Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia

Reads
9.8K
Votes
6.9K
Parts
71
Vote
Report
Negeri bawah laut porkah: cakra di samudra hindia
Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia
Penulis Virdytan

Bab 52 - Pantulan Diri

Saljiva mengangguk pelan, nyaris tak terasa. Namun pikirannya jauh melayang, kembali pada sosok Cakra. Ia sudah berkali-kali diyakinkan bahwa anak itu manusia darat, manusia bumi. Meski begitu, di sudut benaknya yang paling sunyi, kecurigaan itu tetap berdenyut. Ada sesuatu pada Cakra yang terasa melenceng, seolah ia bukan berasal dari bumi, bahkan bukan dari galaksi yang sama dengan planet asal mereka, Porkah.

"Kalau begitu, seharusnya ini bukan sesuatu yang diumumkan ke mana-mana,” lanjut Georu heran. Ia benar-benar tidak paham mengapa tim pengembang teknologi analisis justru begitu terbuka soal sesuatu yang seharusnya sensitif.

“Belum perlu dirahasiakan,” katanya Saljiva santai, ia pun menggeleng pelan. Rambutnya bergerak mengikuti aliran air yang halus.

“Kami belum mendapatkan hasil yang pasti.” Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum tipis.

“Kalau nanti memang berhasil dan kami benar-benar menemukan dimensi lain, mungkin kami semua akan diberi alat itu secara bersamaan. Itu pun kalau akhirnya diputuskan harus ditutup dari publik.” Ia menggerakkan lehernya, merasa tenggorokannya kering setelah berbicara panjang. Beberapa detik kemudian, sebuah bola kecil bening terbentuk di udara dan meluncur masuk ke mulutnya. Sensasi sejuk langsung menyebar, membuatnya menghela napas lega, seolah baru saja meneguk air segar setelah berjalan jauh.

“Oh ya,” ucap gadis itu, menyipitkan matanya yang memang sudah sipit sampai kedua kelopaknya nyaris menyatu.

“Bagaimana rasanya dipukul anak itu? Memangnya dia sekuat itu?”

Georu mendengus pelan, seolah ingatan itu masih terasa di tubuhnya.

“Sangat kuat,” jawabnya jujur.

“Aku sudah mengaktifkan perisai di tingkat maksimal, tapi dia tetap menembusnya. Satu pukulan saja, dan aku langsung terlempar.”

Saljiva mengangkat alis. “Kamu terbang sejauh dua puluh meter,” katanya sambil mengingat sudut ruangan yang masih retak samar.

“Ada yang lecet?”

“Tulang rusukku remuk. Dia memukul tepat di sini.” Georu menunjuk sisi dadanya.

Untuk sesaat, Saljiva hanya menggeleng tak percaya. Rambutnya melayang pelan mengikuti arus, seperti tertiup angin yang malas di daratan. Lalu sudut bibirnya terangkat.

“Atau jangan-jangan kamu saja yang lemah,” ejeknya ringan.

Ejekan itu tidak sepenuhnya bercanda. Mereka berdua tahu, meski kekuatan ditopang oleh Sanvar, teknologi busana itu tetap bekerja mengikuti perintah otak dan kemampuan fisik pemakainya. Hasilnya tidak pernah benar-benar sama. Perbedaannya mungkin tipis, nyaris tak terlihat, tapi dalam satu pukulan, selisih sekecil apa pun bisa menentukan siapa yang terlempar dan siapa yang tetap berdiri.

“Jangan mengejek,” kata Georu tenang, namun sorot matanya menyiratkan tantangan.

“Aku salah satu yang terkuat di angkatanku. Kalau tidak percaya, buktikan saja.” Ia bangkit dari duduknya. Begitu tubuhnya terangkat, sofa di bawahnya seakan mengempis, menciut seperti pasir basah yang ditarik arus. Dalam satu tarikan napas, benda itu lenyap, lantai kembali rata dan kosong, seolah sejak awal tak pernah ada apa pun di sana.

