Bab 46 - Dipaksa Menjanda
Mynhemeni tidak langsung menjawab. Ia hanya menggeleng pelan, bahunya terangkat tipis, seolah mengakui ketidaktahuannya sendiri. Pandangannya beralih ke samping. Dinding jet yang semula terlihat olehnya tampak padat, kokoh, dan penuh ornamen perlahan memudar, seperti tirai yang ditarik tanpa suara. Seketika, terbentang samudra Pasifik yang luas dan sunyi. Air biru gelap membentang tanpa batas. Tubuh jet terasa diam, seakan berhenti di tengah laut, berbaur dengan arus yang lambat dan makhluk-makhluk laut yang melintas santai.
“Bagi kami, kematian adalah misteri. Sampai detik ini, belum terpecahkan,” ucap Mynhemeni akhirnya, suaranya tenang namun berat. Ia menatap hamparan laut itu, lalu beralih pada Cakra.
“Mungkin bagi manusia darat, kematian datang karena tubuh yang rusak, penyakit, atau kecelakaan. Sesuatu yang masuk akal.” Bibirnya terkatup sebentar, lalu terbuka lagi.
“Tapi teknologi medis kami bekerja sampai ke sel, organ, jaringan, DNA, bahkan sistem saraf. Tubuh kami berhenti menua di usia seratus lima puluh tahun. Secara logika, kami seharusnya tidak bisa mati.” Tangannya terangkat, telapak kiri menyentuh dadanya, lalu ditutup oleh tangan kanan, seolah menahan sesuatu di dalam sana.
“Namun kenyataannya berbeda. Kematian tetap datang. Bagi kami, kematian terjadi ketika sinkronisasi antara tubuh, Sanvar, dan kesadaran inti tidak lagi utuh. Jiwa dan kehendak hidup tidak lagi menyatu. Jantung berhenti berdetak. Napas tak lagi terhembus. Otak sunyi tanpa aktivitas. Dan Sanvar... tidak bisa lagi diakses oleh siapa pun. Sanvar kami mati bersamaan dengan jiwa kami.” Kalimat itu menggantung, berat, bercampur dengan dengung halus mesin jet dan suara laut yang terasa terlalu dekat.
Mynhemeni berkedip beberapa kali, lalu menoleh ke kiri tubuhnya, lalu kembali ke Cakra. Ia tersenyum. Senyum kecil, rapuh, disertai kekeh singkat yang terasa lebih seperti kebiasaan daripada tawa. Cakra tidak langsung meresponsnya. Ia justru condong sedikit ke depan, wajahnya tanpa sadar mendekat, seolah ingin memastikan wanita itu benar-benar baik-baik saja. Lalu ia tersadar, menarik tubuhnya kembali, menggeser posisi duduk yang terasa tiba-tiba tidak nyaman. Ia bersandar ke sofa, melipat kedua tangan di dada.
Di kepalanya, laut itu terasa semakin luas. Dan untuk pertama kalinya, kematian terdengar lebih menakutkan bukan karena kepastian, melainkan karena ketidaktahuan.
Hening tak betah lama-lama bersama mereka.
“Bangsa kami, sejak ribuan tahun lalu, pernah mencoba segala cara untuk menghentikan kematian,” ujar Mynhemeni pelan. Ia menautkan jari di pangkuan, sorot matanya menerawang.
“Eksperimen itu baru benar-benar dihentikan sekitar tiga ratus tahun lalu. Tidak satu pun yang berhasil sempurna.” Cakra mengangkat alis, rasa ingin tahunya langsung menyala.
“Oh iya? Kalian sampai sejauh apa mencobanya?” Mynhemeni menghela napas tipis, lalu mulai menjabarkan, seolah membuka lembar arsip lama yang berdebu.
“Kami meningkatkan teknologi medis melampaui batas yang bisa kalian bayangkan. Kami menciptakan perisai untuk menahan jiwa, supaya ruh tidak dapat meninggalkan tubuh.”
Bibirnya melengkung tipis, nyaris getir.
“Kami juga pernah mencoba jalan lain. Menciptakan bangsa kami tanpa reproduksi alami.”
Cakra terkesiap kecil. “Seperti di film-film?”
“Kurang lebih.” Mynhemeni mengangguk.
