik.
“Apa yang kamu lakukan?”
Cakra tersadar. Ia berhenti menggelengkan kepala, lalu menatap tangannya sendiri. Tangan yang sama sekali tak bereaksi terhadap dunia yang baru saja dijelaskan kepadanya.
“Kenapa,” katanya pelan, nyaris seperti bertanya pada dirinya sendiri, “aku nggak bisa teleportasi?” Pertanyaan itu menggantung di udara, lebih berat dari tekanan laut di luar jet.
“Maaf,” ucap Mynhemeni, suaranya kali ini terdengar lebih datar, nyaris formal.
“Pakaian yang kami sematkan padamu adalah perlengkapan standar untuk para tahanan.” Cakra menegang tanpa sadar.
“Fungsinya hanya untuk kebutuhan dasar. Makan, minum, toilet, dan medis. Tidak lebih.” Kata-kata itu jatuh satu per satu, seperti pintu yang ditutup perlahan namun pasti. Harapan yang sempat berkilat di mata Cakra meredup. Ia menunduk, menatap kembali kaos hijau yang melekat di tubuhnya. Terlalu biasa untuk sesuatu yang begitu canggih, terlalu jinak untuk sebuah penjara di dasar laut.
“Jadi… sisanya memang tidak ada,” tambah Mynhemeni, seolah memastikan tak ada ruang untuk salah paham.
Cakra menghela napas pelan. Di dalam dadanya, ada rasa kecewa yang datang tanpa perlawanan, meski logikanya segera menyusul. Ia tahu posisinya. Ia hanyalah seorang tahanan di dunia asing yang bahkan belum sepenuhnya ia pahami.
Ia tak membantah. Tak bertanya lagi. Di antara dengung mesin jet dan desis laut di kejauhan, Cakra menerima kenyataan itu dengan pahit. Seolah laut pun ikut menekan dadanya, meski ia masih bisa bernapas dengan bebas.
“Kamu mau membawaku ke mana?” tanyanya kemudian setelah hening sesaat menyelimuti mereka.
Mynhemeni menarik napas singkat.
“Awalnya, aku ingin membawamu ke tempatku. Kita akan memecahkan misteri tentang dirimu bersama-sama.” Namun kalimat itu tak sepenuhnya jujur. Di balik wajah tenangnya, pikirannya berputar. Sudah berapa kali ia berbohong pada anak remaja di hadapannya ini? Skenario penculikan yang ia susun sejak awal hanya punya satu tujuan. Mengorek asal-usul Cakra. Mengamati, menganalisis, mendekat secara manusiawi, berharap anak itu lengah.
Ia tak pernah berniat membawa Cakra ke Alpam atau Alnost. Belum. Tidak sebelum ia benar-benar yakin bahwa bocah ini bukan ancaman bagi Porkah, atau bagi Bumi yang sudah mereka anggap rumah.
“Tapi sepertinya aku harus menunjukkan bukti konkret.” lanjut Mynhemeni akhirnya. Ia menoleh, memastikan perhatian Cakra tertuju padanya.
“Agar kamu percaya bahwa kamu masih hidup. Masih berada di Bumi. Dan bahwa semua yang kamu lihat ini… nyata. Bukan mimpi.” Nada suaranya merendah.
Ia memberi isyarat halus. Bola planet Bumi kembali muncul, berpendar lembut di udara.
Kali ini, proyeksi itu menunjukkan sesuatu yang membuat jantung Cakra tersentak. Jet mereka kini melayang tak jauh dari bibir pantai Parangtritis.
Di hadapan Cakra, pemandangan laut terbuka seperti panggung raksasa. Terumbu karang berwarna-warni membentang, ikan-ikan melintas perlahan, seolah dunia ini sedang menahan napas. Tak jauh dari tempat ia berdiri, sebuah kapal selam berwarna gelap melayang diam. Di lambungnya tertera lambang dan bendera Rusia. Beberapa robot penyelam bergerak di sekitarnya, lampu-lampu mereka menyapu dasar laut dengan gerakan teratur. Ia tak tahu, bahwa mereka bukan sedang melakukan riset laut. Melainkan sedang mencari keberadaan dirinya. Minimal jasadnya.
“Orang-orang di kapal selam itu… mereka nggak bisa melihat kita?” tanyanya pelan, matanya tak lepas dari celah karang di bawah. Mynhemeni hanya menjawabnya dengan memicingkan mata. Cakra terkekeh, menertawakan kebodohannya. Jet yang mereka tumpangi terus melaju, menembus air tanpa riak, hingga berhenti tepat di sebuah palung sempit. Jantung Cakra berdebar saat ia mengenali bentuknya. Mynhemeni menatap titik yang sama.
“Ini tempatnya,” katanya singkat.
