Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia

Reads
9.8K
Votes
6.9K
Parts
71
Vote
Report
Negeri bawah laut porkah: cakra di samudra hindia
Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia
Penulis Virdytan

Bab 54 - Kaum Yang Memilih Mengalah

Mynhemeni sempat mematung. Pertanyaan Cakra datang terlalu cepat, terlalu tepat. Ia tidak mengerti bagaimana anak itu bisa sampai pada kesimpulan tersebut. Apakah karena keceplosannya soal pesawat luar angkasa? Namun bukankah manusia darat pun sudah memilikinya. Terakhir yang ia dengar, mereka bahkan sibuk merancang koloni di planet yang mereka sebut Mars.

Konyol.

Planet itu tidak layak huni. Bahkan bagi bangsa Porkah sendiri.

Mereka telah menjelajahi dan menganalisis jutaan planet. Dari semuanya, hanya satu yang benar-benar mampu menerima mereka dengan sempurna. Bumi. Meski planet asal Porkah dan Bumi sama-sama berada di lengan spiral Galaksi Bima Sakti, jaraknya terpisah empat puluh ribu tahun cahaya dari sistem tata surya. Perjalanan itu memakan waktu puluhan ribu tahun. Namun semua terbayar ketika mereka menemukan planet dengan gravitasi ringan dan molekul air yang jauh lebih ramah dibanding planet asal mereka.

Yang tidak mereka duga adalah satu hal. Bumi sudah berpenghuni.

Saat pertama kali tiba, peradaban manusia masih rapuh dan primitif. Bangsa Porkah sempat bimbang. Pergi dan kembali mencari planet kosong, atau menetap sementara sambil menyusun rencana baru. Mereka memilih bertahan sejenak. Sejenak yang berubah menjadi hampir seratus ribu tahun.

Mereka tidak pernah berniat ikut campur. Selama mungkin, mereka menghindari pergerakan manusia darat. Hingga suatu masa, manusia mulai bermigrasi besar-besaran. Daratan menyempit. Wilayah baru ditemukan. Dan setiap kali manusia menemukan tempat yang telah berpenghuni, perang selalu menjadi jawabannya.

Porkah tidak menyukai konflik. Mereka memilih mundur.

Maka mereka turun ke dasar laut.

Sejak saat itu, mereka hidup tersembunyi. Sesekali naik ke daratan. Diam-diam membantu manusia bertahan hidup. Menyumbangkan pengetahuan, lalu kembali menghilang.

Beberapa Raja Terdahulu bahkan menjadi pelindung bagi manusia di daratan. Nama mereka diingat sebagai dewa. Nama-nama planet yang kini dikenal manusia pun diambil dari sosok-sosok Raja Terdahulu.

Termasuk Mars.

Lucu, nama aslinya bukan Mars. Raja Terdahulu itu bernama Marezhgik. Namun lidah manusia kala itu tak mampu mengucapkannya dengan benar. Yang tertinggal hanyalah bunyi sederhana yang kemudian diwariskan sepanjang zaman.

Bangsa Porkah tidak pernah berniat merebut Bumi. Mereka sadar diri. Mereka hanyalah tamu yang tak diundang. Bahkan mungkin lebih buruk. Parasit yang menumpang hidup di planet orang lain.

“Aku? Alien…” Mynhemeni terkekeh pelan, nada ejekannya sengaja dibuat ringan. Ia menarik napas, menenangkan pikirannya. Ia tidak boleh terlihat goyah.

“Tentu saja bukan,” lanjutnya tenang.

“Kami lahir dan tumbuh di Bumi. Di dasar laut.” Itu bukan kebohongan. Leluhurnya mungkin datang dari bintang jauh, tapi Mynhemeni adalah penduduk Bumi. Begitu pula seluruh bangsa Porkah yang hidup hari ini.

“Tapi asal kalian dari mana?” Cakra menyipitkan mata, pikirannya bekerja cepat.

“Aku baru tahu ada manusia yang hidup di dasar laut, tapi bentuk fisiknya sama persis dengan manusia darat. Seharusnya tubuh butuh adaptasi ekstrem. Harusnya ada perubahan fisik, kan?” Nada suaranya tajam, setengah menantang, setengah ingin dibenarkan oleh logika sendiri. Alih-alih tersinggung, Mynhemeni justru tertawa pendek. Tawa yang terdengar mengejek.

“Kenapa kamu malah ketawa?” Cakra mendengus, merasa ucapannya diremehkan.

Mynhemeni menoleh, matanya berkilat nakal. “Coba rasakan tubuhmu sendiri. Ada yang aneh?”

Ia mengamati Cakra dari ujung kepala sampai kaki.

