Bab 38 - Pemulihan Sanvar
Selang tiga puluh tujuh menit setelah Cakra melumpuhkan seluruh pasukan keamanan gedung pemerintahan Distrik Nor dan membawa Mynhemeni pergi, kesadaran Georu akhirnya mengapung ke permukaan. Rasanya seperti ditarik perlahan dari kedalaman laut yang menekan, berat dan berdenyut. Di dalam kepalanya, sebuah suara netral bergema, menjabarkan fakta tanpa emosi. Ia telah tertidur selama lima puluh tiga menit. Bahkan, enam belas menit di antaranya berlalu sebelum penculikan itu terjadi. Seluruh informasi itu disampaikan tenang oleh mesin kecerdasan Sanvar yang membungkus raganya, seolah semua ini hanyalah catatan rutin.
Kelopak matanya bergerak pelan. Georu menelan ludah, lalu mengernyit.
“Kenapa kamu tidak membangunkanku?” ucapnya, suaranya tak keluar. Ia berbicara dalam kepalanya. Matanya menyipit, dahi berkerut. Ia yakin betul telah mengatur mode lelap hanya selama lima belas menit.
Tidak lebih.
“Sudah aku lakukan,” jawab Sanvarnya cepat, nyaris defensif. Bergema di dalam kepala Georu. “Tepat setelah tingkat pemulihanku mencapai seratus persen. Sekitar tujuh menit lalu. Tapi kamu tidak bangun juga.”
Sejenak jeda, lalu suara itu melanjutkan dengan nada yang makin menyebalkan.
“Kamu juga yang memberi perintah. Tidak boleh dibangunkan secara kasar. Terutama jika sudah tiga kali percobaan.”
Georu memejamkan mata. Ada denyut kesal yang naik ke pelipisnya, bercampur rasa tidak enak yang belum jelas bentuknya.
“Iya, iya… sudahlah,” gumamnya akhirnya. Ia memilih menghentikan percakapan sebelum berubah jadi pertengkaran yang tak perlu.
Ia memaksakan tubuhnya untuk bangkit, otot-ototnya terasa berat seolah baru saja ditekan arus laut dalam waktu lama. Pandangannya kabur. Gelap. Terlalu gelap. Georu menggerakkan rahangnya pelan, lalu memerintahkan Sanvarnya untuk menyesuaikan pemrosesan visual di otaknya. Perlahan, kegelapan itu retak. Cahaya samar muncul seperti fajar yang dipaksa masuk ke kedalaman samudra.
Bentuk-bentuk mulai mengambil wujud. Lantai yang retak. Pilar yang patah dan tergeletak miring. Serpihan dinding melayang ringan sebelum akhirnya jatuh perlahan, seolah masih ragu pada hukum gravitasi. Napas Georu tercekat ketika matanya menangkap tubuh-tubuh yang dikenalnya. Beberapa sejawatnya terkapar tak bergerak, sebagian lain bersandar pada reruntuhan dengan busana tempur yang robek dan berpendar lemah. Gedung pemerintahan yang biasanya kokoh dan steril kini tampak seperti cangkang kosong yang diremuk dari dalam.
Dingin merayap naik dari tengkuknya. Bukan dingin air laut, melainkan rasa yang lebih dalam dan lebih tajam.
Makhluk apa sebenarnya Cakra?
Pikirannya melompat kembali pada momen sebelum gelap menelannya. Pada satu pukulan di ulu hati. Singkat, cepat, dan brutal. Georu masih bisa merasakan gema benturan itu, seperti gelombang kejut yang menghantam dari dalam tubuhnya sendiri. Ia menelan ludah. Jika saja ia terlambat sepersekian detik mengaktifkan perisai penuh, ia yakin tulang-tulangnya tak akan tersisa dalam bentuk utuh.
“Tidak masuk akal…” gumamnya lirih, hampir tak terdengar.
Perisai tingkat penuh seharusnya cukup untuk menahan serangan kelas tinggi. Namun Cakra menembusnya, atau setidaknya hampir. Dan fakta itu jauh lebih mengerikan daripada reruntuhan di sekelilingnya.
“Geok, tunjukkan status,” perintah Georu pada kecerdasan buatan Sanvarnya yang ia beri nama Geok.
