Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia

Reads
9.8K
Votes
6.9K
Parts
71
Vote
Report
Negeri bawah laut porkah: cakra di samudra hindia
Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia
Penulis Virdytan

Bab 53 - Kecepatan Yang Tidak Terasa

“Oh, iya… paham.” Cakra mengangguk kecil, matanya berbinar.

“Wah, bagus juga ya. Kalau lagi ingin hiburan, bisa benar-benar fokus tanpa terganggu.” Ia terkekeh pelan, lalu dahi­nya berkerut.

“Tapi kalian bisa terlena dong dengan hiburan?”

“Tidak,” jawab Mynhemeni cepat. Bahunya tetap tegap, nada suaranya tegas seperti sedang melaporkan sesuatu.

“Kami tetap harus menjalankan tugas. Lagi pula, ada batasan waktu untuk berada di dunia virtual.”

“Batasan?” Cakra memiringkan kepala.

“Maksimal dua kali tiga jam dalam sehari,” lanjut Mynhemeni.

Cakra berkedip. “Dua kali tiga jam itu maksudnya bagaimana?”

“Kami hanya bisa akses dunia hiburan selama tiga jam dalam satu waktu. Setelah itu, sistem otomatis mengeluarkan kami. Kami baru boleh masuk lagi setelah jeda minimal satu jam. Dalam dua puluh empat jam, hanya boleh akses dunia hiburan sebanyak dua kali,” jelas Mynhemeni. Ia menarik napas pelan, lalu melanjutkan.



“Aturan ini dibuat supaya hidup kami tetap seimbang. Pekerjaan, keluarga, dan kehidupan di luar dunia virtual tetap berjalan.” Kalimat terakhirnya terdengar lebih pelan, hampir seperti pengingat untuk dirinya sendiri.



Mynhemeni menutup mulut rapat, menahan kantuk yang tiba-tiba menyerang. Kelopak matanya sempat merendah sesaat. Ia menggerakkan kepalanya kecil, lalu sebuah bola mungil nyaris tak terlihat masuk ke mulutnya. Beberapa detik berlalu. Sorot matanya kembali jernih. Cakra sama sekali tidak menyadari apa pun.



“Tapi kalau film atau gimnya belum selesai bagaimana? Masa harus nunggu besok?” tanya Cakra.



“Tidak perlu, avatarmu yang akan melanjutkannya. Kamu akan menyaksikannya saat tidur. Lewat mimpi.”



“Wah…” Cakra tersenyum lebar.



“Dunia kalian seimbang dan teratur sekali. Aku iri.” Ia tertawa kecil, lalu menambahkan dengan jujur, “Aku jadi ingin merasakan hidup di dunia kalian.”

Mynhemeni membeku sepersekian detik.

“Kamu ingin tinggal di Porkah?” tanyanya, suaranya nyaris tak menyembunyikan keterkejutannya. Pikirannya berlari cepat. Jika Cakra tidak berbahaya dan memang ingin menetap, semuanya bisa selesai. Ia tidak perlu terus bersembunyi. Tidak perlu lagi melarikan diri dari Rumsun. Namun jika Cakra adalah ancaman, keinginan itu tidak pernah benar-benar menjadi pilihan.

“Sempat terpikirkan,” jawab Cakra, nada suaranya merendah.

“Tapi aku tidak mungkin tinggal di tempat yang tidak bisa dijangkau ayah dan ibuku. Mereka pasti ingin menjengukku. Lagipula… aku masih harus melanjutkan kuliah.” Senyumnya menipis.

Mynhemeni mengangguk pelan.

“Hm...” Ia berusaha terdengar ringan.

“Kamu boleh berkunjung, sesekali.” Ada kalimat lain yang hampir terucap di bibirnya. Kalimat yang menyiratkan syarat kalau Cakra bukan merupakan ancaman. Kalimat itu berhenti tepat sebelum menjadi suara. Ia memilih menelannya kembali.

Untuk saat ini, diam terasa jauh lebih aman.

