Bab 40 - Diskusi Terbuka
“Awalnya saya ingin membiarkannya,” suara Letnan Rihum terdengar jelas dari belakang Rumsun. Ia melangkah setengah langkah ke kiri agar seluruh pasukan dapat melihat wajahnya.
“Tapi kalian sudah merasakannya sendiri. Anak itu bernapas di dalam laut. Tanpa alat. Tanpa jeda.” Ia menarik napas, seolah masih meraba ulang kejadian itu di kepalanya. Di depannya, beberapa pasukan saling berpandangan. Ia pun kemudian melanjutkan.
“Tubuhnya menabrak karang dengan kecepatan tinggi, tapi tidak hancur. Luka sobek sebesar itu,” Rihum mengangkat tangannya, memberi ukuran, “butuh setidaknya lima belas menit bagi kita untuk menyembuhkannya secara penuh.” Nada suaranya menurun, berubah lebih pelan.
“Tapi tidak bagi dia.”
Hening menekan ruang balai pertemuan. Arus laut di balik dinding transparan terus bergerak, kontras dengan ketegangan yang membeku di dalam ruangan.
“Kalian melihatnya sendiri,” lanjut Rihum.
“Tidak sampai sepuluh detik. Tubuhnya kembali utuh. Seolah kerusakan itu tidak pernah ada.”
Ia menoleh singkat ke arah Rumsun, lalu kembali menatap barisan pasukan.
“Saat itu juga saya melapor ke Komandan Oprang. Laporan itu langsung diteruskan kepada Ketua Thungsiruv.” Rihum mengepalkan jemarinya, mantap.
“Dan perintahnya jelas. Anak itu harus dibawa ke sini.” Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan.
“Kita harus tahu asal-usulnya. Apa dia manusia... Atau sesuatu yang lain....”
“Tapi bukankah manusia darat bisa saja punya kekuatan seperti itu?” sela salah satu pasukan dari barisan tengah. Nada suaranya ragu, namun dipenuhi rasa ingin tahu.
“Saya sering menonton tayangan mereka. Banyak manusia super di sana.” Beberapa kepala menoleh. Riak kecil kegaduhan muncul, seperti pasir halus yang terusik arus laut.
“Itu cuma film,” sanggah pasukan lain dengan cepat. “Cerita rekaan untuk hiburan.”
“Bisa saja film-film itu diangkat dari kisah nyata. Siapa tahu mereka menyamarkannya.” Balas yang pertama, setengah membela diri.
“Kalau begitu, saat kamu menonton film buatan bangsa kita sendiri, kamu benar-benar percaya itu semua nyata?” Seorang pasukan lain mendengus pelan, lalu mencondongkan tubuhnya.
Ucapan itu menghantam seperti arus dingin. Pasukan tadi terdiam, bibirnya terbuka sedikit, namun tak satu pun kata keluar. Di antara gemuruh laut yang berdenyut di balik dinding aula, keraguan perlahan mengendap, meninggalkan satu pertanyaan yang tak berani mereka ucapkan.
“Cukup!” suara Idurzbi memotong kegaduhan sebelum diskusi berubah menjadi kekacauan. Ia melangkah setengah maju, bahunya tegang.
“Kami sedang menganalisis anak itu untuk menemukan jawabannya. Tapi seperti yang kalian tahu, kita tidak bisa sembarangan menggunakan Salnost.” Tatapannya menyapu ruangan.
“Kita tidak tahu detektor apa yang tertanam di tubuhnya. Kita juga tidak tahu bagaimana sel-selnya bereaksi saat merasa terancam.” Ia berhenti sejenak, memberi ruang agar kata-katanya mengendap. Di balik dinding transparan aula, arus laut bergulir tenang, kontras dengan ketegangan di dalam ruangan.
Setiap bangsa Porkah tumbuh dengan detektor proteksi di dalam sel mereka. Sebuah mekanisme naluriah sekaligus teknologi hidup. Saat seorang Porkah berada di ambang kehancuran dan tubuhnya tak lagi mampu bertahan, detektor itu akan mengirimkan sinyal darurat ke negeri Porkah. Lokasi, kondisi tubuh, hingga jenis ancaman akan terbaca jelas. Dalam hitungan menit, pasukan akan datang, menembus laut seperti badai terarah.
Detektor itu juga akan aktif bila bagian tubuh bangsa Porkah, bahkan hanya sel dalam jumlah tertentu, masuk ke sistem yang bukan buatan bangsa mereka. Bila terdeteksi sedang dianalisis atau dipreteli, sinyal ancaman yang sama akan dilepaskan. Akibatnya selalu seragam. Pasukan Pertahanan Nasional akan menyerbu lokasi tersebut, menyelamatkan pemilik sel, menghancurkan tempatnya, lalu menghapus ingatan siapa pun yang menyaksikan kejadian itu.
Idurzbi menarik napas dalam. “Kami mengasumsikan tubuh anak itu bekerja dengan prinsip serupa.”