Seketika, rangkaian data bermunculan. Bukan sebagai layar di hadapan matanya, melainkan sebagai lapisan cahaya yang melayang di dalam kepalanya, rapi dan dingin. Angka, grafik, dan simulasi kondisi tubuhnya berputar perlahan. Georu menyipitkan mata, dahinya mengernyit saat satu data mencolok muncul di pusat kesadarannya.
Kerusakan Sanvarnya mencapai tujuh puluh delapan persen.
Dada Georu terasa mengencang. Ini pertama kalinya. Selama hidupnya, tak pernah sekalipun Sanvarnya mengalami kerusakan di atas lima belas persen. Tidak saat ia masih duduk di bangku pendidikan Janrugkou. Tidak pula ketika menjalani latihan militer brutal di Hokuiol, distrik pertahanan nasional Kerajaan Porkah, tempat prajurit terbaik ditempa tanpa ampun. Kini, hampir delapan puluh persen sistemnya runtuh hanya dalam satu insiden.
“Gila…” racaunya, tak percaya.
Tak heran pemulihan memakan waktu selama itu. Dan belum selesai sampai di sana. Georu menggeser fokusnya pada laporan kondisi fisik. Diagram tubuhnya berpendar, menampilkan rekaman kerusakan yang sempat terjadi. Tulang rusuk bagian bawahnya pernah pecah, retaknya menjalar seperti kaca yang dilempar batu. Beberapa organ dalam sempat mengalami tekanan ekstrem sebelum akhirnya direkonstruksi ulang oleh sistem penyembuhan.
Sekarang semuanya sudah utuh kembali.
Justru itu yang membuat Georu merinding.
Ia menyaksikan ulang simulasi pecahnya tulang rusuknya sendiri, setiap detik direkam dengan presisi kejam. Rasa nyeri seolah kembali menyelinap ke tubuhnya, walau hanya sebagai bayangan. Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan denyut di pelipisnya.
“Kita tidak boleh meremehkannya…” bisiknya pelan, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Geok.
Pikirannya langsung melompat pada satu nama. Wajah Mynhemeni terlintas, diikuti rasa cemas yang tak bisa ditekan. Georu mengepalkan tangan, lalu beranjak, langkahnya masih berat namun tekadnya mengeras.
“Aku harus mengecek keadaan Kak Hemy.”
Saat niatnya hendak memastikan keadaan Mynhemeni, langkah Georu tertahan seketika. Nalurinya bergetar lebih dulu sebelum matanya benar-benar menangkap ancaman. Dari kejauhan, bayangan bergerak serempak, membelah arus air seperti barisan di daratan yang berderap rapi.
“Geok, perbesar visual,” gumamnya cepat.
Penglihatannya mengerucut, dunia di sekeliling seakan menjauh. Sosok-sosok itu menjadi semakin jelas, siluet berubah menjadi wajah, formasi berubah menjadi ancaman nyata. Napas Georu terasa berat saat mengenali figur yang melayang paling depan.
Rumsun.
Melayang sendiri di atas plitan. Sedangkan di belakangnya, dua puluh pasukan berbaris rapi dalam satu petakan plitan. Di atas mereka melayang pula sepuluh pasukan lainnya, dalam satu plitan yang sama. Mereka bergerak sigap, senjata siap, plitan melayang terkoordinasi dengan presisi militer. Jantung Georu berdetak lebih keras, seperti menghantam rongga dadanya sendiri. Ini bukan kebetulan. Mereka datang dengan tujuan.
“Tidak mungkin,” bisiknya, meski matanya tahu ia tak salah lihat. “...orang gila itu pasti sudah tahu.”
Dada bagian dalamnya mengencang, tapi wajahnya dipaksa tetap datar. Ia menekan naluri panik, memilih bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Dengan langkah terukur, ia menghampiri rekan-rekannya yang masih tergeletak. Beberapa mengerang pelan, sebagian lain hanya menatap kosong, jelas masih tersesat di antara sadar dan pingsan. Georu menepuk bahu mereka satu per satu, memanggil nama, memastikan mereka bernapas.
