Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia

Reads
9.8K
Votes
6.9K
Parts
71
Vote
Report
Negeri bawah laut porkah: cakra di samudra hindia
Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia
Penulis Virdytan

Bab 48 - Di Antara Dua Tugas

“Uru… kamu bisa dengar kakak?” Suara Mynhemeni beresonansi di dalam kepalanya sendiri, lembut namun tergesa, saat Svalin akhirnya tersambung dengan milik Georu. Ada getaran halus di udara, seperti tekanan air yang berubah arah, menandai jalur komunikasi itu terbuka.

“Iya, Kak. Kenapa?” jawab Georu tanpa suara. Kalimat itu hanya bergema di kepalanya dan di kepala Mynhemeni, teredam oleh Svalin.

Saat itu Georu berdiri di tengah arahan berlapis dari kepala timnya. Visual dan data terus bermunculan di sekeliling pandangannya. Namun gestur dan posturnya tetap tenang, nyaris kaku. Ia tak boleh memberi reaksi sekecil apa pun. Satu gerakan salah saja bisa mengundang kecurigaan bahwa ia tengah berkomunikasi diam-diam melalui Svalin, jalur komunikasi sunyi yang tak dapat disadap.

Sejak Rumsun membagi pasukan menjadi dua tim, Georu ditempatkan di unit yang dipimpin petugas tingkat satu dari pasukan keamanan Distrik Nor. Di dalam tim itu ada Olhuioruik, seorang senior yang sejak awal tak pernah menyembunyikan kecurigaannya pada Mynhemeni. Tatapannya yang tajam sesekali mengarah pada Georu, menembus lewat casvet yang melayang di ruang kesadarannya, seolah mencari celah kecil untuk membuktikan bahwa prasangkanya selama ini benar.

“Tolong hubungi Shiva,” ujar Mynhemeni tanpa bertele-tele. Ia menarik napas singkat, lalu melanjutkan, suaranya merendah namun penuh tekanan.

“Minta dia menemui kamu. Setelah itu, serahkan Svalin yang kamu pakai ke dia. Sepertinya kakak butuh bantuannya.” Ada jeda singkat di sisi Georu. Bukan karena ia tak mengerti, melainkan karena ia menangkap sesuatu dalam nada kakaknya. Harapan. Tipis, rapuh, tapi nyata.

Sayup-sayup Mynhemeni menangkap suara yang terasa akrab. Ia membutuhkan beberapa detik untuk mengenalinya. Itu suara teman sekelasnya dulu, kini ia berlaku sebagai ketua tim pasukan Georu yang memburunya. Potongan arahan terdengar jelas dan tegas. Tidak ada pembatasan pergerakan warga. Tidak ada pemblokiran Vorna. Tidak ada penutupan Distrik Nor, baik dari dalam maupun dari luar. Keputusan itu terdengar mutlak, sekaligus melegakan. Untuk pertama kalinya sejak dalam pelarian. Mynhemeni merasakan tubuhnya mengendur, seolah ikatan virtual yang menahannya perlahan terlepas.

“Kamu bisa melakukannya, kan?” tanya Mynhemeni lagi, kali ini lebih pelan, seolah takut harapan itu pecah jika diucapkan terlalu keras. Georu menelan ludah. Di tengah hiruk-pikuk perintah dan kecurigaan yang menggantung di sekelilingnya, suara kakaknya terasa seperti jangkar. Sesuatu yang mengikatnya pada keputusan yang tak bisa ia abaikan.

Dengan sigap Georu menjawab, tanpa ragu.

“Oke, Kak. Aku akan minta Shiva menemuiku setelah rapat strategi pencarian Kak Hemy dan anak itu selesai.” Nada suaranya ikut terangkat, penuh kesiapan. Ia sudah menebak ke mana arah permintaan kakaknya. Jika Mynhemeni sampai melibatkan Saljiva, berarti situasinya jauh lebih genting dari yang terlihat di permukaan.

