Bab 45 - Menyelami Trauma Mynhemeni
Mynhemeni mengakhiri penjelasannya dengan gerakan kecil, seolah tenggorokannya akhirnya menyerah setelah menahan terlalu banyak kata. Bahunya bergeser ringan. Dari ujung seragamnya, butiran kecil berkilau muncul, berputar sesaat di udara, lalu melesat ke mulutnya. Ia menelan pelan. Napasnya kembali teratur, matanya sempat terpejam sepersekian detik, menikmati lega yang datang setelah rentetan penjelasan panjang.
Cakra mengamatinya tanpa berkedip. Ada rasa nyaman yang tak ia sembunyikan. Ia pun mencoba meniru. Dari kain hijau bajunya, butiran serupa muncul dan melayang ke atas meja yang terasa padat, sekeras kayu jati. Dalam sekejap, butiran itu membentuk gelas tinggi berisi cokelat hangat.
Cakra terpaku. Pegangan gelas itu diukir menyerupai gajah, reliefnya hidup, seolah sedang merayap mengitari permukaan gelas. Kuping gajah memancarkan cahaya hijau lembut, sementara tubuhnya berkilau jingga kebiruan. Saat jari Cakra menggenggam tangkai gelas, belalai gajah itu bergerak pelan, memendarkan cahaya merah yang hangat, bukan menyilaukan.
Uap tipis naik perlahan, menyentuh wajahnya. Hangatnya bercampur dengan cahaya biru ruangan dan tekanan laut yang nyaris tak terasa tapi selalu hadir, seperti pengingat sunyi bahwa mereka berada jauh di bawah permukaan dunia manusia dan dunia Porkah. Dalam pelarian. Cakra tak menghiraukannya, ia memilih menyeruput cokelat hangatnya.
Hangat. Nyata.
Dan yang paling mengejutkan, rasanya sama persis seperti cokelat yang sejak tadi ia inginkan. Cokelat dari kafe tempat ia biasa bertemu para sahabatnya. Tidak terlalu manis, tidak terlalu pahit. Tepat. Pas. Mantap. Perlahan, ia menurunkan gelas dari bibirnya.
“Jadi,” ucapnya sambil menatap cairan cokelat yang masih mengepul, “maksud dari tingkat kebutuhan yang berbeda-beda itu apa?” Ia mengangkat pandangannya ke Mynhemeni.
“Apa yang dibutuhkan tiap orang memang beda, dan semuanya dipenuhi oleh negara? Atau…?"
Mynhemeni menghela napas pendek, seperti baru saja menata ulang pikirannya sebelum menjawab. “Bukan begitu,” katanya lebih tenang. “Tingkat kebutuhan dibedakan berdasarkan golongan. Ada kebutuhan pribadi, dan ada kebutuhan profesional.” Ia mengangkat satu jari, lalu menyusul jari kedua.
“Kebutuhan profesional membuat kebutuhan setiap individu berbeda,” ujarnya tenang.
“Semua bergantung pada posisi dan jabatan. Apa pun yang diminta tidak akan pernah diberikan jika tidak selaras dengan peran yang dijalani.” Nada suaranya mantap, seolah aturan itu bukan sekadar kebijakan, melainkan sesuatu yang tak bisa diganggu gugat.
Seketika senyap kembali mengambil alih. Cakra langsung menyambar celah itu.
“Nah, berarti tetap ada kesenjangan dong,” katanya cepat. “Maksudku, tetap ada status sosial, kan?” Ia condong ke depan.
“Kalau begitu, bisa aja kalian nolak jodoh kalian karena statusnya lebih rendah.” Ia belum sempat berhenti ketika pikirannya melompat lagi.
“Terus misalnya, karena posisi kita rendah, kita nggak bisa dapetin barang tertentu. Kenapa nggak bikin sendiri aja?”
“Sebentar. Aku jawab satu-satu..." Mynhemeni mengangkat telapak tangannya. Sebelum Cakra mulai menyerangnya kembali. Nada suaranya tetap sabar, meski matanya sempat menyiratkan lelah.
“Pertama, tidak ada kesenjangan sosial di Kerajaan Porkah. Ada perbedaan posisi dan jabatan, iya. Tapi status sosialnya tetap sama. Kami semua rakyat Porkah. Bahkan Raja dan Ratu pun statusnya sama dengan kami. Mereka mempunyai jam kerja dan kewajiban yang sama seperti kami!” Ia menyandarkan punggung, cahaya biru ruangan memantul di seragamnya.