Belum sempat ia menarik tangan dari salah satu temannya, suara lantang memecah keheningan. Suara itu bergema di antara puing dan arus air yang bergetar halus.
“Georu!”
Tubuh Georu menegang sesaat sebelum ia berbalik. Wakil Ketua Distrik Nor berdiri tak jauh darinya. Rahangnya mengeras, bibir tebalnya terkatup rapat, tatapannya menusuk seperti ingin membongkar kebohongan yang belum sempat diucapkan.
“Siap, Wakil Ketua,” jawab Georu tegas. Ia berdiri tegak, seolah gedung di sekeliling mereka tidak sedang hancur, seolah situasi masih sepenuhnya terkendali.
Wakil Ketua melangkah maju satu langkah. Nada suaranya dingin, sarat amarah yang ditahan.
“Buka ruang penyimpanan manusia darat sekarang! Sisa pasukan keamanan ada di sana. Mereka dipaksa tidur oleh anak itu.” ucapnya dengan nada otoritas tinggi. Georu hanya dapat mematung.
“Setelah itu, seluruhnya kumpul di ruang balai pertemuan utama,” lanjut Rumsun. Tatapannya menyapu lorong yang porak-poranda, serpihan dinding dan rangka bangunan masih melayang pelan seperti debu di udara laut.
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara lebih keras, “Bereskan sisa puing. Setelah itu baru ikut berkumpul.”
Tanpa menunggu jawaban, Rumsun memerintahkan otaknya mengaktifkan petakan plitan di bawah kakinya. Permukaan cahaya itu berdenyut, lalu melaju membawa tubuhnya terangkat. Pijakan berputar halus, menjauhkan Rumsun bersama dua puluh pasukan yang mengikutinya, meninggalkan Georu dan pasukan lain yang kini telah sepenuhnya sadar.
Tak lama berselang, pasukan yang sebelumnya terkurung kembali dalam kondisi prima. Satu per satu, mereka mengaktifkan mode pemulihan fisik benda. Cahaya tipis menjalar dari telapak tangan dan kaki, merambat ke puing-puing yang berserakan. Dalam hitungan menit, reruntuhan bergerak seperti ditarik oleh ingatan bangunan itu sendiri. Dinding yang retak menyatu, lantai yang terbelah menutup rapat, rangka gedung kembali berdiri seolah tak pernah disentuh kekacauan. Tak sampai lima menit, lorong itu pulih. Bersih. Utuh. Terlalu rapi untuk sebuah tempat yang baru saja diluluhlantakkan.
Setelah pekerjaan selesai, mereka melayang serempak menyusuri lorong vertikal menuju ruang balai pertemuan utama. Letaknya jauh di atas, lantai sembilan puluh empat di sisi kanan lobi utama, tepat sejajar dengan mata patung raksasa yang berdiri megah di pusat gedung. Sementara itu, posisi mereka saat ini berada dua lantai di bawah dasar bangunan. Perjalanan memakan waktu sekitar tujuh menit dengan kecepatan sedang, tiga puluh dua kilometer per jam. Arus laut di sekitar gedung bergetar lembut, memberi sensasi seperti naik lift panjang di daratan, hanya saja tanpa suara mesin.
Sepanjang perjalanan, Georu menangkap bisikan-bisikan lirih di antara pasukan.
“Berapa lama kamu pingsan?” suara seseorang terdengar ragu.
“Empat puluh menit,” jawab yang lain dengan nada kesal. “Aku bahkan nggak sadar sudah terkapar. Anak itu gila kuatnya.”
Ia mendecih pelan, lalu melanjutkan dengan nada tertahan, “Kalau saja aku diizinkan pakai seluruh kekuatanku…”
Kalimat itu menghilang ditelan arus. Georu tetap diam, menatap lurus ke depan. Bisikan-bisikan itu hanya menegaskan satu hal yang tak ingin ia ucapkan. Apa pun yang mereka hadapi hari ini bukan sekadar manusia darat biasa.
“Memangnya berapa lama yang diminta Komandan Mynhemeni saat kalian disuruh mengaktifkan mode lelap di ruangan itu?” terdengar obrolan lain, masih di jalur yang sama, hanya terpaut tiga barisan dari pasukan yang sebelumnya pingsan hampir empat puluh menit.
