Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia

Reads
9.8K
Votes
6.9K
Parts
71
Vote
Report
Negeri bawah laut porkah: cakra di samudra hindia
Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia
Penulis Virdytan

Bab 50 - Demi Bukti Atau Pengkhianatan

“Anak itu benar-benar manusia darat, kan, Kak?” Hanya itu yang sanggup keluar dari mulut Saljiva, beberapa detik setelah rangkaian tayangan tentang Cakra lenyap dari benaknya. Suaranya terdengar tipis, seperti seseorang yang baru kembali dari perjalanan jauh dan belum sepenuhnya yakin kakinya menapak tanah.

“Sejauh ini, itu yang dia katakan,” jawab Mynhemeni cepat, nadanya tegang namun terkontrol.

“Itulah sebabnya aku butuh tempat yang aman untuk menggali lebih dalam tentang anak ini. Rumsun sudah mengincarnya. Kamu bisa lihat sendiri pernyataannya lewat Georu. Mereka sedang berusaha melacak keberadaanku.” Tekanan di kalimat terakhir membuat air di sekitar ruangan terasa lebih berat, seolah arus laut ikut menahan napas.

“Georu,” Saljiva spontan bersuara, kali ini tanpa sadar menggunakan suara sungguhan.

“Apa benar Rumsun mengincar anak ini?”

“Benar,” jawab Georu. Tangannya terayun ringan, dan seketika sensasi ruang pertemuan utama menyeruak ke dalam kesadaran Saljiva.

“Kalau anak itu bukan ancaman, dia akan dijadikan objek penelitian oleh Rumsun. Tapi aku yakin, Rumsun menginginkan lebih dari itu. Anak itu akan dijadikan senjata rahasia. Rumsun butuh simbol untuk naik menjadi Raja. Kamu tahu sendiri keluarganya. Adiknya sudah Ratu, tapi mereka tetap ingin lebih.”

Nada Georu terdengar setengah mengejek, setengah muak.

“Wajar saja. Demi mewujudkan ambisi adik kakek dari pihak ibuku yang gagal jadi Raja,” tambahnya, hampir tertawa kecil karena absurditas alasan itu.

Saljiva terdiam. Bayangan pertemuan Rumsun dengan para petinggi keamanan dan pertahanan distrik Porkah masih terpatri jelas di kepalanya. Wajah-wajah serius, keputusan-keputusan dingin, dan satu nama yang terus berulang. Cakra.

“Sungguh… ini sulit dipercaya,” gumamnya pelan. Dadanya terasa sesak, seperti berdiri di daratan saat gempa kecil baru saja berhenti, tahu bahwa getaran berikutnya mungkin akan jauh lebih besar.

“Kakak yakin anak itu bukan ancaman?” Saljiva kini sepenuhnya beralih pada Mynhemeni. Pertanyaannya tak keluar sebagai suara. Ia mengalir begitu saja di dalam kepala, lebih tajam dari kata-kata yang diucapkan. Ia butuh keyakinan, bukan dugaan.

“Sejauh ini, tidak,” jawab Mynhemeni segera. Ada kejujuran yang dipaksakan di sana, seperti seseorang yang menahan diri agar tidak terdengar terlalu berharap.

“Dia tidak pernah berniat mencelakaiku. Kamu sudah melihat sendiri caranya menyanderaku. Tidak ada kekerasan yang disengaja. Tidak ada dorongan untuk membunuh.”

Saljiva mengingat kembali adegan itu. Gerak Cakra yang ragu, keputusan-keputusan yang diambilnya seperti orang yang terpojok, bukan predator. Mynhemeni menangkap keraguan di benak Saljiva dan terus mendorongnya, berharap celah itu melebar.

“Aku tahu kamu berpikir jauh,” lanjutnya pelan. “Tapi ingat, Rumsun juga musuh politik keluargamu.”

Kalimat itu tidak pernah dilontarkan tanpa alasan. Mynhemeni tahu betul posisi Saljiva dalam peta kekuasaan Porkah. Ayah dari suaminya adalah salah satu kandidat Raja, sebuah kebenaran yang jarang disebut, nyaris tak pernah dibicarakan dengan suara keras, namun selalu hadir.