Kata-kata itu jatuh bagai paku yang menghantam kepala mereka. Asumsi itu cukup untuk membuat bulu kuduk siapa pun meremang. Jika Cakra bukan manusia darat, jika ia berasal dari bangsa lain yang memiliki sistem proteksi seagresif itu, maka menyentuh selnya berarti mengundang kehancuran.
Dan mereka yakin, bangsa lain tidak akan sebijak Porkah. Tidak akan repot menghapus ingatan atau menyisakan saksi. Mereka hanya akan menghancurkan apa pun yang berani mengutak-atik tubuh mereka.
Termasuk manusia darat.
Bangsa Porkah telah lama memandang manusia darat dengan kewaspadaan dingin. Di mata mereka, manusia darat adalah makhluk yang selalu merasa superior, rakus, dan tak pernah puas. Iri, dengki, rasa tak aman, dan hasrat untuk menang membuat mereka saling menjatuhkan di atas permukaan bumi. Sifat-sifat itu terasa terlalu familier.
Terlalu mirip dengan aura misterius yang dulu menghancurkan planet mereka.
Pikiran tentang kehancuran bumi, tentang laut yang menjadi puing dan langit yang runtuh, membuat ruangan itu terasa lebih dingin. Karena itulah Salnost bukan pilihan utama, meski semua orang tahu kekuatannya. Mesin itu mampu membedah seluruh asal-usul Cakra, hingga ke sumber paling awal, hingga ke nenek moyang pertamanya.
Namun jawaban yang terlalu cepat bisa berujung pada akhir segalanya.
“Lalu apa yang harus kita lakukan, Wakil Ketua?” tanya salah satu pasukan. Suaranya menggema di aula, berbaur dengan dengung halus energi dan arus laut yang mengalir di sekitar mereka.
“Iya, Wakil Ketua, mencari mereka hampir mustahil. Komandan Mynhemeni mengaktifkan mode penyamaran tingkat tinggi.” Sambung yang lain, nada cemasnya tak tersembunyi
Beberapa kepala mengangguk setuju. Mode itu bukan sekadar mengaburkan jejak, tapi menghapus keberadaan dari sebagian besar sensor. Seperti bayangan yang memilih kapan ingin terlihat.
Lalu sebuah suara memecah barisan. “Apa mungkin Komandan Mynhemeni bekerja sama dengan anak itu?”
Hening jatuh seketika. Arus laut di luar terasa lebih berat. Seluruh pandangan beralih pada sosok yang berdiri canggung di antara barisan. Olhuioruik. Pasukan tingkat satu yang pernah merasakan sendiri kepalan tangan Cakra. Ujung rambut birunya kembali masuk ke mulut saat ia menelan ludah, seolah kalimat barusan meluncur lebih cepat dari pikirannya.
Beberapa pasukan saling berpandangan. Ada yang terkejut, ada yang tersinggung, ada pula yang refleks menegakkan bahu, bersiap jika tuduhan itu dianggap melampaui batas. Menuduh seorang komandan, terlebih Mynhemeni, bukan perkara kecil.
Olhuioruik sendiri tampak menyesal setengah mati. Tangannya mengepal, matanya menunduk sesaat, namun rasa penasaran yang ia pendam sejak gudang penyimpanan membuatnya nekat bersuara. Di kepalanya, bayangan wajah Cakra dan sosok Mynhemeni tumpang tindih, sama-sama sulit ditebak.
Keheningan itu menekan, seperti berdiri di dasar laut dengan tekanan air yang menunggu satu retakan kecil untuk menghancurkan segalanya.
“Jangan konyol!” suara Rumsun membelah keheningan aula seperti arus kuat yang menghantam karang.
“Tidak mungkin seorang komandan pemerintahan Kerajaan Porkah melakukan sesuatu yang merugikan bangsanya sendiri. Ulangi pikiran seperti itu sekali lagi, dan aku sendiri yang akan menjatuhkan hukuman.” Nada marahnya menggema melalui sistem saraf seluruh ruangan.
Meski ia menyimpan banyak ketidaksukaan pada keluarga Thungsiruv, Rumsun tak pernah sekalipun meragukan integritas mereka. Di sudut hatinya yang paling jujur, ia tahu keluarga itu dikenal setia dan nyaris tak bercela dalam menjalankan tugas negara.
“Ucapanmu barusan adalah fitnah,” lanjutnya, lebih pelan namun jauh lebih mengancam. Rumsun melangkah setengah tapak ke depan, menatap Olhuioruik tanpa berkedip.
“Dan kamu tahu apa hukuman bagi mereka yang menuduh tanpa bukti yang nyata.”
Sorot matanya membesar, berkilat dingin, membuat tekanan di udara terasa semakin berat. Seolah-olah laut di luar dinding transparan ikut menahan napas.
“Ampun, Wakil Ketua.” Olhuioruik langsung berlutut. Lututnya menghantam lantai dengan suara nyaring.
“Saya tidak berniat memfitnah. Saya hanya… hanya mengucapkan apa yang terlintas di pikiran saya.”
Kepalanya tertunduk dalam-dalam. Rambut birunya jatuh menutupi wajah, sementara seluruh aula kembali senyap. Di antara pasukan, tak ada yang berani bergerak. Mereka semua paham, satu kalimat saja bisa menjadi garis tipis antara rasa ingin tahu dan hukuman yang tak bisa ditarik kembali.