“Serang aku dengan seluruh tenagamu,” lanjut Georu.

Saljiva ikut berdiri. Telapak kakinya menjejak lantai dengan mantap. Ia menarik napas dalam-dalam, dada mengembang, lalu melesat maju. Tinju Saljiva meluncur ke arah perut Georu dengan kecepatan penuh, ototnya menegang, tenaga dikumpulkan tanpa sisa.

Namun pukulan itu berhenti.

Tinju Saljiva tertahan beberapa senti dari tubuh Georu, seolah menabrak dinding tak berwujud. Ia menggeram, memaksa lebih banyak tenaga keluar. Kilatan cahaya menyambar di antara mereka, menyobek air dengan letupan singkat. Detik berikutnya, tekanan berbalik arah.

Saljiva terpental.

Tubuhnya melayang ke belakang dan menghantam lantai sejauh tiga meter. Permukaan keras itu langsung berubah, melunak menjadi matras yang bergelombang, seakan tangan-tangan tak terlihat berusaha menangkap dan meredam jatuhnya. Air di sekelilingnya berdesir pelan, seperti gema benturan di ruangan tertutup.

Georu menatapnya dari tempat semula, nyaris tak bergerak. Senyum tipis terukir di wajahnya.

“Kamu yang lemah,” ejeknya singkat.

“Wajar,” Saljiva mengangkat bahu, napasnya masih sedikit berat. “Pertama, aku bukan pasukan keamanan. Kedua, sudah lama aku tidak melatih fisik.”

Matras di bawah tubuhnya beriak pelan, lalu mengeras, berubah kembali menjadi sofa yang melayang perlahan mendekati Georu. Seolah ruangan itu punya kehendaknya sendiri, mengikuti alur percakapan mereka.

“Ya begitulah... Harusnya anak itulah yang terpental, bukan aku," sahut Georu sambil duduk santai.

Begitu ia menurunkan tubuhnya, lantai kembali bereaksi. Sofa yang sempat lenyap muncul lagi dari permukaan, menyambutnya dengan sempurna, tanpa suara, tanpa bekas. Saljiva hanya mengangguk paham. Tak ada bantahan, tak perlu penjelasan tambahan.

“Kalau begitu aku harus kembali ke pekerjaanku,” kata Saljiva sambil berdiri.

“Aku juga harus bertemu Kak Hemy. Kita bertemu lagi lain waktu.”

“Baik,” jawab Georu. Nada suaranya sedikit lebih serius.

“Semoga anak itu bukan ancaman. Dan semoga kalian baik-baik saja. Aku akan menghubungimu lagi begitu Svalin yang digunakan anak itu sudah sampai di tanganmu.” Saljiva mengangguk sekali lagi. Detik berikutnya, tubuhnya bergetar halus, lalu pecah menjadi gelombang tipis seperti riak air yang tersapu ombak. Dalam sekejap, ia lenyap dari hadapan Georu, menyisakan ruang kosong yang hening.

Georu berdiri dan melangkah keluar rumahnya. Cahaya lembut khas Distrik Nor menyelimuti lingkungan sekitar, membuat wilayah itu terasa seperti halaman terbuka di daratan. Ia berhenti di depan Rovad miliknya, kendaraan satu penumpang yang bentuknya menyerupai gabungan udang dan kuda laut.

Georu menggerakkan kepalanya sedikit.

Rovad itu merespons.

Strukturnya bergerak, cangkangnya melipat, ekornya memanjang. Dalam hitungan detik, wujudnya berubah menjadi bentuk baru, ramping dan halus, menyerupai lumba-lumba dengan garis tubuh seperti kapal selam manusia darat, futuristik dan senyap. Sebelum Georu sempat melangkah lebih dekat, kendaraan itu membuka dirinya dan menyedot tubuh Georu masuk ke dalam, lalu menutup kembali tanpa suara, siap meluncur menembus Nor.