“Dua hari,” suara itu datangnya dari Olhuioruik, pasukan keamanan tingkat satu. Wajahnya mencerminkan usia seseorang yang baru saja menuntaskan masa perkuliahan, kira-kira dua puluh tiga tahun. Rambut lurus sebahu berwarna biru pirus melayang mengikuti arus, salah satu helainya sempat menyentuh bibirnya saat ia bicara, menambah kesan urakan pada raut wajahnya yang tegang.
“Bayangin. Dua hari penuh. Kenapa nggak sekalian nyuruh kita koma berjamaah aja?” Ia mendecih, lalu menurunkan suara.
“Aku curiga, komandan sengaja membiarkan dirinya terculik.” lanjutnya berusaha menggiring opini.
“Itu nggak masuk akal,” potong pasukan lain, juga tingkat satu. Nada suaranya naik, nyaris tersinggung.
“Kamu nggak lihat tadi komandan ketakutan? Anak itu terlalu kuat.” lanjutnya. Ia memerintahkan Sanvarnya menunjukkan proses pemulihan diri. Permukaan busana di area dada dan lengan berubah transparan, memperlihatkan bekas memar yang belum sepenuhnya memudar. Warna kehijauan dan kebiruan masih jelas, seolah luka itu enggan pergi.
“Lihat ini,” lanjutnya dengan wajah yang sengaja dibuat dramatis.
“Sanvarku saja masih kerja keras memperbaiki dirinya dan tubuhku. Kami belum pulih seratus persen. Padahal aku tadi sudah mengaktifkan perisai dengan kekuatan penuh,” lanjutnya, suara bercampur antara kesal dan tak percaya.
“Bahkan bom nuklir yang dibanggakan manusia darat, nggak bisa menyentuhku saat perisai itu aktif.”
“Iya,” sahut pasukan lain dari barisan yang sama. Tubuhnya melayang sedikit lebih dekat, seolah ingin memastikan tak ada pihak lain yang mendengar.
“Kamu belum merasakan sendiri pukulannya. Daya hancurnya bukan main. Satu hantaman saja rasanya seperti ditabrak runtuhan daratan.”
Ia menggeleng pelan.
“Dan yang paling aneh, dia melakukannya tanpa alat bantu apa pun.”
Beberapa pasukan saling berpandangan. Arus laut di sekitar mereka tetap tenang, tapi perasaan di antara barisan itu jauh dari stabil. Kaki-kaki mereka bersatu dengan plitan seakan berpijak di tanah keras, namun dada mereka terasa kosong, berat oleh ketidakpastian.
“Sebenarnya… siapa dia? Apakah benar dia manusia darat?” bisik seseorang akhirnya, suaranya hampir tenggelam oleh desiran air yang lewat di sela-sela tubuh mereka.
“Diam!” suara Atuyju memotong arus bisik-bisik itu seperti benturan keras di ruang tertutup. Tubuhnya melayang setengah langkah ke depan. Kemudian berbalik, tatapannya menyapu barisan pasukan satu per satu.
“Kalian tidak boleh lagi membicarakan hal ini. Tidak sekarang, tidak nanti. Ini rahasia, dan tidak boleh bocor kepada siapa pun, termasuk pusat.”
Beberapa pasukan spontan menegakkan tubuh, pijakan mereka mengeras seperti lantai batu di bawah sepatu. Arus laut yang tadi terasa lembut kini seakan menekan dari segala arah, membuat dada terasa sempit. Atuyju mengepalkan tangan, ekspresinya dingin namun tegang, jelas ia tidak menikmati peran ini.
“Sudahi obrolan tentang kejadian tadi sekarang juga,” lanjutnya, suaranya lebih rendah namun justru lebih berbahaya.
“Atau haruskah aku menghapus ingatan kalian.”
Keheningan menyerang. Tak satu pun berani bersuara. Mereka tahu ancaman itu bukan gertakan.
Di antara arus laut yang tenang dan gerakan melayang yang nyaris senyap, kecemasan mereka terasa semakin berat. Nama Cakra tak diucapkan, tapi keberadaannya seolah terus mengikuti mereka, seperti bayangan yang menempel di setiap sudut distrik Nor.
