Bab 47 - Ledakan Emosi
“Itu terjadi karena kami harus menekan keserakahan kami,” ucap Mynhemeni pelan. Nada suaranya berubah, lebih berat, seolah ia sedang menyentuh bagian sejarah yang tak pernah benar-benar sembuh.
“Gruzva, melalui Raja, membimbing kami agar populasi bangsa Porkah tidak melampaui tiga juta jiwa.” Ia menoleh sedikit, menatap hamparan biru di balik dinding transparan jet. Laut membentang luas, tenang, nyaris seperti daratan yang diselimuti langit cair.
“Ribuan tahun lalu, jumlah kami pernah melonjak tak terkendali,” lanjutnya. “Angkanya menembus satu miliar jiwa. Saat itu kami menjadi serakah. Kami menekan bumi, mengeksploitasinya demi memenuhi kebutuhan kami sendiri.” Bibirnya mengatup sejenak.
“Gruzva murka.”
Cakra menahan napas.
“Ravin tercipta setelah Raja pada masa itu menerima wahyu,” kata Mynhemeni. “Aturan demi aturan ditanamkan ke dalam tubuh kami. Dalam waktu kurang dari seribu tahun, populasi kami akhirnya turun dan stabil. Dua juta jiwa. Seimbang. Terkendali.”
Ia tidak mengatakan bahwa keseimbangan itu kini hanya tinggal bayangan. Bahwa angka itu sudah lama runtuh. Bahwa kematian mendadak semakin sering terjadi sejak garis Raja Terdahulu terputus. Bahwa banyak dari bangsanya hidup tanpa pasangan, Ravin tak pernah aktif, dan kelahiran semakin jarang. Fakta bahwa kini mereka hanya berjumlah sedikit lebih dari satu juta jiwa, terlalu kecil untuk bangsa yang menguasai seluruh lautan bumi, ia simpan rapat di balik ketenangannya.
Cakra menghela napas perlahan. “Berarti Raja kalian itu penghubung antara Tuhan dan rakyatnya,” katanya.
“Kayak nabi dalam kepercayaan manusia darat. Gitu?” Mynhemeni mengangguk singkat.
Cakra tak berhenti di situ. Alisnya terangkat, matanya menyipit penuh perhitungan. “Jadi selama populasi bangsa kalian masih di batas aman, Ravin tetap bekerja.” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan.
“Tapi kalau populasinya turun drastis. Karena banyak janda dan duda sebelum menikah… Ravin bisa berhenti aktif, kan?”
Pertanyaan itu meluncur tajam.
Untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, Mynhemeni terdiam sedikit lebih lama. Matanya melebar sepersekian detik, cukup bagi Cakra untuk tahu bahwa analisanya tepat sasaran.
“Untuk itu kami belum tahu pasti,” jawab Mynhemeni akhirnya. Suaranya terdengar mantap, meski di dalamnya ada jeda kecil yang nyaris tak kasatmata.
“Karena jumlah kami masih berada di batas aman.”
Itu jawaban yang rapi. Terlalu rapi.
Ia menatap lurus ke depan, ke arah laut yang membentang seperti daratan biru tanpa ujung, seolah jawaban itu cukup untuk menutup semua kemungkinan lain. Padahal di balik ketenangannya, kegelisahan para pemimpin Porkah berdenyut pelan. Ratu dan pemerintah pusat terus dihantui angka kelahiran yang tak kunjung pulih. Ravin pernah dicoba diutak-atik, dilonggarkan, dicari celahnya agar para janda dan duda bisa kembali dijodohkan. Namun sistem itu tetap membeku, patuh pada hukum lama yang tak mau berubah. Pada akhirnya, yang tersisa hanya doa yang dikirimkan sunyi kepada Gruzva, agar bangsa mereka tak tergelincir di bawah angka satu juta jiwa.
“Semoga populasi kalian tetap sesuai dengan yang diperintahkan Gruzva,” ucap Cakra pelan.
Nada suaranya tulus, tanpa kepentingan. Mynhemeni menoleh, menatap wajah manusia darat itu. Ada kehangatan sederhana di sana, sesuatu yang tak ia temui dalam rapat-rapat penuh grafik dan perhitungan. Sekali lagi, Cakra meyakinkannya bahwa kehadirannya bukan ancaman. Hanya seseorang yang ingin memahami apa yang terjadi dengan tubuhnya.
