Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia

Reads
9.8K
Votes
6.9K
Parts
71
Vote
Report
Negeri bawah laut porkah: cakra di samudra hindia
Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia
Penulis Virdytan

Bab 44 - Ravin, Gen Jodoh Porkah

“Secara ritual... aku memang belum menikah,” ucap Mynhemeni pelan, seolah kalimat itu memiliki bobot yang harus diturunkan sedikit demi sedikit.

“Tapi secara teknis menurut pencatatan sipil... statusku dinyatakan sebagai janda tanpa anak.” Ia berhenti sesaat, matanya menatap lurus ke depan, ke ruang yang terbentang seperti aula daratan, padahal dinding di sekelilingnya berdenyut samar mengikuti arus laut.

“Bahkan sebelum aku sempat mendaftarkan status pernikahanku dan merasakan arti pernikahan," sambungnya ringan. Cakra mengernyit, alisnya bertaut, kepalanya miring sedikit. Semua kata itu terdengar rapi, tapi tidak ada satu pun yang benar-benar masuk akal baginya. Menikah, janda, belum tercatat. Semuanya saling bertabrakan di kepalanya. Mynhemeni menangkap kebingungan itu. Ia menarik napas, lalu mengubah posisinya agar menghadap Cakra sepenuhnya.

“Aku tahu ini membingungkan,” katanya lebih lembut, seolah berbicara pada anak kecil yang baru belajar berjalan di dunia asing.

“Dengar baik-baik.” Ia mengangkat satu jarinya, bukan untuk menggurui, melainkan menandai awal cerita.

“Setiap bangsa Porkah, sejak lahir, akan memancarkan gen jodoh,” ujar Mynhemeni. Suaranya kini tenang dan stabil, nyaris akademis. Seperti seseorang yang sedang menjelaskan hukum gravitasi atau siklus pasang surut laut. Sesuatu yang tidak perlu diyakini, karena sejak awal memang tak pernah memberi ruang untuk diragukan. Cakra terdiam. Di sekeliling mereka, udara terasa padat namun hangat, dan denyut halus dari dasar laut merambat pelan di bawah lantai. Ia tahu, apa pun yang akan Mynhemeni jelaskan setelah ini, tidak akan sederhana. Dan mungkin, tidak akan pernah benar-benar terasa manusiawi.

“Kami menyebutnya Ravin. Saat kami berusia dua puluh enam tahun, tepat di hari kelulusan pendidikan utama, Ravin dilepaskan.” Cakra menyandarkan punggungnya. Lagi-lagi sofa itu memanjakannya. Mynhemeni tetap bersuara, tak menyadari tatapan Cakra yang semakin membulat.

“Pada saat itu, kami diserbu gelombang kenangan dan data milik orang yang menjadi jodoh kami. Seluruh hormon kedewasaan, termasuk cinta, dilepaskan bersamaan dengan munculnya identitas calon pasangan. Seketika membuat kami saling jatuh cinta. Menghadirkan rasa peduli, keinginan untuk memiliki, membahagiakan, dan melindungi,”

Bagi bangsa Porkah, Ravin bukanlah ramalan romantis, melainkan sebuah resonansi. Gen jodoh itu tertidur selama dua puluh enam tahun, menunggu kesadaran mencapai titik kematangannya. Ketika akhirnya aktif, Ravin menghubungkan dua kehidupan dalam satu denyut yang sama.

Masa lalu yang tak pernah mereka bagi terbuka begitu saja. Ingatan bercampur dengan emosi, menghadirkan kebahagiaan yang pernah dirasakan bersama, rasa kehilangan yang ditanggung pasangannya, hingga kesedihan atas kematian yang pernah meninggalkan jejak mendalam. Semuanya mengalir deras pada saat yang sama, tak bisa ditolak dan tak mungkin ditahan.