Kelopak matanya bergerak pelan. Georu menelan ludah, lalu mengernyit.
“Kenapa kamu tidak membangunkanku?” ucapnya, suaranya tak keluar. Ia berbicara dalam kepalanya. Matanya menyipit, dahi berkerut. Ia yakin betul telah mengatur mode lelap hanya selama lima belas menit.
Tidak lebih.
“Sudah aku lakukan,” jawab Sanvarnya cepat, nyaris defensif. Bergema di dalam kepala Georu. “Tepat setelah tingkat pemulihanku mencapai seratus persen. Sekitar tujuh menit lalu. Tapi kamu tidak bangun juga.”
Sejenak jeda, lalu suara itu melanjutkan dengan nada yang makin menyebalkan.
“Kamu juga yang memberi perintah. Tidak boleh dibangunkan secara kasar. Terutama jika sudah tiga kali percobaan.”
Georu memejamkan mata. Ada denyut kesal yang naik ke pelipisnya, bercampur rasa tidak enak yang belum jelas bentuknya.
“Iya, iya… sudahlah,” gumamnya akhirnya. Ia memilih menghentikan percakapan sebelum berubah jadi pertengkaran yang tak perlu.
Ia memaksakan tubuhnya untuk bangkit, otot-ototnya terasa berat seolah baru saja ditekan arus laut dalam waktu lama. Pandangannya kabur. Gelap. Terlalu gelap. Georu menggerakkan rahangnya pelan, lalu memerintahkan Sanvarnya untuk menyesuaikan pemrosesan visual di otaknya. Perlahan, kegelapan itu retak. Cahaya samar muncul seperti fajar yang dipaksa masuk ke kedalaman samudra.
Bentuk-bentuk mulai mengambil wujud. Lantai yang retak. Pilar yang patah dan tergeletak miring. Serpihan dinding melayang ringan sebelum akhirnya jatuh perlahan, seolah masih ragu pada hukum gravitasi. Napas Georu tercekat ketika matanya menangkap tubuh-tubuh yang dikenalnya. Beberapa sejawatnya terkapar tak bergerak, sebagian lain bersandar pada reruntuhan dengan busana tempur yang robek dan berpendar lemah. Gedung pemerintahan yang biasanya kokoh dan steril kini tampak seperti cangkang kosong yang diremuk dari dalam.
Dingin merayap naik dari tengkuknya. Bukan dingin air laut, melainkan rasa yang lebih dalam dan lebih tajam.
Makhluk apa sebenarnya Cakra?
Pikirannya melompat kembali pada momen sebelum gelap menelannya. Pada satu pukulan di ulu hati. Singkat, cepat, dan brutal. Georu masih bisa merasakan gema benturan itu, seperti gelombang kejut yang menghantam dari dalam tubuhnya sendiri. Ia menelan ludah. Jika saja ia terlambat sepersekian detik mengaktifkan perisai penuh, ia yakin tulang-tulangnya tak akan tersisa dalam bentuk utuh.
“Tidak masuk akal…” gumamnya lirih, hampir tak terdengar.
Perisai tingkat penuh seharusnya cukup untuk menahan serangan kelas tinggi. Namun Cakra menembusnya, atau setidaknya hampir. Dan fakta itu jauh lebih mengerikan daripada reruntuhan di sekelilingnya.
“Geok, tunjukkan status,” perintah Georu pada kecerdasan buatan Sanvarnya yang ia beri nama Geok.
Seketika, rangkaian data bermunculan. Bukan sebagai layar di hadapan matanya, melainkan sebagai lapisan cahaya yang melayang di dalam kepalanya, rapi dan dingin. Angka, grafik, dan simulasi kondisi tubuhnya berputar perlahan. Georu menyipitkan mata, dahinya mengernyit saat satu data mencolok muncul di pusat kesadarannya.
Kerusakan Sanvarnya mencapai tujuh puluh delapan persen.
Dada Georu terasa mengencang. Ini pertama kalinya. Selama hidupnya, tak pernah sekalipun Sanvarnya mengalami kerusakan di atas lima belas persen. Tidak saat ia masih duduk di bangku pendidikan Janrugkou. Tidak pula ketika menjalani latihan militer brutal di Hokuiol, distrik pertahanan nasional Kerajaan Porkah, tempat prajurit terbaik ditempa tanpa ampun. Kini, hampir delapan puluh persen sistemnya runtuh hanya dalam satu insiden.