“Lagipula, jabatan itu kami dapatkan setelah seluruh rangkaian pendidikan selesai. Di saat umur kami tiga puluh lima tahun. Tapi, Saat Ravin dilepaskan dan jodoh kami diketahui, kami belum ada status apa pun. Kami hanyalah lulusan pendidikan utama yang akan melanjutkan ke jenjang pendidikan profesi. Saat itu, belum ada jabatan, belum ada posisi yang pasti di masyarakat,"
Cakra terdiam, mendengarkan.
“Hingga akhirnya kami lulus pendidikan profesi dan terjun ke masyarakat untuk bekerja sesuai minat dan bakat kami...” lanjut Mynhemeni.
“Kami menukar waktu, tenaga, dan pikiran untuk masyarakat. Sebagai gantinya, seluruh lapisan masyarakat memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat lainnya sesuai porsi. Sehingga, tidak ada alasan untuk kami menilai pasangan dari jabatan atau kariernya. Karena itu tidak relevan, dan tidak ada gunanya. Sistem kerja dan politik kami teratur dan adil, dan itu yang menentukan tingkat kebutuhan. Semua mendapat apa yang mereka perlukan. Tidak lebih, tidak kurang.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Karena itu, tidak ada yang merasa dirugikan.”
Cakra sudah membuka mulut untuk menyela, tetapi Mynhemeni lebih dulu melanjutkan, suaranya tetap stabil meski jelas menyimpan beban aturan. “Dan soal membuat sesuatu sendiri, itu tidak boleh. Atau lebih tepatnya, tidak bisa. Seluruh teknologi di Porkah terhubung dengan Sanvar. Untuk menciptakan apa pun, dibutuhkan teknologi lain yang juga terhubung dengan Sanvar, dan setiap aktivitas itu pasti terpantau pusat. Kecuali, kita punya wewenang khusus, atau rencana khusus yang memang belum boleh diketahui oleh pusat. Tapi, cepat atau lambat, pusat pun akan mengetahuinya...” Ia berhenti sejenak, seolah memberi ruang agar kata-katanya benar-benar meresap.
“Setiap Sanvar memiliki tingkatan. Sanvar bayi berbeda dengan Sanvar anak sekolah. Sanvar pekerja tingkat awal berbeda dengan Sanvar pekerja tingkat tinggi...”
“Dan Sanvar tahanan berbeda dengan Sanvar individu bebas,” sambung Cakra pelan. Suaranya meredup. Ia menunduk, menatap kaos hijau yang membungkus tubuhnya. Kaos itu tampak biasa, sama persis dengan yang ia kenakan sebelum tubuhnya ditelan ombak Parangtritis. Namun di tempat ini, di bawah tekanan laut yang terasa seperti udara berat di dada, pakaian itu bukan sekadar kain. Ia adalah penanda. Pembatas. Dan pengingat bahwa dirinya adalah seorang tahanan bangsa Porkah yang sedang dalam pelarian bersama salah satu warganya.
“Tepat sekali, semuanya sudah disesuaikan.” jawab Mynhemeni singkat. Cakra menyandarkan punggungnya. Rasa takjub perlahan menggantikan kecanggungan di wajahnya.
“Wooow… sistem dunia kalian rapi banget. Bahkan indah,” katanya jujur, matanya berbinar memantulkan cahaya biru ruangan. “Aku yakin negeri kalian pasti jauh dari kriminalitas.”
Mynhemeni hanya mengangguk pelan. Gerakan kecil, namun penuh arti. Cakra menyipitkan mata, senyum jahil yang khas tiba-tiba muncul, memecah ketegangan.
“Kalau begitu,” katanya ringan, “polisi kalian makan gaji buta dong kalau nggak ada kriminal?”
“Walau hampir tak ada kriminalitas, mereka tetap punya pekerjaan. Tugas mereka melindungi bangsa Porkah, membantu manusia darat, dan menjaga Bumi dari ancaman luar. Seperti komet, atau meteor..." Mynhemeni cepat menggiring opini, tak ingin pikiran mengenai serangan alien terlintas dalam benak Cakra.
"Setiap hari mereka bersiaga, berlatih, dan menyesuaikan diri. Terutama saat ada teknologi baru, mereka wajib menguasainya sebelum teknologi itu menguasai mereka.” ujar Mynhemeni tenang. Ia menyandarkan tubuhnya, sofanya bergerak seolah harus mengikuti gerakan tubuhnya.