Saat ini, delapan nama telah diumumkan ke seluruh penjuru negeri. Delapan figur yang membawa sejarah masing-masing, ambisi yang berbeda, dan barisan pendukung yang siap bergerak kapan saja. Mereka muncul melalui dua jalur. Ada yang maju atas kehendak sendiri, dan ada pula yang lahir dari dorongan suara rakyat, didorong naik oleh gelombang harapan bangsa.

Namun dari delapan nama itu, tiga paling berusaha untuk menggema.

Ketiganya maju melalui jalur mandiri, mendorong diri mereka sendiri ke pusat panggung kekuasaan. Kilatuilom, sahabat Rumsun yang kini menduduki kursi Perdana Menteri. Ia licin, terlatih, dan tahu persis kapan harus tersenyum serta kapan harus menusuk dari balik kata-kata.

Lalu Rumsun sendiri. Sosok yang bayang-bayang kekuasaannya selalu tiba lebih dulu daripada langkahnya, seolah Porkah telah lama mengenali namanya bahkan sebelum ia berbicara.

Nama ketiga adalah Jikiuhosbu, ayah dari suami Saljiva dan Ketua Distrik Lguih. Distrik itu terletak jauh di barat laut Distrik Nor, membentang di laut lepas yang dalam dan dingin, tak jauh dari kawasan barat Afrika. Letaknya terpencil namun strategis, hanya sekitar dua ribu kilometer dari Madeira, pulau milik Portugal yang berdiri sendiri di tengah samudra.

Lima nama lain yang diajukan langsung oleh rakyat Nor menggema nyaris bersamaan, seperti gelombang yang saling bertubrukan di perairan dalam.

Thungsiruv, ayah Mynhemeni, muncul sebagai wajah dari kestabilan lama yang masih dipegang banyak pihak. Nama Hurnum ikut menguatkan daftar itu. Menteri Persediaan Kebutuhan Dasar Porkah tersebut dikenal bukan karena pidatonya, melainkan karena satu hal sederhana yang tak pernah gagal ia jaga, perut rakyat tetap terisi.

Lalu Gurulhisbt, Ketua Distrik Hokuiol, wilayah pertahanan nasional yang letaknya tak jauh dari Ibukota. Ia dikenal licin namun cerdas, seorang perencana yang lebih suka bergerak di balik dinding daripada di bawah sorotan.

Daftar itu ditutup oleh Hujabur, menteri dengan jaringan kuat yang menjalar ke hampir setiap distrik, serta Yuklomun, Ketua Distrik Belnu, pusat teknologi kesehatan Porkah. Namanya belum setenar yang lain, tetapi dukungan untuknya tumbuh pelan dan konsisten, seperti karang yang membangun rumahnya butir demi butir di dasar laut.

Daftar itu belum final. Nama-nama akan terus bermunculan hingga Raja benar-benar wafat atau posisinya tergeser. Lalu, sehari setelah itu, Raja baru ditentukan.

Pemilihan umum Porkah tidak membutuhkan bilik suara, kertas, atau teriakan kampanye. Caranya sederhana dan menakutkan. Setiap warga hanya boleh memikirkan satu nama secara serentak. Mereka diberi waktu kurang dari tiga puluh detik. Tak ada diskusi, tak ada koreksi. Nama yang muncul di kepala mereka akan langsung terkirim ke pusat pengumpulan suara melalui Sanvar masing-masing. Dalam sekejap, hasilnya bisa disaksikan, baik terpampang di hadapan mata, maupun bergaung di dalam pikiran mereka sendiri.

Begitu cepatnya, hingga tak ada ruang untuk penyesalan.

Itulah sebabnya, bayangan Rumsun menguasai Cakra membuat Saljiva tak mungkin tinggal diam. Ia tidak ingin Rumsun menjadi Raja. Bukan hanya karena ia menolak melihat ayah mertuanya kalah dalam perebutan takhta, tetapi juga karena ia menolak dipimpin oleh sosok seorang oportunis. Kekuasaan di tangan Rumsun akan menjelma senjata, dan Saljiva tahu betul siapa saja yang akan terluka pertama kali.