“Tiba-tiba tumbuh insang, mungkin?”

Cakra hendak membalas, tapi kata-katanya tertahan. Ia terdiam. Ia merasakan tubuhnya. Tidak ada sisik. Tidak ada insang. Tidak ada perubahan bentuk. Namun ia bisa bernapas di laut. Bisa bertahan di tekanan kedalaman. Bisa menyembuhkan diri dalam hitungan detik. Dan kekuatannya jelas bukan milik manusia biasa. Mynhemeni tersenyum kecil, puas. Alis tebalnya yang rapi naik turun seolah merayakan kemenangan kecil.

“Ya,” Cakra menghela napas. “Aku paham maksudmu.”

Ia mendongak lagi.

“Tapi tetap saja. Kenapa kalian memilih hidup di laut?”

“Nenek moyang kami yang memulainya,” jawab Mynhemeni lebih serius.

“Mereka menemukan teknologi adaptasi laut setelah menerima petunjuk dari Gruzva. Pada masa itu, kami terpaksa meninggalkan daratan dan membangun peradaban di dasar samudra.”

Pikiran Mynhemeni melayang pada leluhur bangsanya. Sejarah awal bangsa Porkah untuk hidup di dasar laut selalu bermula dari kisah yang sama. Sebuah mimpi yang dikaruniakan Gruzva kepada Raja Terdahulu. Dalam mimpi itu, sang raja dijanjikan keturunan istimewa. Seorang anak yang mampu bertahan hidup di kedalaman laut planet Bumi, dan kelak menjadi raja paling berjasa bagi bangsanya.

Ramalan itu terbukti.

Tak lama kemudian, Permaisuri Raja Terdahulu tersebut melahirkan seorang anak, satu-satunya, yang dapat hidup dan tumbuh di dasar laut. Melalui anak itulah Gruzva kembali menyampaikan pesan-Nya. Bangunlah teknologi, jadikan itu kunci, lalu dirikan peradaban baru di kedalaman samudra.

Peristiwa itu terjadi sekitar dua puluh ribu tahun silam. Pada masa itu, hampir seluruh daratan telah dihuni manusia darat. Tidak ada lagi ruang bagi bangsa Porkah untuk bersembunyi. Dengan membangun peradaban di dasar samudra, mereka meyakini satu hal dengan penuh keyakinan. Menurut perhitungan mereka, manusia darat tidak akan pernah mampu menjangkau wilayah tempat peradaban itu berdiri.

“Ingat waktu aku bilang populasi kami pernah melonjak sampai satu miliar?” Cakra mengangguk.

“Itu terjadi setelah kami benar-benar tak terjangkau oleh manusia darat. Sebelumnya, manusia mulai bermigrasi besar besaran ke wilayah kami. Kami terpaksa membatasi pergerakan dan menekan jumlah penduduk.” Mynhemeni melanjutkan, suaranya datar namun tegas.

“Kami tidak ingin berkonflik dengan manusia darat. Sedangkan mereka selalu berperang demi wilayah. Kami memilih sebaliknya. Kami hidup dalam kelompok kecil, bersembunyi, agar keberadaan kami tak diketahui.” Ia menghela napas pelan.

Cakra menatapnya lama. “Jadi bisa dibilang kalian… kaum terusir?”

“Bisa dibilang begitu... Kami lebih memilih mengalah daripada hancur karena konflik. Itu sifat dasar kami,” jawab Mynhemeni tanpa ragu. Bibirnya melengkung tipis.

“Ketika kami pindah ke dasar laut, semuanya berubah. Hidup menjadi tenang. Bebas. Populasi melonjak. Hingga eksploitasi Bumi terjadi... Karena itulah Gruzva murka. Kami dipaksa menekan jumlah kami sendiri... Agar tidak ada konflik berkelanjutan." Ia menoleh sesaat pada Cakra, lalu menatap dinding transparan jet di belakang Cakra. Terlihat pasukan ikan berbentuk aneh khas laut dalam.

“Karena itulah di negeri kami tidak ada sistem jual beli. Seperti yang kamu ketahui, manusia darat sering berperang, dan itu lahir akibat transaksi.” Nada suaranya terdengar lega. Ia tidak berbohong. Dan untuk pertama kalinya, Cakra bisa merasakannya. Bangsa Porkah bukan penjajah dari bintang lain. Mereka hanyalah makhluk yang memilih bersembunyi agar tetap bertahan dari konflik.

“Iya juga…” gumam Cakra, pandangannya menyapu ruang di sekeliling mereka yang terasa stabil, seolah berada di atas darat sungguhan, meski cahaya kebiruan lembut terus beriak seperti napas laut yang jauh.