Selama Ravin belum aktif, bangsa Porkah tidak mengenal jatuh cinta. Tidak ada hasrat. Tidak ada rindu. Cakra berkedip, pikirannya turut memproses informasi dengan munculnya berbagai pertanyaan.

“Jadi… setiap bangsa Porkah sudah dijodohkan?” potongnya, setengah tak percaya.

“Sejak lahir? Berarti kalian terlahir sepasang? Sepaket?” Mynhemeni menggeleng pelan. Rambutnya bergerak ringan, seperti tertiup angin yang tak ada di dalam laut.

“Kami tidak berpasangan saat lahir. Tapi setiap kelahiran di Porkah memancarkan gelombang Ravin yang akan mengikat sepasang bayi, dengan rentang usia nol sampai tiga tahun.” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih dalam, seolah tengah membuka lapisan paling sensitif dari peradaban mereka.

“Ravin menganalisis serta mencocokkan sifat dan emosi, energi dan selera hidup, arah ambisi dan dorongan jiwa, kesehatan gen, sampai fungsi sosial bagi peradaban. Kami percaya tiga tahun pertama adalah waktu terbaik. Kesadaran masih murni, belum terkontaminasi kehidupan sosial, dan ego belum terbentuk sempurna. Karena itu kecocokan dianggap paling asli, dan bisa dikunci dengan sempurna.” Informasi itu menumpuk di benak Cakra seperti gelombang pasang yang datang bertubi-tubi. Aneh, kepalanya tidak pusing. Tidak jenuh. Justru terasa seperti berdiri di tepi jurang pengetahuan yang menggiurkan dan menakutkan sekaligus.

Ia menghela napas, menatap pantulan wajahnya di dinding bening di belakang Mynhemeni. Memisahkan mereka dari laut dalam. Ia sempat melihat beberapa cumi raksasa berenang cepat menghindari jet mereka yang melaju pelan. Sangat pelan. Nyaris diam di tempat.

“Kalau begitu,” katanya akhirnya, suaranya lebih pelan. “Kalau misalnya… kita nggak suka dengan jodoh kita, gimana?”

“Itu tidak mungkin,” jawab Mynhemeni tegas. Nada suaranya datar, seolah ia sedang menyebutkan fakta sesederhana hukum gravitasi.

“Tidak ada dasar bagi kami untuk tidak menyukai pasangan yang telah dijodohkan. Sistem Ravin sudah melakukan analisis kecocokan. Memang tidak seratus persen sempurna, tapi sistem selalu menemukan pasangan terbaik yang bisa saling melengkapi.” Cakra mendecak pelan. Kursi tempat ia duduk terasa kokoh seperti bangku kayu di ruang tamu rumah, padahal di luar dinding bening itu arus laut bergerak perlahan, menari membawa kilau biru kehijauan. Ia memiringkan kepala, lalu mencondongkan tubuh sedikit ke depan.

“Masa sih?” tanyanya, nada suaranya terdengar lebih menantang dari yang ia maksudkan.

“Kalau kalian nggak suka karena pasangan kalian jelek gimana?” Mynhemeni menatapnya lama. Bukan tersinggung, melainkan benar-benar kebingungan.

“Aku tidak paham pertanyaanmu,” katanya akhirnya. “Maksudmu jelek itu apa?”

Cakra menggaruk tengkuknya.

“Ya… maaf-maaf. Misalnya wajahnya. Atau bentuk fisiknya nggak menarik.” Alis Mynhemeni sedikit berkerut. Ia menggeleng pelan, rambut peraknya bergerak ringan seolah mengikuti arus yang tak terlihat.

“Aku tetap tidak paham. Bagi kami, bentuk fisik hanyalah sampul identitas. Tidak lebih dari itu.”

Kalimat itu mengenai Cakra lebih keras dari yang ia duga. Bibirnya tertarik tanpa sadar. Ada rasa hangat yang menyelinap ke dadanya, aneh dan lembut, seperti menemukan kebenaran sederhana yang selama ini luput ia sadari. Bentuk fisik hanyalah sampul identitas. Kalimat sederhana namun sangat bermakna.