“Betulkah...?” Mata Cakra berbinar. Pikirannya langsung melayang, membayangkan negeri Porkah terbentang luas dengan bangunan-bangunan asing yang terasa akrab, teknologi yang begitu canggih namun seolah bernapas seperti makhluk hidup.

Ia membayangkan dirinya berjalan bebas di sana, mempelajari mesin-mesin yang tak pernah ada di buku pelajaran manusia darat. Bahkan sempat terlintas keinginan yang membuatnya tersenyum sendiri. Bagaimana kalau ia melanjutkan kuliah di Porkah saja, bukan di MIT.

Bayangan itu berkembang semakin liar. Ia melihat dirinya mengajak ayah dan ibunya berkunjung, menunjukkan negeri bawah laut itu seperti seorang pemandu wisata yang bangga. Sahabat-sahabatnya akan ternganga, tentu saja. Siapa yang tidak akan kagum.

“Andai saja manusia darat bisa hidup di sini…” gumam Cakra pelan. Suaranya nyaris tenggelam oleh denyut halus ruang jet Porkah yang bergetar lembut, seperti tanah yang bernapas di bawah kaki. Ia membayangkan orang-orang yang ia cintai berjalan bersamanya, tertawa, berwisata, tanpa rasa takut.

“Sebenarnya bisa,” jawab Mynhemeni.

Cakra menoleh cepat. “Apa?”

“Manusia darat bisa hidup di sini,” ulang Mynhemeni tenang.

“Kami punya teknologinya. Mereka akan menggunakan Sanvar khusus yang memungkinkan tubuh manusia beradaptasi sepenuhnya dengan lingkungan Porkah.” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Itu yang kami lakukan pada manusia darat yang hanyut di laut dan masih sempat kami selamatkan.”

Cakra terdiam, lalu menelan ludah.

“Jadi… sudah ada manusia darat yang melihat Porkah?” tanyanya tak percaya, suaranya bergetar antara kagum dan terkejut.

“Iya,” jawab Mynhemeni sambil mengangguk pelan. Anggukan itu terasa ringan, namun di dada Cakra, maknanya jatuh seperti batu ke air tenang, menciptakan gelombang yang tak terlihat.

“Tapi… kenapa tidak ada satu pun berita tentang Porkah di seluruh dunia,” tanya Cakra pelan.

“Kalau memang sudah ada manusia darat yang pernah melihatnya?” Pertanyaan itu membuat dada Mynhemeni mengencang sesaat. Ia sadar, kalimat barusan nyaris menjadi kesalahan fatal.

Tentu ia tak mungkin mengatakan kebenaran bahwa ingatan manusia-manusia itu dihapus begitu saja setelah mereka pulih, lalu dikembalikan ke daratan seolah tak pernah menyentuh dunia bawah laut. Terlebih lagi, Cakra sendiri memang ditakdirkan mengalami hal yang sama, jika kelak ia dinyatakan bukan ancaman.

Negeri yang dicintainya ini harus dilupakan olehnya.

“Sebenarnya mereka tidak pernah melihat Porkah,” jawab Mynhemeni akhirnya, suaranya terdengar tenang meski pikirannya berkejaran.

“Begitu mereka sembuh, kami langsung mengembalikan mereka ke daratan. Jadi mereka tidak sadar kalau sempat berada di wilayah kami.”

“Oh…” Cakra mengangguk pelan. Lalu bibirnya melengkung kecil, seperti menemukan kepingan logika yang pas.

“Iya juga ya. Kukira kalian menghapus ingatan manusia darat yang kalian selamatkan.”

Tebakan itu terlalu tepat.

Mynhemeni sedikit salah tingkah, bahunya bergerak canggung sebelum ia segera menarik napas dan memutuskan untuk mengalihkan arah percakapan, secepat arus laut yang berubah arah tanpa peringatan.

“Oh iya,” katanya, nada suaranya dibuat lebih ringan. “Kami sudah mendapatkan tempat untuk menganalisismu.”

Cakra menoleh cepat.

“Oh ya? Di mana?” Antusiasmenya langsung bangkit, menenggelamkan bayangan tentang orang tua dan sahabat-sahabatnya yang tadi sempat ingin ia ajak berkunjung ke Porkah. Pertanyaan itu pun menguap, larut dalam rasa penasaran yang baru saja menyala.