“Gila…” racaunya, tak percaya.
Tak heran pemulihan memakan waktu selama itu. Dan belum selesai sampai di sana. Georu menggeser fokusnya pada laporan kondisi fisik. Diagram tubuhnya berpendar, menampilkan rekaman kerusakan yang sempat terjadi. Tulang rusuk bagian bawahnya pernah pecah, retaknya menjalar seperti kaca yang dilempar batu. Beberapa organ dalam sempat mengalami tekanan ekstrem sebelum akhirnya direkonstruksi ulang oleh sistem penyembuhan.
Sekarang semuanya sudah utuh kembali.
Justru itu yang membuat Georu merinding.
Ia menyaksikan ulang simulasi pecahnya tulang rusuknya sendiri, setiap detik direkam dengan presisi kejam. Rasa nyeri seolah kembali menyelinap ke tubuhnya, walau hanya sebagai bayangan. Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan denyut di pelipisnya.
“Kita tidak boleh meremehkannya…” bisiknya pelan, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Geok.
Pikirannya langsung melompat pada satu nama. Wajah Mynhemeni terlintas, diikuti rasa cemas yang tak bisa ditekan. Georu mengepalkan tangan, lalu beranjak, langkahnya masih berat namun tekadnya mengeras.
“Aku harus mengecek keadaan Kak Hemy.”
Saat niatnya hendak memastikan keadaan Mynhemeni, langkah Georu tertahan seketika. Nalurinya bergetar lebih dulu sebelum matanya benar-benar menangkap ancaman. Dari kejauhan, bayangan bergerak serempak, membelah arus air seperti barisan di daratan yang berderap rapi.
“Geok, perbesar visual,” gumamnya cepat.
Penglihatannya mengerucut, dunia di sekeliling seakan menjauh. Sosok-sosok itu menjadi semakin jelas, siluet berubah menjadi wajah, formasi berubah menjadi ancaman nyata. Napas Georu terasa berat saat mengenali figur yang melayang paling depan.
Rumsun.
Melayang sendiri di atas plitan. Sedangkan di belakangnya, dua puluh pasukan berbaris rapi dalam satu petakan plitan. Di atas mereka melayang pula sepuluh pasukan lainnya, dalam satu plitan yang sama. Mereka bergerak sigap, senjata siap, plitan melayang terkoordinasi dengan presisi militer. Jantung Georu berdetak lebih keras, seperti menghantam rongga dadanya sendiri. Ini bukan kebetulan. Mereka datang dengan tujuan.
“Tidak mungkin,” bisiknya, meski matanya tahu ia tak salah lihat. “...orang gila itu pasti sudah tahu.”
Dada bagian dalamnya mengencang, tapi wajahnya dipaksa tetap datar. Ia menekan naluri panik, memilih bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Dengan langkah terukur, ia menghampiri rekan-rekannya yang masih tergeletak. Beberapa mengerang pelan, sebagian lain hanya menatap kosong, jelas masih tersesat di antara sadar dan pingsan. Georu menepuk bahu mereka satu per satu, memanggil nama, memastikan mereka bernapas.
Belum sempat ia menarik tangan dari salah satu temannya, suara lantang memecah keheningan. Suara itu bergema di antara puing dan arus air yang bergetar halus.
“Georu!”
Tubuh Georu menegang sesaat sebelum ia berbalik. Wakil Ketua Distrik Nor berdiri tak jauh darinya. Rahangnya mengeras, bibir tebalnya terkatup rapat, tatapannya menusuk seperti ingin membongkar kebohongan yang belum sempat diucapkan.
“Siap, Wakil Ketua,” jawab Georu tegas. Ia berdiri tegak, seolah gedung di sekeliling mereka tidak sedang hancur, seolah situasi masih sepenuhnya terkendali.
Wakil Ketua melangkah maju satu langkah. Nada suaranya dingin, sarat amarah yang ditahan.