Cakra menelan ludah.
“Di sinilah kamu terjebak,” lanjut Mynhemeni.
“Kami sebenarnya berniat menyelamatkanmu. Tapi karang itu lebih dulu mengurungmu. Dan pada saat itu… kami tak punya pilihan lain.” Kata-katanya menggantung. Ingatan Cakra berdesakan. Arus ganas, tubuhnya diputar tanpa kendali, napas yang hampir terlepas. Namun dari sudut pandang ini, laut terlihat nyaris tenang. Terlalu tenang untuk sesuatu yang hampir merenggut nyawanya.
“Kamu lihat dinding karang itu?” Mynhemeni menunjuk ke depan. Jaraknya kini tak sampai satu meter.
Cakra mengangguk.
“Dinding itu pecah setelah ombak menghantammu.”
Kalimat itu membuat bulu kuduk Cakra meremang.
“Tak ada pilihan lain,” lanjut Mynhemeni, suaranya kini lebih berat. “Kami harus membawamu. Untuk dianalisis.”
Cakra hanya menggeleng pelan, tak mampu menyusun kata.
Tiba-tiba bola planet Bumi di udara bergetar. Permukaannya berubah, menampilkan rekaman lain. Dirinya sendiri, terombang-ambing di dalam gua karang.
“Itu—”
“Peristiwa saat kamu terseret arus,” potong Mynhemeni.
“Lihat bagaimana arus menarikmu… lalu melemparkan tubuhmu ke dinding itu.” Cakra terpaku. Ia menyaksikan tubuhnya sendiri dihantam arus yang brutal, lalu sesuatu yang tak masuk akal terjadi. Tubuh itu tidak remuk. Justru dinding karanglah yang pecah.
Dadanya terasa sesak.
“Itu…” Cakra kembali menunjuk, jarinya bergetar tipis. Kali ini ia benar-benar mengenali bentuknya. Sebuah jet yang serupa, nyaris identik dengan jet tempat ia berdiri sekarang. Matanya terbelalak saat melihat seseorang keluar dari kendaraan itu.
Letnan Rihum.
Ingatan itu menghantamnya sekaligus. Sosok yang muncul di tengah kabut laut, langkahnya mantap, siluetnya berdiri di antara hidup dan mati. Saat itu, Cakra sungguh yakin. Ia sedang menatap malaikat pencabut nyawa.
“Letnan Rihum,” ujar Mynhemeni pelan, namun tegas.
“Petugas keamanan darat yang sedang berpatroli saat kejadian itu.” Ia menoleh sekilas ke arah Cakra. “Seharusnya, kamu melihat itu semua dalam wujud seperti ini.”
Proyeksi cahaya casvet yang menampilkan jet yang dikendarai Letnan Rihum, berpendar halus. Dalam sekejap, jet bangsa Porkah itu berubah. Permukaannya memudar, membentuk lengkung dan ukiran megah. Sayap-sayapnya menyatu, roda-rodanya memanjang, hingga yang tersisa bukan lagi mesin, melainkan sebuah kereta kencana.
Kereta Nyai Roro Kidul.
Dua ekor kuda putih muncul menariknya, surainya bergelombang lembut, langkahnya senyap seolah tak menyentuh air. Cahaya kehijauan menyelimuti segalanya, hangat sekaligus asing.
Cakra terdiam, napasnya tertahan.
Letnan Rihum pun berubah.
Sosok berseragam itu melebur, digantikan seorang perempuan berparas anggun. Ia mengenakan kebaya hijau berkilau, kainnya menjuntai seperti ombak yang dibekukan dalam gerak. Tatapannya tenang, berwibawa. Terlalu agung untuk sekadar manusia.
Semua yang selama ini hanya hidup di lukisan, cerita rakyat, dan dokumenter mistis… kini berdiri nyata di hadapan Cakra. Mitologi Jawa tentang penguasa pantai selatan, bukan sekadar kisah. Itu adalah topeng.
Other Stories
Cinta Dibalik Rasa
Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. A ...
Garuda Hitam: Sayap Terakhir Nusantara
Aditya Pranawa adalah mantan pilot TNI AU yang seharusnya mati dalam sebuah misi rahasia. ...
Sonata Laut
Di antara riak ombak dan bisikan angin, musik lahir dari kedalaman laut. Piano yang terdam ...
Keikhlasan Cinta
6 tahun Hasrul pergi dari keluarganya, setelah dia kembali dia dipertemukan kembali dengan ...
Persembahan Cinta
Rendra pria tampan dari keluarga kaya, sedangkan Fita gadis sederhana. Namun, Mama Fita ra ...
DARAH NAGA
Handoyo, harus menjaga portal yang terbuka agar mahkluk dunia fantasy tidak masuk ke bumi. ...