“Jam kerjanya bagaimana?” sela Cakra, alisnya terangkat penuh minat.
“Jam kerja masyarakat Porkah sepenuhnya fleksibel. Yang terpenting, dalam satu bulan setiap warga yang telah memasuki masa kerja wajib memenuhi delapan puluh delapan jam. Tidak boleh lebih. Tidak boleh kurang.”
“Delapan puluh delapan jam per bulan?” Cakra cepat menghitung di kepalanya.
“Kalau dihitung hari kerja Senin sampai Jumat, itu berarti sehari cuma sekitar empat jam.”
“Kurang lebih,” sahut Mynhemeni ringan.
“Lalu di luar jam kerja, kalian ngapain?” Cakra condong ke depan, suaranya antusias, seolah lupa bahwa di luar dinding transparan ini ada laut yang menekan dengan sabar.
“Kami menikmati hidup,” jawab Mynhemeni singkat, lalu tersenyum kecil.
“Berkumpul dengan keluarga, menekuni hobi, mengembangkan diri, bepergian. Ada yang belajar hal baru, ada yang sekadar menikmati waktu. Tidak jauh berbeda dengan manusia darat. Hanya saja, kami tidak dikejar rasa takut kekurangan atau tertinggal dari yang lain.”
“Waaah…” Cakra menghembuskan napas panjang. Rasa iri tak bisa ia sembunyikan. Dunia Porkah terdengar terlalu rapi, terlalu adil, seperti versi mimpi dari semua sistem yang pernah ia kenal. Sekilas, muncul godaan di benaknya untuk menjadi bagian dari bangsa ini. Mempelajari teknologi mereka. Hidup tanpa kecemasan dasar.
Namun bayangan wajah ayah dan ibunya, juga tawa sahabat-sahabatnya, segera menepuk kesadarannya. Ia menelan ludah. Porkah mungkin sempurna, tetapi ia tak bisa tinggal di dunia yang tak pernah bisa mereka jangkau.
“Balik ke pertanyaan sebelumnya, boleh?" tanya Cakra tak kuasa menahan rasa ingin tahu.
"Pertanyaan yang mana?"
"Tentang suamimu...." ucap Cakra hati-hati. Mynhemeni hanya tersenyum dan mengedipkan matanya dua kali. Kemudian mengangguk pelan.
"Suamimu meninggal di umur tiga belas tahun. Waktu itu kalian belum menikah. Kenapa kamu tetap menyebutnya suami?” Mynhemeni menarik napas pelan. Air di sekeliling mereka beriak lembut, seolah ikut menahan suasana.
“Seperti yang sudah aku bilang. Begitu jodoh diketahui, kami langsung dianggap sebagai suami istri. Kami hanya menunggu giliran dilantik oleh raja setelah pernikahan didaftarkan,” katanya akhirnya. Suaranya merendah, nyaris tenggelam. Sesaat kemudian ia terdiam, jemarinya mengepal di pangkuan, seolah menahan sesuatu yang tak ikut terucap.
Bagi bangsa Porkah, mendaftarkan pernikahan adalah salah satu penanda paling penting dalam hidup. Namun hampir tak ada yang melakukannya dengan tergesa. Kebanyakan memilih menunggu hingga arah hidup mereka benar-benar jelas, setidaknya sampai putaran kedua dari tiga fase pendidikan kurikulum profesi terlewati. Biasanya pada usia sekitar tiga puluh dua tahun. Ada pula yang menunggu lebih lama, hingga seluruh pendidikan selesai. Sebagian lainnya mendaftarkan pernikahan segera setelah lulus pendidikan utama, tepat ketika Ravin mereka aktif untuk pertama kali.
Pikiran Mynhemeni melayang pada teman-teman seangkatannya. Mayoritas mendaftarkan pernikahan setelah putaran pertama kurikulum profesi selesai. Adiknya, Georu, pun mengambil jalur yang sama. Lalu gelombang di kepalanya bergerak, memanggil kenangan tentang mereka yang bernasib serupa dengannya. Tidak banyak. Hanya tiga orang. Dua orang yang seketika itu menjadi duda, dan satu orang menjadi janda. Dirinya.
“Kalau jodoh seseorang meninggal lebih dulu, seperti yang kualami, kami tidak perlu mendaftarkan status atau menunggu pelatikan resmi dari Raja. Statusku langsung otomatis tercatat di Kerajaan sebagai seorang janda dari suamiku. Jadi aku tetap harus memanggilnya suami...” Nada suaranya tetap tenang, tapi ada sesuatu yang tertahan di baliknya.