“Baiklah kalau begitu,” lanjut Rumsun, suaranya kembali tegas namun kini lebih terkontrol.
“Tapi ingat ini baik-baik. Jika sekali lagi terlintas niat untuk memfitnah, saya tidak akan ragu menjatuhkan hukuman. Dan itu berlaku untuk kalian semua.” Pandangannya menyapu aula.
“Jangan biarkan pikiran gelap bersarang di hati kalian.” Ironisnya, Rumsun sendiri tak menyadari bahwa kegelapan itu telah lama berdiam di dalam dirinya. Dengki dan iri pada Thungsiruv berdenyut pelan, seperti arus bawah laut yang tak terlihat namun terus menggerus.
“Gruzva membenci hati dan pikiran yang diselimuti kegelapan,” ucapnya kemudian. Nada suaranya melunak, hampir terdengar penuh kasih. Nama Gruzva melayang di udara, entitas agung yang selama berabad-abad dipercaya menuntun para Raja Porkah menuju terang, kebajikan, dan kesucian. Beberapa pasukan menunduk, sebagian lain menempelkan telapak tangan ke dada sebagai bentuk hormat.
Rumsun berbalik dan kembali ke posisinya di atas panggung. “Baik. Kita lanjutkan pertemuan ini.”
Ia menarik napas dalam. Kemudian menoleh ke belakangnya.
"Silakan kalian bergabung dengan mereka." Seketika, plitan di bawah kaki mereka membawa seluruh pasukan melayang. Hingga membentuk lima barisan dengan kompisisi beragam di hadapan Rumsun. Setiap barisan terdapat satu orang sebagai komandan mereka, diikuti oleh pasukan berpangkat tingkat tinggi hingga rendah. Georu lagi-lagi harus berada di barisan paling belakang.
“Alasan saya mengumpulkan kalian sederhana. Kita harus menemukan anak itu.” Suaranya kembali mengeras.
“Kalian akan dibagi menjadi dua tim. Setiap tim terdiri dari pasukan pertahanan nasional, pasukan keamanan distrik, divisi analis distrik, pasukan keamanan manusia darat, dan pasukan keamanan gedung pemerintahan. Tim pertama akan dipimpin oleh Komandan Oprang. Mereka akan bergerak di daratan. Mulai dari titik awal tempat anak itu hanyut.”
Ia mengangkat satu jari.
“Tim kedua, akan dipimpin oleh Komandan Atuyju. Mereka akan tetap berada di Nor. Tugas mereka ialah temui dan wawancarai seluruh rakyat Nor. Tanyakan satu hal penting. Apakah mereka melihat sosok yang ingin mereka hindari pada saat kejadian penculikan Komandan Mynhemeni.” Ia mengepalkan tangannya. Satu-satunya cara yang bisa mereka lakukan adalah dengan cara manual. Begitu mode penyamaran tingkat tinggi diaktifkan oleh Sanvar tingkat pemimpin, tidak ada satu pun teknologi yang mampu melacaknya.
“Kita harus melacak ke mana anak itu membawa Komandan Mynhemeni. Setiap pemimpin tim pastikan laporan kalian jelas, rinci, dan bisa dicocokkan.” katanya tegas.
Rumsun menatap mereka satu per satu. “Cocokkan semua data. Kita pasti bisa menemukan mereka. Pantau seluruh tayangan di Distrik Nor. Cari kelompok lebih dari tiga orang yang melewati jalur-jalur yang mungkin dilalui jet mereka. Kalian tahu mereka menggunakan jet anti sadap.”
Ia menarik napas.
“Wawancarai juga seluruh kendaraan yang melintas di Nor pada jam penculikan. Tidak ada yang boleh terlewat. Paham?”
“Paham, Wakil Ketua!” jawab seluruh pasukan serempak. Suara mereka menggema, bergetar seperti gelombang yang memukul karang.
Rumsun yakin dengan langkah ini. Baginya, inilah satu-satunya jalan. Meski nyaris mustahil mencari seseorang yang tak bisa dilihat mata maupun alat pemantau yang tertanam di setiap sudut negeri.
Kasus ini belum pernah terjadi. Bangsa Porkah tidak terbiasa mencari orang hilang. Rakyat mereka nyaris tak pernah menghilang. Kalaupun terjadi, detektor di tubuh setiap warga akan segera menunjukkan lokasi dan aktivitas mereka.
Namun Mynhemeni berbeda.
Sanvar yang ia miliki telah naik ke tingkat pemimpin pemerintahan. Tingkat yang hanya diberikan kepada komandan divisi, wakil ketua, ketua distrik, para menteri, hingga Raja dan Ratu. Dengan Sanvar itu, seluruh detektor dan sadap dapat dinonaktifkan. Radar bisa dibungkam. Jejak bisa dihapus.
Lebih dari itu, teknologi penyamaran tingkat tinggi menyelimuti mereka. Membuat Mynhemeni dan anak itu lenyap, baik dari pandangan makhluk hidup maupun alat pemantau paling canggih di dunia.