“Masih boleh bertanya soal mendiang suamimu?” tanya Cakra hati-hati.
Mynhemeni sedikit membelalakkan mata, lalu tersenyum kecil. Ia mengangguk, memberi isyarat agar Cakra melanjutkan. Anehnya, menjawab pertanyaan-pertanyaan itu justru membuat dadanya terasa lebih ringan. Selama pikirannya sibuk menjelaskan, ia tidak larut memikirkan pelarian mereka, atau masa depan Porkah yang kian rapuh di balik kedamaian laut yang tampak abadi.
“Hubunganmu dengan keluarga mendiang suamimu bagaimana?” tanya Cakra.
Tanpa jeda, Mynhemeni menjawab, seolah pertanyaan itu sudah lama menunggu untuk diucapkan. “Seperti keluarga pada umumnya. Kami sering menghabiskan waktu bersama, saling bertukar kabar tentang hal-hal kecil sampai yang paling berat.”
Ia menarik napas pelan. Arus laut di sekitar mereka bergerak lembut, menyerupai angin sore di daratan. “Baru-baru ini, kedua mertuaku membawaku ke salah satu kantor mereka di daratan. Di sebuah pulau bernama Boa Vista.”
Cakra langsung bereaksi, hampir melonjak di tempat. “Aku tahu pulau itu. Aku pernah ke sana sama orang tuaku.”
“Oh ya?” Mata Mynhemeni berbinar tipis. Ada rasa senang yang tulus karena menemukan kesamaan, sekecil apa pun.
“Iya. Waktu aku kelas dua SMP,” jawab Cakra cepat, lalu menahan diri. “Terus?”
“Intinya, kami dekat,” kata Mynhemeni. “Sangat dekat. Bahkan mereka ada bersamaku saat Ravinku aktif.”
Kalimat itu terhenti di udara. Mynhemeni memalingkan wajah, memaksa Sanvar di dalam dirinya membuka kembali ingatan yang selama ini ia simpan rapat. Saat Ravin menyibak kebenaran tentang kematian Chuvohus, tubuhnya runtuh. Tangisnya pecah tanpa bisa ditahan. Di sekelilingnya, seluruh keluarganya hadir, begitu juga keluarga Chuvohus. Mereka mengelilinginya, menopangnya, ikut larut dalam duka yang sama.
Sejak hari itu, hubungan mereka tak lagi sekadar ikatan pernikahan. Mereka benar-benar menjadi satu keluarga. Mynhemeni dekat dengan semua anggota keluarga Chuvohus. Kakek nenek yang masih hidup, kedua orang tua yang selalu tenang, hingga adiknya, Saljiva.
Mengingat nama itu, mata Mynhemeni mendadak membelalak.
Saljiva.
Gadis yang selalu tampak serius, feminin dengan caranya sendiri, dan kini menjadi bagian inti tim pengembangan teknologi analis tingkat satu. Seperti dirinya, Saljiva memulai karier tanpa melalui pendidikan kurikulum profesi, melompat jauh lebih cepat dari generasinya.
Ada lonjakan energi yang tiba-tiba memenuhi dada Mynhemeni. Sesuatu berkilat di benaknya, seperti kembang api yang meledak di bawah permukaan laut. Sebuah ide. Dan untuk pertama kalinya sejak lama, harapan itu terasa nyata.
“Apa? Kenapa?” Cakra ikut berdiri setengah, alisnya berkerut. “Kok kamu tiba-tiba kelihatan kaget banget?”
“Shiva!” Nama itu meluncur dari mulut Mynhemeni seperti percikan listrik. Ia bangkit sepenuhnya, gerakannya cepat hingga arus air di sekelilingnya beriak, seolah lantai padat di bawah kaki mereka ikut terguncang.
Cakra refleks melonjak dari sofa. “Apa?”
“Adik iparku, Saljiva,” kata Mynhemeni dengan napas sedikit terengah, matanya bersinar.
“Dia jenius di bidang teknologi analisis.”
Ia melangkah mondar-mandir, telapak kakinya menyentuh permukaan dasar ruangan yang terasa dingin seperti ubin batu.
“Kalau aku membawamu ke laboratorium di kantor pemerintahan, atau ke laboratorium pribadiku, kita akan langsung dikepung pasukan militer." Mynhemeni berhenti tepat di depan Cakra. Meja itu sampai membela diri begitu Mynhemeni jalan mendekati Cakra.
