Bab 51 - Delapan Puluh Tujuh Menit
“Lalu bagaimana caranya aku mengabarimu?” pikir Mynhemeni resah.
“Alat ini harus aku kembalikan ke Georu. Itu satu-satunya jalur komunikasiku dengannya.”
Saljiva terdiam sesaat, lalu kesadarannya seperti menepuk dahi sendiri. “Benar juga. Aku lupa kakak sedang dalam pelarian.”
Ada jeda singkat sebelum suaranya kembali terdengar. “Kalau begitu, temui aku dua puluh menit lagi. Aku harus bersiap.”
“Tidak bisa secepat itu,” jawab Mynhemeni. Nada suaranya tetap tenang, tapi pikirannya berlari cepat.
“Aku tidak bisa menteleportasi jet ini sekarang. Status buron membuat semua lompatan berisiko.”
Ia tahu, secara teknis, saat ini Vorna, gerbang antar distrik, tidak sedang diblokir. Semua penyadap dan pelacak di tubuhnya serta di jet sudah ia nonaktifkan. Namun laut di sekitar mereka terasa terlalu sunyi, seolah setiap arus menyimpan mata yang mengintai. Muncul lewat gerbang Vorna tetap seperti menyalakan obor di tengah kegelapan.
Terlalu mencolok.
Satu-satunya pilihan adalah cara lama. Manual. Berkendara sejauh sebelas ribu kilometer ke selatan. Memutari Australia, kembali ke Samudra Hindia. Menembus kedalaman menuju Antartika, dengan kecepatan maksimal. Rasanya seperti menempuh jalan darat panjang tanpa henti, hanya saja roda digantikan arus laut yang menekan dari segala arah.
“Kalau begitu,” suara Saljiva terdengar lebih pelan, “kira-kira kakak sampai kapan?”
Mynhemeni melirik panel kendali di hadapannya. Angka dan grafik bermunculan, berpendar lembut seperti lampu kota di kejauhan. Semua data itu hanya bisa ia lihat. Cakra, yang duduk tak jauh darinya, tetap tak menyadari apa pun selain kebosanan yang mulai merayap di wajahnya.
“Satu setengah jam,” jawab Mynhemeni setelah dua detik diam. “Jet ini bisa membawaku ke Anap dalam waktu kurang lebih satu setengah jam.”
Ia mengangkat pandangan, kembali pada bocah di depannya. Laut tetap terasa seperti daratan yang luas dan tegang. Dan di antara jarak sebelas ribu kilometer itu, ia tahu, terlalu banyak hal bisa berubah.
“Baiklah,” suara Saljiva mengalun di benaknya.
“Aku akan menunggu di depan rumah orang tuaku, satu setengah jam dari sekarang. Pastikan mode penyamaran sudah Kak Hemy nonaktifkan sebelum turun. Aku tidak akan bisa mengenali Kakak kalau penyamaran masih aktif.”
“Ok... Terima kasih, Shiva.” Ada kelegaan yang tak ia sembunyikan. “Aku berutang besar padamu.”
Saljiva terkekeh pelan, hangat dan jujur, seperti pijakan darat di tengah laut dalam. “Itu gunanya keluarga, kan? Lagipula, nasib bangsa kita sedang duduk di samping Kakak...”
Keputusannya bulat. Ia akan membantu kakak iparnya, bukan hanya karena ikatan darah, tetapi karena rasa ingin tahu yang terus menggerogoti pikirannya. Apakah anak itu benar ancaman, atau justru kunci keselamatan.
Jika memang ancaman, setidaknya mereka bisa bersiap. Menyusun pertahanan. Menahan serangan dari tempat asal Cakra sebelum segalanya terlambat. Dan jauh di balik alasan itu, ada kepuasan sunyi membayangkan dirinya ikut menyelamatkan bumi yang selama ini ia sebut rumah.
Mynhemeni menoleh sekilas ke arah Cakra. Bocah itu menatap kosong ke kejauhan, seolah tak menyadari betapa berat masa depan yang tanpa sadar ia genggam. Laut di sekeliling mereka tenang, hampir menipu, seperti daratan yang menahan napas sebelum badai.
“Iya, aku paham. Sekarang, aku sedang bergerak menuju rumah orang tuamu,” ucap Mynhemeni. Hubungan telepati itu meredup, menyisakan keheningan yang terasa padat.
Saat itulah ia menyadari ada yang berubah.