“Aku paham…” gumamnya lirih, seolah suaranya tenggelam di antara arus laut yang tenang.

“Tapi ini kejahatan, kan? Kalau kita ketahuan, aku tidak tahu hukuman apa yang menunggu kita.” Dadanya terasa sesak. Bayangan penjara bawah laut melintas begitu saja. Lalu pengasingan.

Atau yang paling mengerikan, hukuman pelepasan jiwa. Sebuah tontonan publik. Tubuh yang perlahan kehilangan kesadaran, disaksikan keluarga, sahabat, dan seluruh rakyat Porkah. Sebuah proses kematian yang panjang, sunyi, dan penuh penyiksaan batin.

Saljiva menelan ludah. Ia tidak sanggup membayangkan persetujuannya membantu kakak iparnya justru menyeret dirinya ke tepi jurang itu. Ia ingin melindungi masa depan Porkah, tetapi tidak dengan mempertaruhkan hidupnya sendiri tanpa kepastian.

Kesadaran itu membuat dada Saljiva terasa berat. Politik, keluarga, dan seorang anak manusia darat kini terjerat dalam simpul yang sama. Dan ia tahu, sekali ia memilih berdiri di satu sisi, tak ada jalan kembali tanpa konsekuensi.

“Karena itu aku butuh kamu,” ujar Mynhemeni, suaranya menurun namun justru terasa lebih tegas.

“Aku harus punya bukti konkret tentang anak ini. Kalau dia bukan ancaman, aku akan memulangkannya. Aku sudah berjanji padanya. Rumsun tidak akan melakukan hal yang sama.” Ia menarik napas, sejenak diam, seolah menahan arus yang lewat di antara dinding jet itu.

"Kamu sudah merasakannya sendiri, kan. Saat anak itu mencekikmu.” Refleks, Saljiva mengusap lehernya. Ingatan sensasi itu muncul begitu saja. Tekanan dingin dan keras, seperti cengkeraman baja yang tiba-tiba melilit. Meski ia tahu itu hanya sensasi, tubuhnya tetap bereaksi. Tenggorokannya terasa sempit, napasnya seolah tertahan oleh air yang mendadak mengental. Ia bergidik, membayangkan ketakutan yang pasti dirasakan Mynhemeni ketika jemari Cakra melingkar di lehernya sungguhan.

“Iya,” jawab Saljiva pelan. Jemarinya masih bertahan di sana, seakan memastikan lehernya utuh.

“Aku yakin itu sangat menyakitkan.”

“Lebih dari sekadar sakit,” lanjut Mynhemeni.

“Butuh dua puluh menit sampai rasa itu benar-benar hilang. Anak ini luar biasa kuat. Aku bahkan ragu pertahanan nasional kita mampu menjatuhkannya jika terjadi benturan langsung. Kita tidak akan menang dengan cara kasar... Karena itu kita harus menganalisisnya. Diam-diam. Tanpa membangkitkan detektor apa pun dalam tubuhnya. Kita pelajari kekuatannya selagi dia masih mau bekerja sama.”

Saljiva mengangkat kepala.

“Maksud kakak,” ujarnya hati-hati, “kita harus tahu senjata apa yang bisa kita gunakan… kalau ternyata dia benar-benar ancaman.”

“Betul,” jawab Mynhemeni. Nadanya mantap, meski tak satu pun kata keluar dari bibirnya.

“Begitu semua jawaban terkumpul, aku akan langsung menuju istana. Kalau dia bukan ancaman, aku akan menghadap Raja dan meminta dukungan untuk melepaskan anak itu. Tapi jika sebaliknya, setidaknya kita sudah siap.”

Telepatinya tetap terjaga, mengalir senyap di antara mereka, sementara matanya tak lepas dari Cakra. Bocah itu duduk di hadapannya dengan bahu sedikit merosot, jemarinya sesekali mengetuk pinggiran sofa seperti orang yang menunggu bus yang tak kunjung datang. Di balik air yang tenang, kegelisahan itu terasa nyata, sama seperti di daratan.