Ingatan itu masih utuh.
Terlalu utuh.
Hari itu, tepat setelah pengumuman kelulusan pendidikan utama, gelombang Ravin menghantam mereka tanpa aba-aba. Data tentang jodoh masing-masing menerobos benak para siswa, ditarik paksa oleh casvet mereka. Dunia sekitar lenyap, digantikan ruang virtual yang hangat dan terang. Di sana, mereka dipaksa menyaksikan, merasakan, dan menjalani potongan demi potongan hidup orang yang ditakdirkan untuk mereka.
Reaksi datang cepat.
Ada yang terpaku diam, karena Ravin pasangannya belum aktif. Itu berarti jodohnya masih terlalu muda. Paling tidak, tiga tahun di bawah mereka. Ada yang langsung bergerak, memanggil nama asing yang terasa akrab, lalu menghilang dalam kilat teleportasi, menghampiri jodoh yang menunggu mereka. Ada pula yang runtuh seketika, tangis mereka pecah saat menyadari jodohnya telah lama tiada.
Mynhemeni termasuk di antara yang terakhir.
Kesedihan itu datang seperti arus balik, menghantam tanpa ampun. Bukan hanya karena ia tahu akan menjalani hidup tanpa pasangan, tetapi karena mimpi lain ikut terkubur. Tentang anak. Tentang keluarga kecil yang tak pernah sempat diwujudkan. Di usia empat puluh delapan, seharusnya setidaknya ada satu suara kecil memanggilnya ibu. Namun kenyataannya, ia berdiri sendiri. Seorang janda tanpa anak. Dan seorang istri bagi seseorang yang hanya sempat ia kenal lewat kenangan yang dipinjamkan oleh takdir.
“Walaupun aku belum pernah bertemu dengannya secara nyata. Tapi, semua tentang dirinya terasa hidup di kepalaku.” Ia menatap ruang di depan mereka, seolah melihat sesuatu yang tak bisa dijangkau mata.
“Sifatnya, emosinya, hal-hal kecil yang ia sukai, juga yang ia benci. Wajah keluarganya, cara teman-temannya tertawa bersamanya. Semuanya seperti menyatu di dalam jiwaku.” ujar Mynhemeni pelan, ia lalu menoleh ke arah Cakra dan tersenyum, senyum yang terlalu rapi untuk disebut alami. Di baliknya, ada retakan halus yang nyaris tak terlihat. Mata peraknya berkaca, kilau tipis seperti pantulan cahaya laut di permukaan kaca. Cakra menangkapnya, detik itu juga. Namun sebelum rasa itu sempat jatuh dan menjadi air mata, kilau tersebut lenyap begitu saja. Sanvar di tubuh Mynhemeni bekerja cepat, menarik kesedihan itu kembali ke kedalaman, merapikannya seperti gelombang yang dipaksa tenang.
Cakra menelan ludah. Dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang tak punya nama.
“Maaf! Aku… seharusnya nggak menanyakan hal itu," ucapnya kikuk
Ia ingin bergerak. Ingin mendekat, sekadar mengusap punggung wanita itu, memberi isyarat sederhana bahwa ia tidak sendiri. Tapi tubuhnya justru kaku, seperti tertahan oleh tekanan air yang tiba-tiba mengeras. Niat itu menguap, tinggal keinginan yang tak pernah sampai.
“Gapapa,” jawab Mynhemeni ringan, seolah tak ada yang terjadi. Tatapannya kembali ke Cakra, kali ini jujur dan tenang.
“Masih mau bertanya tentang suamiku?” Pertanyaan itu menggantung di antara mereka, bercampur dengan dengung halus teknologi Porkah dan ritme laut yang terasa seperti napas panjang. Cakra tak mengalihkan pandangan. Bibirnya bergerak sedikit, saling mengulum. Sampai akhirnya ia berani bersuara.
"Boleh?" Mynhemeni mengangguk pelan, bibirnya melengkung senyum, pancaran matanya penuh kehangatan.
"Bagaimana dia meninggal?” tanyanya.
Kalimat itu meluncur tanpa ragu, terlalu jujur untuk ditarik kembali.