“Tapi laboratorium Saljiva berbeda. Mandiri, dan nyaris tak tersentuh sistem Nor.” Ia tersenyum tipis, penuh keyakinan. Kemudian berbalik, membuat meja itu kembali menyatu.
“Mereka tidak akan pernah terpikir mencari kita di sana.”
Untuk sesaat, laut di luar dinding kaca terasa sunyi. Dan di tengah kesunyian itu, Cakra menyadari satu hal. Mereka baru saja menemukan satu celah kecil untuk bertahan hidup. Sedangkan Mynhemeni justru merasa seperti seseorang yang baru saja melihat cahaya kecil di ujung lorong panjang. Ia tak pernah menyangka percakapan tentang mendiang suaminya, sesuatu yang selama ini selalu ia hindari, justru membuka kemungkinan jalan keluar. Harapan itu tipis, nyaris rapuh, namun cukup untuk membuat dadanya menghangat.
Sebelumnya ia benar-benar buntu. Membiarkan Cakra tetap di dekatnya bukan pilihan aman. Melakukan penelitian dan analisis terhadap anak itu di fasilitas miliknya sendiri juga mustahil. Tempat itu terlalu penting, terlalu dikenal. Jika ada satu lokasi yang pasti menjadi sasaran pertama penyerbuan pasukan keamanan dan pertahanan nasional, maka tempat itulah jawabannya.
“Aku harus menghubungi adikku lagi,” ucap Mynhemeni cepat, nadanya penuh energi yang baru.
“Kita lanjutkan obrolan kita nanti, ya.”
Ia kembali duduk, bahunya mengeras, wajahnya berubah serius dalam sekejap. Cakra yang masih kebingungan refleks condong ke depan, ingin bertanya. Namun gerakannya terhenti ketika tangan kiri Mynhemeni terangkat, telapak terbuka menghadap ke arahnya. Isyarat itu tegas. Diam. Jangan bergerak. Jangan bersuara.
Cakra menelan niatnya. Ia kembali menyandar, patuh, meski kepalanya dipenuhi pertanyaan yang berloncatan satu sama lain.
Mynhemeni mematung. Tatapannya kosong namun fokus, pikirannya tenggelam dalam komunikasi sunyi lewat Svalin. Di dunia yang terasa seperti daratan ini, hanya arus halus di sekeliling rambutnya yang memberi petunjuk bahwa mereka tetap berada jauh di bawah laut.
Ditinggal tanpa penjelasan, Cakra melirik minuman cokelat hangat di atas meja melayang yang belum habis. Ia mendecak pelan. Gelas tinggi berukir gajah itu bergetar lembut, cahayanya meredup, lalu berubah bentuk. Tingginya menyusut, warnanya menjadi putih polos, dihiasi garis-garis kecil berpendar emas yang perlahan berganti pola, seperti bernapas.
Cakra sempat mengamatinya beberapa detik. Lalu gelas itu melayang sendiri dan berhenti tepat di depan mulutnya.
Ia membuka mulut tanpa ragu. Seketika, gelas itu berlubang kecil, seperti keran yang dipaksa terbuka. Cairan kopi susu gula aren kesukaannya mengalir masuk dengan mulus, deras namun terkendali, seperti air terjun kecil yang tahu persis ke mana harus jatuh. Aliran air itu membentuk seperti jembatan yang menghubungi mulut Cakra dan gelas yang setia melayang di depan wajahnya. Tak ada keterkejutan di raut Cakra. Semua ini terasa… biasa saja.
Di seberangnya, Mynhemeni sekilas memperhatikan sambil terus berusaha menghubungi Georu. Ada satu pikiran kecil yang melintas di benaknya. Mengapa Cakra masih menggunakan gelas, jika cairan cokelat susu keemasan itu bisa saja langsung mengalir ke kerongkongannya tanpa perantara apa pun?
Namun pertanyaan itu segera ia singkirkan. Fokusnya hanya satu. Ia harus segera terhubung dengan Georu, sebelum harapan kecil yang baru saja muncul itu kembali tenggelam oleh waktu.
“Gruzva, melalui Raja, membimbing kami agar populasi bangsa Porkah tidak melampaui tiga juta jiwa.” Ia menoleh sedikit, menatap hamparan biru di balik dinding transparan jet. Laut membentang luas, tenang, nyaris seperti daratan yang diselimuti langit cair.