“Sel buatan. Tubuh diproses di luar rahim. Semua dirancang, diawasi, dan dikendalikan.” Ia berhenti sejenak.
“Sebagian berhasil bertahan hidup. Tapi kebanyakan tidak.” Sunyi menyelusup di antara mereka, bercampur dengan dengung lembut mesin jet dan cahaya laut yang beriak di dinding transparan. Gelas cokelat Cakra melayang mendekat dengan sendirinya. Ia menangkapnya, kehangatan menyentuh telapak tangannya, lalu meneguk perlahan.
“Terus,” katanya sambil menurunkan gelas, “gimana cara kalian nentuin itu berhasil atau gagal?” Mynhemeni menoleh, tatapannya kini tajam dan penuh makna. Seakan jawaban itu tidak sesederhana hidup atau mati, melainkan sesuatu yang jauh lebih dalam.
“Yang gagal tidak pernah memberi respons. Jantung tidak berdetak. Tidak ada napas. Padahal tubuh-tubuh itu tumbuh sempurna,” ujar Mynhemeni, suaranya tenang tapi berat.
“Yang berhasil, mereka menunjukkan tanda hidup. Ada reaksi. Ada kesadaran.” Ia berhenti sebentar, matanya redup.
“Masalahnya, itu tidak pernah bertahan lama. Paling lama tercatat hanya tiga bulan.” Cakra menahan napas, dadanya terasa sesak oleh cerita yang mengalir terlalu mulus untuk disebut sekadar eksperimen gagal.
“Sampai akhirnya, kami menarik satu kesimpulan,” lanjut Mynhemeni, ia menatap Cakra lurus.
“Kami mampu menciptakan tubuh. Tapi kami tidak pernah bisa memberi nyawa.” Nada suaranya mengeras, bukan marah, melainkan pasrah.
“Itu bukan kuasa kami. Nyawa bukan milik teknologi. Tuhanlah yang menentukan makhluk mana yang diberi hidup, dan mana yang tidak.”
Ia tidak sepenuhnya berbohong.
Cakra tidak tahu bahwa penghentian teknologi penciptaan makhluk bukan semata karena kegagalan ilmiah. Itu terjadi karena para Raja Terdahulu telah punah. Para raja yang merupakan garis keturunan langsung dari Raja pertama bangsa Porkah, Raja Zvesda.
Raja Zvesda adalah legenda yang masih hidup dalam ingatan kolektif mereka. Manusia Porkah pertama yang lahir tanpa ayah. Terlahir dengan kekuatan super dan kesaktian di luar nalar, kecerdasan yang melampaui zamannya, dan kepribadian yang nyaris sempurna. Di bawah kepemimpinannya, Porkah melesat jauh meninggalkan masa lalu. Dalam tujuh ratus tahun, planet yang dulunya setara dengan peradaban Mesopotamia berubah menjadi dunia modern, bahkan melampaui tahun dua ribu dua puluh lima di bumi.
Namun semua itu bergantung pada satu hal. DNA para Raja Terdahulu.
Ketika Raja Englot, Raja Terdahulu terakhir wafat setelah membunuh putranya sendiri, Pangeran Engkour, garis keturunan itu pun terputus. Sejak saat itu, teknologi Porkah tidak benar-benar mati, tapi kehilangan arah. Seperti mesin canggih tanpa sumber energi. Masih berfungsi, namun tak lagi berkembang.
Bangsa Porkah terpaksa hidup tanpa jembatan antara mereka dan Gruzva. Nama yang mereka berikan pada Tuhan mereka. Selama berabad-abad, Raja Terdahulu menjadi penghubung itu. Menerima bimbingan lewat mimpi, lewat tanda-tanda alam, agar Porkah tetap hidup damai. Hingga satu waktu, planet mereka menghilang dari peta galaksi Bima Sakti.
Sejak itu, mimpi-mimpi berhenti. Tanda-tanda menghilang. Koneksi itu meredup, lalu benar-benar putus ketika Raja Englot dan Pangeran Engkour wafat. Yang tersisa hanyalah sejarah dan keyakinan yang tak lagi punya suara.
“Jadi,” Cakra akhirnya bersuara pelan, “kalian punya Tuhan?”