“Tempat adik iparku,” kata Mynhemeni. Suaranya terdengar mantap, meski matanya sempat melirik jauh ke hamparan biru kehijauan di kejauhan.

“Seperti yang tadi kukatakan, dia jenius dalam teknologi analisis. Dia sudah mengizinkan kita memakai tempatnya.” Ia berhenti sejenak, memilih kata dengan hati-hati.

“Kemungkinan besar dia juga akan merancang teknologi baru di sana. Untuk memastikan satu hal. Apakah kamu ancaman atau tidak.”

Nada suaranya merendah. “Dan untuk menjawab asal semua kekuatanmu.”

“Kalau begitu, tunggu apa lagi?” Cakra langsung duduk lebih tegak, semangatnya meletup tanpa saringan.

“Ayo kita ke sana sekarang!” Bayangannya sudah berlari lebih dulu. Ruang penuh cahaya, mesin-mesin asing, teknologi Porkah yang belum pernah disentuh imajinasinya. Hal-hal yang selama ini hanya hidup di teori dan mimpi.

Mynhemeni tersenyum tipis.

“Sebenarnya, sejak tadi kita memang menuju ke sana.” Ia menghela napas kecil.

“Hanya saja, kita tidak bisa lagi menggunakan Vorna. Jadi kita harus pergi secara manual.”

“Manual?” Cakra mengerjap. “Memangnya sejauh apa tempat adik iparmu?”

Mynhemeni menoleh padanya. “Dari titik ini sekitar delapan ribu seratus kilometer.”

“Apa?” Cakra nyaris tersedak kata itu. Angka itu menghantam pikirannya keras. Jaraknya setara perjalanan dari Jakarta ke Istanbul, Turki.

“Delapan ribu seratus kilometer?” Cakra menghela napas pelan.

“Jauh sekali. Butuh waktu paling nggak tiga belas jam untuk sampai ke sana dengan jet pribadi ayahku.” Pikirannya segera bergerak cepat, menghitung jarak dan waktu. Ia sudah sering terbang dengan jet pribadi milik ayahnya dari Jakarta ke Istanbul. Dari rumah hingga mendarat, seluruh perjalanan itu biasanya memakan waktu hampir lima belas jam.

Pikirannya langsung melompat pada satu hal yang paling ia butuhkan saat ini. Tidur.

Tiga belas jam terkurung di ruangan ini seharusnya bukan masalah besar. Kamarnya mewah, sunyi, dan berkilau lembut, seperti daratan yang diselimuti laut. Namun tubuhnya mulai mengajukan protes. Ia tak mungkin terjaga selama itu tanpa melakukan apa pun.

Tidak ada buku. Tidak ada ponsel. Tidak ada televisi. Tidak ada konsol permainan. Ia akan mati oleh kebosanan jauh sebelum tiba di tujuan.

Tidur tampak seperti satu-satunya jalan keluar.

Sayangnya, sofa yang ia duduki tidak cukup nyaman untuk berbaring. Panjangnya hanya sampai lutut, tak memberi ruang bagi tubuhnya untuk benar-benar merebah. Ia sempat terpikir untuk tidur sambil duduk, lalu mulai bergeser, mencoba berbagai posisi, mencari sedikit kenyamanan. Namun tak satu pun berhasil menenangkan tubuhnya. Akhirnya, ia menyerah. Di dalam kepalanya, muncul satu ide sederhana.

Tidur saja di lantai.

Belum sempat ia beranjak, sofa di bawahnya bergetar halus. Cakra membeku. Permukaannya perlahan melebar, memanjang, lalu melengkung mengikuti bentuk tubuhnya. Dalam hitungan detik, sofa itu berubah menjadi tempat tidur single yang pas, mirip ranjang malas di kolam renang hotel mewah, hanya saja jauh lebih empuk, lebih memanjakan, dan lebih meninabobokan.

Seolah membaca keinginannya sebelum sempat ia ucapkan.