“Ribuan tahun lalu, jumlah kami pernah melonjak tak terkendali,” lanjutnya. “Angkanya menembus satu miliar jiwa. Saat itu kami menjadi serakah. Kami menekan bumi, mengeksploitasinya demi memenuhi kebutuhan kami sendiri.” Bibirnya mengatup sejenak.
“Gruzva murka.”
Cakra menahan napas.
“Ravin tercipta setelah Raja pada masa itu menerima wahyu,” kata Mynhemeni. “Aturan demi aturan ditanamkan ke dalam tubuh kami. Dalam waktu kurang dari seribu tahun, populasi kami akhirnya turun dan stabil. Dua juta jiwa. Seimbang. Terkendali.”
Ia tidak mengatakan bahwa keseimbangan itu kini hanya tinggal bayangan. Bahwa angka itu sudah lama runtuh. Bahwa kematian mendadak semakin sering terjadi sejak garis Raja Terdahulu terputus. Bahwa banyak dari bangsanya hidup tanpa pasangan, Ravin tak pernah aktif, dan kelahiran semakin jarang. Fakta bahwa kini mereka hanya berjumlah sedikit lebih dari satu juta jiwa, terlalu kecil untuk bangsa yang menguasai seluruh lautan bumi, ia simpan rapat di balik ketenangannya.
Cakra menghela napas perlahan. “Berarti Raja kalian itu penghubung antara Tuhan dan rakyatnya,” katanya.
“Kayak nabi dalam kepercayaan manusia darat. Gitu?” Mynhemeni mengangguk singkat.
Cakra tak berhenti di situ. Alisnya terangkat, matanya menyipit penuh perhitungan. “Jadi selama populasi bangsa kalian masih di batas aman, Ravin tetap bekerja.” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan.
“Tapi kalau populasinya turun drastis. Karena banyak janda dan duda sebelum menikah… Ravin bisa berhenti aktif, kan?”
Pertanyaan itu meluncur tajam.
Untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai, Mynhemeni terdiam sedikit lebih lama. Matanya melebar sepersekian detik, cukup bagi Cakra untuk tahu bahwa analisanya tepat sasaran.
“Untuk itu kami belum tahu pasti,” jawab Mynhemeni akhirnya. Suaranya terdengar mantap, meski di dalamnya ada jeda kecil yang nyaris tak kasatmata.
“Karena jumlah kami masih berada di batas aman.”
Itu jawaban yang rapi. Terlalu rapi.
Ia menatap lurus ke depan, ke arah laut yang membentang seperti daratan biru tanpa ujung, seolah jawaban itu cukup untuk menutup semua kemungkinan lain. Padahal di balik ketenangannya, kegelisahan para pemimpin Porkah berdenyut pelan. Ratu dan pemerintah pusat terus dihantui angka kelahiran yang tak kunjung pulih. Ravin pernah dicoba diutak-atik, dilonggarkan, dicari celahnya agar para janda dan duda bisa kembali dijodohkan. Namun sistem itu tetap membeku, patuh pada hukum lama yang tak mau berubah. Pada akhirnya, yang tersisa hanya doa yang dikirimkan sunyi kepada Gruzva, agar bangsa mereka tak tergelincir di bawah angka satu juta jiwa.
“Semoga populasi kalian tetap sesuai dengan yang diperintahkan Gruzva,” ucap Cakra pelan.
Nada suaranya tulus, tanpa kepentingan. Mynhemeni menoleh, menatap wajah manusia darat itu. Ada kehangatan sederhana di sana, sesuatu yang tak ia temui dalam rapat-rapat penuh grafik dan perhitungan. Sekali lagi, Cakra meyakinkannya bahwa kehadirannya bukan ancaman. Hanya seseorang yang ingin memahami apa yang terjadi dengan tubuhnya.
“Masih boleh bertanya soal mendiang suamimu?” tanya Cakra hati-hati.
Mynhemeni sedikit membelalakkan mata, lalu tersenyum kecil. Ia mengangguk, memberi isyarat agar Cakra melanjutkan. Anehnya, menjawab pertanyaan-pertanyaan itu justru membuat dadanya terasa lebih ringan. Selama pikirannya sibuk menjelaskan, ia tidak larut memikirkan pelarian mereka, atau masa depan Porkah yang kian rapuh di balik kedamaian laut yang tampak abadi.