“Kamu ngapain di situ?” tanya Mynhemeni setelah memutus komunikasi sunyi lewat Svalin dengan Saljiva di dalam benaknya. Cakra masih berdiri di belakangnya. Pandangannya terpaku pada makhluk aneh yang melayang di udara, sayapnya berkilau lembut seperti serpihan cahaya yang terperangkap di air. Geraknya ringan, nyaris seperti kupu-kupu di taman, hanya saja tubuhnya menyerupai manusia.

“Ini,” kata Cakra sambil menunjuk.

“Aku lihat kupu-kupu aneh ini. Namanya apa?” Ia mendekat sedikit, menatap wajah makhluk itu dengan saksama. Ada sesuatu yang membuat dadanya terasa ganjil. Wajah itu, garis rahang, sorot mata, terlalu mirip dengannya untuk disebut kebetulan.

Mynhemeni ikut mendekat, langkahnya tenang. “Bukannya itu kamu sendiri yang membuatnya? Kenapa kamu membentuk Sanvarmu seperti itu?”

Cakra menoleh cepat. “Aku yang buat? Maksudnya apa?”

“Kamu tadi bosan, kan?” lanjut Mynhemeni, nada suaranya datar tapi penuh keyakinan.

“Saat aku berkomunikasi dengan adikku. Kamu bingung mau melakukan apa. Bermain gim, menonton film, apa pun yang bisa mengusir jenuh.”

Kening Cakra berkerut. “Tunggu. Kamu bisa membaca pikiranku?”

Ia refleks melangkah mundur setapak, jantungnya berdetak lebih cepat. Ruangan itu tetap terasa seperti lobi hotel mewah, lantainya kokoh, udaranya tenang, namun sensasi laut di sekelilingnya tiba-tiba terasa menekan.

“Karena kita terhubung secara telepati?” lanjutnya, nada suaranya naik.

“Makanya kamu bisa tahu isi kepalaku?” Ada rasa kesal yang menyusup di antara kebingungannya. Ia menelan ludah, menahan dorongan untuk berkata lebih kasar. Apakah di negeri Porkah, pikirannya pun bukan miliknya sendiri?

“Kita tadi bukan bertelepati,” kata Mynhemeni, nadanya sedikit mengeras.

“Kita berkomunikasi lewat Svalin. Itu alat komunikasi anti sadap. Tidak butuh suara. Tidak butuh gerakan bibir.” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, seolah menimbang apakah Cakra benar-benar mengerti.

“Svalin terhubung langsung ke bagian otak tertentu.”

“Area Broca atau Wernicke?” potong Cakra spontan. “Yang berhubungan sama bahasa dan pemahaman bicara?”

Mynhemeni mengangguk pelan. “Ya. Bagian itu.”

Ia menghela napas tipis, jelas tidak sepenuhnya senang.

“Jadi aku tidak bisa tahu isi kepalamu kalau kamu tidak berniat menyampaikan sesuatu lewat Svalin. Aku bukan pembaca pikiran.”

“Oh.” Bahu Cakra sedikit mengendur, meski keningnya masih berkerut.

“Terus, dari mana kamu tahu aku tadi bosan dan butuh hiburan?” Ia tidak menoleh. Tatapannya kembali pada makhluk bersayap itu. Kupu-kupu berbadan manusia itu masih melayang malas di udara, sayapnya memantulkan cahaya seperti pantulan matahari di permukaan laut yang jauh di atas sana.

Mynhemeni mengangkat tangan dan menunjuk. “Dari itu.”

Cakra akhirnya menoleh cepat. “Apa hubungannya sama makhluk ini?”

Nada suaranya terdengar gemas. Bukan marah, tapi campuran bingung dan tidak percaya. Ia menatap sekeliling, ke lantai yang terasa padat di bawah kakinya, ke dinding transparan yang seolah menahan tekanan samudra, ke ruang jet yang lebih mirip lobi hotel dunia khayangan.