Koneksi Svalin terputus perlahan, meninggalkan gema tipis di kepalanya. Georu menghela napas singkat, lalu memusatkan kembali perhatiannya pada ruangan tempat ia berdiri. Tugas negara tak memberi ruang untuk penundaan, bahkan untuk keluarga sendiri. Untuk saat ini, ia tetap harus menjalankan perannya. Memburu Cakra dan Mynhemeni.

Ia berada di sebuah ruangan kecil menurut standar Porkah, meski bagi manusia darat tempat itu terasa luas. Sekitar seribu dua ratus meter persegi, dipenuhi hampir empat ratus personel yang berdiri dalam formasi rapi. Dinding transparan berpendar lembut, memperlihatkan bayangan arus laut yang bergerak pelan di luar, seolah mereka tengah berada di aula darat dengan langit yang terus bergoyang.

Kepala tim berdiri di pusat ruangan, membagi wilayah tugas. Georu menerima bagiannya tanpa protes. Ia ditugaskan mewawancarai penduduk di wilayah lima teritori Uikol, salah satu area di distrik Nor yang setara dengan kecamatan. Dekat dengan pusat kota. Wilayah itu terdiri dari enam karang terapung, masing-masing dihuni sekitar lima ratus kepala keluarga.

Di bawah karang terapung itu terbentang area seni dan hiburan bersama, ruang tempat bangsa Porkah bernapas di luar urusan negara dan teknologi. Bagi mereka, seni dan hiburan hadir dalam dua wujud. Yang pertama berada di dunia virtual Casvet. Di sana, mereka bisa menari, bermusik, mencipta, atau sekadar menonton, baik sendirian maupun terhubung dengan bangsa Porkah lain yang sedang mengaktifkan Casvet Virtual Umum. Dunia itu rapi, terukur, dan nyaris sempurna.

Namun tidak semua jiwa betah dikurung oleh cahaya dan data. Karena itu, ada wujud kedua. Seni dan hiburan yang dijalani secara manual, tanpa teknologi yang menyentuh kesadaran. Di ruang-ruang terbuka bawah laut, mereka berkumpul, tertawa, memainkan alat musik sederhana, atau sekadar duduk berhadapan seperti manusia darat di taman kota atau ruang rekreasi. Arus laut mengalir pelan di sekitar mereka, membawa sensasi sejuk yang terasa seperti angin sore di daratan.

Di belahan dunia lain, Mynhemeni menunggu kabar dari Georu dengan pikiran yang berlapis dan tak pernah benar-benar tenang. Ia sempat tergoda untuk langsung menemui Saljiva ketika memastikan tidak ada pemblokiran Vorna, pembatasan gerak warga, atau penutupan Distrik Nor. Keputusan itu masuk akal. Rumsun dan ayahnya jelas belum ingin kepanikan menyebar. Mereka ingin warga tetap berjalan seperti biasa, tanpa kecurigaan, tanpa pertanyaan. Biarlah informasi tentang Cakra tetap terkunci di lingkaran sempit para petugas keamanan distrik Nor.

“Aku sudah menghubungi adikku. Dia sedang rapat dengan seluruh timnya untuk mencari kita,” ujar Mynhemeni, memecah keheningan.

Ia sempat tersenyum kecil saat melihat Cakra duduk kaku di hadapannya, jelas kebingungan harus berbuat apa. Wajah anak itu memantulkan kebosanan yang tidak disembunyikan.

“Untung kita punya mata-mata di antara mereka,” kata Cakra sambil membetulkan posisi duduk.

“Jadi, kita bakal menganalisis kemampuanku di tempat adik iparmu?” Mynhemeni mengangguk singkat.

“Kalau dia mau bekerja sama,” katanya pelan.

“Semoga dia mau. Kalau tidak, entah sampai kapan kita harus terkurung di sini.”

Pandangan Mynhemeni menyapu ruang jet itu. Luas, bersih, dan lengkap. Segalanya tersedia, cukup untuk bertahan berbulan-bulan. Namun kenyamanan itu tidak mengubah apa pun. Bagi Mynhemeni, tempat itu tetap terasa seperti penjara mewah. Terlebih karena ia harus berbagi ruang dengan sumber utama semua kekacauan ini.