Akan tetapi rasa penasaran Cakra belum juga puas.

“Baiklah. Oke,” katanya cepat, sambil mengangkat alis.

“Kalau begitu, gimana kalau jodoh kalian ternyata cacat?”

“Tidak ada orang yang cacat di Porkah,” jawab Mynhemeni tenang. “Teknologi medis kami memperbaiki segala kecacatan. Termasuk kecacatan mental.”

“Oh. Iya juga…” Cakra terdiam. Percakapan mereka sebelumnya mendadak terlintas di kepalanya. Tentang tubuh yang bisa disambung kembali selama bagiannya masih ada. Tentang batas rapuh antara luka dan pemulihan di dunia Mynhemeni. Ia menunduk sedikit, merasa wajahnya menghangat.

“Maaf,” ucapnya lirih sambil tertawa kecil.

“Aku jadi terdengar seperti orang bodoh.”

“Kamu tidak bodoh,” kata Mynhemeni lembut. Ia sedikit memiringkan tubuhnya ke arah Cakra, seolah ingin memastikan setiap katanya sampai dengan utuh.

“Kamu hanya belum terbiasa dengan kehidupan kami. Dan wajar kalau kamu belum tahu banyak tentang bangsa kami.”

Cakra menghela napas pendek, lalu tertawa hambar. “Tapi tadi kamu sudah jelasin soal teknologi medis kalian,” sanggahnya. Tangannya bergerak gelisah, jari-jarinya saling mengait di atas permukaan meja yang berkilau samar seperti kaca basah.

“Aneh deh. Sejak berada di sini, aku rasanya kayak bukan aku.” Ia terdiam sejenak, menatap lantai yang kokoh seperti marmer, padahal ia tahu di baliknya terbentang laut dalam. Biasanya, informasi adalah wilayah kekuasaannya. Buku, dokumenter, podcast, semuanya menempel rapi di kepalanya seperti arsip yang tertata. Tapi di sini, di Porkah, setiap penjelasan terasa saling bertabrakan. Terlalu banyak. Terlalu cepat.

“Aku ngerasa kayak anak kampung,” lanjutnya pelan. “Yang baru pertama kali ke ibu kota. Semua terasa megah, canggih, bikin kagum, tapi juga bikin bingung. Mau fokus ke mana dulu aja rasanya salah.” Mynhemeni tersenyum kecil. Ada kelelahan tipis di matanya, tapi juga pengertian.

“Wajar,” ujarnya. “Situasi kita lagi kacau. Kita sedang dalam pelarian. Pikiranmu pasti menumpuk.” Ia menghela napas, bahunya turun sedikit. “Percaya atau tidak, aku juga merasakannya sekarang.”

Cakra mengangguk pelan. “Iya juga,” gumamnya. Lalu ia mendongak lagi, rasa penasaran kembali menyala di matanya.

“Oke, balik ke soal perjodohan.” Ia mencondongkan tubuhnya, nada suaranya serius tapi tetap penasaran. Gerakan kecil itu memunculkan gerakan pada sofanya yang masih setiap membungkus Cakra dalam kenyamanan.

“Mungkin nggak sih, kalian menolak jodoh karena status sosial atau ekonomi?” lanjutnya hati-hati.

Pertanyaan itu menggantung di antara mereka, seolah ikut mengambang bersama partikel cahaya biru yang berpendar dari panel-panel teknologi Korvet, sistem transportasi militer bangsa Porkah yang menaungi mereka. Dengung mesin terdengar konstan, berpadu dengan tekanan laut yang sunyi namun terasa nyata.

Cakra tahu, ia belum puas. Sistem Porkah terlalu rapi, terlalu sempurna, terlalu mutlak. Terlalu tak memberi ruang bagi kekacauan yang biasa ia kenal sebagai manusia. Terlebih faktor ekonomilah yang biasanya menjadi sumber utama permasalahan manusia di daratan.