“Aku bahkan tidak tahu kenapa benda beginian bisa muncul di sini,” gumamnya.

“Ini pesawat, kan. Bukan taman hiburan.” Kupu-kupu itu mengepakkan sayapnya pelan, seolah mendengar, lalu berputar sekali di udara. Dan entah kenapa, perasaan aneh di dada Cakra kembali muncul, makin kuat, seperti laut yang diam-diam bergerak di bawah permukaan yang tampak tenang.

“Itu avatar dari Sanvarmu,” ujar Mynhemeni. Ia mengangguk kecil ke arah makhluk bersayap itu.

“Bentuk yang kamu pilih untuk bermain, menonton film, atau hiburan lain di dunia virtual. Dalam kasus tertentu, Sanvar bisa keluar ke dunia nyata melalui Casvet.”

Cakra mengernyit. Alisnya bertaut, jelas tidak sepenuhnya mengikuti. “Casvet? Apa itu?”

“Anggap saja Casvet sebagai proyeksi Sanvar dan dunia virtual bangsa Porkah,” jawab Mynhemeni.

“Fungsinya mirip ponsel di duniamu. Hanya saja, jauh lebih kompleks.” Ia menunjuk meja di antara mereka.

"Kamu masih ingat sosok keluargamu sempat hadir di situ?" Meja itu sempat menjadi bola bumi, lalu berubah menampilkan tubuh Cakra yang terseret ombak Parangtritis, kemudian sosok Nyi Roro Kidul, sebelum akhirnya menampilkan orang tua Cakra yang berdiri putus asa di tepi pantai.

Cakra hanya mengangguk pelan. Dadanya terasa sesak. Ia memalingkan pandangan, berusaha menyingkirkan bayangan wajah orang tuanya yang menolak berhenti berharap.

“Itu semua diproyeksikan oleh Casvet,” lanjut Mynhemeni.

“Casvet menjadi penghubung antara kami dan Sanvar. Bisa dibilang, ia adalah perwakilan Sanvar di dunia nyata. Lewat Casvet inilah, Sanvar memunculkan avatar.”

Cakra menghela napas. “Oke. Tapi hubungannya Casvet, makhluk ini, dan rasa bosanku apa?”

Mynhemeni tersenyum tipis, seolah pertanyaan itu yang ia tunggu. “Kami bisa menikmati hiburan secara langsung. Bermain, menonton, apa pun. Tapi ada kalanya kami sibuk, atau tidak bisa melakukannya secara fisik. Saat itulah avatar bekerja.”

Ia melirik kupu-kupu itu lagi. Sayapnya bergerak pelan, seperti terdorong arus yang tak terasa. “Avatar menyalurkan pengalaman hiburan itu ke otak. Saat tidur, pengalaman itu menjadi mimpi. Rasanya seperti benar-benar mengalaminya sendiri.”

“Jadi dia semacam… pengganti?” gumam Cakra.

“Lebih dari itu,” jawab Mynhemeni.

“Avatar bisa mewakilkanmu di dunia virtual, bahkan di dunia nyata. Dalam kondisi tertentu, ia bisa menjadi kamu, berada di tempat lain, atau melakukan hal yang tak bisa kamu lakukan saat itu.” Ia memiringkan kepala, memperhatikan bentuk avatar Cakra lebih saksama.

“Dan harus kuakui, pilihanmu unik.” Cakra melirik kupu-kupu itu lagi, setengah tidak percaya.

“Unik?”

“Kupu-kupu dengan tubuh manusia,” kata Mynhemeni ringan.

“Lucu, tapi… pas.” Ia tersenyum lebih lebar.

“Lagipula, wajahnya mirip sekali denganmu.” Cakra terdiam. Untuk pertama kalinya sejak berada di tempat asing ini, rasa bingungnya bercampur dengan sesuatu yang lain. Sesuatu yang nyaris menyerupai rasa memiliki.