“Hubunganmu dengan keluarga mendiang suamimu bagaimana?” tanya Cakra.
Tanpa jeda, Mynhemeni menjawab, seolah pertanyaan itu sudah lama menunggu untuk diucapkan. “Seperti keluarga pada umumnya. Kami sering menghabiskan waktu bersama, saling bertukar kabar tentang hal-hal kecil sampai yang paling berat.”
Ia menarik napas pelan. Arus laut di sekitar mereka bergerak lembut, menyerupai angin sore di daratan. “Baru-baru ini, kedua mertuaku membawaku ke salah satu kantor mereka di daratan. Di sebuah pulau bernama Boa Vista.”
Cakra langsung bereaksi, hampir melonjak di tempat. “Aku tahu pulau itu. Aku pernah ke sana sama orang tuaku.”
“Oh ya?” Mata Mynhemeni berbinar tipis. Ada rasa senang yang tulus karena menemukan kesamaan, sekecil apa pun.
“Iya. Waktu aku kelas dua SMP,” jawab Cakra cepat, lalu menahan diri. “Terus?”
“Intinya, kami dekat,” kata Mynhemeni. “Sangat dekat. Bahkan mereka ada bersamaku saat Ravinku aktif.”
Kalimat itu terhenti di udara. Mynhemeni memalingkan wajah, memaksa Sanvar di dalam dirinya membuka kembali ingatan yang selama ini ia simpan rapat. Saat Ravin menyibak kebenaran tentang kematian Chuvohus, tubuhnya runtuh. Tangisnya pecah tanpa bisa ditahan. Di sekelilingnya, seluruh keluarganya hadir, begitu juga keluarga Chuvohus. Mereka mengelilinginya, menopangnya, ikut larut dalam duka yang sama.
Sejak hari itu, hubungan mereka tak lagi sekadar ikatan pernikahan. Mereka benar-benar menjadi satu keluarga. Mynhemeni dekat dengan semua anggota keluarga Chuvohus. Kakek nenek yang masih hidup, kedua orang tua yang selalu tenang, hingga adiknya, Saljiva.
Mengingat nama itu, mata Mynhemeni mendadak membelalak.
Saljiva.
Gadis yang selalu tampak serius, feminin dengan caranya sendiri, dan kini menjadi bagian inti tim pengembangan teknologi analis tingkat satu. Seperti dirinya, Saljiva memulai karier tanpa melalui pendidikan kurikulum profesi, melompat jauh lebih cepat dari generasinya.
Ada lonjakan energi yang tiba-tiba memenuhi dada Mynhemeni. Sesuatu berkilat di benaknya, seperti kembang api yang meledak di bawah permukaan laut. Sebuah ide. Dan untuk pertama kalinya sejak lama, harapan itu terasa nyata.
“Apa? Kenapa?” Cakra ikut berdiri setengah, alisnya berkerut. “Kok kamu tiba-tiba kelihatan kaget banget?”
“Shiva!” Nama itu meluncur dari mulut Mynhemeni seperti percikan listrik. Ia bangkit sepenuhnya, gerakannya cepat hingga arus air di sekelilingnya beriak, seolah lantai padat di bawah kaki mereka ikut terguncang.
Cakra refleks melonjak dari sofa. “Apa?”
“Adik iparku, Saljiva,” kata Mynhemeni dengan napas sedikit terengah, matanya bersinar.
“Dia jenius di bidang teknologi analisis.”
Ia melangkah mondar-mandir, telapak kakinya menyentuh permukaan dasar ruangan yang terasa dingin seperti ubin batu.
“Kalau aku membawamu ke laboratorium di kantor pemerintahan, atau ke laboratorium pribadiku, kita akan langsung dikepung pasukan militer." Mynhemeni berhenti tepat di depan Cakra. Meja itu sampai membela diri begitu Mynhemeni jalan mendekati Cakra.
“Tapi laboratorium Saljiva berbeda. Mandiri, dan nyaris tak tersentuh sistem Nor.” Ia tersenyum tipis, penuh keyakinan. Kemudian berbalik, membuat meja itu kembali menyatu.
“Mereka tidak akan pernah terpikir mencari kita di sana.”