Cakra tidak lagi berada di tempatnya semula. Mynhemeni menoleh sekilas dan melihat bocah itu melangkah pelan ke arah dinding di belakang mereka, seolah ditarik oleh sesuatu yang tak kasatmata. Pandangannya menangkap Cakra berdiri beberapa langkah dari dinding jet, terpaku pada sesuatu yang melayang pelan di air.
Di hadapan Cakra, melayang seekor makhluk menyerupai kupu-kupu sebesar buah mentimun, berputar di hadapan Cakra seolah memanggilnya. Sayapnya tidak lebar, namun setiap kepakan memercikkan cahaya biru dan kuning keemasan yang berkilau lembut, seperti pantulan lampu kota di permukaan air laut.
Gerakannya tenang, nyaris sopan, seakan benar-benar memanggil. Saat diamati lebih dekat, tubuh makhluk itu mengejutkan. Bentuknya menyerupai manusia mungil, lengkap dengan tangan dan kaki yang halus.
Cakra mendekat satu langkah. Ketika ia memperhatikan lebih saksama, dadanya mengencang. Tubuh makhluk itu tidak sepenuhnya seperti serangga. Ada lengan kecil, kaki ramping, dan proporsi yang terlalu manusiawi untuk disebut kebetulan. Jari Cakra terangkat, dan terhenti beberapa senti di udara. Ia menahan diri, jantungnya berdebar antara rasa ingin tahu dan kewaspadaan.
Ada dorongan kuat untuk menyentuh, rasa penasaran yang menggelitik dan menenangkan sekaligus. Akan tetapi, ia memilih mengurungkan niat. Tangannya perlahan turun. Cakra hanya berdiri di sana, mengagumi makhluk mungil itu dari jarak dekat, membiarkan cahaya berpendar di wajahnya. Sekilas, ia merasa ada sesuatu yang familiar.
Wajah makhluk itu. Terlalu mirip dengannya.
Di saat yang sama, suara Saljiva kembali bergema di benak Mynhemeni.
“Berarti aku harus mengembalikan Svalin ini ke Georu?” tanyanya dengan nada enggan. Ada kekecewaan tipis di balik kata-katanya, seperti anak kecil yang diminta berhenti bermain terlalu cepat.
“Iya, nanti akan aku pinjamkan Svalin yang digunakan anak itu,” ucap Mynhemeni.
Kalimat itu langsung bekerja seperti percikan listrik. Saljiva tersenyum lebar, terlalu cepat untuk situasi yang seharusnya genting. Wajahnya yang semula tegang mendadak terang, membuat Georu menoleh dengan dahi berkerut. Ia menatap Saljiva seolah sedang mencoba membaca makna tersembunyi di balik ekspresi itu. Dalam kondisi seperti ini, rasa senang terasa seperti kesalahan hitung.
“Baiklah,” lanjut Saljiva, suaranya kembali terkendali meski sisa antusias masih mengambang di matanya.
“Aku tunggu kedatangan Kak Hemy. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku dulu, lalu menunggu kalian di rumah. Jangan lupa, saat tiba, matikan penyamaran. Aku harus bisa mengenali kalian.”
“Ok. Sampai ketemu,” jawab Mynhemeni. Suaranya bergetar halus di dalam kepala Saljiva.
“Delapan puluh tujuh menit lagi dari sekarang.” Getaran itu perlahan menghilang. Saljiva merasakan kekosongan sesaat, seperti ketika ombak surut terlalu cepat dan meninggalkan udara dingin di kulit. Ia melepaskan Svalin dari Sanvarnya. Alat kecil itu langsung melesat, melengkung rapi, lalu menempel kembali di belakang telinga kiri Georu. Kemudian menyatu dengan Sanvar Georu
Georu menatapnya semakin aneh.
Saljiva mengernyit, lalu berbicara dalam batin. “Kenapa kamu menatapku seperti itu?”
Tak ada reaksi. Georu hanya memiringkan kepala, kebingungan itu kini utuh di wajahnya.
“Kenapa kamu menatapku begitu? Apa yang salah dari diriku?” Saljiva bertanya lagi, masih tanpa suara. Kali ini ia menajamkan tatapan dan mengangguk lebih keras, seolah ekspresinya saja sudah cukup untuk menjelaskan kekesalannya.