“Jadi ini muncul begitu saja?” Cakra menatap kosong ke udara tempat kupu-kupu itu barusan melayang, suaranya terdengar ragu, nyaris tidak percaya.

“Iya,” jawab Mynhemeni santai.

“Otakmu yang memberi perintah. Sanvar hanya menuruti keinginan yang bahkan tidak kamu sadari. Termasuk bentuk avatarmu.” Cakra menunduk, memperhatikan busana yang membungkus tubuhnya. Permukaannya berkilau lembut seperti kain biasa, tetapi sesekali memantulkan cahaya kebiruan, seolah ada arus laut tipis yang mengalir di bawahnya.

“Kalau begitu… baju ini juga?”

“Benar, walaupun kamu tahanan, kamu tetap makhluk hidup yang butuh hiburan. Mode hiburan Sanvar tahanan tetap aktif. Yang kami matikan hanya penyerapan informasi, teleportasi, akses teknologi, dan senjata militer.” jawab Mynhemeni santai. Ia berhenti sejenak, memastikan Cakra mengikuti penjelasannya.

“Sanvarmu sekarang hanya melayani kebutuhan dasar. Makan, minum, kesehatan, pengolahan limbah tubuh, perawatan kulit, rambut, mulut, dan hiburan.”

“Oh…” Cakra mengangguk pelan, lalu matanya mendadak berbinar.

“Kalau begitu aku mau coba. Hiburan apa yang kalian punya?” Belum sempat Mynhemeni menjawab, kupu-kupu itu lenyap. Hilang begitu saja, seolah terseret arus tak kasatmata. Cakra tersentak.

“Eh. Dia menghilang.”

“Itu karena kamu ingin hiburan secara langsung,” kata Mynhemeni cepat.

“Dan sayangnya, bukan sekarang.” Mynemeni berbalik ke sofa. Gerakannya tenang, tapi ada kewaspadaan di bahunya, seperti penyelam yang selalu siap jika arus berubah.

“Situasi kita menuntut fokus. Tapi jangan juga terlalu tegang. Panik hanya bikin kita bertindak bodoh.”

“Kenapa tidak bisa sekarang?” protes Cakra sambil menyusul dan menjatuhkan diri ke sofa. Nada suaranya sedikit merajuk.

“Bukannya kita memang sedang dalam pelarian?” Mynhemeni menghela napas, lalu menoleh pada sosok di hadapannya.

“Karena saat kamu masuk dunia virtual, semua rangsangan dari luar diblokir oleh busana itu.”

Ia menatap Cakra tajam. “Aku tidak bisa menyadarkanmu kalau kita harus bergerak cepat. Masa aku harus menunggu kamu selesai main gim atau nonton film?” Sudut bibirnya terangkat tipis.

“Kita bisa saja tertangkap sebelum kamu puas terhibur.” Cakra terdiam. Ia bersandar, mendengar dengungan halus di udara, seperti gema laut yang jauh. Untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa bahkan hiburan pun di negeri ini punya harga. Dan harga itu adalah kewaspadaan.

Other Stories
Keluarga Baru

Surya masih belum bisa memaafkan ayahnya karena telah meninggalkannya sejak kecil, disaat ...

Cinta Di 7 Keajaiban Dunia

Menjelang pernikahan, Devi dan Dimas ditugaskan meliput 7 keajaiban dunia. Pertemuan Devi ...

Pra Wedding Escape

Nastiti yakin menikah dengan Bram karena pekerjaan, finansial, dan restu keluarga sudah me ...

The Fault

Sebuah pertemuan selalu berakhir dengan perpisahan. Sebuah awalan selalu memiliki akhiran. ...

Baim Dan Kelapa Yang Masih Puber

Baim menghabiskan liburan akhir tahun di pantai dengan harapan menemukan ketenangan. Namun ...

Devil's Bait

Dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal lima temannya akan mengalami kejadian aneh hin ...

Download Titik & Koma