Artinya, hanya ada satu cara.
Mewawancarai semua orang. Mencocokkan setiap kesaksian. Menyusun ulang rute langkah demi langkah, sampai potongan-potongan itu membentuk arah yang masuk akal.
“Menurut keterangan Ketua Thungsiruv, mereka menunggu jet anti sadap di area parkir lima. Itu titik terakhir yang berhasil kita ketahui.” ujar Rumsun akhirnya, suaranya lebih rendah namun pasti. Ia kemudian menatap tajam ke depan.
“Pastikan kalian menemukan anak itu. Hidup-hidup. Sebelum saya menyerahkan kalian kepada masing-masing komandan untuk pembentukan tim,” lanjut Rumsun, “apakah ada yang ingin ditanyakan?”
Sejenak ruangan sunyi. Lalu sebuah tangan terangkat dari barisan tengah.
“Ya, Bzarrmu,” kata Rumsun.
“Jika kami berhasil menemukan mereka, dan anak itu melukai Komandan Mynhemeni… apa yang harus kami lakukan?” Tanyanya hati-hati
Beberapa pasang mata langsung beralih ke Rumsun. Pertanyaan itu menggantung di udara, berat seperti tekanan laut yang menekan dinding kota. Rumsun tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras, lalu ia berkata dengan suara rendah namun tegas.
“Sebisa mungkin, kalian juga harus menjaga Komandan Mynhemeni. Apa pun yang terjadi, keselamatan komandan tetap prioritas. Jangan biarkan emosi kalian mengambil alih.”
Kata-katanya jatuh satu per satu, jelas, dan tak memberi ruang untuk tafsir lain. Perburuan ini bukan hanya tentang menemukan anak itu, melainkan juga tentang menjaga agar tidak ada yang hilang lebih jauh dari yang sudah terjadi.
“Kalau anak itu mengancam akan membunuh Komandan Mynhemeni, bagaimana Wakil Ketua?”
Pertanyaan itu memecah ketegangan. Beberapa pasukan saling melirik, sirip bahu mereka menegang. Rumsun mendengus pendek, seolah ombak kecil menghantam batu karang.
“Kalau begitu, seharusnya anak itu sudah membunuhnya sejak tadi. Jangan biarkan ancaman mempengaruhi penilaian kalian.”
“Tapi bagaimana kalau dia benar-benar melakukannya?” suara lain menyusul, lebih ragu.
“Berarti, bertambah satu nama dalam daftar pahlawan terhormat kerajaan.” jawabnya dingin tanpa berkedip. Ruangan itu terasa makin sempit. Tekanan laut seolah merayap masuk ke dada mereka.
“Bagaimana jika Komandan Mynhemeni tidak sengaja mengaktifkan peledakan diri saat ia terbunuh?” tanya pasukan lain, suaranya nyaris bergetar.
Rumsun menoleh tajam.
“Pasang perisai di sekelilingnya. Pastikan ledakan tidak menyentuh kalian.” Ia menghela napas keras.
“Perlu saya jawab pertanyaan sesederhana itu?”
Beberapa kepala menunduk. Namun pertanyaan belum berhenti.
“Kalau Komandan Mynhemeni meminta kami berhenti karena nyawanya terancam?”
“Jangan patuhi,” potong Rumsun cepat.
“Misi kalian jelas. Bawa anak itu hidup-hidup.” Ia melangkah satu langkah ke depan.
“Gunakan persenjataan yang tidak melukainya. Kalian sudah melihat sendiri, Maroz dan bius medis tidak bekerja. Tubuhnya menolak benda asing yang membahayakan. Luka-lukanya pulih terlalu cepat. Satu-satunya pilihan kita adalah menjatuhkannya secara fisik tanpa melukainya. Buat dia pingsan.” Ia menyapu ruangan dengan tatapan keras.
Keheningan kembali jatuh, berat dan menyesakkan. Lalu sebuah suara muncul dari barisan belakang.
“Bagaimana jika saat kami menyerang, Komandan Mynhemeni justru menjadi tamengnya, Wakil Ketua?” Olhuioruik bertanya.
“Jika tidak ada pilihan lain, kalian boleh membunuh Komandan Mynhemeni.” Waktu seolah berhenti. Georu merasakan darahnya surut ketika Rumsun menjawab tanpa ragu.
Beberapa pasukan terdiam, napas mereka tertahan.
“Dan itulah,” lanjut Rumsun, “pembunuhan pertama kepada warga di Kerajaan Porkah.” Bibirnya melengkung tipis.
“Sekali lagi, daftar pahlawan terhormat untuk kerajaan. Atas nama Komandan Mynhemeni.”
Georu pucat. Kata-kata itu bergema di kepalanya, lebih keras dari gemuruh laut di luar dinding gedung itu.
“Tapi kalian sudah merasakannya sendiri. Anak itu bernapas di dalam laut. Tanpa alat. Tanpa jeda.” Ia menarik napas, seolah masih meraba ulang kejadian itu di kepalanya. Di depannya, beberapa pasukan saling berpandangan. Ia pun kemudian melanjutkan.