Mynhemeni mengangguk cepat, seakan pertanyaan itu sudah ia tunggu.
“Kami menyebut-Nya Gruzva.” Cakra hendak bertanya lagi, tetapi Mynhemeni segera menyela, matanya menajam lembut, seolah sudah tahu arah pikirannya dan belum siap membiarkannya melangkah lebih jauh.
“Cara ibadah kami sederhana,” kata Mynhemeni pelan. Suaranya mengalir tenang, seperti arus laut yang tak terlihat.
“Kami hanya harus mengikuti seluruh aturan bangsa Porkah yang ditetapkan oleh Gruzva melalui para Raja. Tidak ada ritual. Tidak ada penyembahan. Tidak ada pujian.” Ia tersenyum tipis.
“Kami tidak diajarkan hal-hal itu.” Cakra memperhatikan caranya berbicara. Tidak ada kekosongan di sana, justru keyakinan yang matang.
“Kami juga tidak mengenal surga atau neraka,” lanjut Mynhemeni. “Kami percaya, setiap bangsa Porkah yang berpulang akan langsung bersanding abadi bersama Gruzva.” Suaranya sedikit melunak.
“Termasuk mendiang suamiku.” Cakra terdiam. Dadanya terasa penuh oleh sesuatu yang sulit ia beri nama. “Aku benar-benar… kehabisan kata,” ujarnya akhirnya.
“Aku kira bangsa kalian tidak mengenal Tuhan. Hidup kalian terlalu maju, terlalu sempurna dibanding kami. Yang secara logika, kalian tidak butuh Tuhan...”
Mynhemeni menggeleng pelan.
“Justru sebaliknya. Teknologi kami lahir dari pengetahuan yang diturunkan Gruzva. Semakin jauh kami melangkah, semakin kami yakin bahwa Dialah pencipta kami.” Matanya menatap lurus ke depan.
“Kami bisa menciptakan tubuh, membangun dunia, bahkan menantang batas alam. Tapi nyawa tetap di luar jangkauan kami. Apa pun yang kami lakukan, Gruzva yang memegang wewenang atas kehidupan.”
Kalimat itu meresap dalam benak Cakra. Ia menyesapnya perlahan, seperti minuman cokelat hangatnya yang dibiarkan mendingin agar rasanya benar-benar terasa. Ia mengangguk kecil. Ia pun selalu percaya, ada hukum lain yang bekerja di balik semesta. Sesuatu yang tidak mungkin muncul begitu saja tanpa pencipta.
Keheningan kembali turun. Mesin jet berdengung lembut, bercampur tekanan laut yang konstan. Di luar, kawanan paus melintas anggun, tubuh-tubuh raksasa itu bergerak pelan seolah waktu berjalan lebih lambat bagi mereka. Mata Cakra mengikuti sesaat, lalu kembali pada Mynhemeni. Tatapannya penuh tanda tanya.
“Apa?” Mynhemeni menoleh, menahan senyum. “Masih penasaran soal apa lagi?”
“Masih soal suamimu,” ucap Cakra hati-hati.
“Boleh?” Mynhemeni mengangguk lagi, gerakannya kecil namun tegas, seperti ombak yang menyentuh karang tanpa suara.
“Kalau boleh tahu,” lanjut Cakra, suaranya menurun, “dia meninggal… dalam keadaan seperti apa?” Nama itu muncul lagi di benak Mynhemeni.
Chuvohus.
Nama yang belum sempat mengisi kehidupan nyata Mynhemeni. Nama yang hanya tertera sebagai mendiang suaminya di arsip kerajaan.
Seketika ingatan lama menghantam, terlalu jelas untuk diabaikan. Sanvarnya langsung bekerja, menenangkan pusat-pusat emosi yang bergejolak, meredam lonjakan panik sebelum tubuhnya sempat bereaksi.
Ia menarik napas, satu detik. Dua. Lalu berbicara. “Dia meninggal saat uji potensi militer dasar,” katanya akhirnya.
“Saat itu dia sedang mengaktifkan perisai saat lawannya melancarkan serangan Maroz.” Bibirnya melengkung samar, getir.
“Dan lucunya, aku satu angkatan dengannya. Walaupun bukan satu kelas, tapi aku melihat semuanya. Ketika dia...” Mynhemeni menahan napas. Dadanya terasa menyempit. Ia berkedip berkali-kali, berusaha mengusir panas yang tiba-tiba menggenang di matanya.