Untuk sesaat, laut di luar dinding kaca terasa sunyi. Dan di tengah kesunyian itu, Cakra menyadari satu hal. Mereka baru saja menemukan satu celah kecil untuk bertahan hidup. Sedangkan Mynhemeni justru merasa seperti seseorang yang baru saja melihat cahaya kecil di ujung lorong panjang. Ia tak pernah menyangka percakapan tentang mendiang suaminya, sesuatu yang selama ini selalu ia hindari, justru membuka kemungkinan jalan keluar. Harapan itu tipis, nyaris rapuh, namun cukup untuk membuat dadanya menghangat.
Sebelumnya ia benar-benar buntu. Membiarkan Cakra tetap di dekatnya bukan pilihan aman. Melakukan penelitian dan analisis terhadap anak itu di fasilitas miliknya sendiri juga mustahil. Tempat itu terlalu penting, terlalu dikenal. Jika ada satu lokasi yang pasti menjadi sasaran pertama penyerbuan pasukan keamanan dan pertahanan nasional, maka tempat itulah jawabannya.
“Aku harus menghubungi adikku lagi,” ucap Mynhemeni cepat, nadanya penuh energi yang baru.
“Kita lanjutkan obrolan kita nanti, ya.”
Ia kembali duduk, bahunya mengeras, wajahnya berubah serius dalam sekejap. Cakra yang masih kebingungan refleks condong ke depan, ingin bertanya. Namun gerakannya terhenti ketika tangan kiri Mynhemeni terangkat, telapak terbuka menghadap ke arahnya. Isyarat itu tegas. Diam. Jangan bergerak. Jangan bersuara.
Cakra menelan niatnya. Ia kembali menyandar, patuh, meski kepalanya dipenuhi pertanyaan yang berloncatan satu sama lain.
Mynhemeni mematung. Tatapannya kosong namun fokus, pikirannya tenggelam dalam komunikasi sunyi lewat Svalin. Di dunia yang terasa seperti daratan ini, hanya arus halus di sekeliling rambutnya yang memberi petunjuk bahwa mereka tetap berada jauh di bawah laut.
Ditinggal tanpa penjelasan, Cakra melirik minuman cokelat hangat di atas meja melayang yang belum habis. Ia mendecak pelan. Gelas tinggi berukir gajah itu bergetar lembut, cahayanya meredup, lalu berubah bentuk. Tingginya menyusut, warnanya menjadi putih polos, dihiasi garis-garis kecil berpendar emas yang perlahan berganti pola, seperti bernapas.
Cakra sempat mengamatinya beberapa detik. Lalu gelas itu melayang sendiri dan berhenti tepat di depan mulutnya.
Ia membuka mulut tanpa ragu. Seketika, gelas itu berlubang kecil, seperti keran yang dipaksa terbuka. Cairan kopi susu gula aren kesukaannya mengalir masuk dengan mulus, deras namun terkendali, seperti air terjun kecil yang tahu persis ke mana harus jatuh. Aliran air itu membentuk seperti jembatan yang menghubungi mulut Cakra dan gelas yang setia melayang di depan wajahnya. Tak ada keterkejutan di raut Cakra. Semua ini terasa… biasa saja.
Di seberangnya, Mynhemeni sekilas memperhatikan sambil terus berusaha menghubungi Georu. Ada satu pikiran kecil yang melintas di benaknya. Mengapa Cakra masih menggunakan gelas, jika cairan cokelat susu keemasan itu bisa saja langsung mengalir ke kerongkongannya tanpa perantara apa pun?
Namun pertanyaan itu segera ia singkirkan. Fokusnya hanya satu. Ia harus segera terhubung dengan Georu, sebelum harapan kecil yang baru saja muncul itu kembali tenggelam oleh waktu.
Other Stories
Cinta Di Ibukota
Sari, gadis desa yang polos, terjerat dalam hubungan berbahaya dengan fotografer ambisius ...
Arti Yang Tak Pernah Usai
Siapa sangka liburan akhir tahun beberapa mahasiswa ini membawa dua insan menyelesaikan se ...
Diary Superhero
lanjutan cerita kisah cinta superhero. dari sudut pandang Sefia. superhero berkekuatan tel ...
32 Detik
Hanya 32 detik untuk menghancurkan cinta dan hidup Kirana. Saat video pribadinya bocor, du ...
Free Mind
KITA j e d a .... sepertinya waktu tak akan pernah berpihak pada kita lagi setelah aku ...
Saat Cinta Itu Hadir
Zita hancur karena gagal menikah setelah Fauzi ketahuan selingkuh. Saat masih terluka, ia ...