Cakra mengamatinya tanpa berkedip. Ada rasa nyaman yang tak ia sembunyikan. Ia pun mencoba meniru. Dari kain hijau bajunya, butiran serupa muncul dan melayang ke atas meja yang terasa padat, sekeras kayu jati. Dalam sekejap, butiran itu membentuk gelas tinggi berisi cokelat hangat.
Cakra terpaku. Pegangan gelas itu diukir menyerupai gajah, reliefnya hidup, seolah sedang merayap mengitari permukaan gelas. Kuping gajah memancarkan cahaya hijau lembut, sementara tubuhnya berkilau jingga kebiruan. Saat jari Cakra menggenggam tangkai gelas, belalai gajah itu bergerak pelan, memendarkan cahaya merah yang hangat, bukan menyilaukan.
Uap tipis naik perlahan, menyentuh wajahnya. Hangatnya bercampur dengan cahaya biru ruangan dan tekanan laut yang nyaris tak terasa tapi selalu hadir, seperti pengingat sunyi bahwa mereka berada jauh di bawah permukaan dunia manusia dan dunia Porkah. Dalam pelarian. Cakra tak menghiraukannya, ia memilih menyeruput cokelat hangatnya.
Hangat. Nyata.
Dan yang paling mengejutkan, rasanya sama persis seperti cokelat yang sejak tadi ia inginkan. Cokelat dari kafe tempat ia biasa bertemu para sahabatnya. Tidak terlalu manis, tidak terlalu pahit. Tepat. Pas. Mantap. Perlahan, ia menurunkan gelas dari bibirnya.
“Jadi,” ucapnya sambil menatap cairan cokelat yang masih mengepul, “maksud dari tingkat kebutuhan yang berbeda-beda itu apa?” Ia mengangkat pandangannya ke Mynhemeni.
“Apa yang dibutuhkan tiap orang memang beda, dan semuanya dipenuhi oleh negara? Atau…?"
Mynhemeni menghela napas pendek, seperti baru saja menata ulang pikirannya sebelum menjawab. “Bukan begitu,” katanya lebih tenang. “Tingkat kebutuhan dibedakan berdasarkan golongan. Ada kebutuhan pribadi, dan ada kebutuhan profesional.” Ia mengangkat satu jari, lalu menyusul jari kedua.
“Kebutuhan profesional membuat kebutuhan setiap individu berbeda,” ujarnya tenang.
“Semua bergantung pada posisi dan jabatan. Apa pun yang diminta tidak akan pernah diberikan jika tidak selaras dengan peran yang dijalani.” Nada suaranya mantap, seolah aturan itu bukan sekadar kebijakan, melainkan sesuatu yang tak bisa diganggu gugat.
Seketika senyap kembali mengambil alih. Cakra langsung menyambar celah itu.
“Nah, berarti tetap ada kesenjangan dong,” katanya cepat. “Maksudku, tetap ada status sosial, kan?” Ia condong ke depan.
“Kalau begitu, bisa aja kalian nolak jodoh kalian karena statusnya lebih rendah.” Ia belum sempat berhenti ketika pikirannya melompat lagi.
“Terus misalnya, karena posisi kita rendah, kita nggak bisa dapetin barang tertentu. Kenapa nggak bikin sendiri aja?”
“Sebentar. Aku jawab satu-satu..." Mynhemeni mengangkat telapak tangannya. Sebelum Cakra mulai menyerangnya kembali. Nada suaranya tetap sabar, meski matanya sempat menyiratkan lelah.
“Pertama, tidak ada kesenjangan sosial di Kerajaan Porkah. Ada perbedaan posisi dan jabatan, iya. Tapi status sosialnya tetap sama. Kami semua rakyat Porkah. Bahkan Raja dan Ratu pun statusnya sama dengan kami. Mereka mempunyai jam kerja dan kewajiban yang sama seperti kami!” Ia menyandarkan punggung, cahaya biru ruangan memantul di seragamnya.
“Lagipula, jabatan itu kami dapatkan setelah seluruh rangkaian pendidikan selesai. Di saat umur kami tiga puluh lima tahun. Tapi, Saat Ravin dilepaskan dan jodoh kami diketahui, kami belum ada status apa pun. Kami hanyalah lulusan pendidikan utama yang akan melanjutkan ke jenjang pendidikan profesi. Saat itu, belum ada jabatan, belum ada posisi yang pasti di masyarakat,"
Cakra terdiam, mendengarkan.
“Hingga akhirnya kami lulus pendidikan profesi dan terjun ke masyarakat untuk bekerja sesuai minat dan bakat kami...” lanjut Mynhemeni.