Cakra terkejut, lalu tertawa kecil. Rasa kaget itu cepat digantikan kenyamanan yang nyaris tak masuk akal. Ada sensasi pijatan lembut menyusuri punggung dan bahunya, ritmis, menenangkan. Otot-ototnya mengendur.

Kepalanya ditopang dengan hati hati oleh sesuatu yang terasa seperti tangan, lalu sebuah bantal muncul di bawah tengkuknya. Ia menghela napas panjang. Ini bukan sekadar nyaman. Ini terlalu nyaman. Mengalahkan kasur hotel termewah yang pernah ia coba.

“Bagaimana…” gumam Cakra, matanya setengah terpejam, heran sekaligus tak ingin tahu terlalu banyak.

Mynhemeni menoleh, sudut bibirnya terangkat tipis. “Kamu ingin tidur?”

“Nggak… aku cuma kepikiran,” kata Cakra sambil melirik ruangan di sekelilingnya.

“Tiga belas jam duduk di sini pasti bikin pegal dan membosankan. Aku pengen rebahan. Terus tiba-tiba sofa ini bergerak sendiri.” Mynhemeni menoleh sekilas, ekspresinya tenang seperti permukaan laut yang menipu.

“Perabotan di tempat kami memang begitu. Mereka mengikuti keinginan penghuninya lewat Sanvar. Seperti yang sudah aku bilang, Sanvar terhubung ke seluruh teknologi Porkah. Kalau kamu mau tidur, silakan. Aku harus tetap terjaga.” Ia tetap duduk santai, namun punggungnya lurus, bahunya siap bergerak kapan saja. Sikap seseorang yang bisa terlihat rileks tanpa benar benar lengah.

Dengan gerakan kecil, ia memberi perintah tanpa suara. Sofa di bawahnya bergeser mundur, lalu memanjang perlahan ke depan, berhenti tepat sebelum menyentuh meja di hadapannya.

Kini tubuh Mynhemeni bersandar dengan sudut condong, kakinya terentang nyaman di atas permukaan sofa, seolah ruangan itu memahami batas dan kebutuhannya.

“Nggak, aku belum mau tidur,” jawab Cakra cepat.

Sofa di bawah tubuhnya kembali berubah. Permukaannya mengerut lalu membentuk kursi tunggal yang dapat diatur. Sandarannya melandai hingga membuat punggung Cakra condong ke belakang, hampir setengah rebah. Kakinya ditopang penuh, lurus dan ringan.

“Boleh kan aku duduk begini?” tanyanya, ragu kalau sikapnya dianggap kurang sopan.

Mynhemeni hanya mengangguk.

Cakra tersenyum puas. “Kalau begini, aku sih nggak masalah perjalanan tiga belas jam.”

Ia membayangkan sebuah bantal yang bisa dipeluk, sesuatu yang akan menyempurnakan posisinya. Tak lama kemudian, bayangan itu menjadi nyata. Sebuah bantal muncul di atas dadanya, pas dengan lekuk tubuhnya, seolah memang diciptakan khusus untuk dipeluk dengan nyaman.

“Perjalanan kita tidak selama itu,” jawab Mynhemeni tenang.

“Sekitar tujuh puluh menit saja dengan kecepatan ini.”

“Tujuh puluh menit?” Cakra langsung menegakkan tubuhnya. Bantal di tubuhnya langsung menghilang begitu saja. Sofa itu seketika kembali ke bentuk semula, tegak dan ringkas, seperti tidak pernah berubah sebelumnya.

“Berarti jet ini melaju sekitar tujuh ribu kilometer per jam?” Mata Cakra membesar. Ia mencoba membayangkannya, udara terbelah, jarak dilipat begitu saja. Mynhemeni membalasnya dengan anggukan ringan, seolah kecepatan secepat itu hanyalah hal biasa di dunia bawah laut yang meniru daratan.

“Kebetulan saat aku menghubungi adik iparku, kita sudah bergerak ke selatan,” kata Mynhemeni. Nada suaranya datar, seolah sedang membicarakan rute jalan biasa.