“Situasinya kacau,” lanjutnya.
“Sanvarnya mati begitu saja. Tidak ada aktivitas otak. Tidak ada detak jantung.” Ia mengepalkan jari, lalu melepaskannya.
“Dia tergeletak di depan kami. Hidup, lalu tidak. Begitu cepat.” Suaranya sedikit bergetar.
“Kami yang masih anak-anak... Bingung... Takut... Ada yang berteriak. Ada yang menangis.” Ia menoleh ke arah jendela jet, ke laut biru yang terbentang sunyi, seolah mencari jarak dari kenangan itu.
“Saat itu aku belum tahu dia jodohku,” katanya pelan.
“Beberapa hari setelahnya, aku dan teman-teman sempat membicarakannya diam-diam. Kami sedih, membayangkan suatu hari nanti akan ada seseorang yang hancur ketika mengetahui jodohnya telah tiada.” Senyum kecil muncul, pahit dan rapuh.
“Dan ternyata, orang itu aku.” Ia terkekeh singkat, tawa yang lebih mirip sisa napas. Cakra hanya mengatupkan bibir. Tak tahu harus bereaksi seperti apa. Hanya sejuta pertanyaan yang semakin menyerang benaknya.
“Terus,” katanya lirih, “kamu nggak menikah lagi?” Ia ragu sejenak.
“Itu sudah lama banget, kan? Tiga puluh lima tahun lalu?”
“Berkat Ravin, pernikahan dan kelahiran di Porkah diatur dengan sangat teratur,” ucap Mynhemeni. Nada suaranya datar, seolah sedang membacakan hukum alam yang tak pernah ia ragukan.
Ia tidak melanjutkan detail yang lebih dalam. Tentang bagaimana setiap kelahiran sebenarnya telah direkayasa sejak jauh hari. Tentang bagaimana bayi-bayi Porkah tidak lahir acak, melainkan serentak, menunggu giliran yang telah ditentukan. Tentang bagaimana dua orang tua hanya boleh memiliki anak setelah ikatan Ravin mereka dilantik oleh Raja, lengkap dengan jadwal yang sudah ditetapkan. Anak pertama kapan dibuahi, kapan dilahirkan. Anak kedua menyusul dengan ketepatan yang sama. Setelah itu, berhenti. Dua anak. Tidak lebih.
Mynhemeni menarik napas, lalu memiringkan kepalanya sedikit. Aliran minuman hangat kembali meluncur ke tenggorokannya, meredakan sisa ketegangan yang tak sepenuhnya hilang. Setelah itu, ia melanjutkan, suaranya lebih pelan.
“Seperti yang sudah aku bilang, sejak lahir, setiap bayi memancarkan gelombang Ravin. Gelombang itu mencari kecocokan dengan bayi lain. Begitu bertemu, ikatan itu terkunci.”
Ia menatap Cakra. “Selamanya.”
Cakra menahan diri untuk tidak bereaksi terlalu cepat.
“Hingga usia kami dua puluh enam tahun,” lanjut Mynhemeni.
“Ravin dilepaskan kembali. Bersamaan dengan seluruh data jodoh kami. Termasuk hormon cinta dan reproduksi.” Ia berhenti sejenak.
“Kalau ternyata jodoh itu sudah meninggal, Ravin ikut berhenti berfungsi. Dan bersamaan dengan itu, semua hasrat yang berkaitan dengan cinta dan reproduksi juga mati.” Ruangan terasa lebih sunyi. Dengung mesin dan tekanan laut seolah mendekat, mengisi celah yang ditinggalkan kata-kata Mynhemeni.
“Jadi,” gumam Cakra pelan, “secara nggak langsung, kalian dipaksa menjanda dan menduda selamanya.”
Mynhemeni mengangguk kecil. Tidak membantah. Tidak membela.
Dada Cakra terasa mengencang.
“Kenapa?” tanyanya akhirnya.
“Kenapa Ravin nggak ngasih kesempatan kedua? Kenapa para janda dan duda nggak dibiarkan bersama?” Pertanyaan itu meluncur jujur, nyaris terluka, menggantung di antara mereka bersama sunyi laut yang tak pernah benar-benar diam.