“Kami menukar waktu, tenaga, dan pikiran untuk masyarakat. Sebagai gantinya, seluruh lapisan masyarakat memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat lainnya sesuai porsi. Sehingga, tidak ada alasan untuk kami menilai pasangan dari jabatan atau kariernya. Karena itu tidak relevan, dan tidak ada gunanya. Sistem kerja dan politik kami teratur dan adil, dan itu yang menentukan tingkat kebutuhan. Semua mendapat apa yang mereka perlukan. Tidak lebih, tidak kurang.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Karena itu, tidak ada yang merasa dirugikan.”
Cakra sudah membuka mulut untuk menyela, tetapi Mynhemeni lebih dulu melanjutkan, suaranya tetap stabil meski jelas menyimpan beban aturan. “Dan soal membuat sesuatu sendiri, itu tidak boleh. Atau lebih tepatnya, tidak bisa. Seluruh teknologi di Porkah terhubung dengan Sanvar. Untuk menciptakan apa pun, dibutuhkan teknologi lain yang juga terhubung dengan Sanvar, dan setiap aktivitas itu pasti terpantau pusat. Kecuali, kita punya wewenang khusus, atau rencana khusus yang memang belum boleh diketahui oleh pusat. Tapi, cepat atau lambat, pusat pun akan mengetahuinya...” Ia berhenti sejenak, seolah memberi ruang agar kata-katanya benar-benar meresap.
“Setiap Sanvar memiliki tingkatan. Sanvar bayi berbeda dengan Sanvar anak sekolah. Sanvar pekerja tingkat awal berbeda dengan Sanvar pekerja tingkat tinggi...”
“Dan Sanvar tahanan berbeda dengan Sanvar individu bebas,” sambung Cakra pelan. Suaranya meredup. Ia menunduk, menatap kaos hijau yang membungkus tubuhnya. Kaos itu tampak biasa, sama persis dengan yang ia kenakan sebelum tubuhnya ditelan ombak Parangtritis. Namun di tempat ini, di bawah tekanan laut yang terasa seperti udara berat di dada, pakaian itu bukan sekadar kain. Ia adalah penanda. Pembatas. Dan pengingat bahwa dirinya adalah seorang tahanan bangsa Porkah yang sedang dalam pelarian bersama salah satu warganya.
“Tepat sekali, semuanya sudah disesuaikan.” jawab Mynhemeni singkat. Cakra menyandarkan punggungnya. Rasa takjub perlahan menggantikan kecanggungan di wajahnya.
“Wooow… sistem dunia kalian rapi banget. Bahkan indah,” katanya jujur, matanya berbinar memantulkan cahaya biru ruangan. “Aku yakin negeri kalian pasti jauh dari kriminalitas.”
Mynhemeni hanya mengangguk pelan. Gerakan kecil, namun penuh arti. Cakra menyipitkan mata, senyum jahil yang khas tiba-tiba muncul, memecah ketegangan.
“Kalau begitu,” katanya ringan, “polisi kalian makan gaji buta dong kalau nggak ada kriminal?”
“Walau hampir tak ada kriminalitas, mereka tetap punya pekerjaan. Tugas mereka melindungi bangsa Porkah, membantu manusia darat, dan menjaga Bumi dari ancaman luar. Seperti komet, atau meteor..." Mynhemeni cepat menggiring opini, tak ingin pikiran mengenai serangan alien terlintas dalam benak Cakra.
"Setiap hari mereka bersiaga, berlatih, dan menyesuaikan diri. Terutama saat ada teknologi baru, mereka wajib menguasainya sebelum teknologi itu menguasai mereka.” ujar Mynhemeni tenang. Ia menyandarkan tubuhnya, sofanya bergerak seolah harus mengikuti gerakan tubuhnya.
“Jam kerjanya bagaimana?” sela Cakra, alisnya terangkat penuh minat.
“Jam kerja masyarakat Porkah sepenuhnya fleksibel. Yang terpenting, dalam satu bulan setiap warga yang telah memasuki masa kerja wajib memenuhi delapan puluh delapan jam. Tidak boleh lebih. Tidak boleh kurang.”
“Delapan puluh delapan jam per bulan?” Cakra cepat menghitung di kepalanya.
“Kalau dihitung hari kerja Senin sampai Jumat, itu berarti sehari cuma sekitar empat jam.”