“Buka ruang penyimpanan manusia darat sekarang! Sisa pasukan keamanan ada di sana. Mereka dipaksa tidur oleh anak itu.” ucapnya dengan nada otoritas tinggi. Georu hanya dapat mematung.
“Setelah itu, seluruhnya kumpul di ruang balai pertemuan utama,” lanjut Rumsun. Tatapannya menyapu lorong yang porak-poranda, serpihan dinding dan rangka bangunan masih melayang pelan seperti debu di udara laut.
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara lebih keras, “Bereskan sisa puing. Setelah itu baru ikut berkumpul.”
Tanpa menunggu jawaban, Rumsun memerintahkan otaknya mengaktifkan petakan plitan di bawah kakinya. Permukaan cahaya itu berdenyut, lalu melaju membawa tubuhnya terangkat. Pijakan berputar halus, menjauhkan Rumsun bersama dua puluh pasukan yang mengikutinya, meninggalkan Georu dan pasukan lain yang kini telah sepenuhnya sadar.
Tak lama berselang, pasukan yang sebelumnya terkurung kembali dalam kondisi prima. Satu per satu, mereka mengaktifkan mode pemulihan fisik benda. Cahaya tipis menjalar dari telapak tangan dan kaki, merambat ke puing-puing yang berserakan. Dalam hitungan menit, reruntuhan bergerak seperti ditarik oleh ingatan bangunan itu sendiri. Dinding yang retak menyatu, lantai yang terbelah menutup rapat, rangka gedung kembali berdiri seolah tak pernah disentuh kekacauan. Tak sampai lima menit, lorong itu pulih. Bersih. Utuh. Terlalu rapi untuk sebuah tempat yang baru saja diluluhlantakkan.
Setelah pekerjaan selesai, mereka melayang serempak menyusuri lorong vertikal menuju ruang balai pertemuan utama. Letaknya jauh di atas, lantai sembilan puluh empat di sisi kanan lobi utama, tepat sejajar dengan mata patung raksasa yang berdiri megah di pusat gedung. Sementara itu, posisi mereka saat ini berada dua lantai di bawah dasar bangunan. Perjalanan memakan waktu sekitar tujuh menit dengan kecepatan sedang, tiga puluh dua kilometer per jam. Arus laut di sekitar gedung bergetar lembut, memberi sensasi seperti naik lift panjang di daratan, hanya saja tanpa suara mesin.
Sepanjang perjalanan, Georu menangkap bisikan-bisikan lirih di antara pasukan.
“Berapa lama kamu pingsan?” suara seseorang terdengar ragu.
“Empat puluh menit,” jawab yang lain dengan nada kesal. “Aku bahkan nggak sadar sudah terkapar. Anak itu gila kuatnya.”
Ia mendecih pelan, lalu melanjutkan dengan nada tertahan, “Kalau saja aku diizinkan pakai seluruh kekuatanku…”
Kalimat itu menghilang ditelan arus. Georu tetap diam, menatap lurus ke depan. Bisikan-bisikan itu hanya menegaskan satu hal yang tak ingin ia ucapkan. Apa pun yang mereka hadapi hari ini bukan sekadar manusia darat biasa.
“Memangnya berapa lama yang diminta Komandan Mynhemeni saat kalian disuruh mengaktifkan mode lelap di ruangan itu?” terdengar obrolan lain, masih di jalur yang sama, hanya terpaut tiga barisan dari pasukan yang sebelumnya pingsan hampir empat puluh menit.
“Dua hari,” suara itu datangnya dari Olhuioruik, pasukan keamanan tingkat satu. Wajahnya mencerminkan usia seseorang yang baru saja menuntaskan masa perkuliahan, kira-kira dua puluh tiga tahun. Rambut lurus sebahu berwarna biru pirus melayang mengikuti arus, salah satu helainya sempat menyentuh bibirnya saat ia bicara, menambah kesan urakan pada raut wajahnya yang tegang.
“Bayangin. Dua hari penuh. Kenapa nggak sekalian nyuruh kita koma berjamaah aja?” Ia mendecih, lalu menurunkan suara.
“Aku curiga, komandan sengaja membiarkan dirinya terculik.” lanjutnya berusaha menggiring opini.