Waktu jelas bukan sekutunya.

Beberapa detik kemudian, suara Saljiva kembali menggema di benak Mynhemeni.

“Aku paham,” katanya.

“Rumsun tidak akan pernah memulangkannya. Dan kalau anak itu merasa dikhianati…” Ia berhenti sejenak, bayangan kehancuran Porkah melintas begitu saja.

“Dia pasti mengamuk. Jujur saja, aku pun akan melakukan hal yang sama.”

“Itulah masalahnya,” balas Mynhemeni cepat. Ada ketegangan halus dalam pikirannya.

“Rumsun ingin anak itu tetap tinggal. Dan aku yakin, dia akan menggunakan segala cara agar keinginannya terwujud.”

“Oke, Kak. Aku tunggu Kak Hemy di tempatku… maksudku, di rumah orang tuaku, di Anap.”

Kalimat itu saja sudah cukup untuk membuat adrenalin Mynhemeni melonjak. Kebahagiaan datang seperti arus hangat yang menyusup lewat dada, cepat dan tak terduga.

Baru saat itulah ia benar-benar menyadari siapa orang tua Saljiva.

Mereka bukan sekadar petinggi distrik, melainkan Ketua dan Wakil Ketua Distrik Anap. Distrik yang namanya saja sudah membuat banyak orang menahan napas.

Anap bukan tempat biasa. Di sanalah spesies dari seluruh penjuru bima sakti dibedah dan dipelajari tanpa basa-basi. Ancaman kosmik tidak dianggap dongeng pengantar tidur, melainkan daftar pekerjaan harian.

Letaknya pun jauh dari distrik Porkah lainnya, tersembunyi di selatan, di bawah bongkahan es Antartika yang mengapung di lautan luas Samudra Selatan. Bersanding dengan perairan Samudra Hindia. Jauh, dingin, dan sengaja diasingkan.

Bukan tanpa alasan.

Medan magnet Bumi di wilayah itu berperilaku aneh, berdenyut seperti jantung yang tidak sepenuhnya patuh pada hukum alam. Anap memanfaatkannya sebagai sensor kosmik, pendeteksi anomali ruang dan waktu, sekaligus pos pengamatan makhluk luar sistem.

Di sanalah sejarah gelap Porkah dibuka lapis demi lapis. Penelitian tentang ancaman, bagaimanapun juga, memang seharusnya dijauhkan dari pusat populasi.

“Kita analisis bersama,” lanjut Saljiva, suaranya mantap.

“Kita pakai ruang kerja pribadi orang tuaku dan alat analisis antarspesies mereka. Kalau perlu, aku akan kembangkan teknologi tambahan untuk mendukung analisis Kak Hemy. Kita bertemu di rumah orang tuaku. Kebetulan mereka baru saja mendarat di Enceladus, bulannya Saturnus. Mereka akan kembali sebelum upacara kematian Kak Chuvohus.”

Mynhemeni menarik napas pelan. Laut di sekeliling mereka tetap tenang, seolah mendengarkan rencana yang baru saja diputuskan.

“Jam berapa kita ketemu di rumah orang tuamu?” tanya Mynhemeni

“Kabari aku begitu Kakak sudah sampai di sana,” jawab Saljiva singkat, seakan keputusan itu tak perlu ditawar lagi.



Other Stories
Terlupakan

Pras, fotografer berbakat namun pemalu, jatuh hati pada Gadis, seorang reporter. Gadis mem ...

Lantas, Kepada Siapa Ayah Bercerita?

Asdar terpaksa menjalani perjalanan liburan akhir tahun ke kampung halaman sang nenek sela ...

Desa Di Ujung Senja

Namaku Anin, aku hanya ingin berlibur ke rumah oma untuk mengisi liburanku seperti biasany ...

Manusia Setengah Siluman

Reno tak pernah tahu apa itu arti punya orang tua. Ia seorang yatim piatu yang berjuang hi ...

Melepasmu Dalam Senja

Cinta penuh makna, tak hanya bahagia tapi juga luka dan pengorbanan. Pada hari pernikahan ...

Impianku

ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...

Download Titik & Koma