“Status sosial, kemerosotan ekonomi, kemiskinan, sampai kesenjangan sosial. Semuanya berakar dari transaksi jual beli.” Ia berhenti sejenak, lalu menatap Mynhemeni dengan sorot mata yang jujur, tanpa nada menghakimi.

“Kehidupan kalian luar biasa. Tidak ada kriminalitas, tidak ada konflik terbuka, tidak ada jurang antara yang kuat dan yang lemah. Semuanya berjalan teratur.” Tangannya terangkat, menyentuh Sanvar yang melekat di tubuhnya. Permukaannya terasa hangat, lentur, seolah bernapas bersamanya.

“Dan teknologi kalian,” lanjutnya, kali ini nada suaranya lebih pelan, nyaris kagum.

“Aku bisa merasakan bagaimana benda ini menyatu dengan tubuhku. Pasti teknologi nano tingkat lanjut, kan? Teknologi ini masuk ke jaringan tubuh tanpa merusak organ, tanpa memaksa. Seolah tubuhku memang dirancang untuk menerimanya.” Mynhemeni hanya mengangguk perlahan. Tidak ada penjelasan panjang, tidak ada bantahan. Namun sorot matanya berubah. Ada kilatan terkejut yang gagal ia sembunyikan.

“Aku yakin, kalian merekayasa banyak senyawa dan elemen yang bahkan belum dikenal manusia darat.” Cakra melanjutkan.

“Hah…” Mynhemeni tertawa kecil, kali ini tanpa nada mengejek.

“Kamu pintar juga menganalisis.” Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, alis tebalnya terangkat tipis. Jelas terlihat ia benar-benar terkesan. Bukan karena Cakra kagum, melainkan karena cara berpikirnya yang tenang, runtut, dan tidak berlebihan. Selama ini, remaja itu bertanya hal-hal yang tepat, menyenangkan untuk dijawab, dan sama sekali tidak terdengar naif.

Tanpa sadar, senyum tipis muncul di wajah Mynhemeni.

Cakra mengangkat bahu.

“Walau aku tidak sepintar kalian, bukan berarti aku tidak bisa berpikir.” Nada suaranya santai, nyaris bercanda, tapi ada sesuatu yang lebih dalam di sana. Ia sudah terlalu sering menerima pujian. Ia tahu, sanjungan bisa menjadi jebakan paling halus. Ayah budanya selalu mengingatkan, pujian adalah ujian pertama bagi kerendahan hati.

Namun kali ini berbeda.

Mendapat pengakuan dari bangsa yang teknologinya melampaui manusia darat, dari sosok seperti Mynhemeni, tetap saja membuat dadanya menghangat.

“Terima kasih,” ucapnya akhirnya, lebih pelan. Ia menarik napas, menahan gejolak perasaan yang ingin melonjak.

“Aku menghargainya.”

Dan untuk sesaat, di negeri yang tersembunyi di dasar laut itu, Cakra merasa bukan sekadar tahanan atau anomali. Ia merasa diakui sebagai seseorang yang layak didengar.

“Aku tidak bermaksud memuji...” kata Mynhemeni dengan nada tenang, hampir datar.

"Tapi faktanya kamu memang cerdas. Dan pengakuan itu layak kamu dapatkan.” Ucapan itu sukses membuat Cakra kehilangan ritmenya sendiri. Pipinya sempat menghangat, warna merah samar naik tanpa izin. Ia segera menegakkan bahu, menata napas, lalu memaksa pikirannya kembali ke jalur yang lebih aman.

“Kalau begitu jawabanku benar, kan?” tanyanya cepat, seolah ingin melompati rasa canggung itu.

“Kalian memang merekayasa senyawa dan menciptakan elemen-elemen baru?”

“Benar,” jawab Mynhemeni tanpa ragu.

“Beberapa elemen dan senyawa kami rekayasa sendiri. Kami menyinkronkannya dengan frekuensi dan gelombang elektromagnetik planet Bumi. Banyak teknologi kami terinspirasi dari ekosistem di daratan, di laut, bahkan di atmosfer. Dan tentu saja, semua itu tidak lepas dari petunjuk Gruzva.” Nada suaranya stabil, namun mata Mynhemeni menyimpan kebanggaan yang nyaris tak disembunyikan.

Cakra mendengarkan dengan mata berbinar. Di sekeliling mereka, cahaya lembut beriak seperti bayangan ombak yang tertahan, menciptakan sensasi ruang terbuka meski berada jauh di bawah laut. Dadanya terasa penuh oleh keinginan yang menggebu. Ia ingin tahu semuanya. Ia ingin belajar. Ia ingin membongkar cara kerja dunia Porkah lapis demi lapis.