“Tubuhnya menabrak karang dengan kecepatan tinggi, tapi tidak hancur. Luka sobek sebesar itu,” Rihum mengangkat tangannya, memberi ukuran, “butuh setidaknya lima belas menit bagi kita untuk menyembuhkannya secara penuh.” Nada suaranya menurun, berubah lebih pelan.
“Tapi tidak bagi dia.”
Hening menekan ruang balai pertemuan. Arus laut di balik dinding transparan terus bergerak, kontras dengan ketegangan yang membeku di dalam ruangan.
“Kalian melihatnya sendiri,” lanjut Rihum.
“Tidak sampai sepuluh detik. Tubuhnya kembali utuh. Seolah kerusakan itu tidak pernah ada.”
Ia menoleh singkat ke arah Rumsun, lalu kembali menatap barisan pasukan.
“Saat itu juga saya melapor ke Komandan Oprang. Laporan itu langsung diteruskan kepada Ketua Thungsiruv.” Rihum mengepalkan jemarinya, mantap.
“Dan perintahnya jelas. Anak itu harus dibawa ke sini.” Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan.
“Kita harus tahu asal-usulnya. Apa dia manusia... Atau sesuatu yang lain....”
“Tapi bukankah manusia darat bisa saja punya kekuatan seperti itu?” sela salah satu pasukan dari barisan tengah. Nada suaranya ragu, namun dipenuhi rasa ingin tahu.
“Saya sering menonton tayangan mereka. Banyak manusia super di sana.” Beberapa kepala menoleh. Riak kecil kegaduhan muncul, seperti pasir halus yang terusik arus laut.
“Itu cuma film,” sanggah pasukan lain dengan cepat. “Cerita rekaan untuk hiburan.”
“Bisa saja film-film itu diangkat dari kisah nyata. Siapa tahu mereka menyamarkannya.” Balas yang pertama, setengah membela diri.
“Kalau begitu, saat kamu menonton film buatan bangsa kita sendiri, kamu benar-benar percaya itu semua nyata?” Seorang pasukan lain mendengus pelan, lalu mencondongkan tubuhnya.
Ucapan itu menghantam seperti arus dingin. Pasukan tadi terdiam, bibirnya terbuka sedikit, namun tak satu pun kata keluar. Di antara gemuruh laut yang berdenyut di balik dinding aula, keraguan perlahan mengendap, meninggalkan satu pertanyaan yang tak berani mereka ucapkan.
“Cukup!” suara Idurzbi memotong kegaduhan sebelum diskusi berubah menjadi kekacauan. Ia melangkah setengah maju, bahunya tegang.
“Kami sedang menganalisis anak itu untuk menemukan jawabannya. Tapi seperti yang kalian tahu, kita tidak bisa sembarangan menggunakan Salnost.” Tatapannya menyapu ruangan.
“Kita tidak tahu detektor apa yang tertanam di tubuhnya. Kita juga tidak tahu bagaimana sel-selnya bereaksi saat merasa terancam.” Ia berhenti sejenak, memberi ruang agar kata-katanya mengendap. Di balik dinding transparan aula, arus laut bergulir tenang, kontras dengan ketegangan di dalam ruangan.
Setiap bangsa Porkah tumbuh dengan detektor proteksi di dalam sel mereka. Sebuah mekanisme naluriah sekaligus teknologi hidup. Saat seorang Porkah berada di ambang kehancuran dan tubuhnya tak lagi mampu bertahan, detektor itu akan mengirimkan sinyal darurat ke negeri Porkah. Lokasi, kondisi tubuh, hingga jenis ancaman akan terbaca jelas. Dalam hitungan menit, pasukan akan datang, menembus laut seperti badai terarah.
Detektor itu juga akan aktif bila bagian tubuh bangsa Porkah, bahkan hanya sel dalam jumlah tertentu, masuk ke sistem yang bukan buatan bangsa mereka. Bila terdeteksi sedang dianalisis atau dipreteli, sinyal ancaman yang sama akan dilepaskan. Akibatnya selalu seragam. Pasukan Pertahanan Nasional akan menyerbu lokasi tersebut, menyelamatkan pemilik sel, menghancurkan tempatnya, lalu menghapus ingatan siapa pun yang menyaksikan kejadian itu.
Idurzbi menarik napas dalam. “Kami mengasumsikan tubuh anak itu bekerja dengan prinsip serupa.”
Kata-kata itu jatuh bagai paku yang menghantam kepala mereka. Asumsi itu cukup untuk membuat bulu kuduk siapa pun meremang. Jika Cakra bukan manusia darat, jika ia berasal dari bangsa lain yang memiliki sistem proteksi seagresif itu, maka menyentuh selnya berarti mengundang kehancuran.
Dan mereka yakin, bangsa lain tidak akan sebijak Porkah. Tidak akan repot menghapus ingatan atau menyisakan saksi. Mereka hanya akan menghancurkan apa pun yang berani mengutak-atik tubuh mereka.
Termasuk manusia darat.