Keheningan kembali menggantung, membuat suasana menjadi kikuk. Cakra menunduk, lalu mengernyit.

“Kenapa?” tanya Mynhemeni.

“Aku baru sadar,” jawab Cakra bingung. “Dari tadi aku enggak pakai alas kaki. Tapi aku juga enggak ngerasa injak lantai.”

“Sanvar melapisi seluruh tubuhmu,” jelas Mynhemeni. “Termasuk rambut. Tampilannya kami sesuaikan dengan kondisi saat kami menemukanmu. Kamu bisa mengubah tampilannya kapan saja. Cukup minta pada otakmu.”

Cakra menutup mata, membayangkan sepatu favoritnya yang tertinggal di Jakarta. Ia menunggu. Tidak ada sensasi apa pun. Setelah cukup lama, ia menyerah dan membuka mata. Tatapannya langsung tertuju ke bawah.

Ia terkesiap.

Kakinya kini terbungkus sepatu yang persis seperti yang ia bayangkan. Dior x Air Jordan 1 High berwarna abu-abu pucat, rapi hingga ke pergelangan. Kulitnya halus, nyaris tanpa cacat, dengan motif Dior pada Swoosh yang baru terlihat jika diperhatikan dekat. Sepatu yang tidak berisik soal harga, tetapi jelas bukan milik dunia biasa.

“Kok tiba-tiba aku sudah pakai sepatu ini,” gumam Cakra sambil terkekeh.

“Padahal tadi aku enggak ngerasa apa-apa. Jujur, dari tadi aku merasa enggak pakai baju, tapi juga merasa pakai. Pantesan aku enggak sadar ternyata dari tadi aku nyeker.” Ia mengangkat kakinya bergantian, mengagumi sepatu itu. Mynhemeni ikut tertawa, untuk pertama kalinya tanpa beban penuh di dadanya. Mereka memilih meneruskan obrolan, membiarkan kata-kata mengalir sebagai penahan cemas, sambil menunggu sesuatu yang belum memiliki bentuk maupun kepastian.

Di saat yang sama, jauh dari sana, di pusat jantung Distrik Nor, ketua tim pasukan Georu menyelesaikan pembagian wilayah tugas. Begitu rapat berakhir, Georu langsung melesat keluar. Tubuhnya bergerak cepat, tujuannya jelas. Rekan-rekannya memahami sikap itu, begitu pula kepala timnya. Bagi mereka, Georu hanya ingin menyelamatkan kakaknya dari penyanderaan seorang anak manusia darat yang konon memiliki kekuatan di luar nalar. Mereka yakin, Georu bergerak karena satu hal yang paling masuk akal. Ketakutan bahwa kakaknya akan disakiti.

Namun tidak semua berpikir sesederhana itu.

Olhuioruik, senior berambut biru yang berada satu tim dengannya, menyaksikan kepergian Georu dengan mata menyipit. Sejak awal, ia sudah mencurigai Mynhemeni. Dan kini, gerak Georu yang terlalu tergesa justru menambah ganjalan di dadanya. Ada sesuatu yang terasa janggal. Hubungan antara Georu, Mynhemeni, dan remaja manusia darat itu tidak sesederhana laporan resmi yang mereka terima.

Pikiran itu sempat menggelap, sebelum segera ia tepis. Olhuioruik menarik napas dalam, mengingat pesan Rumsun. Gruzva membenci hati dan pikiran yang dikuasai kecurigaan dan kegelapan. Hukuman bagi mereka yang membiarkannya tumbuh bukanlah sesuatu yang bisa diabaikan. Ia menggeleng pelan, seolah membuang prasangka dari kepalanya.

Pandangan Olhuioruik kembali tertuju pada Georu yang sudah melayang di atas plitan, melesat keluar ruangan dengan tenaga penuh. Sosok itu mengecil di kejauhan, meninggalkan riak air dan tanda tanya yang masih menggantung di benaknya.