“Kurang lebih,” sahut Mynhemeni ringan.
“Lalu di luar jam kerja, kalian ngapain?” Cakra condong ke depan, suaranya antusias, seolah lupa bahwa di luar dinding transparan ini ada laut yang menekan dengan sabar.
“Kami menikmati hidup,” jawab Mynhemeni singkat, lalu tersenyum kecil.
“Berkumpul dengan keluarga, menekuni hobi, mengembangkan diri, bepergian. Ada yang belajar hal baru, ada yang sekadar menikmati waktu. Tidak jauh berbeda dengan manusia darat. Hanya saja, kami tidak dikejar rasa takut kekurangan atau tertinggal dari yang lain.”
“Waaah…” Cakra menghembuskan napas panjang. Rasa iri tak bisa ia sembunyikan. Dunia Porkah terdengar terlalu rapi, terlalu adil, seperti versi mimpi dari semua sistem yang pernah ia kenal. Sekilas, muncul godaan di benaknya untuk menjadi bagian dari bangsa ini. Mempelajari teknologi mereka. Hidup tanpa kecemasan dasar.
Namun bayangan wajah ayah dan ibunya, juga tawa sahabat-sahabatnya, segera menepuk kesadarannya. Ia menelan ludah. Porkah mungkin sempurna, tetapi ia tak bisa tinggal di dunia yang tak pernah bisa mereka jangkau.
“Balik ke pertanyaan sebelumnya, boleh?" tanya Cakra tak kuasa menahan rasa ingin tahu.
"Pertanyaan yang mana?"
"Tentang suamimu...." ucap Cakra hati-hati. Mynhemeni hanya tersenyum dan mengedipkan matanya dua kali. Kemudian mengangguk pelan.
"Suamimu meninggal di umur tiga belas tahun. Waktu itu kalian belum menikah. Kenapa kamu tetap menyebutnya suami?” Mynhemeni menarik napas pelan. Air di sekeliling mereka beriak lembut, seolah ikut menahan suasana.
“Seperti yang sudah aku bilang. Begitu jodoh diketahui, kami langsung dianggap sebagai suami istri. Kami hanya menunggu giliran dilantik oleh raja setelah pernikahan didaftarkan,” katanya akhirnya. Suaranya merendah, nyaris tenggelam. Sesaat kemudian ia terdiam, jemarinya mengepal di pangkuan, seolah menahan sesuatu yang tak ikut terucap.
Bagi bangsa Porkah, mendaftarkan pernikahan adalah salah satu penanda paling penting dalam hidup. Namun hampir tak ada yang melakukannya dengan tergesa. Kebanyakan memilih menunggu hingga arah hidup mereka benar-benar jelas, setidaknya sampai putaran kedua dari tiga fase pendidikan kurikulum profesi terlewati. Biasanya pada usia sekitar tiga puluh dua tahun. Ada pula yang menunggu lebih lama, hingga seluruh pendidikan selesai. Sebagian lainnya mendaftarkan pernikahan segera setelah lulus pendidikan utama, tepat ketika Ravin mereka aktif untuk pertama kali.
Pikiran Mynhemeni melayang pada teman-teman seangkatannya. Mayoritas mendaftarkan pernikahan setelah putaran pertama kurikulum profesi selesai. Adiknya, Georu, pun mengambil jalur yang sama. Lalu gelombang di kepalanya bergerak, memanggil kenangan tentang mereka yang bernasib serupa dengannya. Tidak banyak. Hanya tiga orang. Dua orang yang seketika itu menjadi duda, dan satu orang menjadi janda. Dirinya.
“Kalau jodoh seseorang meninggal lebih dulu, seperti yang kualami, kami tidak perlu mendaftarkan status atau menunggu pelatikan resmi dari Raja. Statusku langsung otomatis tercatat di Kerajaan sebagai seorang janda dari suamiku. Jadi aku tetap harus memanggilnya suami...” Nada suaranya tetap tenang, tapi ada sesuatu yang tertahan di baliknya.
Ingatan itu masih utuh.
Terlalu utuh.
Hari itu, tepat setelah pengumuman kelulusan pendidikan utama, gelombang Ravin menghantam mereka tanpa aba-aba. Data tentang jodoh masing-masing menerobos benak para siswa, ditarik paksa oleh casvet mereka. Dunia sekitar lenyap, digantikan ruang virtual yang hangat dan terang. Di sana, mereka dipaksa menyaksikan, merasakan, dan menjalani potongan demi potongan hidup orang yang ditakdirkan untuk mereka.