Georu berkedip, lalu mengerutkan kening. “Kamu kenapa sih?” Ia mundur setengah langkah, menatap Saljiva seperti sedang mengamati gejala penyakit langka yang baru pertama kali muncul.
“Kok tiba-tiba aneh begitu?”
“Aku dari tadi bertanya,” ujar Saljiva akhirnya dengan suara terdengar, nada kesalnya tak lagi tertahan. Ia melangkah maju dan menjatuhkan tubuhnya ke belakang, gerakannya refleks, seolah yakin ada sesuatu yang akan menopangnya. Detik berikutnya, lantai di bawahnya bergelombang lembut seperti pasir basah tersapu ombak, lalu naik membentuk sofa. Saljiva mendarat dengan pas, tanpa guncangan.
Georu mendengus. “Bagaimana bisa aku tahu kamu ngomong apa kalau kamu cuma memainkan ekspresimu seperti itu?” protesnya. Ia ikut menjatuhkan diri, dan lantai rumahnya kembali beradaptasi, merapat dan membentuk dudukan lain yang menahan tubuhnya dengan empuk.
Saljiva terdiam sesaat, lalu tertawa pendek. Ia mengusap pelipisnya, merasa bodoh sendiri. “Oh iya, aku lupa. Aku sudah tidak pakai Svalin itu lagi.”
Ia menoleh ke arah Georu, kali ini dengan ekspresi lebih tenang, meski masih menyisakan rasa penasaran. “Jadi,” katanya pelan, “kenapa kamu menatapku seperti itu?”
“Kamu kenapa tadi tersenyum? Kita sedang berada di situasi yang rasanya tidak sejalan dengan ekspresimu barusan.”
Saljiva menoleh, lalu tersenyum lagi tanpa rasa bersalah. “Aku cuma menyayangkan Svalin harus lepas dari Sanvarku,” katanya ringan. Ada kilat jujur di matanya.
“Tapi Kak Hemy bilang dia akan meminjamkan Svalin yang dipakai anak itu.” Rasa senang itu tak ia sembunyikan. Tangannya terangkat ke udara, seolah hendak memeluk sesuatu yang tak kasatmata. Saat kedua telapak tangannya hampir bertemu, cahaya tipis beriak seperti arus laut yang tenang. Seketika, sebuah boneka muncul di antara lengannya. Bentuknya lucu sekaligus aneh, perpaduan Patamon dan Gabumon, dengan mata besar dan telinga yang tampak terlalu hidup. Boneka itu melayang sesaat sebelum melesat dan mendarat pas di pelukan Saljiva.
“Dari tadi aku juga mikir,” lanjutnya sambil menekan wajah ke boneka itu, suaranya sedikit teredam, “alasan apa yang bisa kupakai buat mengajukan alat itu secara resmi. Tapi sepertinya memang tidak ada.”
Georu mengamatinya dengan dahi berkerut. “Serius,” katanya pelan, bingung bercampur heran. “Kamu memang belum pernah pakai Svalin?”
Dalam benaknya, posisi Saljiva seharusnya membuat semua fasilitas terasa mudah dijangkau. Apalagi sekarang, ketika timnya tengah mengembangkan perangkat untuk menganalisis dunia dimensi lain. Proyek yang bukan hanya diawasi atasan, tapi juga dipantau langsung oleh Anap terutama kedua orang tua Saljiva.
“Belum pernah, karena dalam pekerjaan kami tidak ada yang perlu dirahasiakan." Ia berhenti sejenak, memeluk bantal kembali lalu menoleh pada Georu.
"Kalau kalian pasti membutuhkannya. Karena kerjaan kalian menyangkut keamanan dan pertahanan nasional.” ucap Saljiva dengan nada yakin yang nyaris terdengar sok tahu.
Georu tidak menanggapi pernyataan itu. Ia justru mengalihkan pandangan sesaat, lalu kembali menatap Saljiva dengan sorot mata yang lebih tajam. “Tapi bukankah kalian sedang mengembangkan alat untuk menganalisis dimensi dunia lain?” tanyanya.
“Ada indikasi kuat bahwa entitas yang menghancurkan planet kita berasal dari sana, kan?" Nada suara Georu tidak meninggi, tapi tekanan di setiap katanya terasa jelas.
“Alat ini harus aku kembalikan ke Georu. Itu satu-satunya jalur komunikasiku dengannya.”
Saljiva terdiam sesaat, lalu kesadarannya seperti menepuk dahi sendiri. “Benar juga. Aku lupa kakak sedang dalam pelarian.”