Georu melayang di atas plitan dengan kekuatan penuh, menembus arus dan keluar dari ruangan itu tanpa menoleh lagi. Ia sengaja membiarkan rekan-rekannya berasumsi bahwa ia langsung menuju wilayah tugas, mewawancarai warga satu per satu demi menemukan Mynhemeni secepat mungkin. Tidak seorang pun tahu bahwa arah geraknya justru berlawanan. Bukan ke wilayah lima teritori Uikol, melainkan ke rumahnya sendiri.

Ia harus segera menghubungi Saljiva. Bukan lewat jalur resmi, bukan pula di fasilitas pemerintah. Rumahnya adalah satu-satunya tempat yang cukup sunyi dan aman untuk melakukan itu. Georu tidak tinggal serumah dengan Mynhemeni maupun orang tua mereka. Ia sudah membangun rumah tangga sendiri, menjalani pernikahan yang ditetapkan Ravin enam tahun lalu. Tahun-tahun yang baginya terasa singkat, nyaris berlalu tanpa sempat ia hitung.

Istrinya, Pugune, ikut menetap di Nor meski bukan berasal dari distrik itu. Dalam adat bangsa Porkah, tak ada aturan siapa harus mengikuti siapa jika pasangan berasal dari distrik berbeda. Semua ditentukan oleh profesi. Dan ketika salah satunya adalah bagian dari pasukan militer, keputusan menjadi mutlak. Tempat pengabdian Georu adalah pusat hidup mereka.

Pugune sendiri terdaftar sebagai warga Janrugkou setelah memilih jalan sebagai guru. Namun itu tidak berarti ia terikat penuh pada distrik tersebut. Empat jam sehari sudah cukup baginya untuk mengajar, meski jaraknya hampir sepuluh ribu kilometer dari Nor. Jarak yang bagi bangsa Porkah hanyalah hitungan menit. Dengan Ravod, sistem kendaraan bangsa Porkah. Ia hanya butuh membawa Ravod pribadinya menuju Vorna, gerbang antar distrik, atau sesekali menggunakan kuota teleportasi tahunan. Pugune bisa berpindah dari kamar tidurnya langsung ke ruang kelas.

Georu sering tersenyum kecil setiap mengingat istrinya. Pugune memiliki fisik yang mengingatkannya pada bangsa Melanesian di daratan. Kulit cokelat hangat, rambut keriting kecil berwarna cokelat kehitaman, bibir tebal, dan hidung tinggi yang tegas. Sosok yang selalu membuat rumah terasa hidup.

Akan tetapi, hari ini... rumah itu justru sunyi.

Satu menit sebelum Mynhemeni menghubunginya, Pugune sempat mengabarkan lewat Casvet bahwa ia berangkat bekerja. Artinya, setidaknya selama tiga jam ke depan, rumah itu benar-benar kosong. Tidak ada saksi. Tidak ada gangguan. Dan bagi Georu, itu adalah celah waktu yang ia butuhkan sebelum semuanya berubah menjadi jauh lebih berbahaya.

Georu bergegas menuju area parkir lantai seratus enam puluh tiga gedung pusat pemerintahan, tempat ia dan ayahnya biasa bertugas. Gerakannya cepat dan nyaris tanpa ragu, melayang rendah menembus arus, seolah pikirannya sudah lebih dulu tiba di tujuan. Di antara deretan kendaraan, ravod miliknya langsung merespons kehadirannya.

Kendaraan itu kecil dan ramping, jelas dirancang hanya untuk satu penumpang. Bentuknya menyerupai perpaduan udang dan kuda laut, tubuhnya melengkung elegan dengan lapisan logam berteknologi tinggi yang berkilau lembut. Di sepanjang leher kendaraan, cahaya warna-warni menyala dari tiap sambungan baja, berdenyut pelan seperti napas makhluk hidup.

Georu hanya perlu mengedipkan mata.

Seketika, bagian tengah ravod bergetar halus. Sebuah bola cahaya kuning muncul, melesat ke arahnya, lalu menarik tubuh Georu masuk ke dalam kabin dengan gerakan yang terasa lebih seperti pelukan daripada tarikan mesin. Begitu ia berada di dalam, dunia di sekelilingnya melesat mundur.