Reaksi datang cepat.
Ada yang terpaku diam, karena Ravin pasangannya belum aktif. Itu berarti jodohnya masih terlalu muda. Paling tidak, tiga tahun di bawah mereka. Ada yang langsung bergerak, memanggil nama asing yang terasa akrab, lalu menghilang dalam kilat teleportasi, menghampiri jodoh yang menunggu mereka. Ada pula yang runtuh seketika, tangis mereka pecah saat menyadari jodohnya telah lama tiada.
Mynhemeni termasuk di antara yang terakhir.
Kesedihan itu datang seperti arus balik, menghantam tanpa ampun. Bukan hanya karena ia tahu akan menjalani hidup tanpa pasangan, tetapi karena mimpi lain ikut terkubur. Tentang anak. Tentang keluarga kecil yang tak pernah sempat diwujudkan. Di usia empat puluh delapan, seharusnya setidaknya ada satu suara kecil memanggilnya ibu. Namun kenyataannya, ia berdiri sendiri. Seorang janda tanpa anak. Dan seorang istri bagi seseorang yang hanya sempat ia kenal lewat kenangan yang dipinjamkan oleh takdir.
“Walaupun aku belum pernah bertemu dengannya secara nyata. Tapi, semua tentang dirinya terasa hidup di kepalaku.” Ia menatap ruang di depan mereka, seolah melihat sesuatu yang tak bisa dijangkau mata.
“Sifatnya, emosinya, hal-hal kecil yang ia sukai, juga yang ia benci. Wajah keluarganya, cara teman-temannya tertawa bersamanya. Semuanya seperti menyatu di dalam jiwaku.” ujar Mynhemeni pelan, ia lalu menoleh ke arah Cakra dan tersenyum, senyum yang terlalu rapi untuk disebut alami. Di baliknya, ada retakan halus yang nyaris tak terlihat. Mata peraknya berkaca, kilau tipis seperti pantulan cahaya laut di permukaan kaca. Cakra menangkapnya, detik itu juga. Namun sebelum rasa itu sempat jatuh dan menjadi air mata, kilau tersebut lenyap begitu saja. Sanvar di tubuh Mynhemeni bekerja cepat, menarik kesedihan itu kembali ke kedalaman, merapikannya seperti gelombang yang dipaksa tenang.
Cakra menelan ludah. Dadanya terasa sesak oleh sesuatu yang tak punya nama.
“Maaf! Aku… seharusnya nggak menanyakan hal itu," ucapnya kikuk
Ia ingin bergerak. Ingin mendekat, sekadar mengusap punggung wanita itu, memberi isyarat sederhana bahwa ia tidak sendiri. Tapi tubuhnya justru kaku, seperti tertahan oleh tekanan air yang tiba-tiba mengeras. Niat itu menguap, tinggal keinginan yang tak pernah sampai.
“Gapapa,” jawab Mynhemeni ringan, seolah tak ada yang terjadi. Tatapannya kembali ke Cakra, kali ini jujur dan tenang.
“Masih mau bertanya tentang suamiku?” Pertanyaan itu menggantung di antara mereka, bercampur dengan dengung halus teknologi Porkah dan ritme laut yang terasa seperti napas panjang. Cakra tak mengalihkan pandangan. Bibirnya bergerak sedikit, saling mengulum. Sampai akhirnya ia berani bersuara.
"Boleh?" Mynhemeni mengangguk pelan, bibirnya melengkung senyum, pancaran matanya penuh kehangatan.
"Bagaimana dia meninggal?” tanyanya.
Kalimat itu meluncur tanpa ragu, terlalu jujur untuk ditarik kembali.
Other Stories
Pulang Tanpa Diikuti
Sekar menghabiskan liburan panjang di rumah neneknya, sebuah rumah tua di desa yang menyim ...
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...
Ayudiah Dan Kantini
Waktu terasa lambat karena pahitnya hidup, namun rasa syukur atas persahabatan Ayudyah dan ...
Just, Open Your Heart
Muthia terjebak antara cinta lama yang menyakitkan dan cinta baru dari bosnya yang penuh k ...
Jam Dinding
Setelah kematian mendadak adiknya, Joni selalu dihantui mimpi buruk yang sama secara berul ...
Plan B
Liburan tiga sahabat di desa terpencil berubah jadi mimpi buruk saat satu dari mereka meng ...