Dan ia belum siap menerimanya begitu saja.

“Maksudnya bagaimana?” tanya Mynhemeni. Alisnya sedikit bertaut, kepalanya miring, benar-benar mencoba memahami sudut pandang Cakra.

“Misalnya,” Cakra mengangkat bahu, “kamu dijodohkan dengan orang miskin. Atau dengan orang yang statusnya dianggap rendah. Sikapmu akan bagaimana?”

Mynhemeni langsung menggeleng. Rambutnya bergoyang pelan, mengikuti arus udara buatan di ruangan itu. “Tidak ada orang miskin atau orang kaya di Porkah,” katanya tegas.

“Kami semua setara. Sama.” Ia menarik napas sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih tenang, seperti dosen yang menjelaskan ulang materi dasar.

“Kami tidak mengenal sistem jual beli. Kami tidak membutuhkan uang untuk menukar apa pun. Semua kebutuhan kami selalu terpenuhi.”

Cakra diam, mendengarkan.

“Mulai dari kebutuhan pokok,” lanjut Mynhemeni, “sampai hal-hal yang mungkin bagi kami sendiri tidak penting. Setiap hari kami hanya perlu melaporkan apa yang kami butuhkan atau inginkan. Tidak lama setelah itu, semuanya sudah ada di depan kami.” Ia lalu menatap Cakra, seolah memastikan ia masih mengikuti alurnya.

“Kamu ingat lorong-lorong di antara gedung Distrik Nor?” Cakra langsung mengangguk. Bayangan pipa-pipa besar transparan itu muncul jelas di kepalanya, membentang seperti kabel raksasa di udara, menghubungkan bangunan satu dengan yang lain. Mirip jaringan listrik di kota-kota besar Indonesia, hanya saja jauh lebih bersih dan hidup. Yang paling ia ingat adalah kotak-kotak kecil di dalamnya, melesat cepat seperti kilat yang terkurung kaca.

“Lorong itulah yang mengantarkan seluruh kebutuhan logistik warga,” lanjut Mynhemeni. Suaranya stabil, seperti arus laut dalam yang tenang tapi berlapis tekanan.

“Dan semuanya didapatkan cuma-cuma. Tidak dibeli, tidak bisa dijual.” Ia berhenti sejenak, seolah memberi waktu agar kata-katanya meresap.

“Kalaupun ingin menjualnya, kepada siapa? Tidak ada juga yang akan membelinya. Bagaimana cara menjualnya? Kami tidak punya sistem tukar barang. Tidak ada barter. Tidak ada uang sebagai alat tukar.”

Mynhemeni menggeleng pelan.

“Karena itu, jual beli tidak pernah berlaku di Porkah. Tidak ada orang kaya. Tidak ada orang miskin. Tidak ada kelas sosial. Yang ada hanya perbedaan tingkat kebutuhan.”

Cakra menelan ludah. Rasa kagum dan keganjilan bercampur di dadanya. Dunia Porkah terdengar utopis. Dan justru itu yang membuatnya gelisah.

Other Stories
Hantu Dan Hati

Di tengah duka dan rutinitasnya berjualan bunga, seorang pemuda menyadari bahwa ia tidak s ...

Adam & Hawa

Adam mencintai Hawa yang cantik, cerdas, dan sederhana, namun hubungan mereka terhalang ad ...

Tiada Cinta Tertinggal

Kehadiran Aksan kembali membuat Tresa terusik, teringat masa lalu yang ingin ia lupakan, m ...

Tatapan Yang Tidak Pernah Sampai

Cerpen ini mengisahkan satu tatapan singkat yang menumbuhkan dunia imajinasi, harapan, dan ...

Mauren, Lupakan Masa Lalu

“Nico bangun Sayang ... kita mulai semuanya dari awal anggap kita mengenal pribadi ya ...

Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Download Titik & Koma