Bangsa Porkah telah lama memandang manusia darat dengan kewaspadaan dingin. Di mata mereka, manusia darat adalah makhluk yang selalu merasa superior, rakus, dan tak pernah puas. Iri, dengki, rasa tak aman, dan hasrat untuk menang membuat mereka saling menjatuhkan di atas permukaan bumi. Sifat-sifat itu terasa terlalu familier.
Terlalu mirip dengan aura misterius yang dulu menghancurkan planet mereka.
Pikiran tentang kehancuran bumi, tentang laut yang menjadi puing dan langit yang runtuh, membuat ruangan itu terasa lebih dingin. Karena itulah Salnost bukan pilihan utama, meski semua orang tahu kekuatannya. Mesin itu mampu membedah seluruh asal-usul Cakra, hingga ke sumber paling awal, hingga ke nenek moyang pertamanya.
Namun jawaban yang terlalu cepat bisa berujung pada akhir segalanya.
“Lalu apa yang harus kita lakukan, Wakil Ketua?” tanya salah satu pasukan. Suaranya menggema di aula, berbaur dengan dengung halus energi dan arus laut yang mengalir di sekitar mereka.
“Iya, Wakil Ketua, mencari mereka hampir mustahil. Komandan Mynhemeni mengaktifkan mode penyamaran tingkat tinggi.” Sambung yang lain, nada cemasnya tak tersembunyi
Beberapa kepala mengangguk setuju. Mode itu bukan sekadar mengaburkan jejak, tapi menghapus keberadaan dari sebagian besar sensor. Seperti bayangan yang memilih kapan ingin terlihat.
Lalu sebuah suara memecah barisan. “Apa mungkin Komandan Mynhemeni bekerja sama dengan anak itu?”
Hening jatuh seketika. Arus laut di luar terasa lebih berat. Seluruh pandangan beralih pada sosok yang berdiri canggung di antara barisan. Olhuioruik. Pasukan tingkat satu yang pernah merasakan sendiri kepalan tangan Cakra. Ujung rambut birunya kembali masuk ke mulut saat ia menelan ludah, seolah kalimat barusan meluncur lebih cepat dari pikirannya.
Beberapa pasukan saling berpandangan. Ada yang terkejut, ada yang tersinggung, ada pula yang refleks menegakkan bahu, bersiap jika tuduhan itu dianggap melampaui batas. Menuduh seorang komandan, terlebih Mynhemeni, bukan perkara kecil.
Olhuioruik sendiri tampak menyesal setengah mati. Tangannya mengepal, matanya menunduk sesaat, namun rasa penasaran yang ia pendam sejak gudang penyimpanan membuatnya nekat bersuara. Di kepalanya, bayangan wajah Cakra dan sosok Mynhemeni tumpang tindih, sama-sama sulit ditebak.
Keheningan itu menekan, seperti berdiri di dasar laut dengan tekanan air yang menunggu satu retakan kecil untuk menghancurkan segalanya.
“Jangan konyol!” suara Rumsun membelah keheningan aula seperti arus kuat yang menghantam karang.
“Tidak mungkin seorang komandan pemerintahan Kerajaan Porkah melakukan sesuatu yang merugikan bangsanya sendiri. Ulangi pikiran seperti itu sekali lagi, dan aku sendiri yang akan menjatuhkan hukuman.” Nada marahnya menggema melalui sistem saraf seluruh ruangan.
Meski ia menyimpan banyak ketidaksukaan pada keluarga Thungsiruv, Rumsun tak pernah sekalipun meragukan integritas mereka. Di sudut hatinya yang paling jujur, ia tahu keluarga itu dikenal setia dan nyaris tak bercela dalam menjalankan tugas negara.
“Ucapanmu barusan adalah fitnah,” lanjutnya, lebih pelan namun jauh lebih mengancam. Rumsun melangkah setengah tapak ke depan, menatap Olhuioruik tanpa berkedip.
“Dan kamu tahu apa hukuman bagi mereka yang menuduh tanpa bukti yang nyata.”
Sorot matanya membesar, berkilat dingin, membuat tekanan di udara terasa semakin berat. Seolah-olah laut di luar dinding transparan ikut menahan napas.
“Ampun, Wakil Ketua.” Olhuioruik langsung berlutut. Lututnya menghantam lantai dengan suara nyaring.
“Saya tidak berniat memfitnah. Saya hanya… hanya mengucapkan apa yang terlintas di pikiran saya.”
Kepalanya tertunduk dalam-dalam. Rambut birunya jatuh menutupi wajah, sementara seluruh aula kembali senyap. Di antara pasukan, tak ada yang berani bergerak. Mereka semua paham, satu kalimat saja bisa menjadi garis tipis antara rasa ingin tahu dan hukuman yang tak bisa ditarik kembali.
“Baiklah kalau begitu,” lanjut Rumsun, suaranya kembali tegas namun kini lebih terkontrol.
“Tapi ingat ini baik-baik. Jika sekali lagi terlintas niat untuk memfitnah, saya tidak akan ragu menjatuhkan hukuman. Dan itu berlaku untuk kalian semua.” Pandangannya menyapu aula.