“Itu nggak masuk akal,” potong pasukan lain, juga tingkat satu. Nada suaranya naik, nyaris tersinggung.
“Kamu nggak lihat tadi komandan ketakutan? Anak itu terlalu kuat.” lanjutnya. Ia memerintahkan Sanvarnya menunjukkan proses pemulihan diri. Permukaan busana di area dada dan lengan berubah transparan, memperlihatkan bekas memar yang belum sepenuhnya memudar. Warna kehijauan dan kebiruan masih jelas, seolah luka itu enggan pergi.
“Lihat ini,” lanjutnya dengan wajah yang sengaja dibuat dramatis.
“Sanvarku saja masih kerja keras memperbaiki dirinya dan tubuhku. Kami belum pulih seratus persen. Padahal aku tadi sudah mengaktifkan perisai dengan kekuatan penuh,” lanjutnya, suara bercampur antara kesal dan tak percaya.
“Bahkan bom nuklir yang dibanggakan manusia darat, nggak bisa menyentuhku saat perisai itu aktif.”
“Iya,” sahut pasukan lain dari barisan yang sama. Tubuhnya melayang sedikit lebih dekat, seolah ingin memastikan tak ada pihak lain yang mendengar.
“Kamu belum merasakan sendiri pukulannya. Daya hancurnya bukan main. Satu hantaman saja rasanya seperti ditabrak runtuhan daratan.”
Ia menggeleng pelan.
“Dan yang paling aneh, dia melakukannya tanpa alat bantu apa pun.”
Beberapa pasukan saling berpandangan. Arus laut di sekitar mereka tetap tenang, tapi perasaan di antara barisan itu jauh dari stabil. Kaki-kaki mereka bersatu dengan plitan seakan berpijak di tanah keras, namun dada mereka terasa kosong, berat oleh ketidakpastian.
“Sebenarnya… siapa dia? Apakah benar dia manusia darat?” bisik seseorang akhirnya, suaranya hampir tenggelam oleh desiran air yang lewat di sela-sela tubuh mereka.
“Diam!” suara Atuyju memotong arus bisik-bisik itu seperti benturan keras di ruang tertutup. Tubuhnya melayang setengah langkah ke depan. Kemudian berbalik, tatapannya menyapu barisan pasukan satu per satu.
“Kalian tidak boleh lagi membicarakan hal ini. Tidak sekarang, tidak nanti. Ini rahasia, dan tidak boleh bocor kepada siapa pun, termasuk pusat.”
Beberapa pasukan spontan menegakkan tubuh, pijakan mereka mengeras seperti lantai batu di bawah sepatu. Arus laut yang tadi terasa lembut kini seakan menekan dari segala arah, membuat dada terasa sempit. Atuyju mengepalkan tangan, ekspresinya dingin namun tegang, jelas ia tidak menikmati peran ini.
“Sudahi obrolan tentang kejadian tadi sekarang juga,” lanjutnya, suaranya lebih rendah namun justru lebih berbahaya.
“Atau haruskah aku menghapus ingatan kalian.”
Keheningan menyerang. Tak satu pun berani bersuara. Mereka tahu ancaman itu bukan gertakan.
Di antara arus laut yang tenang dan gerakan melayang yang nyaris senyap, kecemasan mereka terasa semakin berat. Nama Cakra tak diucapkan, tapi keberadaannya seolah terus mengikuti mereka, seperti bayangan yang menempel di setiap sudut distrik Nor.
Other Stories
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Cinta Bukan Ramalan Bintang
Dengan membaca ramalan bintang seakan menentukan hidup seorang Narian akan bahagia atau ti ...
Hanya Ibu
Perjuangan bunga, pengamen kecil yang ditinggal ayahnya meninggal karena sakit jantung sej ...
Rumah Nenek
Liburan memang menyenangkan. Piyan, yang berumur 9 tahun. Hanya mengerti, liburan itu adal ...
Love Falls With The Rain In Mentaya
Di tepian Pinggiran Sungai Mentaya, hujan selalu membawa cerita. Arga, seorang penulis pen ...
Cinta Di Ibukota
Sari, gadis desa yang polos, terjerat dalam hubungan berbahaya dengan fotografer ambisius ...