Ada jeda singkat sebelum suaranya kembali terdengar. “Kalau begitu, temui aku dua puluh menit lagi. Aku harus bersiap.”
“Tidak bisa secepat itu,” jawab Mynhemeni. Nada suaranya tetap tenang, tapi pikirannya berlari cepat.
“Aku tidak bisa menteleportasi jet ini sekarang. Status buron membuat semua lompatan berisiko.”
Ia tahu, secara teknis, saat ini Vorna, gerbang antar distrik, tidak sedang diblokir. Semua penyadap dan pelacak di tubuhnya serta di jet sudah ia nonaktifkan. Namun laut di sekitar mereka terasa terlalu sunyi, seolah setiap arus menyimpan mata yang mengintai. Muncul lewat gerbang Vorna tetap seperti menyalakan obor di tengah kegelapan.
Terlalu mencolok.
Satu-satunya pilihan adalah cara lama. Manual. Berkendara sejauh sebelas ribu kilometer ke selatan. Memutari Australia, kembali ke Samudra Hindia. Menembus kedalaman menuju Antartika, dengan kecepatan maksimal. Rasanya seperti menempuh jalan darat panjang tanpa henti, hanya saja roda digantikan arus laut yang menekan dari segala arah.
“Kalau begitu,” suara Saljiva terdengar lebih pelan, “kira-kira kakak sampai kapan?”
Mynhemeni melirik panel kendali di hadapannya. Angka dan grafik bermunculan, berpendar lembut seperti lampu kota di kejauhan. Semua data itu hanya bisa ia lihat. Cakra, yang duduk tak jauh darinya, tetap tak menyadari apa pun selain kebosanan yang mulai merayap di wajahnya.
“Satu setengah jam,” jawab Mynhemeni setelah dua detik diam. “Jet ini bisa membawaku ke Anap dalam waktu kurang lebih satu setengah jam.”
Ia mengangkat pandangan, kembali pada bocah di depannya. Laut tetap terasa seperti daratan yang luas dan tegang. Dan di antara jarak sebelas ribu kilometer itu, ia tahu, terlalu banyak hal bisa berubah.
“Baiklah,” suara Saljiva mengalun di benaknya.
“Aku akan menunggu di depan rumah orang tuaku, satu setengah jam dari sekarang. Pastikan mode penyamaran sudah Kak Hemy nonaktifkan sebelum turun. Aku tidak akan bisa mengenali Kakak kalau penyamaran masih aktif.”
“Ok... Terima kasih, Shiva.” Ada kelegaan yang tak ia sembunyikan. “Aku berutang besar padamu.”
Saljiva terkekeh pelan, hangat dan jujur, seperti pijakan darat di tengah laut dalam. “Itu gunanya keluarga, kan? Lagipula, nasib bangsa kita sedang duduk di samping Kakak...”
Keputusannya bulat. Ia akan membantu kakak iparnya, bukan hanya karena ikatan darah, tetapi karena rasa ingin tahu yang terus menggerogoti pikirannya. Apakah anak itu benar ancaman, atau justru kunci keselamatan.
Jika memang ancaman, setidaknya mereka bisa bersiap. Menyusun pertahanan. Menahan serangan dari tempat asal Cakra sebelum segalanya terlambat. Dan jauh di balik alasan itu, ada kepuasan sunyi membayangkan dirinya ikut menyelamatkan bumi yang selama ini ia sebut rumah.
Mynhemeni menoleh sekilas ke arah Cakra. Bocah itu menatap kosong ke kejauhan, seolah tak menyadari betapa berat masa depan yang tanpa sadar ia genggam. Laut di sekeliling mereka tenang, hampir menipu, seperti daratan yang menahan napas sebelum badai.
“Iya, aku paham. Sekarang, aku sedang bergerak menuju rumah orang tuamu,” ucap Mynhemeni. Hubungan telepati itu meredup, menyisakan keheningan yang terasa padat.
Saat itulah ia menyadari ada yang berubah.
Cakra tidak lagi berada di tempatnya semula. Mynhemeni menoleh sekilas dan melihat bocah itu melangkah pelan ke arah dinding di belakang mereka, seolah ditarik oleh sesuatu yang tak kasatmata. Pandangannya menangkap Cakra berdiri beberapa langkah dari dinding jet, terpaku pada sesuatu yang melayang pelan di air.