Namun di balik antusiasme itu, ada tarikan lain yang menahannya. Wajah orang-orang yang ia cintai muncul sekilas di benaknya. Hasrat untuk memahami teknologi Porkah tidak pernah cukup kuat untuk menggantikan ikatan itu.

Ia menelan ludah, lalu bertanya lagi, kali ini lebih fokus, lebih serius.

“Kalau begitu, elemen-elemen baru itu...” Ia berhenti sejenak, mengganti pertanyaan, “berapa banyak unsur yang kalian miliki di tabel periodik kalian?”

“Sejauh ini kami sudah mencapai 35.256 unsur hasil rekayasa,” ujar Mynhemeni santai, seolah sedang menyebut angka yang biasa saja.

“Dan sekitar dua ribu unsur murni. Kami masih terus mengembangkan kemungkinan unsur lain.” Ia tentu tidak menyebutkan asal-usul sebagian unsur itu. Tentang fragmen benda langit dari berbagai sudut galaksi Bima Sakti. Tentang sisa materi dari planet Porkah yang telah lama hancur. Beberapa kebenaran memang lebih aman disimpan.

Cakra terdiam beberapa detik. Matanya membesar, lalu ia menghembuskan napas pelan, seakan butuh waktu untuk memastikan otaknya masih berfungsi normal.

“Tiga puluh lima ribu…” gumamnya.

“Di daratan, tabel periodik kami baru seratus delapan belas unsur. Itu pun hanya sekitar dua puluh unsur yang bersifat sintesis. Kalian sudah sejauh ini?” Ia tertawa pendek, bukan mengejek, tapi takjub.

“Pantas saja teknologi kalian jauh melampaui kami. Dengan unsur sebanyak itu, kalian seperti punya kotak alat tanpa batas.”

“Kurang lebih begitu,” jawab Mynhemeni ringan.

Cakra menggeser tubuhnya, lalu menepuk sofa empuk di sampingnya. Permukaannya merespons sentuhan itu, memancarkan cahaya merah kehijauan yang beriak lembut, seperti ganggang bercahaya di laut dangkal.

“Pantas saja sofa ini nurut sama keinginanku,” katanya puas. Tiba-tiba ia menunduk, memperhatikan pakaiannya sendiri.

Alisnya berkerut. “Eh, berarti Sanvar ini juga seharusnya nurut, kan?”

Ia menarik bagian bajunya, mencoba melepaskannya. Tidak bergerak sedikit pun.

“Kenapa nggak bisa dilepas?” Cakra mendongak. “Aku mau nunjukin bekas luka operasiku di perut.”

Mynhemeni mengangguk pelan. “Sanvarmu memang bisa dilepas. Tapi Sanvar milikmu berbeda dengan milik kami. Itu Sanvar tahanan, bukan yang digunakan masyarakat Porkah.”

Ia menjelaskan dengan nada tenang, seperti dosen yang sudah hafal materi.

“Melepaskannya hanya bisa melalui Nivar khusus yang kami siapkan. Nivar itu juga berfungsi sebagai pengisian daya dan pemenuhan kebutuhan dasar tahanan. Nutrisi, stabilisasi tubuh, semuanya lewat sana.” Cakra mengangguk beberapa kali. Pelan, tapi paham. Ia mulai menyadari busana ini bukan sekadar pakaian, melainkan sistem pendukung hidup yang menyatu dengan penggunanya.

“Jadi kalau mau lepas,” katanya sambil berpikir, “aku harus balik ke soket Sanvar atau Nivar itu dulu?”

Ia menoleh lagi, rasa ingin tahunya kembali bangkit.

“Nivarnya ada di mana? Terus Sanvar kalian gimana? Kalian juga butuh soket Nivar buat isi ulang daya dan kebutuhan lain, kan?” Pertanyaan itu meluncur deras, seperti arus laut yang menemukan celah baru. Dan Mynhemeni tahu, rasa ingin tahu Cakra belum akan berhenti di sini.



Other Stories
Dante Fairy Tale

“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita gemu ...

Liburan Di Pulau Terpilih

Setelah putus cinta yang menghancurkan, Anna Mariana mencoba menjalani hari-harinya dalam ...

Tatapan Yang Tidak Pernah Sampai

Cerpen ini mengisahkan satu tatapan singkat yang menumbuhkan dunia imajinasi, harapan, dan ...

After Honeymoon

Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...

Hati Diatas Melati ( 17+ )

Melati adalah asisten pribadi yang perfeksionis dengan penampilan yang selalu tertutup dan ...

Sebelum Ya

Hidup adalah proses menuju pencapaian, seperti alif menuju ya. Kesalahan wajar terjadi, na ...

Download Titik & Koma