“Jangan biarkan pikiran gelap bersarang di hati kalian.” Ironisnya, Rumsun sendiri tak menyadari bahwa kegelapan itu telah lama berdiam di dalam dirinya. Dengki dan iri pada Thungsiruv berdenyut pelan, seperti arus bawah laut yang tak terlihat namun terus menggerus.
“Gruzva membenci hati dan pikiran yang diselimuti kegelapan,” ucapnya kemudian. Nada suaranya melunak, hampir terdengar penuh kasih. Nama Gruzva melayang di udara, entitas agung yang selama berabad-abad dipercaya menuntun para Raja Porkah menuju terang, kebajikan, dan kesucian. Beberapa pasukan menunduk, sebagian lain menempelkan telapak tangan ke dada sebagai bentuk hormat.
Rumsun berbalik dan kembali ke posisinya di atas panggung. “Baik. Kita lanjutkan pertemuan ini.”
Ia menarik napas dalam. Kemudian menoleh ke belakangnya.
"Silakan kalian bergabung dengan mereka." Seketika, plitan di bawah kaki mereka membawa seluruh pasukan melayang. Hingga membentuk lima barisan dengan kompisisi beragam di hadapan Rumsun. Setiap barisan terdapat satu orang sebagai komandan mereka, diikuti oleh pasukan berpangkat tingkat tinggi hingga rendah. Georu lagi-lagi harus berada di barisan paling belakang.
“Alasan saya mengumpulkan kalian sederhana. Kita harus menemukan anak itu.” Suaranya kembali mengeras.
“Kalian akan dibagi menjadi dua tim. Setiap tim terdiri dari pasukan pertahanan nasional, pasukan keamanan distrik, divisi analis distrik, pasukan keamanan manusia darat, dan pasukan keamanan gedung pemerintahan. Tim pertama akan dipimpin oleh Komandan Oprang. Mereka akan bergerak di daratan. Mulai dari titik awal tempat anak itu hanyut.”
Ia mengangkat satu jari.
“Tim kedua, akan dipimpin oleh Komandan Atuyju. Mereka akan tetap berada di Nor. Tugas mereka ialah temui dan wawancarai seluruh rakyat Nor. Tanyakan satu hal penting. Apakah mereka melihat sosok yang ingin mereka hindari pada saat kejadian penculikan Komandan Mynhemeni.” Ia mengepalkan tangannya. Satu-satunya cara yang bisa mereka lakukan adalah dengan cara manual. Begitu mode penyamaran tingkat tinggi diaktifkan oleh Sanvar tingkat pemimpin, tidak ada satu pun teknologi yang mampu melacaknya.
“Kita harus melacak ke mana anak itu membawa Komandan Mynhemeni. Setiap pemimpin tim pastikan laporan kalian jelas, rinci, dan bisa dicocokkan.” katanya tegas.
Rumsun menatap mereka satu per satu. “Cocokkan semua data. Kita pasti bisa menemukan mereka. Pantau seluruh tayangan di Distrik Nor. Cari kelompok lebih dari tiga orang yang melewati jalur-jalur yang mungkin dilalui jet mereka. Kalian tahu mereka menggunakan jet anti sadap.”
Ia menarik napas.
“Wawancarai juga seluruh kendaraan yang melintas di Nor pada jam penculikan. Tidak ada yang boleh terlewat. Paham?”
“Paham, Wakil Ketua!” jawab seluruh pasukan serempak. Suara mereka menggema, bergetar seperti gelombang yang memukul karang.
Rumsun yakin dengan langkah ini. Baginya, inilah satu-satunya jalan. Meski nyaris mustahil mencari seseorang yang tak bisa dilihat mata maupun alat pemantau yang tertanam di setiap sudut negeri.
Kasus ini belum pernah terjadi. Bangsa Porkah tidak terbiasa mencari orang hilang. Rakyat mereka nyaris tak pernah menghilang. Kalaupun terjadi, detektor di tubuh setiap warga akan segera menunjukkan lokasi dan aktivitas mereka.
Namun Mynhemeni berbeda.
Sanvar yang ia miliki telah naik ke tingkat pemimpin pemerintahan. Tingkat yang hanya diberikan kepada komandan divisi, wakil ketua, ketua distrik, para menteri, hingga Raja dan Ratu. Dengan Sanvar itu, seluruh detektor dan sadap dapat dinonaktifkan. Radar bisa dibungkam. Jejak bisa dihapus.
Lebih dari itu, teknologi penyamaran tingkat tinggi menyelimuti mereka. Membuat Mynhemeni dan anak itu lenyap, baik dari pandangan makhluk hidup maupun alat pemantau paling canggih di dunia.
Artinya, hanya ada satu cara.
Mewawancarai semua orang. Mencocokkan setiap kesaksian. Menyusun ulang rute langkah demi langkah, sampai potongan-potongan itu membentuk arah yang masuk akal.
“Menurut keterangan Ketua Thungsiruv, mereka menunggu jet anti sadap di area parkir lima. Itu titik terakhir yang berhasil kita ketahui.” ujar Rumsun akhirnya, suaranya lebih rendah namun pasti. Ia kemudian menatap tajam ke depan.