“Dan untungnya searah dengan Distrik Anap. Tempat kamu akan dianalisis. Jadi kita sudah curi start.” Mynhemeni melirik ke panel casvet yang tiba-tiba muncul di depan matanya, lalu kembali menatap Cakra.

“Seharusnya, dari titik kemunculan kita tadi sampai ke tujuan, butuh sekitar satu setengah jam dengan kecepatan penuh. Seperti sekarang. Kita sedang melaju dengan kecepatan maksimal.”

“Berarti jarak titik awalnya…” Cakra terdiam. Angka-angka berloncatan di kepalanya, saling bertabrakan, mencoba membentuk gambaran.

“Sekitar sepuluh ribu kilometer dari tujuan?” Mynhemeni mengangguk sekali.

Cakra menghela napas pelan. Ada rasa takjub yang naik perlahan, bukan seperti ledakan, melainkan seperti gelombang besar yang datang tanpa suara. Ia sama sekali tidak merasa sedang melaju secepat itu.

Tidak ada tekanan, tidak ada hentakan. Jet itu meluncur mulus, seperti berjalan di atas jalan raya yang sempurna, padahal ribuan meter air laut membentang di luar dindingnya.

Pikirannya sempat membandingkan. Roket antariksa manusia darat dengan awak di dalamnya mampu melaju hingga hampir empat puluh ribu kilometer per jam. Ia pernah membaca bahwa, setidaknya di atas kertas, kecepatan seperti itu bisa memangkas jarak antarbenua menjadi urusan menit. Jet ini masih kalah jauh. Namun tetap saja, untuk sebuah kendaraan terbang, lajunya terasa nyaris tak masuk akal.

“Kendaraan ini cepat juga ya,” gumam Cakra sambil menatap kosong ke depan.

“Tapi aku sama sekali nggak ngerasa apa apa.” Ia tertawa kecil, lebih ke arah heran daripada senang. Dalam hatinya, ia sempat berpikir rasa takjubnya sudah habis sejak sadar dirinya hidup di dasar laut. Sejak saat itu, ia yakin tidak ada lagi yang bisa benar benar mengejutkannya.

Nyatanya, bangsa Porkah selalu menemukan cara untuk membuktikan sebaliknya.

“Kalau begitu...” Cakra menyandarkan punggungnya, matanya berkilat penuh rasa ingin tahu.

“Kendaraan tercepat apa yang kalian punya?” Mynhemeni tidak langsung menjawab. Ia menatap lurus ke depan, seolah sedang menimbang seberapa banyak kebenaran yang aman untuk dilepas.

“Pesawat tempur kami,” katanya akhirnya. “Kecepatan maksimalnya sekitar lima puluh ribu kilometer per jam. Dan pesawat luar angkasa kami—”

“Apa?” Cakra langsung menoleh tajam.

“Kalian punya pesawat luar angkasa?”

Kalimat itu meluncur begitu saja, tapi efeknya terasa seperti batu yang jatuh ke air tenang. Mynhemeni terdiam. Untuk sesaat, ekspresi tenangnya retak. Hanya sedikit, tapi cukup jelas bagi Cakra yang sejak awal belajar membaca bahasa tubuhnya. Udara di kabin terasa berubah. Tetap nyaman, tetap stabil, tapi ada ketegangan halus yang mengambang, seperti arus laut yang tiba-tiba berbelok arah.

“Kalian bukan alien, kan?” Cakra mencondongkan tubuhnya ke depan. Nadanya setengah bercanda, setengah menusuk.




Other Stories
Kastil Piano

Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...

Tessss

pengaplikasian doang ...

Mak Comblang Jatuh Cinta

Miko jatuh cinta pada sahabatnya sejak SD, Gladys. Namun, Gladys justru menyukai Vino, kak ...

Hotel Tanpa Cermin

Kala memilih menetap sementara di sebuah hotel yang terasa berbeda dari tempat-tempat yang ...

Metafora Diri

Cerita ini berkisah tentang seorang wanita yang mengalami metafora sejenak ia masih kanak- ...

Rembulan Digenggam Malam

Pernah nggak kamu kamu membayangkan suatu hari kamu bangun di 1 Januari, terus kamu diberi ...

Download Titik & Koma