Di hadapan Cakra, melayang seekor makhluk menyerupai kupu-kupu sebesar buah mentimun, berputar di hadapan Cakra seolah memanggilnya. Sayapnya tidak lebar, namun setiap kepakan memercikkan cahaya biru dan kuning keemasan yang berkilau lembut, seperti pantulan lampu kota di permukaan air laut.
Gerakannya tenang, nyaris sopan, seakan benar-benar memanggil. Saat diamati lebih dekat, tubuh makhluk itu mengejutkan. Bentuknya menyerupai manusia mungil, lengkap dengan tangan dan kaki yang halus.
Cakra mendekat satu langkah. Ketika ia memperhatikan lebih saksama, dadanya mengencang. Tubuh makhluk itu tidak sepenuhnya seperti serangga. Ada lengan kecil, kaki ramping, dan proporsi yang terlalu manusiawi untuk disebut kebetulan. Jari Cakra terangkat, dan terhenti beberapa senti di udara. Ia menahan diri, jantungnya berdebar antara rasa ingin tahu dan kewaspadaan.
Ada dorongan kuat untuk menyentuh, rasa penasaran yang menggelitik dan menenangkan sekaligus. Akan tetapi, ia memilih mengurungkan niat. Tangannya perlahan turun. Cakra hanya berdiri di sana, mengagumi makhluk mungil itu dari jarak dekat, membiarkan cahaya berpendar di wajahnya. Sekilas, ia merasa ada sesuatu yang familiar.
Wajah makhluk itu. Terlalu mirip dengannya.
Di saat yang sama, suara Saljiva kembali bergema di benak Mynhemeni.
“Berarti aku harus mengembalikan Svalin ini ke Georu?” tanyanya dengan nada enggan. Ada kekecewaan tipis di balik kata-katanya, seperti anak kecil yang diminta berhenti bermain terlalu cepat.
“Iya, nanti akan aku pinjamkan Svalin yang digunakan anak itu,” ucap Mynhemeni.
Kalimat itu langsung bekerja seperti percikan listrik. Saljiva tersenyum lebar, terlalu cepat untuk situasi yang seharusnya genting. Wajahnya yang semula tegang mendadak terang, membuat Georu menoleh dengan dahi berkerut. Ia menatap Saljiva seolah sedang mencoba membaca makna tersembunyi di balik ekspresi itu. Dalam kondisi seperti ini, rasa senang terasa seperti kesalahan hitung.
“Baiklah,” lanjut Saljiva, suaranya kembali terkendali meski sisa antusias masih mengambang di matanya.
“Aku tunggu kedatangan Kak Hemy. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku dulu, lalu menunggu kalian di rumah. Jangan lupa, saat tiba, matikan penyamaran. Aku harus bisa mengenali kalian.”
“Ok. Sampai ketemu,” jawab Mynhemeni. Suaranya bergetar halus di dalam kepala Saljiva.
“Delapan puluh tujuh menit lagi dari sekarang.” Getaran itu perlahan menghilang. Saljiva merasakan kekosongan sesaat, seperti ketika ombak surut terlalu cepat dan meninggalkan udara dingin di kulit. Ia melepaskan Svalin dari Sanvarnya. Alat kecil itu langsung melesat, melengkung rapi, lalu menempel kembali di belakang telinga kiri Georu. Kemudian menyatu dengan Sanvar Georu
Georu menatapnya semakin aneh.
Saljiva mengernyit, lalu berbicara dalam batin. “Kenapa kamu menatapku seperti itu?”
Tak ada reaksi. Georu hanya memiringkan kepala, kebingungan itu kini utuh di wajahnya.
“Kenapa kamu menatapku begitu? Apa yang salah dari diriku?” Saljiva bertanya lagi, masih tanpa suara. Kali ini ia menajamkan tatapan dan mengangguk lebih keras, seolah ekspresinya saja sudah cukup untuk menjelaskan kekesalannya.
Georu berkedip, lalu mengerutkan kening. “Kamu kenapa sih?” Ia mundur setengah langkah, menatap Saljiva seperti sedang mengamati gejala penyakit langka yang baru pertama kali muncul.
“Kok tiba-tiba aneh begitu?”