“Bagi kami, kematian adalah misteri. Sampai detik ini, belum terpecahkan,” ucap Mynhemeni akhirnya, suaranya tenang namun berat. Ia menatap hamparan laut itu, lalu beralih pada Cakra.
“Mungkin bagi manusia darat, kematian datang karena tubuh yang rusak, penyakit, atau kecelakaan. Sesuatu yang masuk akal.” Bibirnya terkatup sebentar, lalu terbuka lagi.
“Tapi teknologi medis kami bekerja sampai ke sel, organ, jaringan, DNA, bahkan sistem saraf. Tubuh kami berhenti menua di usia seratus lima puluh tahun. Secara logika, kami seharusnya tidak bisa mati.” Tangannya terangkat, telapak kiri menyentuh dadanya, lalu ditutup oleh tangan kanan, seolah menahan sesuatu di dalam sana.
“Namun kenyataannya berbeda. Kematian tetap datang. Bagi kami, kematian terjadi ketika sinkronisasi antara tubuh, Sanvar, dan kesadaran inti tidak lagi utuh. Jiwa dan kehendak hidup tidak lagi menyatu. Jantung berhenti berdetak. Napas tak lagi terhembus. Otak sunyi tanpa aktivitas. Dan Sanvar... tidak bisa lagi diakses oleh siapa pun. Sanvar kami mati bersamaan dengan jiwa kami.” Kalimat itu menggantung, berat, bercampur dengan dengung halus mesin jet dan suara laut yang terasa terlalu dekat.
Mynhemeni berkedip beberapa kali, lalu menoleh ke kiri tubuhnya, lalu kembali ke Cakra. Ia tersenyum. Senyum kecil, rapuh, disertai kekeh singkat yang terasa lebih seperti kebiasaan daripada tawa. Cakra tidak langsung meresponsnya. Ia justru condong sedikit ke depan, wajahnya tanpa sadar mendekat, seolah ingin memastikan wanita itu benar-benar baik-baik saja. Lalu ia tersadar, menarik tubuhnya kembali, menggeser posisi duduk yang terasa tiba-tiba tidak nyaman. Ia bersandar ke sofa, melipat kedua tangan di dada.
Di kepalanya, laut itu terasa semakin luas. Dan untuk pertama kalinya, kematian terdengar lebih menakutkan bukan karena kepastian, melainkan karena ketidaktahuan.
Hening tak betah lama-lama bersama mereka.
“Bangsa kami, sejak ribuan tahun lalu, pernah mencoba segala cara untuk menghentikan kematian,” ujar Mynhemeni pelan. Ia menautkan jari di pangkuan, sorot matanya menerawang.
“Eksperimen itu baru benar-benar dihentikan sekitar tiga ratus tahun lalu. Tidak satu pun yang berhasil sempurna.” Cakra mengangkat alis, rasa ingin tahunya langsung menyala.
“Oh iya? Kalian sampai sejauh apa mencobanya?” Mynhemeni menghela napas tipis, lalu mulai menjabarkan, seolah membuka lembar arsip lama yang berdebu.
“Kami meningkatkan teknologi medis melampaui batas yang bisa kalian bayangkan. Kami menciptakan perisai untuk menahan jiwa, supaya ruh tidak dapat meninggalkan tubuh.”
Bibirnya melengkung tipis, nyaris getir.
“Kami juga pernah mencoba jalan lain. Menciptakan bangsa kami tanpa reproduksi alami.”
Cakra terkesiap kecil. “Seperti di film-film?”
“Kurang lebih.” Mynhemeni mengangguk.
“Sel buatan. Tubuh diproses di luar rahim. Semua dirancang, diawasi, dan dikendalikan.” Ia berhenti sejenak.
“Sebagian berhasil bertahan hidup. Tapi kebanyakan tidak.” Sunyi menyelusup di antara mereka, bercampur dengan dengung lembut mesin jet dan cahaya laut yang beriak di dinding transparan. Gelas cokelat Cakra melayang mendekat dengan sendirinya. Ia menangkapnya, kehangatan menyentuh telapak tangannya, lalu meneguk perlahan.