“Pastikan kalian menemukan anak itu. Hidup-hidup. Sebelum saya menyerahkan kalian kepada masing-masing komandan untuk pembentukan tim,” lanjut Rumsun, “apakah ada yang ingin ditanyakan?”
Sejenak ruangan sunyi. Lalu sebuah tangan terangkat dari barisan tengah.
“Ya, Bzarrmu,” kata Rumsun.
“Jika kami berhasil menemukan mereka, dan anak itu melukai Komandan Mynhemeni… apa yang harus kami lakukan?” Tanyanya hati-hati
Beberapa pasang mata langsung beralih ke Rumsun. Pertanyaan itu menggantung di udara, berat seperti tekanan laut yang menekan dinding kota. Rumsun tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras, lalu ia berkata dengan suara rendah namun tegas.
“Sebisa mungkin, kalian juga harus menjaga Komandan Mynhemeni. Apa pun yang terjadi, keselamatan komandan tetap prioritas. Jangan biarkan emosi kalian mengambil alih.”
Kata-katanya jatuh satu per satu, jelas, dan tak memberi ruang untuk tafsir lain. Perburuan ini bukan hanya tentang menemukan anak itu, melainkan juga tentang menjaga agar tidak ada yang hilang lebih jauh dari yang sudah terjadi.
“Kalau anak itu mengancam akan membunuh Komandan Mynhemeni, bagaimana Wakil Ketua?”
Pertanyaan itu memecah ketegangan. Beberapa pasukan saling melirik, sirip bahu mereka menegang. Rumsun mendengus pendek, seolah ombak kecil menghantam batu karang.
“Kalau begitu, seharusnya anak itu sudah membunuhnya sejak tadi. Jangan biarkan ancaman mempengaruhi penilaian kalian.”
“Tapi bagaimana kalau dia benar-benar melakukannya?” suara lain menyusul, lebih ragu.
“Berarti, bertambah satu nama dalam daftar pahlawan terhormat kerajaan.” jawabnya dingin tanpa berkedip. Ruangan itu terasa makin sempit. Tekanan laut seolah merayap masuk ke dada mereka.
“Bagaimana jika Komandan Mynhemeni tidak sengaja mengaktifkan peledakan diri saat ia terbunuh?” tanya pasukan lain, suaranya nyaris bergetar.
Rumsun menoleh tajam.
“Pasang perisai di sekelilingnya. Pastikan ledakan tidak menyentuh kalian.” Ia menghela napas keras.
“Perlu saya jawab pertanyaan sesederhana itu?”
Beberapa kepala menunduk. Namun pertanyaan belum berhenti.
“Kalau Komandan Mynhemeni meminta kami berhenti karena nyawanya terancam?”
“Jangan patuhi,” potong Rumsun cepat.
“Misi kalian jelas. Bawa anak itu hidup-hidup.” Ia melangkah satu langkah ke depan.
“Gunakan persenjataan yang tidak melukainya. Kalian sudah melihat sendiri, Maroz dan bius medis tidak bekerja. Tubuhnya menolak benda asing yang membahayakan. Luka-lukanya pulih terlalu cepat. Satu-satunya pilihan kita adalah menjatuhkannya secara fisik tanpa melukainya. Buat dia pingsan.” Ia menyapu ruangan dengan tatapan keras.
Keheningan kembali jatuh, berat dan menyesakkan. Lalu sebuah suara muncul dari barisan belakang.
“Bagaimana jika saat kami menyerang, Komandan Mynhemeni justru menjadi tamengnya, Wakil Ketua?” Olhuioruik bertanya.
“Jika tidak ada pilihan lain, kalian boleh membunuh Komandan Mynhemeni.” Waktu seolah berhenti. Georu merasakan darahnya surut ketika Rumsun menjawab tanpa ragu.
Beberapa pasukan terdiam, napas mereka tertahan.
“Dan itulah,” lanjut Rumsun, “pembunuhan pertama kepada warga di Kerajaan Porkah.” Bibirnya melengkung tipis.
“Sekali lagi, daftar pahlawan terhormat untuk kerajaan. Atas nama Komandan Mynhemeni.”
Georu pucat. Kata-kata itu bergema di kepalanya, lebih keras dari gemuruh laut di luar dinding gedung itu.
Other Stories
Dua Bintang
Bintang memang selalu setia. Namun, hujan yang selalu turun membuatku tak menyadari keha ...
Jodoh Nyasar Alina
Alina, si sarjana dari Eropa, pulang kampung cuma gara-gara restu Nyak-nya. Nggak bisa ker ...
Kala Cinta Di Dermaga
Saat hatimu patah, di mana kamu akan berlabuh? Bagi Gisel, jawabannya adalah dermaga tua y ...
315 Kilometer [end]
Yatra, seorang pegawai kantoran di Surabaya, yang merasa jenuh dengan kehidupan serba hedo ...
Cinta Rasa Kopi
Kesalahan langkah Joylin dalam membina bahtera rumah tangga menjadi titik kulminasi bagi t ...
Nestapa
Masa kecil Zaskia kurang bahagia, karena kedua orangtua memilih bercerai. Ayahnya langsung ...