“Aku dari tadi bertanya,” ujar Saljiva akhirnya dengan suara terdengar, nada kesalnya tak lagi tertahan. Ia melangkah maju dan menjatuhkan tubuhnya ke belakang, gerakannya refleks, seolah yakin ada sesuatu yang akan menopangnya. Detik berikutnya, lantai di bawahnya bergelombang lembut seperti pasir basah tersapu ombak, lalu naik membentuk sofa. Saljiva mendarat dengan pas, tanpa guncangan.
Georu mendengus. “Bagaimana bisa aku tahu kamu ngomong apa kalau kamu cuma memainkan ekspresimu seperti itu?” protesnya. Ia ikut menjatuhkan diri, dan lantai rumahnya kembali beradaptasi, merapat dan membentuk dudukan lain yang menahan tubuhnya dengan empuk.
Saljiva terdiam sesaat, lalu tertawa pendek. Ia mengusap pelipisnya, merasa bodoh sendiri. “Oh iya, aku lupa. Aku sudah tidak pakai Svalin itu lagi.”
Ia menoleh ke arah Georu, kali ini dengan ekspresi lebih tenang, meski masih menyisakan rasa penasaran. “Jadi,” katanya pelan, “kenapa kamu menatapku seperti itu?”
“Kamu kenapa tadi tersenyum? Kita sedang berada di situasi yang rasanya tidak sejalan dengan ekspresimu barusan.”
Saljiva menoleh, lalu tersenyum lagi tanpa rasa bersalah. “Aku cuma menyayangkan Svalin harus lepas dari Sanvarku,” katanya ringan. Ada kilat jujur di matanya.
“Tapi Kak Hemy bilang dia akan meminjamkan Svalin yang dipakai anak itu.” Rasa senang itu tak ia sembunyikan. Tangannya terangkat ke udara, seolah hendak memeluk sesuatu yang tak kasatmata. Saat kedua telapak tangannya hampir bertemu, cahaya tipis beriak seperti arus laut yang tenang. Seketika, sebuah boneka muncul di antara lengannya. Bentuknya lucu sekaligus aneh, perpaduan Patamon dan Gabumon, dengan mata besar dan telinga yang tampak terlalu hidup. Boneka itu melayang sesaat sebelum melesat dan mendarat pas di pelukan Saljiva.
“Dari tadi aku juga mikir,” lanjutnya sambil menekan wajah ke boneka itu, suaranya sedikit teredam, “alasan apa yang bisa kupakai buat mengajukan alat itu secara resmi. Tapi sepertinya memang tidak ada.”
Georu mengamatinya dengan dahi berkerut. “Serius,” katanya pelan, bingung bercampur heran. “Kamu memang belum pernah pakai Svalin?”
Dalam benaknya, posisi Saljiva seharusnya membuat semua fasilitas terasa mudah dijangkau. Apalagi sekarang, ketika timnya tengah mengembangkan perangkat untuk menganalisis dunia dimensi lain. Proyek yang bukan hanya diawasi atasan, tapi juga dipantau langsung oleh Anap terutama kedua orang tua Saljiva.
“Belum pernah, karena dalam pekerjaan kami tidak ada yang perlu dirahasiakan." Ia berhenti sejenak, memeluk bantal kembali lalu menoleh pada Georu.
"Kalau kalian pasti membutuhkannya. Karena kerjaan kalian menyangkut keamanan dan pertahanan nasional.” ucap Saljiva dengan nada yakin yang nyaris terdengar sok tahu.
Georu tidak menanggapi pernyataan itu. Ia justru mengalihkan pandangan sesaat, lalu kembali menatap Saljiva dengan sorot mata yang lebih tajam. “Tapi bukankah kalian sedang mengembangkan alat untuk menganalisis dimensi dunia lain?” tanyanya.
“Ada indikasi kuat bahwa entitas yang menghancurkan planet kita berasal dari sana, kan?" Nada suara Georu tidak meninggi, tapi tekanan di setiap katanya terasa jelas.
Other Stories
Agum Lail Akbar
Tentang seorang anak yang terlahir berkebutuhan khusus, yang memang Allah ciptakan untuk m ...
Tenda Dan Hujan Bercerita
Perjalanan liburan kali ini, terasa lebih istimewa baginya. Selain bahagia berkumpul bers ...
Beyond Two Souls
Saat libur semester, Fabian secara tiba-tiba bertemu Keira, reuni yang tidak direncanakan ...
Rei Kazama
Sebuah helm retak. Sebuah arwah yang tak bisa pergi. Dan seorang gadis yang bisa mendengar ...
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...