Dalam waktu kurang dari lima menit, ravod itu sudah melaju menuju rumahnya. Jarak lebih dari dua puluh kilometer terasa tak berarti, hanya sekilas sensasi tekanan air dan kilau cahaya yang bergeser cepat. Georu membiarkan tubuhnya menyatu dengan kursi, pikirannya tetap waspada. Waktu sedang berpihak padanya, tapi ia tahu, keberuntungan semacam itu tak pernah bertahan lama.

Tempat tinggal Georu berada di ujung barat distrik Nor, tak jauh dari gerbang Vorna sisi barat. Jaraknya sekitar dua puluh tiga kilometer dari gedung pemerintahan, cukup jauh untuk disebut pinggiran kota, cukup dekat untuk tetap terasa berada dalam denyut Nor. Di sanalah kawasan hunian mulai berubah lebih sunyi, arus lalu lintas menipis, dan cahaya kota tak lagi terlalu rapat.

Gedung tempat Georu tinggal melayang di tengah sebuah ngarai luas, bertumpu pada terumbu karang raksasa yang menggantung tenang di kolom air. Di kawasan itu berdiri lima belas gedung perumahan dengan ketinggian beragam, tersusun rapi seolah ditanam, bukan dibangun. Unit milik Georu menjulang sekitar tujuh ratus tiga puluh meter, ramping dan tegak.

Di sisi-sisi ngarai, struktur penangkaran hewan menyatu langsung dengan dinding batu. Dari kejauhan, tampilannya menyerupai kebun binatang futuristik bertingkat, lapis demi lapis habitat transparan yang menyala lembut. Dinding ngarai itu sendiri membentang nyaris mustahil, menjulang hingga ribuan meter, dengan setiap tingkat memiliki luas yang terasa seperti lapangan kota. Bangunan-bangunan lain melayang teratur di sekitarnya, seolah mengikuti harmoni yang hanya dipahami arsitek Porkah.

Gedung tempat tinggal Georu tampak paling mencolok. Bentuknya ramping di bawah dan melebar di puncak, seperti pensil yang berdiri di ujung runcingnya, atau monumen terbalik yang menantang arah. Dindingnya dilapisi kaca emas berukuran besar, masing-masing lembar selebar enam meter dan setinggi dua belas meter, memantulkan cahaya laut menjadi kilau hangat. Di beberapa jendela, terumbu karang kecil melayang bebas, seolah tumbuh dari dalam bangunan itu sendiri.

Georu mengarahkan ravodnya ke atas dengan sudut tajam, tubuh kendaraan itu menukik seperti roket yang menembus langit. Ia berhenti di ketinggian seratus tiga puluh meter, lalu menurunkan kendaraannya di atas terumbu karang kecil yang berfungsi sebagai landasan. Begitu kakinya menyentuh permukaan karang, sebuah plitan berbentuk persegi panjang muncul di hadapannya. Dinding kaca di depannya melunak, meleleh perlahan, lalu terbuka membentuk jalur masuk.

Ia melangkah ke dalam.

Begitu berada di ruangannya sendiri, Georu tak membuang waktu. Ia mengaktifkan kembali Svalin dan menyentuh koneksi yang sudah akrab di pikirannya.

“Kak… aku sudah di tempat yang aman,” ucapnya pelan, nadanya tertahan namun tegas.

“Aku hubungi Shiva sekarang, atau ada langkah lain dulu?”

Other Stories
Viral

Nayla, mantan juara 1 yang terkena PHK, terpaksa berjualan donat demi bertahan. Saat video ...

Makna Dibalik Kalimat (never Ending)

Rangkaian huruf yang menjadi kata. Rangkaian kata yang menjadi kalimat. Kalimat yang mungk ...

Cahaya Dalam Ketidakmungkinan

Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...

Langit Ungu

Cerita tentang Oc dari Penulis. karakter utama - Moon Light "Hidup cuma sekali? Lalu be ...

The Last Escape

The Last Escape, Berawal dari rencana liburan oleh 15 sekawan dari satu universitas, untuk ...

Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Download Titik & Koma