“Terus,” katanya sambil menurunkan gelas, “gimana cara kalian nentuin itu berhasil atau gagal?” Mynhemeni menoleh, tatapannya kini tajam dan penuh makna. Seakan jawaban itu tidak sesederhana hidup atau mati, melainkan sesuatu yang jauh lebih dalam.
“Yang gagal tidak pernah memberi respons. Jantung tidak berdetak. Tidak ada napas. Padahal tubuh-tubuh itu tumbuh sempurna,” ujar Mynhemeni, suaranya tenang tapi berat.
“Yang berhasil, mereka menunjukkan tanda hidup. Ada reaksi. Ada kesadaran.” Ia berhenti sebentar, matanya redup.
“Masalahnya, itu tidak pernah bertahan lama. Paling lama tercatat hanya tiga bulan.” Cakra menahan napas, dadanya terasa sesak oleh cerita yang mengalir terlalu mulus untuk disebut sekadar eksperimen gagal.
“Sampai akhirnya, kami menarik satu kesimpulan,” lanjut Mynhemeni, ia menatap Cakra lurus.
“Kami mampu menciptakan tubuh. Tapi kami tidak pernah bisa memberi nyawa.” Nada suaranya mengeras, bukan marah, melainkan pasrah.
“Itu bukan kuasa kami. Nyawa bukan milik teknologi. Tuhanlah yang menentukan makhluk mana yang diberi hidup, dan mana yang tidak.”
Ia tidak sepenuhnya berbohong.
Cakra tidak tahu bahwa penghentian teknologi penciptaan makhluk bukan semata karena kegagalan ilmiah. Itu terjadi karena para Raja Terdahulu telah punah. Para raja yang merupakan garis keturunan langsung dari Raja pertama bangsa Porkah, Raja Zvesda.
Raja Zvesda adalah legenda yang masih hidup dalam ingatan kolektif mereka. Manusia Porkah pertama yang lahir tanpa ayah. Terlahir dengan kekuatan super dan kesaktian di luar nalar, kecerdasan yang melampaui zamannya, dan kepribadian yang nyaris sempurna. Di bawah kepemimpinannya, Porkah melesat jauh meninggalkan masa lalu. Dalam tujuh ratus tahun, planet yang dulunya setara dengan peradaban Mesopotamia berubah menjadi dunia modern, bahkan melampaui tahun dua ribu dua puluh lima di bumi.
Namun semua itu bergantung pada satu hal. DNA para Raja Terdahulu.
Ketika Raja Englot, Raja Terdahulu terakhir wafat setelah membunuh putranya sendiri, Pangeran Engkour, garis keturunan itu pun terputus. Sejak saat itu, teknologi Porkah tidak benar-benar mati, tapi kehilangan arah. Seperti mesin canggih tanpa sumber energi. Masih berfungsi, namun tak lagi berkembang.
Bangsa Porkah terpaksa hidup tanpa jembatan antara mereka dan Gruzva. Nama yang mereka berikan pada Tuhan mereka. Selama berabad-abad, Raja Terdahulu menjadi penghubung itu. Menerima bimbingan lewat mimpi, lewat tanda-tanda alam, agar Porkah tetap hidup damai. Hingga satu waktu, planet mereka menghilang dari peta galaksi Bima Sakti.
Sejak itu, mimpi-mimpi berhenti. Tanda-tanda menghilang. Koneksi itu meredup, lalu benar-benar putus ketika Raja Englot dan Pangeran Engkour wafat. Yang tersisa hanyalah sejarah dan keyakinan yang tak lagi punya suara.
“Jadi,” Cakra akhirnya bersuara pelan, “kalian punya Tuhan?”
Mynhemeni mengangguk cepat, seakan pertanyaan itu sudah ia tunggu.
“Kami menyebut-Nya Gruzva.” Cakra hendak bertanya lagi, tetapi Mynhemeni segera menyela, matanya menajam lembut, seolah sudah tahu arah pikirannya dan belum siap membiarkannya melangkah lebih jauh.
“Cara ibadah kami sederhana,” kata Mynhemeni pelan. Suaranya mengalir tenang, seperti arus laut yang tak terlihat.
“Kami hanya harus mengikuti seluruh aturan bangsa Porkah yang ditetapkan oleh Gruzva melalui para Raja. Tidak ada ritual. Tidak ada penyembahan. Tidak ada pujian.” Ia tersenyum tipis.
“Kami tidak diajarkan hal-hal itu.” Cakra memperhatikan caranya berbicara. Tidak ada kekosongan di sana, justru keyakinan yang matang.
“Kami juga tidak mengenal surga atau neraka,” lanjut Mynhemeni. “Kami percaya, setiap bangsa Porkah yang berpulang akan langsung bersanding abadi bersama Gruzva.” Suaranya sedikit melunak.
“Termasuk mendiang suamiku.” Cakra terdiam. Dadanya terasa penuh oleh sesuatu yang sulit ia beri nama. “Aku benar-benar… kehabisan kata,” ujarnya akhirnya.
“Aku kira bangsa kalian tidak mengenal Tuhan. Hidup kalian terlalu maju, terlalu sempurna dibanding kami. Yang secara logika, kalian tidak butuh Tuhan...”
Mynhemeni menggeleng pelan.
“Justru sebaliknya. Teknologi kami lahir dari pengetahuan yang diturunkan Gruzva. Semakin jauh kami melangkah, semakin kami yakin bahwa Dialah pencipta kami.” Matanya menatap lurus ke depan.
“Kami bisa menciptakan tubuh, membangun dunia, bahkan menantang batas alam. Tapi nyawa tetap di luar jangkauan kami. Apa pun yang kami lakukan, Gruzva yang memegang wewenang atas kehidupan.”
Kalimat itu meresap dalam benak Cakra. Ia menyesapnya perlahan, seperti minuman cokelat hangatnya yang dibiarkan mendingin agar rasanya benar-benar terasa. Ia mengangguk kecil. Ia pun selalu percaya, ada hukum lain yang bekerja di balik semesta. Sesuatu yang tidak mungkin muncul begitu saja tanpa pencipta.
Keheningan kembali turun. Mesin jet berdengung lembut, bercampur tekanan laut yang konstan. Di luar, kawanan paus melintas anggun, tubuh-tubuh raksasa itu bergerak pelan seolah waktu berjalan lebih lambat bagi mereka. Mata Cakra mengikuti sesaat, lalu kembali pada Mynhemeni. Tatapannya penuh tanda tanya.
“Apa?” Mynhemeni menoleh, menahan senyum. “Masih penasaran soal apa lagi?”
“Masih soal suamimu,” ucap Cakra hati-hati.
“Boleh?” Mynhemeni mengangguk lagi, gerakannya kecil namun tegas, seperti ombak yang menyentuh karang tanpa suara.
“Kalau boleh tahu,” lanjut Cakra, suaranya menurun, “dia meninggal… dalam keadaan seperti apa?” Nama itu muncul lagi di benak Mynhemeni.
Chuvohus.
Nama yang belum sempat mengisi kehidupan nyata Mynhemeni. Nama yang hanya tertera sebagai mendiang suaminya di arsip kerajaan.
Seketika ingatan lama menghantam, terlalu jelas untuk diabaikan. Sanvarnya langsung bekerja, menenangkan pusat-pusat emosi yang bergejolak, meredam lonjakan panik sebelum tubuhnya sempat bereaksi.
Ia menarik napas, satu detik. Dua. Lalu berbicara. “Dia meninggal saat uji potensi militer dasar,” katanya akhirnya.
“Saat itu dia sedang mengaktifkan perisai saat lawannya melancarkan serangan Maroz.” Bibirnya melengkung samar, getir.
“Dan lucunya, aku satu angkatan dengannya. Walaupun bukan satu kelas, tapi aku melihat semuanya. Ketika dia...” Mynhemeni menahan napas. Dadanya terasa menyempit. Ia berkedip berkali-kali, berusaha mengusir panas yang tiba-tiba menggenang di matanya.
“Situasinya kacau,” lanjutnya.
“Sanvarnya mati begitu saja. Tidak ada aktivitas otak. Tidak ada detak jantung.” Ia mengepalkan jari, lalu melepaskannya.
“Dia tergeletak di depan kami. Hidup, lalu tidak. Begitu cepat.” Suaranya sedikit bergetar.
“Kami yang masih anak-anak... Bingung... Takut... Ada yang berteriak. Ada yang menangis.” Ia menoleh ke arah jendela jet, ke laut biru yang terbentang sunyi, seolah mencari jarak dari kenangan itu.
“Saat itu aku belum tahu dia jodohku,” katanya pelan.
“Beberapa hari setelahnya, aku dan teman-teman sempat membicarakannya diam-diam. Kami sedih, membayangkan suatu hari nanti akan ada seseorang yang hancur ketika mengetahui jodohnya telah tiada.” Senyum kecil muncul, pahit dan rapuh.
“Dan ternyata, orang itu aku.” Ia terkekeh singkat, tawa yang lebih mirip sisa napas. Cakra hanya mengatupkan bibir. Tak tahu harus bereaksi seperti apa. Hanya sejuta pertanyaan yang semakin menyerang benaknya.
“Terus,” katanya lirih, “kamu nggak menikah lagi?” Ia ragu sejenak.
“Itu sudah lama banget, kan? Tiga puluh lima tahun lalu?”
“Berkat Ravin, pernikahan dan kelahiran di Porkah diatur dengan sangat teratur,” ucap Mynhemeni. Nada suaranya datar, seolah sedang membacakan hukum alam yang tak pernah ia ragukan.
Ia tidak melanjutkan detail yang lebih dalam. Tentang bagaimana setiap kelahiran sebenarnya telah direkayasa sejak jauh hari. Tentang bagaimana bayi-bayi Porkah tidak lahir acak, melainkan serentak, menunggu giliran yang telah ditentukan. Tentang bagaimana dua orang tua hanya boleh memiliki anak setelah ikatan Ravin mereka dilantik oleh Raja, lengkap dengan jadwal yang sudah ditetapkan. Anak pertama kapan dibuahi, kapan dilahirkan. Anak kedua menyusul dengan ketepatan yang sama. Setelah itu, berhenti. Dua anak. Tidak lebih.
Mynhemeni menarik napas, lalu memiringkan kepalanya sedikit. Aliran minuman hangat kembali meluncur ke tenggorokannya, meredakan sisa ketegangan yang tak sepenuhnya hilang. Setelah itu, ia melanjutkan, suaranya lebih pelan.
“Seperti yang sudah aku bilang, sejak lahir, setiap bayi memancarkan gelombang Ravin. Gelombang itu mencari kecocokan dengan bayi lain. Begitu bertemu, ikatan itu terkunci.”
Ia menatap Cakra. “Selamanya.”
Cakra menahan diri untuk tidak bereaksi terlalu cepat.
“Hingga usia kami dua puluh enam tahun,” lanjut Mynhemeni.
“Ravin dilepaskan kembali. Bersamaan dengan seluruh data jodoh kami. Termasuk hormon cinta dan reproduksi.” Ia berhenti sejenak.
“Kalau ternyata jodoh itu sudah meninggal, Ravin ikut berhenti berfungsi. Dan bersamaan dengan itu, semua hasrat yang berkaitan dengan cinta dan reproduksi juga mati.” Ruangan terasa lebih sunyi. Dengung mesin dan tekanan laut seolah mendekat, mengisi celah yang ditinggalkan kata-kata Mynhemeni.
“Jadi,” gumam Cakra pelan, “secara nggak langsung, kalian dipaksa menjanda dan menduda selamanya.”
Mynhemeni mengangguk kecil. Tidak membantah. Tidak membela.
Dada Cakra terasa mengencang.
“Kenapa?” tanyanya akhirnya.
“Kenapa Ravin nggak ngasih kesempatan kedua? Kenapa para janda dan duda nggak dibiarkan bersama?” Pertanyaan itu meluncur jujur, nyaris terluka, menggantung di antara mereka bersama sunyi laut yang tak pernah benar-benar diam.
Other Stories
Buku Mewarnai
ini adalah buku mewarnai srbagai contoh upload buku ...
Melodi Nada
Dua gadis kakak beradik dari sebuah desa yang memiliki mimpi tampil dipanggung impian. Mer ...
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...
Dua Tanda Baca
Di sebuah persimpangan kota yang ramai, Rafi bertemu Alyaperempuan yang selalu tersenyum l ...
Balada Cinta Kamilah
Sudah sebulan Kamaliah mengurung diri setelah membanting Athmar, pria yang ia cintai. Hidu ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...